harrypotterindonesia.com
July 30, 2010, 11:32:48 AM *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: Selamat datang di Forum HPI yang baru. Silahkan melakukan Registrasi untuk ikut berdiskusi di forum ini. Mari kita jaga Forum ini bersama.
 
   Home   Help Search Login Register  
Pages: [1]
  Print  
Author Topic: Harry Potter and The Half-Blood Princesses : Side Stories  (Read 1076 times)
GunZ [True Sword of The Uesugi]
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +129/-179
Posts: 647


The Heart of Sword


WWW
« on: March 27, 2007, 01:49:49 AM »

------------------------------------
Side Story 1 - Lamia
The Seventeenth

------------------------------------


Alarm dalam kepalaku berbunyi pelan menanggapi sesuatu yang tak pernah kuketahui. Ya, sudah waktunya bangun dan menyiapkan diriku untuk agenda hari ini.

Pelatihan.

Kuliah teori.

Pelatihan.

Pengkondisian.

Pelatihan.

Aku menghela nafas panjang sambil mulai duduk tegak, sementara pintu kamarku dibuka.

“Selamat pagi, W-17. Hari ini agak spesial untukmu,” Ujar sang pria muda yang kukenal sebagai Dr. Shinji Ikari, salah satu ahli kedokteran dan genetika yang mengawasi perkembanganku.

“Selamat pagi... Dr. Ikari. W-17 siap melaksanakan perintah,” jawabku. Sebuah jawaban yang telah dikode ke dalam DNA milikku.

“Ah... Kukira kita harus sedikit mengubah hal itu. W-17... kau akan memiliki nama baru,” ujar Dr. Shinji sambil memberikan isyarat agar aku berdiri, “Mulai sekarang, kau akan mendapatkan designasi nama yang boleh kaupilih sendiri. Tinggal kau yang belum memilih nama dari kalian bertujuh.”

Ah... tentu saja. The Seven Angels... kelompok elite yang terdiri dari W-01, W-13, W-15, W-16, W- 20, W-23... dan diriku, W-17.

“W-01 memilih nama 'Gabriel', W-13 memilih 'Sephiroth', W-15 memilih 'Odin', W-16 memilih 'Echidna', W- 20 memilih 'Raavan'... dan terakhir, W-23 memilih 'Tabriz',” ujar Dr. Shinji sambil melirik arlojinya, “Kau kuberi sekitar 10 menit untuk memilih namamu sendiri.”

Sepuluh menit yang menimbulkan kegugupan.

“Boleh saya bertanya... Dr Ikari...?”

“Tentu, W-17. Akan kujawab sesuai wewenang yang kumiliki,” Balas sang lelaki muda itu sambil tersenyum.

“Mengapa kami... diberikan nama?”

Hening sejenak.

“Sejujurnya, W-17... Aku juga tak begitu mengerti. Keinginan pimpinan proyek kita kadang aneh,” jawab sang doktor yang kukenal memang murah senyum itu, “Namun aku kira bisa menambah motivasi kalian untuk memimpin dan bertempur. Saran ini juga sudah disetujui penyandang dana kita.”

Aku terdiam.

Nama...? Bagaimana itu akan meningkatkan efektivitasku dalam bertugas?

Namun setelah kupikirkan kembali, tak ada ruginya pula memiliki nama. Sebuah nama dapat mempermudah misi infiltrasi ke tempat-tempat yang sulit. Nama juga dapat dipakai untuk mengaburkan identitas kita.

Dalam delapan menit penuh kecamuk jiwa, aku harus memutuskan namaku. Dan itu yang kulakukan.

“Doktor, aku sudah memutuskan,” kataku datar.

“Hmm, mari kita dengarkan,” balas sang doktor riang.

“Lamia... Aku akan memilih nama Lamia,” ujarku.

“Ah... tidak buruk, sama sekali tidak buruk. Baiklah W-17... mulai sekarang kau akan dipanggil... Lamia. Keluarlah, anak-anak... kita mulai pestanya~!”

Dari pintu, berhamburan enam orang yang kukenal sebagai para Angels lain selain diriku, menghamburkan confetti dengan wajah yang sedikit tersenyum. Senyum mereka agak aneh dan seperti dipaksa, tidak seperti senyum lepas yang biasa ditunjukkan Dr. Ikari.

Tanpa sadar, aku telah membuka Kotak Pandora yang tersimpan rapi dalam jalinan empat basa dan dua untai yang terdapat dalam setiap jengkal tubuhku.

Aku tersenyum.

Hari itu, 17 Januari yang hangat, Eshtar Compound, Antartika, seorang W-17 Lamia tersenyum secara spontan.


...


“Komandan Lamia! Berita masuk dari Markas! Red Signature menyerang mereka, jarak 1200 dari sini! Sedang dicegat oleh fleet Aoten* dan fleet Akatsuki**! Komandan Gabriel dan Komandan Sephiroth juga dilaporkan turut serta mencegat lawan dengan Unit-00 dan Unit-01!” lapor seorang pengendali radar dari bawah bridge.

“Berapa jumlah mereka?” tanyaku datar.

“Errr... pantauan sensor menunjukkan jumlah mereka tidak terlalu banyak... kukira sekitar 800 – 1000 kavaleri berat, sisanya petempur udara dan infantri,” jawab orang yang sama.

“Mereka sudah disini, Kakak... The Destined Fleet, seperti yang kulihat dalam mimpi-mimpiku...” ujar seorang pemuda berambut putih-perak dari sampingku. Ia adalah Tabriz, yang termuda dari Seven Angels.

“Ya... sudah kurasakan itu sejak pagi, adikku...” ujarku pendek.

“Kak, ambillah keputusanmu... sebagai Lamia Loveless, bukan sebagai W-17... seperti aku membuat keputusanku sebagai Tabriz Zaphikiel, bukan sebagai W-23...” balasnya pelan, “Aku akan tetap melanjutkan rencanaku, dengan atau tanpa kakak.”

“Baiklah...” balasku lembut sambil menepuk lembut bahunya. Ia menyambut tanganku dengan hangat, bak ingin menguatkan nuraniku yang telah lepas dari belenggu saat Dr. Shinji Ikari dahulu memberiku sebuah nama.

Segera kuraih handset yang ada di lengan kursi komando battleship-ku.

“Kepada seluruh kru 1st Merlin-class battleship Shirogane***...” kumulai perintah terakhirku. Ya, perintah terakhirku sebagai seorang W-17... dan perintah pertamaku sebagai seorang Lamia Loveless.




---------------------
pagi pun inet masih lelet >.< silahkan dinikmati, side-story sekaligus teaser ini  Grin

* Aoten = Blue Sky
** Akatsuki = Red Moon
*** Shirogane = White Steel (dapat juga diartikan sebagai 'Platinum')

hehe, thread ini aye pisahin dari HBPss yang asli karena side story nya bakal banyak (bisa mengganggu kenyamanan membaca kalo ditaruh di thread utama). moga2 ambu ga keberatan ^^

komentar silakan ditaruh di QAC&C nya HBPss, biar hemat tempat ^^
« Last Edit: March 27, 2007, 06:28:51 AM by White Emperor Hakuoro » Logged

I pity the foo' who doesn't read FAQs!


The greatest warlord of JAPAN

Uesugi dormiens nunquam tittilandus
harrypotterindonesia.com
« on: March 27, 2007, 01:49:49 AM »

 Logged
GunZ [True Sword of The Uesugi]
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +129/-179
Posts: 647


The Heart of Sword


WWW
« Reply #1 on: March 27, 2007, 02:08:56 AM »

-----------------------------------------------------
Side Story 2 - Shia
To Bring Sunshine Back Here Again

-----------------------------------------------------

(Catatan: teks yang di-italic artinya dibahasakan dalam bahasa Jepang. Penulis tidak fasih berbahasa Jepang, jadi... yah, terpaksa dibikin begitulah ^^)





“... namun Profesor, kita belum bisa yakin...”

“... Tim Alfa yang dikirim ke site 192 sudah menghilang, Nerine! apa lagi...”

Harry hanya tercenung mendengarkan perdebatan sengit antara Nerine dan Dumbledore itu. Semua orang sedang berada dalam keadaan terjepit; kesabaran adalah komoditi yang sangat sulit diperoleh. Ia sendiri belum sepenuhnya pulih dari kekagetannya pada ingatannya yang ia saksikan di Catatan Akashic tempo hari.

Tanpa diketahuinya, sepasang mata hazel indah yang sedang memperhatikan Harry dari pojok seberang meja itu. Pemilik sepasang mata indah itu, Ashanael Lishianthia, sedang pura-pura tidur sambil memperhatikan Dia yang Hidup dengan perhatian penuh dan seulas senyum dalam hatinya.


...


Terdengar suara pintu diketuk lembut.

“Masuk,” sahut Harry dengan nada malas.

Shia pun memasuki kamar Harry dengan perlahan. Harry pun berdiri untuk menyambutnya, namun belum sempat ia berkata apa-apa, Shia sudah menubruknya dan mereka pun jatuh keluar jendela.

“HUWAAA~”

Shia hanya tertawa kecil, sebelum merapal mantra untuk dapat terbang. Harry merapal mantra yang sama, namun ia baru bisa terbang sekitar sedetik kemudian. Nyaris ia menabrak kanopi salah satu pohon di taman istana.

“Kena kau Harry~” seru Shia sambil tertawa-tawa.

“Apa maksudmu, Shia? Nyaris kita mati!” teriak Harry kesal.

“Habis, siapa yang suka melihat muka ditekuk seperti belum diseterika itu setiap pertemuan?” balas Shia sambil menjulurkan lidah dan terbang menjauh, “Tangkap kalau bisa~”

Mereka pun berkejaran, melewati desa-desa dan kota-kota kecil di sekitar Gurenjodo, dibawah efek mantra tak-kasatmata. Beberapa kali mereka melewati padang rumput dan hutan yang indah, sebelum akhirnya mereka berhenti berkejaran di tepi sebuah danau karena kelelahan.

“Ahaaa~ sudah lama tidak begitu...” desah Shia panjang sambil menjatuhkan diri ke rumput di pinggiran danau itu, “dulu, ini cara utama Ayah mengajakku bercanda.”

“Shia... kalau kau mau...” balas Harry pelan, “ceritakan tentang masa kecilmu...”

“Hmm, sudah kuduga ini akan kau tanyakan cepat atau lambat,” ujar Shia sambil tersenyum lalu duduk memeluk lutut, “Aku selalu diperlakukan seperti anak laki-laki oleh Ayah. Kegiatan yang kami lakukan berdua selalu saja berkisar diantara berlatih terbang, bermain tangkap bola, memancing...”

“Pasti ibumu keberatan sekali,” potong Harry.

“Yah, kukira hal itu akan terjadi bila saja ia ada di sana...” balas Shia sambil memandang jauh menerawang, “bila saja...”

“Ah... um... aku... aku minta maaf karena menyinggung hal yang tidak mengenakkan,” imbuh Harry, buru-buru memotong.

“Hahaha. Kalaupun ia ada di sana, kemungkinan besar ia pun tak akan bisa berbuat banyak,” balas Shia sambil menarik dua set alat pancing dan sebuah benda mirip kotak perkakas dari udara kosong, nyaris seperti sulap, “Bosan aku berbicara terus! Hehe~ ayo kita memancing~!”

Harry hanya bisa mengikuti Shia sambil tersenyum kecut, mencoba aktivitas yang pernah dipelajarinya dari Eustoma* dahulu.


...


Di kamar Harry...


“Harry, mari kita membahas temuan satelit PT-27 hari ini! Ada beberapa tempat yang potensial sebagai...” seru Dumbledore sambil mengetuk pintu kamar Harry agak keras, sebelum sebuah tepukan lembut mendarat di bahu kirinya.

“Nampaknya... Harry dan Shia sedang mengambil liburan singkat, Profesor Dumbledore,” ujar Nerine sambil menghela nafas dan menunjukkan secarik kertas surat dengan tulisan bertinta pink, “Shia, Shia...”

Dumbledore membacanya sekilas, lalu tersenyum sambil berkata, “Well, sedikit waktu santai untuk mereka tidak akan merusak jadwal kita. Lagipula, pembangunan dan pengumpulan armada penyerbuan ternyata makan waktu jauh lebih banyak dari yang kuperkirakan...”

Quote
Dear Everyone,

Harry dan aku sedang pergi menjalani Love Love Holiday untuk menenangkan diri. Urusan-urusan lain kuserahkan pada kalian yaa~

PS: Nerine, Tanomu desu yo** ^_~

Love,


Shia
(Kyaa~ aku sedang berlibur dengan Harry~!)


...


Seharian mereka memancing di danau yang ternyata bernama danau Biwa itu. Kadang kail mereka cepat disambar ikan, kadang mereka harus menunggu lama. Kadang mereka berpindah tempat memancing, sambil sesekali mencari umpan yang tepat dari kotak kail ultradimensional milik Shia. Mereka juga bertemu beberapa pemancing lain, beberapa tua dan beberapa lagi muda, kebanyakan berasal dari kota kecil bernama Hinamizawa yang terletak sekitar 4 kilometer ke arah selatan.

Di akhir hari itu, Harry dan Shia mengumpulkan ikan yang jauh lebih dari cukup untuk dimakan berdua. Mereka kemudian memutuskan untuk berkemah di sebuah lapangan dekat tepi danau, dengan peralatan yang juga diambil Shia dari ruang penyimpanan ekstradimensional miliknya.

Harry dan Shia baru mulai memanggangnya di api unggun ketika suara mobil mendekat dan berhenti, diikuti suara beberapa orang turun dan berlari ke arah perkemahan kecil mereka.

Shitsureishimasu~*** er, kami mengganggu?” seru seorang pemuda yang tadi siang mereka temui sedang memancing di danau, sama seperti mereka.

Aa, Maebara-san! Tidak, tidak mengganggu kok... wah, ternyata Ryuugu-san ikut juga... mari bergabung, kami baru saja mulai memanggang ikan. Hmm hmm, siapa gadis-gadis ini?” balas Shia akrab. Lidahnya berbahasa Jepang dengan fasih, berkat sebuah aksesori sihir buatan Nerine yang memungkinkan pemakainya berkomunikasi dengan seratus bahasa.

Ahaha, mereka teman-teman sekolah kami. Ketika Keiichi menceritakan pertemuan kita tadi pagi, Mion dan yang lainnya jadi ingin menemui kalian. Yah, namanya juga kota kecil, jarang ada pendatang seperti kalian,” jawab gadis yang dipanggil Ryuugu-san itu sambil membawa sebuah kantung plastik besar yang penuh berisi makanan dan minuman, seperti onigiri^, soda kalengan, dan roti.

Hehehe, ketika Kei-kun bilang kalian berkemah di danau Biwa, kami jadi gatal ingin bertemu kalian. Perkenalkan, namaku Sonozaki Mion. Gadis berpita itu namanya Furude Rika, sedangkan yang rambutnya pendek namanya Hojo Satoko. Senang bertemu dengan kalian!” ujar gadis tinggi semampai berambut panjang yang datang bersama Maebara dan Ryuugu itu sambil memperkenalkan kelompok mereka.

Ahahaha~ senang bertemu kalian juga, Sonozaki-san, Furude-san, Hojo-san! Namaku Ashanael Lishianthia, biasa dipanggil Shia, dan ini partner dalam perjalananku keliling Jepang, Harry Potter!” balas Shia sambil menggamit tangan Harry yang sedang menyiapkan beberapa ikan dalam alat panggang yang mereka punya. Harry membalas dengan senyum ke arah mereka.


...


Pagi itu, udara pagi yang dingin dan berkabut menyambut Harry. Setelah bangun dan keluar dari kehangatan sleeping bag yang menjadi tempat tidurnya semalam, ia beranjak menuju danau untuk mencuci muka. Di pinggiran danau, ia mendapati Keiichi Maebara sedang duduk di tepi air, tampak merenung sambil mengulum sebatang lolipop.

Ohayou^*, Maebara-san. Bangun pagi, saya lihat?” sapa Harry sambil menggulung celana panjangnya tinggi-tinggi dan mulai berjalan masuk ke dalam air dari tepian berpasir yang landai itu.

Ah, Potter-san. Yah, tidur di dalam mobil bersama Mion dan Satoko ternyata tidak senyaman yang kubayangkan,” ujar Keiichi sambil tersenyum kecut, “Dan di dalam mobil ternyata panas sekali, padahal kita di tengah gunung seperti ini.

Harry tersenyum, sebelum melangkah ke arah tengah danau hingga air menyentuh gulungan celana di pahanya. Yakin air danau cukup bersih dan tidak tercampur pasir dasar danau yang tergolak oleh langkahnya, Harry pun mencuci mukanya.

... atau lebih tepatnya, berniat mencuci mukanya sebelum sebuah kaki menghantam punggungnya dan membuatnya roboh ke air.

Kyahahahaha~ Harry kena lagi!” seru sebuah suara bernada tinggi milik seorang Satoko Hojo, yang sedang memperhatikan kejadian yang tengah berlangsung dari samping Maebara.

Harry, kaget dan gelagapan, bangkit untuk menemui sang penyerang yang juga sedang terduduk di dalam air dangkal danau Biwa itu. Ia diserang oleh seorang Ashanael Lishianthia, dengan tubuh indah yang hanya tertutup sports-bra dan celana pendek ketat warna hitam.

“Hihihi~” ujar Shia sembari memperhatikan wajah Harry yang merah membara.

“Shi-shi-shi-... Shia! Apa maksudnya i-...” seru Harry tergagap, meminta penjelasan. Sebelum penjelasan itu didapat, bagaimanapun, Shia kembali menubrukkan tubuhnya dan mereka berdua rubuh lagi ke dalam air.

Mandi pagi memang menyegarkan! Ada yang ingin ikut kami?” seru Shia sambil melambai ke tepian. Sejenak kemudian, mereka semua pun ditelan perang air yang seru namun bersahabat.


...


Haa~, akhirnya kita berpisah juga. Shia-san, kalau boleh kutanyakan, kalian akan menuju kemana sesudah ini?” tanya Mion sambil duduk di sebelah Shia. Mereka sedang menunggu bus antar kota di halte bus kecil yang dimiliki kota Hinamizawa.

Hmm~ belum ada tujuan pasti, tapi Jepang selatan nampak menarik... Nagasaki atau Okinawa mungkin? Well, kita lihat saja nanti,” jawab Shia sambil bersandar ke sandaran bangku panjang itu.

Tepat waktu, sebuah bus menepi ke halte kecil itu, siap membawa para penumpang dari Hinamizawa ke kota lain.

Saa, akhirnya tiba juga. Kami mohon diri, Mion-san, Keiichi-san, Rena-san. Titip salam juga untuk Satoko-san dan Rika-san,” ujar Shia sambil berdiri dan menyandang ransel besarnya, “Bila ada kesempatan, kami pasti akan kembali lagi ke Hinamizawa.

Tiga hari ini sangat menyenangkan. Terima kasih banyak atas semuanya, Keiichi-san, Rena-san, Mion-san,” ujar Harry sambil sedikit membungkuk hormat, “Sampaikan juga pada Satoko-san dan Rika-san, kami akan merindukan masakan buatan mereka.

Ah, iie, kami hanya melakukan yang kami bisa. Kami juga harus berterima kasih pada kalian, Potter-san, Shia-san. Jarang-jarang kami bisa bersenang-senang dengan orang luar, apalagi gaijin^** seperti kalian, di sini,” jawab Rena, membalas salam Harry sambil tersenyum, “Hati-hati di jalan!


...


“Bagaimana, Harry?” tanya Shia seiring berjalannya bus antar kota itu menuju keluar Hinamizawa. Lambaian ketiga orang yang mengantar mereka baru saja hilang dari pandangan.

“Aku... haha, tidak terbayangkan bahwa kita bisa bersenang-senang dalam keadaan perang dunia seperti ini,” ujar Harry sambil tersenyum pahit, “Kita seharusnya sedang berlatih... atau apalah... bukan seperti ini...”

“Yah... kau kembali jadi Mr. Gloomy Emokid lagi... aku gagal kali ini...” gerutu Shia sambil memainkan ujung rambutnya, “anyway, kalau begitu... tujuan berikutnya adalah Akihabara! Kita akan menghadiri Summer Comike^*** dan ber-cosplay# sepuasnya! Aku tak akan berhenti sebelum kau bisa tersenyum dengan tulus kembali, Harry~!”

Sebuah ciuman pun mendarat di pipi kiri Harry.





----------------------------------
* : Eustoma (lengkapnya Eustoma Farahdziel) adalah ayah Shia, sekaligus salah satu dari para Raja Ketiga-Kaum. Ia juga salah satu mentor Harry, terutama saat Harry memasuki Gua Pertumbuhan. Baca lagi Chapter 3 dan 4 cerita utama HBPss deh ^^

** : “Tanomu desu yo!” kira-kira ekuivalen dengan “Tolong yah!”.

*** : “Shitsureishimasu” kira-kira ekuivalen dengan “Punteun...” atau “Permisi, maaf mengganggu”.

^ : Onigiri (kadang diterjemahkan menjadi ‘nasi kepal’) adalah makanan Jepang yang biasanya berbentuk prisma segitiga dan terbuat dari nasi, bahan isi (bisa umeboshi/asinan plum, telur salmon, sosis, dsb.), nori (rumput laut kering), dan bahan-bahan lainnya. Biasanya onigiri dibuat sendiri (mudah kok, kalau tahu caranya) untuk makan pagi/siang, tapi ada juga onigiri yang dijual dalam bentuk bungkusan siap makan di pasar-pasar swalayan di Jepang. Untuk lebih jelasnya, lihatlah wikipedia ^^;;

^* : “Ohayou” artinya “Selamat pagi” (“Konnichiwa” kadang diartikan juga sebagai “selamat pagi” *karena dulu penulis diajarin papinya begitu ^^;;*, namun lebih tepatnya berarti “Selamat Siang”).

^** : "gaijin" biasa diterjemahkan sebagai "orang asing". biasanya digunakan orang jepang untuk merujuk pada  orang luar negeri.

^*** : Comike (pemendekan dari Comiket, 'Comic Market') adalah semacam bazaar buku nasional yang diadakan setiap tahun di Jepang (tapi tidak setahun sekali; ada beberapa kali penyelenggaraan Comike dalam setahun, dan ada juga Comike dengan skala yang lebih kecil), biasanya di Akihabara. Buku-buku yang dijual biasanya berupa doujinshi (semacam fanfic berbentuk manga) atau karya-karya manga-ka amatiran.

# : cosplay diambil dari gabungan dari istilah “costume” dan “play”. Intinya adalah untuk berpakaian seperti karakter favorit dalam suatu universe (bisa Harry Potter, Lord of The Rings, Inuyasha, Bleach, dsb) lalu memamerkannnya pada orang lain. Comike adalah salah satu ajang cosplay utama di Jepang, bersama TGS (Tokyo Game Show).



hehe~ side-story yang rada-rada rabucomi (love comedy, red.) nih, biar ga sepet mbaca HBPss utama yang semakin 'gelap' ^^
« Last Edit: March 27, 2007, 02:47:56 AM by White Emperor Hakuoro » Logged

I pity the foo' who doesn't read FAQs!


The greatest warlord of JAPAN

Uesugi dormiens nunquam tittilandus
harrypotterindonesia.com
« Reply #1 on: March 27, 2007, 02:08:56 AM »

 Logged
GunZ [True Sword of The Uesugi]
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +129/-179
Posts: 647


The Heart of Sword


WWW
« Reply #2 on: March 28, 2007, 03:13:19 AM »

--------------------------------------------------
Side Story 3 – Draco
Draco Mystere* – Part 1

--------------------------------------------------


Draco berlari terengah, menembus kelamnya malam.

Ia baru saja melakukan yang tak terbayangkan: membantu pembunuhan Albus Dumbledore.

Kakinya memohon untuk terus berlari, karena ketakutannya pada para auror dan sebab-sebab lainnya.

Dengan segera, ia menemukan sebuah jembatan batu kecil, dan bergelung berlindung di sana.


...


“Er... Halo...?” ujar seorang gadis muda sambil menyentuh pipi Draco yang tertidur resah di bawah jembatan itu.

“Siapa kau!” bentak Draco sambil menangkap kerah baju sang gadis dengan cepat.

“Kyaaa~”

Tiba-tiba, sesuatu yang besar dan kuat menghantam kepala Draco, membuat pegangannya lepas dan tubuhnya tersungkur ke belakang. Dalam kebingungannya, ia mendapati bahwa ia sedang menatap kedalam mulut penuh gigi yang siap menghancurkan kepalanya.

Inilah kematianku, pikir Draco sambil memejamkan mata pasrah.

“Mu- Mukku! Jangan!” seru gadis kecil itu sambil menarik rantai yang terpasang di leher binatang aneh berkepala mirip naga itu. Ajaib, binatang itu pun mundur.

“Ma... maafkan kelakuan peliharaan Azusa, Tuan... dia hanya bergerak menuruti instingnya ketika tuan menangkap baju Azusa,” ujar sang gadis sambil mengelus-elus peliharaannya itu.

“Feh. Aku yang harusnya berterimakasih. Aku kini berhutang nyawa padamu,” balas Draco dingin.

“Tuan lapar?” ujar sang gadis sambil mengeluarkan bungkusan dari balik tubuhnya, “Mukku bilang tuan sudah berada di sini sejak kemarin sore...”

“Erm...” geram Draco sambil berusaha menyembunyikan kelaparannya.

“Makanlah... memang hanya sedikit, tapi...” kata sang gadis sambil menyerahkan dua potong sandwich kepada Draco, “setidaknya bisa sedikit menghilangkan lapar...”

“Ooh? Disitu ternyata kau bersembunyi, Azusa?” terdengar sebuah seruan pria setengah umur ketika Draco menerima sandwich dari sang gadis, “well well well, siapa pula ini?”


...


“Ooh, begitu ternyata ceritamu, anak muda!” ujar sang pria sambil tertawa, segera setelah ia mendengar cerita Draco, “Petualangan yang cukup menarik!”

Draco hanya membisu. Baru kali ini ditemuinya orang biasa yang tidak berjengit mendengar nama Lord Voldemort atau Death Eater disebutkan didepannya.

“Tenanglah untuk saat ini! Tak ada satupun orang, baik Death Eater ataupun bukan, yang akan berani menginjakkan kaki di tanah milik Franklin Payne ini!” ujar sang pria sambil menepuk dada bangga.

“Er... tuan Payne, anda... kalau boleh saya tahu...” tanya Draco ragu, “Mengapa anda tampak begitu tenang menyebutkan kata Death-Eater dan Lord Voldemort?”

“Mengapa? Mengapa, katamu? Karena dia dan diriku adalah sahabat sejati sejak muda! Kami telah mengeksplorasi banyak reruntuhan purbakala bersama!” jawab Franklin bangga, “Dia bahkan akan datang ke sini dalam seminggu-dua minggu ini! Benar-benar nasib baik untukmu, nak!”

Draco terdiam. Hatinya tak mempercayai kata-kata pria setengah baya ini, namun tidak ada salahnya menunggu satu atau dua minggu di tempat aman seperti ini, sebelum ia bergerak lagi.


...


Hari yang dinanti Draco pun akhirnya tiba. Dengan harap-harap cemas ia menunggu sosok Lord Voldemort yang telah menimbulkan banyak kegalauan dan ketidakpastian dalam hatinya.

Dan ia tak bisa mempercayai matanya barang sedetikpun.

Ia mendapati sosok Lord Voldemort yang jauh berbeda dengan sosok yang pernah menemuinya dahulu. Sosok berambut kecoklatan yang datang berkunjung ini tampak sangat muda, menurut taksiran Draco baru menginjak akhir 20-an atau awal 30-an. Gerak-geriknya pun enerjik dan mantap, tidak seperti Lord Voldemort yang dikenalnya berjalan pincang aneh tanpa gairah. Balutan jubah warna coklat pasir bermotif geometrik semakin menonjolkan energi meluap-luap dari tubuh muda itu.

Ada sesuatu yang tidak ia ketahui disini.

“Draco~ ayo kita temui Tuan Voldie!” seru Azusa antusias sambil menggamit dan menarik paksa Draco meninggalkan balkon atas tempatnya sedari tadi mengamati.


“Aa, kulihat Azusa membawa seorang pendatang baru di rumah ini. Siapa dia, Frank?” tanya sosok penuh wibawa itu sambil menaruh kembali cangkir tehnya ke tatakan di atas meja.

“Oh, aku sampai lupa saking asyiknya mengobrol denganmu! Perkenalkan, namanya Draco Malfoy. Nampaknya ia cukup familiar dengan sepak terjang faksi Death-Eater di Inggris, Tom,” ujar Franklin sambil mengambil sebuah penganan kecil dari nampan.

“Dan ia calon suami pilihan Azusa!” tambah Azusa sembari tersenyum lebar dan mendekap tangan kanan Draco. Draco, yang masih terdiam, memerah wajahnya.

“Ah, senang bertemu denganmu, Draco Malfoy. Klon 012 sering menceritakan tentang keluargamu,” ujar Voldemort sambil bangkit dan menawarkan jabat tangan, “Perkenalkan, aku Thomas Marvolo Riddle. Mungkin kau lebih mengenalku dengan nama Lord Voldemort, tapi panggilan itu lebih tepat diberikan pada Klon 012.”

Draco hanya bisa menyambut jabat tangan itu sambil membisu.

“Jadi, Draco, bagaimana aktivitas Death Eater akhir-akhir ini?” ujar Voldemort membuka pembicaraan setelah mereka semua duduk, “Kudengar kemarin kalian berhasil membunuh Albus Dumbledore?”

“Er... anda benar, Lord Voldemort. Sebenarnya saya yang harusnya melaksanakan pembunuhan itu, namun akhirnya Severus Snape yang melakukannya,” jelas Draco singkat.

“Oh... pemuda itu. Sudah cukup lama aku tidak mendengarnya, sejak peristiwa Barrow-downs tahun 1979 dahulu. Aku sempat mengira ia ikut tewas di tangan Inquisitoria saat itu, tapi ketika Klon 012 melaporkan keberadaannya, aku lega juga. Yah... mengenai Albus Dumbledore, eh... sayang sekali. Betul-betul sangat disayangkan, orang sehebat dia harus dikorbankan untuk pembersihan ini...” ujar Voldemort melankolis sambil menyeruput tehnya lagi.

“Ooh, betul sekali, Vold! Aku masih ingat bagaimana kita menghancurkan markas besar Ordo Kilimanjaro bertiga... benar-benar menyenangkan!” tambah Franklin sambil tertawa lebar.

“Tunggu sebentar, Tuan Voldemort! Maksud anda... apa...?” tanya Draco tak percaya.


...


Butuh beberapa hari untuk mencerna keseluruhan hal yang diceritakan Voldemort pada Draco hari itu. Ia tidak percaya bagaimana semua hal yang ia yakini selama ini, semua hal yang ia pegang teguh sampai saat ini, hancur berkeping-keping didepan kebenaran.

“Tuan Draco~” terdengar panggilan bernada ceria dari balik pintu, “Azusa datang membawakan makanan~! Azusa masuk sekarang~”

“Ah, sebentar...” balas Draco sambil membukakan pintu.

“Menu hari ini, Pilaf** Teh Hijau dan Telur Goreng a la Azusa! Silahkaaan~!” ujar Azusa sambil meletakkan nampan berisi makanan di atas tempat tidur, sebelum duduk manis di kursi rias. Draco, tidak ingin mengecewakan putri orang yang telah melindunginya beberapa hari ini, mulai makan.

“Bagaimana? Enak?” tanya Azusa antusias. Mata indahnya memandang Draco penuh perhatian.

“Ya... Tapi, er... Rasa nasi hijau ini... agak pahit,” komentar Draco sambil minum dari gelas yang telah tersedia, “Tapi bukan berarti tidak enak...”

“Masa sih? Coba, coba... harusnya Azusa cuma menggunakan setengah jumlah macha*** dari yang biasa Azusa pakai memasak...” ujar Azusa sambil mencoba sesuap, “hmm... yah, mungkin Draco saja yang belum terbiasa dengan rasa masakan ini. Ayah pun dulu menyebut rasanya mirip makanan ikan.”

“Azusa...” desah Draco pelan sambil terus memakan pilaf yang katanya pahit itu, “Mengapa kau mau melakukan ini semua...? Maksudku, kau kan bisa mengutus pelayan untuk memasak, membereskan kamarku... hal-hal kecil seperti itu...”

“Yaa~ bukankah normal bagi seorang gadis untuk mencoba melakukan itu semua pada orang yang dicintainya?” balas Azusa sambil tersenyum, “Lagipula, memasak adalah hobi Azusa dari dulu. Ayah juga sering membawakan resep baru bila ia pulang bertualang dari luar negeri.”

Draco hanya bisa membisu, salah tingkah.

“Azusa... er... berapa... umurmu?” tanya Draco dengan suara pelan.

“Umm... empat belas, kenapa Tuan Draco bertanya?” balas Azusa sambil memiringkan kepala ke kanan.

“Ma-ma-ma... maukah kau menunggu... tiga atau empat tahun... jadi aku... er... um?”


...


Malam itu, Draco tak bisa tidur barang sekejap pun. Belum pernah hatinya merasa gatal luar biasa seperti ini. Wajah Azusa terus terbayang di matanya, sejak ia tanpa sengaja secara tidak langsung melamarnya.

Merasa tak akan ada yang bisa dipecahkan dengan berbaring dan merenung semalaman, Draco turun dari tempat tidurnya dan menuju ke bawah. Di ruang duduk, ia mendapati Franklin sedang duduk di depan perapian.

“Ooh, Draco ternyata. Tidak bisa tidur seperti diriku juga, nampaknya?” sapa sang pria setengah umur ketika ia mendapati Draco memandang ke arahnya sambil tercenung.

“Tuan Franklin, aku...” Draco berhenti sejenak ditengah kalimatnya, “ingin berbicara sedikit...”

“Ah, tepat sekali. Aku baru saja akan membuka Elven Ale ini. Minuman bagus yang kudapat ketika aku berkunjung ke Norwegia beberapa bulan lalu, sayang rasanya kalau tidak dinikmati bersama teman,” ujar Franklin sambil bangkit dan mengambil sebuah botol di rak minuman bersama sepasang gelas.

Setelah segelas minuman yang disesap pelan oleh Draco, ia angkat bicara.

“Ini tentang... Azusa, Tuan Franklin.”

“Oho, tentu, tentu saja... bagaimana dengannya? Anak gadis yang manis seperti dia adalah impian setiap pria dewasa, bukan begitu?” ujar Franklin sambil tertawa.

“Saya... tidak mengerti. Perasaan ini... begitu asing untuk saya,” lanjut Draco sambil menuang Elven Ale lagi ke dalam gelasnya.

“Ada kali pertama untuk segala hal, Draco anakku^!” ujar Franklin sambil menenggak minuman yang tersisa dalam gelasnya, “Aku kira kau belum pernah mempunyai kekasih sebelumnya, benar begitu?”

“Er... ah, ada beberapa gadis yang pernah dekat dan dijodohkan dengan saya, tapi... yah...” balas Draco, terkesiap karena tak mengira akan mendapat pertanyaan seperti itu.

“Haha! Itu dinamakan cinta, anakku. Itu adalah hasrat setiap insan. Jangan pernah mencoba membunuh atau menyembunyikannya, bila kau tak ingin menjadi orang tua yang seperti aku ini,” kata Franklin lembut, sorot matanya penuh kenangan masa lalu.

“Ah... er... begitu,” ujar Draco sambil menyesap minumannya lagi.


...


“Nggghhuurghh...” geram Draco sambil memijat kepalanya yang didera sakit berdenyut. Tak dikiranya sebotol Elven Ale yang ia minum bersama Franklin tadi malam bisa menurunkan lapis ketujuh Gehenna ke dalam kepalanya.

“Tuan Dracoo~”

Panggilan itu lagi. Nyaris tepat pada waktu yang sama dengan kemarin, dan hari-hari sebelumnya.

“Azusa membawakan kopi... baik untuk hang-over^*. Ayah juga selalu meminumnya pagi setelah minum-minum,” kata Azusa lembut sambil menaruh sebuah nampan berisi secangkir kopi, “Indonesian Anaguma^** Arabica Blend, kadang dipuji-puji orang sebagai kopi terbaik di dunia. Gram per gram, harganya hampir setara dengan perak atau emas.”

“Aaarrrgh... terimakasih...” geram Draco sambil berusaha meminum kopi itu, sementara masih berusaha melawan keganasan alam neraka yang berkecamuk dalam batok kepalanya. Pelan-pelan, kopi hangat dalam cangkir itu disesapnya. Segera setelah kopi itu habis disesapnya, tubuh Draco bagai dimasuki ramuan ajaib, perlahan mulai mengurangi sakit yang berkecamuk dalam kepalanya itu.

“Merasa baikan?” tanya Azusa lembut sambil menerima cangkir kosong dari tangan gemetar Draco, yang langsung rubuh kembali ke tempat tidur.

“... sedikit...” desah Draco lemas.

“Baguslah... Saa, kalau begitu, Azusa akan menyiapkan makan siang...”

Baru Azusa akan berdiri, sebuah tangan mendadak menggamit tangannya.

“Azu... sa... er... keberatan kalau... nghrghhh... kau menungguiku... grrhh... sebentar di sini...?”

Azusa hanya tersenyum. Semu merah muda tampak di kedua pipinya yang ranum itu.

“Azusa... tidak keberatan kok...”





--------------------------------
* : ‘Draco Mystere’ dapat diartikan sebagai ‘Misteri Naga’.
** : Pilaf itu makanan tradisional India, mirip nasi goreng.
*** : Macha itu semacam teh hijau dari Jepang, kadang dipakai juga dalam es krim atau float (pernah nyoba soalnya, heheheh ^^)
^ : harusnya “...Draco my boy!”
^* : Hangover itu apa yang terjadi pada pagi berikutnya, bila kita minum minuman beralkohol. Biasanya berupa sakit kepala yang amat sangat.
^** : Anaguma = Luak ^^


... OOC + Sappy...  Cheesy
Logged

I pity the foo' who doesn't read FAQs!


The greatest warlord of JAPAN

Uesugi dormiens nunquam tittilandus
GunZ [True Sword of The Uesugi]
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +129/-179
Posts: 647


The Heart of Sword


WWW
« Reply #3 on: March 29, 2007, 07:45:24 PM »

------------------------------------------------
Side Story 3 – Draco
Draco Mystere – Part 2

------------------------------------------------




Draco terbangun, merasakan sebuah tangan mencoba melingkari pinggangnya dengan lembut. Sinar matahari keemasan membayang di luar jendela, menandakan hari sudah sore. Rupanya Azusa tertidur selama ia menjaga Draco.

Dengan lembut Draco bangkit, berusaha tidak membangunkan Azusa. Pelan-pelan ia membungkuk dan mencium dahi putri semata wayang Franklin Payne itu. Setelah itu, sang naga yang dimabuk cinta itupun dengan hati-hati keluar kamar lalu turun ke ruang makan.

“Oho, baru bangun nampaknya? Elven Ale pun masih terlalu keras untukmu, eh, Draco?” tanya Franklin dengan nada bicaranya yang khas, menggelegar dan ceria.

“Ahaha, Tuan Franklin bisa saja...” balas Draco sambil tertawa ringan.

“Sara, siapkan makanan untuk Tuan Draco ini!” seru Franklin memerintah kepada salah seorang pembantu yang sedang ada di dapur.

Setelah makan sore yang cukup mengenyangkan, Draco mulai menuju ruang duduk untuk sekadar duduk dan membiarkan tubuhnya mencerna makanan yang baru masuk itu. Didapatinya pelindungnya selama lewat sebulan ini, Franklin Payne, duduk tercenung didepan perapian yang tidak menyala. Sesuatu menggantung di mendung yang memenuhi ekspresinya itu.

“Er... Tuan Franklin...?” sapa Draco ragu. Ia tak ingin mengganggu pelindung yang mulai dihormatinya itu.

“Duduklah. Baca koran pagi itu,” ujar Franklin muram, “Aku turut berduka cita, Draco.”

Draco pun duduk lalu membaca eksemplar Daily Prophet yang tergeletak di atas meja itu dengan hati-hati.

Mata Draco segera membelalak tak percaya.


...


Quote
KEMENANGAN BESAR BAGI KEBENARAN DAN PERDAMAIAN

MARKAS BESAR PELAHAP-MAUT DITEMUKAN

20 ORANG LEBIH TERMASUK DIA-YANG-NAMANYA-TAK-BOLEH-DISEBUT TEWAS, PULUHAN DITANGKAP



Kemarin, 1 September 1997, akan menjadi hari yang akan selalu diingat di seluruh dunia sihir, sebagai hari kemenangan dan pembebasan atas teror yang dijalankan oleh gerombolan penyihir hitam yang dikenal dengan nama Pelahap-Maut. Pada hari itu, tim serbu gabungan, yang terdiri dari seluruh Auror yang bertugas di Inggris Raya, Wales, dan Skotlandia, serta diketuai sendiri oleh Menteri Sihir Rufus Scrimgeour, telah berhasil menemukan dan menyerbu tempat persembunyian utama para Pelahap-Maut. Pimpinan para Pelahap-Maut sendiri, Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut alias Lord Voldemort, tewas dalam penyerbuan itu.

“Kami mendapatkan petunjuk-petunjuk penting setelah menerima beberapa informasi berharga dari khalayak ramai,” sebut Menteri Sihir ketika dimintai keterangan seusai kemenangan gemilang itu, “kami tak mungkin berhasil tanpa bantuan mereka. Terima kasih sebesar-besarnya saya ucapkan kepada Tuan Dalton Deepthroat, Tuan Ophiuchus Murdoch, Tuan Veldrin D’Arien, dan Nyonya Cecily Fairchild atas segala bantuan dan informasi yang anda berikan kepada kami.”

Penyerbuan yang berhasil gemilang ini sempat menjadi ajang adu mantra yang mengerikan antara pasukan Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut dengan pasukan gabungan Auror, namun dengan kesigapan para Auror dan strategi matang yang diformulasikan oleh Menteri Sihir sendiri, para Pelahap-Maut yang kejam itu dapat dikalahkan. Tidak sedikit korban tewas berjatuhan dari kedua pihak, namun dengan tewasnya Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut, kekalahan jelas berada di pihak para Pelahap-Maut.

Beberapa nama korban tewas lain yang mayatnya sudah bisa dikenali, dari sisi para Pelahap-Maut meliputi: Bellatrix Lestrange, Narcissa Malfoy, Aquila Cetme, dan Arturio Ballandovan; Di sisi para Auror, beberapa korban tewas yang mayatnya sudah dapat diidentifikasi: Remus J. Lupin, Nymphadora Tonks, Antoine Jameson, Nathan Levy, dan Hieronymus Maxim.


...


“Tuan Voldemort, saya datang menghadap.”

Sesosok tubuh muda berjubah hijau-hitam memasuki ruangan kantor kecil itu dengan mantap.

“Ah... Draco Malfoy. Ada perlu apa?” balas Voldemort, mencoba ramah.

“Apakah betul, ibuku telah dibunuh oleh para Auror?” tanya Draco dingin.

“Itulah yang mereka muat di Daily Prophet, Draco,” ujar Voldemort datar, “Sejujurnya, aku belum menerima laporan langsung dari Klon 012 atau sisa Death-Eater lainnya, jadi aku juga belum bisa meyakini semua ini. Jangan salah, aku juga cemas seperti dirimu, tapi kita tidak bisa melakukan hal lain selain menunggu.”

“Geh... kalau begitu aku akan pergi ke sana dan mencari keterangan sendiri!” bentak Draco sambil memutar badan, “Tidak sulit memaksa beberapa orang Auror rendahan itu mengaku di bawah Cruciatus...”

“Sebelum kau melakukan hal-hal yang nekad, Draco... Aku harus mengatakan ini sebagai sesama lelaki,” potong Voldemort sambil berdiri, “bahwa sebagian dari sikap ksatria adalah kehati-hatian*. Camkan itu baik-baik. Aku tak ingin lagi seorang yang begitu berbakat mati didepanku.”

Draco terdiam sejenak, sebelum mendengus pelan dan menghadapi Voldemort lagi, “Apa yang kau maksud?”

“Kau butuh kekuatan, Draco. Kau tidak butuh tindakan cepat, tetapi kekuatan untuk membalas dendam dengan tuntas kepada mereka semua,” ujar Voldemort sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Draco, “Kekuatan yang bisa dibangkitkan dari jauh didalam gen-gen milikmu.”

Sebelum sempat menjawab, Draco sudah diserbu ratusan belalang kecil berwarna emas yang berloncatan dari telapak tangan Voldemort ke arahnya. Belum pulih kagetnya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan keberadaan seeekor ular yang terbuat dari darah segar di atas telapak tangan yang sama, berdiri mengancam dengan ‘mulut’ terbuka ke arahnya.

“Kekuatan untuk menggunakan sihir termurni tanpa batasan apapun kecuali kekuatan dan keteguhan pikiranmu,” lanjut Voldemort sambil membiarkan ular yang terbuat dari darah itu meloncat ke arah Draco, “Kekuatan tanpa batasan dan tanpa harga.”

Draco berusaha menghindari ular darah itu, namun sebelum sempat ia menghindar, ular itu berubah menjadi selarik panjang api yang kini membelitnya. Ajaib, Draco tetap diam tak bergerak.

“Maksudmu...” desis Draco pendek, sementara belitan api itu tiba-tiba berubah menjadi kristal keras berwarna merah translusen**.

“Bergabunglah. Aku melihat talenta yang sangat besar tersimpan dalam heliks ganda kehidupanmu. Biarkan aku membangkitkannya untukmu,” balas Voldemort sambil tersenyum dan memasukkan tangan kanannya yang tadi terulur ke dalam saku, “Tidak usah menjawab sekarang. Gunakan waktumu untuk memikirkan tawaran ini sebaik-baiknya.”


...


Draco keluar dari api Floo di perapian rumah Payne, hanya untuk mendapati rumah itu gelap dan seperti kosong, kecuali api perapian yang masih menyala terang. Dengan was-was ia memeriksa rumah itu untuk kemungkinan-kemungkinan hal yang tidak diinginkan.

Dan ia menemukannya.

Di dapur, ia menemukan beberapa tanda perlawanan dan cipratan darah. Mayat salah seorang pelayan wanita yang bekerja di situ dijumpainya terkulai di salah satu sudut ruangan dengan tangan kiri yang tercerai dengan tubuhnya.

Tak mau lagi membuang waktu, Draco bergegas pergi ke kamar Azusa.

“Dra... co...”

Di pojok ruangan, tergeletak sesosok tubuh orang yang sudah sangat dikenal Draco.

“Azusa! Si-... siapa yang berbuat ini?”

Kaki kanan Azusa telah terpisah dari tubuhnya di bagian paha, sementara tampak lubang menganga selebar jempol di perut sebelah kanannya. Darah berceceran di sekitarnya.

“Me-... mereka... Au-...ror...”

Draco mati-matian berusaha memanggil kekuatan mantra penyembuhan dasar yang ia pelajari pada tahun ketiganya di Hogwarts, namun kekuatannya tidaklah cukup. Luka yang diderita Azusa terlalu parah untuk disembuhkan oleh kekuatannya sendiri.

“Mencari... dirimu... Ayah... melawan...”

“Kumohon, jangan terlalu banyak bicara, Azusa...”

Draco mengerahkan mantra Diffindo untuk merobek tirai menjadi potongan kain panjang mirip perban. Dengan pembalut seadanya itu ia berusaha menghentikan pendarahan pada perut dan paha kanan Azusa.

“Mukku... melawan... mereka... menembaki dia...”

“Bertahanlah! Kita ke tempat Tuan Voldemort sekarang!”

Sambil menggendong Azusa dengan hati-hati, Draco kembali menebarkan bubuk Floo pada api perapian yang masih menyala, menuju langsung ke kantor yang dipakai sebagai pusat operasi oleh Voldemort.


...


“Tuan Voldemort!” teriak Draco sambil mendobrak pintu kantor kecil itu hingga terbuka lebar.

“Ada ap-... astaga...” balas Voldemort, langsung berdiri diliput kekhawatiran ketika melihat putri sahabatnya terkulai lemas di tangan Draco, “Letakkan dia di sofa, Draco. Aku akan mencoba melakukan Soulbind untuk mencegah nyawa Azusa meninggalkan tubuhnya. Sementara itu, tolong panggilkan juga Karen Stadtfeld, pintu ketiga di gang ke arah kiri.”

Draco segera meletakkan tubuh lemas Azusa di sofa yang tersedia dan keluar ke gang, sementara Voldemort menyalurkan energi sihir berwarna keemasan ke dalam kedua tangannya.


...


“Tuan Voldemort, ada yang bisa saya bantu?” seru wanita muda berambut kemerahan yang datang tergopoh bersama Draco beberapa menit kemudian.

“Karen, tolong hubungi Dr. Rei Ayanami atau Dr. Shinji Ikari di Eshtar, suruh salah satu datang ke sini, saat ini juga!” seru Voldemort cepat, sambil tampak menahan sebuah bola energi berwarna emas dengan tangannya sekitar sejengkal di atas dada Azusa, “Draco, keluarkan tongkatmu, tempelkan di punggungku, lalu ulangi kata-kataku!”

“Baik!” jawab Draco sambil mengeluarkan tongkatnya dan berdiri di belakang Voldemort dengan tongkat teracung menyentuh punggung Voldemort, “Aku siap!”

“Arcus Cultus Aegeas...”

“Arcus Cultus Aegeas...”

“Arthesia Augmenta Dextra...”

“Arthesia Augmentia Dextra...”

“Nae Divida Somnium!”

“Nea Divida SOMNIUM!”***

Draco merasa kekuatannya diserap cepat oleh tongkatnya. Ia tidak mengerti mantra macam apa yang dilafalkan Voldemort pada saat itu, namun ia berusaha bertahan sebisanya.

“Jangan sampai kau jatuh pingsan, Draco! Keselamatan Azusa ada di tangan kita berdua!” seru Voldemort sambil terus berusaha menahan bola cahaya keemasan di atas dada Azusa.

Beberapa menit mereka berdua berusaha mempertahankan sihir Soulbind itu, sebelum akhirnya dua orang berbalut pakaian lab muncul dari udara kosong di sebelah Voldemort. Voldemort tampak sedikit lega dengan kedatangan kedua orang itu, yang dengan cepat memeriksa kondisi Azusa dengan beberapa alat, lalu menyuntikkan beberapa cairan ke dalam tubuh Azusa.

Tanpa peringatan, Draco merasakan kekuatannya tersedot habis, dan jatuh pingsan.


...


Draco terbangun di atas ranjang yang mirip ranjang rumah sakit itu dengan tubuh sakit seperti sehabis dipukuli troll. Otot dan sendi dalam tubuhnya seperti sedang melakukan pemogokan dan aksi protes massal.

“Bagaimana perasaanmu, Draco?” ujar Voldemort yang duduk di sebuah kursi di samping tempat tidur Draco.

“Urgh... Tuan Voldemort... Azusa... Ergh!” geram Draco, menahan sakit di sendi-sendinya.

“Tenang, Draco. Azusa sudah melewati masa kritisnya, dia akan baik-baik saja,” kata Voldemort menenangkan, “Yah... walaupun penyembuhan dan rehabilitasi kaki kanannya akan makan waktu cukup lama.”

“Syukurlah...” desah Draco lega.

“Walaupun... yah, aku menyesal untuk mengatakan... Frank sudah meninggal dunia ketika kami temukan,” balas Voldemort dengan nada sedih, “benar-benar suatu kehilangan besar untukku, Draco. Tempo hari Albus, sekarang Frank...”

Draco tidak tahu apa yang harus ia katakan. Voldemort di depannya benar-benar terlihat seperti manusia biasa dengan perasaan dan hati yang telah hancur, bukan tiran kejam tanpa welas asih yang ia kenal dalam diri ‘Voldemort’ alias Klon 012 itu.

“Tentang ibumu, ayahmu, serta Bellatrix Lestrange, Draco...” ujar Voldemort pelan, memecah sunyi dengan hati-hati, “agen-agenku telah menemukan dan mengambil jenazah mereka. Ada beberapa alternatif untuk mereka. Mereka bisa dijadikan lich, ‘dihidupkan’ kembali dengan menggunakan mantra zin-carla... atau disusun kembali manjadi makhluk lain dengan nanomachines. Semua ada kelebihan dan kekurangannya.”

“Sejujurnya, aku sudah tidak terlalu mempedulikan mereka, Tuan Voldemort...” ujar Draco lirih, tangan kanan menutup dahi, “Hanya Azusa.... yang kupikirkan saat ini.”

Voldemort tersenyum, sebelum berkata, “Cinta yang indah. Nikmatilah dengan bijaksana, dan ia akan memberikan kebahagiaan yang abadi.”

“Dan tentang tawaran anda tempo hari, Tuan Voldemort...” ujar Draco ketika Voldemort berbalik ke arah pintu, “Aku telah memutuskan untuk menerimanya. Aku akan membutuhkannya untuk melindungi Azusa.”

“Bagus sekali, Draco,” balas Voldemort sambil tersenyum, “Kita akan memulai pelajaranmu setelah kau merasa siap.”


...


“Draco-sama^,” sapa Azusa sambil tersenyum manis kepada Draco yang sedang mengagumi matahari kutub yang sedang bersinar terang pada puncak Eshtar Geodome, “tidak masuk? Azusa rasa cuaca hari ini lebih berangin dari biasanya...”

“Azusa...” ujar Draco lembut sambil berdiri dan berbalik, “bagaimana kondisi kaki kananmu...?”

“Umm... kaki kanan Azusa diganti dengan kaki cybernetic,” balas Azusa sambil memeluk Draco, “Azusa sudah mulai terbiasa dengan kaki ini. Kata dokter Rei, kaki itu harus diganti sekitar 3-4 tahun lagi, karena Azusa sedang tumbuh cepat.”

“Kenapa kau tidak meminta proses regenerasi saja untuk kakimu?” tanya Draco penasaran, sembari membalas pelukan Azusa dan menyalurkan tenaga sihirnya untuk menghangatkan mereka berdua, “Aku yakin Rei atau Tuan Voldemort dapat melakukan regenerasi bagian tubuh dengan sempurna, bila diberi cukup waktu.”

“Azusa ingin bertemu Draco-sama kembali secepatnya,” jawab Azusa, semu merah muda menghiasi wajah cantiknya, “Azusa tidak kuat berpisah terlalu lama dengan Draco-sama...”

“Azusa... baka^*,” bisik Draco lembut sembari mencium dahi Azusa, “tetapi aku mencintaimu. Lebih dari segalanya.”

“Hai... Azusa wa baka desu^*, ehehehe...” balas Azusa sambil berjinjit, berusaha mencium pipi Draco, “demo... Draco-sama wo... dare yori... seippai... aishita...^**”

“Untuk melindungi Azusa yang mencintaiku... aku akan menjadi orang terkuat...” imbuh Draco lembut, “lebih dari siapapun juga di dunia ini...”


... Kementerian Sihir Inggris, beberapa minggu kemudian...


“Tunggu. Apa keperluanmu datang ke sini?” tanya Eric Munch kasar sambil mencekal kerah jubah Draco yang berusaha melewatinya tanpa peduli keberadaan pria setengah umur itu.

“Menghancurkan tempat terkutuk ini,” jawab Draco dingin, sambil memanggil kekuatan Zafira untuk disalurkan ke dalam tubuhnya dengan isyarat telekinesis. Tudung jubahnya tersingkap, menampakkan sepasang mata reptil buas yang berkilau emas pada pupilnya.

“Kau... Draco... Draco Malfoy!” teriak Eric sambil berusaha menjangkau sebuah tombol merah dekat tempat ia biasa duduk, “Buronan kelas satu...”

Belum sempat Eric menekan tombol tanda bahaya itu, tubuhnya sudah hancur menjadi debu ditengah tawa Draco.

Dan pada akhir hari itu, 4 Desember 1997, lebih dari tujuh ratus orang menemui ajal dengan cara yang sama dengan Eric Munch di tangan seorang Draco Malfoy. Nama Draco Malfoy akan selalu diingat, karena pada hari itu ia menghancurkan blok kota tempat Kementerian Sihir Inggris berada hingga rata dengan tanah. Tindakannya ini menjadi tabuhan genderang yang kemudian memicu perang dunia yang telah lama dirintis fondasinya oleh Voldemort.

Perang Dunia Ketiga.

Sebuah peperangan panjang yang nantinya akan lebih dikenal para wizard dengan nama lainnya: Perang Sihir Akbar Eshtaria^***.





-----------------------------------
* : kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris, jadinya “... a part of valor is discretion!”

** : translusen diterjemahkan dari kata bahasa Inggris translucent, yang artinya kira-kira “tembus cahaya tapi tidak bening”. Kira-kira mirip dengan waktu kita melihat melewati kertas roti atau kertas kalkir.

*** : kalo bingung, baris pertama adalah kalimat yang dilafalkan oleh Voldemort, sedangkan baris kedua adalah kalimat yang dilafalkan ulang oleh Draco.

^ : dalam bahasa Jepang, imbuhan ‘–sama’, bila diberikan pada nama orang (contoh: Draco-sama, Alvus-sama, Irui-sama) atau kata penunjuk orang (contoh: anata-sama, oji-sama, otou-sama), menandakan penghormatan yang sangat tinggi (kira-kira setingkat dengan penghormatan seorang bawahan/rakyat biasa kepada shogun/jenderal atau daimyo/lord junjungannya) pada orang yang namanya diberi imbuhan itu.

^* : baka = tolol, bodoh; pada dasarnya, ucapan mereka berdua dalam bahasa Jepang artinya sama (Azusa bodoh ^^;; ), tetapi diucapkan dengan tata krama dan nilai rasa yang berbeda. Draco mengucapkannya dengan bahasa biasa/sehari-hari, sementara Azusa mengulanginya dalam bahasa yang sopan.

^** : “demo, Draco-sama wo dare yori seippai aishita” artinya “tapi, aku mencintai Draco-sama lebih dari siapapun juga di dunia ini”.

^*** : kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris, jadinya “Eshtarian Great Magical War”



bittersweet ending, hehehe ^^
Logged

I pity the foo' who doesn't read FAQs!


The greatest warlord of JAPAN

Uesugi dormiens nunquam tittilandus
Pages: [1]
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.8 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!

supported by : IndoLowonganKerja.com