harrypotterindonesia.com
September 09, 2010, 12:21:25 AM *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: Selamat datang di Forum HPI yang baru. Silahkan melakukan Registrasi untuk ikut berdiskusi di forum ini. Mari kita jaga Forum ini bersama.
 
   Home   Help Search Login Register  
Pages: [1]
  Print  
Author Topic: Challenge 14: Severus Snape  (Read 836 times)
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« on: January 08, 2010, 07:16:39 AM »

Thread ini dimaksudkan untuk pemuatan fics Challenge 14: Severus Snape. Thread Q, A, C & C-nya sudah dibuka di sini.

Silakan muat fics-mu. Tidak diperlukan sistem selang satu jika kau memiliki lebih dari satu fics. Jangan lupa Disclaimer dan Warning.

Post ini juga akan berisi data link fics yang tidak dipost di HPI.

Jika kau memiliki puisi, esai, atau art, silakan post di subforum yang semestinya, beri tag [SNAPE DAY] pada judul. Terimakasih banyak lho!

Silakan mulai!
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
harrypotterindonesia.com
« on: January 08, 2010, 07:16:39 AM »

 Logged
Dindoth
Gryffindor
HPI
**

Karma: +72/-64
Posts: 250


And Blah-Blah-Blah, you just know that.


WWW
« Reply #1 on: January 08, 2010, 11:47:11 AM »

Tittle: Semua Ada Artinya (oneshot)
Genre: Friendship
Rating: K+
Characters: Severus Snape, Lily Evans, dan Marauders.
Timeline: Tahun ketiga Hogwarts Severus Snape.

Disclaimer: Semua yang ada didalam fanfic ini milik JK Rowling, saya hanya sekedar fansiseng yang mencoba menghancurkannyayang merayakan Snape Day.

Warning: Kejayusan, kegaringan, kedataran, tidak ditanggung oleh penulis.

Author's note:
Sebelumnya, Dinda berterima kasih untuk Tava Eurdanceza dan Zen Xiao-Fang aka Thiea J. Arantxa yang baca duluan dan bersedia ngasih komen. Thanks.

***

Semua Ada Artinya

Semuanya sudah berakhir.

Entah berapa jam aku duduk di sini, aku tidak tahu, bahkan tak mau tahu. Aku ingin berlama-lama di sini. Kerikil-kerikil kecil kulemparkan jauh-jauh, toh jatuh juga ke dalam danau. Buku ramuanku masih tergeletak tak berdaya disampingku. Aku menghela napas, semua yang kulakukan sepertinya hanya sia-sia. Tak akan ada yang ingat hari ini tanggal berapa, kurasa. Semuanya. Apakah ada yang tahu? Coba, aku ingin buktinya. Sekarang tanggal delapan Januari. Mungkin tanggal sembilan Januari tak akan pernah ada di dunia ini. Percuma. Tanggal sembilan adalah tanggal yang busuk.

Aku bangun berdiri, merapihkan celanaku yang agak kotor. Kuambil bukuku yang tergeletak di tanah. Lalu aku berjalan menuju kastil. Dan aku menyesal sekali, karena empat pembuat masalah di Hogwarts telah muncul berlagak sombong. Aku memutar balik badanku, merasa lebih baik aku tetap berada di dekat danau. Terlambat, suara kaki si Kepala Snitch dan teman-temannya seperti tak jauh satu sentimeter dariku. Aku berhenti berjalan. Dan semua kaki-kaki itu tak terdengar lagi.

”Kau kenapa, Snivellus?” suara yang tak asing terdengar ditelingaku. Paling tidak setiap hari seratus kali suara itu terdengar. Aku diam. Masih tetap diam.

”Kurasa dia tak mengerti bahasa kita, James,” kata teman satunya mencibir. Yah, siapa yang tak kenal suara sahabat karib Kepala Snitch, yang selalu dipuja-puja oleh lalat-lalat betina. Sepertinya usaha sabarku tak berjalan mulus, karena bibirku tak kuat untuk tak mengeluarkan kata-kata tajam.

”Maumu apa, eh?” tanyaku, masih membelakangi mereka semua, seakan-akan aku berbicara dengan angin. Hening. Tak ada kata-kata hinaan selanjutnya. Ini membuatku mengangkat alis. Tak tahan tidak melihat keadaan di belakang, akhirnya aku membalikkan badanku. Coba tebak, gadis berambut merah baru saja melotot tajam kearah empat penghancur Hogwarts. Akan kuluruskan, si Kepala Snitch itu berpura-pura sopan di depan wanita. Ini membuatku muntah. Aku langsung saja memanfaatkan kesempatan ini. Tentu saja kembali ke kastil. Aku sudah menduga akan terjadi hal ini. Sebelum tanggal sembilan Januari saja hal buruk sudah menimpaku.

”Kau cepat sekali!”

Aku menoleh ke belakang. Gadis berambut merah berjalan menuju kearahku. Aku menghentikan langkah kakiku. Aku tersenyum kecil. Setidaknya, aku memang mengakui hanya karena gadis itu, aku merasa mempunyai teman di dunia ini. Dunia ini sempit, aku tahu. Dan aku benci itu. Aku tak akan pernah mengatakan dunia ini tak adil padaku, tapi itu memang kenyataan. Hanya karena gadis itu, aku merasa dunia ini luas.

”Kuharap kau tidak marah dengan geng bego itu,” ucap gadis itu, napasnya tersengal. Lalu dia menarik napas panjang untuk mengatur napasnya. ”Kuharap kau mau pergi ke perpustakaan, aku mau ke sana.”

Aku mengangguk cepat.

Niat awalku sebenarnya ingin kembali ke asrama, namun kuurungkan. Aku berjalan dengan gadis Gryffindor ini. Entah mengapa bibirku tertutup rapat saat menuju perpustakaan. Seperti aku telah memakan satu karung Kacang Segala Rasa setan. Ingin rasanya aku mempercepat langkahku, karena aku tak suka banyak anak-anak yang memandang tolol kepadaku, seakan-akan aku alien baru turun dari langit.

Dan untungnya, aku sudah berada di perpustakaan, sekarang.

Aku berpura-pura menyelesaikan tugas ramuanku, padahal tugas itu sudah jauh hari kukerjakan. Firasatku mengatakan gadis itu belum mengerjakan esainya, entahlah. Gadis itu mencari buku-buku di rak-rak tinggi itu. Aku merogoh kantung jubahku, untuk mengambil pena-bulu. Malah yang kudapat adalah bunga lili yang kupetik entah di mana. Gelagapan, kumasukkan bunga itu kedalam kantung jubahku lagi, takut gadis itu melihatnya. Kugaruk kepalaku yang tak gatal, seakan-akan aku tidak tahu apa-apa. Kemudian kurogoh lagi kantung jubahku, dan pena-bulu kudapat. Aku menulis asal-asalan perkamen kosong yang kuselipkan di dalam buku ramuan.

”Lihat deh, Ramuan Penajam Kecerdasan, menurutmu, Slughorn besok Senin akan menyuruh kita membuat ramuan ini? Yeah, menurutku sih iya, soalnya untuk apa dia memberikan kita tugas esai mencari informasi tentang Penajam Kecerdasan?” gadis itu duduk disebelahku sambil membuka buku yang baru dia ambil dari rak. Aku tersadar akan sesuatu. Pipiku secara drastis memerah tak karuan. Aku berusaha mengontrol diriku.

”Aku rasa juga.”

Hanya itu jawabanku? Dasar bodoh.

”Kau belum mengerjakan esai Ramuan?”

Hebat. Aku bisa berbicara normal.

”Kau bercanda? Tentu saja aku sudah mengerjakannya. Well, aku ke sini hanya ingin baca-baca saja. Dan, kau? Kulihat malah kau yang belum mengerjakan, mau kubantu?” dia nyengir lebar. Dan aku menyadari satu hal, betapa bodohnya firasatku. Berpura-pura menulis. Tak mungkin seorang murid kesayangan Slughorn belum mengerjakan tugas. Aku malah bodoh benar mengira seperti itu.

”Eh—aku hanya menambahkannya sedikit.”

Setelah itu, aku tak mendengar satu suara pun. Yang kudengar hanya suara cicit omelan Madam Pince yang memarahi anak-anak yang tertawa kecil di perpustakaan, dan suara kertas-kertas yang sedang dibolak-balikkan. Aku menutup buka ramuanku, lalu bangkit berdiri dari kursi menuju rak buku yang ada di depanku. Mondar-mandir aku sok mencari-cari buku, padahal aku tak berniat mencari buku apa pun. Aku mengambil bukuku di atas meja. Aku ingin kembali ke asrama, mengatasi rasa abstrak otakku. Lagi-lagi otakku tak terkontrol.

“Hei, aku duluan ya,” kataku. Gadis itu yang tadinya konsentrasi terhadap bukunya, mendongak kaget tiba-tiba ada yang bersuara. Ya, aku, aku yang bersuara, dan bukan hantu. Gadis itu tak memberi respon apa pun. Ini membuatku melangkahkan kakiku keluar dari perpustakaan. Mungkin kedudukanku benar-benar sudah sedikit tak berarti untuk gadis itu.

”Severus! Kau harus ke perpustakaan besok pagi! Sepagi mungkin!”

Aku menoleh.

”Astaga, Nona! Kau kira tempat ini apa, Lapangan Quidditch?” omelan Madam Pince segera menyusul setelah gadis itu berteriak. Aku mengangguk sebagai tanda setuju, lalu aku keluar sambil tertawa kecil.

***

Dan coba tebak, hari ini tanggal berapa?

Ya, hari ini bukanlah hari apa-apa.

Aku mengucek-ngucek mataku. Sesuai janji si gadis, aku akan ke perpustakaan pagi ini. Entah dengan hal apa aku ingin memenuhi perintah gadis itu untuk bangun pagi dan langsung ke perpustakaan. Bersyukur hari ini hari Minggu, biasanya dilewatkan oleh tidur panjang sampai siang, atau belajar, seperti aku, membosankan, memang. Aku bangun dari tempat tidur, masih menggunakan baju tidur. Aku keluar asrama, dan berjalan menaiki tangga pualam Hogwarts. Tentu saja ini hal gila. Dari Ruang Bawah Tanah aku menuju perpustakaan masih menggunakan baju tidur. Tidak apa, Severus, toh jam lima murid-murid Hogwarts masih tertidur lelap dikasur mereka.

Hebat. Perpustakaan masih dikunci. Aku tak tahu, apakah aku akan mulai membenci si gadis karena mengerjaiku seperti ini. Dimulai dari jam lima. Tanggal sembilan Januari dimulai kehancurannya. Aku menendang kesal.

Duk!

Merasa aku menendang sesuatu, aku melihat ke bawah. Sebuah kotak terbungkus rapi oleh kertas berwarna hijau, dan ada pita yang mengikat. Aku berjongkok, mengambil bungkusan itu. Memeriksanya. Bodoh sekali, ini seperti malam Natal dan Santa yang sedang membagi-bagikan hadiah, dan aku malah memeriksanya.

Terkejut?

Sangat.

Ditujukan kepadaku. Tertulis disana namaku. Severus Snape.

”Sori, Severus,” suara yang tak asing kudengar. Gadis itu tiba-tiba berada disampingku. Aku berjengit, aku langsung berdiri. Melongo. Aku menutup rapat kembali kedua bibirku. Bungkusan itu kupegang di tangan. Gadis itu menguap, lalu menguncir rambut merahnya yang terurai. Dia masih mengenakan gaun tidurnya.

”Dan ini?” tanyaku bodoh sambil menyodorkan bungkusan itu.

”Untukmu, teman. Selamat ulang tahun.”

Senyumku melebar. Sekarang, aku menyadari betapa luasnya dunia, betapa pentingnya tanggal sembilan Januari di dalam duniaku. Aku merasa semua hal buruk yang kualami seperti hamparan angin saja, aku sudah tak peduli. Hari ini duniaku. Tak ada yang bisa menggantikannya. Ingin rasanya aku berteriak. Tapi suaraku tercekat dalam mulutku. Aku tak bisa berkata apa-apa. Mungkin empat atau lima kata saja. Dan yang terpenting,

ada yang mengingat hari lahirku.

”Terima kasih, Lily Evans.”

***

Author's note: (again)
Lagi. Awalnya saya bertarung untuk menjadi pertamax dengan Kak Lia, tapi ternyata dia tak jadi menginap di warnet.

Kritik, saran, royalti, saya buka dompet saya lebar-lebar.

ETA:
Edited August 30, 2010.
« Last Edit: August 30, 2010, 08:04:31 AM by Dindoth » Logged
harrypotterindonesia.com
« Reply #1 on: January 08, 2010, 11:47:11 AM »

 Logged
Hulk-mione Granger
~Orang terkeren se-HPI~
Global Moderator
HPI
****

Karma: +340/-64
Posts: 1854


Hermione berubah jadi Hulk? Seksinya!!


WWW
« Reply #2 on: January 08, 2010, 07:54:49 PM »

Judul : Veritaserum: Ramuan Kejujuran(?)
Genre: RomCom
Rating: Umum
Setting: Tahun kelima Harry dkk
Disclaimer: Belong to JK Rowling

NB: Fanfic di bawah ini adalah fanfic teraneh, jadi kayak bukan gw yang buatnya.. wakaka..

Ok, dah silakan dinikmati.




Veritaserum: Ramuan Kejujuran(?)


Perkenalkan namaku Snape, Severus Snape. Ah, tapi kuyakin semua sudah mengenalku. Siapa yang tak kenal dengan guru ramuan terseksi yang pernah ada di Hogwarts? Jujur saja, sebenarnya aku pun tak menyangka akan se-terkenal ini setelah mengajar di sekolah sihir itu. Makanya tak usah heran juga kalau banyak yang merasa iri padaku dan membenciku, padahal aku tak pernah sekalipun menyiksa mereka. Ng, tapi menyiksa batin mereka mungkin sering. Contohnya saja, si kecil Potter itu yang sering menjadi korban siksaan batinku. Entah kenapa kami sangat tidak akur. Dia sangat membenciku dari pertama kali kita bertemu. Apa dia iri melihat rambutku yang rapi ini ya? Tak usah diragukan lagi sih, ramuan untuk rambut hasil buatanku ini memang bisa membuat rambut lepek menjadi berminyak rapi a la agen-agen ganda di dunia muggle.

Oh iya, aku belum menceritakan bahwa aku itu seorang agen ganda juga ya? Ini semua gara-gara Dumbledore, gaji untuk mengajar di Hogwarts kecil sekali. Jadilah selain mengajar di Hogwarts, sekalian saja aku berjualan ramuan rambut buatanku ini yang kuberi nama ‘Snap-poo’ atau singkatan dari ‘Snape Shampoo’. Hasilnya lumayan lha, sudah ada pelanggan tetap, seperti murid kesayanganku Draco Malfoy. Lihat saja, rambutnya bisa rapi diklimis ke belakang gara-gara memakai ramuanku, pastinya.

Ah, sudah cukup perkenalannya. Nanti juga bakal tahu siapa aku lebih dalam jika bertanya kepada orang sekitar. Sekali lagi kuberitahu, aku ini sangat tenar. Bahkan, tak kalah tenar dari si bocah yang bertahan hidup itu.

Dan sekarang, aku sedang berada di kelasku. Menunggu murid-muridku masuk untuk mengajarkan pada mereka bagaimana cara membuat ramuan yang baik dan benar. Atau mungkin untuk kebanyakan murid di sini, mengajarkan cara untuk membuat kuali dan sendok pengaduk mereka tetap utuh sampai pelajaran selesai.

“Simpan tongkat kalian!” perintahku saat semua murid sudah berkumpul. “Tak perlu menggunakan benda itu jika belajar di kelasku..” Aku berhenti sejenak, kemudian melirik kaget ke arah Vincent Crabbe, teman satu genk Malfoy. “Tongkat saja tak boleh, apalagi cangkul, Crabbe!!”

Lalu, aku berbalik memunggungi murid-muridku dan berjalan dengan gaya sekeren mungkin. Barangkali nanti ada yang ngefans gara-gara melihat goyangan pantatku saat berjalan.

“Kali ini kita akan belajar bagaimana membuat ramuan kejujuran atau siapa yang tahu apa sebutannya?”

Seharusnya aku tak usah menantang murid-muridku untuk menjawabnya, karena sudah pasti yang mengangkat tangannya adalah si Nona-Tahu-Segala, Hermione Granger, bahkan kalau kutanya soal nomor togel apa yang keluar besok pun aku yakin dia bakal tahu.

Tapi seperti biasa, aku pun akan mendiamkannya, tak peduli seberapa lama pun dia mengangkat tangannya. Bukan karena aku membencinya, tapi justru karena aku suka sekali dengannya, err, maksudku dengan sensasi bau bulu keteknya. Tak pernah aku mencium bau seperti itu, bau yang sangat klasik. Aku pun tahu alasan mengapa baunya bisa begitu, saat aku me-legilimens Harry, ketahuanlah kalau gadis itu ternyata sangat suka masakan eksotik dari Indonesia, salah satunya nasi goreng petay dan semur jengkol.

“Sir, aku, Sir!”

Dia masih saja mengangkat tangannya dan berteriak dengan semangat. Akhirnya setelah aku puas mencium baunya dan tak ada alasan untuk melama-lamakan lagi, aku pun menjawab dengan setenang mungkin, “Ya?”

“Sebutan lainnya adalah ramuan veritaserum, satu tetes dari ramuan itu bisa langsung membuat orang lain berkata jujur - sejujur-jujurnya saat ditanya apapun. Beberapa minggu lalu juga aku pernah membuat ramuan itu dan setelah selesai langsung kuuji-cobakan pada kucingku dan saat kutanya apakah kucingku pernah mengambil ikan asin dari bekalku, dia mengangguk! Untung saja dia seorang kucing atau kneazle tepatnya, jadi perbuatannya bisa kumaafkan. Hehe..”

“Hmm, 5 poin untuk Gryffindor,” kataku, membuatnya menganga tak percaya, jujur saja, aku memang tak pernah memberikan poin tambahan untuk asrama singa itu. Masalah pribadi tentunya. Tapi sebelum mereka merasa terlalu senang, aku pun menambahkan, “Dan 10 poin dari Gryffindor, karena curhatan tak jelasnya!” Err, sebetulnya alasan utamanya bukan itu sih, tapi karena aku takut kejahatanku terkuak, soalnya aku-lah yang menyuruh kucingnya untuk mengambil ikan asin milik gadis itu (lama-lama aku makin terobsesi padanya saja). Oh ya, tak usah dipikirkan bagaimana aku bisa menyuruh binatang tersebut okay! Ini dunia sihir, ingat?

“Ramuan veritaserum terbuat dari campuran air beras ditambah dengan sedikit jahe dan kunyit, lalu tak lupa menambahkan madu sebagai pemanis. Ah, rasanya aku tak perlu menjelaskan begitu detail karena semuanya tertulis dalam buku,” paparku, “Yang pasti proses terakhir dari pembuatan ramuan ini adalah kalian harus mendiamkannya selama satu fase bulan, sampai si ramuan itu menjadi bening tak berwarna. Kita tak mungkin membuatnya sampai sejauh itu, sehingga yang akan kita praktekkan di sini hanya sampai fase perubahan warna ramuan menjadi warna putih kekentalan, dimana efek minumannya menjadi sebaliknya, orang yang meminum akan menjadi pintar berbohong. Jadi, tunggu apalagi? Buat ramuan itu sekarang juga!”

Kuperhatikan satu per satu muridku dengan seksama. Dimulai dari Mr Longbottom yang menampakkan wajah ketakutan saat kutatap. Ekspresinya itu seperti sedang melihat vampir pembunuh saja, padahal kalaupun aku vampir, aku bakal setampan vampir vegetarian yang baru-baru ini sedang terkenal. Selanjutnya aku melihat Draco Malfoy, yang terlihat dengan tenang mengerjakan ramuannya. Bibirnya tersenyum sedikit ketika dia tahu aku sedang memerhatikannya. Euh, benar-benar mirip ketika aku masih sekolah dulu, paling bedanya hanya di warna rambut, bola mata, bentuk hidung, dan pipi saja (Ups, kok jadi banyak bedanya ya?). Lalu kulihat wajah si Potter itu, rasa benci seketika tercium dalam auranya. Ok, mungkin lain kali aku berikan ramuan rambutku ini kepadanya gratis, agar dia tidak iri padaku lagi, sehingga rambutnya bisa dirapikan. Terakhir, aku melihatnya lagi, gadis cantik berambut cokelat dan bergelombang, Hermione Granger. Wajahnya terlihat agak kerepotan dan sedikit bersemu merah ketika kudekati. Apa sebenernya dia juga… Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Tak mungkin dia menyukaiku, apalagi aku ini gurunya yang walaupun keren tetapi terpaut beda umur sekitar 10 tahunan (itu pun setelah tenggatnya didiskon 50 %). Tapi mungkin sebentar lagi kita akan tahu jawabannya.


“Waktu habis! Letakkan sendok pengaduk kalian! Biar kuperiksa satu per satu hasil racikan kalian,” ujarku dengan lantang nan tegas, membuat beberapa murid terlonjak kaget. Eh, tapi mungkin bukan kaget karena teriakanku, melainkan karena suara ledakan dari kuali Seamus Finnigan. Lagian mana mungkin suara lembut nan merduku bisa mengagetkan mereka.

Kuperhatikan setiap kuali murid-murid di depanku dan sesekali aku berjengit ketika mencium bau aneh yang menguar dari dalam salah satu kuali mereka. Contohnya saja kuali milik Goyle ini, dari dalam ramuannya tercium bau kaki yang sangat memekakkan telinga, ups, maksudku sangat menyiksa hidungku. Aku yakin saat dia membuat ramuan, dia tak sengaja mencelupkan jempol tangannya ke dalam kuali. Ckckck, bau jempol tangannya saja sudah bau jempol kaki, apalagi bau jempol kakinya? Sungguh tak terbayangkan!

Namun, tentu saja bukan hanya ramuan Goyle yang hasil akhirnya sangat buruk. Malahan bisa dibilang hampir semuanya. Apa aku bilang hampir? Pastinya. Karena lagi-lagi, gadis itu menarik perhatianku. Hanya dia-lah yang bisa menyelesaikan ramuannya dengan sempurna. Err, tidak sempurna seratus persen juga sih, karena ramuannya belum berwarna putih kekentalan, tetapi hanya sampai berwarna kuning cerah. Sungguh, kepintarannya hampir sama seperti Lily!

Aku tersenyum, berusaha menampakkan senyum sekeji mungkin, walaupun aku yakin hasilnya tetap seperti senyuman seorang model. Kemudian, aku mengambil tongkatku yang langsung kugerakkan dengan lembut dan penuh perasaan. Segelas air pun melayang menuju meja di depanku dan, hup, mendarat lembut di--, err, kepala Weasley. “Ah, gelas pun tahu bahwa jidatmu itu selebar tatakan!” ledekku, membuat dia marah dan meletakkan gelasnya dengan kasar ke atas meja. Samar-samar aku juga mendengar dia bergumam, “Lebih baik jidat lebar daripada rambut licinmu, yang biasa dipakai maen perosotan oleh para kutu..” Tapi kudiamkan saja. Biasalah, sama seperti si Potter, dia hanya iri pada rambutku.

Sambil tetap tak memedulikan yang lain, aku memasukkan beberapa tetes ramuan ke dalam gelas dan mengaduk-ngaduknya sebentar agar bisa tercampur sempurna. Aku melirik ke dalam genangan air di gelas untuk mengecek lagi. Bukan untuk mengecek ramuannya sih, tapi untuk bercermin dan mengecek apa penampilanku masih sekeren saat aku masuk kelas.

“Minum itu!” tegasku, memberi perintah kepada Miss Granger. “Sekarang kita tes khasiat ramuan buatanmu, seharusnya setelah kau minum itu, kau akan selalu berkata bohong ketika kutanya. Dan tenang saja, jika ada efek samping seperti tumbuhnya janggut di bawah matamu atau hal lainnya, aku yang akan bertanggung jawab dan mengurusnya.”

Terlihat gadis itu menelan ludahnya sebentar, mungkin masih belum yakin dengan apa yang kukatakan tadi. Padahal aku benar-benar mengatakan itu dengan sungguh-sungguh. Bahkan jika dia batuk atau wajahnya berubah menjadi hijau sedikit saja, aku akan langsung membantunya. Err, mungkin dengan menyemburkan air ke mukanya setelah membaca doa terlebih dahulu. Kata orang tua dulu hal itu sangat manjur untuk pengobatan dan pertolongan pertama.

Glup.. Glup.. Glup..

Dia meminum sampai habis air yang ada dalam gelas. Doyan apa haus ya? Ah, sudahlah. Yang penting sekarang aku harus mengetes kejuju-, maksudku, kebohongannya. Aku menatapnya dengan tatapan eksotis, kemudian berkata, “Hmm, bagus. Sekarang mari kita mulai tesnya. Pertanyaan pertama, apakah kau membenciku?”

“Aku.. tidak, maksudku, memang sih anda sering membuatku kesal. Tapi tidak, aku tidak membenci anda!” jawabnya lancar.

“Yeah, seharusnya Hermione memang berkata seperti itu,” timpal Harry, yang langsung disetujui Ron. “Ucapannya tadi bohong, kan? Berarti aslinya dia membenci anda, sir!”

Aku hanya tersenyum. Untuk kali ini saja aku bisa mengabaikan segala tindakan dan ucapan si Potter itu. Anggap saja, tadi itu hanya suara kentut yang agak panjang.

“Kalau begitu, untuk pertanyaan berikutnya, siapakah guru favoritmu?”

Hermione terdiam, seperti sedang memikirkan jawabannya.

“Aku suka sekali pelajaran Arithmancy..” dia terdiam lagi. “tetapi aku tak begitu suka cara mengajar Profesor Vector yang terkesan agak lambat, sehingga membuatnya mirip Kyai-kyai yang sedang berceramah. Hehe..” lanjutnya. “Aku juga menyukai Hagrid, tetapi cara mengajarnya parah! Jadi aku menyukainya hanya karena menghormatinya dan menganggapnya sebagai teman. Jadi kalau ditanya siapa guru favorit saya, tentu saja jawabannya adalah anda, sir!”

Yak, itulah jawaban yang ingin kudengar dari mulutnya dan mungkin oleh kedua sahabatnya. Maka yang kulakukan saat mendengarnya tentu saja tersenyum lagi, yang kuyakin jika ada panitia kontes senyum yang melihatnya, bakal langsung memberi nilai terbaik untuk senyumanku. Gilderoy Lockhart? Lewaat! Hmm, cukup bahasan soal senyumanku. Sekarang kita kembali untuk mengetes ramuan itu lagi.

“Pertanyaan terakhir, apakah kau menyukaiku dengan sepenuh hati?”

Terdengar suara kikikan dari beberapa anak Gryffindor, karena hampir dapat dipastikan jawabannya adalah ‘iya’, tapi benarkah jawabannya seperti itu?

“Eh? Pertanyaan macam apa itu?” herannya Hermione malah berkata seperti. “Bagaimana mungkin aku memfavoritkan seorang guru tanpa menyukainya? Yeah, tentu saja aku menyukaimu. Dengan sepenuh jiwa dan raga!”

Fyuh, lega sekali mendengar jawabannya. Akhirnya sudah jelas lha apa perasaanku terhadapnya itu bertepuk sebelah tangan atau tidak? Tapi baru saja aku berlega-lega sesaat, Harry langsung menimpali, “Bagus, berarti kau masih normal, Hermione!”

“Yeah, untung saja ini adalah ramuan kebohongan! Hahaha..” Ron menambahkan, dari wajahnya terlihat senang sekali.

Aku mendelik ke arah mereka, sambil berkata “Kalau begitu kuberi 20 poin untuk keberhasilan ramuan Miss Granger dan 50 poin dari Gryffindor karena wajah Mr Weasley dan Mr Potter merusak pemandangan di kelasku.” Haha, senang rasanya melihat wajah kesal kedua anak itu. Emang enak punya wajah jelek?

“Kalau begitu kelas selesai sampai di sini. PR untuk kalian, buatlah essai tentang veritaserum buatan toko dan buatanku! Sedikit bocoran, yang banyak memuji ramuanku akan mendapat nilai lebih!”

Usai aku berkata seperti itu, satu per satu murid langsung meninggalkan kelas. Tak terkecuali Hermione yang keluar dengan wajah bersemu merah. Eh, apakah sebetulnya dia tahu ya kalau yang kumasukkan ke dalam gelas adalah ramuan veritaserum asli? Yang pasti sekarang hatiku sangat bahagia. Ternyata dia juga suka padaku! Dua tahun lagi, yeah, dua tahun lagi setelah kau lulus, aku pasti akan langsung melamarmu, Hermione! Kujamin setelah kita menikah, menu makanan kita tiap hari adalah semur jengkol!

Tamat



Tuh kan, aneh kan? Hehe.. Ya udah lha, langsung komen aja di sini!
Logged


Dengan kekuatan bulan, akan menghukummu!
Lala D.M
Slytherin
HPI
**

Karma: +17/-9
Posts: 168


Life is to loving everyone!


WWW
« Reply #3 on: January 08, 2010, 09:55:51 PM »

Judul: Snivellus Sev
Disclaimer: J.K. Rowling
Pairing: Snape x Lily
Rating: T
Genre: Romance, Angst, Tragedy
Author's Note: Ehem ehem. Sebaiknya saat anda membaca ini, dengarkanlah lagu Dewi Dee Lestari yang berjudul "Malaikat Juga Tahu" ya. Oke bro? Dan, apa nggak kepanjangan ya? Saya harap nggak. onfire sih, hehe. Okay, here we go!

***

Godric’s Hollow, Inggris 1980

Snape berjalan agak cepat mengikuti langkah lelaki berjubah hitam itu. Ia berusaha agar tidak ketahuan oleh lelaki itu, karena Snape sedang menguntitnya. Ia berjalan dan terus berjalan menyusuri pepohonan rimbun yang tenang dan damai. Laki-laki misterius itu terus berjalan setengah berlari, seakan-akan tak mempunyai tujuan jalan.

Sebenarnya untuk apa laki-laki itu berjalan disini? Bukankah seharusnya dia melakukan hal-hal yang lebih penting lagi untuk membangkitkan kejayaannya kembali? Beribu-ribu pertanyaan terlontar dari pikiran Snape yang masih terus berjalan cepat mengikuti laki-laki itu. Ini sama sekali tidak penting, berjalan-jalan menyusuri pepohonan tanpa tujuan yang belum terlihat juga. Untuk apa? Berlibur? Mungkin sebaiknya—

KRAKK!!

Ternyata Snape menginjak ranting pohon yang jatuh ke tanah. Snape panik, ia mencari cara agar tidak terlihat oleh lelaki berjubah hitam itu.

Laki-laki itu curiga. Ia menoleh ke belakang dan… tidak ada siapa-siapa. Ia lalu melanjutkan kembali perjalanannya.

Snape ternyata memakai Jubah Gaib. Ia mencurinya dari Albus Dumbledore secara diam-diam. Ia lalu melanjutkan mengikuti langkah laki-laki itu.

Setelah beberapa menit kemudian langkah laki-laki itu terhenti di depan sebuah rumah sederhana berwarna putih berpagar hitam. Napas Snape tiba-tiba terhenti.

Itu rumah keluarga Potter.

***

FLASHBACK

***


Taman, Inggris 1970

Anak itu bersembunyi di balik semak-semak, takut kelihatan dua anak perempuan yang sedang asyik bermain ayunan secara bergantian itu. Anak itu kurus, rambutnya hitam dan panjang, dan pakaian yang dipakainya sangat tidak serasi. Laki-laki itu tersenyum, mata hitamnya tertuju pada anak yang sedang bermain ayunan dengan setinggi-tingginya.

“Lily, berhenti!” seorang anak perempuan—sepertinya kakak dari anak yang sedang bermain ayunan itu—berteriak kesal. “Jangan berayun terlalu tinggi!”

Lily yang sedang berayun setinggi-tingginya langsung memutar bola matanya.

“Tuney, sejak kapan kau jadi seperti Mummy? Ayolah Tuney, kau harus melihat ini!”

Lily melompat lebih tinggi dari sebelumnya, membuat tali besi yang menopang tubuhnya berdecit. Lily tertawa. Sedetik kemudian ia terbang—tubuhnya tak lagi berada di ayunan itu. Ia melayang dan, alih-alih jatuh, ia mendarat dengan ringan dan mulus.

“Lihat, Tuney? Ini hebat!” Lily memuji dirinya sendiri. Petunia—itu nama aslinya—melipat tangan.

“Mummy sudah melarangmu! Sekarang ayo kita pergi, aku harus memberitahukan ini pada Mummy.” Petunia menarik tangan Lily, berjalan menuju komplek rumahnya. Lily menolak, mencoba melepaskan tangannya dari kakaknya.

Anak berambut hitam dan berminyak itu memandang ragu Lily dan Petunia.

“Tuney, lepaskan! Aku masih ingin bermain!”

Akhirnya anak laki-laki itu melangkah dengan cepat mendekati Lily dan Petunia.

“Akhirnya,” ia berkata, “Ada yang sama denganku.” Lily dan Petunia serempak menoleh heran. Rona merah pada pipi anak itu jelas tak dapat disembunyikan saat ia memandang Lily.

“Apa maksudmu?” Lily bertanya. Anak itu tersenyum.

“Lily…” laki-laki yang memakai jaket kebesaran itu mendekatkan diri pada Lily, dan berbisik. “Kau… kau penyihir.”

Lily memandang bingung wajah anak itu yang tampak kotor. “Be—benarkah?” dan anak berambut hitam itu mengangguk. Petunia yang sedari tadi hanya bengong melihat Lily dan anak Jaket-Kebesaran itu langsung tersadar.

“Hei—siapa kau?” Petunia menarik Lily menjauh dari anak Jaket-Kebesaran. “Oh ya, tentu saja! Kau si Snape. Anak yang tinggal di Spinner’s End di dekat sungai itu, kan?” dari nadanya Petunia kentara sekali memandang rendah tempat tinggal Snape.

“Jadi itu sungguhan, Snape? Dan kau juga penyihir?” Lily bertanya antusias. Pipi Snape kentara sekali memerah, namun Lily tak menyadarinya.

Snape mengangguk keras. “Iya, Lily. Disini hanya kita berdua saja yang menjadi penyihir. Kau tahu? Kita beruntung menjadi penyihir. Kau dan aku dan semua penyihir bisa melakukan apa saja dengan sihir kita.” Kata Snape panjang lebar.

Lily tersenyum girang. “Sungguh? Lalu apa yang harus dilakukan seorang penyihir, Snape?”

Snape tersenyum senang. “Sekolah. Satu tahun lagi kita akan mendapatkan surat dari Hogwarts. Hogwarts itu sekolah sihir. Disana kita akan belajar ilmu-ilmu sihir yang menakjubkan. Mau kuceritakan lebih banyak, Lily?”

Lily menarik tangan Snape untuk duduk di kursi taman, tak memedulikan Petunia yang pergi sambil menggerutu. “Duduk, Snape—ceritakan padaku. Semuanya.”

Dan dengan penuh semangat Snape menceritakan semuanya, membiarkan hatinya berbunga-bunga berhadapan dengan perempuan yang selama ini dikaguminya, dan hanya bisa ia amati dari jauh.

***

Hogwarts, Inggris 1971

Mulut Lily menganga lebar memandang apa yang ada di sekelilingnya. Ia dan Snape baru saja turun dari sebuah kereta merah yang mengkilat bernama Hogwarts Express, dan kini ia sedang berlayar memakai perahu kecil yang muat untuk tiga orang, menyeberangi sebuah danau menuju sebuah kastil megah bernama Hogwarts.

“Terkejut?” Snape bertanya sambil tersenyum. Lily mengangguk keras. Perahu yang ditempati berisi tiga orang, yaitu Lily, Snape dan Peter Pettigrew, salah satu anggota kwartet aneh—menurut Snape—yang diketuai oleh seorang laki-laki bernama James Potter. Snape mendesis pada Peter.

Peter menoleh, lalu tertawa terbahak-bahak melihat kedekatan Lily dan Snape yang sangat terasa.

“Hahaha… Snivellus yang berminyak. Mengerikan.” Peter menunjuk-nunjuk Snape dan tertawa lepas membahana. Lily yang sibuk memandang kagum tidak terusik sama sekali, sampai-sampai tak melihat jari telunjuk Peter Pettigrew yang tadinya digunakan untuk menunjuk-nunjuk jijik Snape, dipatahkan. Sekarang, Snape yang tertawa.

***

Sekarang seorang wanita muda yang mengenakan topi berwarna merah itu memanggil nama murid yang huruf depannya D. Denise, Cynthia. Doorstay, Angel. Lily kelihatan frustasi. Snape tersenyum.

“Evans, Lily!” Lily mendengar namanya dipanggil wanita itu. Dengan gugup ia berjalan menuju sebuah kursi reyot yang diatasnya terdapat sebuah topi jelek berwarna abu yang sudah bolong. Kaki Lily bergetar. Lily menempatkan topi itu di atas kepalanya, dan sedetik kemudian topi itu berteriak, “GRYFFINDOR!” membuat seluruh murid yang duduk di atas meja Gryffindor bertepuk tangan. Lily menoleh pada Snape. Snape menyarankannya untuk berasrama di Slytherin saja, namun topi itu telah menentukan asrama yang tepat baginya. Dan Lily tak dapat menolaknya. Ia tersenyum sedih pada Snape yang langsung menahan napas, dan duduk di sebelah anak-anak kelas satu yang juga baru diseleksi.

Snape? Masa kau tak tahu? Tentu saja dia di Slytherin. Tak ada asrama yang lebih cocok baginya selain itu.

***

Hogwarts Tahun Ketiga, Inggris 1973

Lily berlari secepat yang ia bisa, menerobos hujan deras yang mengguyur ia dan Snape di pinggir danau. Snape yang berusaha mengejarnya di belakang Lily tiba-tiba berhenti karena kelelahan.

“Lily, aku bisa jelaskan semuanya!” teriaknya, berusaha menandingi suara petir yang menggemuruh agar Lily bisa mendengar perkataannya. Lily juga berhenti berlari, membiarkan seluruh tubuhnya dibasahi air hujan yang membesar. Lily tak takut akan petir, ia bahkan mendongak memandang petir itu. Kertas perkamen yang berisi tulisannya basah, tintanya luntur seketika.

Malam itu dipenuhi kebencian. Lily merobek kertas perkamen itu di hadapan Snape, menggulungnya menjadi sebuah bola kecil dan membuangnya ke danau. Airmatanya bercampur dengan hujan yang tak juga mereda. Snape memandangnya putus asa.

“Lily…”

“Apa lagi!? Apa lagi yang akan kaulontarkan padaku?” Lily berseru, memejamkan mata dan memegang dadanya. Snape berjalan mendekat.

“Berhenti! Diam disitu! Aku jijik!” Lily berseru lagi, menekankan dua kata terakhir. Snape terperangah mendengar dua kata itu. J-I-J-I-K. Lily, gadis pujaan hatinya, jijik padanya. Snape menelan ludah.

Lily mencoba rileks. “Aku tak berharap kata kotor itu keluar dai bibirmu itu, Sev. Aku tahu kau bergaul dengan anak-anak itu. Avery, Mulciber, murid-murid kurang ajar calon Pelahap Maut. Apalagi Lucius! Sebentar lagi dia akan keluar dari sekolah ini dan bergabung dengan orang idiot bernama VOLDEMORT!”

“Hentikan mengejek Pangeran Kegelapan seperti itu, Lily!” Snape mendekat dan dengan refleks mengeluarkan tongkat sihir, bersiap memantrai Lily. Lily terperangah kaget. Snape yang menyadari tindakannya langsung mundur dan memasukkan kembali tongkatnya, menunduk.

Darah-lumpur!” Lily mengatai dirinya sendiri. Ia maju mendekati Snape dengan cepat sementara Snape terus mundur. “Tidakkah kau tahu betapa dalamnya makna dari kata itu? Aku! Aku si Darah-lumpur, menjijijkkan seperti sampah!” Lily merangsek maju dan berkata, “Kau bahkan bukan seorang bangsawan Pure-blood, Sev. Kau harus sadar akan hal itu.”

Snape merasa tertohok. Ia tak mampu berkata-kata, dan hanya memandang sedih gadis berambut merah gelap itu pergi menuju asramanya sendiri.

***

Hogwarts Tahun Kelima, Inggris 1975


Hari ini hari natal. Semua murid Hogwarts sedang sibuk membuka-buka kado natal mereka dengan suka gembira di asrama mereka masing-masing. James Potter menghadiahkan Lily sebuah kalung berbandul berlian kecil yang sangat indah. Lily memakainya dan berterimakasih pada James.

“Kau tahu? Aku yang membuat kalung itu. Dan itu khusus untukmu.”

“Terimakasih, James! Maaf sekali, aku lupa memberimu hadiah…” Lily berkata menyesal. James tersenyum licik.

“Umm, kupikir itu tidak bisa diterima, Lily.” James berkata sok serius. “Sebagai gantinya… bagaimana kalau kita makan siang berdua di Three Broomsticks di Hogsmeade? Hmm?” alis Lily tiba-tiba berkerut.

“Maksudmu kencan?”

“Ya… boleh dikatakan seperti itu.” James perlahan mendekati sofa tempat Lily sekarang duduk. Lily membuang muka.

“Cih, dasar gombal.” lalu Lily tersenyum. “Tapi aku sudah ada janji, James. Maaf.”

Alis James terangkat. “Apa? Siapa laki-laki yang telah mendahului aku mengajakmu berkencan?” Dengan santai James duduk di sebelah Lily, membuat Lily bergeser sedikit.

“Sev.”

“Sev, Sev, Sev. Snivellus itu terus saja bersamamu. Apa menariknya dia? Hidung bengkok, muka berbingkai, wajah pucat, dan yang paling mengerikan… rambutnya berminyak! Coba saja kau peras rambutnya… bisa-bisa satu liter minyak keluar perhelainya.” James, Sirius dan Peter tertawa terbahak-bahak. Remus hanya tersenyum kecil.

Lily yang mendengar perkataan James langsung naik pitam. “James Potter! Harus berapa kali kubilang untuk tidak mengejek orang?! Aku bersyukur Sev telah terlebih dahulu mengencaniku sebelum kau.” Lily berseru, dan pergi meninggalkan James, Sirius, Remus dan Peter dengan mendobrak pintu Nyonya Gemuk.

“Sopan sedikit, gadis manis!” Lily masih bisa mendengar Nyonya Gemuk bernyanyi seriosa menegurnya.

***

Aula Besar sesak dipenuhi murid-murid yang sibuk berbincang-bincang dengan teman-teman mereka tentang kado-kado natal dan apa yang akan mereka beli di Hogsmeade nanti.

James Potter, laki-laki tampan berwajah flamboyan itu berjalan dengan ringan dan santai tanpa beban menuju meja murid-murid Slytherin. Murid Slytherin yang sedang makan mulai berbisik-bisik membicarakan James. Terang saja! Untuk apa James Potter, seorang pangeran Gryffindor mendatangi meja Slytherin, musuh bebuyutan Gryffindor yang—menurut mereka—mulia? Sungguh tidak pantas bagi mereka. Mereka memandang James dengan mata mendelik dan terdengar kata-kata seperti ‘untuk apa si jelek itu kesini’ dan ‘pengecut Gryffindor yang aneh’.

Namun James datang kesini bukan untuk bertengkar dengan orang-orang calon Pelahap Maut yang konyol itu. Tujuan James kesini untuk memberi pelajaran bagi orang yang telah mempermalukan dirinya di depan gadis yang sangat ia cintai. Selama ini James belum pernah ditolak berkencan oleh gadis manapun.

“Mencari gadis cantik, Potter?” Avery mengejek James diselingi tawa anak-anak lainnya, membuat James sempat memberhentikan langkahnya dan berpikir untuk meninju Avery. Namun sayangnya James masih ada hal-hal yang lebih penting daripada sampah Slytherin yang busuk, jadi James memilih untuk membiarkan Avery tetap tertawa.

Snape sedang  memakan ayam panggangnya dengan tenang dan damai ketika tiba-tiba seorang James Potter menariknya dari kursi dan meninjunya.

***

Lily Evans memandang sedih kedua pipi Severus Snape yang kini telah berwarna ungu di Three Broomsticks. Sementara Snape terus menerus memegangi pipinya yang ungu, Lily memesan dua Butterbeer untuknya dan Snape.

“Ya ampun Sev, aku minta maaf atas perlakuan keji James kepadamu. Sungguh, aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya waktu ia meninjumu.” Lily memegang pipi Snape, membuatnya sedikit berubah menjadi merah.

“Aku tak apa, Lily. Sungguh.” Kata Snape pelan. Memang tak apa asal ada Lily di sebelahnya. Ia memegang tangan putih Lily dan menaruhnya di meja, tersenyum.

Lily membalas tersenyum sedih, lalu meminum Butterbeer-nya. “Minumlah, Sev. Kau akan merasa lebih baik.” Snape mengangguk dan meminum Butterbeer-nya sambil terus memperhatikan Lily yang sedang memegang kalung pemberian James. Tentu saja Snape tak tahu kalau itu pemberian James untuknya.

“Kalung yang indah, Lily.” Snape memuji dengan tulus.

“Terimakasih, Sev! Ini pemberian James. Dia bilang kalung itu khusus dibuatkannya untukku.” Ucap Lily senang, matanya tampak menerawang. Kentara sekali bahwa Lily menaruh hati pada James, membuat Snape minder. “Oh.” hanya itu yang Snape ucapkan. Perih yang luarbiasa telah membuatnya hampir bisu.

Namun Severus Snape tidak menyerah begitu saja. Ia juga telah membawa kado natal yang tidak kalah berkualitas dari kalung buatan James.

“Lily…” Snape berkata gugup. Lily mendongak, tersadar dari lamunannya.

“Ada apa, Sev?” Lily bertanya simpatik.

“Err—mungkin ini tidak penting bagimu, tapi… terimalah ini, Lily.” Snape memberikan Lily sebuah kotak kado berwarna merah muda yang diikat dengan pita berwarna putih. Lily tersenyum bahagia.

“Terimakasih, Severus! Kau baik sekali! Apa isinya ya..?” Lily membuka ikatan pita itu dan membuka tutup kotak kado. Ternyata isinya adalah sebuah syal warna merah yang bermotif bunga Lily. Di bawahnya terdapat sebuah kartu ucapan berwarna ungu. Di dalamnya tertulis “Selamat natal, Lily!” yang ditulis oleh Snape sendiri.

Mulut Lily menganga lebar. Snape tersenyum kecil. “Ya ampun, Severus!” Lily memeluk Snape erat, membuat Snape lemas saking bahagianya. “Aku tak menyangka akan mendapat hadiah sekeren ini!”

“Itu—itu hanya syal biasa, Lily. Tapi aku merajutnya sendiri untukmu.” Snape terdengar semangat sekali ketika mengatakannya.

***

Hogwarts Tahun Ketujuh, Inggris 1977

Hari ini adalah hari terakhir Snape akan satu sekolah dengan Lily Evans. Itu berarti tak akan ada canda tawa, tak akan ada pertolongan saat ia terpuruk, dan lagi tak akan ada sapaan manis Lily Evans, gadis yang sejak dulu dicintainya. Snape sudah tak bisa lagi menahan perasaannya yang selama ini ia pendam. Apalagi saat melihat James Potter si sok pahlawan itu. Snape rasa—Snape rasa ia harus menyatakan perasaannya pada Lily sekarang juga.

Snape berlari sekencang-kencangnya menerobos murid-murid yang sedang bersalaman untuk berpisah, tak memedulikan orang lain. Sekarang yang ada di pikirannya hanya Lily. Dan cinta.

Ia bergegas menaiki tangga menuju ke atas. Asrama Slytherin bertempat di bawah tanah kastil Hogwarts, jadi ia harus menaiki tangga jika ingin kemana-mana.

Ia terus berlari, bertekad menyatakan cintanya dan berharap Lily akan menerimanya ketika langkah kakinya berhenti dengan seketika.

Disana ada James. Dan Lily.

Mereka… berciuman.

Pada saat itu hati snape hancur berkeping-keping, membuatnya menjadi bisu. Membuatnya jatuh ke lantai.

***

Malfoy Manor, Inggris 1980

Snape sedang berjalan mondar mandir memikirkan sesuatu ketika Lucius Malfoy memanggilnya.

“Snape,” Lucius menghampiri Snape, “Kau dipanggil Pangeran Kegelapan.” Lucius tersenyum licik, membiarkan Snape berjalan memasuki pintu yang terbuat dari kayu itu sendirian.

Snape membungkuk dalam di hadapan Voldemort. “Yang Mulia,” katanya, “Merupakan kemuliaan bagi saya untuk—“ namun Voldemort memotongnya.

“Cukup berbasa-basi!” suara Voldemort membahana. Ia berjalan mendekati Snape dengan cepat, wajahnya yang pucat seperti mayat menunjukkan amarah yang besar. “Sekarang cepat katakan padaku… tentang ramalan itu.”

Snape menunduk. “Trelawney… Ramalan itu… Dia—dia bicara tentang anak laki-laki yang yang dilahirkan pada akhir bulan Juli—dia… akan merebut kekuasaan… Yang Mulia.”

“Siapa!?” Voldemort menggeram. Untung saja ia tidak mencekik leher Snape. Kaki Snape bergetar, wajahnya berkeringat dingin.

“D—dua anak… Neville Longbottom… dan… Ha—Harry Potter..”

“Bunuh mereka, Snape—“

“Tidak—maksudku, ramalan itu mungkin saja salah, Yang Mulia…”

“APA MAKSUDMU!?” Voldemort mendorong Snape. “Bukankah semua sudah jelas? Sekarang bunuh kedua anak itu! Bunuh semua keluarga mereka!”

Snape berusaha tetap menunduk, agar tidak di Legilimens Voldemort. “Jangan!—Maksudku kita hanya akan membunuh anaknya saja, kan? Kita tak membutuhkan orangtua mereka—mereka tak penting!”

Namun Voldemort sudah pergi dengan jubahnya, berjalan cepat menyusuri pepohonan rimbun diikuti Snape.

***

Inikah waktunya? Sekarang? Sekarang aku harus kehilangan dia?

Voldemort berjalan pelan, membuka pagar hitam itu dan berkata “Alohomora” secara verbal. Detik berikutnya ia telah membunuh James Potter, orang yang sok keren di masa Snape masih bersekolah dan juga suami dari Lily, wanita yang dicintai Snape. Ia menahan napas. Snape perlahan memasuki rumah dan mengikuti Voldemort ke lantai atas, melangkahi mayat James Potter yang sangat dibencinya.

Di lantai atas sepi, sunyi dan gelap. Hanya ada satu kamar yang terang, di pojok. Voldemort, diikuti amarah yang sangat besar, berjalan lambat menuju kamar terang itu, diikuti Snape dengan jantung yang berdegup amat kencang.

Voldemort memasuki kamar itu. Snape mengikuti dari belakang. Snape melihat wanita itu, Lily Evans, dengan muka terperangah memanggil-manggil nama James suaminya. Ia menggendong seorang balita yang lucu dan menggemaskan bernama Harry Potter, sedang tertawa. Dialah yang dicari Voldemort, balita yang diprediksi akan mengambil kekuasaan sang Pangeran Kegelapan saat ia telah dewasa.

Ramalan macam apa itu? Ramalan itu hanya akan membuat Snape menderita! Ia justru akan kehilangan cintanya! Cinta abadinya!

Sekarang tubuh Snape melemas, keringatnya terus mengucur dari kepalanya. Voldemort mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengacungkannya ke arah Lily.

Tunggu.

Inikah? Inikah akhir dari hidup wanita yang kucintai? Tak ada lagi harapan. Pupus sudah. Musnah.

Voldemort berseru, “AVADA KEDAVRA!” dan Lilypun jatuh, seperti boneka yang jatuh saat ditembak peserta di festival-festival. Jatuh dengan ringan.

Tapi, apakah kalian percaya?

Sebelum Lily benar-benar kehilangan nyawanya, sebelum ia jatuh dengan mudahnya, Lily menoleh ke arah Snape. Ia menyadari kehadiran Snape disitu.

Dan Snape, Snivellus Sev yang bodoh, ia menghilang saat itu juga.

FIN~~

Oke oke, tenang. Sebelumnya jangan timpuk saya dulu kalo ternyata eni fic ancur. Sori~ sebenernya Lala mau bikin poem, tapi karena rayuan maut (enggak juga sih, hehe) mbak Lia dan Dindotha, jadilah sayoh membuat fic dalam kurun waktu dua hari! wakakak.. Kritik, saran, sambel pedes silahkan review. hahah~
Logged

Look!



There is SEOUL in my eyes.
Rhienesmee Clauby Ravculletta
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +45/-51
Posts: 513


Rhienesmee Clauby Ravculletta~~


« Reply #4 on: January 09, 2010, 04:07:41 AM »

Judul : Kaburnya Sang Pangeran Berdarah Campuran
Genre    : Romance, Tragedy, Adventure
Rating    : T
Pairing    : Severus Snape >< Lily Evans (>< James Potter)
Timeline    : Tahun ketujuh Harry and Friends dan Snape’s Flashback
Disclaimer    : Bu Joanne Kathleen Rowling

***

Kaburnya Sang Pangeran

   “Severus, kau telah mengetahui takdirmu. Nyawamu harus dikorbankan. Tetapi, sebelum kau pergi, aku berikan kau tugas,” ucap Dumbledore tenang dari dalam bingkai lukisan yang mengurungnya. “Apa, Dumbledore? Kau akan memberiku tugas saat ajal telah menanti?,” sergah Snape. “Ini penting, Severus, ini akan membuat Harry mengerti dengan semua yang terjadi diantara kita, dan kau dengan Lily,” jawab Dumbledore dengan nada lembut dan tegas.

   “Baiklah Dumbledore, sekarang, apa yang kau tugaskan kepadaku?,” tanya Snape sinis. “Kau harus memberikan ingatanmu kepada Harry, ingatan tentang masa lalumu, ingatan tentang apa yang membawa Harry kepada pedang itu, dan ingatan yang menurutmu membuat kau tidak bersalah di mata Harry,” ucap Dumbledore dengan menekankan kata ‘Harry’ tiap Dumbledore mengucapkannya.

   Snape berpikir, itu akan menguntungkannya. “Baiklah, Dumbledore, tetapi, apakah mungkin, itu terjadi?” tanya Snape ragu. “Segalanya mungkin, Severus. Hanya tergantung padamu, percaya, atau tidak. Yakin, atau tidak. Semua yang berasal dari hati dan dilakukan dengan berpikir, akan menjadi mungkin. Sekarang, saatnya bagiku untuk beristirahat sejenak,” ucap Dumbledore yang segera memejamkan matanya. Snape bingung, mungkinkah? Dapatkah? Bisakah? Bolehkah? Semua kata-kata itu berkecamuk dipikiran Snape.

    Tiba-tiba terdengar suara ribut di aula tengah, Snape langsung bergegas ke tempat perkara, meninggalkan kantornya. Banyak anak-anak yang berteriak, “kau-tahu-siapa datang! Akan terjadi peperangan!” Snape tercegang, dan anak lain berteriak, “itu Harry potter!,” anak perempuan yang memakai baju tidur berenda menunjuk ke pinggir aula dekat koridor. Snape berbalik dengan memutar tumitnya. Jelas sekali, Harry Potter sedang bergegas menuju kepada McGonaggal. “Professor, saya harus mencari diadem itu sekarang,” ucap Harry. “Bergegaslah, aku yang akan mengurus ini semua,” jawab prof. McGonaggal yang sedang mengatakan mantra-mantra pelindung di seluruh aula.

   “Kepala sekolah, apa yang harus kita lakukan sekarang?,” tanya Horace sambil terengah-engah karena berlari menuju ke arah Snape. Snape tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia langsung berlari ke arah tembok yang mengarah keluar, ia pergi meninggalkan Hogwarts.

   Aku harus menuju kepada Pangeran kegelapan. Ia tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku mulai memutar otakku. Tiba-tiba, aku teringat akan Lily. Lily cintaku, aku tak akan melupakanmu. Kau salah memilih pria itu. Jika kau memilihku, kau pasti akan bahagia bersamaku, saat ini. Tapi, aku sendirilah yang membuatmu jatuh kepelukannya.

   Ku masih ingat saat pertama kali kita merayakan hari natal bersama. Kau memberiku kaos merah berbahan yang sangat lembut yang kau tulisi, ‘Lily, your best friend’ dengan tinta emas. Walaupun itu warna Gryffindor, aku tetap menyimpannya. Aku merawatnya dengan baik. Sebelum James menjadi kekasihmu. Ku robek kaos itu menjadi dua, ku lemparkannya ke tong sampah. Andaikan benda itu masih ada di tanganku sekarang.


   Snape terus berlari. Memasuki hutan terlarang. Melewati akar yang melintang. Snape tak tahu kemana arah yang akan ia tuju. Dan akhirnya, Snape memutuskan untuk ber-apperate menuju Malfoy Mannor. Snape telah merasa, dirinya akan dibunuh oleh Pangeran kegelapan. Hanya karena ia yang membunuh Dumbledore. Snape sadar, ia harus melakukan itu. Dan itu yang terbaik dari dirinya.

   Ternyata, sudah tidak ada orang yang berada di Malfoy Mannor. Mereka semua telah pergi menuju Hogwarts. Snape berlari keluar dari bangunan itu. Snape berlari di sepanjang jalan. Sepi sekali seperti orang-orang takut akan terjadi sesuatu. Tak ada penerangan di sana. Sumber cahaya hanya terdapat dari ujung tongkat Snape.

   Lily, ijinkanlah aku memberi tahu anakmu apa yang terjadi pada masa lalu kita. Tapi, bagaimanakah, aku dapat bertemu dengan Harry lagi? Tolonglah Lily… aku rindu tatapan mata hijaumu yang tajam, yang lembut, yang tegas. Aku rindu pada rambutmu yang merah berkobar, terurai di punggungmu, keemasan terbias sinar. Datanglah, Lily, ijinkan aku bertemu anakmu untuk yang terakhir kalinya.

   Snape tiba-tiba tercegang, hantu Lily menghadang di depan Snape. “Snape, kau memanggilku?,” ucap hantu Lily lembut, seperti biasanya. “Lily?,” Snape memeluk Lily, tapi tak ada yang terjadi, hanya seperti merangkul es. “Lily, ijinkanlah aku memberi tahu anakmu, Harry, bahwa aku mencintaimu,” ujar Snape, kaku. Lily tersenyum, “Kurasa, memang Harry perlu tahu tentang perasaanmu, dan pada siapa, kau berpihak. Saat kau akan tewas, Harry akan berada di sana, bersembunyi di balik jubah gaib. Sekaranglah waktunya aku pergi, Sev. Perhatikan jalanmu, semuanya ada di hatimu dan aku akan tetap menemanimu selama kau akan mengunjungi tempat peristirahatanku,” kata Lily untuk yang terakhir kalinya.

   Terima kasih, Lily, kau akan tetap selalu berada di hatiku, walaupun kau telah pergi meninggalkan dunia. Sekarang, aku akan terus melanjutkan perjalanan ini, sampaiku menyusulmu kesana.

   Ingatkah kau Lily? Saat kau untuk pertama kalinya memanggilku ‘Snivellus’? Karena aku berteman dengan calon pelahap maut? Hahaha, saat itu kau telah bersama si James itu. Jelas saja kau mengetahui kata-kata menyebalkannya.


   Snape melanjutkan perjalanannya menuju hutan terlarang dengan berdisapparate. Hal aneh terjadi, splinching. Payahnya aku, dari tadi memikirkan Lily, bukan memfokuskan apparateku. Sekarang keadaan makin sulit saat aku kehilangan 3 kuku jari kakiku. Sehingga aku berjalan pincang.

   Snape beristirahat di bawah pohon besar. Ia berpikir, pasti akan ada pelahap maut yang lewat kesini. Snape sudah menetapkan, ia akan menemui ajal di hutan ini.

   Snape mulai mengingat masa lalunya bersama Lily. Saat pertama kali Lily bertemu dengan Snape, adalah hari paling bahagia bagi Snape, dapat mengenal Lily.

   Saat itu, aku sedang kabur dari rumah karena orang tuaku terus bertengkar, hanya karena kucing kampung itu mencuri ikan di rumahku. Aku pergi ke taman di dekat rumahku. Disana, aku diam dibawah pohon, seperti ini. Aku menulisi kertas demi kertas di diary-ku. Aneh, kan, aku menulis di sebuah diary? Dan pada saat itu, ada dua anak yang kira-kira sebaya denganku, bermain di taman itu, “Lily! Jangan kau bermain ayunan tinggi-tinggi!,” ucap salah satu anak yang lebih tua.

   “Aah, tak apa-apa, kau aku menikmatinya, Tuney,” jawab anak yang bernama Lily itu. Tiba-tiba, Lily melontarkan tubuhnya dari ayunan. Tapi, anehnya Lily tidak jatuh sama sekali. Malahan ia seperti melayang dengan anggun dari udara turun ke tanah. Dan akhirnya, aku pun langsung tahu, kalau Lily itu penyihir, sama sepertiku.

   Lain, saat Lily mengenalku, saat itu, aku sedang mengintip Lily dan kakaknya di taman biasa. Lily masih tetap melontarkan dirinya dari ayunan dan melambung tinggi, dan turun dengan anggun. “Lily, aku kan sudah bilang, jangan kau main ayunan tinggi-tinggi! Akan ku laporkan Mum, nanti!,” jawab Tuney.

   Secara refleks, aku bilang dan muncul, “dia itu penyihir! Kau tak lihat? Ia baru saja menyihir!,” kataku sambil menunjuk Lily. “Apa-apaan, kau ini? Kau siapa? Mana mungkin Lily penyihir,” tanya Tuney sedikit meremehkan aku. “Ah, sudahlah, Tuney, tak ada gunanya mengurus orang aneh seperti dia, dan dia kan anak dari Spinner End? Sudahlah,” kata Lily.


   Hal itu tak akan dilupakan Snape.

   Hawa dingin menembus kulitku, merambati dagingku, menusuk tulangku. Malam pun semakin liar. Tak terasa malam mendatangkan dementor. “Expecto Patronum,” ucapku, rusa betina meluncur lembut. Mengusir dementor dengan keanggunan. Sulitku redam luka ini. Tetapku ingat Lilyku sayang.

   Ku meringkuk di bawah pohon ini. Walau patronus masih menemani, ku merasa kesepian. Seperti ada yang meremas hati dan perutku. Jantungku berdegup kencang. Merasa ajal telah datang.


    Gemuruh suara mulai mendekat. Ratusan death eaters melangkah maju mendekat. Mereka memberi waktu bagi Hogwarts ‘tuk istirahat dan mempersiapkan diri. Snape mendengar tadi waktu pangeran kegelapan menyiarkan suaranya yang melengking, ia akan memberikan waktu untuk menyerahkan Harry.

   Ia dengar Pangeran Kegelapan melayang menukik menuju dirinya. “Apa yang kau lakukan disini, Snapeku?,” tanya Pangeran Kegelapan. “Saya menunggu anda disini, Tuanku,” jawab Snape sambil menegakkan dirinya. “Mari kita luruskan ini,” ajak Pangeran Kegelapan Licik. Snape dan Pangeran Kegelapan menuju pohon Dedalu Perkasa, tak menghiraukan para pelahap maut yang bingung dan menekan tonjolan di bonggol Dedalu Perkasa. Dengan sentuhan tongkat sihir Elder, tonjolan itu hilang setelah Snape dan Pangeran Kegelapan masuk.

   Suasana di Shrieking Shack sudah tidak terawat lagi. Banyak kayu-kayu yang sudah lapuk, jendela-jendela pecah. Sarang laba-laba menjuntai kemana-mana. “Suasana Shrieking Shack memang berubah setiap waktu ya?,” tanya Pangeran Kegelapan. Snape hanya bisa diam termenung. “Apa yang ingin tuan katakan?,” tanya Snape.

   “Snape, Snape...,” ucap Pangeran Kegelapan, seperti dipanjang-panjangkan. “Kau adalah orang cerdas. Aku ingin bertanya, kenapa aku tak bisa menyerang Harry, Snape?,” tanyanya. “Maaf, tuanku. Saya pun tak tahu,” ucap Snape berbohong. “Snape, kau bukan penyihir bodoh, kan?,” tanya pangeran kegelapan lagi. “Tentu bukan, tuanku,” ucap Snape yakin, tapi gugup. “Kalau begitu, maukah kau jelaskan mengapa bisa begitu?,” tanya Pangeran Kegelapan.

   “Saya tidak bisa, tuanku,” ucap Snape berbohong. Tawa lengking Pangeran kegelapan, pun terdengar lagi, “Snape, ya ampun... Kalau aku bertanya, siapakah yang membunuh Dumbledore, kau jawab siapa?,” tanya Pangeran Kegelapan meremehkan. “Tentu saya, tuan,” ucap Snape pura-pura bangga. “Lalu, menurutmu, apa yang terjadi dengan tongkat sihir ini?,” terka Pangeran Kegelapan. “Menjadi milik pembunuh pemilik sebelumnya, tuan,” ujar Snape letih. “Jadi, apa yang harus kulakukan untuk memiliki tongkat ini seutuhnya, Snape?,” tanya Pangeran Kegelapan— matanya menyipit. “Membunuhku,” ucap Snape tanpa ragu.

   Tawa lengking itu terdengar lagi. Setelah itu, desisan mengerikan meluncur dari mulut Pangeran Kegelapan. Diikuti jerit kesakitan Snape, yang diterkam Nagini, ular Pangeran Kegelapan.

   Setelah pangeran kegelapan meluncur keluar, 3 remaja menghambur masuk. Dengan sisa-sisa tenaganya, Snape memberikan kenangan itu pada mereka. Kenangan berharga Snape. Diberikannya kepada Harry, untuk membuktikan, betapa besar cintanya kepada Lily, cintaku, selamanya...

TAMAT



A/N : Well, emang ceritanya sidikit mengada-ada, ya? Udah lama sih aku bikin FF ini. Tapi, kan harus tepat waktu. Jadinya aku post hari ini. Semoga nggak nyinggung perasaan siapa-siapa, yaaa....
Logged

Rhie™-Nesmee Clauby Ravculletta [Raven's PHoeNiX]




Ravenclaw is My Life...
Ravenclaw in My Life...
Ravenclaw is My House...


afra syarifah
Member Baru
*

Karma: +1/-0
Posts: 1


« Reply #5 on: January 09, 2010, 04:57:41 AM »

SEVERUS SNAPE
HOGWART LOVE STORY

Natal baru saja usai, bulan Januari telah memasuki kastil Hogwart yang indah ini. Tahun keenam telah berjalan separuh tahun, The Half blood Prince memasukkan kembali buku ramuan miliknyayang telah diberikan oleh ibunya sat dia menyatakan akan mengambil pelajaran tersebut.Dia masih mengingat ketika buku itu masih baru didapatkannya. Dengan menuliskan inisial kecil di pojok kanan atas di tengah halaman yang sering membuat hatinya berbunga. SS loves LE...Severus Snape loves Lily Evans.

Di peron Kereta Hogwart in Snape memandang Lily dari jauh, dia sedang berjalan menuju kereta threstal bersama James Potter. Hatinya perih mengingat tahun kelima yang lalu Lily Evans membina hubungan yang serius dengan James Potter. Pupus sudah mimpinya untuk menjadikan Lily Evans cinta hatinya, terlalu dalam perasaan yang sudah dipendam dan dirasakan sejak masih anak-anak bermain dan menjalin persahabatan.

Aula utama sudah dipenuhi seluruh murid. Fari bangku Slyterin di lihatnya Lily yang sedang duduk di samping Remus Lupin.
     "Snape...apakah kamu nanti jadi mengikuti pertemuan kelompok kita ?" tanya Yaxley sambil meraih pena bulunya dan menggores sesuatu di perkamennya.
     Snape tersentak sedikit dari lamunannya dan mengallihkan pandangannya ke Yaxley.
     "ah..ya..aku akan hadir aku bergarap dapat lulus seleksi menjadi orang kepercayaan Tonn Riddle di komunitasnya. " jawab Snape tenag namun kembali dia melihat Lily yang sedang berbicara dengan James Potter saling berhadapan.

Di kelas ramuan Snape dan Lily berada di satu meja. Pelajaran membuat ramuan tegukan hidup bagai mati telah di hafalnya dengan tandas. Inilah saat yang tepat untuk berbicara dengan Lily.
     "hai Sev..bagaimana kabar ibumu ?" lily bertanya penuh perhatian dengan suara yang lirih mengingat prof. slughorn masih memberikan keterangan kepada murid-murid yang lain.
     "baik...terima kasih..Lily bisakah kita bicara nanti selepas pelajaran ini ada yang akan kusampaikan padamu..penting untukku " ucap Snape sambil mengiris kacang polongnya sebelum dimasukkan ke dalam kuali.
     "begitu pentingkah Sev..?" Lily bertanya lagi sambil mengambil cacing Flobber didalam mangkuk disebelahnya.
      "kuharap begitu ..ku tunggu setelah makn siang di ruang atas menara astronomi kalau kau berkenan..." jelas Snape pada Lily.
      "baiklah kalu itu maumu..tetapi aku tidak bisa lama mungkin hanya setengah jam saja karena beberapa temanku akan mengajakku ke kedai Three Broomstick untuk berunding mengenai persiapan memilih hewan patronus kami.
      "baiklah..cukup kau sempatkan waktu itu untukku Lily " jawab Snape sambil melambaikan tongkatnya dan menyigir sekelopak bunga lili di tangan diberikannya kepada Lily Evans sebagai tanda sayang.

      Menara Astronomi setelah makan siang

      Snape duduk disamping Lily setelah sebelumnya mereka berdiri di teras berpagar menikmati pemandangan yang eksotik dari atas menara astronomi.
     "apa yang akan kau bicarakan ?" Lily bertanya
     "kuharap bukan hal keputusanku dalam memilih pasanganku bukan ? "Lily menambhakan
     Snape terdiam sesaat dan rtercekat namun dia memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya.
     "yah kuberharap kamu tidak bosan dengan pembicaraan ini namun aku akan berusaha meyakinkanmu Lily bahwa aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu..sampai kapan pun kamulah cinta sejatiku..untuk kali ini bila kamu dapat merubah hatimu hanya untukku aku akan merubah keputusan yang menentukan dalam hidupku ini.." urai Snape dengan suara yang berat dada yang sedak dan pandangan yang lurus ke depan.
     "apa yang kau bicarakan Sev..apa yang akan kau ambil keputusan dalam hidupmu ?" suara Lily lebih heran dari biasanya.
     "Jangan  kau berbuat bodoh dalam hidupmu Sev..karena aku tetap temanmu dan sahabat bagimu..?' terang Lily dengan menatap dalam kedalam mata hitam Snape.
     "maka terimalah cintaku..Lily kalu tidak..." suara Snape terhenti.
     " kalau tidak..apa Sev...?" Lily cepat bertanya.
     "aku akan diberi tanda kegelapan oleh Tom Riddle aku akan menjadi kelompok death eater..aku akan diinisiasi minggu depan nanti..hanya kamu yang dapat merubah keputusanku ini dengan menerima cintaku.." tandas sudah kalimat yang telah tertahan sejak liburan natal lalu yang membuatnya tidak mudah tidur merana memikirlan Lily dan keputusan yang sulit itu.
    Lily tersentak kaget dan berdiri nafasnya memburu dia sepertinya ingin menghamburkan beribu kata namun dia tidak bisa karena tertimpa amarahnya dan kemudian berbalik menatap Snape.
    " Sev..berapa kali aku jelaskan kepadamu..kita berteman dan bersahabat aku menyayangimu, kamulah temanku yang pertama yang memperkenalkan aku tentang dunia sihir ini, kamulah orang yang kupercaya dengan kemampuan sihirku pada dunia yang mempertemukan kita..kamu berari bagiku tapi jangan kau campur adukkan dengan keinginan bersyaratmu bahwa dengan tidak menjadi kekasihku kamu akan mudah bergabung dengan kelompok kecil death eatermu itu..itu sihir hitam Sev..please..urungkan niatmu dan kita tetap berteman baik.." jelas Lily dengan wajah penuh kesedihan melihat sahabatnya mempunyai niat yang kurang tepat.

      Ruangan Menara Astronomi

      "Aku memutuskan untuk bergabung dengan the death eater dengan mengahrapkan  bahwa suatu saat nanti aku akan dapat melindungimu Lily, entah mengapa betapa menguatnya keinginanku  ini untuk memilih keputusan itu...aku berharap kamu dapat memahamiku Lily.." jelas Snape
      "yang aku mengerti adalah bahwa kita sudah berbeda Sev..jika kamu tetap dengan kepotusanmu berarti kamu sudah menarik garis yang tegas tentang kita...kau dengan kelonmpok ilmu hitammu dan aku dengan pilihanku.." nada Lily menjadi tinggi namun tertahan mengharap Snape mau merubah keinginannya dalam memutuskan itu.
     " baiklah Lily aku menerima ketidak sepakatan kita namun ketahuilah bahwa hanya kamu cinta sejatiku, tiada yang lain dan untuk menghargai itu izinkanlah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya..sebagai sahabat yang kusayangi..." pinta Snape lirih.
      "jaga dirimu baik-baik..Sev.." Ucap Lily sambil memeluk sahabat masa kecilnya yang akan meninggalkannya.
       Snape memeluk Lily dengan erat dan sebelum melepaskan pelukannya Snape bertanya lagi untuk yang terakhir kalinya.
      "hewan patronus apa yang akan kau ciptakan Lily ?" tanya Snape
      "rusa betina.." jawab Lily
       Dengan terlepasnya pelukan itu maka Snape berbalik dan bergegas menuruni tangga astronomi itu, Lily menghempaskan tubuhnya dan bersandar pada tembok ruangan ini dan tanpa sepengetahuannya di seberang pojok sana James Potter yang bersembunyi di dalam Jubah Gaibnya dan mendengar seluruh isi pembicaraan itu dan tersenyum kecil di sudut bibirnya sambil berujar...
      "Lily kaulah wanita yang terbaik di dalam hidupku".


To: Afra
Fic-mu Ambu edit pemuatannya, agar menjadi satu fic oneshot
~ambudaff
« Last Edit: January 10, 2010, 09:41:00 PM by ambudaff » Logged
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #6 on: January 09, 2010, 09:56:00 AM »

Naskah ini dititipkan di kandang burung hantu Ambu, dengan pesan agar diterbitkan di HPI. Nama penulisnya ada di bagian akhir tulisan *nyengir*


It’s About Him Life

Harry Potter kepunyaan JK Rowling
Genre: drama
Rating: K


Prang!!
Pecahan cangkir melayang ke ujung ruangan. Ruangan yang tertata rapi, dimana sebagian besar interiornya menunjukkan kepribadian sang empunya ruangan. Seorang Kepala Sekolah di sekolah Hogwarts. Pigura-pigura dimana tergambar sosok para kepala sekolah Hogwarts sebelumnya terpasang mengitari sisi-sisi dinding. Sesosok pria berwajah pucat dan tirus, dengan rambut berbelah tengah dan tampak lepek berdiri di tengah ruangan. Jubah panjang tergerai dari bahunya. Salah satu tangannya tampak mengucurkan darah, sementara tangan kirinya memegang meja –satu-satunya meja didalam ruangan tersebut—dengan kuat. Tangannya menggenggam erat pecahan cangkir yang pecah. Tak dipedulikannya darah yang semakin lama semakin banyak mengucur dari luka yang ia derita.

Bagaimana mungkin seorang Severus Snape tampak lemah? Ia tidak mungkin berbelas kasihan kepada orang lain. Terlebih apabila orang lain tersebut adalah seorang Potter! Seseorang yang seumur hidup Snape tak akan pernah bisa ia maafkan, bagaimanapun upaya yang diberikan oleh Potter –anak ataupun ayahnya-- untuk meminta maaf kepada dirinya. Musuh abadi Snape.

Severus Snape menarik nafas panjang sebelum menghembuskannya dengan lelah. Tak pernah terbayangkan oleh Snape saat ia pertama kali bertemu dengan Lily, cinta pertama Snape, beberapa belas tahun yang lalu. Wajah manis dan rupawan serta mata hijau milik Lily mau tidak mau telah memikat hati Snape, seorang anak lusuh, berpakaian layaknya seorang anak terlantar dan aneh. Saat itu Snape tak ubahnya bagaikan seorang anak dari keluarga broken home. Orang tua yang senantiasa bertengkar serta mengacuhkannya. Melihat Lily, hati Snape bagaikan seekor lebah yang menemukan sekuntum bunga. Bunga yang halus dan cantik. Saat itu Lily belum mengenal dunia sihir, berbeda dengan Snape yang tentu saja sudah akrab dengan dunia sihir.

Pikiran Snape melayang ke saat itu, saat dimana wajah manis dan mata hijau Lily terperangah mendapat pernyataan yang akan merubahkan hidupnya, serta menentukan akhir hidupnya.

”Sudah jelas, kan?” Snape keluar dari balik semak –tempat ia memperhatikan kedua kakak-beradik Evans— dan berujar pelan menyapa serta mengagetkan kedua sosok dihadapannya, sosok Lily Evans dan Petunia Evans. Rona wajah Snape tampak memerah, ia tak terbiasa menyapa orang lain terlebih dahulu seperti ini. Apalagi kedua sosok didepannya ini adalah muggle. Oh, tentu saja tidak! Hanya salah satunya saja, of course...

”Apa yang jelas?” tanya Lily, masih memandang Snape dengan bingung.

”Aku tahu kau ini apa,” lanjut Snape.

”Apa maksudmu?”

”Kau... kau penyihir,” bisik Snape.


Snape kembali tersadar dari lamunannya. Ia memandang salah satu lemari disudut ruangan. Lily tampak tak percaya dan merasa sangat terhina saat mendengar sebuah kata ’penyihir’ dari mulut Snape. Namun, tak terlalu butuh waktu lama bagi seorang Lily Evans mempercayai kenyataan itu. Ia cepat percaya dan menjadikan Snape sahabatnya. Percaya kepadanya walaupun Snape tahu, ia tak pantas mendapatkan kehormatan seperti demikian. Snape memandang dirinya, tubuh ringkih yang bahkan tak bisa sedikitpun digunakan untuk melindungi seorang Lily.

Hog’s Head. Tempat dimana Snape menjadi saksi mata sekaligus pendengar sebuah ramalan kecil tapi bermakna besar untuk merubah seluruh jalan hidup seorang Severus Snape. Ia yang telah beralih mengikuti sihir hitam, mendengar ramalan dari seorang Sybill Trelawney yang dikatakan kepada Albus Dumbledore.

”Yang memiliki kekuatan untuk menaklukan Pangeran Kegelapan sudah dekat... Dilahirkan kepada mereka yang telah tiga kali menantangnya, dilahirkan bersamaan dengan matinya bulan ketujuh...” Snape akan membuktikan bahwa dirinya patut dipercaya kepada Lord Voldemort, maka sepedengar kalimat ramalan itu, Snape bergegas menemui Lord Voldemort.

Snape datang dihadapan Lord Voldemort, dihujani dengan berbagai tatapan dari para pelahap maut lainnya. Jubah kehitaman mereka semua tampak membaur dengan malam, dan membuat siapapun tak akan mampu mengenali mereka satu demi satu sebelum bergabung dan menjadi salah satu bagian dari para pelahap maut itu. Ia memberitahukan semua yang ia dengar dan bahkan ia merelakan pikirannya dibaca dengan cara yang menyakitkan oleh Lord Voldemort. Merelakan sebagian memorinya dihisap dan dibaca hingga tuntas oleh seorang Lord Voldemort.

”Kau telah melaporkan hal besar buatku Snape. Tidak sia-sia aku menaruh kepercayaan sekaligus mata-mata didepan hidung Dumbledore,” ucap Lord Voldemort dengan dingin, masih menghujamkan tatapan kepada Snape yang menunduk didepannya. Mulut Snape tersungging senyum kemenangan, ia kini telah dapat membuktikan kepada pelahap maut lainnya, betapa ia sangat berharga dan dapat dipercaya. Lord Voldemort tampak berpikir sejenak sebelum mengeluarkan kalimat lainnya. ”Ramalan itu menunjuk kepada anak keluarga Potter. Bunuh habis keluarga Potter!”

Snape sangat terperanjat. Ia tak menginginkan kematian Lily Evans, dan masa bodoh dengan anak ataupun suaminya. Potter sialan! ”My Lord, kumohon untuk tidak menyakiti Lily Evans. Aku menginginkannya.” Snape membungkuk semakin dalam, tak ingin wajah maupun perasaannya diketahui oleh Lord Voldemort.


Snape mengepalkan tangannya semakin keras. Ia tak pernah mempercayai Lord Voldemort, betapapun ia telah lama mengabdi kepadanya, baik sebagai seorang hamba yang setia maupun sebagai seorang mata-mata. Dan karena ketidak percayaan Snape kepada seorang Lord Voldemort, di ruangan inilah ia berada bertahun-tahun lalu. Memohon belas kasihan kepada Albus Dumbledore.

”Aku—datang membawa peringatan—bukan, permohonan—tolong—” ucap Snape bersusah payah. ia tampak frustasi dan putus asa, rambutnya tampak berantakan dan peluh mengalir di wajahnya.

”Permohonan apa yang bisa diajukan seorang pelahap maut kepadaku?” tanya Dumbledore. Ia tampak tenang dan tak terganggu.

”R—ramalan... prediksi... Trelawney...” Snape menarik nafas sesaat. ”Aku menceritakan semua yang kudengar!” jerit Snape frustasi. ”Dan Dia beranggapan bahwa itu adalah Lily Evans!”


Yeah, percakapan awal yang membawa status baru seorang Severus Snape. Seorang agen ganda. Tak diakui keberadaannya di kedua belah pihak, namun sekaligus dibutuhkan. Tak ada yang tahu alasan mengapa ia berbuat demikian.

”Kalau kau mencintai Lily Evans, maka jalanmu sudah jelas,” ucap Dumbledore pada Snape, sesaat setelah Lily Evans dikabarkan meninggal.

”Apa—apa... maksudmu?”

”Kau tahu bagaimana dan mengapa dia mati. Pastikan kematiannya tidak sia-sia. Bantu aku melindungi anak Lily...”

”Baiklah. Baiklah. Tapi jangan pernah—jangan pernah bilang siapapun, Dumbledore! Ini hanya kita berdua. Bersumpahlah! Aku tak tahan... Apalagi anak Potter... aku menginginkan janjimu!”


Tahun demi tahun dilewati seorang Severus Snape, tak terhingga berapa kali seorang Snape yang disegani sekaligus dipandang curiga oleh sesama rekan di Hogwarts bertransformasi hanya untuk melihat dan mengawasi seorang Harry Potter tumbuh dewasa, menuju ke umur dimana ia pantas masuk ke Hogwarts. Ia tak pernah sekalipun muncul dihadapan seorang Harry Potter kecuali saat didapatinya Dudley Dursley mengganggu Harry. Hanya satu kali.

Harry memandang iri kepada bola yang berada di tangan Dudley, bola yang baru saja dibelikan oleh Paman Vernon sebagai hadiah ulang tahunnya. Harry sudah tahu mengapa dia dianak-tirikan, namun masa-kan meminjam bola hanya untuk sesaat pun tidak boleh? Ia dengan tangan mungilnya berusaha menggapai bola yang diayunkan tinggi-tinggi oleh Dudley.

Dudley yang melihat Harry akan merebut bolanya, dengan sengaja memegang bola itu kuat-kuat sebelum melemparnya ke tengah jalan raya. ”Tangkap kalau kau bisa!” teriak Dudley dengan suara anak tujuh tahun.

Harry tak memperdulikannya, kesempatan dimana Dudley melepaskan mainan yang ia punya amat-sangat-jarang terjadi. Maka ia berlari mengejar. Mengejar hingga ke jalan raya, tanpa pernah memperdulikan sebuah mobil berjalan dengan kencang ke arahnya.

Snape melihat semuanya tentu saja, dan ia segera menyebutkan matra non-verbal kepada bola yang melambung tinggi itu, hingga mendarat dengan selamat langsung ke pangkuan tangan Harry. Sekaligus meng-confundus sang pengemudi mobil untuk menghindarkan bahaya baginya. Yeah, kali pertama Snape menyelamatkan Harry. Sesuatu yang tidak diketahui orang lain, bahkan oleh Dumbledore sendiri.


Snape menghembuskan nafas kesal. Dipandangnya tetesan darah yang menggenang di bawah tangannya yang terluka. Matanya melirik ke arah kaki kanan yang tersingkap dari ujung jubahnya. Sebuah luka bakar nampak disana. Luka bakar yang tentu saja tak akan pernah dilupakan oleh seorang Severus Snape.

Semua mata memandang kearah sesosok anak dengan Nimbus Dua Ribu yang mengangkasa serta bergerak dengan brutal. Sang anak berkacamata dengan rambut berantakan terlihat masih berusaha mengendalikan sang sapu yang semakin lama semakin liar. Harry Potter. Anak dari Lily Evans. Anak yang bertahan hidup. Bertahan hidup dengan mengorbankan Lily! Akan terasa mudah dan sangat menyenangkan apabila Snape dapat menutup mata dan mengacuhkan kejadian di hadapannya ini. Yeah, sangat mudah dan ia dapat melihat anak itu mati. Mati.

Namun, tegakah Severus Snape melakukan hal demikian? Tak butuh waktu lama bagi seorang Severus Snape mendengarkan jawaban dari hatinya. Bisikan yang semakin lama semakin serupa dengan suara merdu Lily yang ia kenal selama ini. Bisikan yang telah membuatnya merapalkan mantra untuk menyelamatkan nyawa yang diambang maut itu.

Mantra yang ia rapalkan baru setengah jalan saat terdengar teriakkan lainnya. ”Api.. Api!” jerit seseorang disamping Snape. Ia menoleh terkejut kepada jubah yang ia kenakan. Terasa sakit dan panas saat api yang entah darimana munculnya membakar jubah serta sebagian kulit kakinya. Kontak mata terputus tentu saja, mana mungkin Severus Snape tetap dapat memperhatikan sapu Harry bilamana ia mesti menyelamatkan hal penting lainnya. Tapi gangguan terhadap sapu Harry berakhir cepat seiring dengan kemunculan mendadak api di jubahnya. Mata Snape memandang tajam ke arah Professor Quirrell, memberi tatapan yang mengintimidasi, yang dibalas dengan tatapan gugup dan tajam.


Kali pertama seorang Severus Snape menyelamatkan anak musuh bebuyutannya di lingkungan sekolah. Kejadian itu telah meninggalkan bekas luka bakar di kaki Snape. Ia tahu yang membakar jubahnya adalah satu dari sekian teman-teman Harry, entah Hermione Granger atau Ronald Weasley. Dan bohong besar apabila Snape tidak tahu bahwa mereka semua menaruh kebencian mendalam terhadap dirinya. Ia tak perduli tentu saja, buat apa memperdulikan seorang anak kecil yang tak berharga heh?

Penyelamatan anak pembawa masalah itu –persis seperti ayahnya—berulang-ulang mesti dilakukan oleh seorang Severus Snape. Tak terhitung betapa malam-malam yang menyakitkan baginya mesti ia lakukan bersama kenangan akan seorang Lily di hadapan wajah Harry saat belajar Occlumancy. Atau malam lainnya saat ia berusaha mencegah Harry melakukan tindakan bodoh dan pergi ke Kementrian Sihir. Saat ia melindungi tiga sekawan itu dari terjangan manusia serigala yang dahulunya adalah guru mereka. Bahkan ia, seorang Severus Snape sudah tak mampu lagi berapa kali ia menyelamatkan Harry dan entah kapan ia mulai merasakan motivasi yang berbeda.

Malam itu, Severus Snape berdiskusi tentang sesuatu bersama dengan Albus Dumbledore didalam ruangan yang sama.

”Jika tiba saatnya Nagini tidak disuruh-suruh melakukan tugas diluar jangkauan Voldemort. Dan ia dijaga agar tetap aman disisinya dalam proteksi sihir., maka sudah saatnya untuk memberitahu Harry,” ucap Dumbledore.

”Memberitahu apa?” tanya Snape.

Dumbledore menarik nafas dalam-dalam dan berujar pelan. ”Memberitahunya bahwa pada malam ia dapat bertahan hidup, Lily memasang tameng baginya dengan nyawanya sendiri. Kutukan Maut memantul kepada Voldemort dan seserpih jiwa Voldemort tercabik dari keseluruhannya dan menempel pada satu-satunya jiwa yang masih hidup didalam bangunan rumah mereka. Sebagian dari jiwa Voldemort hidup dalam jiwa Harry. Dan selama jiwa itu ada, Voldemort tidak akan mati.” Dumbledore menarik nafas dalam. ”Dan Voldemort sendiri yang harus melakukannya. Ini penting.”

”Jadi... Anak itu harus mati?” Severus Snape terperangah, ia terkejut mendapat pernyataan seperti demikian. ”Kupikir... selama bertahun-tahun ini... kita melindunginya untuknya. Untuk Lily.”

”Kita melindunginya, karena perlu sekali untuk mendidiknya, membesarkannya, membiarkannya mencoba kekuatannya,” kata Dumbledore.

”Kau mempertahankannya untuk tetap hidup supaya bisa mati pada saat yang tepat?” Snape menarik nafas panjang. ”Aku sudah menjadi mata-mata untukmu, berbohong untukmu. Semuanya dimaksudkan untuk menjaga anak Lily Potter tetap selamat. Sekarang kau memberitahuku kau membesarkannya seperti hewan yang akan disembelih—”

”Ini mengharukan Severus. Apakah kau kini telah menyukai anak itu, akhirnya?”

”Menyukai dia?” teriak Snape. ”Expecto Patronum!” Dari ujung tongkat sihir Snape muncul sesosok rusa betina keperakan. Rusa itu mendarat di lantai kantor dan melesat keluar dari jendela. Dumbledore mengawasinya terbang menjauh, dan ketika cahaya perak memudar, dia menoleh kembali kepada Snape, dan matanya penuh dengan air mata.

”Setelah sekian lama ini?”

”Selalu.”


Kejadian yang selalu tak pernah bisa lepas dari pikiran Snape, saat dimana ia dipaksa untuk mengakui betapa ia sangat menyayangi seorang Harry Potter, entah sejak kapan. Kejadian yang sekaligus menyadarkan kepada dirinya, bahwa cinta dapat merubah kebencian sekental apapun menjadi cair dan berubah. Dirinya beberapa tahun yang lalu, tidak akan pernah bisa memaafkan maupun menerima keberadaan Lily sebagai istri keluarga Potter, namun kini dirinya dapat menerima keberadaan Harry sebagai anak Lily Potter.

Mengapa aku tahu itu semua? Mengapa diriku dapat mengetahui semua yang ada didalam hati dan pikiran seorang Severus Snape, agen ganda kepercayaan Albus Dumbledore yang menaruh kepercayaannya kepada pihak putih dan senantiasa bekerja di wilayah abu-abu.? Ini dikarenakan aku selalu berada didekatnya, tak lepas dari sentuhan tangannya dan tentu saja aku turut serta membantu dia dalam melakukan semua rencana dan perintah yang diberikan kepadanya.

Snape tersadar dari lamunannya, dengan acuh tak acuh diambilnya diriku yang telah beberapa saat tergeletak tak disentuh diatas meja. Ia merapalkan kalimat mantra non-verbal untuk menyembuhkan luka berdarah akibat meremukan segelas cangkir dengan tangan kosong, akibat dari kekecewaannya terhadap kematian Lily Potter, sebelum akhirnya ia beranjak keluar ruangan kantor. Yeah, aku hanya sebatang kayu lusuh yang tak berharga, namun pemilikku adalah seorang patriot, ia seorang Slytherin sejati, dan aku bangga kepadanya...


Natalina
7 Januari 2010


Severus Snape adalah karakter paling kompleks, membuat penasaran dan kunci dalam cerita Harry Potter Dibenci sekaligus dicintai
Ketabahan, keteguhan hati serta keberanian ada didalam dirinya
Seseorang yang berbaju hitam tak selamanya berhati hitam, dan itu berlaku untuk seorang Severus Snape
Happy Birthday Severus!
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
Mela Muggle
HPI
**

Karma: +47/-0
Posts: 117


~ smart and beauty is in my DNA ~


« Reply #7 on: January 09, 2010, 08:26:49 PM »

Euh, maap... telat sehari posting eni fanfic, mau diposting kemaren tapi ujaaannn... (lhoh, apa hubungannya ujan ama gak bisa posting? hihihi...)
yah, sudahlah. Hayuk, langsung dibaca aja... (bagi yang berkenan membaca)



Note: Sebuah fic dengan cerita yang amat sangat sederhana, dipersembahkan kepada siapa saja yang mencintai Severus Snape, dan mencintai Harry Potter (juga), kalau penulisnya sih, tetap Ron-Mione lover --> *gak nyambung kan?*
Selamat membaca, dan silahkan kalian tentukan sendiri, siapa pemenang sesungguhnya dalam 'duel' Snape versus Harry ini Wink.



********
Judul: Severus Snape vs Harry Potter Grin

Timeline: Tahun ke-4 Harry Potter dkk di Hogwarts… sebenernya tahun berapapun nggak masalah, karna cerita ini AU
 
Rating: PG (untuk teman-teman HPI yang di bawah umur, kelakuan Harry ke Snape jangan ditiru ya… nggak boleh lhoh ya, ngebentak-bentak guru kayak Harry gitu, hehe…)

Disclaimer: Harry Potter milik JKR
********


Pukul sebelas siang tepat. Seluruh murid kelas empat yang akan mengikuti ujian Ramuan sudah bersiap di meja mereka, dengan lembar jawaban kosong di hadapan masing-masing. Menggunakan tongkat sihirnya, Snape mulai membagi-bagikan lembar soal kepada setiap anak, sementara itu Ron berbisik cemas ke arah Harry yang duduk persis di sebelahnya, “Harry, di mana Hermione?”

Harry ikut mengerling gelisah ke arah bangku kosong yang terletak dua baris di depannya, yang seharusnya ditempati oleh Hermione. “Err, Hermione… dia harus ikut ujian Aritmancy kan?” sahutnya sambil berbisik pula.

“Yeah, tapi itu sudah satu jam yang lalu,” balas Ron. “Mestinya dia sudah selesai sekarang. Soalnya kalau dia sampai datang terlambat, bisa-bisa Snape tidak bakal mengizinkannya ikut ujian, dan—ah, syukurlah, itu dia datang juga akhirnya…” Ron menghembuskan nafas lega ketika melihat Hermione muncul di muka kelas. “Mudah-mudahan dia masih boleh ikut ujian, ya…” Ron melirik arlojinya, “Yah, pasti bolehlah, baru terlambat lima menit, kok.”   

Hermione, nafasnya terengah-engah dan rambut coklat lebatnya nampak berantakan, langsung berbicara kepada Snape. “Maaf saya terlambat, Sir.”

“Kau sudah tahu peraturannya,” Snape berkata dingin. “Bagi yang datang terlambat, tidak boleh ikut ujian.”

Wajah Hermione seketika memucat.

“Maaf, Sir,” Ron mengangkat tangannya. “Hermione datang terlambat karena dia harus mengikuti ujian Aritmancy sebelumnya yang pelaksanaan waktunya hampir berbarengan dengan ujian ini, dan saya rasa Hermione sudah berusaha mengerjakan ujiannya dengan secepat mungkin, dan setelah itu dia langsung bergegas datang kemari. Lagipula terlambatnya juga cuma lima menit kan, Sir.”

“Tutup mulut, Weasley,” Snape membentak Ron. “Kerjakan saja ujianmu.”

Wajah Ron menjadi merah padam dan ia menoleh ke arah Harry. Harry memang tidak berkata apa-apa, tetapi Ron bisa melihat wajah Harry mengeras dan tangan kanannya yang terkepal nampak bergetar menahan marah. Seisi kelas yang lain juga merasa sangat marah dan benci kepada Snape, namun karena mereka tahu tidak ada yang bisa mereka perbuat, semua anak pun memilih untuk diam saja.

“Nah, Miss Granger,” Snape kembali berkata, “Kurasa sebaiknya sekarang kau segera keluar dari kelas, supaya tidak mengganggu teman-temanmu yang sedang ujian…”

***

Dua hari berlalu sejak kejadian itu, dan sampai saat ini Hermione masih belum dapat melupakannya. Ia sendiri sudah menempuh segala cara, berbicara dengan Snape, bahkan sampai memohon-mohon, agar Snape mengizinkannya mengikuti ujian susulan, namun tak satu pun upayanya yang membuahkan hasil. Ini membuat Hermione sangat putus asa hingga tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Seperti di hari minggu ini, sementara seluruh murid menikmati sarapan pagi di Aula Besar, Hermione memilih duduk melamun sendirian di salah satu sofa di dalam ruang rekreasi Gryffindor, merenungi nasib malangnya.

Lukisan Nyonya Gemuk mengayun membuka. Harry dan Ron memanjat masuk ke dalam ruang rekreasi, berjalan menghampiri tempat Hermione, lalu duduk mengapit di kanan kirinya.

“Nih, kubawakan sarapan,” ucap Ron, mengulurkan setumpuk roti panggang yang dialasi tissu ke depan Hermione.

“Trims,” ucap Hermione, tetapi tidak menyentuh roti itu.

“Hermione, dimakan dong,” Ron membelalak kepadanya. “Aku kan sudah capek-capek membawakannya untukmu!”

“Aku tidak lapar, Ron.”

Ron menghela nafas, menatap Hermione dengan prihatin. “Hermione, kau tidak bisa begini terus,” ucapnya. “Yah, memang dasar brengsek si… (Ron menyebut Snape sesuatu yang biasanya membuat Hermione langsung berkata, “Ron!” –tetapi kali ini Hermione diam saja) …itu! Tapi mau bagaimana lagi? Sudahlah Hermione, tidak usah terlalu kau pikirkan. Cuma satu nilai ujian Ramuan ini, seberapa pentingnya, sih? Nilai-nilai ujianmu yang lain toh bagus-bagus semua. Jadi nanti kalau semua nilaimu dijumlahkan lalu dirata-ratakan, nilai ujian Ramuan itu nggak akan banyak lagi pengaruhnya, kan?” Dan separah-parahnya nilaimu pun, masih tetap yang paling tinggi dibandingkan nilai kami semua digabung jadi satu, Ron menambahkan. Dalam hati, tentu saja.

“Kau tuh nggak ngerti banget, yah,” Hermione langsung mendelik ke arah Ron. “Bukan cuma nilai itu yang kupersoalkan, tahu. Tapi aku sudah berencana mengambil beberapa mata pelajaran tambahan, dan semuanya mensyaratkan nilai Ramuan. Selain itu tahun depan kita akan menghadapi ujian OWL, kan? Atau mungkin kau berpikir aku bisa ikut ujian OWL sementara aku belum lulus Ramuan…?!” 

“Bagaimana kalau kau mencoba membicarakannya dengan Profesor McGonagall?” Ron secepat kilat berubah haluan. “Mungkin beliau bisa membantumu, Hermione!”

“Kau pikir apa yang kulakukan dari kemarin?!” bentak Hermione. Ron langsung diam.

“Lalu McGonagall bilang apa?” tanya Harry, menatap Hermione tajam.

“Profesor McGonagall berkata akan berusaha membantuku dan bicara dengan Snape, tapi beliau tidak bisa menjanjikan apa-apa,” jawab Hermione. “Karena keputusan akhir tetap ada pada Snape, dan… dan…” Hermione menghentikan ucapannya, matanya nampak berkaca-kaca.

Ron langsung panik. “Whoaa… H-Hermione, ja-jangan nangis, dong!”

Harry masih menatap Hermione selama beberapa saat, lalu bangkit dari duduknya. Ia kemudian berjalan menyeberangi ruangan menuju lubang lukisan, diam-diam menyelinap keluar. Air mata mulai menggenangi wajah Hermione dan Ron kalang kabut berusaha menghiburnya, sehingga keduanya sama sekali tidak menyadari kepergian Harry.

***

Harry masih ingat ketika untuk pertama kalinya ia memasuki kantor Snape di awal tahun keduanya di Hogwarts dua tahun yang lalu. Jelas bukan pengalaman yang menyenangkan, dan saat itu pun ia sudah bersumpah sebisa mungkin ia takkan sudi menginjakkan kakinya di tempat itu lagi. Namun, ia harus melanggar sumpahnya sekarang. Menyusuri lorong bawah tanah yang gelap dan dingin, Harry merasakan setiap ayunan langkahnya memerlukan perjuangan ekstra keras, seolah tangga batu sempit yang dipijaknya terbuat dari bara panas. Namun Harry terus membulatkan tekad hingga akhirnya ia tiba di muka pintu kantor Snape yang tertutup rapat. Harry mengambil nafas dalam-dalam untuk kesekian kalinya, menghitung dalam hati dari satu sampai sepuluh, lalu mengangkat tangannya mengetuk pintu.

“Masuk,” terdengar sahutan dari dalam.

Harry membuka pintu, merasakan aura penolakan yang sangat kuat menerpanya. Ruangan kantor Snape berpenerangan remang-remang, dindingnya dikelilingi sejumlah rak tinggi menjulang yang sarat oleh ratusan stoples kaca berukuran besar berisi rupa-rupa cairan ramuan. Snape duduk menghadapi meja penuh tumpukan perkamen yang sedang digarapnya. Wajahnya sedikit terangkat ketika melihat Harry.

“Oh, kau,” ucapnya, mengernyit memandang Harry, seakan Harry adalah sesuatu yang tidak menyenangkan di sol sepatunya. “Ada perlu apa?”

Berusaha mengabaikan potongan-potongan berlendir tubuh hewan dan tumbuhan mengambang di dalam deretan stoples yang membuatnya mual, Harry berkata, “Saya… err… saya—ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Sir.”

“Waktumu lima menit.”

Harry meneguk ludah. “Ini tentang Hermione,” ucapnya. “Saya mohon Anda mengizinkan dia mengikuti ujian Ramuan, karena—“

“Sudah kuduga kau datang untuk mengatakan itu,” sudut mulut Snape melengkung membentuk cibiran yang sudah sangat dikenal Harry. “Dan jawabanku tetap ‘tidak’. Jadi kusarankan jangan buang-buang waktumu, Potter.”

“Tapi untuk Hermione, mungkin Anda bisa memberi keringanan,” Harry mencoba terus. “Anda tentu tahu ujian ini sangat berarti baginya. Dia toh tidak pernah melanggar peraturan Anda sebelumnya. Dia juga Juara Kelas, Murid Teladan, dan… dan…”

“Percuma Potter,” cemoohan di wajah Snape semakin lebar. “Sekalipun kau berlutut memohon dan menciumi telapak kakiku, keputusanku tidak akan berubah. Nah, jadi kenapa kau tidak pergi saja sekarang?”

Harry ternganga menatap Snape, sulit mempercayai bahwa sosok penyihir yang ada di hadapannya ini adalah seorang guru. Bagaimana mungkin, seorang guru tidak memiliki hati nurani? Seluruh organ dalam tubuh Harry serasa mendidih.

“Anda keterlaluan,” Harry berkata, suaranya terdengar bergetar menahan marah. “Saya tidak mengerti, kenapa Anda tega berbuat ini terhadap Hermione. Sementara kemarin, saya melihat Anda mengizinkan seorang murid kelas tiga Slytherin mengikuti ujian Ramuan, padahal dia datang terlambat lebih dari lima belas menit—yeah, memang itu hak Anda—tapi kami semua sudah lama tahu, kalau Anda selalu menganak-emaskan murid-murid dari asrama Anda sendiri, dan bersikap tidak adil kepada murid-murid dari asrama lain, khususnya murid-murid Gryffindor. Saya juga tahu kalau Anda sangat tidak menyukai saya, bahkan mungkin sangat membenci saya—mungkin disebabkan perbuatan ayah saya dan teman-teman ayah saya kepada Anda bertahun-tahun yang lalu—saya bisa mengerti. Tapi kenapa Anda harus juga membenci semua anak Gryffindor, Hermione, Neville, atau teman-teman saya yang lain? Apa salah mereka terhadap Anda? Atau jangan-jangan, Anda sengaja menghukum Hermione cuma karena dia adalah sahabat saya? Kalau benar begitu—oh, Anda sungguh keterlaluan!”

“Potong dua puluh lima angka dari Gryffindor,” sepasang mata Snape berkilat berbahaya. “Berani sekali kau bicara kurang ajar seperti itu di hadapanku, Potter.”     

Harry mengabaikannya, telinganya berdenging. Saat ini ia dilanda perasaan benci dan muak luar biasa terhadap segala sesuatu yang ada pada Snape dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Pada tirai rambut hitam berminyaknya yang menjijikkan, wajah pucatnya yang tanpa ekspresi, dan sorot mata bak lorong gelap yang seakan mampu mengebor isi otakmu. Akumulasi segala kekecewaan dan kemarahan atas perlakuan sewenang-wenang Snape terhadapnya yang dipendam Harry selama empat tahun ini, sekarang meledak-ledak dalam kepala Harry, dan semuanya menuntut untuk ditumpahkan paling dulu. Jadi Harry masih terus berucap dengan berapi-api.

“Anda pasti tahu kalau saya juga sangat tidak menyukai Anda,” lanjut Harry, memicingkan matanya ke arah Snape. “Dan saya pasti sudah sangat membenci Anda kalau saja tidak ada Hermione. Tapi Hermione selalu berkata kepada saya—bahwa apa yang saya rasakan terhadap Anda itu tidaklah benar. Setiap kali saya mulai membenci Anda, Hermione lalu mengingatkan saya kalau Anda pernah menyelamatkan nyawa saya waktu saya kelas satu, waktu Quirell mencoba mencelakai saya. Juga setiap saya berprasangka buruk kepada Anda, Hermione berulang kali membela Anda, dengan mengatakan bahwa Profesor Dumbledore—bahwa Profesor Dumbledore sangat mempercayai Anda. Dan tahukah Anda kalau Hermione sebenarnya sangat mengagumi Anda? Hermione pernah berkata kepada saya, bahwa Anda adalah seorang penyihir yang sangat hebat, salah seorang ahli ramuan paling jenius yang pernah dikenalnya. Tapi balasan apa yang Anda berikan padanya? Anda selalu saja menghinanya, merendahkannya, mengatainya sok tahu, menyebalkan, dan lain sebagainya—Anda sama sekali tidak pernah menghargainya sedikit pun!”

“Potong enam puluh angka dari Gryffindor!” Snape berteriak keras. “Sekali lagi kau lancang buka mulut di depanku Potter, aku benar-benar akan membuatmu menyesal telah dilahirkan.”

“Oh, hukumlah saya!” Harry balas berteriak lebih keras daripada Snape. “Kalau memang cuma itu satu-satunya cara untuk membalaskan sakit hati Anda atas apa yang pernah ayah saya lakukan kepada Anda—hukumlah saya! Saya bersedia menerimanya, seberat apa pun, tapi saya tidak akan pernah rela Anda melakukannya terhadap sahabat saya!”

Jeda panjang menyusul setelah ini. Harry tersengal kehabisan nafas, merasakan tubuhnya mendadak limbung dan pandangan matanya berkunang-kunang, sehingga ia harus berpegangan pada rak di belakangnya untuk menguatkan diri. Apa yang dilakukannya baru saja rupanya telah menguras habis seluruh energinya. Di sisi lain, Snape duduk membeku di bangkunya, ekspresi wajahnya tak terbaca. Menit-menit berlalu dalam keheningan yang mencekam, akhirnya dipecahkan oleh Snape. 

“Detensi,” ucapnya. “Besok jam enam pagi di kantorku. Kita bicarakan detensimu.”

Lutut Harry langsung lemas.

“Sekarang pergilah,” lanjut Snape. “Temui Miss Granger. Katakan padanya untuk menghadapku di kantorku. Sekarang.”

“Hah?”
 
“Tunggu apa lagi, Potter?!” bentak Snape. “Cepat pergi!”

“Oh, iya, iya…” nyaris terbang, Harry melesat meninggalkan kantor Snape. Tetapi hatinya terasa jauh lebih ringan sekarang.

***

Ketika Harry kembali ke ruang rekreasi, dilihatnya kedua sahabatnya masih berada di sana, duduk berdampingan. Hermione sudah berhenti menangis, walau matanya masih nampak merah. Ron langsung berseru begitu melihat Harry muncul, “Hei, Harry! Kau habis darimana?”

“Cuma keluar sebentar,” jawab Harry, berpaling ke Hermione, “Hermione, tadi di jalan aku ketemu Snape, dan katanya dia ingin supaya kau menemuinya.”

“Oh, ada perlu apa ya…” Hermione bertanya keheranan (“Mau ngapain lagi sih, orang satu itu!” sengit Ron). Harry mengangkat bahu.

Masih ragu-ragu, Hermione bangkit dari duduknya. Ron ikut bangkit juga, seraya berkata, “Aku temani, ya,” tetapi Hermione langsung membentaknya, “Tidak usah!”

“Ti-tidak usah, terima kasih, Ron,” Hermione berkata lagi, dengan nada yang lebih halus, lalu berpaling ke Harry, “Snape bilang di mana aku harus menemuinya, Harry?”

“Di kantornya,” jawab Harry. “Dan sebaiknya cepat, Hermione.”

“Oke, aku akan langsung ke sana.” Hermione berjalan menuju lubang lukisan dan lenyap.

“Semoga tidak ada apa-apa, ya…” gumam Ron, mengawasi kepergian Hermione dengan cemas, lalu menoleh ke Harry. “Eh, Harry, ngomong-ngomong kau tadi habis darimana, sih? Kok mukamu merah semua gitu?”

“Sudah kubilang tadi cuma keluar sebentar,” bentak Harry yang saat itu isi kepalanya sudah dipenuhi oleh bayangan seribu satu macam detensi paling ajaib yang akan dijatuhkan Snape untuknya esok pagi.

***

Persis seperti yang dialami Harry sebelumnya, Hermione juga merasakan dasar perutnya langsung anjlok begitu ia mencapai muka kantor Snape. Namun kali ini Hermione tidak harus mengetuk pintu terlebih dulu, karena daun pintu mendadak menjeblak terbuka dengan sendirinya sewaktu Hermione menyentuh pegangannya, seakan tahu Hermione akan muncul. Hermione melangkah masuk ke dalam kantor. Snape masih duduk di tempat yang sama.

“Duduk,” ucap Snape, dan Hermione langsung meraih salah satu bangku yang paling dekat darinya.

“Setelah kupikirkan,” Snape berkata lambat-lambat. “Aku putuskan untuk memberimu ujian susulan Ramuan hari senin besok jam satu siang di kantorku…”

Hermione begitu gembira mendengar ini sampai selama beberapa saat tak sanggup berkata-kata.

“…Jadi kau masih punya waktu dua puluh empat jam lebih untuk mempelajari ulang semua materi ujiannya, karena kupastikan soal-soalnya nanti akan sangat berbeda. Tapi kurasa kalau untukmu, waktu sebanyak itu sudah lebih dari cukup.”

“Oh, yeah, tentu saja. T-terima kasih, Sir…”

“Sekarang kau boleh pergi,” lanjut Snape, dan Hermione pun bangkit dari duduknya. “Kutunggu kau besok jam satu siang tepat di kantorku, dan…” Snape menambahkan ketika Hermione sampai di ambang pintu, “…jangan sampai terlambat lagi.”

Hermione memaksa tersenyum. “Oh, tentu saja tidak. Tidak akan, Sir.”

***

Harry merasakan kepalanya berdenyut nyeri ketika pukul enam keesokan paginya ia kembali melakukan perjalanan menuju kantor Snape. Semalam ia memang tidak bisa tidur, selain sibuk mereka-reka vonis terburuk macam apa yang bakal ia terima dari Snape hari ini, lebih dari itu, Harry kembali terbayang semua perbuatannya terhadap Snape kemarin, dan ini membuatnya bertanya-tanya sendiri, darimana ia mendapatkan keberanian—atau mungkin lebih tepatnya kenekatan luar biasa—untuk berbicara seperti itu kepada Snape. Harry berpikir mungkin sikapnya sudah kelewatan, dan memutuskan tidak ingin mencari perkara lebih jauh lagi dengan Snape. Itulah sebabnya, pagi ini ia bertekad datang ke kantor Snape tepat waktu.

Harry mengetuk pintu dan masuk ke dalam kantor, dilihatnya Snape tengah sibuk menulis sesuatu di atas sehelai perkamen di mejanya, sama sekali tidak menghiraukan kehadiran Harry.

“Err—Sir…” Harry menyapa ragu-ragu.

“Oh, kau,” Snape menyahut sambil lalu, masih berkonsentrasi menulisi perkamennya dan ia berbicara tanpa memandang ke arah Harry. “Ada perlu apa datang pagi-pagi begini ke kantorku?”

Harry melongo. “Lhoh, Sir… kemarin kan, Anda meminta saya datang ke kantor Anda… untuk—err, membicarakan mengenai detensi saya…?”
 
“Oh, soal itu,” gumam Snape. “Sudahlah, lupakan saja.”

“Hah?”

Lupakan saja,” ulang Snape, menyaksikan Harry yang makin terbengong-bengong. “Sekarang cepat pergi sebelum aku berubah pikiran.”

Tetapi Harry bergeming. Menatap Snape lama seakan mengalami pergolakan batin yang menyakitkan, Harry akhirnya berkata, “Hermione ternyata benar. Mungkin Anda memang tidak seburuk yang saya duga. Mungkin saya yang selama ini telah salah menilai Anda.”

“KELUAAAAARRR!!” Snape mengaum. Ia telah bangkit berdiri, mengacungkan telunjuknya secara dramatis ke arah pintu. “KELUAR KAU SEKARANG JUGA DARI KANTORKU, POTTER!! KELUAR KAU!!”

Harry berbalik dan pergi.

Snape masih berdiri, sepasang matanya menatap nanar ke arah pintu tempat Harry baru saja menghilang beberapa detik yang lalu, sekujur tubuhnya berguncang hebat.

Oh, terkutuklah kau James Potter, terkutuklah kau! Kupikir setelah kematianmu, aku sudah terbebas darimu dan bisa melanjutkan hidupku dengan tenang. Namun ternyata dugaanku salah, karena setiap kali aku melihat anak laki-lakimu itu, aku seperti melihatmu hidup kembali di depan mataku. Oh, sialan kau James Potter! Kenapa kau tak bisa berhenti menggangguku? Aku yakin saat ini pun, dari alam kuburmu kau pasti sedang menertawakanku!

FIN.


© Mela Muggle 09 Januari 2010. Happy Snape Day ^_^ V




« Last Edit: January 24, 2010, 08:53:45 AM by Mela Muggle » Logged
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #8 on: January 12, 2010, 09:16:57 PM »

AAH!
*jitak diri sendiri*
ke-kenapa Ambu sampai lupa untuk post di sini ya? Hihi. OK, mungkin ada yang udah baca di FFn, tapi Ambu post juga di sini Tongue

-----

LITTLE KITTEN

 Harry Potter punya JK Rowling
Anak kucingnya punya Ambu

Timeline sekitar tahun pertama masa sekolah Severus Snape


-o0o-

Malam semakin dingin, semakin pekat, semakin sunyi. Dengan langkah-langkah tak bersuara Madam Pomfrey keluar dari Hospital Wing. Ditutupnya pintu.

Ia menghela napas lega. Tadi pagi terjadi insiden yang menyebabkan rumah sakit penuh. Untungnya tak ada dari anak-anak itu yang harus bermalam di rumah sakit. Insiden biasa, pertengkaran antara anak-anak dari asrama yang berlainan. Kali ini Gryffindor dan Slytherin. Atau tepatnya, seorang Slytherin dikeroyok oleh beberapa anak Gryffindor.

Madam Pomfrey menyelesaikan mengunci pintu. Kalau malam ini ada sesuatu terjadi pada anak-anak, misalnya ada yang haus dan dalam kantuk meminum sesuatu yang salah, ia bisa dicari saja di kamarnya. Sekarang ia mengantuk.

Masih dalam langkah-langkah tak bersuara ia berjalan meninggalkan rumah sakit menuju kamarnya. Tak jauh dari situ.

Tapi ia mendadak berhenti.

Walau ia bukan penyihir handal, ia bisa merasakan ada seorang penyihir berkelebat lewat di koridor depan sana. Wow! Siapakah dia? Mendadak kantuk Madam Pomfrey lenyap.

Jika ia seorang siswa, berarti ilmu  meringankan tubuhnya luar biasa. Belum lagi ia punya nyali untuk berada di luar ruang tidur malam-malam begini.

Tapi kalau ia bukan seorang siswa, siapakah dia? Justru harus diikuti, jangan-jangan ia berniat buruk pada Hogwarts—

Madam Pomfrey bergegas—masih tanpa suara—mengikuti arah bayangan tadi berkelebat.

Bayangan yang tadinya bergegas berkelebat, kini justru melambatkan gerakannya. Madam Pomfrey menyembunyikan diri di belakang sebuah tiang.

Sepertinya—dilihat dari sosoknya—kemungkinan seorang siswa, simpul Madam Pomfrey. Tunggu. Kalau diingat-ingat—seperti anak yang tadi siang masuk rumah sakit, ya benar! Anak Slytherin itu! Bayangan rambutnya yang hitam lurus membingkai, tak salah lagi!

Mau apa ia di koridor rumah sakit? Dan apa yang sedang dipegangnya?

Madam Pomfrey memusatkan pandangan pada apa yang dipegang anak itu. Seperti—mangkuk?

Malam memang kelam, dan penerangan di koridor memang remang, tapi Madam Pomfrey berani bersumpah bahwa anak itu tersenyum. Anak itu melihat ke bawah, ke sudut bawah belokan koridor. Madam Pomfrey mengikuti arah pandangannya, dan ia melihat—

Anak kucing.

Seekor anak kucing berwarna abu-abu muda, mengeong lemah.

Anak Slytherin itu maju mendekat, merendahkan badannya, menyorongkan mangkuk yang sedari tadi dipegangnya. Hati-hati. Berusaha agar si anak kucing itu tidak lari ketakutan.

Pada mulanya si anak kucing itu hanya mengeong lemah sambil matanya memandangi si anak Slytherin. Mata yang menjadi terang di tempat yang nyaris gelap itu. Tapetum Lucidum. Bertemu dengan mata hitam kelam, anak kucing itu melihat kepercayaan di dalamnya. Mata yang menjanjikan perlindungan.

Perlahan anak kucing itu maju, menyentuh pinggir mangkuk dengan hidungnya. Diendusnya. Wangi yang ia kenal. Ia maju, memasukkan kepalanya ke dalam lingkar mangkuk, dan mulai menjulurkan lidahnya, menyentuh cairan yang ada di dalamnya.

Enak.

Anak kucing itu menjilat-jilat susu1) di dalam mangkuk dengan rakusnya. Sepertinya sudah agak lama sejak ia tidak bertemu dengan makanan, atau paling tidak, air susu ibunya.

Karena keenakan, ia tidak merasa bahwa ia naik ke atas pangkuan si anak berambut hitam itu. Dengan lembut nyaris tak menyentuh, si anak Slytherin mengusap-usap bulunya. Lalu ia menggaruk-garuk belakang telinganya.

Setelah yakin bahwa anak kucing itu sudah jinak, si anak Slytherin pelan-pelan memegang kaki depan kiri si anak kucing. Sigap dipegangnya erat-erat. Dengan tangannya yang satu lagi, ia seperti mencabut sesuatu dari sana dengan cepat. Anak kucing itu menjerit kecil.

Seperti ... melepas duri?

Tapi si anak Slytherin dengan cepat memeluknya. Mengeluarkan bunyi seperti mendesis—sh sh sh. Mengelus dagu si anak kucing, menenangkannya. Setelah si anak kucing itu kembali tenang, ia mengeluarkan sesuatu seperti salep dari saku jubahnya. Dengan satu tangan dibukanya, lalu dioleskan pada temnpat bekas duri tadi menancap.

Dengan satu tangan juga, dikeluarkan sepotong kain, disimpannya di pojokan koridor. Diletakkan si anak kucing itu di sana, diselimuti dengan ujung kain sisanya. Mangkuk yang sudah habis isinya, diambilnya, disembunyikan lagi di jubahnya.

Diusapnya kepala kecil kucing mungil itu dengan ujung telunjuk, dan berbisik, “Tidurlah. Kalau kau sudah kuat, besok kau boleh pergi—“

Anak kucing itu mengeong pelan, sudah puas, sudah kenyang, sudah tak sakit lagi. Ia menutup matanya dan meringkuk membentuk bulatan kecil.

Si anak Slytherin berdiri. Tanpa menoleh kanan kiri lagi, ia berkelebat lagi seperti tadi, menghilang di kegelapan malam.

Madam Pomfrey terpaku.

Ia membiarkan matanya basah.

Ia bahkan tak mempedulikan kenyataan bahwa ada kemungkinan anak Slytherin itu tadi pagi menyelipkan salep dari lemari obat-obatan ke dalam jubahnya.

-o0o-

Tadi siang Madam Pomfrey masih melihat anak kucing itu di meringkuk pojokan, tidur di atas gumpalan kain.

Ketika malam datang lagi, kali ini Madam Pomfrey sudah siap mengikuti, kembali bersembunyi di tiang yang sama.

Anak Slytherin itu berjongkok dan mencari-cari.

Gumpalan kain itu kosong.

Anak itu berdiri. Menghela napas. Dan berbisik.

“Mungkin susu yang kuberikan kemarin membuatmu cukup kuat untuk menemukan jalan pulang ke rumahmu lagi—“2)

FIN

1) Konon menurut penelitian, susu sebenarnya tidak begitu baik untuk kucing, tapi dalam cerita-cerita, kucing biasanya dikasih susu sih ~
2) Kalimat ini ada di buku Anak Tani – Laura Ingalls-Wilder halaman 125
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #9 on: January 12, 2010, 09:19:58 PM »

Nisan Tanpa Nama

Harry Potter kepunyaan JK Rowling

-o0o-

Pemuda berambut hitam acak-acakan itu merapatkan jubahnya. Cuaca dingin sekali dengan tiupan angin yang menyiksa. Matahari sudah sedari pagi tadi cuti, dan membiarkan penghuni bumi—paling tidak penghuni Hogsmeade—tersiksa dengan suhu.

Pemuda tadi melangkah dengan pasti, meniti batu demi batu, menelusuri tanjakan. Ia ingat dulu membawa beban melangkah di sini, dan tali tasnya terasa mengiris-iris bahunya. Oh, ya… itu jaman dulu.. Membawa beban untuk seekor anjing animagi, bekal makanan..

Sekarang, ia sudah dewasa. Dan ia tak membawa beban apapun ke sini.

Kecuali beban hati.

Baru saja ia menengok makam mentor utamanya—The White Tomb—dan sekarang ia akan menengok makam mentornya yang lain. Kalau ia mau disebut mentor. Karena selama hidupnya tak pernah pemuda ini mengaku bahwa orang ini adalah mentornya yang terbaik. Yang terbaik kedua setelah orang yang dimakamkan di White Tomb.

Pemuda itu sampai di rimbunan semak. Ia berhenti. Tiap saat—kapan saja ia sempat—ia menengok kedua makam mentornya itu. Dan makam yang kedua ini selalu dalam keadaan seperti ini. Penuh dengan rimbunan semak. Tak ada yang mengurus.

Sebenarnya, tak ada yang tahu di sini ada sebuah makam.

Ia duduk. Berlutut tepatnya. Dan mulai membersihkan areal makam. Rimbunan semak. Rerumputan. Debu dan lumut yang melekat di batu yang dipergunakan sebagai nisan.

Nisan tanpa nama.

Lalu dia duduk bersila. Hening.

Mengingat lagi tahun-tahun yang lalu. Tahun di mana ia mengalahkan musuh terbesarnya. Dan ia menemukan kenyataan lain.

Kenyataan bahwa selama ini ia selalu dibantu olehnya. Tapi ia sama sekali tidak mau diketahui. Bahkan membiarkan dirinya dibenci.

Kecuali pada saat-saat terakhir, saat ia memandangnya lekat-lekat. Saat mata hitam bertemu dengan mata hijau itu.

Dan membisikkan permintaannya yang pertama,  juga yang terakhir.

Ia tak ingin jasa-jasanya diketahui. Ia tak ingin dimakamkan dengan penuh kebesaran. Ia hanya ingin dimakamkan di tempat di mana ia bisa mengawasi Hogwarts dengan sepuasnya.

Harry memakamkannya di bukit di Hogsmeade. Tempat di mana dulu Hagrid bersembunyi. Dari situ ia bebas memandang langsung ke kastil Hogwarts. Dan tersembunyi, tak ada yang tahu kalau di sini ada sebuah makam. Makam dengan nisan tanpa nama.

Seperti di saat dulu. Tak ada yang tahu ia siapa, tak ada yang sadar ia ada. Harry pun tak merasa bahwa ia selalu berada di bawah lindungannya.

Sampai saat ia dimakamkan di sini. Harry baru sadar, bahwa berada di sini, tak melakukan apa-apa, justru adalah hal yang paling menentramkannya.

Karena ia berada di bawah lindungannya.

FIN
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #10 on: January 15, 2010, 10:53:12 PM »

The Affection

Harry Potter kepunyaan JK Rowling

Setting setelah Voldemort mati, dengan mengabaikan Buku 6 dan 7, sehingga Severus Snape masih hidup dan masih menjadi guru Ramuan. Harry belum kelihatan naksir Ginny Tongue


-o0o-


Lord Voldemort telah mati.

Semua bersuka ria. Seperti adegan beberapa belas tahun yang lalu, semua penyihir bersuka ria. Malahan beberapa cukup berani untuk menampilkan identitasnya di dunia Muggles. Yah, namanya juga orang bersuka ria.

Tetapi, tidak. Ada beberapa gelintir penyihir yang masih menyimpan harapan bahwa Pangeran Kegelapan akan kembali. Mereka masih melancarkan serangan secara sporadis di mana-mana. Tentu saja para Auror sibuk menjaga keadaan.

-o0o-

Hogsmeade. Suasana sekarang ceria. Di mana-mana orang sibuk membicarakan Lord Vol … eh, maksud penulis … Voldemort. Fiuh. Susah juga menyebut namanya tanpa disertai ketakutan.

Yah, pokoknya sekarang Hogsmeade penuh dengan anak-anak Hogwarts yang baru saja bisa keluar setelah peristiwa itu. Suasana ceria. Semua tanpa kecuali membicarakan peristiwa itu. Seperti pengumuman Dumbledore, Harry telah membunuhnya.

“Sebetulnya kuharap Dumbledore tidak menyebutku sebagai pelakunya,” Harry berbisik pelan. Kali ini ia terpaksa menggunakan jubah gaibnya, kalau tidak tentu saja orang-orang akan mengerubutinya. Beda dengan Ron dan Hermione, meski dikenal sebagai ‘sahabat-sahabat Harry’ tapi orang tentu saja membiarkan mereka lewat setelah melihat bahwa Harry tidak ada bersama mereka.

“Yah, kau memang terpaksa menerima keadaan, Harry,” kata Ron menutupi mulutnya dengan gelas butterbeer, “daripada Dumbledore mengarang cerita, atau membiarkan orang menebak-nebak.”

“Yah, mungkin hal seperti ini akan berlangsung beberapa saat, seterusnya keadaan untukmu akan normal kembali, Harry,” Hermione menimpali. Ginny mengangguk, sambil mengulurkan bungkusan berisi coklat dari Honeydukes pada Harry.

Mereka sedang minum di Three Broomsticks. Harry ingin sekali keluar ke Hogsmeade seperti yang lain, tetapi tentu saja keadaan berbahaya. Bukan bahaya seperti masa dulu, itu sudah lewat. Tapi bahaya ketenaran. Manalah orang akan membiarkannya lewat begitu saja. Karena itu ia keluar dengan Jubah Gaib. Kalau Ron atau Ginny yang lewat, paling-paling ditanya ‘mana Harry?’ Pasti aman.

“Sebenarnya Snape juga turut ambil bagian dalam memusnahkan Voldemort,” ungkap Harry, “tapi Dumbledore tidak menyebutkan namanya sedikitpun, jadi dia justru aman,” keluh Harry.

“Sudahlah, Harry. Kau dijadikan tumbal kan tidak apa-apa,” ejek Ron sambil berkelit. Harry kan tidak kelihatan, jadi enak saja dia mendaratkan tinju pada Ron.

“Sebetulnya kita belum menghabisi semua kakitangan Voldemort,” sahut Harry, “kedua Lestrange belum ditangkap, lalu juga istri Malfoy belum ketahuan di mana bersembunyinya,” ungkapnya.

“Sudah, biar saja Kementrian yang mengurusnya. Kita tinggal menikmati hari-hari sebagai murid Hogwarts. Sebentar lagi kan NEWT. Hayo, kalian sudah belajar belum?” Hermione mengingatkan.

Keempatnya tertawa. “Tentu saja aku belum, kan masih setahun lagi,” sahut Ginny lega. Sambil melihat dengan ekor  matanya pada Ron. Hehe.

“Kita kembali saja, yuk!” ajak Harry. Di Hogwarts ia tidak perlu memakai jubah gaib ini. Meski murid-murid lain masih suka mengerubutinya, tapi gangguan yang ada tidak separah kalau dia berada di Hogsmeade.

“Ayo. Aku masih ada 312 halaman yang belum kubaca,” Hermione mengatakan ini tanpa maksud, tapi Ron mengeluh mendengarnya, disertai cekikikan Ginny.

“Awas kau, Ginny, tahun depan giliranmu,” ancam Ron.

“Tapi kau kan sudah tidak ada di sini. Eh, siapa tahu ya? Bagaimana kalau kau tinggal kelas?” Ginny memasang wajah inosen.

Semua terkekeh, tanpa kecuali Harry. Mereka keluar sambil membiarkan Harry di tengah. Jadi tidak akan ada yang menyenggolnya. Siapa tahu, kan?

-o0o-

Tapi orang-orang di luar berlarian seperti ada yang mengejar. Ada apa? Dan mereka seperti menularkan pada orang lain, yang juga dengan segera berlari.

“Ada Pelahap Maut. Dengan Dementor,” seseorang sambil terus berlari, menyebabkan orang lain juga cepat berlari.

“Ayo,” Harry cepat membuka jubah gaibnya, menengok kanan kiri. Ternyata ada dua anggota DA yang dengan cepat menghampiri mereka.

“Sudah kuduga, kau sebenarnya pakai Jubah Gaib,” katanya, tapi dia cepat bersiaga juga. “Mana anggota DA yang lain?”

Dalam hitungan menit, beberapa lagi anggota DA berkumpul. Mereka bersiap bertemu dengan Pelahap Maut.

“Terry, beri tahu Dumbledore,” Ron menyuruh seorang anak agar segera kembali ke Hogwarts. Anak itu berlari tanpa harus dua kali disuruh.

Harry melihat yang lain. “Siap?” dan mereka menyiapkan diri. Anak-anak ini memang sudah berpengalaman dalam pertempuran melawan Pelahap Maut. Dan mereka segera melihat siapa yang datang. Bellatrix bersama suaminya, dan beberapa gerumbul Dementor. Mereka tidak bosan-bosannya.

Pertempuran segera terjadi. Harry dengan cepat mengarah pada Bella, tapi nampaknya Bella menghindarinya. Ada beberapa Dementor yang terus menghalangi pertemuan Harry-Bella.

Dengan susah payah Harry memusnahkan Dementor-Dementor itu sebelum ia teringat, bahwa mungkin Bella menyiapkan jebakan. Maka ditahannya untuk bertemu dengan Bella. Pokoknya, sekarang ia memusnahkan musuh dulu. Bella nanti belakangan. Harry sekuat tenaga menahan emosinya untuk melawan orang yang meyebabkan kematian ayah walinya ini.

Pertempuran berjalan seimbang. Tapi tak lama kemudian sudah kelihatan bahwa kubu Death Eaters sudah kepayahan. Sudah banyak Dementor yang diusir. Bella sudah mulai celingak-celinguk untuk mundur.

“RON!! ADIKMU!!” suara seorang DA membuat Ron segera menoleh. Ginny! Ginny terduduk didekati oleh seorang (atau sebuah?) Dementor. Ginny!

Ron segera berlari mendekat, dan berteriak melafal ‘Expecto Patronum’. Dikejar seekor Jack Russel perak, Dementor itu melayang pergi meninggalkan Ginny yang sudah tak berdaya.

“Ginny!” Ron segera merunduk dan memeriksa kondisi adiknya. Tak ada tanda-tanda kehidupan.

“Ginny, Ginny, … GINNY!!” Ron berseru lebih keras menggoyang-goyangkan badannya. “Hermione, aku bawa dia ke Madam Pomfrey,” dengan panik Ron mengangkat tubuh adiknya yang lemas. Dengan sekali gerak tubuh itu terangkat, tanpa melihat kanan-kiri lagi ia segera berlari sekuat ia bisa. Hermione mengangguk, ia berharap Dementor-Dementor ini segera berhasil diusir agar ia bisa melihat keadaan Ginny.

-o0o-

Nampaknya lama sekali Ron akhirnya tiba di Hospital Wing. Madam Pomfrey segera membaringkan Ginny, dan mulai memeriksanya. Tanpa bicara.

Setelah sekian lama akhirnya Madam Pomfrey berbalik pada Ron, “Dia masih hidup, Ron. Tetapi, jiwanya entah ada di mana,”

“Madam Pomfrey?”

“Nampaknya dia tadi nyaris di-Kecup oleh Dementor. Nyaris, karena jiwanya berhasil selamat. Tapi, dia tidak bisa mempertahankan jiwanya tetap ada di tubuhnya,”

“Aku tidak mengerti,”

“Mungkin karena ia pernah dirasuki, maka jiwanya bisa pergi ke tempat lain, yang aku tidak tahu ke mana. Sebenarnya ini mempertahankan hidupnya. Mungkin tadi dia sudah di-Kecup oleh Dementor, tapi karena jiwanya pergi meninggalkan tubuhnya, maka si Dementor justru kebingungan mencari.”

Ron terlihat bingung. Madam Pomfrey menerangkan lebih perlahan, “Jika seseorang di-Kecup Dementor, maka Dementor itu menyerap jiwanya. Tapi Ginny lain. Kelihatannya, begitu Dementor mendekatinya, Jiwanya pergi meninggalkan tubuhnya. Jadi begitu Dementor mencari-cari Jiwanya, ia tak bisa menemukannya. Aku menduga—ini akibat ia pernah dirasuki dulu—“

“Jadi peristiwa di kelas satu itu justru menyelamatkan jiwanya?” Ron bingung, “lalu bagaimana kita bisa mencari jiwanya?”

Madam Pomfrey menghela napas. Dan dari jendela nampak Harry dan Hermione. Ron membuka pintu.

“Bagaimana keadaan Ginny?” Harry nyaris bersamaan dengan Hermione bertanya.

“Aku juga bingung. Madam Pomfrey berkata, jiwanya masih ada. Dia nyaris di-Kecup oleh Dementor. Tapi jiwanya entah pergi ke mana. Katanya ini karena dia dulu pernah dirasuki oleh Vol .. Vold.. Voldemort dulu. Tapi Madam Pomfrey tidak tahu harus bagaimana mencari jiwanya,” Ron berkata setengah putus asa.

“Aku tahu, Ron,” Madam Pomfrey menyahut, “tapi aku tak tahu apakah dia bisa,”

“Siapa?” Ron bertanya setengah memaksa.

“Aku,” sebuah suara membuat mereka bertiga memandang ke arah pintu.

Sesosok tubuh berjubah hitam berdiri di ambang pintu.

“Kau bisa, Severus?” Madam Pomfrey berharap, “Soul Capture, Severus?”

“Mudah-mudahan, Poppy,” Snape masuk. Sekilas ia melihat kondisi Ginny. Lalu ia melihat Madam Pomfrey, “Bisakah aku dibiarkan, sendiri?”

Madam Pomfrey mengangguk. Ia menyuruh Ron keluar bersama kawan-kawannya. Lalu dipan Ginny dikelilingi tirai. Lampunya dimatikan. Lalu ia sendiri juga keluar.

McGonagall ternyata ada di luar.  Ia menghampiri mereka, “Kalau sudah ditangani Snape, kita tinggal berharap saja,” kedengarannya prihatin. “Oh, ya, kita belum mengirim burung hantu untuk ibumu, Ron.”

Mereka mengikuti tanpa suara ke kandang burung hantu. Lalu McGonnagal juga menyuruh mereka mengikuti ke kantornya.

“Kita minum teh di sini saja sambil menunggu kabar,” McGonagall menggerakkan tangannya dan sekejap ada sepoci teh, cangkir-cangkir, gula dan susu, juga sepiring sandwich.

Mereka makan tanpa suara.

“Harry, bagaimana Dementor tadi?” Ron bertanya basa-basi.

“Sudah diusir semua. Aku tak sempat bertarung dengan Bella, ia langsung ber-Apparate bersama suaminya begitu Dementor tinggal sedikit,” Harry menjawab tak bergairah sambil mencuili sandwichnya tak berselera.

“O, ya, Profesor McGonagall,” Hermione penuh harap, “apakah Soul Capture itu?”

McGonagall menghela napas. “Manusia itu terdiri dari pikiran, hati, dan jiwa. Pada saat Dementor berusaha mengecup, pertama yang di-Kecup adalah Pikiran. Lalu Hati. Lalu Jiwa. Pada kasus Ginny, Pikiran-nya langsung mengajak Hati dan Jiwa-nya pergi saat ada ancaman, sehingga Dementor tidak bisa mengecupnya. Ini berkaitan dengan Ginny pernah dirasuki dulu.”

“Tetapi Jiwa ini seperti orang yang tidak tahu jalan. Ia belum pernah pergi ke mana-mana. Ia masuk ke dalam lapisan Soul Strayer. Tersesat. Makanya dia harus ditarik lagi oleh orang yang bisa. Soul Capturer ini. Pertama dia akan masuk ke dalam Pikiran. Lalu masuk ke dalam Hati. Lalu masuk ke dalam Jiwa. Kalau dia sudah bertemu, Jiwa-nya akan bisa ditarik kembali ke tempatnya semula. Begitu juga dengan Hati dan Pikiran, yang otomatis akan kembali.”

Legilimency,” Harry berbisik.

“Ya, itu. Lalu ada Heart Reader. Setelah itu Soul Capturer.”

“Tetap sangat sulit untuk menjadi Soul Capturer. Bisa-bisa dia malah terseret ke alam di mana Jiwa itu berada, dan mereka berdua tidak bisa kembali,”

“Dan Profesor Snape bisa?”

“Satu-satunya yang kukenal,” McGonagall menghela napas.

Mereka hening sejenak.

“Dan jangan lupa,” McGonagall menambahkan, “ini termasuk dalam Dark Arts. Karenanya kubilang hanya Snape yang kutahu bisa. Dumbledore juga pasti tahu, tapi aku tak tahu apakah ia bisa atau pernah bisa.”

Hening lagi.

McGonagall melihat jam yang ada di atas meja. “Kalian kembali saja dulu ke Ruang Rekreasi. Nanti kalau ada perubahan, akan kukabari,”

Mereka bertiga berdiri tanpa suara. Berjalan dalam sunyi. Sesampainya di Ruang Rekreasi, yang lain memandang penuh tanya, tapi tak ada yang berani menanyakan.

Sampai malam tak ada yang masuk ke kamar. Mereka terlelap di atas lipatan tangan mereka di atas meja. Tidur mereka tak lelap. Sebentar-sebentar ada yang terbangun, melihat jam, dan mengeluh.

Jam sudah menunjukkan waktu subuh ketika McGonagall masuk Ruang Rekreasi. “Ayah dan ibumu datang, Ron.”

Ron tersentak. Ia bersama Harry dan Hermione segera berdiri dan berlari ke Hospital Wing. Mr dan Mrs Weasley duduk di luar kamar Ginny.

-o0o-

Arthur dan Molly berjalan tergesa menelusuri koridor Hogwarts. Secepatnya mereka membelok ke Hospital Wing.

Ron melihat mereka dan tersentak berdiri menyambut. “Dad, .. Mum ..” setengah menangis suaranya tertahan. Molly meraih anak laki-laki itu ke dalam pelukan.

“Bagaimana .. apa dia ..” Arthur bertanya tergesa.
 
“Snape mengurusnya. Kami tidak boleh masuk,” Harry menjawabkan Ron, yang tidak bisa berkata-kata lagi.

McGonagall muncul, “Mr Weasley, Mrs Weasley, kita sebaiknya ke kantorku. Kalian bertiga juga ikut,” katanya tegas.

Tanpa suara mereka bergegas ke kantor McGonagall. McGonagall menyihir tiga kursi tambahan dari dua kursi di depan mejanya, dan mempersilakan mereka duduk. Dia juga menyihir sebaki poci teh dan cangkir-cangkirnya.

“Mungkin sebaiknya Harry yang bercerita,” usul McGonagall. Harry menurut, dan bercerita sampai bagian yang ia tahu.

McGonagall menyambung, “Severus ada di sana, sehingga Ginny bisa ditolong secepatnya. Menurutnya, Ginny sudah .. kehilangan Jiwa-nya.”

Arthur memandang istrinya, lalu berusaha bersuara, “Apakah dia .. masih bisa diselamatkan?”

McGonagall mengangguk, “Mudah-mudahan. Ginny belum sempat di-Kecup oleh Dementor. Tetapi Jiwa-nya bersembunyi saat itu. Sudah nyaris.”

“Lalu, apa yang akan dilakukan?” suara Molly menuntut penjelasan.

“Menurut Severus, seseorang terdiri dari Pikiran, Hati, dan Jiwa. Biasanya seseorang kehilangan Pikiran dulu, lalu Hati, lalu Jiwa. Orang itu bisa disadarkan jika Pikiran, Hati, dan Jiwa-nya dikembalikan ke tubuhnya. Karena itulah, Severus sedang berusaha mengembalikan ketiganya pada Ginny,”


“Apakah .. apakah berbahaya?” suara Molly nyaris tak terdengar.

“Karena itulah, kita tidak boleh masuk ke dalam ruangannya. Bisa-bisa konsentrasi Severus terganggu, dan Severus justru yang masuk ke dalam Soul Strayer. Kalau sudah begitu, entah siapa lagi yang bisa menolong,” suara McGonagall juga rendah.

“Memang … hanya Severus yang bisa?” Arthur bertanya. Dia nampak sudah tahu jawabannya.

“Dumbledore tahu tekniknya. Tapi aku tak tahu apakah dia bisa melakukannya,” McGonagall terdiam, lalu melanjutkan, “Ini adalah … bagian dari Dark Arts, Arthur, Molly. Karena itu Severus mengajukan diri untuk melakukannya,”

Hanya terdengar hembusan napas, dan sesaat tak terdengar apa-apa. Sesaat lagi. Sesaat lagi. Semuanya terdiam.

Beberapa saat kemudian terdengar ketukan di pintu. Hampir semuanya tersentak. Profesor McGonagall membukakan pintu. Madam Pomfrey. Kelihatannya membawa kabar gembira.

“Dia sudah sadar,” katanya.

Arthur, Molly, dan Ron bersicepat berdiri dan berlari ke Hospital Wing. Yang lainnya pun tidak ketinggalan.

Di sana sudah ada Dumbledore. Dan Snape, baru saja keluar dari bilik Ginny. Wajahnya lebih pucat dari biasanya. Keringat mengucur di pelipisnya. Bajunya basah.

“Miss Weasley sudah sadar. Hanya dia belum bangun. Mungkin satu atau dua jam lagi,” katanya sambil menarik jubahnya agar menutup seluruh permukaan tubuhnya.

Arthur tak bisa berkata-kata lebih jauh. “Severus .. terimakasih..”

Snape mengangguk, lalu berbalik menuju pintu. Keluar.

Ron mengejarnya, “Sir!” ia berlari terengah-engah, “Profesor, .. saya ingin .. berterimakasih atas semuanya.. Kalau ada yang bisa saya bantu …”

Snape menggeleng, dan kembali berjalan ke ruang bawah tanahnya.

Ron kembali ke bilik Ginny. Mrs Weasley sedang memeluk Dumbledore sambil terisak-isak berterimakasih. Ginny kelihatan lebih baik sekarang. Dadanya turun naik menandakan ada napas di sana.

“Ia sudah baik sekarang, Molly,” Dumbledore menepuk-nepuk bahu Molly menenangkan.

“Albus,” Arthur mencoba menenangkan dirinya, “kenapa hal seperti ini bisa terjadi?”

Dumbledore menyihir kursi-kursi di sekeliling ranjang Ginny. Mereka semua duduk sambil menahan rasa ingin tahu.

“Ginny sudah pernah .. dirasuki oleh Voldemort,” Dumbledore menerangkan, “Karena itulah jiwanya bersiap-siaga. Begitu ada tanda-tanda ada keadaan yang mungkin seperti kejadian dulu, maka Jiwa-nya bersembunyi.”

“Dan hanya Profesor Snape yang tahu cara mengeluarkan kembali Jiwa-nya?” Ron ingin ketegasan.

Dumbledore mengangguk. Mengulangi kembali penjelasan McGonagall tadi, ia menegaskan bahwa ini adalah Dark Arts. Snape mengambil resiko dengan taruhan nyawanya untuk masuk ke alam jiwa, mencari jiwa Ginny.

Molly menunduk. Arthur terdiam.

“Kita berhutang budi pada Severus,” akhirnya Molly memecah kesunyian, pelan.

Arthur mengangguk. Ron juga, akhirnya.

Sedikit gerakan Ginny membuat semua waspada.

“Ginny?”

Ginny membuka matanya.

“Mum? Dad? Ron?”

Ginny berusaha duduk, walau ia segera dihujani pelukan dan air mata oleh Molly. “Mum—sudahlah, aku tidak apa-apa—“

Segera saja ruangan menjadi penuh oleh pengunjung, dan ramai karena semua ingin bercerita atau menuntut Ginny bercerita.

-o0o-

dilanjut di bawah Tongue
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #11 on: January 15, 2010, 10:54:31 PM »

Malam sudah terlewati paling tidak setengahnya. Hospital Wing sepi. Ginny sudah terlelap, atau nampaknya lelap. Bahkan yang menungguinya—kakaknya, Ron—juga ikut terlelap dalam posisi terduduk.

Sesosok hitam berkelebat, tanpa suara masuk ke ruangan itu. Menatap Ginny lama. Mendekatinya. Sedikit ragu, ia mengulurkan tangannya, memegang pergelangan tangan Ginny. Memeriksa denyut nadinya. Melakukan serangkaian pemeriksaan lain.

Ginny bergerak sedikit.

Sosok itu waspada.

Tapi Ginny sudah keburu bangun.

“Profesor?”

Sosok itu merapatkan jubahnya. Mengangguk pelan.

“Apa yang kau rasakan, Miss Weasley?”

Ginny menggeleng. “Aku merasa sehat, Profesor—“

Snape mengangguk, dan tak mengucapkan apa-apa lagi. Sudah akan berbalik dan pergi, ketika Ginny memanggil.

“Profesor—“

Snape berhenti. Berbalik ke tempatnya semula. Alisnya terangkat, bersiap mendengar kata-kata Ginny.

“—mereka bilang, kau satu-satunya yang bisa mengembalikan Jiwa—“

Snape menghela napas. “—mungkin mereka melebih-lebihkan. Tetapi—sejauh ini, ya.”

Ginny menunduk. Dengan suara pelan ia melanjutkan, “—terima kasih, telah menolong saya, Profesor—“

“Tidak usah dipikirkan—“

Ginny menelan ludah. “Profesor—“

Kembali kedua alis Snape bertaut, menunggu pertanyaan.

“Kalau—kalau memang hanya Anda yang bisa mengembalikan Jiwa yang telah pergi—“

“Kalau korban Dementor yang sebenarnya, aku tidak bisa menolong—“

“—kalau hanya Anda yang bisa memanggil Jiwa yang tersesat, bagaimana kalau—kalau—“ Ginny berhenti. Menunduk. Seperti ada yang mengganjal, seperti kagok.

“Ya?”

“Bagaimana—“ bisiknya nyaris tak terdengar, “—kalau Jiwa Anda yang—yang tersesat? Siapa—siapa yang akan memanggilnya?” Ginny menengadah. Diberanikan menatap mata Profesornya ini.

Perubahan airmukanya memang hanya sekilas, tapi Ginny bisa menangkapnya. Profesor Snape kaget. Kaget, mengapa ada yang menanyakan hal yang seperti itu.

“Dan mengapa kau sampai bisa berpikiran seperti itu?”

Ginny menelan ludah lagi. “Dengan pekerjaan seperti Anda—menjadi mata-mata—resiko Anda menjadi sangat besar—“

Wajahnya kembali dingin tak terbaca. “Aku mengucapkan terima kasih atas perhatianmu, Miss Weasley, tetapi tak ada yang lain yang bisa.”

“Jadi, jika Anda—“

“Jika aku yang mengalami, tak akan ada  yang bisa menolong.”

Tentu jelas perubahan wajah Ginny. Karena mata Snape seperti berkata, ‘tidak perlu mengasihani aku seperti itu’.

Tapi ia tergesa menutupinya. “Tak perlu khawatir, Miss Weasley. Aku bisa menjaga diri. Lagipula, untuk sementara ini Pangeran Kegelapan sudah mati. Dumbledore sudah menjamin itu. Akan ada waktu yang lama sebelum aku harus mengalami resiko itu lagi—“

Snape merapatkan jubahnya, dan bergerak untuk pergi. “Miss Weasley, tidurlah kembali.”

Itu perintah. Tetapi rasanya ada perhatian di dalamnya. Hal yang aneh jika dilakukan oleh seorang Snape.

Sehingga Ginny perlu beberapa menit untuk berbaring kembali, menarik selimutnya lagi, dan mengucapkan, “Selamat malam, Profesor.”

“Selamat malam, Miss Weasley.”

Dan kali ini Snape menunggu sampai beberapa saat setelah Ginny memejamkan mata, sebelum berbalik dan pergi.

FIN


Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #12 on: January 15, 2010, 10:58:03 PM »

SEDERHANA

Harry Potter kepunyaan JK Rowling

Setting The Serial didasarkan pada Pulang, isinya keseharian, minor konflik, oneshots


-o0o-

“Grandpa!” anak laki-laki—ABG sih—sekitar limabelas tahunan itu mendadak melempar gunting tanamannya ke tanah dan berlari ke sosok berjubah hitam yang baru saja mewujud—Apparate. Kakak laki-lakinya yang sedang menggali-gali, juga melepas sekopnya, dan turut menyambut.

“Grandpa! Dad tidak bilang kalau Grandpa mau datang sekarang—“

“Aku sudah menyelesaikan semua tugas yang Grandpa beri—“

Kedua anak itu bersicepat mendekati sosok berjubah hitam, berambut hitam lurus membingkai, sedikit warna abu-abu menghiasi itu; berebut duluan memeluk sambil ribut melaporkan apa saja yang sudah mereka lakukan.

Sang Grandpa balas memeluk dengan canggung, lalu melepasnya, “OK, OK, sekarang kemana ayah kalian?”

“Dad belum pulang,” lapor anak yang lebih muda, “Mum sedang di dapur, sedang Lil sedang ngambek di kamar—“

Tersenyum kecil mendengar laporan lengkap cucunya, ia berjalan bersama kedua cucunya masuk ke rumah. “Al, siapkan ini,” ia menyorongkan segulungan perkamen, “—nanti setelah makan malam, kita merebusnya—“

“Aku bagaimana?” James memprotes.

“Kau bantu-bantu saja,” sahutnya pendek, tapi langsung dipatuhi oleh keduanya, berlari ke ruang bawah tanah.

Seorang wanita berambut merah dengan celemek muncul dari dapur, “Dad! Kau datang tepat pada waktunya, sebentar lagi kita makan—“

Severus mengangguk. “Mana Lily? Biasanya ia sedang membantumu—“

Ginny menunjuk ke arah kamar anak perempuannya dengan dagu, “—sedang ngambek. Uring-uringan. Kalau menurutku sih, PMS,” ia tersenyum, “—makanya kubiarkan saja dulu.”

Seperti sudah terbiasa, Severus berjalan ke arah kamar Lily dan mengetuknya. “Lily—“

Tak ada jawaban.

“Lily, kau tak mau keluar dan menyapa kakekmu ini?”

Masih tak ada jawaban, tapi terdengar bunyi kunci diputar. Walau demikian, Lily tak juga keluar.

Mengerti akan maksud cucunya, Severus membuka pintu. Terbuka.

Ia masuk dan menutup pintu rapat-rapat dari dalam.

Gadis kecilnya—tidak, ia tidak begitu kecil lagi kini—sedang duduk memeluk lutut di atas kasur.

“Jadi, ada apa?” tanya Severus, langsung pada pokok permasalahan.

Lily tak langsung menjawab. Ujung jarinya memainkan sepotong benang yang mencuat dari jahitan celana panjangnya

Severus menunggu dengan sabar.

“Grandpa,” Lily akhirnya memecah keheningan, “Grandpa dulu pertama kali bertemu dengan Grandma—umur berapa?”

Sebenarnya Severus terkejut dengan pertanyaan ini, tapi disembunyikannya dengan rapi. Dan berusaha menjawab dengan tenang.

“Pertama kali bertemu? Sekitar—sembilan tahun. Kenapa?”

Lily terdiam lagi sejenak. Severus duduk di kasur, tepat di sebelahnya.

“Grandpa—langsung jatuh hati padanya?”

Severus masih menampakkan airmuka tak terbaca, dingin, seperti di kelas saja.

“Ya dan tidak.”

“Grandpaaa~”

Bibir Severus membentuk senyum tipis samar, nyaris tak terlihat. “Bisa dibilang, pada saat itu aku tidak punya sahabat lain. Tidak ada perbandingan dengan wanita lain. Er, jangan dibandingkan dengan Petunia, tentu saja—“

Lily tersenyum.

“Jadi bisa saja kalau dibilang aku jatuh hati padanya saat itu juga. Apalagi ia ternyata baik sekali padaku—“

Lily terdiam.

“Memangnya, apa sebenarnya persoalanmu?”

Lily menghela napas. “Ada anak—Ravenclaw—“

“Dan ia mencuri hatimu—“

“Grandpa~”

Severus tersenyum lagi, kali ini terlihat jelas.

“Ia—kelas tujuh.”

Severus melipat tangannya, sikap serius. Sikap mendengarkan.

“Ia baik sekali pada semua orang. Ia membantuku mencari jepit yang hilang ke kolong meja, padahal ia harus cepat-cepat masuk kelasnya. Ia selalu mau mendengarkan keluhanku—“

“Lalu di mana persoalannya?”

“Masalahnya—“ Lily menghela napas lagi, “—ia berbuat baik seperti itu pada semua orang—“

Kali ini Severus yang menghela napas. Tersenyum. “Jadi, kau yang jatuh cinta padanya, sedang ia belum tentu?”

Lily manyun. “Bukan ‘belum tentu’ lagi, Grandpa.”

Severus menunggu.

“Ia—ia sepertinya sedang mendekati seorang anak kelas enam. Ravenclaw juga—“

“Jadi?”

Lily bertambah manyun. “Jelas aku kalah dong. Ia sama-sama anak Ravenclaw, ia sudah kelas enam, lagipula aku harus akui kalau ia manis, pintar, baik hati juga—“

Sebelah tangan Severus membelai-belai rambut merah gadis kecil itu. “Mungkin ... si Ravenclaw itu bukan untukmu. Lagipula kau kan baru kelas tiga?”

“Tapi kau kan baru berumur sembilan tahun waktu bertemu Grandma—“

Severus berhenti membelai-belai, dan ganti memeluk Lily dengan sebelah tangan. “Itu—harus dilihat lebih jauh lagi, Lil. Grandpa dulu tidak punya teman. Hanya Grandma yang baik pada Grandpa. Berbeda dengan dirimu, kau punya teman banyak. Di sekolah. Di rumah. Anak-anak dari teman Dad. Belum lagi anak-anak Weasley. Kau punya banyak perbandingan, kau punya banyak pilihan.”

Nadanya datar saja, airmukanya datar juga, walau sorot matanya menyiratkan banyak kegalauan masa lalu. Sesal yang tak berkesudahan.

Lily menyandarkan kepala di bahu kakeknya. “Kapan Grandpa menyatakan pada Grandma?”

Severus terdiam sejenak. Perlahan ia menggeleng.

Lily tak yakin akan apa yang dilakukan kakeknya karena posisinya, sehingga berbalik. Matanya menatap tajam kakeknya. Severus menggeleng kembali, masih saja perlahan. Matanya berusaha menghindari tatapan gadis kecilnya.

“Grandpa ... tidak bilang?”

Severus mengangguk sekali, menguatkan kata-kata cucunya.

“Grandpa sama sekali tidak pernah bilang apa-apa?”

Mereka terdiam.

“Lalu ...” Lily menuntut.

Severus menghela napas panjang. “Ceritanya akan panjang sekali, Lily. Dan mungkin akan ada banyak bagian di mana kau tidak akan mengerti,  jadi ... mungkin bukan saatnya kuceritakan padamu—“

Lama Lily memandang kakeknya, kemudian ia mengangguk. “Asal Grandpa janji, suatu saat akan cerita—“

Severus mengangguk. “Kalau bukan aku, Dad-mu juga tahu, ia akan menceritakan padamu kalau tiba saatnya.”

Lily memeluk kakeknya erat-erat, “Kisah Grandpa sepertinya rumit dan berbelit-belit—“

Hanya tersenyum tipis, Severus melepas cucunya dan berdiri. “Sekarang bantu Mum menyediakan makan malam—“

“OK!”

Mereka mendekati pintu, Severus membukakan, dan dari arah seberang, Harry berdiri dengan tangan dalam posisi siap mengetuk.

“Oh! Baru saja aku akan mengetuk pintu—“

Lily tak berbicara lagi, tapi ia segera berlari ke arah dapur dan membantu ibunya.

Mata Harry mengikuti anaknya sampai hilang di dapur, tetapi kemudian berbalik pada ayahnya, mata yang menuntut penjelasan.

“Kenapa Dad tidak bilang saja kalau Dad berbahagia dengan Mum, tapi hanya sebentar? Jadi Lily tidak akan bertanya-tanya?”

Severus menggeleng, wajahnya mengeras, “Aku tak mau menutup kenyataan, Son. Biarkan mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Walaupun, tentunya, nanti kalau usia mereka sudah cukup untuk menerimanya—“

Dengan cepat Severus berbalik , kali ini matanya yang menuntut penjelasan, “Kau menguping ya?”

Harry menyeringai, “Hanya sedikit—“

Dengan gemas Severus mengacak rambut Harry yang sudah teramat acak itu. Harry terkekeh. Tapi kemudian langsung terdiam.

“Dad—“

“Ya?”

“—tapi Dad jangan marah?”

“Kau seperti anak kecil saja, ada apa?”

Harry menghela napas panjang. “Kalau kupikir, sepertinya Mum—tidak mencintaimu—“

Severus tidak menjawab. Ia menunggu saja Harry meneruskan kata-katanya.

“—setelah peristiwa ‘kata itu’, ia seperti berbalik, ia seperti membencimu, ia seperti tak pernah mengenalmu, dan bahkan ia seperti lengket dengan Da—dengan James—yang tadinya seperti sangat dibencinya—“

Severus masih tidak menjawab. Ia menutup pintu kamar Lily dan berjalan pelan ke arah ruang makan, diikuti Harry yang penasaran.

“—tapi kau masih saja mencintai Mum? Kau tak membencinya?”

Harry tak jelas, apakah melontarkan pertanyaan atau pernyataan.

Severus berhenti. Menghela napas. Pelan menjawab, “—citra Lily yang masih ada padaku, hanyalah citranya sampai kelas lima.” Melipat lengannya, menerawang jauh, “—dengan demikian, aku selalu mencintainya, apapun yang terjadi.”

Menghela napas lagi, “Dengan demikian, kau tahu, aku selalu menyesali apa yang terjadi—“

“—Dad,” Harry turut bersuara pelan.

Tapi Severus menggeleng. “Sudahlah. Biarkan apa yang terjadi, ceritakan nanti pada anak-anak apa adanya—“

Harry mendeham, “Kau tahu, Dad?”

Severus menoleh.

“Kau tahu apa yang harus kuceritakan pada anak-anak?”

Kedua alis Severus bertaut.

“Bahwa kisah cintamu itu sederhana.”

Severus tak mengerti. “Dengan apa yang sudah kulakukan—“

“Kisahmu sederhana,” Harry memotong. “Tidak rumit. Tidak berbelit-belit. Kau hanya mencintai Mum, titik. Apapun yang terjadi, kau hanya mencintai Mum. Itu saja.”

Dari ruang makan terdengar Ginny memanggil mereka untuk makan malam.

Keduanya bergerak, berjalan mendekati ruang makan, tetapi Severus masih menggumam.

“Sederhana?”

Harry mengangguk. Mengulang. “Kisahmu sederhana.”

Sederhana.

FIN



Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #13 on: January 16, 2010, 12:59:28 AM »

Pandanglah Dari Sudut yang Berbeda

Disclaimer: Harry Potter © JK Rowling
Naruto © Masashi Kishimoto

A/N:
Timeline-nya saat Hogwarts di tahun keempat Harry (Harry 14 tahun—tapi Harry nya nggak ada dalam cerita), dan saat Sakura dan Ino juga berusia 14 tahun, nggak peduli kalau tahunnya nggak matching Tongue Dengan demikian, Severus 35 tahun, dan Shizune 29 tahun

Dikisahkan, Voldemort memang sedang berkuasa, bukan baru kembali di akhir tahun keempat Harry, dengan demikian Severus memang sedang menjadi agen ganda

‘Darah Naga’ kebanyakan diambil dari Wikipedia dan majalah Bobo Cheesy

-o0o-


Ketukan pelan disusul dengan suara pintu terbuka. Tanpa menunggu jawaban. Sudah biasa.

Sosok tinggi berjubah hitam berambut hitam itu masuk. Raut wajah yang dingin dan keras.

“Kepala Sekolah,” sapanya kaku.

Yang disapa sedang asyik menekuni selembar kertas, surat rupanya. ”Ah, Severus,” sahutnya ramah, ”duduklah.”

Pria itu duduk. Wajahnya tetap sama seperti semula.

Kepala Sekolah berambut dan berjanggut keperakan itu membetulkan kacamata bulan  separuhnya. ”Aku baru saja menerima surat ini,” ia melambaikan kertas tadi. Nampaknya asing, bertuliskan huruf yang asing, dan di-cap dengan lambang yang asing juga. “Dari sahabat lamaku. Sekarang sudah menjadi Godaime Hokage, Kage kelima dari desa ninja tersembunyi Konoha. Tsunade-chan dulu aku memanggilnya, meski mungkin sekarang harus Tsunade-sama,” ia berhenti sejenak.

Lawan bicaranya tak bersuara, tak juga memperlihatkan bahwa ia bereaksi pada apa yang sedang dibicarakan.

“Ia seorang … medic-nin. Healer, kalau kita di sini. Ia ingin murid-muridnya belajar di sini.”

”Tapi ... tahun pelajaran sudah mulai, Albus. Mana mungkin ...” pria itu bereaksi.

Albus Dumbledore mengangkat tangannya, mengisyaratkan bahwa ia masih mau meneruskan. ”Tidak menjadi murid Hogwarts secara keseluruhan, Severus. Mereka hanya akan berada di sini selama beberapa minggu. Tsunade-sama menginginkan agar mereka bisa mempelajari Darah Naga.”

Wajah orang yang lebih muda itu bertanya-tanya, sehingga Dumbledore meneruskan, “Memang ahli Darah Naga di sini ya, aku. Tapi ...kau tahu aku saat ini sibuk sekali. Persiapan Triwizard benar-benar menyita waktuku. Ya, aku tahu, kau juga sibuk. Tapi mungkin ... bisa kau sisihkan sedikit waktumu.”

Perlu waktu beberapa saat hingga Severus mengangguk pelan.

-o0o-

Ketukan di pintu itu tidak terlalu keras, tapi Tsunade langsung menjawab, ”Masuk!”

Dua orang gadis, satu dengan rambut pink, satu lagi rambut pirang, masuk dan menutup pintu.

”Hokage-sama, ada apakah?” si rambut pink bertanya langsung.

Tsunade tak langsung menjawab, menoleh terlebih dahulu pada Shizune yang masih membereskan dokumen-dokumen. Shizune mengerti, meletakkan dokumen-dokumen itu, dan berdiri serius.

”Sakura, Ino,” Tsunade memandang kedua gadis dihadapannya, ”—kalian adalah medic-nin terbaik yang kami punya saat ini—” Ia menoleh pada Shizune, ”—dan kukira kini waktunya untuk belajar dari luar lingkungan Konoha.”

”Maksud Hokage-sama?” Ino masih belum mengerti.

”Kalian mau belajar—ke Inggris?”

”I-Inggris?” Sakura terbata, ”—jauh sekali. Dan bahasanya—”

”Bahasanya mudah. Aku akan membekali dengan alat penerjemah yang sudah dikirim oleh Danburudoa-sama—”

”Dan—siapakah dia?”

”Arubasu Danburudoa-sama1). Dia adalah Kepala Sekolah Hogwarts, sekolah yang akan kalian tuju. Aku sudah mengenalnya sejak aku masih kecil sekali—”

”Apakah itu sekolah medic?”

Tsunade menggeleng. ”Itu sekolah sihir.”

Sakura dan Ino melongo, ”Se-sekolah sihir? Ke-kenapa—”

”Karena kalian akan belajar tentang Darah Naga, dan Kepala Sekolahnya kebetulan adalah penemu 12 kegunaan Darah Naga. Arubasu Danburudoa-sama adalah penyihir ternama, terbaik di Inggris—“

Shizune mengangguk. “Hokage-sama sudah mengirim surat padanya, dan ia menerima dengan senang hati. Kita akan belajar di sekolahnya selama kira-kira sebulan. Terutama mempelajari Darah Naga, tetapi kita juga akan mempelajari hal-hal lain, cara-cara penyembuhan, dan sebagainya. Tentu saja mereka juga akan belajar dari kita, mengendalikan chakra untuk kesehatan, dan lain-lain—“

Tsunade mengangguk. “Anggap saja ini misi. Besok kalian berangkat—“

“Apakah—apakah kita akan naik kapal terbang?”

Tsunade menggeleng. “Kalian akan pergi dengan menggunakan pōto kii. Atau idō kii, terserah kalian akan mengucapkannya apa,” Tsunade melambai-lambaikan sebuah sikat sepatu.  “Benda ini akan aktif nanti malam jam dua waktu Jepang—atau jam lima sore waktu Inggris, jadi setengah dua nanti kuharap kalian sudah ada di sini, untuk pertanyaan-pertanyaan terakhir, dan bersiap-siap pergi. Kalian mengerti?”

Ha-i, Hokage-sama.”

-o0o-

Lingkungan di sekitarnya gelap karena kabut, tapi bisa terlihat juga sekilas, sesosok tubuh berkelebat. Dalam hitungan beberapa detik, juga ada sekelebat sosok lain. Nampaknya keduanya memang berjanji untuk bertemu di sini, di sebuah rumah bobrok entah punya siapa entah di mana.

Keduanya saling memandang, kemudian yang satu—yang berambut perak berkacamata—merasa diri lebih muda, menyapa lebih dahulu.

Seburusu Suneipu Kyōju,” sahutnya sambil sedikit membungkukkan badan.

Lawannya turut membungkuk walau sedikit kikuk, “Mr Yakushi Kabuto, tidak usah memanggilku dengan Profesor begitu. Cukup dengan Snape—“

“Suneipu-senpai,” potong Kabuto, “—cukup memanggilku Kabuto.” Ia mengeluarkan sebuah tabung kaca bertutup, berisi cairan bening. “Sesuai dengan perjanjian kita—“

Severus menerima tabung kaca itu, menelitinya dengan seksama. Lalu mengeluarkan tabung kaca sejenis dari balik jubahnya, dan memberikannya pada Kabuto.

Kabuto juga menelitinya sejenak. Lalu ia mengeluarkan tabung yang sama, tetapi kosong. Dipindahkannya sedikit cairan dari tabung tadi. Lalu disembunyikan ke dalam lipatan bajunya.

Severus mengamatinya. Menyeringai. “Tindakan jaga-jaga, eh?”

Kabuto tersenyum tipis. “Kukira senpai juga akan berbuat serupa. Bukankah kita tidak seratus persen mengabdi pada tuan kita?” Ia terkekeh pelan, “Aku tidak seratus persen mengabdi pada Orochimaru-sama. Ia sebenarnya lemah, dan bergantung pada sistem yang kutemukan, untuk membuatnya tetap hidup. Sedang kau, bukankah kau punya dua Tuan, Vorudemōto dan—“

Severus mengedikkan bahunya. “Jangan sebut namanya—“

Gomen. Yami no teiō saja—“

“Begitu lebih baik. Mengapa kau tidak meninggalkannya kalau begitu?”

“Orochimaru-sama? Ia punya sesuatu yang tidak aku punya, dan aku menunggu hingga saatnya tiba—“ ia mengecilkan suaranya, dan akibatnya terdengar mengerikan, “—aku akan bisa menggabungkan dirinya dengan diriku—“

Severus menghela napas. “Terserah kau lah. Jika ada penemuan lain lagi—“

“—kita sudah tahu harus bertemu di mana. Baiklah. Domo arigato gozaimasu!” Kabuto membungkukkan badannya.

Severus turut membungkukkan badannya sedikit dengan canggung.

-o0o-

“Severus, inilah mereka,” Albus memperkenalkan tiga gadis bermata sipit—dibandingkan dengan mata gadis-gadis Hogwarts. Mungkin punya kesamaan dengan Miss Cho Chang, toh Cina dan Jepang itu berdekatan—

“Miss Shizune,” Albus mengangguk pada gadis yang nampaknya paling tua dari mereka bertiga, “—adalah penanggung jawab mereka. Sedangkan yang akan belajar adalah Miss Sakura Haruno, dan Miss Ino Yamanaka—“

Gadis-gadis itu membungkuk.

Severus dan kedua siswanya juga terpaksa membungkuk.

“Miss Shizune, ini adalah Guru Ramuan kita, Profesor Severus Snape, dan kedua siswanya yang akan ikut dalam proyek Darah Naga ini, Miss Hermione Granger, dan Mr Neville Longbottom—“

Seburusu Suneipu Kyōju, dozoo yoroshiku—“

Sudah dua kali Severus mendengar namanya dilafalkan dengan aneh. “Miss Shizune, please, kita sesama guru—“

Shizune tersenyum. “Suneipu-senpai?”

Terpaksa Severus menyetujui.

Kali ini Sakura dan Ino, bersamaan menoleh pada Hermione dan Neville, “Hāmaionii Gurenjā-san, Nebiru Rongubotomu-kun, dozoo yoroshiku—“

‘OK, cukup sekian saja perkenalannya,’ pikir Severus, lama kelamaan menjadi jengah. Untung saja Albus kemudian mengingatkan pada ketiga gadis itu untuk menggunakan peranti penerjemahan, sehingga pembicaraan mereka menjadi normal, senormal yang mereka harapkan.

“Jadi, bagaimana rencanamu, Severus?” Albus ingin tahu.

“Hari ini, Anda bertiga mungkin beristirahat dulu, beradaptasi dulu, esok pagi kita akan ber-Apparate ke pulau Socotra—“

“Tempat asli Darah Naga, kupikir rencana yang bagus. Lalu?”

“Setelah mengenal habitat, mungkin kami akan menggunakan Rumah Kaca—dengan seijin Profesor Sprout—untuk mengenali lebih dekat Darah Naga yang mana yang biasa dipakai oleh Muggle, dan yang mana yang biasa dipakai oleh—penyihir. Dan ninja,” sambungnya cepat-cepat.

Albus mengangguk. “Mungkin Miss Granger bisa menunjukkan tempat mereka tidur?”

Hermione mengangguk. “Silakan—“ katanya dan mereka berempat berjalan bersama menuju Asrama Gryffindor.

Hanya sebentar, menaruh barang-barang, melihat tempat tidur mereka—kamar anak perempuan kelas empat yang diberi mantra sehingga cukup untuk berdelapan, dari semula lima orang—lalu mereka keluar lagi ke Aula Besar untuk makan malam. Shizune kemudian dipanggil McGonagall untuk ikut duduk di depan, sedang Sakura dan Ino duduk bersama-sama Hermione.

Aula Besar tentu saja ribut dengan masuknya gadis-gadis itu. Mereka tidak mengenakan seragam Hogwarts, wajah mereka asing, apalagi warna rambut Sakura yang mencolok—beberapa mengira Sakura adalah seorang Metamorphagus.

Hermione menerangkan pada kedua gadis itu bahwa sekolah itu punya empat asrama, bahwa mereka masuk di bawah asrama Gryffindor, menyebutkan satu-persatu nama profesor yang duduk di meja depan, dan seterusnya.

Dumbledore dalam pengumuman singkatnya memperkenalkan ketiganya, dan apa tujuan mereka. Malam ini, makanan mereka diwarnai dengan tempura dan sukiyaki Tongue

-o0o-

Esoknya mereka sudah bersiap. Neville nampak agak gelisah, mungkin karena dia satu-satunya murid laki-laki.

Severus datang bersama dengan Shizune. Rupanya mereka baru dari kantor Dumbledore. Kemungkinan ada briefing singkat dulu.

Berenam mereka mengelilingi sebuah tong sampah kusam. Severus mengeluarkan jamnya dari saku jubah, dan menghitung mundur, “—tiga, dua, satu—“

Berputar makin lama makin cepat dan mereka menghilang.

Dan muncul di Socotra. Sebuah pulau di perairan Yaman. Tempat di mana sepertiga jenis tumbuhannya tak terdapat di manapun di seluruh dunia. Termasuk Darah Naga.

Karena pengajarnya berkualitas, dan karena muridnya juga berkualitas, maka waktu bisa dimanfaatkan dengan efektif. Dalam waktu singkat, mereka sudah menyelesaikan pelajaran tentang habitatnya, sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Waktu istirahat, mereka membuka bekal dan makan sambil bercakap-cakap. Severus pergi entah ke mana, tidak ikut makan dengan mereka.

“Kenapa Suneipu Kyōju tidak ikut makan dengan kita?” Ino heran, melihat Severus menghilang, sambil menyuap.

Neville mengangkat bahu. “Tak tahu. Ia memang begitu. Misterius.”

Sakura mengikuti arah pandang Ino dengan seksama. “Memang ada apa dengan dia?”

“Konon,” Hermione menengahi dengan bijak, “konon dia itu mata-mata. Tapi kita tak tahu kebenarannya. Apakah dia mata-mata Dumbledore pada—pada—Vol—Voldemort, atau sebaliknya. Banyak yang benci dia, dan mengira dia memata-matai tingkah laku Harry Potter untuk dilaporkan pada Vol-Voldemort—“

“Hermione! Maukah kau tak menyebut namanya?”

“Nama siapa?” Sakura penasaran.

“Dia-Yang-Tak-Boleh-Disebut-Namanya, bos-nya Profesor Snape—“ Neville agak tak gugup lagi kalau tak harus menyebut atau mendengar namanya.

“Memang ada apa dengan namanya?” Shizune penasaran.

“Orang sangat takut padanya, sehingga bahkan namanya juga tak berani disebut,” sahut Hermione. “Tapi Dumbledore itu adalah orang yang paling ditakutinya, jadi sebenarnya kita aman selama dalam lindungannya.”

Gadis-gadis Konoha itu mengangguk-angguk maklum. Sambil menghabiskan bekal, mereka mengobrolkan situasi sekarang, peristiwa yang sedang hangat, baik di Hogwarts maupun di Konoha.

Tepat saat mereka sedang membereskan bekal, Severus kembali. Airmukanya tetap dingin, tetapi Shizune yang sudah lebih berpengalaman dari para murid ini, melihat sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang dikhawatirkan.

“Ada apa, Suneipu-senpai?

Awalnya ia tak mau mengatakan, tapi dengan berat hati dikemukakan juga, “Tujuan akhir portkey kita adalah kebun Darah Naga di Inggris, Darah Naga Sihir, bukan seperti yang di pulau Socotra ini. Tujuannya agar kita  bisa melihat perbedaan Darah Naga Muggle dengan yang khusus untuk keperluan sihir.” Severus menghela napas, “—tetapi ada seseorang yang mengubah tujuan portkey kita—“

“Kenapa?

“Siapa?”

“Pasti dia Pelahap Maut—“

“Siapa itu Pelahap Maut?”

Shizune terdiam di tengah ributnya murid-muridnya. Dengan pelan ia bertanya, “—ke mana tujuan kita diubahnya?”

Severus menghela napas. Berbeda dengan murid-muridnya, Shizune ini memiliki ketenangan, mungkin karena dia sedikit lebih dewasa dari mereka? Entahlah. Severus hati-hati menjawab, “Dart Moor.”

Hermione memekik.

“A-ada apa?” Ino penasaran.

“Rumor menyebutkan bahwa Dart Moor, Hutan Kegelapan, adalah markas besar Pelahap Maut, yang berarti kediaman Pangeran Kegelapan,” sahut Severus tenang. Matanya beralih pada Shizune, “Aku percaya akan ketrampilan murid-muridmu. Dan, yah, walaupun aku bisa disebut menganggap rendah kemampuan murid-muridku, tapi paling tidak mereka sudah hampir melewati setengah masa bersekolah mereka, jadi kuanggap sudah cukup berkualitas—“

Neville yang sedari tadi diam gemetar, menjadi agak tenang. Mulai berpikir teratur. Mulai menyusun rencana.

“Aku berharap kalian semua bersiap. Tongkat kalian siapkan,” Severus menatap kedua murid penyihirnya, “dan kuharap Shintenshin no Jutsu-mu akan berguna dalam mengawasi gerak para Pelahap Maut,” ia memandang Ino, yang agak kaget ilmu andalannya diketahui.

“Ada berapa Pelahap Maut di sana?” tanya Shizune.

“Kalau aku tidak salah memperkirakan, karena hari masih siang, biasanya hanya ada beberapa, paling banyak lima orang. Kalau malam hari, barulah akan ada banyak. Tetapi, dengan pemindahan tujuan portkey kita ke sana, aku asumsikan akan ada yang menunggu kita—“

Shizune mengangguk. “Bersiap-siaplah!”

Keempat murid itu mempersiapkan diri, yang dua dengan tongkatnya, yang dua lagi mempersiapkan kunai dan shuriken. Mereka berenam menyentuh tong sampah itu dan berputar lagi—

-o0o-

Hari belum lagi gelap, tapi mereka mendarat di tempat yang sangat gelap gulita. Severus sudah memperingatkan, tidak ada Lumos di sini, karena ada kemungkinan diketahui. Jadi mereka bergerak lebih banyak dengan naluri mereka.

“Kurasa di sini ada semacam kucing hutan—“ Ino berbisik bertanya.

“Lynx, memang ada, menga—“ belum lagi Hermione selesai menjawab, Ino sudah menyusun segel, berkonsentrasi. Masuk ke dalam tubuh kucing hutan itu, ia bisa melihat hutan dengan leluasa.

Dengan mengandalkan penglihatan kucing hutan itu, mereka bisa berjalan menyusuri arah yang ditunjuk Severus. Keluar dari gelapnya hutan, mereka masih belum bebas dari bahaya karena masih dalam lingkungan Pelahap Maut.

Dan benar saja. Tiba-tiba Profesor memegang tangan kirinya dengan tegang.

Shizune memandangnya penasaran.

“Mereka tahu kita di sini,” bisik Severus, “atau setidaknya, mereka tahu kita sudah tiba dengan portkey itu, tapi belum tahu kita ada di mana, dan mereka sedang mencari kita.” Ia memperlihatkan tangan kirinya, ada semacam tato sedang terbakar di sana, “—dan mereka sedang memobilisasi orang untuk mencari kita—“

Ino langsung waspada. Maklum, ia masih berada di sekitar seekor kucing hitam, waspada. “Ada orang yang sedang mencari kita, di dekat sini—“ bisiknya.

Semua bersiaga. Severus yang sudah lebih terbiasa berada di sini, matanya tertuju pada sungai yang mengalir di dekat mereka.

“Tak jauh dari sini ada air terjun,” sahutnya tegas, “di belakang air terjun itu ada sebuah gua—“

Tak ada yang menanyakan apakah gua itu sering digunakan Severus untuk bersembunyi, tapi semuanya langsung mengerti. Mengikutinya, mereka menyusuri sungai itu, dan benarlah.

Ada sebuah air terjun, tak terlalu besar. Di sisinya, batu-batu besar, terjal dan tajam. Severus menunjuk, “Lewati saja airnya, lapisannya tipis. Dan kau akan tiba dalam sebuah gua—“

Shizune mencoba dengan melompat dari batu ke batu sambil meringankan tubuh, langsung menembus air, dan lenyap. Sakura dan Ino saling melihat, lalu mengikuti jejak senior mereka.

“Kemarilah!” sebuah teriakan dari balik air terjun. Jika tadi rekan-rekan ninja mereka menggunakan ilmu untuk bersembunyi di balik air terjun, maka para penyihir kita ini tidak mau kalah, dan mencoba meniti batu demi batu untuk masuk ke dalam air terjun.

Severus mengamati dari belakang. Mulai dengan Hermione. Lalu Neville. Sayang badannya yang besar membuatnya agak susah menaiki batu. Severus mendorong dari belakang, dan semuanya berhasil masuk ke dalam air terjun.

Hermione mengibaskan tongkatnya dan berbisik ‘Impervius’ dan semua baju yang basah menjadi kering.

“Keren,” bisik Sakura, sambil mereka mencari tempat duduk di gua yang sempit itu.

Hermione juga menyalakan api biru untuk menerangi mereka sementara. Sementara Severus mendengar-dengar segala gerakan dari luar.

“Ada beberapa orang, kukira ada tiga orang, lewat sini.”

Lanjutannya di bawah
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #14 on: January 16, 2010, 01:01:17 AM »

Shizune mengangguk. “Kedengarannya diam sejenak dan mencari-cari di sekitar tempat kita berdiri tadi.”

Mereka terdiam dalam tegang. Gemericik air terjun menghalangi pendengaran mereka, jika mereka mendengar dengan cara biasa, tapi Severus maupun Shizune rupanya punya cara lain untuk mendengar-dengar.

Agak lama mereka mendengar, ketika mereka saling menatap, dan keduanya mengangguk.

“Sudah pergi,” sahut Shizune lega.

Severus juga menghela napas lega. Refleks meraba tangan kirinya.

Tapi Shizune juga refleks menjerit pelan. “Senpai, kau berdarah!”

Dari lengan jubahnya, nampak aliran darah kecil, sudah agak beku. Tak dirasakan rupanya.

Shizune refleks memegang lengan kiri Severus, membuka kain yang menutup, “Gomen,” ujarnya meminta maaf, dan meletakkan telapak tangannya sekitar lima senti di atas lengan Severus. Memejamkan mata, tak lama kemudian ada aliran chakra kehijauan mengumpul di luka itu, berputar bagai spiral.

Severus terdiam, entah apakah ia terkesima, ataukah memang ia mengijinkan Shizune mengobati lukanya. Tapi dalam waktu yang singkat itu, paling hanya lima menit, luka itu menutup, hingga tak terlihat lagi bahwa di situ pernah ada luka.

“Thanks, Shizune,” sahut Severus pelan. Sepertinya ia kaget, ada orang yang memperhatikannya.

“Bagaimana Suneipu-Kyōju bisa terluka begitu?” tanya Sakura.

“Mungkin tadi sewaktu membantu Nebiru-kun naik ke sini,” Shizune memperkirakan.

Severus mengangguk. “Mungkin,” sahutnya pelan. “Jika mereka memang sudah tak ada,” ia meraba lagi lengan kirinya, Tanda Kegelapannya sudah tak terasa terbakar lagi, “sebaiknya kita kembali ke Hogwarts.”

Semuanya bersiap untuk kembali.

-o0o-

Sebulan sudah berlalu. Banyak yang mereka pelajari, bukan hanya Darah Naga saja yang dipelajari oleh tamu dari Jepang itu, atau cara mengendalikan chakra yang dipelajari oleh Hermione maupun Neville—terlalu rumit menurut Neville, tapi ada banyak yang bisa mereka dapat.

Portkey untuk mengantar Sakura, Ino, dan Shizune sudah siap. Beberapa menit lagi mereka akan kembali ke Jepang. Ino dan Sakura sedang sibuk mengucapkan selamat tinggal pada teman-teman Inggris mereka, terutama Ino yang mendadak punya banyak teman pria Inggris—sayang sekali, padahal cowok Slytherin kelas empat berambut pirang itu keren lho, tapi dia sombong—bisik Ino pada Sakura.

Shizune mendekati Severus.

Suneipu-senpai—“

“Severus saja, Shizune—“

Terkesima sejenak, Shizune tersenyum. “Seburusu-san,”

Severus membungkuk sedikit, agak canggung.

Shizune balas membungkuk. “Terima kasih atas semua pelajaran yang sudah Anda berikan.”

“Anda juga memberikan pelajaran bagi kami semua—“

Shizune membungkuk lagi. “Dan—“

Severus menunggu ucapan berikut Shizune, tapi Shizune malah lebih mendekat.

“Kami harus memandang sesuatu dari sudut yang berbeda, untuk mengenal Anda lebih jauh,” sahut Shizune pelan.

Lalu mengecup pipi kanan dan kirinya. Tipis saja.

Mendekati portkey, mereka bertiga melambaikan tangan pada semua yang hadir. Memegang portkeynya, menghitung mundur, dan mereka berputar, lalu menghilang ...

Severus masih memegang kedua pipinya.

FIN


1) Pelafalan Jepang atas nama Inggris:
Albus Dumbledore: Arubasu Danburudoa
Severus Snape: Seburusu Suneipu
Voldemort: Vorudemōto
Hermione Granger: Hāmaionii Gurenjā
Neville Longbottom: Nebiru Rongubotomu

Juga atas istilah-istilah lain:
Portkey: pōto kii atau  idō kii
Pangeran Kegelapan: Yami no teiō

Diambil dari:
http://www.cjvlang.com/Hpotter/names/staffjv.html
http://www.cjvlang.com/Hpotter/names/wizards.html#wizards

Istilah Jepang lain yang bukan khas Harry Potter:
Kyōju: Profesor 
Senpai: Kakak (Seperguruan):
-san, -chan, -kun, -sama: Suffiks panggilan, -sama menandakan hormat
Ha-i: Ya
Domo arigato gozaimasu: terima kasih
dozoo yoroshiku: mohon bimbingannya
Gomen: maaf

Frasa khas Naruto:
Godaime Hokage: Kepala Desa Api Kelima
Medic-nin: medic ninja
Shintenshin no jutsu: mind body switch technique
Kunai: pisau kecil untuk dilemparkan
Shuriken: semacam bintang kecil tajam untuk dilemparkan, senjata rahasia

Frasa khas Harry Potter:
Lumos: mantra untuk menyalakan tongkat, menjadi semacam senter
Impervius: mantra untuk mengeringkan benda yang basah, membuatnya menolak air

Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
Pages: [1]
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.8 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!

supported by : IndoLowonganKerja.com