harrypotterindonesia.com
September 09, 2010, 12:31:05 AM *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: Selamat datang di Forum HPI yang baru. Silahkan melakukan Registrasi untuk ikut berdiskusi di forum ini. Mari kita jaga Forum ini bersama.
 
   Home   Help Search Login Register  
Pages: [1]
  Print  
Author Topic: [Challenge 5.2] Fanfic Karakter  (Read 2853 times)
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« on: June 03, 2007, 11:07:43 PM »

FF di-post di sini. Q, A, C & C post di sini.
« Last Edit: June 03, 2007, 11:17:51 PM by ambudaff » Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
harrypotterindonesia.com
« on: June 03, 2007, 11:07:43 PM »

 Logged
Selenette
Slytherin
HPI
**

Karma: +45/-5
Posts: 136


Lily in "Prince's Tale"


« Reply #1 on: June 18, 2007, 12:49:12 AM »

Oke... aku minta maaf kalo menyita space. Ada tiga yang kubuat, kujadikan tiga post. Kalo dijadiin satu post, nanti bikin bingung.

FANFIC 1
Tema: Satu Karakter. Harry sebagai fokus. 
Judul: Begitu Jauhnya... Dari Rumah
Penulis: Selenette, dari Harry Potter Indonesia
Panjang: One-shot. 465 kata.
Rating: PG
Genre: Drama/Adventure/Romance implisit
Bahasa: Indonesia
Setting: Prakiraan salah satu adegan dalam The Deathly Hallows (HP7).
Inspirasi: Soundtrack film Eragon (2006) yang berjudul “Once In Every Lifetime”, dinyanyikan Jem.


Begitu Jauhnya... Dari Rumah
oleh Selenette

Musik mengalun, hadirin berdansa di bawah tenda putih di halaman depan The Burrow yang telah diperluas dengan mantra. Aroma hidangan pesta pernikahan Bill dan Fleur terbawa oleh angin malam pertengahan musim panas. Jauh di sudut remang, Harry duduk tercenung seorang diri. 

Dua puluh menit lalu, Neville, Ginny, dan Luna tanpa sengaja mendengar Harry berdebat dengan Ron dan Hermione di teras belakang soal keinginan mereka mengikuti misi Horcrux-nya. Terpaksalah Harry menjelaskan tentang takdirnya, tentang rencana-rencananya melawan Voldemort, serta tentang Horcrux.

Kata-kata mereka berkecamuk dalam kepalanya bagaikan badai.

“Harry, kau akan baik-baik saja,” celetuk Luna sambil merapikan tepi gaunnya.

Salah besar, pikir Harry. Rasa takut, sedih dan cemas kian mengganggunya. Penerimaan akan takdir, kesadaran akan tanggung jawab, tidaklah membantunya. Dia merasa sepengecut Mundungus Fletcher.

“Yah,” Neville melepas rompinya, lalu mereguk butterbeer. “Kurasa kita harus...er... keluar dari kegelapan, menjalani takdir, berjuang...”

Harry menghela nafas dalam-dalam. Neville tak pernah tahu: dia bisa saja menjadi Sang Terpilih. Hanya keputusan Voldemort-lah yang membedakan nasibnya dari Harry. Bukan nasib baik juga, pikir Harry. Orangtua Neville disiksa para pengikut Voldemort hingga kehilangan kewarasan mereka. Harry tak mau menambah beban mental Mrs. Longbottom dengan kehilangan Neville juga.

“Ayahku pernah bilang, ketulusan hatimu akan membebaskanmu,” sahut Ron sambil mengurai dasi kupu-kupunya. “Ingat bagaimana kaulalui Tugas Keduamu di Turnamen Triwizard? ”

Itu kebodohan. Seharusnya kuperhatikan aturan tugasnya, pikir Harry sambil melepas kancing teratas kemejanya. Mana bisa orang yang dipermainkan Takdir sejak bayi bebas?

“Kau pemimpin kami. Kami mengikutimu dan berjuang bersamamu,” Neville bersikeras. Di sebelah kiri Neville, Ginny mengangguk, korsase gaunnya berkilau di kegelapan.

Harry menggeleng. Mereka tidak mengerti. Soal Sang Terpilih ini lebih mematikan.

“Semua ada dalam dirimu, sobat,” tegas Ron. “Kau boleh takut, tetapi jangan ketakutan—itulah yang kupelajari dari menjadi Keeper Quidditch. Yakinlah pada dirimu dan kami.”

Harry melepaskan sepasang sepatu kulitnya. Ron, pertandingan Quidditch berbeda dengan duel melawan Voldemort. Pelahap Maut bukanlah Bludger yang bisa dielakkan dengan mudah. Kau tahu itu. Kau pernah berduel melawan mereka.

“Harry, sudah banyak kubaca bahwa orang bisa mengubah jalan sejarah,” Hermione membenahi gelang mutiaranya sambil tersenyum sedih. “Dumbledore pun pernah ragu bisa mengalahkan Grindelwald.”

“Hermione, Grindelwald bukan Voldemort, dan aku bukan Dumbledore,” sanggah Harry keras-keras pada udara kosong.

“Jiwamu utuh dan murni. Semua tahu itu,” ujar Ginny sambil berlutut, menggenggam kedua tangan Harry. “Itulah sebabnya kau pasti berhasil.”

Harry pernah mendengar Dumbledore menyebut tentang keutuhan jiwa. Sekarang Dumbledore tiada, sementara dia, Harry, diminta membuat keputusan apakah dia bersedia melibatkan teman-temannya ke dalam bahaya maut. Termasuk Ginny, yang ditinggalkannya demi menghindari resiko itu.

 “Betapa panjang perjalanan yang telah kita tempuh. Begitu jauhnya... dari rumah,”  gumam Luna setengah menyanyi ketika mereka berjalan kembali ke pesta. Saat itu Harry meminta ditinggalkan sendirian, menolak uluran tangan Ginny.

Mengisi gelasnya dengan mead lagi, Harry memikirkan ucapan Luna itu. Dia merasa tak memiliki rumah untuk kembali. Jika dan hanya jika dia kembali.


FIN
Logged

"So at dusk, he won't fade to dust nor to stoic ashes."
dari puisiku: Untuk Mengenang Colin Creevey
harrypotterindonesia.com
« Reply #1 on: June 18, 2007, 12:49:12 AM »

 Logged
Selenette
Slytherin
HPI
**

Karma: +45/-5
Posts: 136


Lily in "Prince's Tale"


« Reply #2 on: June 18, 2007, 12:54:05 AM »

FANFIC 2
Tema: Satu Karakter. Parvati Patil sebagai fokus.
Judul: Pagi Terakhir
Penulis: Selenette, dari Harry Potter Indonesia
Panjang: One-shot. 496 kata.
 Genre/Rating: Drama,Romance implisit (R/H, H/G)/PG
Bahasa: Indonesia
Setting: Missing scene: Pagi ketika Parvati dan Padma Patil ditarik dari sekolah oleh orangtua mereka (HP6).
Inspirasi: Dari HP6 itu sendiri.


Pagi Terakhir
oleh Selenette

Untuk P.D.A. Penggemar Gaspard Ulliel, sobat di hari cerah dan mendung.

Parvati Patil berdiri tegang di Aula Depan pada pagi setelah Dumbledore terbunuh. Orangtua Parvati akan tiba di Hogwarts sejam lagi dengan Portkey untuk memulangkan dia dan Padma. Semua barang sudah dikemasi oleh peri-peri Hogwarts, dan semua dokumen telah diurus oleh asisten ibu Parvati yang efisien.

“Parvee, teganya kau pergi!” Lavender Brown memeluknya erat, matanya berkaca-kaca. Mengenal Lavender, Parvati yakin yang dia tangisi adalah kian dekatnya Ron dengan Hermione, sebab Lavender hanya memikirkan dirinya sendiri. Sejujurnya, menurut Parvati, Hermione lebih cocok untuk Ron.

“Maaf, Lavender. Orangtuaku tak mengizinkanku menghadiri pemakaman Dumbledore.”

 “Oh, tidak...” rengek Lavender. Ini bukan komentar untuk Parvati, jelas. “Aku ke Aula Besar saja!”  dan itulah yang dilakukannya. Pergi begitu saja.

“Astaga...” keluh Parvati. “Halo Ron, Hermione.”

Ron melambai. Hermione memeluknya sambil berkata, “Hati-hati,” meski dia dan Parvati tidak pernah akrab. Sikap mereka lebih baik daripada Lavender yang mengaku sahabatnya.

“Trims kalian bangun pagi untukku,” Parvati tersenyum.

“Siapa yang bisa tidur setelah semalam?” sahut suara Seamus. Menuruni tangga bersama Neville dan Dean, dia kelihatan kesal. “Apalagi kalau ibumu ingin menarikmu dari kastil...oh, kau juga?” Seamus melirik mantel bepergian Parvati.

Parvati mengangguk. Dia tidak terlalu mengenal ketiga cowok itu selain dari gosip. Neville pendiam, orangtuanya pergi (ke mana?), sehingga dia terpaksa tinggal dengan neneknya. Seamus sering bertengkar dengan orangtuanya (atau ibunya?). Ayah (kandung?) Dean konon penyihir, tetapi mengaku Muggle. Itu saja.

“Kapan kau akan dijemput, Seamus?” tanya Parvati buru-buru.

“Entah. Aku akan bertahan di sini sampai Dumbledore dimakamkan.”

Kau beruntung, batin Parvati.

“Baik-baiklah, Parvati,” ucap Dean.

“Padma juga pergi?” tanya Neville, melirik Padma di seberang mereka.

“Ya.” Tak satu anak Ravenclaw pun mengantarnya, dan Parvati tahu ini menjengkelkan Padma. Bukan rahasia bahwa anak-anak Ravenclaw kurang peka walaupun cerdas, pikir Parvati.

“Hai, Parvati,” sapa Harry dari belakang Seamus, Neville dan Dean. Dean langsung kembali menaiki tangga.

Parvati mengernyit heran sampai bibir Seamus membentuk kata tanpa suara, “Ginny Weasley.” Di luar kematian Dumbledore, masih terjadi konflik-konflik semacam itu. Parvati mengangkat alis, siap bergosip dengan Lavender nanti, lalu menyadari bahwa lebih baik dia tidak melakukannya.

“Hai, Harry.”  Apakah Harry menganggapnya pengecut? Bukan Gryffindor? Parvati tidak senang memikirkan kemungkinan dia harus mendebat omongan “Sang Terpilih”.

“Jaga dirimu,” kata Harry pendek. Jauh dari prasangka Parvati, Harry terdengar tulus. 

Detik itu, Parvati merasa sangat kehilangan. Mengapa dia tidak berusaha lebih mengenal teman-teman lain, bukan hanya Lavender? Terasa konyol apa yang dia lakukan dengan Lavender selama ini: pergi ke menara Trelawney pada jam-jam kosong! Padahal dirinya beruntung ditempatkan di asrama yang begitu hidup dan penuh warna—lihat saja Padma! Di  matanya mulai terbayang apa saja yang sudah dilaluinya bersama teman-temannya selama enam tahun. Spanduk ajaib Dean. Hafalan rumus Hermione. Tumpahan butterbeer Ron. Aksi Seeker Harry. Ledakan mantra Seamus. Kemahiran Herbologi Neville. Mengusili Umbridge. Adu mulut dengan Snape. Merawat Skrewt. Menafsirkan daun teh.

Air mata Parvati menitik jatuh ketika teman-temannya mengerumuninya dan menyalaminya untuk terakhir kali. Sebelum Portkey membawanya pergi, Parvati mengerling kastil Hogwarts. Dia berharap bisa kembali, suatu hari nanti.


FIN

Logged

"So at dusk, he won't fade to dust nor to stoic ashes."
dari puisiku: Untuk Mengenang Colin Creevey
Selenette
Slytherin
HPI
**

Karma: +45/-5
Posts: 136


Lily in "Prince's Tale"


« Reply #3 on: June 18, 2007, 01:00:54 AM »

FANFIC 3
Tema: Satu Karakter. Ron sebagai fokus.
Judul: Wajah Asing Dalam Bingkai
Penulis: Selenette, dari Harry Potter Indonesia
Panjang: One-shot. 491 kata.
Genre/Rating: Drama, Angst/PG-13 (karena kandungan implisitnya)
Bahasa: Indonesia
Setting: Missing scene: pertama kali Ron memasuki kamar yang dia tempati di Grimmauld Place No.12 (HP5), sebelum Hermione dan Harry datang.
Inspirasi: Lagu milik band Placebo, “Song To Say Goodbye” (2006), dan salah satu episode CSI: New York, mengenai dua bersaudara Ian dan Shane Casey. Shane mengira Ian tidak bersalah dan membalaskan dendamnya bertahun-tahun. Poor dude

Wajah Asing Dalam Bingkai
oleh Selenette

Untuk S. R. M. dan S.A.F., serta tahun-tahun yang kami jalani bersama-sama.


Ronald Weasley memasuki kamar gulita yang menganga bagai rahang raksasa itu, kemudian bergidik. Tak punya pilihan, Ron mendengus, lalu menerangi kamar itu dengan sebatang lilin yang ditancapkan ke piring kecil. Yah, setidaknya kamar itu telah dinyatakan bebas laba-laba, Doxy, Boggart, Puffskein, dan entah makhluk macam apa lagi yang pernah menghuni sarang nyaman mereka ini.

Ada satu tempat tidur, sebuah lemari, dan sebuah meja berlaci di dalam, sangat berdebu dan menguarkan keusangan. Yang menarik perhatian Ron adalah foto-foto di atas meja. Meletakkan lilin, dia mengamati foto-foto itu dari dekat.

Bingkai-bingkai emas rumitnya tak terawat, dan gambarnya memudar, tetapi dia masih bisa melihat orang-orang di dalamnya. Foto pertama berisi dua anak laki-laki berpose penuh gaya bak petualang. Yang satu jelas Sirius, raut wajah, mata dan rambut cokelat gelapnya sangat khas. Anak lainnya—Ron langsung menjulurkan lidah dengan muak—bisa disangka Draco Malfoy bila rambutnya tak berwarna gelap.

Dia terlalu mirip Malfoy, pikir Ron sambil membongkar isi ranselnya dan meletakkannya di atas meja.  Melihat deretan foto itu Ron langsung bisa membayangkan bagaimana ‘Malfoy Lain’ (begitu Ron menyebutnya) tumbuh dari bocah kecil sok menjadi remaja berwajah dingin dan angkuh. Tahun-tahun yang berlalu tampak dari perubahan anak itu, latar di sekitarnya, pakaian yang dikenakannya, juga model bingkai foto.

Tidak ada foto yang menunjukkan ‘Malfoy Lain’ dewasa, dan Ron menyimpulkan dia telah meninggalkan rumah itu, seperti Bill dan Charlie (dan Percy, pikir Ron getir) setelah mulai bekerja.

Membuka laci lemari, Ron menemukan sebuah buku tebal bersampul kulit warna kehijauan. Bau apak tercium, dan ini membangkitkan keingintahuan Ron. Kau mulai ketularan Hermione, pikirnya geli, menyukai ide bahwa dirinya cukup pandai.

Membuka halamannya secara acak, Ron mengetahui itu buku harian seseorang, mungkin milik si ‘Malfoy Lain’.

2 September 1969

... bukan salahku Sirius berada di Gryffindor...

28 Maret 1973

...lebih baik tidak menyapanya lagi...

30 Juli 1975

... pendapatnya salah. Mereka meracuni pikirannya...


“Ron?”

Ron melemparkan buku harian itu kembali ke dalam laci. “Sirius!” sapanya terengah.

Sebelum Ron sempat melakukan sesuatu, Sirius Black telah melihat laci yang terbuka, buku harian itu, dan deretan foto-foto. Sebilah pisau es kembali hadir dalam matanya, seperti ketika Ron pertama kali melihatnya di menara Gryffindor dulu.

“Seharusnya kubuang semuanya kemarin,” Ron mendengar Sirius bergumam sambil memungut buku harian itu.

Ron mengernyit. Kecuali dia idiot, Sirius jelas membenci ‘Malfoy Lain’.

“Dulu ini kamar siapa?” tanya Ron sementara Sirius menyingkirkan semua foto di atas meja ke dalam keranjang sampah.

“Adikku Regulus,” jawab Sirius kaku.

“Di mana dia sekarang?”

“Mati.”

“Aku menyesal."

"Tak perlu. Kami tak pernah bicara selama dia hidup."

"Er... kau berkerabat dengan Draco Malfoy?”

“Pertanyaanmu mengalahkan Hermione,” sahut Sirius berat. “Sekarang pergilah makan malam saja. Silakan bawa lilinmu.”

“Oh, oke,” Ron mengangkat bahu, lalu memungut lilinnya.

Sekilas sebelum menuruni tangga, dia melihat Sirius duduk di tepi tempat tidur, menunduk memandangi buku itu di pangkuannya. Sejujurnya, setelah kejadian Percy, Ron mengerti bagaimana orang bisa membenci saudara kandung mereka, walaupun dia sendiri masih (sedikit, pikirnya) menyayangi Percy.

Malam itu, Ron memutuskan untuk melupakan apa yang terjadi, membiarkan Sirius menyimpan rahasia-rahasianya dalam gelap.


Fin


Sori. Sebenernya cuma disuruh bikin satu kan? Karena lagi high speed jadi bikin tiga. Terserah ambu deh mau diambil yang mana.







Logged

"So at dusk, he won't fade to dust nor to stoic ashes."
dari puisiku: Untuk Mengenang Colin Creevey
cicakgirl
Hufflepuff
HPI
**

Karma: +5/-2
Posts: 40



WWW
« Reply #4 on: June 23, 2007, 09:34:53 AM »

Fokus: Oliver Wood
Panjang: One-shot. 478 kata.
Bahasa: Swahili

Untitled

Kalau tahu akan jadi begini pada akhirnya, mungkin lebih baik jika aku memilih bekerja sebagai auror saat aku baru lulus dari Hogwarts. Atau sebagai peneliti satwa gaib. Yang manapun jadi. Tapi, aku tidak bisa mengulang waktu kembali. Aku tetap menjadi pemain Puddlemere United yang karirnya baru dimulai, namun ironisnya akan segera hancur dalam waktu dekat.

   Yah, semasa sekolah dulu aku memang cemerlang di bidang Quidditch. Aku jadi kapten Gryffindor dan keeper handal yang ditakuti para chaser. Saat itu aku merasa Quidditch adalah duniaku, aku merasa aku hebat di Quidditch, dan aku bertekad masuk klub bergengsi untuk memulai karir profesionalku. Voila, aku diterima di Puddlemere United tak lama setelah aku lulus sekolah.

   Namun, ternyata aku tidak cukup bagus untuk bermain di Puddlemere United. Entah mengapa semua pemain memiliki skill yang jauh lebih tinggi diatasku. Sekuat apapun aku berlatih, aku tidak pernah bisa menyamai irama permainan mereka. Sampai-sampai, aku membuat Puddlemere United kalah telak saat bertanding dengan Ballycastle Bats. Sejak saat itu, namaku tak pernah muncul di tim utama.

   Sungguh, aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Saat ini aku sedang duduk di taman di tengah kota London. Di depanku, sekelompok remaja bermain sepak bola muggle. Mereka terlihat ceria, saling oper bola. Memang, sepak bola populer sekali di kalangan muggle dan aku sering menontonnya (ber-apparate masuk ke stadion, tentu saja. Aku malas menukarkan uang muggle). Permainannya lumayan menarik.

   "Hai," seorang lelaki yang rasanya pernah kulihat duduk disampingku. Entahlah, mungkin di kereta bawah tanah. "Kau pernah bermain sepak bola?" tanyanya sambil menghirup minumannya yang mengepul. Ia berdecak nyaman sambil merapatkan jaketnya.

   Aku menggeleng. "Tidak, tapi aku lumayan suka menontonnya."

   "Mau coba?" tanyanya sambil mengeluarkan sebuah bola sepak dari tasnya dan menyodorkannya padaku.

   "Aku? Tidak, aku tak pernah sekalipun.."

   "Coba saja, oke?" katanya tegas sambil meletakkan bola itu di pangkuanku.

   Aku menatapnya heran. Tanganku menimbang-nimbang bola itu. Agak lebih besar dari quaffle. Sebagian diriku tergelitik untuk mencoba memainkannya seperti yang sering aku lihat.

   "Hey, boys!" serunya pada anak-anak yang bermain bola. "Pria ini menantang kalian merebut bola darinya!"

   Anak-anak itu berhenti bermain dan berseru menyetujui. Aku terperangah. Aku, yang belum pernah bermain bola, melawan belasan remaja tanggung?

   "Do it!" kata pria itu. "Hindari mereka dan masukkan bolanya ke gawang."

   Aku mengangkat bahu dan berjalan ketengah lapangan, meletakkan bola di tanah. Pria itu memberi aba-aba dan mereka menyerbuku dari segala arah, berusaha merebut bola. Aku berkelit kesana kemari, kaget sendiri dengan kelincahan kakiku. Naluri yang menggerakkan tubuhku. Aku menembakkan bola ke gawang. Mereka semua bertepuk tangan dan mengakui kehebatanku. Ada rasa bangga menyembul di hatiku.

   "Bagus! Sangat natural!" kata lelaki itu. "Pasti kau pernah bermain bola sebelumnya. Di klub apa?

"Mmm.. Puddlemere United." aku mengangkat bahu.

Ia mengangkat alis. "Menarik. Namun, aku harus pergi." Ia memasukkan bolanya kedalam tas jinjingnya. "Ini, datanglah untuk uji coba Sabtu ini." Ia mengangsurkan kartu nama ke tanganku dan beranjak pergi.

   Aku menatap sosoknya yang menjauh. Sungguh pengalaman yang mengasyikkan. Aku menatap kartu nama yang ia berikan padaku. Saat itu, aku tahu mengapa wajahnya tidak asing bagiku.

   "Arsene Wenger. Arsenal.."

Logged

cicakgirl
Hufflepuff
HPI
**

Karma: +5/-2
Posts: 40



WWW
« Reply #5 on: June 24, 2007, 06:12:58 AM »

Fokus: Ron
Panjang: One-shot. 546 kata. Maap lebih..  Tongue
Bahasa: Urdu
Rating: Teen. Soalnya rada cinta"an.. hehe..

Surat-Surat Gagal


"Hi, Hermione.. apa kabarmu? Kuharap kau dalam keadaan sehat wal afiat.. ah, norak!" Ron meremas perkamen itu dengan geram dan melemparkannya ke lantai, dimana puluhan perkamen yang telah diremas-remas tergeletak pasrah. "Kenapa, sih di Hogwarts tidak diajarkan cara menulis surat yang baik dan benar? Kurasa itu lebih berguna daripada mempelajari pengaruh pergerakan Uranus pada bisul di pantatmu!" omelnya sebal.

   Ron menyingkirkan remasan perkamen yang juga tersebar diatas meja, semuanya berisi surat untuk Hermione yang ia pikir tak cukup bagus untuk diberikan. Ron mendengar suara-suara dari bawah sana, tempat seluruh keluarganya (minus Percy), Harry, Hermione, keluarga Fleur, dan lainnya menyiapkan pesta pernikahan Bill dan Fleur yang akan diadakan besok.

   Bill dan Fleur terlihat begitu bahagia. Terdorong oleh situasi romantis itu, Ron memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Hermione. Karena ia tidak berani ngomong langsung, ia berinisiatif menulis surat yang akan diselipkannya besok pagi dibawah mangkuk sarapan Hermione. Oleh karena itu, ia menyelinap dari keramaian dibawah ke kamarnya yang sepi. Namun, ia tak juga bisa menyelesaikan suratnya.

   Menghela napas panjang, ia mengambil perkamen baru dengan tabah dan mencelupkan penanya ke botol tinta. Ia menggigiti ujung penanya sejenak sebelum kembali menulis. "Dear Hermione.." gumamnya sembari menulis. "Mungkin.. kau heran.. menerima surat ini.. karena sebenarnya aku bisa ngomong langsung padamu.." Ron berpikir sejenak. "Bukannya aku.. malas ngomong langsung.. padamu.. tapi aku malu untuk mengatakannya.."

   Ron berhenti lagi. Otaknya buntu. Ia meremas perkamen tadi dan mengambil perkamen baru. "Dear Hermione.. mawar merah.. violet biru.." tulisnya cepat. "Kupingku memerah.. karena menyukaimu.. AAAHH! Apaan, sih ini?" Ron menyingkirkan perkamen itu.

   Ketika ia akan mengambil perkamen baru lagi, ia mendengar suara langkah menuju kamarnya. Panik, ia buru-buru melemparkan dirinya ke tempat tidur dan pura-pura tidur.

   Pintu kamar terbuka. "Ron, Mrs Weasley memanggilmu.. oh, dia tidur.." Hermione muncul di ambang pintu. Ron memejamkan matanya kuat-kuat. Jantungnya seolah melesat kesana kemari bagaikan Bludger.

   "Well, lilinnya tidak dimatikan," Hermione melihat lilin yang menyala diatas meja belajar dan berjalan masuk untuk mematikannya. "Eww.. berantakan sekali.." gumam Hermione sambil memunguti perkamen yang berserakan.

   'Jangan dibaca.. jangan dibaca..' kata Ron dalam hati. Sebelah matanya mengintip.

   "Kepada: Hermione.." Hermione membaca salah satu perkamen dalam bisikan pelan. "Subjek: Surat Cinta.. Isi: Cinta.. Cinta.. Cinta.. Dari: Ron.."

   'Habislah sudah..' Ron berkeringat dingin.

   "Hermione, aku suka padamu.." Hermione memungut sehelai perkamen lagi. "Kuharap kau mencintaiku, seperti cintamu pada peri rumah.." Hermione tertawa pelan.

   'Aku mau mati saja..' ratap Ron dalam hati.

   "Dengan hormat," Hermione mulai lagi. "Sehubungan dengan surat ini, saya ingin memberitahukan bahwa saya, Ronald Weasley, menyukai Hermione Granger.."

   'Tuhan..' Ron gemetar.

   "Dear Hemione.." suara Hemione mulai berubah geli. "Kala kutatap ribuan bintang di langit, aku teringat kepada cemerlangnya matamu..

   'Baiklah.. dalam hitungan ketiga aku akan ber-apparate ke Bostwana!' batin Ron.

   "Rambutmu yang lembut membelai jiwaku.. Indahnya bibirmu yang semerah delima membuatku ingin.."

   "STOP!!!" Ron menjerit dan melompat bangun. Ia menyambar surat itu dari tangan Hermione.

   "Well, itu tadi surat yang panas.." kata Hermione.

   "Sumpah, bukan aku yang menulisnya. Tadi aku mencuri Pena Bulu Romantis milik Fred dan George!" Ron menyobek-nyobek perkamen itu jadi serpihan kecil.

   "Oh, oke." Hermione kelihatan malu. "Aku turun dulu."

   "Tunggu!" cegah Ron. Telinganya memerah. "Kau sudah tahu, kan? Err.. jadi.. jawabanmu?"

   Hermione berjalan keluar kamar. "Ya."

   Ron tersenyum. "Bagus," katanya. "Err.. ayo turun dan bilang pada yang lain."

   Hermione tersenyum malu dan menggandeng tangan Ron. "Ya, ayo.."

               
Fin


« Last Edit: June 26, 2007, 10:22:38 AM by cicakgirl » Logged

weasley is my king
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +16/-15
Posts: 218


My Love Weasley


« Reply #6 on: October 05, 2007, 09:41:06 PM »

Krkter utm:Ron
Ron menatap perapian. Ia kspian skrang. Kdua shbtny sdg mghdiri pesta konyol untk mrid2 populer, klub slug.
'apa mrka sdg brsnang-snang skrg?' btin Ron. Dia sadar,dia memang tak sehebat Harry dn spntar Hermione,tp dia tetap setia brkorban dmi mrka,wlupun ia slalu mrskn ktidakadilan org2,mskpun ia slalu mnjd no.2. Tapi knpa tak ada seorgpun yg mlhat itu? Knapa tak ada seorgpun yg mganggapny? Knpa ia slalu d pndg sblah mata?
Logged

Memulai masa yang baru...
Hope will better than the past, forgive me please...
Pages: [1]
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.8 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!

supported by : IndoLowonganKerja.com