harrypotterindonesia.com
July 30, 2010, 11:30:00 AM *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: Selamat datang di Forum HPI yang baru. Silahkan melakukan Registrasi untuk ikut berdiskusi di forum ini. Mari kita jaga Forum ini bersama.
 
   Home   Help Search Login Register  
Pages: [1]
  Print  
Author Topic: [Challenge 13] Ron Weasley  (Read 2049 times)
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« on: February 01, 2009, 11:03:03 PM »

FF di-post di sini. Q, A, C & C silakan post di sini
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
harrypotterindonesia.com
« on: February 01, 2009, 11:03:03 PM »

 Logged
Clytemnestra S.H.
Slytherin
HPI
**

Karma: +277/-70
Posts: 1248


Never give up on something that you can't go a day


WWW
« Reply #1 on: February 08, 2009, 07:43:11 PM »

Judul : Weasley Adalah Raja Kami -> tiba-tiba jadi suka ama judul inih ga tau napa…
Genre : Drama (drama Quidditch, mungkin Tongue )
Timeline : Buku kelima – Harry Potter and The Order of The Phoenix
Setting : di Stadion Quidditch
Rating : T (pengennya M, tapi kan gak boleh Tongue *lirik2 ambu)
Dislaimer : Karena ini canon, jelas punya ibu JK.Rowling.
Note : Gracias buat Hulk yang udah kasi masukan genre n ide crita tentang ‘pangais bungsu’ (yang-jujur-aja-sampe-skarang-aku-masi-blum-nyambung *digetok*), di fic ini sedikit banyak ada masukan dari situ. Ah, jarang-jarang banged aku bikin fic canon. Apalagi selama ini kan fic aku slalu itu-itu aja, kalo ga Bellona ya Madie alias gak kreatip Tongue . Jadi ini fic tentang Ron yang pertama mungkin juga yang terakhir, susah sih buat aku nyari idenya! Tongue .



Pemuda berambut merah itu duduk terpekur sendirian di salah satu sudut stadion. Menyembunyikan dirinya di balik salah satu pilar dengan harapan agar tak ada seorang pun yang memergokinya sedang merenung di sana. Sejujurnya, harapan yang sedang bersemayam di hatinya saat ini hanyalah menghilang dan tak pernah terlihat lagi. Terlalu ekstrem memang. Tapi andai saja ada seseorang yang bersedia bertukar tempat dengannya sekarang, maka seseorang itu pasti akan memahami gejolak batinnya.

Ron, nama pemuda itu, tidak tahu kalau kenekatannya akan berakhir seperti ini. Suatu kenekatan (atau kebodohan, pikirnya) yang telah membuat Ron beranggapan kalau dia akan bisa melakukan sesuatu yang hebat, seperti menjadi Keeper tim Gryffindor misalnya. Ah, tapi tidak juga sih. Karena sepertinya dari jauh-jauh hari dia sudah bisa memprediksi kalau hal ini akan terjadi. Yeah, begitulah. Dia selalu saja merasa dirinya sendiri payah. Masalah kepercayaan diri, mungkin itu yang dipikirkan Harry tentang Ron selama ini. Antara benar atau tidak, Ron kesulitan untuk memilih. Namun kenekatan (atau kebodohan) yang menuntunnya untuk mendaftarkan diri menjadi Keeper Gryffindor beberapa waktu lalu. Kali ini dia sedang menyesali keputusannya waktu itu.

Menjadi anak keenam dari tujuh bersaudara dan anak laki-laki terakhir membuat Ron merasa banyak tekanan di balik punggungnya. Berulang kali dia menengadah dan menunduk. Well, prestasi kakak-kakaknya terlalu menyilaukan baginya ketika ia menengadah, dan dia menunduk karena di dalam batinnya dia tak akan sanggup disejajarkan dengan mereka semua. Ada banyak harapan tersampir di pundak Ron. Harapan yang tak pernah terucap secara eksplisit, memang. Tapi Ron dapat merasakannya dengan cukup kentara bagaikan udara yang menyelubunginya sejak ia lahir ke dunia.

Ron menghela nafas dalam-dalam. Dadanya terasa pedih. Bebannya belum berkurang dan tak kunjung membaik saat dia mengingat apa saja pencapaian kakak-kakaknya selama ini. Bill dan Percy pernah menjadi Ketua Murid, mereka cerdas dan sangat berwibawa. Sedangkan Charlie dulunya adalah kapten Quidditch, sudah tentu dia hebat. Lain halnya dengan Fred dan George yang banyak menghabiskan masa sekolah mereka dengan bermain-main, tetapi tetap saja nilai mereka bagus-bagus dan semua orang menganggap mereka kocak.

Kini Ron mencoba menghitung apa saja pencapaiannya, sambil berulang kali menghela nafas tentunya. Well, sejauh ini dia sudah berhasil menjadi seorang prefek (walau Fred dan George menganggap kalau tak seorangpun yang waras akan menjadikan Ron prefek). Sedikit lagi keberuntungan mungkin akan mengantarnya mengikuti jejak Bill dan Percy, menjadi Ketua Murid. Keberuntungan juga yang telah berpihak kepadanya saat dia lulus uji coba Keeper Gryffindor. Yup, tampaknya yang terjadi waktu itu memang hanya sebuah keberuntungan, mengabaikan kenyataan bahwa dia datang dari keluarga dengan bakat bermain Quidditch yang bagus. Charlie adalah buktinya, begitu pula dengan Fred dan George. Bahkan Ginny sepertinya juga punya bakat itu.

Lagi-lagi Ron menghembuskan nafas panjang. Tidak, tentu tidak, sangkalnya tegas. Meskipun pada akhirnya dia sanggup melampaui semua pencapaian kakak-kakaknya yang gilang gemilang tadi, tetap saja itu tidak akan banyak berarti. Itu semua bukan hal istimewa, karena kakak-kakaknya sudah melakukannya lebih dulu. Yeah, begitulah, pikir Ron pahit. Lamat-lamat Ron teringat pada refleksinya dulu saat dia berada di depan cermin Tarsah, refleksi Ron sebagai Ketua Murid sekaligus kapten Quidditch, luar biasanya lagi dia memegang Piala Asrama dan Piala Quidditch. Cermin itu terlalu jujur mengungkapkan apa hasrat terpendamku, batin Ron kecut. Aku yang selalu merasa minder dengan kesuksesan semua kakakku dan bermimpi akan menjadi yang terbaik di antara mereka. Mimpi yang terlalu muluk, eh?

Kenangan Ron kembali melayang kepada pertandingan Quidditch melawan Slytherin yang telah berakhir beberapa saat lalu. Penampilan perdananya. Tidak terlalu sukses, bisa dibilang begitu. Firasat buruk malah sudah datang menyapa saat Ron terbangun di pagi hari itu. Segala pikiran buruk berkecamuk di kepalanya hingga membuat Ron hanya bisa duduk tegak kaku di atas tempat tidur, dengan kedua lengannya melingkari lututnya, sambil menatap terus ke ruang kosong. Pucat dan berkeringat, juga sangat enggan membuka mulut.

Sekuat apapun Ron mencoba untuk mengacuhkan taktik kotor Slytherin, yang berupa intimidasi dan ejekan tanpa henti demi membuatnya gelisah, tapi tetap saja dia tidak kuat juga. Dia sudah merasa seolah jadi prajurit yang kalah di awal pertarungan. Semangat juang yang tersisa justru semakin melemah sebelum pertandingan dimulai. 

”Aku pasti sinting mau melakukan ini,” bisik Ron parau waktu itu. ”Sinting.”

Memasuki lapangan seakan-akan jadi hal paling mengerikan yang pernah ada. Jauh lebih mengerikan daripada harus memasuki kandang raksasa penuh ular berbisa, walaupun sepertinya memang itulah yang sedang dihadapi Ron. Dia gugup luar biasa. Bahkan ciuman pemberi semangat dari Hermione di pipinya tak mampu mengusir kehampaan yang terasa. Nyanyian para Slytherin memperparah kegugupannya. Weasley Adalah Raja Kami, begitu judul lagu itu. Lagu berisi cemoohan yang juga menyiratkan kepercayaan diri murid Slytherin kalau kemampuan Ron memang sangat payah dan mereka pasti akan menang karenanya.

Weasley tak bisa menyelamatkan apapun, Dia tak bisa memblokir sebuah gawang, Itulah sebabnya anak-anak Slytherin semua bernyanyi: Weasley adalah Raja kami.
   
Weasley lahir di tong sampah, Dia selalu membiarkan Quaffle masuk, Weasley akan pastikan kami menang, Weasley adalah Raja kami.


Darah Ron mendidih sampai ke ubun-ubun saat mendengarnya. Tak terbayangkan bagaimana terhina rasanya. Namun itu adalah sebuah kesalahan besar. Kemarahan justru membuat Ron semakin tak terkendali. Konsentrasinya buyar sudah. Gol demi gol dihasilkan Slytherin dari kesalahan Ron dalam mengantisipasi setiap bidikan Quaffle. Gol-gol pahit yang disertai sorakan dan ejekan dari lautan hijau-perak di tribun penonton. Tanpa terasa sudah empat gol menyakitkan yang gagal dihadangnya. Membuatnya merasa bak sekarung kotoran naga di atas lapangan. Aku buruk sekali. Aku sampah. Hidupku akan segera berakhir begitu pertandingan usai. Ron mengutuk dirinya sendiri tanpa henti.

Harry memang telah berhasil menangkap Snitch, sebagian ruang dalam hati Ron menganggap tindakan itu sebagai sebuah usaha penyelamatan nama baik, namun tidak serta merta mengangkat gairah hidupnya. Di saat rekan-rekan setimnya saling berpelukan dalam sebuah selebrasi kemenangan, Ron merosot turun dari sapunya dan memutuskan untuk menyingkir. Gryffindor memang menang atas Slytherin. Bukan karena Ron, tapi karena Harry. Harry pahlawannya dan dialah pecundangnya.

Malam semakin larut dan butir-butir salju turun seolah datang untuk menghibur. Sampai akhirnya Ron menghentikan usahanya untuk membesarkan hatinya sendiri. Dia sudah gagal total. Dia hancur lebur. Lalu apa lagi yang ia tunggu? Tak ada. Selain ia akan segera mengundurkan diri besok pagi-pagi sekali...

EL EXTREMO


NOTE : Buat fansnya Ron yang ngerasa kecewa abis ngebaca fic ini dikarenakan kalau-kalau ternyata fic ini lebay, OOC, atau idenya ga asyik, dst, silahkan mengkritik dan menghujat di tret Q, C & C-nya di sebelah. Ditunggu loh. Kebetulan minus aku juga udah lama gak nambah sejak jaman jebot. Tongue *ketimpuk bakiak nyasar*

FYI, fic ini cuman 4 halaman micro-word. Ckckckck… rekor fic Harry Potter terpendek aku nih… Smoga webe ini cepet berlalu…
Logged


SevMione (Severus Snape - Hermione Granger)
harrypotterindonesia.com
« Reply #1 on: February 08, 2009, 07:43:11 PM »

 Logged
Tchi Ocalian
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +61/-51
Posts: 375


I'm nobody for somebody


WWW
« Reply #2 on: February 14, 2009, 12:21:33 AM »

Title: Hadiah Dari Hermione
Disclaimer: Seperti biasanya, punya Tante J.K Rowling males nyiptain sendiri  Tongue
Setting: The Burrow
Rating: Kayaknya semua umur boleh, deh.


Ronald Weasley termenung di kamarnya. Ditatapnya selembar kalender Muggle merah bergambar singa pemberian ayahnya dengan seksama. Masih beberapa hari lagi sebelum bulan Februari berganti menjadi Maret. Sabar, Ron, gumamnya pada dirinya sendiri. Hari itu pun nantinya akan tiba juga. Aku harus bersabar seperti seekor naga Ekor-Berduri Hungaria menunggu telurnya menetas. Ia mengangguk-anggukkan kepala sambil mengayun dan mengetuk-ngetukkan tongkatnya sembarangan, tak jauh berbeda dengan anak metal sedang bermain drum di kalangan Muggle. Ayunan tongkat tersebut membuat perabotan yang ada disana berubah warna dengan cepatnya, tanpa disadari oleh sang pemilik tongkat itu sendiri.

Ron Weasley lahir tepat pada tanggal 1 Maret. Selama ini, setiap tahun, ia selalu menunggu-nunggu hari ulangtahunnya. Bahkan meskipun usianya sudah tidak kanak-kanak lagi. Berapapun usianya, Ron akan tetap mencintai dan menanti segunung hadiah-hadiah mengasyikkan yang memenuhi kamarnya tiap awal bulan ketiga itu.

Tapi kali ini berbeda... membayangkan hari ulangtahunnya yang ke sembilan belas terasa sangat menggairahkan. Ia menanti hadiah dari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Hermione Granger, pacar tercintanya. Ia sungguh penasaran, hadiah apa yang akan diberikan cewek pecinta buku itu padanya. Pacar pertamanya, Lavender Brown, memberinya hadiah natal berupa sebuah kalung dengan huruf-huruf emas yang membentuk tulisan “My Sweetheart”---Ron menolak hadiah ulangtahun dari Lavender karena sedang terpengaruh ramuan cinta Romilda Vane kala itu. Ia masih beruntung, tidak langsung stres dan masuk St. Mungo karena hadiah itu. Sumpah, sekotak belatung dari Kreacher untuk Harry terlihat jauh lebih menarik! Kalau hadiah natal saja sudah begitu mengerikan, bagaimana dengan hadiah ulangtahunnya? Untung waktu itu aku menolaknya. Kupastikan Lavender akan masuk Azkaban kalau memberiku hadiah konyol lagi, pikir Ron ngawur.

Sudahlah, ia tak perlu memikirkan itu. Toh, ia sudah lama terbebas dari si centil Lavender---ia merasa masih cukup waras karena tak pernah berniat memanggilnya Lav-Lav---dan punya pacar yang lebih oke.

Perutnya kembali terasa dikocok seperti mesin cuci ketika ia teringat Hermione. Kebanyakan hadiah dari cewek itu tidak selalu seperti apa yang diharapkannya, tapi setidaknya cewek itu tahu apa yang berguna baginya dan tidak pernah memberinya kalung.

Sebenarnya, setiap tahun sejak mereka berteman, Hermione selalu memberinya hadiah, baik itu hadiah natal maupun ulangtahun. Yang berbeda dari tahun lalu adalah, kali ini Hermione sudah jadi pacarnya! Telinga Ron memerah sendiri. Cowok itu sadar kalau ia bodoh karena memikirkan hal memalukan ini---tapi bukankah seorang pacar akan memberikan hadiah yang spesial saat ulangtahun kekasihnya? Pastilah Hermione akan bersikap---er---lebih romantis, begitu?

“Boleh aku masuk, Ron...? Ups, maksudku the sweetest boy in this world,” Harry Potter yang baru saja masuk ke kamar sahabatnya itu langsung mendecakkan lidah, tak percaya.

“Apa maksudmu memanggilku begitu?” gerutu Ron sebal. Sahabatnya ini, makin lama omongannya makin ngaco saja. Apa karena ia sangat merindukan dan mengkhawatirkan Ginny yang saat ini sedang menempuh tahun terakhirnya di Hogwarts? Ginny memang sempat sakit karena stres menghadapi ujian NEWT. Tapi itu tidak berarti Harry jadi bisa berkata sembarangan pada kakaknya!

“Karena kalau kau mau tahu, kau memang manis sekali, Ronniekins.” Sahut Harry sambil mengangkat alisnya. Kakinya mengentak-entak, mengelilingi kamar Ron dan menatap miris satu persatu benda-benda yang ada disana.

“Manis ap---how could this happen??” Ron terbelalak menyadari keabnormalan yang terjadi pada kamarnya. Semua perabotan yang ada disana berubah warna menjadi pink! Pantas saja Harry sampai menyipitkan mata karena silau dengan warna pink yang begitu banyaknya. Ini pastilah karena ayunan tongkatnya yang sembarangan tadi!

“Tunggu sampai Hermione melihat kamarmu,” ujar Harry, “dan aku yakin ia pasti langsung minta putus.” Cemoohnya.

“Jangan bilang apapun padanya!” Ron memperingatkan sambil misuh-misuh, melambai-lambaikan tongkatnya untuk membuat warna perabotan di kamarnya kembali seperti semula. Harry mengangkat bahu tak peduli. Senyum jahil menghiasi wajahnya. Ron kalap. “Jangan bilang apa-apa atau kukatakan pada Ginny kau mendapat surat dari Cho Chang dua hari lalu!”

Gantian Harry yang misuh-misuh. Cowok itu menatap Ron dongkol, kedua tangannya terlipat. Sebenarnya tidak ada masalah dengan surat dari Cho, karena isinya hanya sekedar menanyakan kabar dan memberitahu Harry bahwa sekarang ia berpacaran dengan salah satu artis keren dunia sihir. Tapi Harry tahu, Ron pastilah akan melebih-lebihkan ceritanya pada Ginny. Salah-salah nanti ceweknya itu akan mengirimi Cho Howler dan kutukan Kepak-Kelelawar jarak jauh.

“Aku cuma mau bilang Hermione akan datang besok, untuk merayakan hari ulangtahunmu.” Kata Harry ketus. “Dan aku... aku tidak akan bilang apa-apa, Cowok Manis.” Ia melanjutkan dengan nada suara yang menyiratkan ketidakrelaan, kemudian keluar dan membanting pintu kamar Ron dibelakangnya.

***

1 Maret, The Burrow, seusai pesta ulangtahun Ron.

Semua hadiah sudah dibuka, kecuali satu hadiah dalam sebuah kotak kecil berwarna coklat. Hadiah dari Hermione. Ron masih menimang-nimang hadiah itu, memutuskan apakah ia akan membukanya dihadapan keluarga besarnya atau tidak. Siapa tahu, kan, Hermione memberikan hadiah yang sangat spesial? Dan kalau benar begitu, maka Ron ingin agar hanya mereka berdua saja yang tahu.

“Bukalah, adik kecil. Kami semua ingin tahu apa itu,” bujuk George. Ron sedang tegang setengah mati, karena itu ia tak memprotes panggilan George untuknya. Padahal ia paling tidak suka dipanggil adik kecil! George memang terlalu konyol untuk menyadari usianya sekarang sudah sembilan belas tahun. Hermione hanya tersenyum simpul. Ron meliriknya malu-malu, meminta izin untuk membuka hadiahnya.

Seketika cowok itu tertegun. Cewek berambut coklat keriting itu menggeleng pelan, memberi isyarat agar ia tak melakukannya. Jantungnya berdegup kencang. Apa isi kotak ini, kalau Hermione tak ingin ia membukanya dihadapan orang lain?

“Kalau kau tak mau buka, tidak usah. Lebih baik kita segera makan saja, aku sudah lapar!” seru Bill jemu. Fleur mengangguk menyetujui sambil menggendong si kecil Teddy. Mereka semua akhirnya berpaling dari hadiah Hermione dan mulai mengisi piring-piring dengan makanan.

“Menyenangkan sekali,” gumam Harry ketika Ron menyimpan kotak itu dalam sakunya, berpandang-pandangan dengan Hermione. Ia jadi tak sabar menanti hari ulangtahunnya yang masih empat bulan lagi. Harry akan merayakannya bersama Ginny, yang pastilah telah lulus dari Hogwarts. Kira-kira apa hadiah yang akan diterimanya dari Ginny? Cengiran lebar dengan cepat menghiasi wajah cowok yang mempunyai bekas luka berbentuk sambaran kilat itu.

***

Ron mengerling Harry yang mendengkur halus dalam tidurnya. Untunglah, kelihatannya sahabatnya itu mengerti apa yang ingin ia lakukan, sehingga ia pergi tidur lebih cepat daripada biasanya. Setelah memastikan Harry benar-benar tidur, dengan perlahan dibukanya kotak itu. Matanya terbelalak sangat lebar ketika melihat isinya.

KALUNG???

Keringat dingin meluncur dari dahinya. Astaga, ia pikir Hermione cukup normal, tapi ternyata...? Ragu-ragu ia mengambil kalung itu. Seandainya saja ia Ginny, pastilah ia akan terpekik girang mendapatkannya karena kalung itu cantik sekali. Tapi dia bukan Ginny... dia Ron, dan dia cowok! Apa yang ada di otak cewek jeniusnya itu saat memutuskan memberinya kalung??? Ronaldia Weasley?!!

Ron membuka liontinnya. Ada secarik perkamen yang dilipat kecil sekali di dalamnya. Ia teringat kalung Slytherin palsu dan surat dari R.A.B... tangannya gemetar ketika mengenali tulisan Hermione yang kecil-kecil dan rapi memenuhi perkamen itu.

Dear Ron,

Happy Birthday! Kau pasti kaget sekali ketika mendapatkan kalung ini. Er... sebenarnya ini kalungku. Hadiah ulangtahunku dari Viktor... maksudku Krum. Aku menyerahkannya padamu karena aku tak ingin memakainya. Maaf, aku tidak bisa mengatakannya secara langsung padamu. Aku bingung harus bilang apa.
Terserah mau kau apakan kalung ini---buang atau hancurkan---aku tak peduli. Karena aku milikmu sekarang.

Love,
Hermione


Ron merasakan sensasi membahagiakan menjalar di sekujur tubuhnya. Kata-kata terakhir Hermione benar-benar melambungkannya ke langit. Wajah cowok itu seperti disinari cahaya matahari sementara yang lainnya tenggelam dalam gelap. Senyum bahagia menghiasi wajah itu. Hermione menyerahkan hadiah dari Krum padanya---yang berarti cewek itu hanya miliknya dan tak peduli pada pria lain sekalipun pria itu seorang pemain Quidditch internasional. Tak ada keraguan tentang itu.

Harry yang pura-pura tidur, mengernyit keheranan melihat Ron memegang kalung yang ia tahu hadiah dari Hermione itu dengan wajah berseri-seri. Seingatnya dulu Lavender Brown juga memberi hadiah natal kepada Ron berupa sebuah kalung. Apa semua cewek akan memberi kekasihnya hadiah kalung?

Ron mendapati Harry yang sedang memejamkan mata bergidik karena membayangkan dirinya memakai kalung dengan rantai bertuliskan “My Sweetie”. Tapi ia tidak begitu peduli dan beranjak menyimpan hadiah Hermione dalam lemarinya dengan wajah sangat gembira.

Hadiah ulangtahun yang sangat spesial, batin Ron sebelum menarik selimut dan berangkat menuju alam mimpi.

FIN



FF kedua. Maaf kalo ceritanya nggak jelas, aneh, atau apapun, karena Tchi bukan FF-er ahli. Oh ya, ada yang bisa kasih saran untuk genre? Soalnya Tchi sendiri bingung sama genre-nya...  Grin
« Last Edit: February 22, 2009, 01:13:02 AM by <~Tchi Qhiell Rousse~]] » Logged

Hulk-mione Granger
~Orang terkeren se-HPI~
Global Moderator
HPI
****

Karma: +340/-64
Posts: 1854


Hermione berubah jadi Hulk? Seksinya!!


WWW
« Reply #3 on: February 18, 2009, 03:12:05 AM »

Judul : Ron si Juru Cerita
Genre: Family, Romance
Setting: Setelah buku ke-7 pastinya
Rating: Biasa ajah, ga macem-macem
Disclaimer: Kk JKR, aku minjem tokoh-tokohnya ya! *sok imut*


Ron si Juru Cerita

“Groook.. Groook…”

Terdengar suara merdu seseorang di salah satu ruang apartemen yang berada di kota London. Bahkan suara hewan malam seperti, jangkrik, cicak, dan kawan-kawan tidak mampu menyainginya. Walaupun mereka berusaha keras melakukan konser besar, tetap saja suara tersebut yang menang. Alhasil sekarang semua penghuni di ruangan tersebut terbangun karena terganggu olehnya.

“RONALD WEASLEY, SUAMIKU TERCINTA!!” teriak seorang wanita, terlihat kesal lalu melempar bantalnya ke wajah pria yang mengorok itu. “Suara ngorokmu itu berisik tahu! Masak setiap tidur aku harus merapalkan mantra ‘silencio’ kepadamu?”

Tetapi rupanya efek teriakan dan lemparan bantal itu masih belum berpengaruh pada pria tadi. Karena sekarang, Ron malah menggumam “Haduh, suara nyamuk.. Berisik sekali!” dan menggerakkan badannya ke samping kanan, membelakangi istrinya kemudian mengorok lagi.

Namun detik berikutnya, dia merasakan pergelangan kaki kirinya ditarik oleh suatu benda tak terlihat. Membuatnya tergantung terbalik dengan posisi kepala di bawah. Ron yang kaget mencoba menendang-nendangkan kakinya dan menggerakkan kedua tangannya mencoba meraih sesuatu. Dan akhirnya dia sadar kenapa dia bisa seperti itu, istrinya, Hermione, merapalkan mantra ‘levicorpus’ padanya.

“Ehm, Hermione, sudah pagikah?” tanya Ron polos. “Dan aku sungguh kaget, kau mau menggunakan mantra milik pangeran yang dulu sangat kau benci itu, hanya untuk membangunkan suamimu yang tampan ini.”

Ron merasa sesuatu yang mengikat kakinya terlepas, Hermione telah mengangkat mantranya. Alhasil Ron dengan sukses terjatuh ke lantai di sebelah ranjangnya dengan bunyi debum yang cukup keras.

“Aw, sakit sekali,” ratap Ron sambil memegangi kepalanya. Sedangkan tangannya yang satu lagi bergerak untuk mengambil arlojinya. “Masih malam kan? Kenapa bangunkan aku?”

Hermione mendelik, tangannya dia lipat di depan dada.

“Ya ampun, Ron! Tahu tidak-“

“Tidak” potong Ron.

“Euh,” Hermione tambah kesal. “Tadi itu suara ngorokmu sangat berisik. Bahkan aku yakin seluruh London bakal mendengarnya.”

Ron tersenyum, memasang muka tak bersalahnya.

“Maafkan aku, Hermione,” kata Ron, masih tersenyum, “kau kan tahu aku habis lembur, jadi aku kecapekan dan tiba-tiba tidur, dan harusnya tadi –dalam mimpiku- aku hampir dicium oleh fans-fans-ku saat aku jadi kiper yang berjasa karena memenangkan piala dunia. Sayang, aku keburu bangun begitu mendengar suara nyamuk yang mengiang di telingaku..”

“Suara nyamuk itu aku, Ron!” bentak Hermione. “Huh, tadinya aku mau memaafkanmu saja. Tapi, tidak jadi deh..”

Ron berlutut di depan Hermione, memegang satu tangannya–berusaha agar bisa seromantis mungkin. Dijentikannya tongkatnya, terdengarlah suara alunan musik dari radio di pojok kamar.

“Plis, Hermione. Maafkan aku.. Masih ingat kan dengan lagu ini? Lagu saat pernikahan kita, ‘Jatuh Bangun’, di bawah dendangan lagu ini, kita berjanji tak akan terus-terusan berkelahi kan?”

Jatuh bangun aku mengejarmu,
Namun dirimu tak mau mengerti..


Mata Hermione langsung berkaca-kaca, hatinya luluh seketika.

“Oh, Ron bodoh, kau memang tahu cara merayuku ya?” kata Hermione, memeluk Ron.

“Jadi, kau mau memaafkanku kan?” tanya Ron, setelah Hermione melepaskan pelukannya.

“Tentu saja..”

“Wah, terima kasih, Mimin-ku!”

“Tentu saja tidak, maksudku!” tegas Hermione. “Makanya jangan suka memotong pembicaraan orang dan jangan coba rayu aku dengan panggilan sayang itu.”

Ron langsung cemberut. Tak percaya taktik rayuannya itu tak berhasil membuat Hermione memaafkannya.

“Jadi, apa yang harus kulakukan agar aku bisa tidur lagi,” sungut Ron, disambut delikan Hermione, “maksudku, agar kau mau memaafkanku?”

“Kau harus bertanggung jawab! Lihat tuh Rose dan Hugo juga terbangun, dan mereka tak akan tertidur lagi kalau tidak dibacakan cerita. Jadi, sekarang yang harus kau lakukan adalah dongengkan cerita untuk mereka sampai mereka tertidur, OK?”

“Hahaha,” Ron tertawa terbahak-bahak. “Cuma itu saja? Gampang banget! Paling cuma beberapa detik mereka akan tidur lagi.OK, kalau begitu aku ke kamar mereka sekarang. Hahaha..”

“Silakan, tuan pendongeng..” kata Hermione. “Oh yeah, sebagai bantuan, aku sudah menyita semua buku cerita yang ada di kamar mereka. Good luck, then!

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Ron berjalan dengan mantap menuju kamar anak-anaknya, Rose dan Hugo, yang masing-masing baru berusia 7 dan 6 tahun. Berhenti sebentar di depan pintu mereka, lalu tangannya yang besar itu memutar kenop pintu searah jarum jam, membuat pintu terbuka dengan bunyi derit pelan. Ron tersenyum kepada anak-anaknya. Kemudian melanjutkan langkahnya ke ranjang mereka, diikuti mata Rose dan Hugo yang memandanginya.

“Hei, anak-anak, belum tidur?”

“Ka-kami tadi sudah tidur. Lalu Rose membangunkanku, katanya dia mendengar suara erangan Dementor,” kata Hugo yang langsung menguap.

“Iya, Dad! Aku sudah membaca beberapa buku koleksi Mommy tentang ciri-ciri Dementor, dan aku yakin tadi itu adalah suara Dementor! Dementor itu pasti sedang berkeliling di sekitar sini, yeah, memang dia tak punya pekerjaan lain sih sekarang..” cerocos Rose.

“Hahahaha.. Rose, kau memang mirip Ibumu, tetapi tadi itu bukan suara Dementor, Sayang, itu suara…” tadinya Ron mau menjawab “itu suaraku” tetapi yang dia katakan malah, “ah, pokoknya itu bukan suara Dementor, OK?”

Rose mengangguk pelan disusul Hugo yang mengangguk sambil menguap lagi.

“Jadi, agar kalian tidur, Ayahmu ini harus bercerita dulu?”

“Iya, Yah! Aku memang sudah mengantuk, tapi aku tak bisa tidur kalau tak ada yang cerita,” rengek Hugo manja. “Aku ingin cerita ‘Troll pemberani dan Naga batuk’ dari buku yang baru dibeli.”

“Aku mau cerita tentang ‘Legenda Manusia Serigala Ompong’, bukunya kalau tidak salah ada di baris kedua di rak buku.” Rose ikut-ikutan me-request cerita.

“Baiklah,” jawab Ron singkat, membalikkan badannya untuk mencari buku-buku request anak-anaknya di rak buku. Baru beberapa detik kemudian, Ron tersadar bahwa buku-buku cerita itu sudah disita oleh istrinya.

Rasa gugup tiba-tiba menghampirinya. Ini bakal menjadi pengalaman pertama kalinya untuk menyampaikan cerita pengantar tidur di depan anak-anaknya tanpa buku, yeah, tanpa buku. Ini sangat berbeda dengan berpidato di depan auror-auror anak buahnya, lebih menegangkan ketimbang itu. Jadi, apa yang harus dilakukannya?

“Err, anak-anak..”

“Yeah?” jawab mereka kompak.

“Sepertinya buku-buku cerita koleksi kalian tidak ada di rak, mungkin Ibumu sedang membaca ulang semuanya dan menghapalnya di luar kepalanya..” Ron beralasan. “Jadi, lebih baik Ayah akan bercerita tentang petualangan Ayah melawan penyihir yang jahat di masa Ayah bersekolah dahulu, bagaimana?”

“Seru tidak, Yah?” Hugo menimpali.

“Aku lebih suka Ayah bercerita tentang bagaimana Ayah melamar Ibu!” kata Rose berharap. “Soalnya kata Mum, waktu itu Ayah romantis sekali..”

Wajah Ron memerah, Rose yang memperhatikan Ayahnya melebarkan bibirnya, tersenyum.

“Ah, itu ya.. Hmm, tidak untuk sekarang, Rose. Biar Ibumu saja yang menceritakannya,” kata Ron jadi sedikit kikuk. “Tapi benarkah Mum bilang begitu padamu? Soalnya waktu itu kan sangat berantakan sekali.. Pada waktu itu, aku..” Ron tak sadar mulai sedikit bercerita. “Haduh, kok malah mau cerita itu sih. Ah, pokoknya sekarang aku akan bercerita tentang petualangan tiga penyihir terkeren melawan penyihir paling jahat yang paling ditakuti pada masa itu. Nanti juga kalian akan tahu sih, kalau sudah sekolah di Hogwarts dan membaca buku sejarah sihirnya.”

“Oh, yang itu.. Aku sudah membacanya, Yah!” ujar Rose.

“Tapi, Hugo belum..”

“Iya, aku memang belum, tapi sudah diceritakan oleh Rose,” kilah Hugo, “aku malah lebih penasaran dengan cerita lamaran itu.. Hehe..”

“Sungguh suatu konspirasi! Aku tak percaya kalian yang masih mungil ini mampu melakukannya..” kata Ron, mencubit hidung Rose lalu hidung Hugo dengan sayang.

“Malam semakin larut lho, Yah!” Hugo mengingatkan.

“Kalau tak cepat cerita, nanti Mommy bakal datang ke sini dan menjewer Ayah, lho!” tambah Rose, dia dan Hugo cekikikan.

Tak ada kesempatan Ron untuk menolak keinginan mereka lagi, lagipula hal itu bukan hal yang buruk untuk diceritakan bukan?

“Baiklah, baiklah.. Aku mengaku kalah oleh kalian, aku akan cerita tentang itu!” kata  Ron akhirnya walaupun di dalam hatinya dia merutuk ‘Dasar keturunan Hermione!’.

“Waktu itu, musim gugur,” Ron memulai ceritanya, “aku menjemput Ibu kalian, hmm, calon Ibu kalian mungkin pada saat itu, untuk mengajaknya menonton pertandingan Quidditch, Chudley Canon melawan Ballycastle Bats. Ibumu.. cantik sekali waktu itu. Dengan pakaian a la muggle-nya yang modis, serta rambut bergelombang yang dibiarkan tergerai.”

“Apa secantik aku yah?” potong Rose, disambut dengan desisan Hugo yang menyuruhnya diam.

“Yeah, tentu, dia itu secantik kau, kalau kau dewasa nanti,” jawab Ron jujur. Rose yang merasa menang, menjulurkan lidahnya ke arah Hugo. “Dan kau pun akan setampan Ayah jika sudah besar, Hugo..” Ron buru-buru menambahkan, membuat Hugo tertawa bangga.

“Tapi kan masih lebih tampan Paman Harry daripada Ayah,” bisik Rose meledek Hugo lagi.

“Biarin!” kata Hugo langsung cemberut.

“Hei, hei, mau dengar kelanjutannya tidak?” tanya Ron yang entah mengapa malah semakin bersemangat untuk menceritakannya.

“Mau, Yaaah…”

“Nah, setelah menjemput Ibumu itu, kami langsung pergi menuju stadion tempat pertandingan berlangsung menggunakan sapu terbang Cleansweep Ayah.”

“Tapi kan sapu itu lambat sekali, dibanding sapu Fire-rocket buatan Paman George, Yah..” kali ini Hugo yang memotong, dan Rose yang mendesis menyuruhnya diam.

“Hahaha, iya, kau benar. Justru di situ letak keasyikannya kan? Kami terbang pelan-pelan sekali. Lalu sesekali aku berpura-pura kehilangan kendali atas sapu itu agar Ibumu memelukku lebih erat,” Ron memperhatikan kedua anaknya, berharap keduanya mulai menunjukkan rasa kantuk. Tetapi dia keliru, keduanya malah semakin melotot, penasaran ingin mendengar lanjutannya. “Di atas sapu itu juga, kami saling bersenda gurau. Aku meledek Ibumu, berat badannya-lah penyebab sapu itu jadi kehilangan kendali. Lalu dia malah balas meledek, katanya malah karena sapuku saja yang sudah kuno dan pengemudinya yang kurang mahir, sehingga sapu itu susah dikendalikan. Duh, sayang sapu kenangan itu sekarang sudah rusak waktu aku terjatuh ketika terbang terburu-buru ke St. Mungo untuk menyaksikan kelahiranmu, Rose..”

“Huuu, kakak Rose memang sudah menyusahkan bahkan sebelum lahir! Hehehe..”

“Yeey, enak saja!” kata Rose sambil mencubit pipi adiknya. “Terus.. terus.. bagaimana lagi, Dad!”

Ron menarik nafas panjang-panjang dulu, sebelum akhirnya melanjutkan lagi, “setelah perjalanan agak melelahkan itu, kami tiba di stadion tempat pertandingan berlangsung. Suasana di sana ramai sekali, sampai aku harus memegang tangannya erat-erat agar tidak terpisah, kurasakan tangannya, sama denganku, terasa dingin. Lalu setelah itu –dengan tangan masih memegang erat satu sama lain- kami berdua pergi masuk ke dalam stadion mencari tempat duduk kami.

Akhirnya kami menemukan nomor tempat duduk kami, yang rupanya malah ditempati oleh dua penyihir kakak-beradik yang bertubuh besar sekali, kalau mereka berdiri kepalaku hanya sampai pundaknya saja.”

Rose memekik takut, Hugo menahan napasnya saking tegangnya.

“Ahahaha, tak usah tegang begitu, anak-anak. Sepertinya kalian lupa ya, kalau Ayah kalian ini adalah auror hebat? Tentu saja, mereka berdua kudepak dengan mudah, ah, tidak deh.. Aku dan Ibumu berbarengan melancarkan mantra pada mereka, sesaat sebelum mereka hendak menyerang kami, karena tidak mau menyerahkan tempat duduk itu.”

“Aku tahu-aku tahu, itu pasti serangan mantra cinta!” seru Rose seraya mengacungkan tangannya penuh semangat.

“Mana ada serangan mantra itu, kakakku yang cantik? Itu pasti serangan mantra laser dari tongkat yang disilangkan,” Hugo ikut-ikutan berkomentar.

“Ih, tapi aku pernah baca di buku ‘Kutukan Penyihir Berkutil’, si Putri di cerita itu sembuh setelah kutil -hasil kutukan si nenek sihir-  di dahinya dicium oleh Pangeran, sungguh romantis..”

“Wah, iya juga ya, Rose! Aku jadi percaya kekuatan cinta deh!”

Mulut Ron terbuka, tak percaya. Benarkah ada cerita anak seperti itu?

“Lanjut lagi?” tanya Ron, kedua anaknya mengangguk antusias. “Oke, tadi terakhir Ayah sudah bercerita sampai mana?”

“Ituh, baru sampai merebut tempat duduk, payah nih Ayah sudah jadi pelupa, padahal kan rambutnya belum beruban. Hihihi,” kata Hugo sambil meledek Ayahnya.

“Ayah hanya ingin mengetes kalian saja kok,” Ron berkilah. “Pokoknya setelah itu, kami berdua sudah duduk dengan tenang, siap untuk menonton pertandingan. Kami memeluk satu sama lain, tanpa gangguan orang lain lagi. Soalnya orang-orang ketakutan karena kejadian perebutan tempat duduk itu, sehingga kursi kami jadi lebih lega. Hehe.. Dan setelah itu, tibalah saatnya untukku melamarnya.”

“Bagaimana caranya?” tanya Hugo penasaran.

“Ayah kan tidak romantis, paling cuma melamar seperti kebanyakan orang saja,” gumam Rose sok tahu.

“Iya, Ayah memang tak romantis. Tapi waktu itu, aku –dengan ide dari Bibi Ginny- meminta kepada tim Chudley Canon untuk melemparkan kembang api buatanku –Paman George yang mengajariku- saat mereka memasuki lapangan. Oh yeah, kembang api itu berisi kata-kata ‘Nona-Tahu-Segala, maukah kau menikah denganku?’”

“Cooo.. Cwiiiit!”

“Yeah, Rose. Kalau seandainya rencana itu berjalan tanpa hambatan, pasti keren tuh!”

“Memangnya apa yang terjadi selanjutnya?” Hugo bertanya lagi.

“Paman George telah menukar kembang api buatan Ayah itu, sehingga ketika tim Chudley Canon masuk dan melempar kembang api, kata-kata yang muncul adalah ‘Ron, bayar dulu biaya bahan-bahan kembang api itu, baru kukembalikan barangmu lagi!’, yah begitulah, tadinya kuharap aku akan dicium oleh Ibumu karena telah melamarnya, tapi yang ada malah aku ditertawakan olehnya dan oleh penonton di seluruh stadion.”

“Hahahaha.. Paman George memang lucu ya? Aku suka sekali padanya,” kata Hugo sambil tertawa terbahak-bahak mendengar cerita itu.

Namun ekspresi dari Rose malah kebalikannya, dia malah cemberut kesal.

“Huh, Paman George ya.. Masih saja suka jahil di saat-saat penting! Kasihan kan Ayah..” kata Rose. “Lalu bagaimana dong kelanjutannya?”

“Hmm, Ayah sempat kikuk waktu itu, wajah Ayah pun terasa panas sekali saking malunya. Namun kemudian, Ayah merasakan keberanian Gryffindor merasuki jiwa Ayah. Tiba-tiba Ayah berlutut di depan Ibumu, tangan kiri Ayah memegang tangan kanannya, sedangkan tangan kanan Ayah memegang cincin. Lalu entah mengapa, suasana stadion mendadak sunyi, seperti sudah terkena mantra muffliato, dan saat itulah aku mengucapkan kata-kata ‘Hermione, maukah kau menikah denganku?’ yang entah mengapa suaraku juga membesar seperti terkena mantra sonorous,” wajah Ron memerah.

“Lalu saat Ibumu itu mengangguk dan kupakaikan cincinnya, semua penonton di stadion beserta para pemain Quidditch bersorak sorai gembira, rupanya sedari awal mereka memperhatikanku –tiba-tiba di tengah stadion ada layar, sehingga semua bisa melihatku dengan jelas-. Aku yang memang suka demam panggung jika diperhatikan banyak orang, langsung mual-mual dan muntah. Hampir saja mengenai penyihir botak yang ada di tribun bawah.

Yang lebih parah lagi, penonton juga menyuruhku untuk menciumnya. Pokoknya seluruh stadion gegap gempita deh saat itu. Aku yang makin bertambah demam panggungnya, mendadak pusing, dan keesokan harinya terbangun sudah ada di rumah. Haha.. Kacau banget kan?”

Rose dan Hugo tertawa mendengarnya sambil memegang perut mereka dan bergulingan di atas ranjang. Malahan Hugo juga sempat nyeletuk, “Masa auror hebat bisa pingsan hanya gara-gara itu? Hahaha…”

“Dan tahukah kalian.. Ternyata Paman George tidak sejahil itu, dialah yang telah merencanakan semunya, menyuruh penonton diam, menayangkan kejadian di layar, men-sonorus-ku, juga yang menyamar menjadi dua penyihir besar yang merebut kursi kami. Oh yeah, satu penyihir lagi adalah Harry yang menyamar, sobatku itu pasti tak mau melewatkan kesempatan melihatku melakukan hal ini kan?,” ucap Ron masih tertawa dengan muka merah. “Mereka itu memang menyebalkan, tapi baguslah, membuat kenangan itu takkan hilang dari ingatanku..”

Ron, Rose, dan Hugo terus tertawa, tanpa sadar ada sekelebatan bayangan yang menghampiri mereka.

“Ron!! Kau pikir sekarang sudah pukul berapa? Kenapa anak-anak masih belum tidur juga? Tadi ngorokmu yang mengganggu, sekarang suara tawamu..”

“Gawat, Mum datang,” bisik Rose kepada Hugo. Dengan sekali tarikan, selimutnya sudah sampai ke lehernya, dan dia dan Hugo langsung memejamkan matanya, berusaha untuk segera tidur.

Mata Ron melirik kepada Rose dan Hugo, “Lihat tuh, mereka tertidur juga kan akhirnya?”

“Karena aku datang, pastinya!” jawab Hermione ketus. “Memang apa yang kau ceritakan sih? Awas saja kalau menceritakan hal-hal yang aneh!”

“Aku bukan keluarga Lovegood, Hermione.. Dan tadi itu aku menceritakan tentang saat aku-” Ron diam sesaat. “M-melamarmu..”

Mulut Hermione membuka hendak mengomentari lagi, tapi tak ada kata-katanya yang keluar. Matanya melotot ke arah Ron, lalu dengan cekatan tangan kanannya menangkap pergelangan tangan kiri Ron, menariknya sambil berjalan tergesa-gesa ke kamar mereka.

“Kau pasti bercerita tentang caramu melamar yang di stadion itu ya?”

“Iya, Hermione. Cerita itu selalu berhasil..”

“Iya baru dua orang yang berhasil kau tipu dengan cerita itu, bibi Muriel dan Gabrielle-adik Fleur, dan menjadi empat setelah ditambah anak-anak kita.” Cerocos Hermione. “Pokoknya besok kau harus menceritakan cerita sebenarnya tentang itu kepada anak-anak, dulu kan kau melamarku di restoran murah di seberang kantor Auror.”

“Tapi, Hermione.. Anak-anak sudah keburu percaya ceritanya,” kata Ron membela diri. “Aku tak ingin merusak gambaran keromantisan kita. Lagipula besok malam aku ada pekerjaan.”

“Tetap tidak bisa, kalau perlu aku akan minta kepada Mr Don untuk mengizinkanmu cuti besok. Biasanya dia selalu mengabulkan permintaanku!”

“Please, Hermione sayang...”

“Pokoknya kau harus ceritakan yang sebenarnya! Kalau tidak, selama sebulan kau harus tidur di sofa ruang tamu!”

-=-=-=-=-=-=-
 
Keesokan paginya

“Selamat pagi, Ayahku yang romantis!”

“Pagi, Dad! Nanti ajarkan aku membuat kembang api ya!”

“Pagi, Rose! Pagi, Hugo!” jawab Ron sambil tersenyum. Namun senyumannya memudar saat tersadar dengan tatapan galak Hermione. “Oh iya, Anak-anak.. Nanti malam Ayah yang akan menceritakan penghantar tidur kalian lagi ya..”

“Benar, Yah? Asyiik..!” kata Hugo langsung bersemangat. “Aku mau mendengar pengalaman Ayah yang lain ya!”

“Aku juga.. Aku juga.. Pokoknya nanti malam aku tak akan mau tidur kalau belum mendengar cerita Ayah,” Rose ikut bersemangat. “Hugo kita main ke rumah Bibi Ginny yuk. Kita ceritakan cerita yang malam tadi kepada James, Lily, dan Albus. Mereka pasti iri. Hehehe.. Mum, antarkan kami ya!”

“Baik, anak-anak.. Tapi jangan nakal ya di sana. Ayo, sini mendekat ke arah Portkeynya..” ucap Hermione seraya menuntun kedua anaknya ke arah Portkey yang baru saja disihir olehnya. “Dan untuk kau, Ron!” suara Hermione membisiki Ron. “Kalau cerita ini sampai menyebar ke kalangan luas, kau tak akan pernah kumaafkan!”

Glek. Ron menelan ludahnya. Lalu dia mengangguk ragu sambil tersenyum lemah dan menunjukkan jari-jarinya yang berjumlah dua, menandakan kata ‘Peace’, ‘Damai’.

Yuk, mari.. udah tamat..



Komennya selalu ditunggu di tret sebelah. Hohoho...
Logged


Dengan kekuatan bulan, akan menghukummu!
p i n k - pinkyglaze
Hufflepuff
HPI
**

Karma: +32/-2
Posts: 187


it represents me much...


« Reply #4 on: February 21, 2009, 08:45:46 PM »

Which Ring ?

Author: Mz Pink

Beta by: Alegre *thanks much to Eli, love you girl...*

Rating: PG

Genre: Humor/Romantis

Ships: Ronald-Hermione

Disclaimer: Semua hal yang berkaitan dengan kau-tahu-apa dan kau tahu itu bukan milik saya, yang artinya secara publik telah diketahui milik JK Rowling, adalah benar kepunyaan beliau. Saya hanya minjem aja tokoh-tokohnya buat ikut Chalenge ini.. hohoho... kalau ada tokoh lain yang tidak dikenal, dan ada di dalam cerita ini, yeah itu kepunyaan saya. Termasuk Divine Diamond...

* ..v ^ ^ v..piss...*

Timeline: Tujuh tahun setalah buku tujuh. Berarti, Teddy berumur 7 tahun, Freddie 3 tahun, Victoire 4 tahun, James setahun atau baru lahir beberapa bulan.

Author’s note: Semua hal yang tidak dijelaskan di epilog buku HP 7, saya sesuaikan dengan fanfic terakhir saya Summer Breeze, seperti umur anak-anak generasi berikutnya, istri atau suami siapapun, pekerjaan dan sebagainya, sehingga saya nggak kehilangan pegangan. Walaupun semua ini hanya berdasarkan perkiraan saja.




Siang ini terik, tetapi misi  terus dilaksanakan tidak perduli cuacanya seperti apa. Semua anggota anggota misi ini sedikit merutuki kegerahan yang timbul dibalik sweter atau poloshirt yang mereka kenakan sebagai penyamaran di dunia Muggle. Ron yang berada di garis terdepan pun tampak sangat berbeda. Dengan setelan berjas rapi dan menenteng koper hitam tipis yang berfungsi sebagai alat kamuflase. Tongkatnya terselip ramping di balik jas hitamnya, tepat di atas kemeja putih dengan dasi merah tua.

“Well, cocok sekali dengan rambutmu Ronald,” kata Stevenrski saat ia berjalan melewati Ron dan Harry di kafetaria sebelum misi berlangsung pagi tadi.

Harry nampak tenang-tenang saja. Kacamata bundarnya telah beralih kepada kacamata persegi gagang tipis, yang kata penjaga toko di Diagon Alley adalah model terngetop para Muggle saat ini.. Praktis akan membuat ia terlihat biasa-biasa saja untuk melakukan penyamaran di tengah Muggle seperti saat ini.

Ia dan Ron berpura-pura sedang duduk untuk makan siang sambil berbincang soal bisnis di kursi-kursi kayu di bawah naungan kanopi payung berwarna putih di bagian samping lobi sebuah hotel mewah berbintang empat di pusat Kota London. Dengan dua porsi steak sapi yang sama sekali tidak mereka nikmati sepenuhnya, padahal harganya selangit, lagi-lagi untuk melengkapi proses kepura-puraan ini.

Harry terlihat mengiris-iris steaknya dan melahap sepotong kecil.. Ron lagi-lagi menenggak limun dari gelas tinggi yang ada dihadapannya. Sesedikit mungkin menoleh tanpa terlihat ke arah dua meja di depan mereka yang diduduki oleh dua orang berpakaian Muggle yang sangat ganjil sebenarnya di saat musim panas seperti ini—setelan mantel hitam panjang dengan kemeja dan korduroi di baliknya. Sepatu mereka nampak agak kumal dan belum digosok cukup lama. Apabila dibandingkan dengan sepatu tamu-tamu restoran hotel yang lain, yang kebanyakan adalah para pebisnis dan sosialita yang sudah kehabisan akal untuk membelanjakan tumpukan poundsterling mereka, sepatu mereka nampak terlihat sebagai barang rongsokan.

Kedua orang di meja itu terlibat dalam pembicaraan yang sangat serius. Dengan memanfaatkan mantra tolak gangguan dan mantra anti pencuri dengar di sekeliling mereka. Namun non sense, apabila sepasukan auror yang sedang membuntuti, dan sedang berusaha menangkap mereka, menggunakan produk terbaru Sihir Sakti Weasley, Telinga Terjulur Transmisi Tripel yang dapat membuat mereka mendengar pembicaraan target meskipun mereka menggunakan mantra anti pencuri dengar sekalipun.

Tapi lupakanlah sejenak misi yang sedang berlangsung itu, karena nampaknya Ron sedang bergerak-gerak gelisah ditempatnya.

“Ron, bisa diam tidak sih? Kau membuat mereka memandang kita sekali tadi,” kata Harry gusar. Sudah sebulan penuh ia dan timnya mengerjakan kasus ini, tak ingin sekalipun gagal di penyergapan kali ini, meskipun penyergapan yang akan dilakukan di depan banyak Muggle. Well, mereka sudah banyak berlatih sekarang, jadi kemungkinan berhasil masih sangat besar.

Sorry mate, aku sedang bingung, oke?” Ron berusaha bersikap lebih tenang, sekali lagi menenggak limunnya.

“Kau, tidak demam panggung kan Ron? Ini bukan misi pertamamu kan?” Harry memandang Ron khawatir. Wajah Ron kemudian bersemburat sangat merah. Keringat besar-besar meluncur turun dari sela-sela rambutnya sampai ke pelipis. Kikik geli terdengar di earphone mereka.

“Bukan,” tukas Ron cepat, merasa sangat malu apabila setiap pengalaman melakukan sesuatu untuk yang pertama kalinya akan menimbulkan sensasi yang sama padanya: gugup, demam panggung, nervous, atau apalah namanya.

Tapi tidak salah juga sih, dia akan melakukan sesuatu hal, untuk pertama kalinya, dan dia butuh Harry. Yeah, dia butuh Harry untuk bertanya.

“Aku sebenarnya hanya ingin menanyakan kepadamu sesuatu hal, tetapi tidak pernah bisa kutanyakan padamu, sampai tengah malam tadi aku terbangun dari tidur dan tersadar aku sudah berumur dua puluh lima,” Ron berkata cepat sekali dengan suara sangat rendah nyaris seperti bisikan, sehingga Harry berusaha lebih keras untuk mendengar apa yang dikatakan Ron selain juga mendengar apa yang sedang dibicarakan target misi mereka.

“Aku juga sudah dua puluh lima, Hermione juga. Lalu apa masalahnya?” Harry bertanya hampir-hampir memutar bola matanya. Terdengar kikik tawa para agen lainnya yang juga ikut mendengar pembicaraan ini dari alat komunikasi mereka. Ron nampak sangat merana. Wajahnya kini sudah semerah rambut dan dasinya.

“Dua puluh lima Harry, dua puluh lima,” Ron mengulang dengan nada tidak percaya, memandang Harry  frustasi. Harry hanya memandangnya bingung. Ron menarik napas panjang sekali lagi, kemudian terkesiap sejenak saat mereka berdua dan setengah lusin agen lainnya mendengar percakapan yang baru saja mereka dengar dari telinga terjulur mereka, sang target baru saja membicarakan sebuah bukti penting. Harry menyeringai senang. Sedikit lagi, ia tahu mereka akan bergerak. Lebih baik bagi Ron menyampaikan inti pembicaraannya sekarang.

Well, Harry kau memang sudah berumur dua puluh lima, tetapi kau kan sudah menikah dan kau juga sudah punya James, dan sebagainya yang lain,” kata Ron pelan. Sebelumnya ia sempat mematikan sesaat alat komunikasi mereka agar percakapan ini bebas gangguan, tapi akan segera dinyalakan begitu Harry memberikan instruksi. Dia tidak boleh ceroboh, memang.

Harry menatap Ron tak percaya. Ron kini malah memandangi logam putih mengkilat yang melingkari salah satu jari Harry dan kemudian mendongak menatap Harry, pasrah. Akhirnya dahi Harry sedikit mengernyit, mencoba keras untuk tidak tertawa. Tetapi bukan Ron saja yang mengeluh akan hal ini, Hermione nampaknya mengeluh akan hal yang sama pada Ginny akhir minggu lalu.

“Ron, memang sepertinya, sudah saatnya, eh— kalian menikah, kau dan Hermione maksudku,” ucap Harry akhirnya setelah memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati, dan nampak sangat jengah membicarakan topik ini.

“Yeah, sudah kuduga kau akan ngomong begitu,” kata Ron kemudian, sekarang tampak lebih menyedihkan dari sebelumnya. Ia duduk agak merosot pada kursi kayunya.“Hermione kelihatannya akan menelan bayi-bayi itu dengan tatapan matanya. Ia menginginkan mereka, Harry. Kau lihatkan bagaimana ia memandang James? Atau saat ia menggendong Vicky di ulang tahunnya kemarin, atau Freddie, bahkan juga sikap anehnya kalau kami mengunjungi Andromeda, dan Teddy lagi tidak bersamamu. Kau tahu bagaimana dia,” Ron bergumam pelan. “Walaupun mungkin dia tidak ahli jadi ibu rumah tangga,” Ia bergumam, kembali menambahkan.

*Author jadi inget ficnya Eli yang Hermione dan masakannya... hehehe... Grin*

Harry masih diam, belum bisa bereaksi apa-apa. Ia dan Ginny sudah sering membicarakan ini —atas usul Ginny tentu saja—karena ia mungkin terlalu malu untuk mengurusi masalah percintaan sahabatnya. Apalagi semenjak Hermione sering mengunjungi Ginny akhir-akhir ini. Dan Harry tentu saja tahu apa saja yang mereka bicarakan. Hal-hal seperti ini contohnya.

“Dan kupikir, mungkin sudah saatnya aku melamarnya,” kata Ron dengan sisa semangat yang dimilikinya. Harry menarik napas lega, karena bukan ia yang musti menyuarakan ide itu. Meskipun ide itu harus coba ia jejalkan pada Ron —yang sekali lagi atas usul Ginny—andai saja Ron belum berpikir ke arah sana.

“Bagus kalau begitu,” kalimat itulah yang akhirnya terlontar dari bibir Harry. Namun Ron tidak terlihat lega atau lebih baik, sekali lagi ia meringis, sebelum Harry secara sengaja namun terlihat tidak direncana, menengok ke arah meja target. Ia belum lupa, mengapa mereka berdua malah duduk-duduk dan terlihat santai saat jam makan siang di restoran mahal ini, padahal pekerjaan mereka menumpuk di markas, memotong-motong steak yang tidak mereka nikmati dengan benar dan berbisik-bisik, dengan sepasukan Auror lain yang tersebar di lokasi itu dan menunggu perintahnya.

“Tapi aku tidak tahu bagaimana melakukannya Harry,” Ron mengerang, semakin frustasi. Bergerak-gerak gelisah di kursinya. Jelas sekali nampak gugup.

“Sssshhh... Ron, kau bisa membuat mereka curiga,” Harry memperingatkan sambil menyalakan lagi alat komunikasi yang menghubungkan mereka dengan para agen lain. Sudah dekat waktunya. Ron semakin terlihat gugup.

“Bagaimana kau melakukannya Harry?” tanya Ron kemudian, tidak menyebutkan nama, atau hal apapun yang merujuk kepada proses pelamaran, karena ia sadar bahwa percakapan ini tidak lagi memiliki privasi.

“Well, aku juga tidak tahu bagaimana mulanya, semua berlangsung begitu saja. Dan Ginny bilang iya, lalu aku menemui ayahmu, ibumu memelukku sambil menangis—bukannya kau ada di sana dan melihatnya sendiri?—kemudian kami menikah, dan selesai,” kata Harry cepat-cepat. Kini beberapa agen lain jelas-jelas tertawa terbahak-bahak, mendengar proses pra-nikah Harry Potter, kepala divisi mereka yang terkenal. Harry menenggak air putih banyak-banyak setelah itu.

Mereka berdua terdiam lama. Hanya sesekali memperhatikan kedua target di tengah-tengah proses makan siang mereka. Kemudian lebih banyak koordinasi dengan yang lain, dan Harry memberikan beberapa instruksi lagi.

“Belikan cincin,” akhirnya Harry membuka mulut. Jeda terjadi agak lama. “Hermione pasti akan senang sekali Ron, bagaimanapun cara kau melakukannya, yang tidak normal sekalipun,” Harry berkata lagi, pelan. Sebelum ia memberikan instruksi terakhir. Ron mengangguk lemah kemudian bersiap-siap. Target dengan pakaian yang sangat aneh sudah gelisah sejak tadi, memandang sekeliling mereka dan mencari jalan untuk menyusup.

Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah gerakan-gerakan cepat. Gumaman mantra samar dari bibir Harry yang membuat Muggle-Muggle paling dekat dari mereka yang  duduk ataupun yang berdiri membeku. Dan aura dingin yang aneh menelusup bagai awan yang membungkus lokasi itu. Mereka tahu, Stevenrski yang melakukannya. Membuat sebuah ilusi yang membohongi mata Muggle yang secara kebetulan memandang ke arah terjadinya penyergapan. Dan mereka kemudian merengsek maju dengan cepat sehingga keduanya pun tidak menyadarinya. Kemudian meringkus dua penjahat yang sudah melakukan kejahatan dan penipuan serta satu pembunuhan di luar Inggris. Mereka sudah menangkap kroni-kroninya yang lain semalam. Kementrian Sihir Jerman ingin mereka cepat-cepat ditangkap, mereka kehilangan seorang penyihir mereka soalnya.

***
« Last Edit: March 12, 2009, 11:06:03 PM by [p]Ink* » Logged

::
-Pink, Outside?? Absolutely...
but Inside??
I've never sure-
::
p i n k - pinkyglaze
Hufflepuff
HPI
**

Karma: +32/-2
Posts: 187


it represents me much...


« Reply #5 on: February 21, 2009, 08:51:47 PM »

masih lanjutan Which Ring ?

***


Ron nampak salah tingkah. Berjalan mondar-mandir tak keruan beberapa saat. Menyeberangi jalan yang sama untuk ketiga kalinya. Memandang lurus-lurus sebuah toko yang sangat indah dibandingkan dengan toko-toko di sepanjang Diagon Alley ini. Sebenarnya ia bermaksud pergi ke toko Muggle saja di seberang hotel tempat mereka melakukan misi kemarin dulu. Tetapi kegugupan akan semakin membuatnya senewen apabila menghadapi hal yang tidak biasa. Uang Muggle, dan pelayan toko mereka yang cantik-cantik itu misalnya.

Akhirnya ia memutuskan. Dengan sekali helaan napas berat ia melangkah memasuki toko bernuansa putih dan kuning gading itu. Papan nama di depannya yang terbuat dari kayu yang dicat warna putih dengan pendar keemasan pada tulisannya yang seperti kaligrafi dan pada pinggirnya yang meliuk-liuk menunjukkan bahwa toko itu bernama Divine DiamondToko Perhiasan.

Ruangan luas dengan warna dinding kuning gading dengan tirai-tirai dan pinggiran jendela serta penggiran pintu kaca yang berwarna putih bersih menyambut kedatangannya. Semerbak harum lily menguar sampai ke indra penciumannya seketika saat denting kecil lonceng di atas pintu berdentang nyaring tapi lembut menandakan kedatangannya. Kursi-kursi tanpa sandaran nyaman berwarna putih pucat hampir coklat muda berjejer di samping kanan.

Ron langsung disambut oleh senyuman ramah gadis yang duduk di balik konter, seperti meja resepsionis. Baru lulus Hogwarts sepertinya, mungkin sebagai pekerja magang. Namanya Amelia, tercetak pada papan nama kecil yang tersemat di dada, dengan lagi-lagi tulisan kaligrafi putih yang indah. Ron membacanya sekilas.

“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu, Sir?” sapa Amelia ramah memandang Ron berbinar-binar. Jelas sikap standar pramuniaga yang baik.

“Eh, ya, mungkin kau akan sangat membantu,” kata Ron kemudian. Memasukkan tangannya ke dalam saku jubahnya hanya untuk mengeringkan keringat.

Di konter yang terletak di samping kanan kiri meja penerimaan terpampang segala macam perhiasan indah tetapi ada saja satu dua yang aneh-aneh bentuknya dengan batu-batu mulia dan terbuat dari berbagai macam logam yang bisa-bisa harganya sama dengan seluruh tabungan galleon Ron di Gringgots. Amelia masih menunggu Ron mengatakan sesuatu.

“Aku sedang mencari cincin, untuk, eh—pac—” Ron tidak sanggup menyelesaikan maksud kedatangannya. Tersedak kaget oleh kata-katanya sendiri. Namun Amelia sudah mengerti sepenuhnya. Ia tersenyum dan mengangguk cepat. Kemudian menyilahkan Ron menuju sisi lain ruangan dengan konter yang lebih pendek, dengan pencahayaan yang lebih redup dan ada bangku-bangku bundar berkaki tinggi di depannya.

Ron agak bergidik ngeri. Sepertinya proses memilih cincin bukan proses sepuluh menit yang langsung beres. Karena menurut perkiraannya sejauh ini, hal itu butuh waktu yang lebih panjang hingga mencapai hitungan jam. Mana mungkin mereka menyediakan kursi untuk sesuatu yang tidak makan waktu.

“Silahkan,” kata Amelia kemudian, sambil melambaikan tangannya ke arah konter kaca di tengah mereka yang berisi puluhan jenis dan model cincin. Nampak olehnya sejumlah cincin yang sangat aneh, baik mengenai ukurannya, bentuknya maupun batu-batuan yang digunakannya. Kilauan cahaya berwarna-warni yang dipancarkan dari dalam batu-batu di dalam konter membuat mata Ron agak silau. Ia menjadi semakin pusing.

“Seperti apa, mempelai wanitanya, mungkin aku bisa membantu memilihkan,” kata Amelia lagi.

“Well, kami belum memutuskan untuk menikah, aku baru akan melamarnya,” Ron menjawab pelan nyaris berbisik, kemudian tersenyum lemah. “Dan apakah kalian punya yang lebih normal dibandingkan ini?” Ron mendadak berjengit ngeri memandang cincin-cincin yang ada di situ. Mencoba membayangkan jari Hermione memakai salah satunya. Apalagi sebuah cincin dengan batu merah delima besar berbentuk hati yang dililit oleh emas berpilin yang memang indah tapi tetap saja: aneh.

Amelia terkikik geli kemudian mencabut tongkatnya, menggumamkan mantra standar mereka sekali. Kemudian cincin-cincin tadi ditelan kotaknya masing-masing dan kotak-kotak kecil lain yang tadinya tertutup dalam posisi berselang-seling dengan kotak cincin-cincin yang tadi dipajang terbuka. Saat dalam keadaan tertutup, kotak-kotak itu sebelumnya tidak diperhatikan oleh Ron karena warnanya sama dengan warna satin di dasar konter, putih pucat.

Kotak-kotak kecil itu menunjukkan barang-barang yang tersimpan di dalamnya. Ron ternganga, tidak menduga mereka menyimpan barang-barang macam ini di sini. Di toko perhiasan di Diaggon Alley. Cincin-cincin normal yang tidak berpendar aneh, atau berbunyi, atau berbatu mirah delima besar. Sama seperti cincin-cincin yang yang dijual oleh toko-toko Muggle. Ron tahu karena sempat melihatnya sekilas kemarin saat melewati toko perhiasan Muggle. Tetapi ada yang berbeda, buatannya lebih halus, lebih detail dengan kemampuan sihir pembuatan perhiasan yang hampir menyamai perhiasan buatan Goblin, atau ini memang buatan Goblin, Ron tidak ingin menanyakannya.

“Anda bisa menjelaskan kepada saya ciri-ciri pacar anda, atau Anda sudah memiliki pilihan yang cocok?” tanya Amelia kemudian.

“Sebenarnya saya tidak tahu pasti yang cocok seperti apa, tapi saya yakin dia lebih bagus memakai emas, yang putih,” Ron berkata lagi. Kini meneliti deretan cincin-cincin berbahan dasar emas putih seperti yang tertulis pada labelnya, karena, well, dia tidak akan tahu bedanya. Ada selusin lebih cincin emas putih di situ, dan Ron tetap tidak bisa menentukan.

Amelia mengeluarkan beberapa cincin dari konter dan menunjukkannya pada Ron, tetapi tetap saja Ron terlihat tidak terlalu suka. Amelia mencoba beberapa pilihan lain, dan pertanyaan lain, tetapi Ron tidak bisa menjelaskan dengan tepat sosok Hermione di matanya. Sulit untuk menggambarkan dirinya. Secara fisik mungkin mudah saja. Tetapi Ron menginginkan sesuatu yang sesuai dengan karakter Hermione.

Amelia sudah menunjukkan tanda-tanda frustasi. Dan kemudian mencoba mencari beberapa pilihan lain dari ruangan lain yang ditutup tirai putih. Ron kembali menunggu. Sejenak kemudian matanya menangkap sebuah majalah yang tergeletak di kursi di balik konter. Sepertinya punya Amelia yang ditinggalkan sejak kedatangannya tadi. Kemudian matanya melebar dan langsung saja terbersit ide dalam kepalanya. Ia menatap Amelia berbinar-binar setelah gadis itu keluar dari balik tirai.

“Mungkin aku kurang jelas memberikan keterangan padamu, maaf, tetapi majalah itu kurasa bisa membantu,” kata Ron sambil menunjuk majalah yang dimaksud. Amelia menurutinya dan mengangkat majalah itu ke atas konter dan menunjukkannya pada Ron. Tetapi Ron malah membalikkan majalah agar menghadap ke arah Amelia, masih pada halaman yang tadi dilihatnya..

Dia, mirip dengan pacarku,” Ron menjelaskan sambil menunjuk foto yang bergerak-gerak dari dalam majalah. “Ya, dia mirip sekali dengannya, rambutnya, wajahnya, senyumnya, bahkan cara berpikir mereka pun sama, kau tahu, pacarku juga sudah menerbitkan buku, tetapi mungkin kau belum pernah dengar,” kata Ron lagi.

Mata Amelia ikut melebar mendengar informasi ini. Pekerjaannya akan menjadi lebih mudah. Tetapi ia sedikit mengernyit memandang foto di majalah karena halaman itu memuat tulisan dari hasil wawancara eksklusif dengan Hermione Jean Granger, penulis muda berbakat yang sangat jenius dan serba bisa. Serta berisi pembahasan singkat artikel ilmiah terbarunya: Aplikasi Teori Golbert untuk Transfigurasi Modern dan Perspektifnya Terhadap Mantra Praktis.

Amelia jelas-jelas tercengang. Lelaki jangkung berambut merah dengan bintik-bintik di wajah, di hadapannya ini memiliki pacar sekelas Hermione Granger, sungguh sangat di luar dugaan. Matanya menyipit menandakan ketidakpercayaan. Tetapi Ron tersenyum lebar memandangnya, bangga atas ide jenius yang tiba-tiba melintas di kepalanya.

“Well, Hermione Granger ya, maaf maksudku, mirip dengan Miss Granger,” Amelia bergumam pelan, tetapi Ron masih bisa mendengaranya.

“Yeah benar, kami, maksudku aku dan pacarku sudah berhubungan sejak kami sama-sama di Hogwarts, dia sahabatku sebelumnya, mungkin sekarang juga masih begitu,” Ron berbicara tentang Hermione seakan-akan ingatannya sedang terpapar jelas di depan matanya. Ia kemudian tertawa pelan mendengar dirinya sendiri berkata begitu. “Tetapi memulai hubungan dengan dia begitu sulit, kami tidak pernah saling tahu kalau kami saling suka, hingga sebuah kejadian besar yang membuat semuanya menjadi jelas,” Ron menghela napas sebentar. “Dan akhirnya ia memilih aku,” katanya lagi. Amelia nampak terpesona.

“Sir, saya khawatir koleksi di sini tidak ada yang benar-benar sesuai dengan ciri-ciri pacar Anda,” Amelia terdengar sedikit kecewa, padahal tadinya dia tampak bersemangat. Ron terlihat kaget, kekecewaan juga tergambar jelas di wajahnya. Lama berselang.

“Tapi tunggu sebentar,” kata Amelia kemudian, saat ia teringat akan satu hal. Tangannya mencari-cari di bawah konter catatan panjang perkamen yang tergulung rapi kecil-kecil. Memeriksanya satu-persatu. “Mungkin ini solusi untuk masalah anda, Sir,” katanya lagi saat berhenti pada satu perkamen di tengah gulungan.

“Dipesan beberapa bulan yang lalu oleh seorang pria yang akan menikahi tunangannya. Edisi terbatas, tetapi sebulan yang lalu dibatalkan oleh ibu mempelai pria karena calon menantunya ketahuan berselingkuh,” Amelia menyelesaikan. Ia sedikit mengangkat bahu meminta maaf soal sejarah cincin itu. Tetapi Ron tidak peduli. “Saya yakin pasti cocok, soalnya berliannya berwarna biru, seperti mata Anda.” Amelia kemudian berlari kembali ke dalam ruangan lain yang dipisahkan oleh tirai. Dan keluar beberapa saat kemudian dengan kotak putih kecil yang sama dengan bahan satin berwarna putih pucat.

Setelah sampai di depan Ron, Amelia membuka tutupnya. Tampak oleh Ron kilauan cahaya yang terpantul dari berlian-berlian mungil berwarna biru cerah yang seperti kata Amelia tadi mirip warna matanya sendiri. Ron memperhatikan sulur-sulur halus yang menyusun cincin itu yang merangkul berlian-berlian biru itu ke dalam suatu jalinan. Seperti buah blueberry yang ditabur di antara semak menjulur yang berduri, rapuh tetapi tampak kuat. Sulit ditaklukkan dan keras, seperti sifat berliannya tetapi sangat indah dengan warna birunya. Yeah, Ron merasa sangat puas dengan pilihan Amelia yang satu ini. Ia kemudian tersenyum lebar. Amelia tahu ia berhasil karena Ron tampak sangat senang..

Ron langsung memutuskan untuk membelinya, meskipun merogoh kantongnya lebih dalam untuk cincin itu, tetapi ia puas. Tak apa. Amelia masih melayaninya dengan sangat ramah saat proses pembayaran. Cincin itu sudah dikemas sangat cantik dengan kotak berwarna kuning gading berembosskan Divine Diamond. Saat menuliskan kwitansi untuk pembayaran, Amelia baru sadar ia belum pernah menanyakan nama pada Ron.

“Maaf Sir, tapi bisa sebutkan nama anda?” tanya Amelia saat mendongak memandang Ron dari atas perkamen kwitansi yang sudah setengah terisi.

“Oh, Ron Weasley, Ronald Billius Weasley,” jawab Ron ringan. Amelia menggoreskan pena berbulunya menuliskan nama itu, kemudian terkesiap kaget dan menatap Ron sejenak sambil mengulurkan perkamen yang harus Ron tanda tangani. Pikiran Amelia kini tertuju pada sebuah paragraf yang entah ia baca dimana dan kapan saatnya, yang menuliskan nama Ronald Weasley dengan jelas sebagai apa, dalam tulisan tentang Hermione Granger tentunya.

Ron meraih perkamen tanpa berkata apapun. Kemudian membubuhkan tanda tangannya di bagian yang tersedia. Amelia masih memandang Ron. Kali ini bukan raut ketidakpercayaan, lebih kepada rasa kagum yang mendalam.

“Terimakasih Amelia, kau sangat membantu,” ucap Ron saat Amelia menyerahkan kwitansi dan bungkusan barang.

“Terimakasih kembali Mr.Weasley, dan semoga sukses.” Ia menarik napas sekali sebelum melanjutkan. “Semoga Miss Granger menyukainya,” kata Amelia mengerling pada bungkusan yang sudah masuk ke dalam jubah Ron. “Aku salah satu penggemar yang mengirimi Miss Granger surat sepanjang tahun,” katanya lagi.

Ron kaget sesaat, kemudian tersenyum sangat lebar sebelum melangkah pergi.

“Hermione pasti akan sangat berterima kasih padamu Amelia, ia pasti akan menulis kepadamu secepatnya.” Kemudian Ron berbalik dan melangkah meninggalkan Divine Diamond diiringi dentingan lembut lonceng di pintu kaca saat pintu menutup.

 
***

enjoy...
...^ ^v...

Tamat
« Last Edit: March 21, 2009, 04:27:00 AM by [p]Ink* » Logged

::
-Pink, Outside?? Absolutely...
but Inside??
I've never sure-
::
Allegre Cielo Indah
Gryffindor
HPI
**

Karma: +105/-23
Posts: 469


What is this? This feeling.....


WWW
« Reply #6 on: March 05, 2009, 02:43:56 AM »

sebenernya udah lama mau ikutan chalenge ini. dan eli juga udah bikin beberapa fic tentang Ron. tapi ga ada yang muasin. Trus ide CO dengan Narutoverse ini muncul gitu aja pas nonton bola ~ga da hubungannya~ OOT mode on* Sad.. eli masih berpikir eli sampe sekarang ni kesulitan nulis cerita yang enak dibaca. so kritik en saran eli harep banget deh buat fic ini. tengkyuuu Cheesy


STUPID
Disklaimer       : All chara that recognized are not mine
Category      : AU---CO with Narutoverse
Genre         : Romance
Timeline      : Several years after the World Wizarding War II

Musim semi telah tiba. Matahari pagi bersinar hangat dan bersahabat menerobos celah-celah pepohonan di sebuah hutan kecil di pinggir kota Sligo. Sebuah kota di pesisir barat laut Irlandia. Kicau burung dan ceracau aneka satwa terdengar merdu melengkapi pagi yang indah itu. Seolah memamerkan pada dunia betapa mereka bersemangat menyambut kedatangan musim semi.

Namun di atas sebuah jembatan kayu yang melintang di atas sungai kecil, tampak seorang pemuda yang sepertinya sama sekali tak mengindikasikan semangat musim semi sebagaimana yang ditampilkan para penghuni hutan.

Pemuda itu kelihatan muram. Pandangannya nanar ke arah air sungai yang beriak kecil. Rambut merahnya gondrong acak-acakan dan tampaknya tak tersentuh air ataupun sisir dalam waktu yang cukup lama. Rahangnya sendiri dipenuhi bulu cambang lebat dan kumisnya pun memanjang. Sekali melihatnya, engkau akan langsung bisa menarik kesimpulan bahwa pemuda itu adalah orang yang tengah mempunyai masalah berat dan frustasi karenanya.

Pemuda itu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan berat. Tampaknya ia benar-benar dalam keputus-asaan yang besar. Pandangannya terus mengarah ke riak sungai kecil di bawahnya. Sungai yang airnya tampak gelap dan penuh misteri.

Apa yang akan dilakukan pemuda berambut merah itu? Oh tidak!

Tak sempat dan tak dapat dicegah lagi. Pemuda itu telah terlanjur melompat dari pinggiran jembatan dan menceburkan dirinya ke dalam air. Tubuh jangkungnya segera diterima oleh air sungai dengan tangan terbuka, berdebur keras dan meninggalkan gelombang-gelombang air yang melingkar-lingkar.

Pemuda berambut merah itu tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya setelah itu. Hanya saja ketika ia membuka mata kepalanya terasa sangat pening, dadanya terasa sangat sesak. Ia menggerakkan bola matanya mengedarkan pandang ke sekeliling. Dan ia terkejut bukan kepalang ketika sebuah sosok yang tak dikenalnya mendadak menyapanya dengan senyuman aneh.

Sosok yang baru itu juga seorang pemuda yang sepertinya beberapa tahun lebih muda daripada  pemuda berambut merah tadi. Kulitnya putih pucat dan rambutnya hitam lurus. Ia mengenakan ikat kepala yang di tengahnya ada tanda spiral berbentuk seperti siput. Pakaiannya hitam-hitam dengan atasan berlengan asimetris dengan menampakkan bagian perutnya. Ia tampak mencangklong tas kecil di punggungnya di mana dari dalam tas itu mencuat sebuah gagang pedang.

“Kau.. kau siapa? Di mana aku?” tanya pemuda berambut merah itu gagap. Ia berpikir ia telah mati dan yang dijumpainya itu adalah dewa kematian atau apalah.

“Aku Sai. Dan kau masih di dunia manusia, orang bodoh!” ucap pemuda berambut hitam yang mengaku bernama Sai itu dengan nada datar, terlepas bahwa ia sedang mencemooh pemuda berambut merah.

“Namaku Ron! Dan aku bukan orang bodoh, tau!” umpat pemuda berambut merah dengan marah. Ternyata pemuda berambut merah itu adalah Ron.

“Terserah! Tapi dengan bertemu kamu, aku jadi membuat kesimpulan baru. Ternyata masih ada orang yang lebih bodoh daripada Naruto. Dan orang itu adalah kamu.” Sai berkata lagi. Datar. Dan sepertinya tanpa perasaan sama sekali.

“Kau!!!!” geram Ron dengan gigi bergemeletuk menahan marah. Sayangnya tubuhnya masih sangat lemah. Dan ia sedang tak membawa tongkat. Ia memang sengaja meninggalkan tongkatnya di rumah, karena ia merasa sudah tak memerlukannya lagi. Tetapi mendengar semua perkataan orang aneh di depannya itu ingin sekali ia melemparkan kutukan Cruciatus!

Sai tersenyum lagi. Senyum teraneh yang pernah dilihat Ron seumur hidupnya. Dan ia mengumpat karena masih hidup dan harus bertemu dengan orang seaneh Sai.

“Kenapa kau menyelamatkanku?” tanya Ron kemudian. Ia berpikir pastilah Sai yang menolongnya dari sungai walaupun ia sangsi Sai mampu melakukannya melihat perawakannya yang kurus dan berwajah begitu pucat.

“Aku tidak tahu. Hanya saja, aku tidak bisa melihat iblis di sungai itu melahap manusia tanpa hambatan di depan mataku,” kata Sai masih dengan nada yang sangat datar.

Ron terperangah. Bagaimana Sai tahu kalau sungai tempat ia menceburkan diri itu adalah sungai angker yang dihuni iblis? Dan bagaimana Sai bisa menolongnya? Bagaimana Sai menghadapi iblis sungai tanpa rasa ngeri dan luka sedikitpun? Siapakah Sai sebenarnya?

“Sebenarnya kau ini siapa? Apa kau juga penyihir? Bagaimana kau bisa menyelamatkanku dari keganasan sungai iblis itu? Sepertinya kau bukan orang Irlandia,” cecar Ron, tak bisa menyembunyikan penasarannya.

“Dasar orang bodoh. Aku adalah Sai. Bukan penyihir dan bukan pula orang Irlandia. Aku ninja dari Konohagakure,” sahut Sai sambil menatap Ron lekat, tapi tanpa ekspresi.

“Hei! Jangan sebut aku orang bodoh! Kau belu jawab pertanyaanku. Bagaimana kau bisa menyelamatkanku?!” geram Ron lagi.

Sai tersenyum menanggapi kegeraman Ron. Ia malah menarik keluar semcam gulungan perkamen dari tas punggungnya. Lalu dengan sebuah kuas kecil yang telah dicelupkan ke dalam tinta, ia menggerakkan tangannya dengan sangat cepat. Ron menatap keheranan dan mencuri lihat apa yang digambar Sai di atas perkamen itu.

Ron mau tak mau takjub karena Sai telah menggambar sesosok manusia yang sangat mirip dengannya. Dan ketakjuban itu berubah menjadi keterkejutan ketika Sai mengucapkan semacam mantra, dan gambar itu berubah menjadi hidup. Menjadi sesosok yang sangat mirip Sai.

Ron terperangah. Ia menatap luar biasa.

Sosok yang baru muncul itu berlari cepat dan mencebur ke sungai.
Ron masih memandangi sosok kembaran Sai yang mencebur ke dalam sungai itu. Di mana sesaat kemudian sosok itu kembali muncul dari sungai dan sudah berdiri kembali di hadapan mereka dengan kedua tangan memegang dua ekor ikan besar yang menggelepar-gelepar.

Ron kian takjub saja. Sementara Sai menerima dua ekor ikan itu dan langsung membakarnya di atas perapian yang tahu-tahu muncul begitu saja. Dan kemudian Sai kembali menggelar perkamennya, dan sosok kembaran Sai itu dengan ajaib raib begitu saja seolah masuk ke dalam perkamen itu.

“Ba.. bagaimana.. kau.. bagaimana kau melakukannya?” Ron bertanya gagap, masih tak percaya akan apa yang dilihatnya.

Sai tersenyum dan berkata,”Itu salah satu teknik ninjutsu milikku. Tadi itu klon tintaku. Klon tinta itu juga yang menyelamatkanmu dari sungai. Jadi intinya, aku bisa menciptakan bayanganku sendiri dengan melukisnya di atas perkamen tadi. Sudahlah, kau tak akan mengerti jikapun aku jelaskan.”

“Kau sangat meremehkan orang lain. Dasar sombong!” gerutu Ron.
 
“Mengapa kau terjun ke sungai itu? Untung saja aku kebetulan lewat sehingga kau tak jadi mati,” kata Sai tak menanggapi makian Ron untuknya.

“Asal kau tau! Aku tak butuh kau selamatkan! Dan aku sangat sial karena aku tak jadi mati dan malah bertemu orang aneh macam kau!” Ron naik pitam.

“Hehm.. begitukah? Jadi rupanya kau ingin mati. Boleh aku tahu kenapa?” Sai sepertinya tak perduli bahwa Ron sudah mendidih karena marah. Ia lalu mengulurkan ikan bakar yang sudah matang kepada Ron.

Ron yang kelaparan, berusaha untuk tak memperdulikan tawaran lezat itu. Meski perutnya terasa melilit oleh bau ikan bakar yang begitu harum, ia pura-pura tak butuh.
“Bukan urusanmu! Aku mau mati atau hidup itu bukan urusanmu! Lenyap kau dari hadapanku!” Ron berteriak kian marah sambil berusaha berdiri meski dengan susah payah.

“Kau sungguh aneh, selain bodoh tentu saja. Tidak aku sangka kalau ada orang sepertimu di dunia ini,” ucap Sai datar sekali, meletakkan ikannya di atas batu di sampingnya. Sama sekali tak menanggapi kemarahan Ron yang menyala-nyala. Ia kemudian ikut berdiri dan melangkah mendekati Ron.

“Pergi! Pergi kau!” teriak Ron kalap.

“Untuk sebuah alasan, aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja.” Sai kembali tersenyum dan tanpa diduganya sebuah pukulan dengan telak mengenai hidungnya.

Ron berdiri dengan tubuh gemetaran. Ia menatap Sai geram dan menunggu reaksi Sai.

Sai meraba hidungnya yang terkena pukulan Ron. Tak nampak bahwa ia merasa sakit akibat pukulan itu. Dan anehnya, ekspresi wajahnya tak menampilkan kemarahan sedikitpun. Wajahnya tetap putih, tetap tampak begitu tenang.

“Ternyata selain bodoh dan aneh, kau juga sangat lemah. Pukulanmu bahkan tak lebih kuat dari pukulan bayi Konoha,” ucap Sai kembali memamerkan senyum anehnya.

“Kapan kau mau berhenti berkata-kata kurang ajar seperti itu?!” kata Ron dengan suara tertahan. Kemarahan yang sangat menguasainya, namun melihat bagaimana reaksi Sai, ia bisa mengambil kesimpulan bahwa Sai adalah orang aneh yang tak bisa mengerti keadaan orang lain. Jadi percuma ia menumpahkan kemarahannya.

“Aku hanya ingin menolongmu. Manusia hidup harus saling tolong menolong. Begitulah menurut buku yang kubaca,” kata Sai tenang dan tetap datar.

“Sai, atau siapapun namamu, aku tidak tahu buku macam apa yang telah kau baca. Tapi sepertinya kau harus tahu satu hal, tidak semua yang ditulis di buku itu benar. Bodoh!”

“Bagaimana bisa kau bilang begitu?” tanya Sai polos, seolah tak peduli bahwa Ron baru saja memakinya bodoh.

“Karena.. karena aku telah membuktikannya. Aku telan mentah-mentah semua yang dituliskan di buku tentang bagaimana mendapatkan wanita pujaan, tapi lihatlah hasilnya. Wanita pujaanku malah meninggalkanku dan memilih menikah dengan orang lain,” tutur Ron getir.

Sai menatap Ron penuh arti. Sepertinya ia mulai memahami sesuatu.
“Apakah itu ada hubungannya dengan tindakanmu yang ingin bunuh diri itu?”

Ron mengangguk lemah. Lalu ia kembali duduk, dan Sai pun duduk di sampingnya.
“Wanita itu bernama Hermione Granger. Dia adalah sahabatku sejak tahun pertama kami sekolah di Hogwarts, sebuah sekolah bagi para penyihir. Aku telah menyukainya sejak tahun kedua, tetapi aku tak cukup punya nyali untuk mengatakan kepadanya. Tahun demi tahun berlalu, dan hubungan kami pun hanya sebatas sahabat. Aku telah melakukan apa yang tertulis di buku, tapi sepertinya terlambat. Hermione telah memilih Draco Malfoy untuk jadi suaminya dan tak dapat diubah lagi.”

“Tetapi di dunia ini banyak wanita. Kalau Hermione menikah dengan orang lain, kaupun bisa menikah dengan orang lain,” ucap Sai tanpa perubahan ekspresi sedikitpun di wajah pucatnya.

“Huh! Gampang bicara seperti itu, Sai! Coba kalau kau berada di posisiku. Kau pasti tak akan bisa berkata begitu!”

“Oh, aku tak akan pernah berada di posisimu. Karena sampai saat ini aku masih belum tahu mengapa seorang pria bisa menyukai seorang wanita. Padahal menurutku wanita itu jelek dan sangat menyeramkan,” kata Sai datar sementara benaknya membayangkan raut muka Sakura, rekan setimnya yang suka sekali mengamuk dan memberinya bogem mentah.

Serta merta Ron menoleh ke arah Sai dan menatapnya dengan aneh juga heran.
“Kau ini masih waras kan? Bagaimana kau bisa bilang wanita itu jelek dan menyeramkan? Mereka itu makhluk cantik dan menawan, bodoh!”

“Begitukah? Tetapi wanita sangat suka marah-marah tanpa sebab yang jelas. Sakura bahkan sering menghajarku dengan tinjunya yang sangat keras itu,” kata Sai seperti pada dirinya sendiri.

Ron menatap Sai kian aneh. Tiba-tiba ia merasa tertarik untuk mengenal Sai lebih dekat. Sai sepertinya tipe orang yang kurang atau bahkan tidak bisa mengekspresikan perasaannya sendiri.
“Sakura? Siapa dia? Pacarmu eh?”

“Sakura rekan setimku. Dia bukan pacarku. Tetapi Naruto sangat menyukainya,” kata Sai.

“Jadi intinya kau belum pernah jatuh cinta begitu? Kalau demikian, kau tak akan bisa mengerti perasaanku sekarang.”

“Aku memang belum pernah jatuh cinta. Tetapi aku sudah sering membaca buku tentang wanita dan cinta. Jadi aku bisa mengerti perasaanmu, Ron.” Sai menepuk pundak Ron tampak bersimpati.

Ron tak menyahut. Ia baru tahu kalau ternyata selain Hermione, masih ada orang yang begitu maniak dengan yang namanya buku. Tetapi Sai sepertinya lebih aneh.

“Patah tumbuh hilang berganti. Dunia tak selebar perkamen. Wanita tidak hanya satu. Kalau dia memilih orang lain, kau harus segera cari gantinya. Kalaupun sulit, kau tak boleh putus asa. Karena putus asa dalah awal mala petaka,” ujar Sai panjang lebar.

Ron mau tak mau tersenyum geli. Ia tidak tahu harus bagaimana menyikapi Sai. Orang aneh, pikirnya sekali lagi.
“Sudahlah Sai! Jangan bicara lagi! Semua itu teori! Kau tak perlu lagi menceritakan apa yang kau baca di buku kepadaku. Hal itu malah hanya akan mengingatkanku pada Hermione. Karena ia adalah orang yang sangat gila buku seperti kau!”

“Aku bukan penggila buku sebenarnya. Aku hanya merasa memerlukannya. Aku perlu membaca buku-buku itu agar aku bisa berbaur dengan orang lain. Buku yang pertama kubaca adalah tentang senyuman. Saat itu aku tak tahu mengapa orang suka tersenyum dan bagaimana hanya dengan sebuah senyuman bisa menakhlukkan atau mengelabui orang lain,” tutur Sai.

“Kau sangat aneh. Bagaimana kau perlu membaca buku hanya untuk sekedar tersenyum? Apa ayah dan ibumu tak pernah tersenyum kepadamu?”

“Ayah dan Ibu? Aku tak tahu apakah diriku punya keduanya atau tidak. Aku hanya tahu bahwa aku adalah seorang ninja yang harus berhasil dalam setiap misi, bagaimanapun caranya.”

Ron menatap tak percaya. Ia yakin Sai manusia sama seperti dirinya. Tetapi bagaimana Sai berlaku begitu aneh?

“Tetapi kau kan manusia biasa, Sai. Kau pasti punya ayah dan ibu. Apa kau tak berniat mengetahui siapa orang tuamu? Kalau kau tahu siapa mereka, maka kaupun  akan mengetahui apa kau mempunyai saudara atau tidak.”

“Begitukah?”

“Tentu saja. Kau tahu, aku bahkan punya lima saudara laki-laki dan satu adik perempuan. Dan ayah serta ibu tentu saja. Kami keluarga besar. Aku dan saudara-saudaraku sering bercanda, tertawa, dan kadang bertengkar juga, tapi kami semua sangat bahagia…,” ucap Ron. Sembari ia berkata demikian, sesuatu yang hangat seperti mengaliri darahnya dengan tiba-tiba. Ia seperti baru tersadar, alangkah beruntungnya ia, karena masih mempunyai keluarga besar yang menyayanginya. Dan ia menatap Sai. Oh, bukankah ia jauh… jauh lebih beruntung daripada Sai? Jadi mengapa ia tadi melakukan tindakan bodoh itu? Mengapa ia ingin meninggalkan dunia sementara masih begitu banyak keindahan di sekitarnya. Kini ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi andai saja Sai tak datang tepat waktu dan menolongnya. Ia pasti akan membuat keluarganya sedih dan berduka.

“Sepertinya sangat menyenangkan memiliki keluarga,” gumam Sai.

“Tentu saja. Jadi kau harus mencari tahu siapa keluargamu sejak sekarang!” ucap Ron yakin.

Sai terdiam sebentar, lalu berkata,“Aku pikir tak ada salahnya mencoba. Baiklah Ron, senang bertemu denganmu. Aku harus kembali menemui teman-temanku. Kami sedang berkemah tak jauh dari hutan itu. Kebetulan misi kami sudah selesai. Jadi aku akan punya waktu untuk mencari tahu siapa orang tuaku.” Sai lalu mengeluarkan segulung perkamen, tinta, dan kuas lalu dengan sangat cepat menggambar.

Ron lagi-lagi takjub karena hanya dalam waktu sepersekian detik sebuah gambar burung besar telah terlukis indah di atas  perkamen milik Sai.

“Ninpou Choujuu Giga!” ucap Sai sambil membentuk jari-jari yang kemudian diarahkannya ke gambar burung di atas perkamen itu.

Seekor burung besar kini berdiri di hadapan mereka. Mengepak-epakkan sayapnya selayaknya burung pada umumnya.

“Selamat tinggal Ron, dan ini untukmu!” Sai melemparkan segulung perkamen lalu melompat naik ke atas punggung burung. Detik berikutnya ia telah melesat tinggi ke angkasa, meninggalkan Ron yang masih berdiri terpana.

Ron menghela nafas panjang. Begitu cepat. Cepat sekali berlalu. Pertemuannya dengan Sai yang aneh dan tak terduga. Tetapi tanpa disangka malah menumbuhkan kesadaran dan kewarasan kembali kepadanya akan betapa berharganya hidup. Ron tersenyum menatap langit. Sai sudah tak tampak lagi.

Ron membuka gulungan perkamen yang diberikan Sai. Matanya serta merta melotot menatap apa yang terlukis di perkamen itu. Lukisan dirinya sendiri. Sangat persis. Begitu hidup. Lukisan ketika ia tengah menatapi air sungai dan bersiap hendak menceburkan diri.

Ron menelusuri setiap inci dari lukisan itu hingga ia menemukan satu tulisan singkat di bawahnya: BODOH!
“SIALAN KAU SAI!!!!” teriak Ron sekuat tenaga…


Logged

ORGULLOSO SER
Gracias Mimbs
No War.. PEACE ..Save Palestina
Pages: [1]
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.8 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!

supported by : IndoLowonganKerja.com