harrypotterindonesia.com
July 30, 2010, 11:21:52 AM *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: Selamat datang di Forum HPI yang baru. Silahkan melakukan Registrasi untuk ikut berdiskusi di forum ini. Mari kita jaga Forum ini bersama.
 
   Home   Help Search Login Register  
Pages: [1]
  Print  
Author Topic: [FF]Challenge: Deathly Hallows  (Read 1095 times)
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« on: August 05, 2007, 05:18:04 AM »

Post FF di sini ya!
« Last Edit: August 08, 2007, 02:51:30 AM by ambudaff » Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
harrypotterindonesia.com
« on: August 05, 2007, 05:18:04 AM »

 Logged
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #1 on: August 05, 2007, 05:23:28 AM »

TOGETHER ALWAYS



Ia memasukkan anak kunci ke lubangnya dan membukanya perlahan. Ia tak mau menggunakan Alohomora. Fred selalu menggunakan Alohomora dulu.

Ia mendorong pintunya perlahan. Suara berderit. Sudah lama tidak diminyaki engselnya. Sebenarnya tidak sulit, cukup dengan ayunan tongkat, tapi hari-hari kemarin rasanya tidak ada waktu untuk memikirkan pintu.

Ia mendorong pintunya lebih jauh, dan bau apak segera menyerbu. Juga selapis debu di lantai, selapis debu di atas rak-rak, selapis debu di atas meja. Dibukanya penutup mesin kas. Ia pernah melihat mesin serupa di toko Muggle, meski tentu saja cara kerjanya berbeda. Tapi hanya Dad yang cukup tertarik dengan cara kerjanya, dia sih mana sempat?

Para penjaga toko… ia teringat saat Verity memanggil mereka, “… Mr Weasley dan Mr Weasley …”

Ia mengingatkan dirinya sendiri, Verity harus dihubungi secepatnya. Ia cukup handal sebagai penjaga toko. Kalau, dan hanya kalau, kalau Verity masih … hidup. Sudah beberapa minggu ini ia tidak mendengar kabarnya. Mudah-mudahan saja tidak kurang sesuatu apa.

Ia menghela napas. Mengapa ini terasa … begitu menyakitkan. Rasanya beberapa hari yang lalu, walau bayangan Voldemort –ah, ia cukup berani menyebut namanya kini—sudah ada di depan mata, tapi dunia rasanya begitu indah. Ceria. Bagaimana bisa kehilangan seseorang bisa menyakitkan begini?

Bahkan kehilangan sebelah telinga tidak membuatnya kehilangan semangat. Walau semua orang begitu mengkhawatirkannya, tapi ia malah saling balas ejekan dengan Fred. Fred. Seumur hidupnya, dia selalu bersama Fred, kompak, dan jarang berkelahi. Jangankan berkelahi, bertengkar saja nyaris tidak pernah. Bahkan beradu pendapat saja jarang.

Mengapa ia begitu kehilangan?

George berjalan ke arah rak sebelah kanan, sembarangan saja menyapukan tangannya ke tumpukan kardus-kardus di sana. Selarik debu terbang ke udara karena tindakannya itu. Sembarangan saja ia mengambil salah satu. Selewat dibacanya, Peruvian Instant Darkness Powder.

Sembarangan saja ia menaburkan bubuk itu ke hadapannya. Ruangan mendadak menjadi gelap. Sangat gelap. Bahkan melihat ujung hidungpun jadi mustahil. Bubuk ini konon membuat kegelapan yang sangat, tak tertembus oleh lilin, lampu, bahkan oleh ‘Lumos’ juga.

Kecuali … kecuali … ia rasanya melihat segaris  cahaya di depan matanya.

Cahaya?

Cahaya itu susah payah membentuk diri, hingga muncul sosok yang ia sangat hapal. Fred! Fred!

Dan sosok itu tersenyum padanya, “Hi, Forge! Kau begitu  terpananya melihat diriku, sampai-sampai kau tidak memberi salam pada kakak yang lebih tua lima menit ini.”

Susah payah George membuka mulutnya, “F-Fred! Fred! Kau benar-benar … benar-benar Fred?”

“Ow. C’mon, George, berpisah beberapa hari saja kau sampai tidak mengenali saudaramu yang ganteng ini?”

Tertawa sambil mengusap matanya yang basah, George mendekatinya, di antara bubuk Peruvian yang hampir hilang khasiatnya,  sambil –nampaknya—berusaha memeluknya, tapi ia tak berhasil.

“Tidak bisa, George, aku sudah tidak punya badan lagi. Tapi, enak juga seperti ini, aku jadi bisa menakut-nakuti orang. Bisa keluar-masuk ruangan tanpa harus membuka pintu,” Fred nyengir.

George memandangi sosok kakak kembarnya dengan seksama, “Bagaimana rasanya jadi … jadi hantu, Fred?”

“Asyik. Hanya aku sekarang tidak bisa makan lagi. Kutinggalkan saja semua Cokelat Kodokku untukmu, George. Dan aku  masih .. berusaha belajar. Untuk menampakkan diriku, untuk menembus atau tidak menembus sesuatu. Untuk pergi ke mana aku suka tanpa pakai Floo atau sapu.”

George tertawa kecil. “Bagaimana kau bisa sampai ke sini? Kenapa kau tidak ke The Burrow?”

“Tadi aku berusaha ke The Burrow, tapi yang pertama kupikir adalah Diagon Alley. Aku merasa sepertinya kau akan ke sini, makanya aku ke sini.” Fred berusaha untuk duduk. Tapi membutuhkan waktu yang agak lama sebelum ia benar-benar duduk, tidak menembus kursi. “Bagaimana dengan keluarga yang lain?”

“Mum masih menangis kalau melihatku, ia selalu teringat kau. Makanya aku ke sini, aku tidak tahan dengan isakannya setiap ia melihat aku. Bill dan Fleur baik-baik saja. Dad dan Percy kini seperti berkomplot, hampir selalu pergi pagi-pagi dan pulang  larut malam. Konon ada reformasi total di Kementrian. Mudah-mudahan dipegang Kingsley jadi lebih baik.”

“Charlie?”

“Charlie sudah kembali ke Rumania.”

“Ron?”

“Ron ikut dengan Hermione, mencari orang tuanya di Australia. Hermione akan mencabut mantranya, dan sekaligus mau memperkenalkan Ron pada mereka.” George terkekeh.

Fred ikut terkekeh. “Jadi juga dia. Ginny? Dengan Harry?”

George mengangguk. “Harry tinggal di The Burrow untuk sementara ini. Kau sendiri bagaimana?”

Fred menarik napas. “Aku sudah pergi ke alam lain, George. Aku terkejut bertemu dengan Remus. Dan Tonks.” Wajahnya bersungguh-sungguh. “Teddy bagaimana?”

“Andromeda mengurusnya. Dia sangat tabah, walau dia kehilangan hampir seluruh keluarganya, tapi ia harus mengurus Teddy kecil. Nampaknya dia bisa mengubah-ubah penampilannya, seperti Tonks dulu.”

“Kau … sendiri?” Fred hati-hati mengajukan pertanyaannya.

“Yah. Rasanya agak ganjil juga. Aku harus menyelesaikan semua kalimatku sendiri kini …”

Mereka berdua tertawa.

“Rasanya berat juga, Fred, kalau aku harus menjalankan toko ini sendiri. Ron sudah menjanjikan akan membantu, tapi dia kini masih di Australia. Belum lagi rencananya untuk ikut tes masuk pendidikan Auror,” George berubah serius. “Aku juga sudah mempertimbangkan Lee, dia juga mau membantu, tapi dia tidak bisa penuh menangani. Dia sekarang menangani studionya.”

“Hei, jadi dia serius dengan Potterwatch-nya?”

George mengangguk. “Tetap menjadi River. Bukan Potterwatch sekarang namanya. Lee masih mencari nama yang pas. Prinsipnya, siaran dengan gelombang yang berbeda, waktu yang berubah-ubah, persis seperti Potterwatch dulu.”

“Hanya sekarang tidak ada Death Eaters yang mengejar-ngejarnya.” Fred mengangguk.

“Tidak ada Death Eaters,” George menyetujui, “tapi gadis-gadis kini yang mengejar-ngejarnya. Mereka berpendapat dia ‘cool’ banget, berani siaran dengan kondisi kemarin itu.”

“Hei! Bukan dia saja yang siaran, kan? Rodent dan Rapier juga kan siaran? Apa kita tidak masuk hitungan? Tidak ada gadis-gadis yang mengejar-ngejar kita?”

Derai tawa terdengar lagi.

“Aku juga .. sudah bertemu dengan para pembuat Peta Perompak.”

“Hei! It’s cool! Benar kau sudah bertemu dengan mereka?”

Fred mengangguk. “James, Sirius, Remus. Dengan Lily. Tanpa Peter. Tapi … ada Snape.”

George mengangguk,  serius, “Harry sendiri yang mengurus pemakamannya. Dan sekarang Harry sedang mengurus proses pemberian bintang Order of Merlin, Kelas Satu, untuk Snape.” Tangannya otomatis meraba telinganya yang hilang.  Lalu dia berubah wajah, antusias, “Kau benar bertemu dengan Marauders? Mereka bilang apa?”

“Mereka tidak ingin aku ada dekat mereka,” tapi wajah Fred bersinar-sinar.

“Mengapa? Salah apa kau?”

“Mereka bilang, kalau aku ada di dekat-dekat mereka, mereka akan kehilangan ide untuk mempermainkan orang lagi.”

Kompak mereka berdua tertawa.

“Jadi?”

“Jadi apa?”

“Jadi, kita mengoperasikan toko ini berdua lagi, mate?”

*****

Hari ini, penghuni Diagon Alley 96 sibuk membersihkan seluruh toko dan beres-beres. Mungkin esok atau lusa mereka sudah buka.

Datang ya!

FIN
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
harrypotterindonesia.com
« Reply #1 on: August 05, 2007, 05:23:28 AM »

 Logged
-TikaLucu-
Gryffindor
HPI
**

Karma: +34/-28
Posts: 834


Kakak-Kakak Saya *ditumbuk*


WWW
« Reply #2 on: September 28, 2007, 09:39:28 PM »

I’m a Slytherin!

Albus Severus Potter duduk di beranda rumahnya. Saat itu adalah Malam Natal. Udara dingin menyergap. Tapi Albus tak mau masuk. Ia teringat saat ia diseleksi.

**Flashback**

“Potter,Albus Severus,” panggil Professor Horace Slughorn.

Albus menggigil. Giginya gemerutukan. Ia melangkah mendekat ke Topi Seleksi. Sekarang Topi itu sudah bertengger di kepalanya. Semua mata tertuju pada Albus dan membuatnya tidak nyaman.

“Potter lagi?” ujar Topi Seleksi mengagetkan Albus,”Ah… kau mirip dengan ayahmu dan kakakmu tentunya. Tapi kau berbeda…”

Albus menelan ludah. Ia sangat gugup. Ia khawatir tidak masuk Gryffindor seperti ayah dan ibunya.

“Sulit… Sangat sulit. Benar-benar pemberani dan cerdik. Betul-betul pekerja keras. Tapi kau cocok di Slytherin,” kata si Topi.

Tidak. Jangan Slytherin, batin Albus.

“Oh… Jangan Slytherin katamu?. Ayahmu juga berfikir begitu. Tapi kau benar-benar cocok disana.”

Jangan Slytherin. Kumohon. Setidaknya Hufflepuff.

“Hufflepuff?”—anak-anak Hufflepuff mendongak semangat—“Oh, kurasa… SLYTHERIN!” teriak Topi Seleksi pada akhirnya.

Albus melepaskan Topi bocel itu dan berjalan ke Meja Slytherin dengan kaki yang mirip agar-agar sekarang. Kakaknya memandangnya kecewa dari Meja Gryffindor.


**Flashback End**

Albus menghela nafas berat. Ia di Slytherin. Terima itu Albus. Tak semua temanmu jahat kan? Bahkan ayahmu juga tidak marah, kata hati kecilnya.

Tidak. Memalukan. Seorang Potter! Aku seorang Potter! Potter dilarang di Slytherin!, kata hatinya yang lain.

Apa masalahnya dengan marga Potter, eh?

Bermasalah!, sergah hatinya yang lain, Tentu saja bermasalah! Mempermalukan diri sendiri!
Lamunannya buyar ketika ada suara yang memanggilnya,

“Albus?”

Albus menengok ke arah datangnya suara lalu berkata, “Oh, kau Dad.”

Harry Potter duduk di sebelah anaknya memandang langit yang hitam kelam dan kemudian bicara lagi, “Ada apa Albus? Ada masalah di sekolah? Kakakmu menjahilimu lagi?”

Albus terdiam kemudian menjawab,”Tidak. Tidak ada.”

Harry tau apa sebetulnya masalah Albus. Asrama. Itulah masalah Albus. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya lagi.
“Kau belum mendengar tentang masa lalu Severus Snape sepenuhnya kan?”

Albus menggeleng,”Belum. Dan aku memang ingin mendengengarnya atau mungkin membacanya. Tapi tak ada di Perpustakaan Hogwarts. Kalaupun ada, paling-paling Cuma menyebtkan namanya sebagai Master Ramuan.”

Harry mengangguk,”Itu benar. Severus seorang Master Ramuan. Dialah yang membuatkan Remus Ramuan Wolfsbane saat Remus mengajar di Hogwarts.”

Albus berdecak kagum,”Wow. Ramuan untuk Werewolf?”

“Ya. Dan dia betul-betul hebat.”

Hening sejenak, kemudian Harry bicara lagi,”Saat aku sekolah dulu, aku menganggapnya jahat. Aku merasa Severus membenciku. Aku pernah menuduhnya mencuri Batu Bertuah.”

“Tapi, semua tuduhan itu tidak benar. Walapun begitu, aku tetap merasa ia membenciku. Dia memberiku detensi, mengurangi angka Gryffindor, dan dia juga selalu berusaha mengeluarkanku dari Hogwarts.”

“Namun, dia juga selalu menyelamatkanku dari maut. Betapa kerasnya dia membenciku, dia selalu menyelamatkanku jika aku dalam bahaya. Aku sempat bingung dengan sikapnya. Pada akhirnya aku tahu kenapa.”

Ada jeda yang agak lama. Albus tetap menunggu ayahnya berbicara lagi.

“Dia selalu menyelamatkanku karena James—ya ayahku–, pernah menolongnya dan menghindarkannya dari maut. Bermula dari Severus yang curiga pada Remus kenapa setiap bulan sekali ia absen. Sirius yang sudah sejak lama benci pada Severus memberi tahunya agar Severus datang malam itu di Dedalu Perkasa.”

“Severus benar-benar menyelinap keluar menuju ke Dedalu Perkasa waktu itu. Malam itu tepat malam bulan purnama saat dimana Remus bertransformasi jadi Werewolf. Severus tidak sadar kalau bahaya ada di dekatnya. Selang beberapa saat, Remus-Werewolf hampir menerkamnya. Tapi, ayahku menyelamatkan Severus. Dengan kata lain, Severus punya Hutang Penyihir pada ayahku dan harus dibalas dengan sesuatu yang sama.”

“Selama beberapa waktu, ayahku meninggal. Tapi, Severus belum membayar Hutang Penyihirnya. Sebelum Voldemort jatuh, Severus sudah menyerahkan diri pada Albus Dumbledore agar Dumbledore bisa melidungi Lily, ibuku.”

“Kau lihat mataku, Albus? Mataku berwarna hijau. Matamu juga. Itu berasal dari mata ibuku. Sebab itulah, dia mau melindungiku selain karena hutang penyihir itu. Katany, Severus benar-benar mencintai ibuku.”

“Severus Snape seorang yang cerdas. Benar-benar cerdas. Dia mampu mengelabui Voldemort yang dikenal sebagai Legilimens paling ulung. Bisa disimpulkan kalau dia agen ganda.”

“Ketika Voldemort bangkit kembali, banyak orang yang bilang kalau Severus berada di pihaknya termasuk aku. Tapi Dumbledore tetap percaya padanya. Sampai pada suatu hari, kebencianku pada Severus ada pada puncaknya. Dia membunuh Dumbledore.”

Albus memekik ngeri.

“Ya. Dengan tangannya. Dengan Avada Kedavra. Kau tahu tentang Avada Kedavra, Albus?”

Albus cuma mengangguk,”Lanjutkan, Dad.”

“Aku benar-benar benci padanya waktu itu. Aku sudah berniat untuk membunuhnya. Dan dia juga membocorkan saat aku akan dipindahkan secara diam-diam dari rumah pamanku, Vernon Dursley.”

“Dialah yang menghilangkan sebelah telinga George. Tapi, aku masih ingat permintaannya saat terakhir.”

“Apa itu Dad?” tanya Albus penasaran.

“Dia ingin melihat mataku,” kata Harry sambil tersenyum,”Sudah kujelaskan padamu kalau mataku hijau seperti ibuku. Dia ingin menatap mata ibuku terakhir kalinya.”

Harry terdiam, kemudian berkata lagi,”Sangat banyak pengorbanan Severus Snape untukku. Jadi aku menamaimu Albus Severus Potter. Aku ingin, kau bisa sehebat dia dan juga sehebat Dumbeldore.”

Ada keheningan agak lama, sampai akhirnya Albus memecahnya

“Dad?” katanya lirih. Harry mengangkat kepalanya.“Aku..” suaranya ragu, namun semakin mantap. “Aku bangga menjadi seorang Slytherin.”

Albus memeluk Harry, dan pergi dari tempat itu untuk masuk ke rumah, meninggalkan Harry yang masih terpana. Seulas senyum muncul di wajahnya.

—The End—

Hm… apa maksudnya Mikan seperti ini? Ini cuma perkiraan saya XD

Kalo ada yang kurang, kritik aja ga papa… Nanti saya benerin  Grin

Piss ah!  Wink

« Last Edit: October 14, 2007, 09:13:09 PM by Aretha Luthien » Logged

Gosip, kanibal, hemaprodit, vampir, narsis hanya ada di Gryffindor!

Lethologica...
-Letto, Lethologica-
Iputz
Hufflepuff
HPI
**

Karma: +39/-5
Posts: 188



« Reply #3 on: October 07, 2007, 09:38:00 AM »

PG loh ya... Wink. Maaf, kalo ada yang salah... hanya mengandalkan spoiler Grin

I Just Can’t Wait to Be Yours!!

Upacara kelulusan. Seluruh siswa Hogwarts kelas tujuh berkumpul di Aula Besar untuk mendengar pengumuman kelulusan dengan hati berdebar-debar. Cemas apakah nilai NEWT mereka mencukupi persyaratan karir yang mereka pilih nantinya. Tetapi ada juga yang dengan santai menunggu perkamen ijazah dibagikan, tidak begitu peduli dengan nilai-nilai mereka, karena sudah punya koneksi bagus atau tidak ingin bekerja.

Beberapa anak laki-laki kelas tujuh berdiri bergerombol di sudut. Masing-masing mereka sudah memegang perkamen ijazah dan ekspresi mereka sudah lebih santai dibanding sebelumnya. Mereka asyik mengobrol sambil bercanda, membicarakan rencana mereka setelah lulus Hogwarts.

Berdiri di antara mereka, Ted Remus Lupin. Wajahnya agak memerah dan senyum puas tidak pernah lepas dari bibirnya. Ia baru saja diumumkan sebagai lulusan terbaik Hogwarts tahun itu dan praktis ia memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan tambahan untuk menjadi Auror. Karir yang sudah dicita-citakannya sejak ia tahu bahwa ibunya adalah seorang Auror.

“Oh wow!” seru salah satu sahabatnya yang berperawakan tinggi kurus, Nathen Morris, sambil memandangi dengan takjub perkamen ijazah milik Teddy.

“Kau sudah menyebutkannya kira-kira sepuluh kali, Nat,” ujar Teddy geli.

“Apanya?” tanya Nathen. Matanya masih membelalak menelusuri daftar nilai di perkamen yang dipegangnya.

Oh wow!” Teddy memutar bola matanya, tertawa.

“Memangnya tidak boleh?” Nathen cemberut.

“Yeah, bukannya begitu, Sobat,” kata Teddy sambil merangkul karibnya itu. “Hanya saja aku merasa agak tidak enak dikagumi seperti itu.”

“Ha!” cibir Nathen sambil mendorong Teddy. “Lagakmu seperti tidak biasa dikagumi saja, Bro. Bagaimana dengan serombongan besar cewek yang menjadi fansclub-mu, eh?” Nathen menunjuk gerombolan cewek kelas tujuh yang ramai membanding-bandingkan nilai NEWT mereka. “Dan rambut itu,” ia mengedikkan kepala ke kepala Teddy, “Kau sedang meledekku ya? Kau kan tahu banget kalau model rambut seperti itu yang aku inginkan.”

Teddy memang seorang Metamorphagus yang bisa mengubah-ubah penampilannya semaunya. Kali ini rambutnya berwarna cokelat agak pirang berpotongan mohawk.

“Hei, kau kenapa sih? Sensitif sekali.” kata Teddy agak heran melihat kelakuan sahabatnya.

Nathen menggerutu jengkel sambil mengembalikan perkamen Teddy. “Ayahku memotong uang sakuku gara-gara aku gagal mendapatkan nilai Outstanding di semua mata pelajaran.”

“Ow!” Teddy mengangguk paham. “Tapi kan nilai-nilaimu bagus.”

“Kau seperti tidak tahu ayahku saja, Teddy Bear. Dia ingin semuanya sempurna. Kau ingat kan saat aku gagal mendapat OWL Outstanding Transfig…”

“Hmm…” gumam Teddy tak jelas. Perhatiannya teralih. Ia baru saja melihat seorang gadis kelas lima sangat cantik berambut pirang keperakan memasuki Aula Besar. Gadis itu menoleh ke sana kemari, tampak sedang mencari-cari. Gadis itu sangat mencolok di antara kerumunan anak-anak kelas tujuh. Mata para cowok mengikutinya kemanapun ia pergi. Victoire Weasley memang merupakan gadis tercantik di Hogwarts.

“Teddy!” gadis itu telah menemukannya. Ia tersenyum lebar dan melambaikan tangan.

Teddy balas melambai. Perutnya serasa jungkir balik tidak nyaman saat melihat gadis itu berlari ke arahnya, menyeruak di antara kerumunan anak-anak. 

Victoire menubruk memeluknya erat, nyaris membuat pemuda itu jatuh terjengkang. Nathen yang juga terkejut dengan kehadiran tiba-tiba Victoire sampai berhenti mengoceh.

“Oh, Teddy! Selamat! Selamat!” jerit Victoire sambil masih memeluk Teddy erat-erat. “Aku baru diberitahu kalau kaulah lulusan terbaik Hogwarts tahun ini!” serunya setelah ia melepaskan Teddy. “Dan Paman Ron juga sudah memberitahuku kalau kau diterima mengikuti pendidikan Auror! Oh, aku sudah tahu dari dulu kalau kau akan jadi Auror hebat! Sekali lagi selamat!” dipeluknya pemuda di depannya sekali lagi. Kali ini agak lama.

“Trims…er—Victoire…” sengal Teddy kehabisan nafas saking eratnya gadis itu memeluknya.

“Hai, Victoire,” sapa Nathen.

Victoire melepaskan pelukannya pada Teddy dan menoleh ke arah Nathen sambil tersenyum.

“Halo, Nathen,” balasnya. “Bagaimana NEWT-mu?”

“Oh, baik-baik saja. Setidaknya tidak mendapat sembilan Outstanding tidak akan membunuhku,” jawab Nathen sambil mengeluarkan cengiran setengah hati yang sama sekali tidak seperti cengirannya yang biasa. Sepertinya ia memang sedang sensitif kalau ada orang yang menanyakan NEWT-nya.

Victoire tertawa kecil, “Yeah, tidak perlu mendapatkan sembilan Outstanding untuk menjadi orang hebat, Nathen. Katanya dulu Profesor Longbottom juga tidak mendapatkan nilai setinggi itu, tapi kita semua tahu dia orang yang sangat mengagumkan.”

“Yeah, kau benar, tentu saja,” sahut Nathen datar. Meski begitu ia tampak jauh lebih riang setelahnya. “Bagaimana OWL-mu?”

Selanjutnya mereka asyik membicarakan ujian OWL Victoire sementara Teddy hanya mendengarkan. Ia terlalu sibuk menetralisir perasaannya sendiri.

Sudah lama sekali Teddy menaruh hati pada Victoire Weasley. Namun selama ini ia tidak begitu yakin, karena mereka sudah bersama-sama lama sekali, sejak mereka kecil. Mereka tumbuh bersama-sama, bermain bersama-sama sejak kecil. Hubungan mereka sudah seperti kakak dan adik, meskipun mereka tidak punya hubungan darah sama sekali. Bahkan ciuman pertama yang didapatkannya adalah dari Victoire. Saat mereka merayakan ulang tahunnya yang kelima, Victoire yang saat itu masih berusia sekitar tiga tahun memberinya ciuman di bibir. Tidak seperti ciuman yang kalian bayangkan, hanya ciuman sayang antar anak kecil. Tapi peristiwa itu terpeta jelas dalam benak Teddy.

Dan perasaan sayang kakak terhadap adiknya mulai berubah saat Teddy kelas lima, saat Victoire mulai dilirik cowok-cowok di usianya yang tigabelas tahun. Teddy mulai bersikap protektif sampai kadang-kadang menjengkelkan Victoire. Melihat ada cowok yang mencoba mendekati gadis itu membuat Teddy uring-uringan. Ia mulai resah ketika disadarinya bahwa ada perasaan lain yang aneh yang ikut andil di sini. Ia mencoba menepis perasaan itu berkali-kali, tapi tak bisa.

Bahkan Teddy mencoba membuka hati pada gadis lain. Berkencan dengan gadis lain mungkin bisa menahan perasaan khususnya terhadap Victoire. Bahkan ia mencoba mendukung ketika Victoire mulai berkencan juga dengan pemuda lain. Tapi tetap saja tidak bisa. Malah kian menyiksanya. 

***

“Ted, sekarang aku sedang berkencan dengan Rudy,” Victoire memberitahunya.

Teddy yang saat itu sedang setengah jalan melahap makan siangnya sampai tersedak. Terbatuk-batuk, diraihnya piala berisi air yang langsung ditegaknya sampai habis. Ia merasakan darahnya mendidih, seakan ada yang menyalakan api di dalam perutnya. Namun ia berusaha bersikap biasa.

“Rudy?” Teddy melempar pandang bertanya pada Victoire yang duduk di sampingnya, menepuk-nepuk punggungnya pelan.

“Rudger Flemming, Ravenclaw,” kata Victoire tanpa memandangnya.

“Oh, dia,”

Rudger Flemming adalah siswa kelas enam Ravenclaw yang juga prefek Hogwarts. Yang Teddy tahu mengenai cowok itu adalah bahwa ia amat tampan dan ayahnya yang orang penting di Kementerian Sihir.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Victoire kemudian sambil mengambil pai daging ke piringnya sendiri.

“Eh?”

“Yeah, kupikir aku ingin tahu pendapatmu tentang cowok yang kukencani. Kau kan sudah seperti kakakku sendiri. Bagaimana? Apa dia baik?” tanyanya lagi.

Sudah seperti kakakku sendiri. Kata-kata itu begitu membuat Teddy tertohok. Jadi Victoire hanya menganggapnya sebagai kakak? Tidak lebih?

Teddy mengangguk pada akhirnya, meskipun hatinya serasa dicabik-cabik. Perih. “Yah, dia baik dari yang kutahu. Dia juga tampan, kaya dan berasal dari keluarga terpandang—“

“Teddy,” potong Victoire sambil menghela nafas, “Aku tidak peduli apakah dia tampan atau kaya atau berasal dari keluarga terpandang. Yang kupedulikan adalah pendapatmu tentangnya. Apa menurutmu dia pantas untukku?”

Sesaat Teddy terdiam, hanya menatap Victoire yang tengah menyantap pai-nya. Bahkan saat makan pun, gadis itu nampak begitu memesona.

“Tidak. Kau tidak boleh berkencan dengan cowok mana pun, Vic. Karena aku mencintaimu dan aku tidak rela kau bersama cowok lain.”


Ingin sekali Teddy melontarkan kata-kata itu. Tapi tidak. Ia merasa tidak punya hak melarangnya. Ia bukan siapa-siapanya. Victoire hanya menganggapnya sebagai kakak. Tidak lebih.

“Rudger cowok baik, Vic. Kalau dia manyayangimu, kenapa tidak?” kata Teddy sambil tersenyum. Getir.

“Begitu…” Victoire balas tersenyum sekilas sebelum kembali menekuni makan siangnya.

“Tapi kalau dia berani berbuat macam-macam padamu, bilang saja padaku. Aku akan menghajarnya,” Teddy menambahkan sambil memaksakan tawa.

“Tidak akan. Kalau menurutmu dia baik, dia tidak akan berbuat macam-macam padaku,” kata Victoire datar. Entah mengapa gadis itu tidak memandangnya ketika mengatakan itu.

***

Sebuah tepukan pada bahunya membuyarkan lamunan Teddy pada kejadian beberapa bulan yang lalu itu.

“Eh, apa?” Teddy mengerjap bingung.

“Kau melamun ya?” Nathen terkekeh.

“Tidak. Aku hanya membayangkan pelatihan Auror itu seperti apa? Apakah sulit?” kilah Teddy. Wajahnya merona. Apalagi ketika dilihatnya Victoire terkikik.

“Tenang saja. Kalau Paman Harry yang melatihmu, semuanya akan beres. Apalagi dengan kemampuan menyamarmu yang hebat itu,” ujar Victoire memberi semangat.

“Yeah, betul. Aku saja pernah tertipu ketika Ted menyamar menjadi kakek-kakek kelaparan saat kunjungan ke Hogsmeade setelah ujian NEWT,” kata Nathen mengenang.

“Jelas sekali kau tertipu,” sahut Teddy sambil tertawa. “Aku ingat kau memberiku beberapa keping Sickle dan sebungkus besar cokelat.”

Ketiganya tertawa.

Teddy bisa merasakan tangan Victoire yang belum melepas tangannya meremas lembut sementara gadis itu tertawa. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak nyengir.

“Oh ya, Ted. Tadi Cecilia Wood titip pesan padaku, katanya dia menunggumu di Aula Depan setelah upacara kelulusan. Katanya ada yang perlu dibicarakan denganmu,” beritahu Nathen tanpa diduga, membuat Teddy salah tingkah. Cecilia Wood adalah pacar Teddy saat ini.

Pegangan Victoire pada tangan Teddy mengendur. Senyumnya sedikit memudar.

“Wah, sepertinya serius,” kata Victoire dengan suara sedikit melengking.

“Barangkali,” Teddy memaksakan senyum. “Aku akan menemuinya nanti. Er—ngomong-ngomong kemana Rudy? Biasanya kalian selalu bersama-sama?” ia menanyai Victoire.

Kali ini Victoire benar-benar melepaskan tangan Teddy dan menjawab agak ketus, “Dia sedang dengan teman-temannya.”

Suasana menjadi sangat tidak enak. Nathen memandang Teddy dan Victoire bergantian dengan bingung.

“Mungkin dia sedang membuat kejutan untukku. Kau tahu kan, Rudy senang membuat kejutan?” Victoire buru-buru menambahkan. Nadanya sudah kembali ceria, namun terdengar agak kaku. “Aku mau mencarinya dulu. Sekali lagi selamat, Teddy. Dan kau juga, Nathen. Sampai ketemu saat makan malam.”

Victoire berbalik pergi.

“Kalian berdua aneh,” Nathen menggelengkan kepala keheranan. “Setiap kali muncul nama Cecil atau Rudger, sikap kalian langsung kaku begitu.”

“Kau yang menyebut-nyebut Cecil lebih dulu,” gerutu Teddy.

“Sori,” Nathen nyengir, “Aaaah… jangan-jangan kalian diam-diam saling suka. Kalian ini berani-beraninya mendua—“

“Diamlah!” Teddy merah padam. Nathen terbahak.

“Ngomong-ngomong, apa benar Cecilia ingin menemuiku?”

“Yap,” ekspresi Nathen berubah serius. “Sepertinya memang serius, Ted. Soalnya dia seperti habis menangis ketika memintaku memberitahumu. Sebaiknya kau cepat menemuinya. Aku juga perlu menulis pada ayahku. Barangkali saja aku bisa melobinya supaya tidak memotong uang sakuku, atau memotong satu Knut saja. Yah, bisa-bisa tubuhku tambah kurus saja kalau begitu.” Ia menggeleng sambil berbalik pergi.

Sementara itu Teddy bergegas menuju Aula Depan. Barangkali saja Cecilia sudah menunggunya di sana, karena ia tidak kelihatan di Aula Besar, bahkan ia tidak ada di antara teman-temannya yang gemar bergosip.

“Teddy!” seorang gadis berambut hitam ikal menubruk memeluknya tepat ketika ia baru saja keluar dari Aula Besar.

“Cecilia?” Teddy terkejut. Cecilia terisak histeris di bahunya. “Ada apa?”

“Maaf…” isaknya. “Aku sangat bingung…”

Teddy membelai belakang kepala gadis itu pelan. “Kata Nathen, kau ingin membicarakan sesuatu denganku.”

Cecilia melepaskan pelukannya. Wajahnya merah padam dan bersimbah air mata. Disekanya air mata di wajahnya dengan tangan. Ia mengangguk perlahan sambil menatap Teddy dengan matanya yang sembab.

“Apa?”

Gadis itu menelan ludah sambil sekali lagi mengusap matanya. “Aku bingung,” bisiknya.

“Aku sudah dengar bagian itu,” kata Teddy tak sabar. “Apa yang membuatmu bingung? Nilai NEWT-mu?” ia teringat Nathen.

Cecilia menggeleng sedih. “Aku tak tahu apakah aku harus memberitahumu atau tidak soal ini. Aku tidak ingin menyakitimu.”

Teddy menaikkan alis, bertanya-tanya dalam hati apa kiranya yang bisa membuatnya tersakiti?

“Keputusan ini sangat mendadak, Ted. Kalau saja aku bisa menolak, tapi aku tak bisa.”

Ini semakin membuatnya bingung. Ada apa dengan cewek ini? Apa yang tak bisa ditolaknya?

Gadis itu terisak lagi.

Sudah berjalan beberapa bulan sejak mereka mulai berkencan. Sejujurnya Teddy tidak pernah menaruh hati pada gadis Hufflepuff itu. Mungkin sekarang… sedikit rasa sayang, meski tidak sedalam perasaannya pada Victoire. Tapi tetap saja ia tak sampai hati melihat Cecilia menangis seperti itu. Dirangkulnya gadis itu dan dibiarkannya menumpahkan tangisnya sekali lagi di bahunya. Beberapa anak melempar pandang heran pada keduanya ketika mereka lewat. Beberapa berbisik-bisik. Beberapa terkikik.

“Lebih baik kita ke halaman,” ajak Teddy. Sinar matahari awal musim panas yang hangat barangkali bisa sedikit menghiburnya.

“Nah, sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi,” ujarnya setibanya mereka di halaman. Mereka mendudukkan diri di tepi danau. Beberapa anak kelas tiga bermain frisbee tak jauh dari mereka.

Diam sejenak sementara Cecilia membersit hidungnya dengan sapu tangan.

“Orangtuaku…” bisiknya sambil memandang kejauhan. “Mereka ingin aku menikah dengan pria pilihan mereka setelah lulus dari Hogwarts.”

Teddy tidak tahu bagaimana perasaannya mendengar berita ini. Ia hanya mengerjap kaget. “Oh!”

“Aku sudah memikirkan ini lama. Sebenarnya aku ingin memberitahumu sebelum NEWT, tapi aku terlalu takut kehilangan dirimu. Dan aku juga takut ini akan melukaimu.”

“Kalau begitu, berarti musim panas ini?”

“Ya,” Cecilia mengangguk.

Sekarang giliran Teddy yang bingung. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana.

Sedih? Tidak juga, karena ia tidak pernah mencintai gadis itu. Kadang ia merasa bersikap kejam dan tidak adil karena telah membohongi Cecilia selama ini.

Senang? Bagaimana ia bisa senang melihat gadis yang begitu mencintainya sedih seperti itu? Walaupun ya, ia senang karena ada alasan sah untuk tidak lagi bersama gadis itu. Alasan yang bisa menghentikannya berpura-pura.

“Lalu kau ingin bagaimana?” Teddy bertanya.

Cecilia menoleh menatapnya, “Aku ingin kau membawaku kabur. Kita kawin lari saja—“

Teddy mengerjap lagi. Terkejut bukan kepalang karena gadis semanis Cecilia bisa punya pikiran nekat seperti itu. Kawin lari? Ini benar-benar hal paling gila yang pernah didengarnya.

“Kalau saja bisa seperti itu, tapi tak bisa. Aku tidak bisa menolak keluargaku. Dan kau juga pasti akan mendapat kesulitan. Aku tak mau cita-citamu menjadi Auror pupus gara-gara aku, Ted.”

Teddy menghela nafas lega. Tadi ia sempat mengira Cecilia akan memaksanya kawin lari.

“Kurasa sebaiknya hubungan kita diakhiri sampai di sini saja…” Cecilia terisak tertahan. “Maafkan aku…”

“Tak apa, Cecilia. Aku paham,” kata Teddy sambil menepuk bahu gadis itu. “Kurasa itu memang yang terbaik untuk kita.”

“Salahku…” bisik Cecilia.

Batin Teddy berontak. Tidak. Ini sama sekali bukan salahnya. Kalau ada orang yang pantas disalahkan, dialah orangnya. Seharusnya sejak dulu ia tidak pernah mengencani Cecilia. Seharusnya ia tidak pernah memberi gadis itu harapan palsu, berpura-pura. Kalau saja tidak pernah, Cecilia tidak akan menangis seperti ini. Tidak akan ada yang membebani pikirannya karena perjodohan ini.

“Bukan salahmu. Mungkin kita memang tidak jodoh,”

Cecilia menatapnya lekat seraya memaksakan senyum. “Yeah, mungkin…”

***

 
(dilanjutin di post berikutnya... Gak apa-apa kan, Mbu?? Wink Kepanjangan ternyata.. huhu..)

Logged
Iputz
Hufflepuff
HPI
**

Karma: +39/-5
Posts: 188



« Reply #4 on: October 07, 2007, 09:43:15 AM »

(...lanjutan post sebelumnya...)


(Setahun setelah Teddy Lupin lulus dari Hogwarts)


Teddy menghenyakkan tubuhnya yang lelah di atas sofa di ruang keluarga rumah neneknya. Ia baru saja melewati satu sesi pelatihan Auror yang amat melelahkan. Harry sangat serius melatihnya semenjak ia masuk pelatihan. Walinya itu melatihnya dengan amat keras.

Ia memegang sepucuk surat di tangannya. Surat yang baru saja diantar seekor burung hantu cokelat tampan yang dikenalnya sebagai salah satu burung hantu Hogwarts tepat ketika ia sampai di rumah. Ia tersenyum melihat nama yang tertera di amplopnya; Victoire Weasley, Hogwarts.

Seakan rasa lelah mendadak hilang dari tubuhnya, Teddy membuka surat itu dengan bersemangat.

Dear Teddy Bear,

Teddy tertawa kecil membaca nama sapaannya. Teddy Bear. Orang-orang memang lebih senang memanggilnya Teddy Bear ketimbang Teddy Lupin. Menurut mereka itu kedengaran lebih manis. Tapi demi Merlin! Apakah ia begitu miripnya dengan boneka beruang?

Apa kabar? Kuharap kau baik-baik saja. Bagaimana pelatihan Auror-mu? Paman Harry dan Ron tidak terlalu keras padamu kan? Aku benar-benar cemas ketika James memberitahuku kalau kau terluka seminggu yang lalu saat kau ikut pelatihan.

Terimakasih atas hadiah ulang tahunku kemarin. Liontin kristal saljunya luar biasa indah dan cokelatnya enak sekali. Oh ya, teman-temanku minta dibagi cokelatnya. Boleh kan? Ngomong-ngomong kau masih kerap dijadikan bahan gossip di sini. Ada yang mengaku-ngaku jadian denganmu segala. Itu tidak benar kan?

Aku benar-benar merindukanmu, Ted. Menara Gryffindor sepi tanpamu. Kadang-kadang aku kangen menonton aktraksimu mengubah-ubah bentuk hidung dan rambutmu saat semua sedang berkumpul di Ruang Rekreasi. Ah, tapi tidak terlalu sepi juga kok, karena sekarang ada James yang menggantikanmu. Anak itu benar-benar bikin geger Hogwarts. Badung banget. Baru beberapa hari yang lalu dia menyulut Kebyar Kembang Api yang didapatnya dari toko Paman George dan kembang api itu menolak padam sampai lewat tengah malam. Benar-benar bikin repot para prefek, padahal dia baru kelas satu!


Teddy terbahak. Di rumah pun, James sangat bandel. Tak jarang kelakuannya membuat Harry seperti orang kebakaran jenggot. Pernah sekali Harry dibuat panik karena James menyembunyikan tongkat sihirnya. 

Tapi herannya nampaknya semua orang menyukainya. Aku juga menyukainya, tentu saja. Dia kan sepupuku tersayang.

James juga sangat protektif terhadapku. Kalau bisa dia tidak akan membiarkanku berduaan dengan cowok manapun. Menyebalkan sekali. Sikapnya mirip denganmu dulu. Tapi lebih parah. Dia menempelku kemana-mana seperti kutil. Sudah beberapa kali James bertengkar dengan Rudger gara-gara itu.

Kata James, “Merepotkan sekali punya sepupu perempuan yang punya wajah cantik. Kau tidak boleh pergi dengan sembarang cowok. Yang boleh pergi denganmu hanya cowok hebat seperti aku ini!” Ha! Memangnya dia siapa? Dad saja tidak melarangku seperti itu. Aku tak bisa membayangkan kalau Al juga sudah masuk Hogwarts. Aku pasti akan punya sepasang bodyguard cilik yang keras kepala dan menjengkelkan. Yeah, meskipun Al tidak sebadung James. Ngomong-ngomong, apa kau juga berpendapat aku cantik? Ah, lupakan saja. Pertanyaan bodoh.

Datanglah kapan-kapan ke Hogsmeade, Teddy Bear. Aku benar-benar ingin bertemu denganmu. Itupun kalau kau ada waktu luang. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Kurang enak rasanya kalau harus menuliskan semuanya dalam surat. Aku akan menulis lagi lain kali. Kuharap kau tidak bosan membaca suratku.

Love,
Victoire

PS : Aku baru putus dengan Rudger. Kupikir kau perlu tahu ini. Oh, kau tak perlu repot-repot menghajarnya karena James sudah melakukannya untukku. Dan percayalah, aku tidak sedih.


Teddy tidak bisa menahan diri untuk tidak bersorak membaca bagian terakhir surat Victoire. Ia menari-nari girang seperti orang gila. Itu berarti ia punya kesempatan!

“Teddy, Sayang,” neneknya baru saja muncul dari dapur, membawa senampan sandwich tuna dan segelas limun dingin. “Kelihatannya kau sedang senang.”

“Nenek!” Teddy melompat memeluk neneknya, nyaris membuat nampan yang dibawanya terbang. Diciuminya kedua pipi wanita yang sudah mengasuhnya sepeninggal ayah dan ibunya itu.

“Lihat tingkahmu itu, seperti anak kecil saja,” ujar Mrs Tonks seraya tersenyum lembut menatap cucunya penuh sayang.

Teddy nyengir senang.

“Apa ini ada hubungannya dengan seorang gadis?” tanya Mrs Tonks ingin tahu sambil meletakkan nampannya di meja.

Cucunya mengangguk. Wajahnya merona.

“Ah!” Mrs Tonks mendudukkan diri di sofa. “Sepertinya doaku tidak terkabul.”

“Memangnya Nenek berdoa apa?” Teddy menaikkan alis.

“Supaya kau tetap menjadi Teddy kecil sehingga tidak ada gadis yang mencurimu dari sisiku,” jawab Mrs Tonks sambil tersenyum. “Tapi lihat dirimu sekarang. Seorang pria dewasa. Tampan. Calon Auror hebat. Aku tak bisa membayangkan nanti kau akan menikah dan meninggalkan wanita tua ini sendirian.”

“Aku tidak akan meninggalkan Nenek sendirian,” ujar Teddy. Dipeluknya sekali lagi wanita yang paling disayanginya itu.

“Aku percaya, Nak,” Mrs Tonks menepuk-nepuk lengan cucunya. “Sekarang lebih baik kau makan dulu.”

Teddy menurut.

***

Inilah saatnya mengatakan yang sebenarnya. Tekadnya sudah bulat. Ia akan mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada gadis pujaannya, hari ini. Saat melepasnya berangkat ke Hogwarts untuk tahun terakhirnya.

Teddy ber-Apparate di peron 9 3/4. Peron itu sudah ramai dengan orang-orang yang mengantar anak-anak mereka. Suasana menjelang tahun ajaran baru itu membuat semangatnya  terangkat. Ia tersenyum ketika seorang anak perempuan yang sepertinya baru akan masuk Hogwarts melewatinya, digandeng oleh kedua orangtuanya.

Ia menolehkan kepala ke segala jurusan. Mencari. Ia sudah menemukan rombongan walinya yang baru saja menembus palang rintang memasuki peron. James, Al dan Lily ada di antara mereka. Ia juga sudah melihat keluarga Weasley bergabung bersama rombongan yang pertama.

Teddy mencari-cari lagi. Itu dia! Ia mengenali rambut keperakan itu. Gadis itu sedang susah payah mendorong koper besarnya masuk ke dalam kereta. Teddy bergegas menghampirinya.

“Butuh bantuan, Nona?”

Victoire menoleh dan langsung menyambutnya dengan senyuman lebar. “Ah, Teddy. Bisa tolong bantu aku mengangkat koper ini?”

“Tentu. Dengan senang hati,” Teddy mengeluarkan tongkat sihirnya, mengayunkannya. Koper besar Victoire segera melayang dengan mudahnya ke koridor kereta.

“Ah, tentu saja. Pakai sihir,” Victoire tertawa sambil menggelengkan kepalanya yang cantik. “Aku lupa kalau aku sudah diizinkan menggunakan sihir di luar sekolah.”

“Kau terlalu patuh pada peraturan, Vic,” kekeh Teddy.

“Hei, jangan meledekku ya,” ujar gadis itu sambil tertawa. Ia naik ke gerbong, mendorong kopernya—kali ini dengan sihir—di sepanjang koridor kereta dan menempatkannya pada sebuah kompartemen kosong. Ia keluar lagi beberapa saat kemudian ke tempat Teddy menunggunya.

“Sendirian saja, Vic?” tanya Teddy kemudian.

“Bersama keluargaku, tentu saja. Mereka mungkin masih bersama keluarga Potter sekarang.”

“Oh, yeah. Tadi aku melihat mereka.”

“Kau sendiri ngapain kemari?” Victoire balik bertanya.

“Mengantar Al. Dia kan baru masuk Hogwarts,” Teddy mengarang alasan.

“Oh, begitu. Hanya mengantar Al saja?” alis Victoire naik.

“Hmm…” Teddy pura-pura berpikir, “Kurasa ya, hanya mengantar Al.”

Pemuda itu nyengir melihat ekspresi sebal yang mendadak muncul di wajah Victoire. Gadis itu berpaling dengan cemberut, melambai pada teman-temannya yang memanggilnya dari kejauhan.

“Hei, kau mau ke mana, Vic?” Teddy menahan tangannya ketika Victoire hendak meninggalkannya untuk menghampiri teman-temannya.

“Katanya kau hanya ingin mengantar Al,” tukasnya.

Teddy tertawa. “Oke, aku bohong. Aku ingin menemuimu sebelum kau berangkat ke Hogwarts. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.”

Victoire mengangkat alisnya tinggi sekali lagi. Ekspresi sebalnya berganti penasaran. “Apa?”

Sejenak Teddy hanya menatapnya sementara ia berusaha mengatur napas dan menormalkan debaran jantungnya yang mulai tidak karuan.

“Teddy?”

“Ah, ya…” ia menggaruk kepala. Tidak disangka mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada Victoire begitu sulit. Kata-katanya seperti macet di tenggorokannya.

“Apa kau ingin memberitahuku kalau kepalamu gatal?” Victoire tersenyum geli.

“Bukan begitu, Vic. Anu… begini…um…”

“Ya?” pancing Victoire, mulai tak sabar.

“Aku…er—“

“Oh, sudahlah. Kalau begitu sulit mengatakannya lebih baik lewat surat saja ya. Teman-temanku sudah menungguku—“

Victoire sudah akan berlalu meninggalkannya ketika Teddy mengatakannya dengan nekat, “Aku mencintaimu!”

Gadis itu terdiam. Matanya melebar menatap Teddy seolah tidak pernah melihatnya sejelas itu sebelumnya. “A—apa?

“Kau mendengarku,” Teddy meraih kedua tangan gadis itu, menggenggamnya erat. “Aku mencintaimu, Victoire. Sudah lama sekali…”

Gadis itu tidak menjawab, wajahnya merona merah. Ia memandang Teddy tak percaya. “K—kau bercanda, Ted,” ujarnya kemudian.

“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku akan terus mengulangnya sampai kau mempercayainya. Aku mencintaimu, Vic.”

Sekarang matanya berkaca-kaca. “Benar?”

Pemuda itu mengangguk mengiyakan.

“Oh, aku sudah menunggu-nunggu kau mengatakan ini sejak dulu. Aku juga—aku juga mencintaimu…”

Kebahagiaan membuncah dalam dadanya. Keraguannya sirna saat itu juga. Ia mendekat dan diciumnya gadis itu dalam-dalam tanpa memedulikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Sama sekali berbeda dengan ciuman saat mereka kecil dulu. Dulu itu hanyalah ciuman sayang antara dua anak kecil. Tapi sekarang, ada perasaan mendalam yang terlibat.

“Kalian sedang ngapain?” sebuah suara anak laki-laki menyela.

Keduanya buru-buru memisahkan diri dan menoleh untuk melihat siapa yang mengganggu.

“James?!”

FIN

Maaf pisan lho kalo ada yang kurang berkenan... Cheesy
*Minta maaf terus kaya Mpo' Minah* hihi...
Logged
Hulk-mione Granger
~Orang terkeren se-HPI~
Global Moderator
HPI
****

Karma: +340/-64
Posts: 1854


Hermione berubah jadi Hulk? Seksinya!!


WWW
« Reply #5 on: October 24, 2007, 03:09:42 AM »

Ketika Hari itu Tiba

Seorang pria berbaju rapi memasuki sebuah taman dimana bunga-bunga sedang bermekaran di bulan itu. Dia duduk di kursi dekat pohon yang berbunga berwarna maroon. Kelihatan gelisah dan sedikit tak sabar menunggu seseorang.

Tak berapa lama terlihat seorang wanita berambut merah berjalan menuju arahnya, dan tersenyum kepadanya.

”Hai, Harry! Sudah lama menunggu ya?” sapa wanita itu sambil duduk di sebelah Harry.

”Aku juga baru datang beberapa menit lalu kok,” jawab Harry. ”Kau kelihatan cantik sekali hari ini, Ginny!”

”Bukannya setiap hari juga begitu?” canda Ginny.

”Ah.. Eh.. Benar juga, bahkan kecantikanmu melebihi Veela menurutku,” Harry masih merayu.

”Itu kan menurutmu..” kata Ginny malu-malu. ”Hari ini juga kau tampak sangat berbeda dari biasanya, rambutmu sampai disisir rapi hanya demi menemuiku.”

”Apa? Rambutku rapi ya? Wah, pasti Kreacher yang melakukannya ketika aku sedang tidur!” ujar Harry kaget sambil mengacak-ngacak kembali rambutnya. Ginny yang melihat itu, kelihatan kecewa. Karena ternyata Harry tidak sengaja membuat rambutnya rapi.

”Oh, peri rumahmu yang lucu ya? Jadi, kau mau bicara apa?” tanya Ginny sedikit ketus.

”Oh, yeah.. Hmm.. Suasananya tak usah dibuat serius kali ya?! Jadi begini.. hmm.. Aku.. yeah.. Kau tahu lah... errr..” ucap Harry gelagapan.

”Ya? Apa?” Ginny penasaran.

”Aku... hmm.. Kau kelihatan cantik hari ini, Ginny!”

”Hah? Tadi kan kau sudah bilang begitu!” seru Ginny kaget.

”Waw, ternyata sudah ya? Maaf, maaf...”

“Jadi.. Kau mau bilang apa?”

“Aku... err.. Aku.. Cuma mau bilang....”

”DUAR!” seru Ginny tak sabar.

”Maukah kau menjadi istriku?” kata Harry langsung lancar karena dikagetkan Ginny. Mendengar itu, muka Ginny benar-benar memerah hampir semerah rambutnya. ”Jadi.. hmm... terimalah cincin ini!”

Ginny mengulurkan tangannya, dan Harry memasukkan cincin itu ke jari manis Ginny. Ginny sangat terharu dan dia tidak bisa berkata apa-apa.

Namun, setelah itu Harry melihat cincin di jari Ginny terlepas, rambut Ginny menghilang, dan mukanya berubah keriput dengan telinga melebar. Tubuhnya pun menyusut kecil. Anehnya, Harry merasa tidak kaget dan sepertinya dia sudah terbiasa dengan hal itu.

”Wah, khasiat ramuan Polijusnya sudah hilang, Tuan! Tepat sekali waktunya!” cicit peri rumah itu. ”Latihan disudahi dulu berarti ya?”

”Iya, Kreacher.. Great Job! Aktingmu dalam memerankan Ginny hebat sekali! Two Thumbs Up deh!” puji Harry. “Tapi, mudah-mudahan script yang ditulis oleh Ron ini benar-benar terjadi ya!”

“Yah, kan Kreacher tidak bisa membangkang perintah Tuan Potter, tuan menyuruh Kreacher berakting hebat, tentu saja Kreacher pun harus menuruti..”

“Lalu, menurutmu bagaimana latihanku kali ini?”

”Tuan mau berita baik atau buruknya dulu? Baiknya dulu saja ya...”

”Kreacher lihat kali ini lebih bagus dari hari kemarin, Sir, dimana Tuan masih belum bisa berkata-kata, bahkan menyapa sekalipun.” jelas Kreacher.

”Berita buruknya?”

”Berita buruknya, Tuan masih gugup. Tuan ternyata lebih hebat ketika bertarung, daripada menghadapi hal ini ya?”

”Yah, begitulah Kreacher. Kalau begitu besok latihan lagi ya!” kata Harry.

”Siap Master!” jawab Kreacher. ”Eh, tapi besok kan hari Tuan bertemu Miss Ginny sebenarnya dan Tuan akan melamarnya!”

”APA? Besok ya?”

GEDEBUG

”Yeah, Tuan pingsan deh! Kreacher diemin saja ah, soalnya Kreacher juga mau nyari Pacar.”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Halah.. Halah.. Cerita FanFics super meracau yang pernah ada! Ngerjainnya juga cuma bentaran sih! Kekeke...
« Last Edit: October 24, 2007, 03:13:54 AM by Hulx-batons » Logged


Dengan kekuatan bulan, akan menghukummu!
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #6 on: March 09, 2008, 10:28:53 PM »

Karena sudah berjarak hampir 2 bulan dari penerbitan HP dan Relikui Kematian, FF ini dilepas dari Spoiler dan dipindah kembali ke subForum FanFic.
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
Pages: [1]
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.8 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!

supported by : IndoLowonganKerja.com