Hogsmeade i’m in love
Chapter 1
“Hermione, aku mau ke Hogsmeade. Ikut tidak?” Tanya Draco. Saat itu mereka berdua, Hermione dan Draco, berada di asrama ketua murid. Hermione sedang membaca kisah-kisah Beedle si juru cerita untuk yang ke sejuta kalinya sedangkan Draco baru saja melepas burung hantu yang mengantar surat untuk orang tuanya.
Hermione yang heran mendengar pertanyaan itu rela mengangkat kepalanya dari buku yang sedang ditekuninya.
“Hogsmeade? Untuk apa?” Tanya Hermione mengangkat sebelah alisnya.
“Jalan-jalan saja. Ayolah. Kita ‘kan tidak bisa jalan berdua kalau akhir pekan Hogsmeade. Anak-anak lain tidak boleh tahu aku pacarmu, kan?” Kata Draco balas bertanya.
“Ayolah Draco, mereka ‘kan tidak harus tahu.”
“Kita ke Hogsmeade bukan untuk membocorkan rahasia bahwa kita pacaran. Lagipula ini bukan akhir pekan Hogsmeade. Tidak akan ada murid Hogwarts disana.”
“Baiklah. Tapi tidak lama-lama, oke? Dan… Pastikan kita ke Honeydukes. Aku mau beli cokelat.” Jawab Hermione memamerkan senyuman manisnya.
“Tapi kita ke Three Broomstick dulu ya? Aku ingin minum mead.” Pinta Draco.
“Oke.” Hermione menjawab sambil mengembalikan bukunya ke rak buku.
***
“Udaranya dingin sekali sih.” Keluh Hermione merapatkan mantelnya.
“Jangan bercanda, Hermione. Tentu saja udaranya dingin. Ini ‘kan bulan November.” Jawab Draco enteng.
“Aku tahu. Untung saja di Three Broomstick sudah pasti lebih hangat.” Jawab Hermione membiarkan Draco membuka pintu Three Broomstick untuknya.
Three Broomstick tampak agak sepi. Tidak banyak orang yang mau keluar rumah pada udara sedingin itu. “Kupesankan mead ya. Kau cari tempat duduk saja dulu.” Kata Draco pada Hermione. Hermione hanya mengangguk pelan mengiyakan sambil melangkah ke meja kosong di ujung ruangan.
Tidak lama Draco datang membawa 2 gelas mead dan memberikan satu pada Hermione. Selama beberapa saat suasana meja itu hening sementara kedua remaja itu menenggak mead masing-masing.
“Kau tahu Hermione, kalau ada murid Hogwarts yang melihat kita saat ini, mungkin dia akan mengira matanya rusak. Semua orang tahu bahwa kita tidak bisa akur ‘kan?” Kata Draco disambut tawa Hermione.
“Siapa pun dia, dia pasti mengira sudah saatnya dia menggunakan kacamata. Mana ada orang yang percaya salah satu rival terbesar di Hogwarts bisa pacaran?” Tanya Hermione sambil masih tertawa perlahan.
“Kalau ternyata benar-benar ada yang melihat kita memang kau mau jawab apa?” Tanya Draco menyindir.
“Bilang saja aku kalah taruhan darimu dan terpaksa menraktir mead.” Jawab Hermione memberi tahu Draco jawaban yang memang sudah disiapkannya kalau ada yang melihat mereka berdua.
“Kau benar-benar sudah menyiapkan jawaban?” Tanya Draco tidak percaya.
“Tentu saja. Tidak ada salahnya kan? Siapa tahu ada anak yang menyelinap ke sini.” Jawab Hermione.
“Kita kan tinggal mengancam dengan pemotongan poin dan setumpuk detensi karena pergi ke Hogsmeade pada saat bukan akhir pekan Hogsmeade. Mereka tidak akan berani buka mulut.” Kata Draco.
“Tidak akan berguna banyak. Beberapa murid tidak akan peduli bila mendapat detensi. Mereka ‘kan sudah dapat gosip besar? Apalagi kalau orang itu Harry atau Ron. Kita beri detensi yang sampai kita lulus tidak habis pun mereka tidak akan peduli. Alasan apapun juga takkan ada gunanya.Mereka pasti tetap mengamuk kalau tahu kita sedang berduaan disini.” Kata Hermione.
“Tentu saja. Tidak akan ada yang heran kalau kami mengamuk, Hermione, Malfoy.” Kata seseorang dari samping meja mereka. Hermione dan Draco menoleh dengan cepat dan menemukan Harry dan Ron berdiri di sana. “Kami mendengar semuanya, Hermione. Kalian harus menjelaskannya.” Lanjut Harry. “Oh tidak, aku dalam masalah.” Bisik Hermione dengan suara yang sangat pelan sehingga hanya Draco yang mendengarnya.
“Kami… eh… Aku… Aku kalah taruhan dengan Draco. Jadi eh.. aku… aku harus mentraktir Draco mead.” Jawab Hermone terbata-bata.
“Jangan bohong Hermione! Kami dengar semua!”Bentak Ron.
“Jangan membentak Hermione!”Seru Draco.
“Sudahlah Ron. Tidak ada gunanya. Biarkan saja. Kalau besok saat makan siang kau masih tidak mau menjelaskan, aku tidak janji kita masih berteman.” Harry menatap Hermione tajam sebelum menarik Ron keluar dari sana.
***
“Bagaimana caranya coba, memberi Harry & Ron alasan tentang hal ini?”Desis Hermione. “Entahlah…”Jawab Draco malas. Saat itu mereka sudah kembali ke asrama ketua murid dan mendiskusikan alasan yang akan di berikan Hermione. “Ayolah Draco... Kan salahmu kita sampai ketahuan!”
“Bukan salahku kalau… Hei! Tenang saja Hermione. Aku punya rencana brilian.”Kata Draco tersenyum misterius.
_To Be Continued_
A/N: Jadi! Harus di ketik kilat & akhirnya nggak nyampe sehari selesai. Jadi masih pendek. FF ini Re tulis buat kado ultah Vichi tanggal 21 September telat sih ngepostnya.
@Vichi: Happy Birthday ya! Re nggak tau mau ngasih kado apa lagi. Jadi Re bikinin ff aja ya. Makanya Re sering nanya. Re mau ffnya sesuai sama selera Vichi. Semoga Vich suka ffnya.
Ini baru chapter 1 loh. Masih ada 2-3 chapter lagi. Judulnya sih kayak Eiffel I’m in love. Tapi nggak ada hubungannya kok! Sumpah deh! Cuma mirip judulnya aja. Kalo udah baca comment di c&c nya oke!