harrypotterindonesia.com
July 30, 2010, 11:30:41 AM *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: Selamat datang di Forum HPI yang baru. Silahkan melakukan Registrasi untuk ikut berdiskusi di forum ini. Mari kita jaga Forum ini bersama.
 
   Home   Help Search Login Register  
Pages: [1]
  Print  
Author Topic: Shaven Terpot & Stone's Sorcerer (Remix)  (Read 2796 times)
shaven
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +8/-2
Posts: 17



« on: February 01, 2007, 10:00:28 PM »

SHAVEN TERPOT AND THE STONE’S SORCERERS
THE REMIX EDITION

a parody-fan fiction by Shaven
based on the novel “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone”
created by JK Rowling
Harry Potter, names, characters and related indicia
are copyright and trademark Warner Bros., 2000


-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

CHAPTER ONE
Anak Laki-laki Yang Bertahan Jayus




Kurang Lebih 10 Tahun Yang Lalu di Privet Drive.
(Kalau gak salah lho…)

Pagi itu langit terasa lebih cerah.

Privet Drive yang biasanya sepi dan hanya berhiaskan kegiatan bapak-bapak yang hendak berangkat kerja menjadi sangat ramai. Kenapa? Karena ada beberapa ekor burung hantu yang sibuk mondar-mandir kurang kerjaan mengitari jalan perumahan Privet Drive. Hal ini tentunya sangat mengherankan, mencengangkan dan luar biasa anehnya. Jangan-jangan para burung hantu itu sedang lembur ya? Bukankah burung hantu itu lebih sering berkeliaran di malam hari saat bapak-bapak penghuni Privet Drive sedang bobo manis? Bukankah para burung hantu itu juga lebih senang menemani bapak-bapak itu pada saat mereka ronda keliling?

Entah kenapa para burung hantu itu berkeliling di pagi hari?
Kenapa yah?
Hmm…

Tapi setelah beberapa saat terheran-heran dengan kehadiran para burung hantu itu, para penghuni Privet Drive juga jadi masa bodoh.

“Ala, paling cari sensasi. Hari gini siapa sih yang gak cari sensasi? Paling-paling cuma kepengen masuk infotainment. Ada aja idenya, yang ribut dengan orang tua lah, yang sibuk ngurus cerai lah, yang ketangkep bawa narkoba lah… ada aja…” Begitu salah satu Bapak penghuni Privet Drive berkomentar.

“Emang gue pikirin.” Begitu pula ucap salah seorang penghuni lain.
“Burung hantunya enak gak yah disate?” begitu ucap seorang penjual sate.

Tapi burung-burung hantu itu memang benar-benar tukang iseng. Ada yang sibuk main kartu remi, ada yang sibuk jualan siomay, ada yang buka salon khusus burung hantu dan ada yang menyewakan jasa ojek payung pada ibu-ibu Privet Drive supaya tidak kepanasan kalau pergi ke pasar. Hihihi, memang burung hantu itu banyak yang lucu-lucu.

Sayangnya saking banyaknya burung hantu, ibu-ibu penghuni Privet Drive yang ditinggal suaminya bekerja juga jadi kerepotan. Kenapa? Yah, bukan masalah besar sih kalau para burung hantu itu cuma terbang-terbang keliling tanpa mengganggu penghuni sekitar, yang jadi masalah ya kotoran mereka itu lho! Duh, dasar burung iseng, seenaknya saja buang kotoran, uaaahhh! Penulis aja mesti mengambil jarak agak jauh dan mengibas-ngibaskan tangan saking baunya.

Mr. Ganno adalah salah satu penghuni baru Privet Drive.

Dan pagi ini dia sedang bersiap-siap berangkat kerja, pakaiannya lumayan necis. Mr. Ganno adalah seorang pria tampan dan gagah yang berusia sekitar 20-an, bertubuh langsing dan lumayan dikagumi ibu-ibu komplek karena cakep, konon ia sering disamakan dengan Papa-nya Dulce Maria dari telenovela Carita De Angel (Hihihi, emang jaman segitu sudah ada Dulce Maria? Entahlah. Namanya juga FF jayuz, nggak usah diprotes). Orangnya tidak aneh-aneh dan normal-normal saja. Dia bekerja sebagai tenaga marketing sebuah biro travel.

Seperti para penghuni Privet Drive lain yang rajin bangun pagi untuk berangkat kerja dan hari itu terkejut dengan kehadiran para burung hantu, Mr. Ganno juga terheran-heran dengan banyaknya simpatisan demo burung hantu. ‘Wah, wah.’ Pikirnya. ‘Bahkan burung hantu pun agaknya bersimpati pada perjuangan Inul. Sampai-sampai pada turun ke jalan semua, apa burung hantupun suka ngebor yah?’ Hihihi.  Jayuz juga yah orang ini (Omong-omong, apa jaman dulu juga sudah ada Inul? Sekali lagi, ini FF jayuz! Suka-suka yang ngarang dong! jangan diprotes! Rewel amat sih kamu! Udah baca aja! Hihihi).

“Meong…”

Sebelum sampai ke mobilnya untuk menaruh berkas-berkas yang hendak ia bawa, Mr. Ganno menjumpai seekor kucing hitam yang berdiri kaku di pojokan rumahnya. Sepertinya ia mengamati rumah tetangganya, rumah Mr. Dursley.

Mr. Ganno sedikit tidak menyukai Mr. Dursley. Selain orangnya sombong, dia juga sangat aneh. Kabarnya pasangan Dursley sudah punya satu momongan yang diberi nama Dudley. ‘Puah, nama apa itu Dudley?’ batin Mr. Ganno sambil mencibir ke arah rumah keluarga Dursley. ‘Bayangin aja, Dudley Dursley. Whuah! Batapa jayuznya ngasih nama! Kalau aku punya anak laki-laki, akan aku beri nama… hmm… Barry Prima!’ Hihihi, ternyata Mr. Ganno juga sama aja jayuznya.

“Ha! Selamat pagi, Mr. Dursley!”

Sapa Mr. Ganno sok akrab sebelum masuk ke mobilnya. Sang tetangga, Vernon Dursley, mengangguk angkuh dan melambaikan tangan.

“Pagi, Mr. Ganno. Berangkat ke kantor pagi ini?”
“Iya. Anda sendiri kok belum berangkat?”
“Sebentar lagi, boss kayak aku kan memang harusnya datang belakangan.”
“Oh iya ya… kalau tidak salah anda bekerja di pabrik bor kan? Apa tuh namanya, Gelinding?”
“Grunnings, yang benar Grunnings. Iya, Pabrik pembuat bor.” Mr. Dursley melengos kesal dan masuk rumah kembali.

Mr. Ganno kembali melirik ke arah sang kucing.

Kucing yang berdiri di pojokan itu masih saja duduk tenang di sana sambil mengamati rumah keluarga Dursley. Mr. Ganno mengamati sang kucing dengan heran, ‘Kucing ini kok gerakannya aneh bener yah? Jangan-jangan sedang sakit? Kalau dilihat sih tubuhnya agak kurus, gerakannya kaku dan tidak sehat.’

Agak lama Mr. Ganno mengamati sang kucing, sebelum akhirnya memutuskan untuk mendekatinya. Kucing hitam itu langsung mengeluarkan keringat deras waktu sadar Mr. Ganno sudah berada disebelahnya. Mendadak sontak, Mr. Ganno mengangkat sang kucing sambil menjimpit tengkuknya! Ia pun segera membawa sang kucing hitam masuk ke rumah. Kontan aja sang kucing ngamuk-ngamuk dan meronta-ronta.

“Meong! Meong! Meong!”

“Eh kucing nakal… jangan meronta-ronta dong. Mau diberi makan nggak?” ujar Mr. Ganno sambil terus menenteng sang kucing dengan santai memasuki rumah. “Kayaknya masih ada sarden di dapur.”

“Meong! Meong! Lepaskan!! Dasar Muggle!!”

“He??!!” kaget juga Mr. Ganno mendengarkan suara sang kucing. Apa gak salah tuh barusan? Kayaknya si kucing ini bisa ngomong? Dia mendekatkan wajah sang kucing ke wajahnya sendiri dengan terheran-heran. “Kamu ngomong apa barusan?” tanya Mr. Ganno galak pada sang kucing.

“Muggle… err… maksudnya meong! Meong!” jawab sang kucing sambil berkeringat dingin. “Tadi cuma ngomong meong kok.”

“Oh ya sudah. Sutralah.” dengan cuek Mr. Ganno membawa sang kucing ke dapur.

Di sana sudah ada Mrs. Ganno. Pasangan muda ini adalah pasangan serasi, sang suami ganteng, sang istri cantik. Sayangnya mereka belum dikaruniai sepasang putra pun. Yah, mungkin memang belum saatnya. Tapi Mr. dan Mrs Ganno sudah memegang janji bersama, pokoknya dua anak cukup, laki perempuan sama saja. Hihihi, kok mirip iklan KB ya?

“Apa itu sayang?” tanya Mrs. Ganno yang sedang merebus indomie seleraku.

“Kucing kampung. Rada kurus, kasihan, mungkin dia laper. Sardennya masih kan? Kasih makan sarden aja yah. Saking lapernya gerakannya jadi aneh bener.”

“Masih kok.” Mrs. Ganno pun membukakan sekaleng sarden untuk sang kucing hitam yang kembali berkeringat deras itu.

‘Duh, dasar Muggle bebal. Terpaksa deh makan sarden.’ Batin sang kucing menangis dalam hati. ‘Daripada membuka penyamaran.’

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Malamnya.

Seorang laki-laki yang sudah tua berjalan dengan santai di trotoar Privet Drive. Oh ya, sudah tua sekali dia, sangat-sangat tua. Jelas dia bukan penghuni kompleks sini. Tadi aja sempat dilirik sama tukang ronda dengan curiga, dikira maling ayam, untungnya si tukang ronda akhirnya beli wedang ronde sembari mengobati rindu, jadinya cuek aja. Hihihi, asal banget yah.

Albus Dumbledore nama laki-laki tua ini.

Matanya yang berwarna biru disembunyikan di balik kacamata hitamnya. Dia juga mengenakan sepasang sepatu kets dan pakaian tennis berwarna putih, di tangannya tergenggam raket tennis berikut bolanya. Selain itu… eh, duh salah deskripsi nih, Hihihi.

Matanya berwarna biru terang, menatap tajam dari balik kacamata yang menuruni lekuk hidungnya yang berbentuk aneh, panjang dan bengkok. Pak tua ini mengenakan jubah berwarna ungu panjang dan memakai sepatu bot dengan gesper tinggi. Pandangannya begitu dalam dan bijaksana.

Pandangan pak tua itu langsung jatuh ke arah seekor kucing hitam bertingkah kaku di ujung jalan. Dia langsung tertawa cekikikan dengan geli. Sang kucing itu pun melengos gondok.

Albus Dumbledore mengeluarkan sebuah kotak korek api perak dari dalam jubahnya. Ia membukanya dan mengangkatnya ke atas. Satu persatu lampu jalan seakan tersedot ke arah benda itu. Setelah semua lampu padam, dia lalu memasukkan kembali benda itu kedalam jubahnya. Untunglah kejadian ini tidak ketahuan pihak PLN, soalnya bisa dituduh mencuri listrik.

Konon ada dua orang yang kebetulan berada di situ dan menyaksikan semua keajaiban yang dilakukan oleh Albus Dumbledore, satunya remaja dan satunya lagi anak-anak. Setelah menyaksikan adegan magis yang dilakukan sang penyihir tua, nasib kedua orang itu akhirnya berubah total, mereka yang tadinya skeptis jadi percaya sama dunia sihir. Yang gede, bernama Endang Kurnia, kelak akan menciptakan sebuah lagu berjudul “Mbah Dukun” yang laris manis, sedangkan temannya yang kecil, bernama Deddy Corbuzier. Hihihi.

Adegan sesudahnya tentu saja sama persis seperti apa yang dituliskan di buku Harry Potter yang pertama, jadi kalo mo detailnya, ya baca aja buku “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone”. Hihihi. Bukan apa-apa sih, penulis kan benernya orangnya males, capek lah kalo suruh nulis banyak-banyak apalagi detail.

Singkat cerita, ternyata kucing yang kaku mirip stupa candi tadi bukanlah kucing beneran, tapi penyamaran Profesor McGonagall. Tahu kan siapa itu? Nah, setelah datangnya Prof. Dumbledore ke Privet Drive, Prof. McGonagall akhirnya membuka penyamarannya. Mereka bercakap-cakap kesana kemari, antara lain membahas ‘Kau-Tahu-Siapa’ dan peristiwa naas yang menimpa kedua orang tua penyihir seorang bocah bernama Harry Potter. Satu-satunya orang yang selamat dari serangan Vold… err… ‘Kau-Tahu-Siapa’.

Tak lama kemudian, dengan diiringi tarian hula-hula dan pom pom girl dari cheerleader para penyihir, datanglah sang raksasa Hagrid sambil mengendarai sepeda motor pinjaman dari Sirius Black. Konon sepeda motor itu belum lunas cicilannya di tukang kredit, tapi ya sudahlah, kok penulis ya repot-repotnya ngurusin ya, dasar penulis usil.

Hagrid menyerahkan Harry Potter kecil kepada Dumbledore, dan dengan berat hati ketiganya meletakkan Harry di depan pintu rumah keluarga Dursley. Beberapa saat kemudian, ketiganya beranjak  meninggalkan Privet Drive setelah berdadah-dadah ria dengan si kecil Harry Potter diiringi tangis memilukan dari sang raksasa Hagrid. Begitu kira-kira ceritanya, kalau mau detailnya, sekali lagi… BACA NOVELNYA! Kamu kira gak capek apa nyalin novelnya lagi kesini. Hihihi.

Tapi tiba-tiba Hagrid menghentikan langkahnya, dan buru-buru berlari ke motornya.

“Ah iya! Profesor Dumbledore! Ada yang kelupaan!!”

Profesor Dumbledore dan McGonagall berhenti dan menatap Hagrid dengan heran.

“Apa yang kelupaan, Hagrid?” tanya Dumbledore sambil mendekati sang raksasa.

Tiba-tiba Hagrid menghadirkan sesosok bayi lagi!

“Si-…siapa ini??” tanya McGonagall tergagap-gagap. “Di-…dia… a-apakah… jangan-jangan… ti-tidak mungkin…”

“Ya, betul sekali, Profesor McGonagall. Ini Shaven, Shaven Terpot!” sahut Hagrid. “Anak ini juga selamat dari serangan ‘Kau-Tahu-Siapa’!”

“Shaven Terpot!! Jadi rumor itu benar adanya??” Profesor Dumbledore berdecak keheranan. Ia tidak menduga sama sekali kejadian ini. “Anak dari Aragorn dan Arwen Terpot!! Pasangan penyihir kenamaan yang beralih profesi sebagai pemain wayang orang!!”

Prof. McGonagall menatap si bayi lucu yang sedang tersenyum penuh kenakalan dengan tak percaya. “A-anak ini… keturunan dua pasangan jayuz itu? Astaga! Nampaknya ‘Kau-Tahu-Siapa’ benar-benar sial bertemu dengan anak ini. Bagaimana ‘Kau-Tahu-Siapa’ bisa lolos dari dia? Ceritakan padaku, Hagrid!”

Tapi bukan Hagrid yang menjawab pertanyaan itu, Profesor Dumbledore-lah yang menjawabnya dengan wajah muram, baru sekali ini dia pusing tujuh keliling, dulu di kampungnya, kalo ada orang pusing, biasanya disuruh pegangin puser dan menghadap ke arah barat, apa yah sekarang dia musti pegang puser juga? Kalo Harry sih bisa diyakini kelak akan menjadi seorang ksatria sihir yang bisa diandalkan. Lha kalo yang ini, kayaknya cuma bakal bikin sengsara orang se-Hogwarts.

“Dia berhasil selamat karena pipis.”
“Pi-pipis??” McGonagall melotot.

Dumbledore mengangguk dan mendesah. “Anak ini hampir mati dicekik Voldemort, untunglah dalam moment-moment yang menegangkan, tau-tau bayi ini pipis dan airnya nyemprot ke baju Voldemort. Voldemort marah-marah dan segera kabur untuk mencuci baju. Gagal membunuh Shaven, Voldemort beralih ke Harry kecil. Aku denger cerita ini dari radio. Tadinya aku pikir hanya rumor biasa.”

“……”

Akhirnya ketiganya terdiam. Diiringi sound effect musik mendayu-dayu dan background daun-daun berterbangan, ketiganya akhirnya bermain suit untuk memutuskan nasib Shaven. Hasil suit memutuskan, McGonagall-lah yang akan menentukan nasib hidup sang bayi yang masa depannya dipertanyakan itu.

Sambil melirik penuh makna ke rumah keluarga Ganno, McGonagall meletakkan bayi itu di depan pintu rumah pasangan Mr. dan Mrs. Ganno. Mereka pasti surprise sekali besok pagi. Ia juga meletakkan sepucuk surat di balik selimut sang bayi Shaven, lalu mengundurkan diri dan kembali bergabung bersama Hagrid dan Profesor Dumbledore.

Sebelum benar-benar pergi. Dumbledore mengamati dua bayi yang nantinya akan tinggal berseberangan itu. Dua anak yang kelak akan menjadi sangat terkenal. Yang satu akan menjadi terkenal berkat buku karangan JK Rowling dan film layar lebar dengan sekuel-sekuelnya, yang satu lagi cuma dikenal orang-orang tertentu yang hobi bikin fanfic. Hihihi…

Orang tua bijaksana itu mendesah dan memutuskan untuk segera pergi meninggalkan Privet Drive. Bukan karena buru-buru, tapi gara-gara si Hagrid kentut seenaknya. Buset baunya. Prof McGonagall yang tidak tahan dengan bau kentut si Hagrid juga segera kabur sambil mengubah wujudnya menjadi seekor kucing.

Hagrid yang ditinggal sendirian pulang mengendarai motor pinjamannya.


BERSAMBUNG KE Eps. 2 “Kacang Yang Lenyap”

shaven-note:
1. episode ini merupakan parodi dari bab pertama novel “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone” yang berjudul “Anak Laki-Laki Yang Bertahan Hidup”
2. kalo ada yg mau ngasih [C&C] alias komen dan kritik, ato ada saran, pujian, makian, makanan, hadiah, kado, ato apa kek, ke penulis, silahkan di topik [C&C] yah. Jangan di bawah sini, soalnya ini parodi bakalan diterusin sepanjang buku harpot [!]


-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

« Last Edit: February 01, 2007, 10:45:05 PM by shaven » Logged

harrypotterindonesia.com
« on: February 01, 2007, 10:00:28 PM »

 Logged
shaven
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +8/-2
Posts: 17



« Reply #1 on: February 01, 2007, 10:12:43 PM »

CHAPTER TWO
Kacang Yang Hilang





Sudah hampir sepuluh tahun sejak keluarga Ganno mendapatkan seorang bayi dengan tulisan nama ‘Shaven Terpot’ tertera di kain selimut sedang bobo manis sok imut di depan pintu rumah mereka. Hampir bersamaan dengan keluarga Dursley juga mendapati keponakan mereka, Harry Potter dititipkan kepada mereka entah oleh siapa.

Sebagaimana keluarga Dursley yang ‘merawat’ Harry, ...err... yah, kalau itu bisa dikatakan merawat, keluarga Ganno juga merawat Shaven, karena pada dasarnya Mr. dan Mrs. Ganno adalah orang baik, mereka tetap mempertahankan nama keluarga Terpot, mereka hanya menambahkan marga Ganno di belakang nama Terpot, sehingga kini, bocah jayuz itu bernama Shaven Terpot-Ganno, aih-aih, alangkah jayuznya itu nama. (^^;)

Setelah sepuluh tahun berlalu, tidak banyak yang berubah di Privet Drive. Semuanya masih sama saja, Mr. Ganno masih tetap rajin berangkat pagi-pagi ke kantor, oh iya, sekarang Mr. Ganno sudah naik pangkatnya lho di kantor. Mrs. Ganno masih setia membuatkan sarapan untuk Mr. Ganno. Tentu saja sarapannya berubah, Mr. Ganno kan sudah naik pangkat, masa sarapannya sama aja? Gengsi dong. Kalo dulu Mrs. Ganno hanya membuatkan indomie rasa ayam bawang buat Mr. Ganno, sekarang dia membuatkan indomie rasa soto mie... hihihi... sama aja ya... cuma ganti rasa...

Mr. Ganno mengambil berkas-berkasnya di mobil, hari ini hari sabtu dan dia libur. Perutnya juga sudah kenyang setelah makan indomie, sekarang enaknya ngapain yah, nggak ada kerjaan. Dia melirik ke arah rumah keluarga Dursley. Rumah keluarga paling menyebalkan di Privet Drive. Anaknya yang sekarang udah gede juga nakalnya minta ampun. Kalo main layangan suka nekat masuk rumah orang. Kalo cuma masuk sih gak masalah, lha si Dudley itu kadang-kadang mampir sambil minta snack atau minta minum. Hihihi, ini anak mau main layangan apa mau bertamu.

Mr. Ganno masih tidak melihat kehadiran Harry Potter pagi ini, apa bener tuh anak tinggal disini yah? Konon si Shaven bersahabat dengan Harry, tapi dia jarang-jarang melihat Harry disana, apa di sembunyiin sama Mr. Dursley? Kenapa disembunyiin yah? Mr. Ganno jadi penasaran, soalnya akhir-akhir ini sering nonton sinetron yang ceritanya penganiayaan anak, kayak Ratapan Anak Tiri-lah, Apa Salahku-lah. Ah, mumpung lagi jadi tokoh utama, sebaiknya dia menyelikidi... eheh... menyelidiki deng, wah... Srimulat sekali dagelannya. Dengan mengendap-endap bak double-o-seven (err... tau double-o-seven kan? Bolong-bolong tujuh! Si James Bond! Ealah, masa gitu aja nggak ngerti? Masa gitu aja musti dikasih tau sih? Jadi pembaca yang kreatif dong, jangan penulis terus yang-... *jleb* penulis yang sok gaya disate pake tusuk gigi oleh pembaca).

Sambil mengendap-endap dengan hati-hati (sempat digigit anjing belasan kali dan dipukulin satpam puluhan kali), akhirnya Mr. Ganno berhasil sampai di sebuah jendela yang terletak agak di pinggir rumah. Dengan penuh penasaran, Mr. Ganno mengeluarkan jurus andalan ‘intip-gaya-maling-ayam’. Di dalam rumah ternyata ada beberapa orang pemain band sedang memainkan sebuah lagu.

Lirikan matamu menarik hati,
oh senyumanmu manis sekali,
sehingga membuat aku tergoda...
sebenarnya aku ingin sekali,
mendekatimu memadu kasih,
namun sayang-sayang, malu rasanya,
biar kucari nanti caranya...


Lho? Kok penghuni rumahnya lain? Malah rombongan kelompok dangdut begini? Mr. Ganno keluar pekarangan rumah dan melirik tulisan di dekat pintu, ternyata ada tulisannya: ‘Rumah A. Rafiq’. Owalah, ternyata Mr. Ganno salah masuk pekarangan. Pantesan aja! Tiwas sudah mengendap-endap ala 007, ternyata dia salah rumah!  Ya jelas aja yang diintip lain.

Akhirnya Mr. Ganno bisa mengintip ke dalam rumah keluarga Dursley. Benernya ini gak baik lho, ngintip rumah tetangga, jangan ditiru yah, sodara-sodara. Please dont try this at home.

“Bangun! Cepet bangun!!”

Terdengar teriakan dari dalam rumah. Petunia Dursley, istri Vernon Dursley nampak sedang menggedor-gedor pintu lemari dibawah anak tangga. Mr. Ganno terheran-heran, waduh? Ada apa gerangan di bawah anak tangga? Jangan-jangan si Harry? Buset, masak kamarnya di lemari sih? Mestinya kan dirumah-rumahan anjing. Hihihi, malah tambah parah. Petunia berjalan ke arah dapur dan menyalakan api di kompor. Tidak berapa lama kemudian, Petunia kembali menghampiri tempat di bawah tangga.

“Sudah bangun belum, oi?”
“Belum, oi!”

Mr. Ganno tertawa cekikikan. Hihihi, si Harry Potter kurang ajar juga.

“Sudah bangun belum?” tanya Petunia sekali lagi.
“Hampir.” Jawab Harry.
“Cepetan, aku lagi masak daging, kamu yang ngurusin, dan awas kalo dagingnya gosong! Itu untuk ultah Duddy! Semuanya harus sempurna untuk ulang tahun Duddy!”

Terdengar erangan dari dalam. “Huh!”

“He? Kamu ngomong apa?” bibi Harry yang galak itu segera menghardiknya.
“A-anu... tadi aku ngomong... Huhip... Huhip... Huhray! Huhray! Dudley ultah!”

Akhirnya seorang anak berkacamata keluar dari lemari di bawah anak tangga. Seorang anak berkacamata dengan wajah kusut dan pakaian seadanya, rambutnya hitam dan matanya hijau terang. Nampaknya ia malas sekali menyambut hari ini. Harry Potter adalah seorang anak yang bertubuh kecil dan nampak kurus, dengan pakaian bekas berukuran besar yang dipakainya, ia jadi kelihatan lebih kurus dari seharusnya. Yang agak aneh, dia memiliki bekas luka berbentuk kilat di atas dahi.

Mr. Ganno jadi teringat. Shaven juga memiliki tanda yang sama... tapi di pantat... apa ada persamaan antara dua anak itu? Suatu ketika Shaven pernah menanyakan hal itu padanya tapi dijawab Mr. Ganno dengan santai.

“Ayah, kenapa aku punya tanda berbentuk kilat di pantat?”
“Kalau kamu punya tanda berbentuk kilat di pantat, Ayah punya tanda berbentuk balon Zeppelin di tempat yang sama.”

Dan sejak saat itu, Shaven tidak pernah menanyakan hal itu lagi pada Mr. Ganno.

Tak lama kemudian, keluarga Dursley berkumpul. Vernon yang selalu menyuruh Harry merapikan rambut, Petunia dan Dudley sendiri. Tak lama kemudian, seorang anak juga memasuki ruangan. Mr. Ganno terkejap, sepertinya ia pernah melihat anak itu, dimana yah? Pake topi bertuliskan ‘Juice’, dengan pandangan mata bandel dan wajah sumringah, menyebar senyum kemana-mana, rambutnya sedikit ikal dengan potongan cepak dan bola matanya berwarna hitam.

Mulut Mr. Ganno langsung menganga lebar. Itu kan SHAVEN! Ngapain dia nongol didalam situ?? Buset, bapaknya aja musti mengendap-endap kayak maling, eh si Shaven bisa seenaknya main selonong masuk ke dalam rumah keluarga Dursley. Dasar anak gila, siapa sih bapaknya? Eh dia sendiri ya? Hihihi. Tiba-tiba ada sepotong tangan menyentuh pundak Mr. Ganno.

“Ngapain disin-...”
“Huwaaaaaaaa!!” Mr. Ganno langsung berteriak kaget.

Ternyata yang datang itu istrinya sendiri, Mrs. Ganno.

“Sa-sayang! Kamu jangan ngagetin dong! Udah tau aku lagi ngintip, malah dikagetnya! Kamu gak tau apa kalo aku jantungan!” amuk Mr. Ganno.
“Lha kamunya juga gila! Ngapain pake ngintip-ngintip segala?” Mrs. Ganno tidak mau kalah.
“Err... kamu ngapain disini?”
“Itu lho, keluarga Dursley mengajak kita jalan-jalan ke kebun binatang.”
“He? Tumben, baik amat mereka?”
“Yah, gara-garanya, kemaren si Shaven mengancam Dudley, kalo gak diajak ke kebun binatang, dia akan menjadikan Dudley penghuni kebun binatang.”
“Waduh, anak kita kok preman amat yah, sayang...”
“Ya sudahlah, asal premannya sama Dudley doang aku gak masalah... dia memang butuh diberi pelajaran... anaknya bandel banget...”
“Ya, sutralah...”
“Ayo kita masuk aja...”
“Yuk...”

Dan masuklah mereka berdua menyusul Shaven ke rumah keluarga Dursley.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Shaven langsung masuk dan bertemu dengan Harry.
“Hai Harry!” sapa Shaven riang.
“...hai Shaven.” Ujar Harry sambil menaruh telur dan daging yang baru saja ia masak ke piring-piring. Ia lalu menatanya di meja yang penuh sesak.
“Disuruh masak lagi yah, Harry?” tanya Shaven sambil melihat anak itu dengan memelas.
“Iya nih... *keluh* ...bantuin dong Shave...”

Shaven langsung menelan beberapa helai bacon yang baru saja dimasak Harry.

“Err... maksudnya dibantuin menata, Shave. Bukan bantuin makan...” protes Harry lembut.
“Ow! Ow! Sorry...” Shaven buru-buru membantu Harry menata piring.

Kedua orangtua Dudley nampaknya sedang berkonsentrasi mempersembahkan hadiah ultah untuk Dudley sehingga mereka tidak memperhatikan Shaven dan Harry. Dudley nampaknya ngamuk-ngamuk karena jumlah hadiahnya tidak sebanyak tahun lalu. Akhirnya setelah dibujuk-bujuk dengan penuh upaya oleh kedua orangtuanya yang berjanji akan membelikan kado lagi hari ini, Dudley mau berhenti merajuk dengan manja.

Mr. dan Mrs. Ganno membunyikan bel pintu dan dipersilahkan masuk. Mereka duduk di dekat Dudley yang sedang asyik membuka-buka kado. Shaven duduk bersebelahan dengan Harry. Setelah ramah tamah dan basa-basi sesaat, kesibukan dilanjutkan lagi.

Tak lama kemudian, telpon berdering dan Bibi Petunia segera mengangkatnya. Rupanya kabar buruk, Mrs. Figg (wanita tua yang biasanya menjadi babysitter si Harry kalo Dudley diajak bepergian keluar rumah) terkena musibah, jempolnya patah waktu dia jalan-jalan naik Harley Davidson. Mrs. Figg seorang ibu-ibu tua yang rada-rada psycho, walaupun mungkin lebih waras daripada keluarga Ganno.

“Waduh, Mrs. Figg cedera?” tanya Paman Vernon cemas.
“Iya. Ini gara-gara dia keseringan ikutan rally sih...” jawab Bibi Petunia. “Sekarang bagaimana enaknya?”
“Kita bisa menghubungi Marge.” Usul Paman Vernon.
“Jangan bodoh, Vernon, dia membenci anak itu.”

Jelas-jelas Paman Vernon dan Bibi Petunia sedang membicarakan tentang Harry. Mr. dan Mrs. Ganno menggeleng-geleng, benar-benar keterlaluan mereka ini. Punya dua momongan tapi ya pilih kasih. Seharusnya mereka bisa merawat Harry dengan baik, sepertinya mereka terlalu memanjakan Dudley.

“Bagaimana dengan temanmu – Yvonne?”
“Liburan di Majorca.”
“Kalian bisa meninggalkan aku disini-...” jawab Harry.
“Kami bisa menjaganya.” ujar Mr. Ganno dengan tulus. “Aku dan Istriku akan-...”

Bibi Petunia melirik Mr. Ganno dengan sadis, ia berbisik dalam hati. ‘Yang bener aja... apa kalian pikir kami pengen pulang dan mendapati rumah kami sudah jadi abu? Kalian jauh lebih berbahaya kalo dibiarkan sendirian dibanding Harry.’

Tak lama kemudian Piers Polkiss (sobat si Dudley) datang bersama ibunya naik oplet. Oplet itulah yang akhirnya mereka naiki bersama-sama menuju bonbin (tau bonbin kan? Kebon binatang, sayang). Setelah gagal mendapatkan pengasuh, akhirnya Harry diajak juga pergi ke kebun binatang. Dia dan Shaven tidak lepas dari pandangan sadis Bibi Petunia, Dudley dan Paman Vernon. Mr. dan Mrs. Ganno tepuk tangan gembira dan bernyanyi-nyanyi sepanjang perjalanan, lha gimana lagi, ini juga pertama kalinya buat mereka pergi ke kebun binatang, hihihi kayak anak sekolah darmawisata aja kelakuan mereka.

Selama perjalanan, Shaven dan Harry saling membanding-bandingkan diri mereka, ternyata mereka amat mirip. Shaven dan Harry memang punya banyak kemiripan. 

Mereka sering mengalami hal-hal yang aneh-aneh. Seperti misalnya ketika bibi Petunia mencukur rambut Harry hingga nyaris gundul (meskipun meninggalkan kuncung ala Ronaldo untuk menyembunyikan bekas luka di dahinya), tiba-tiba dalam waktu semalam rambut Harry tumbuh kembali.

Hal yang sama juga berlaku pada Shaven. Setelah potong rambut di tukang cukur bawah pohon asem, gak tau kenapa tiba-tiba rambut Shaven bisa tumbuh seperti semula dalam waktu singkat. Mrs. Ganno yang banyak akal malah iseng mencukur rambut Shaven dengan rajin. “Lumayan.” Begitu kata Mrs. Ganno. “Kalau dikumpulkan bisa dijadiin wig, toh rambutmu nggak habis-habis ini.”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
« Last Edit: February 03, 2007, 07:11:05 AM by shaven » Logged

harrypotterindonesia.com
« Reply #1 on: February 01, 2007, 10:12:43 PM »

 Logged
shaven
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +8/-2
Posts: 17



« Reply #2 on: February 01, 2007, 10:16:31 PM »

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Hari itu adalah hari sabtu yang cerah dan kebun binatang begitu ramai oleh kedatangan keluarga-keluarga yang sedang berpiknik. Pasangan Dursley membelikan Dudley dan Piers es krim coklat yang segede monas sementara mereka meninggalkan Harry dengan tangan kosong. Mrs. Ganno yang kasihan akhirnya membelikan Harry es doger.

Shaven dan Harry menikmati hari itu. Mereka bercanda berdua dan bersenang-senang sepanjang hari, sementara jauh di depan mereka, Piers dan Dudley nampaknya sudah mulai bosan melihat binatang-binatang saat jam makan siang.

Setelah makan siang di restoran, kelarga Dursley dan Harry, Piers dan ibunya serta keluarga Ganno berpisah-pisah di halaman kebun binatang untuk beristirahat sebelum meneruskan lagi berjalan-jalan. Keluarga Ganno lebih memilih duduk-duduk di dekat taman, sementara keluarga Dursley menurut saja kemana Dudley pergi. Keadaan taman di situ sangat asri dan hijau, dengan tumbuh-tumbuhan yang dibentuk menyerupai binatang-binatang, ada tumbuhan yang dibentuk mirip gajah, ada yang dibentuk mirip jerapah, dan ada juga yang dibentuk mirip kuda berkaki tiga. Lho? Kenapa kaki si kuda cuma tiga? Olala, rupanya bapak tukang kebun terlalu pendek memotong tanaman itu sehingga kaki sang kuda kepotong satu. Hihihi.

Dudley dan Piers berlarian kesana kemari dan mendatangi tiap orang yang menjajakan makanan, sebisa mungkin mereka jajan sepuasnya, mereka melihat seorang penjual kacang dalam toples dan segera berlari kesana. Shaven sebenarnya sudah lebih dulu disana, dia pengen makan kacang, tapi bingung memilih kacang yang mana. Dudley dan Piers yang tidak mau ketinggalan juga menyusul Shaven, sementara Harry sedang disuruh Pak Dursley membeli hotdog.

“Membosankan.” Dudley bersungut-sungut dan meninggalkan Shaven di dekat tukang jual kacang garing karena segan berada di dekat Shaven. Tukang kacangnya sendiri sedang ngobrol tidak jauh dari situ dan meninggalkan dagangannya begitu saja.

Kacang-kacang di dalam toples itu bergerak perlahan dan sepertinya menumpuk di satu bagian toples yang paling dekat dengan Shaven. Mereka bergerak dengan sangat pelan dan anggun. Shaven kaget.

Mereka bergerak sendiri! Mereka mengangguk-angguk kearah Shaven.

Shaven terpana. Lalu dia melihat kekanan dan kekiri, kalau-kalau ada yang melihat. Tapi tidak ada yang lihat. Sang penjual kacang garing masih ngobrol sama tukang batagor. Keadaan sepi jali, tidak ada yang memperhatikan mereka. Shaven kembali melihat kearah para kacang dan balik mengangguk.

Para kacang mendekat kepinggir toples dan membentuk satu tulisan dengan menggabungkan diri mereka.

Tulisannya: “Halo”.
“Ha-halo....” Bisik Shaven ke dalam toples dengan sedikit terkagum-kagum.

Para kacang membentuk emoticon: “^^;”

“Ka-Kalian dari mana sih asalnya?” tanya Shaven.

Para kacang mengetuk-ketuk ujung toples yang berlabel. Shaven melirik label itu.

“Kacang Garing Bantul cap Burung Bulbul”

“Oh, kalian dari Bantul yah. Err... Bantul itu di mana?”

Kacang-kacang garing itu menunjuk kesalah satu arah di ujung toples. Mereka dihasilkan di pabrik, bukan dari Bantul. “Oh, I see... I see...” ujar Shaven. “Jadi kalian belum pernah ke Bantul yah?”

Kacang-kacang itu kompak menggeleng berirama dengan sedih. Persis kayak rombongan Soneta-nya Rhoma Irama kalo lagi main di panggung, gayanya kaku dan sok dikompak-kompakin. Tiba-tiba terdengar teriakan membahana dari Piers yang membuat Shaven dan para kacang melompat kaget.

“Dudley! Mr. Ganno! Marilah kemari hei-hei hei-hei, hei kawan, akulah disini, hei-hei hei-hei... eh kok malah nyanyi... Dudley! Mr. Ganno! Kemarilah! Lihat kacang-kacang ini! Kalian gak bakalan percaya deh! Ajaib!”

Dudley langsung berlari secepat mungkin dan maju ke depan mereka.

“Minggir dong!” kata Dudley sambil mendorong Shaven kesamping. Secara tidak sengaja, Shaven yang tidak siap didorong terjatuh. Apa yang terjadi selanjutnya sungguh diluar dugaan. Stoples berisi kacang-kacang yang mengajak omong Shaven tadi tiba-tiba lenyap dan kacangnya berhamburan ke jalan! Dudley dan Piers yang kaget melihat toples itu lenyap, lebih ketakutan lagi melihat kacang-kacang yang bebas melarikan diri dan berlompatan dengan riang gembira. Ini kejadian ajaib! Kalo ada koran gosip pasti langsung dipotret! Kedua anak nakal itu langsung melarikan diri ketakutan dan menyusul Harry masuk gedung, meninggalkan Shaven yang masih terbengong-bengong.

Shaven berdiri dengan lemas dan kebingungan. Masak sih toplesnya bisa lenyap mendadak? Mana mungkin? Apa toplesnya punya jurus ‘ngilang-deh-gue-sekejap-saja’? Atau mereka punya ilmu ‘hilang-toples-dari-pandangan-muncul-toples-dalam-lemari’? Entahlah. Yang lebih kaget lagi, tau-tau kacang-kacang yang amburadul itu beriringan kayak semut baris meninggalkan sang penjual kacang garing yang bengong. Kacang-kacang itu pergi dengan riang gembira. Selain beriringan seperti semut, ada juga yang melompat-lompat kayak lalat dan terbang kayak katak, eh kebalik deng. Orang-orang yang melihat kacang-kacang itu jadi ketakutan dan pontang panting berlari kesana kemari, ada yang masuk ke restoran (karena kebetulan emang laper), ada yang masuk WC (karena kebetulan emang perutnya mules kebanyakan makan cabe) dan ada juga yang cuek bebek (karena kebetulan emang masih keluarga sama bebek. Hihihi).

Begitu rombongan kacang garing itu melewatinya, Shaven bersumpah kalo mendengar mereka berbisik-bisik dengan senang. “Wah, akhire iso balik neng Bantul... matur nuwun yo Mas...” (terjemahan: ‘wah akhirnya bisa pulang juga ke Bantul, makasih ya mas. Kita bener-bener berterimakasih lho sama mas-nya. Masnya baik deh, udah ganteng, baik lagi... kapan-kapan kita mampir deh ke rumah masnya kalo pulang lagi kesini...’ hihihi, terjemahannya kok panjang amat).

Sementara itu, Penjual kacang garing bener-bener kaget setengah mati, dia bingung dimana toples kacangnya sekarang berada. “To-toplesnya... toplesnya kemana yak?? Masa bisa ngilang?? Waduuhh! Itu belum lunas tiga kali bayaaarr!! Eh, lho, tapi... huwaaaaa... kacang-kacang saya juga lenyap!! Waduh tekor deh dagangan hari ini... huwaaaaaaa... kacang saya lenyaaaaap...”

Mr. dan Mrs. Ganno yang menyaksikan kejadian itu langsung pingsan.

Tak lama kemudian, sang penjaga kebun binatang memberi Mrs. Ganno teh poci nan segar dan berbau harum khas Brebes untuk menenangkan syarafnya, tidak lupa dia juga memberikan nasi goreng  dan sate kambing sebagai tambahan, hihihi... ini mau menenangkan syaraf apa menyuguhkan makanan, yah. Dia minta maaf berulang-ulang oleh ulah kacang-kacang yang nakal itu. Mr. Ganno hanya bisa terkejut dan tak henti-hentinya kentut. Apa dia kaget juga? Oh tidak, dia hanya kebanyakan makan krupuk di warung tadi. Sampai di oplet sewaan, Mr. Ganno bertanya pada Shaven dengan pertanyaan aneh.

“Ayah tadi melihat kacang-kacang itu mengajak ngomong kamu pake bahasa Indonesia... bener?”
“Apa, Yah?” tanya Shaven lagi. “Kacang-kacang itu... ngapain?”

Shaven dan ibu angkatnya saling berpandangan. Lalu mereka melihat lagi bersamaan ke arah Mr. Ganno, lalu kembali berpandangan. Dan setelah beberapa kali adegan itu terulang, Mrs. Ganno dan Shaven malah tertawa terbahak-bahak. Mereka pikir Mr. Ganno sudah gila. Hihihi. Mr. Ganno pun ngamuk-ngamuk.

“Lho? Kan beneran tadi mereka ngajak kamu omong-omong!” amuk Mr. Ganno.
“Iya dear, tapi mereka nggak make bahasa Indonesia, tapi pake bahasa Jawa!” hibur sang istri.
“Eh?” Mr. Ganno bengong. “SAMA AJA!! Pokoknya tidak wajar kalo kacang bisa ngajak omong!!”

Hihihi. Dasar satu keluarga kacau semua.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Sudah hampir sepuluh tahun Shaven tinggal dengan keluarga Ganno, dibandingkan Harry yang tinggal dengan keluarga Dursley, nasib Shaven jauh lebih baik. Tapi sebaik-baiknya keluarga Ganno, mereka bukanlah orangtua Shaven. Entah bagaimana nasib orangtua Shaven yang sebenarnya.  Mr. Ganno hanya sering menyebutkan bahwa dia dan istrinya menemukan Shaven berada disebuah keranjang didepan pintu rumah mereka. Mr. Ganno nampaknya percaya bahwa dia dibawa kesitu oleh seekor burung bangau yang terbang dan mengantarkan bayi-bayi. Hihihi.

Ketika usianya lebih muda dari sekarang, Shaven sering ketemu dengan orang-orang yang berpakaian aneh-aneh di jalan. Kadang mereka mengenakan topi tinggi, baju jubah, dengan warna-warna yang aneh, boleh dibilang, kayak baju penyihir! Tapi tiap kali mereka bertemu Shaven, mereka selalu melarikan diri dan nampak ketakutan bertemu dengannya. Kira-kira kenapa yah? Apa mungkin mereka tahu sesuatu yang dia tidak tahu? Kenapa mereka pake baju yang aneh-aneh, dan kenapa mereka tidak mengikuti trend mode? Apa mereka tidak tahu kalo di mall terdekat sedang ada diskon pakaian hingga 70%? Kalo tahu ada diskon pasti mereka tidak akan mengenakan pakaian aneh-aneh semacam itu.

Di sekolah, Shaven hanya berteman dengan Harry Potter. Dengan hadirnya si kacau di samping Harry, rombongan Dudley yang gemar nyansakin Harry jadi rada kibat-kibit. Si Shaven itu kacaunya ampun-ampunan, mendingan gak cari masalah. Tapi kalo lagi sendirian, jelas Harry selalu jadi sasaran Dudley dan gangnya. Dan kalo Dudley dan gangnya lagi sendirian, mereka jadi sasaran Shaven.


BERSAMBUNG KE Eps. 3 “Onde-onde Misterius”

shaven-note:
1. episode ini merupakan parodi dari bab kedua novel “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone” yang berjudul “The Vanishing Glass”


« Last Edit: February 03, 2007, 07:17:07 AM by shaven » Logged

shaven
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +8/-2
Posts: 17



« Reply #3 on: February 01, 2007, 10:21:35 PM »

CHAPTER THREE
Onde Onde Misterius





Kejadian dengan kacang-kacang yang melarikan diri ke Bantul membuat nama Shaven Terpot  terkenal di seantero pabrik kacang. Saking terkenalnya, banyak wartawan koran gosip yang memburu-buru bocah tengil itu kesana kemari. Dasar kegeeran, diapun sok cuek menanggapi koran-koran itu dengan ucapan “No Comment.” Konon Shaven diajari mengucapkan ‘No Comment’ itu oleh Desy Ratnasari yang seperti Shaven dulu juga sering nongol di acara infotainment.

Tapi koran-koran gosip terus memburu Shaven tanpa mengenal lelah, apalagi setelah didoping oleh obat kuat seperti M190 Bisya! Atau Sakatombe Jreng-jrengejrengejreng (dibaca sambil meliukkan pinggul ala Inul, para pembaca dipersilahkan mencoba di depan keramaian… kalo gak tau malu… hihihi…). Walhasil Mr. dan Mrs. Ganno terpaksa harus menyembunyikan bocah itu di dalam rumah selama berminggu-minggu untuk menghindari gosip yang mungkin muncul. Akhir-akhir ini banyak isyu gak jelas yang bermunculan dan membuat kacau. Bahkan beberapa kali nama Shaven muncul di koran dan dikait-kaitkan dengan pemboman pabrik kacang di Irak. Emangnya teroris (^^;).

Saat diperbolehkan keluar rumah kembali, liburan musim panas sudah dimulai. Kejadian aneh-aneh kembali dimulai. Penulis males seperti saya pun akhirnya tergerak untuk kembali mengetik. Huwaahhh…

*penulis tekuk-tekuk tangan sembari menggebrak-gebrak keyboard*

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Harry Potter dan Shaven Terpot sering berjalan-jalan bersama keliling komplek. Kadang jalan, kadang naik sepeda. Eh sepedanya bagus lho, sepeda roda dua, kudapat dari ayah, karena rajin sekolah. Hihihi.

Seperti hari itu mereka bersepedaan berdua dengan mesra, seperti layaknya Romi dan Yuli, err...  perumpamaannya kurang cocok yah... seperti layaknya Tom and Jerry... err... in juga kurang cocok, hmm... kalau begitu mereka layaknya Bona dan Rong Rong, hihihi. Pokoknya mereka lagi asyik bersepedaan keliling komplek, sesekali mencari layangan putus. Konon si Harry senang sekali dengan kegiatan luar ruangan, berhubung dia sering dijahatin kalo di rumah.

“Jadi September mendatang si Dudley masuk ke Saltings ya?” tanya Shaven suatu ketika.
“Smeltings. Iya, sekolahnya paman Vernon dulu.” Jawab Harry.
“Ow. Dan Piers?”
“Piers Polkiss? Setali tiga uang. Dia juga masuk ke Smeltings.”
“Dan kita berdua masuk Stonewall High.”
“<keluh> Iya. Stonewall.” Harry melanjutkan lagi. “Dudley bilang di hari pertama masuk sekolah di Stonewall, kepala kita akan dimasukkan ke toilet.”
“Hahahaha! Cool!”
Harry melirik orang aneh disebelahnya. “Ya. Cool.”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
 
Suatu hari, Bibi Petunia mengajak Dudley berjalan-jalan ke London untuk membeli pakaian seragam Smeltingnya. Dia menitipkan Harry pada keluarga Ganno. Hari itu kebetulan Shaven sedang memotong rumput di halaman rumahnya, Harry pun dengan senang hati membantu.

“Pos pos!”

Pak Pos bermotor oranye terlihat meninggalkan kotak surat di depan rumah keluarga Ganno sambil melambaikan tangan pada Shaven. Shaven pun membalas dengan mesra. Shaven menghampiri kotak surat dan mengambil beberapa surat tagihan, majalah Donal Bebek, satu kartu pos dan satu paket...

Eh? Paket? Paket apaan? Buat siapa nih? Eh? Buat Shaven Terpot??

Dengan semangat 45, Shaven lari dan segera membuka paket itu begitu sampai di dalam rumah. Ternyata isinya sekotak onde-onde!

Harry menghampiri Shaven yang nampak terdiam saja dengan kiriman paket berisi onde-onde di tangannya. Sebelum sampai di sebelah Shaven, onde-onde itu tiba-tiba saja bergerak dan terbang mengelilingi ruangan!

Waaahhh!! Ajaib!!

Shaven mencoba mendengarkan kicauan onde-onde yang berterbangan. Hati Shaven begitu berdebar-debar. Belum pernah seumur-umur dia mendapat kiriman apapun. Apalagi sepaket onde-onde terbang. Siapa yah yang ngirim? Dia tidak punya teman ataupun saudara. Dia juga jarang jalan-jalan ke pasar malam buat beli onde-onde, kok sekarang ada kiriman onde-onde ajaib? Kenapa kok bukan... bolang-baling? Itu lho kayak Dora Emon... “Bolang Baling Bambu!”... hihihi... ini sih plesetan.

Tapi onde-onde itu tidak cuma terbang dan berkicau, mereka juga menyebar-nyebar kertas. Kertas-kertas yang dibawa kaum onde-onde itu bertebaran di udara, membuat kotor seantero rumah. Biarpun lumayan banyak dan bisa dijual kiloan, tetap saja rumah keluarga Terpot bakalan morat-marit karena kertas dimana-mana.

Tapi kata-kata yang diucapkan oleh kaum onde itu begitu jelasnya sehingga tidak mungkin dia salah mengenali.

Andaikata onde-onde berbulu-bulu,
Sudah sering makan dengan rakus,
Ada kabar yuhu-yuhu,
Untuk Shaven Terpot nan jayus.


Shaven sudah mau protes mendengar puisi nan maksa itu, tapi para onde segera meneruskan lagi.

Gak usah protes kalo puisinya maksa,
namanya juga onde-onde yang bicara,
sudah untung dikasih sajak penuh makna,
daripada murung dan gundah gulana.


Harry mengambil salah satu kertas yang tadi berterbangan di udara.

Mr. S. Terpot
7 Privet Drive
Little Whinging
Surrey


Kertas itu ternyata sebuah amplop dengan nama Shaven di bagian depan, kertas yang cukup tebal dan berat, terbuat dari kulit lumpia yang kekuning-kuningan, dan alamat Shaven tertulis dalam huruf ijo yang tercetak tebal kontras dengan warna kulit lumpia. Tanpa perangko dan tanpa cap kantor pos manapun, mungkin pengirimnya malas ke kantor pos. Padahal kan dekat dari sini, cuma lima ribu perak kalau naik becak, hihihi...

Ketika membalik amplop itu, tangan Shaven bergetar. Harry yang mengintip dari balik punggung Shaven melihat cap lilin berwarna ungu dengan hiasan singa, elang, luak (eh Badger itu bahasa Indonesianya luak kan?) dan ular mengitari huruf H.

“Shaven!” teriak Mr. Ganno dari dalam dapur. “Indomie-mu keburu dingin.”

Shaven beralih ke dapur, menatap suratnya dengan takjub. Dia menyerahkan tumpukan tagihan dan kartupos pada Mr. Ganno, lalu duduk di kursi dan mulai membuka amplop suratnya.

Mr. Ganno merobek surat tagihan kredit panci, melenguh malas dan membalik kartu pos di hadapannya.

“Kartu pos dari Mona. Dia sakit.” Ujarnya pada Mrs. Ganno. “Katanya si Mona nekat makan sambel goreng burung pipit campur pepes sandal jepit dan akhirnya jatuh sakit. Sepertinya kita harus merawatnya beberapa hari ini...”

“Dad!” teriak Shaven genit. “Dad, aku dapat sesuatu!”

“Apa itu?” tanya Mr. Ganno.
“Surat dari onde-onde!” jawab Shaven kemudian.
“Ande-ande? Ande-ande lumut?”
“Yee... bukan ande-ande! Onde-onde!”
“Oh, yang buat sanggul rambut?”
“Itu konde!”
“Konde itu bukannya nama minuman dari Jawa? Wedang konde?”
“Itu RONDE!!”
“Ya-ya... jadi inget lagu... olala, Putri Ronderonde...”
“Itu Putri Sarinandeeee!!!”

Harry cekikikan sendiri mendengar percakapan ayah-anak yang rada susah nyambung itu.

Apa yang ditemukan Shaven memang rada-rada aneh dan unik. Ada onde-onde terbang yang sibuk ngoceh kesana-kemari seperti seekor burung yang lincah sambil membawa-bawa terbang bungkusnya dan beberapa pucuk surat. Saat hendak diambil oleh Mr. Ganno, ternyata onde-onde itu malah melarikan diri sambil sibuk ngoceh kesana-kemari.

“Woiiii... kembali!” teriak Shaven memanggil onde-ondenya.

“Ngomong apa sih onde-ondenya?” kening Mr. Ganno berkerut, mencoba mendengarkan apa yang sedang diocehkan oleh onde-onde itu, wajah Mr. Ganno berubah pucat pasi saat menangkap kata-kata yang diucapkan sang onde-onde, pucatnya sama persis waktu mendapati Shaven pipis di WC umum tapi kelupaan membuka celananya.

“S-s-sayaaaaang!” Mr. Ganno pun memanggil istrinya.

Shaven mencoba menangkap sang onde-onde nakal yang masih saja terbang kesana-kemari, Harry juga terpaksa ikut-ikutan mengejar benda unik itu. Karena sibuk mengejar, Shaven dan Harry tidak memperhatikan apa yang sedang diucapkan oleh sang onde-onde. Mrs. Ganno penasaran, dia mencoba mendengarkan apa yang diucapkan sang onde-onde... dan wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Ia langsung memeluk sang suami tercintanya dengan shock.

"Sayangku! Oh demi dewa – Onde-onde itu...!" teriak Mrs. Ganno histeris.
“Ya... ya... begitu mengerikan...” Mr. Ganno memeluk sang istri dengan sedih.

Mereka saling berpandangan, kelihatannya lupa bahwa Harry dan Shaven masih saja sibuk gedebugan mengejar onde-onde kesana-kemari.

"Sayangku! Oh demi dewa – Onde-onde itu...!" teriak Mrs. Ganno histeris lagi.
“Ya... ya... begitu mengerikan...” Mr. Ganno menangis.
Mrs. Ganno menatap suaminya gamang. “Onde-onde itu ngomong apa yah? Aku kok gak ngerti sama sekali.”

Gubrags!

Mr. Ganno jatuh ngejengkang. Ternyata sedari tadi Mrs. Ganno gak ngerti toh, tiwas udah pasang action memelas dengan segenap upaya. Hihihi, dasar jayuz.

“Kalian berdua! Keluar!” ujar Mr. Ganno dengan parau. Dia memandangi onde-onde yang meringkuk di pojokan sambil menggigiti ujung meja. Hihihi, itu onde-onde apa tikus?

Shaven tidak beranjak dari tempatnya. Dia masih kebingungan melihat kenapa sang ayah jadi tegang.

“Kenapa Dad?” tanyanya kemudian.
“Err, kayaknya ayahmu sedang serius yah?” ujar Harry.
“Ada sesuatu yang aneh dengan onde-onde itu, tapi ayah butuh waktu konsultasi dengannya.” Jawab Mr. Ganno mengincar sang onde-onde bak Tommy Lee Jones sedang menatap Harrison Ford dalam film The Fugitive. “Kalian keluar dulu.”

Dengan kebingungan, Shaven dan Harry menurut saja, mereka keluar dari ruang tamu, begitu juga Mrs. Ganno.

“Err... sayang?” tanya Mr. Ganno sambil bengong.
“Ya, honey?” istrinya yang lugu menjawab ketika hendak melangkah keluar menyusul Harry dan Shaven.
“Kamu mau kemana?”
“Katanya disuruh keluar?”
“YA MEREKA ITU YANG KUSURUH KELUAR! KAMU DISINI AJAAA!”
“Ow!”

Hihihi. Dasar Mrs. Ganno kadang-kadang suka gak nyambung.

Dari luar ruangan, Shaven dan Harry memutuskan untuk nguping. Abis gimana lagi cara mencari tahu apa yang sedang terjadi di dalam ruangan kalau pintunya kemudian ditutup rapat.

“Sayang,” Mrs. Ganno terbata-bata mengucapkan kata-katanya, “Yang dia ocehkan itu... jangan-jangan... apa mungkin mereka...? Oh mengerikan!! Sungguh mengerikan!! Tak kuduga nasib kita akan seperti ini!! Celaka! Celakalah!!”
“Kamu ngomong apa sih??” tanya Mr. Ganno bingung. “Kok nggak jelas gitu?”
“Yah, ini kan sekedar aksi aja, siapa tau setelah baca fan fiction ini ada yang tertarik menarikku kembali dalam fan fiction-fan fiction lain, maklumlah, sekarang rada susah dapat kerjaan sayang...” hihihi. Emangnya aktris sinetron Indonesia, dasar Mrs. Ganno memang kadang-kadang suka ngawur.

“Eh, tapi beneran nih...” lanjut Mrs. Ganno sambil gemetaran (Apakah dia gemetar ketakutan karena adanya onde-onde yang terbang itu? Olala, ternyata Mrs. Ganno gemetaran karena dia sedang mencabuti kubus-kubus es batu yang ngendon lama di freezer...hihihi...) “Coba dengar apa kata mereka, onde-onde itu nyebutin alamat kita dengan jelas! Mereka juga tahu dimana si Shaven ngumpetin kolornya yang udah bolong-bolong! Menurutmu apa mereka mengamati dan menyelidiki rumah kita?”

“Mengamati... menyelikidi... mungkin bahkan mengikuti kita kemana-mana...” Mr. Ganno mengangguk.
“Menyelidiki.” Mrs. Ganno membenahi ucapan suaminya.
“Lha ya itu yang betul!”
“Tadi bilangnya menyelikidi.”
“Salah! Yang betul menyelidiki.”
“Lha iya, tadi kan bilangnya menyelikidi...”
“Itu salah! Yang betul menyelidiki...”
“Weladalah, suamiku tersayang kok Srimulat sekali...”
“Menyelikidi!”
“Walah! Salah lagi kan, ...menye... ayo ikuti... menye...”
“Menye...”
“Li-“
“Li-
“Diki...”
“Diki.”
“Menyelidiki!”
“Menyelikidi... wazzahhh... menyelimimiki... hayaaa~”

“Suamiku...” tanya Mrs. Ganno serius. “Lalu apa yang harus kita lakukan? Mengirim onde-onde ini kembali pada pengirimnya yang semula? Padahal kita tidak tahu siapa pengirimnya. Apa mungkin Pak Toyib sang penjual gorengan?”
“Tadinya aku pikir ini juga ulah Pak Toyib, ternyata bukan. Pak Toyib tidak menjual onde-onde, melainkan hanya tempe mendoan dan pisang goreng. Sedangkan bolang-baling dan onde-onde bukan keahlian Pak Toyib.” Jawab Mr. Ganno.

Dua mahkluk kecil Shaven dan Harry masih saja asyik mengintip. Kadang cekikikan, kadang pingsan. Apalagi kalo pas Shaven kentut, uwah, si Harry langsung terkapar.

“Lebih baik kita cuekin saja, sayang.” Ujar Mr. Ganno pada akhirnya. “Yah, kita cuekin saja deh. Daripada kalo didengerin malah bikin puyeng kepala... Itu jalan yang terbaik. Kita diemin aja biar nyaho~...”
“Akan tetapi Fernando Jose, Maria Mercedes adalah gadis yang baik.”
“Fernando Jose? Maria Mercedes?” Mr. Ganno bingung. “Kamu ini ngomong apa? Kok nggak nyambung?”

Sunyi sesaat. *Hyung~*

Mrs. Ganno langsung bolak-balik naskah. “Errr... hihihi, mohon maap, sodara-sodara... itu tadi salah naskah. Yang itu tadi buat telenovela.”

Harry dan Shaven yang udah serius-serius nguping jadi gedubrakan jatuh ngejengkang.

“Kita mungkin tidak bisa mengawasi dan membantu Shaven selama krisis onde-onde ini, Sayang.” Kata Mr. Ganno. “Kita harus pergi untuk merawat Mona dan kita tidak bisa mengajak Shaven.”
“Tapi...”
“Ada baiknya kita menitipkannya pada keluarga Dursley selama kita pergi.”
“Tapi...”
“Aku tahu... memang menyebalkan, tapi kita harus melakukannya, Sayang.”
“Tapi Fernando Jose...”
“APAAN SIH!”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Sorenya, Mr. Ganno duduk bersama Shaven di beranda rumah.

“Jadi, Dad.” Shaven bertanya. “Dimana surat-suratku? Siapa yang mengirim?”

“Dad juga tidak begitu tahu soal itu, aneh juga, onde-onde yang bisa berbicara itu sepertinya amat mengenal kondisi rumah kita dan keadaanmu sampai sedetail-detailnya, ajaib banget. Tapi onde-ondenya sudah dibungkus dan kulit lumpianya sudah dimasak. Lumayan buat oleh-oleh untuk Tante Mona yang sedang sakit.” Jawab Mr. Ganno.

“Dad dan Mom mau pergi ke tempat Tante Mona yah?”
“Iya. Maaf Shaven, tapi kami harus merawatnya. Kamu sementara kami titipkan pada Keluarga Dursley.”

Shaven mengeluh. Tapi paling tidak dia bisa tinggal bersama Harry untuk beberapa hari.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Rumah Keluarga Dursley ada empat kamar. Satu untuk Paman Vernon dan Bibi Petunia, satu untuk tamu, satu untuk Dudley dan satu lagi tempat Dudley biasa menyimpan mainan dan benda-benda yang tidak muat masuk ke kamar tidurnya seperti pohon rambutan dan lapangan tenis.

Gara-gara kedatangan Shaven ke rumah keluarga Dursley, satu kamar terpaksa dikorbankan untuk bocah jayuz itu dan Harry Potter. Kamar itu adalah kamar bermain Dudley. Setelah dititipkan dengan paksa pada Keluarga Dursley, Shaven dan Harry memindahkan barang-barang dari ‘kamar Harry’ yang berada di bawah tangga ke kamar bermain Dudley.

Dudley yang takut setengah mati pada Shaven hanya bisa merengek pada ibunya. “Jangan biarkan dia lama-lama tinggal disini... aku butuh kamar itu...”

Untuk pertama kali dalam sejarah, Harry dan Shaven bisa menarik nafas lega dan tidur tenang di rumah Keluarga Dursley.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Keesokan paginya, saat sarapan bersama, semua yang hadir di meja makan hanya terdiam saja tanpa mengatakan sepatah katapun, termasuk penulis yang diberi jatah roti tawar selai nanas oleh Harry.

Seperti yang pasti sudah kalian semua ketahui, seperti halnya Shaven, ternyata Harry juga mendapat kiriman surat ajaib yang seabrek-abrek, walaupun cara pengirimannya tidak menggunakan paket onde-onde dan kulit lumpia, tapi tetap saja surat-surat itu membuat Paman Vernon seperti kebakaran jenggot karena sepertinya dia dan Bibi Petunia tahu dari mana surat untuk Harry dan Shaven itu berasal. Beberapa kali Paman Vernon musti bergulat dengan Dudley, Shaven dan Harry untuk berebut surat-surat itu, beberapa kali pula tukang lumpia yang biasa mangkal di komplek sebelah ikut bergulat dengan mereka untuk mendapatkan kulit lumpia gratis.

Hari Jumat, tidak kurang dari 12 surat dan 10 kulit lumpia dikirim ke rumah keluarga Dursley. Surat-surat, paket onde-onde dan kulit lumpia makin hari makin membuat rumah keluarga Dursley kumuh. Paman Vernon sudah mencoba menutup semua celah dan lubang yang mungkin dimasuki surat sekecil apapun, saking semangatnya, Paman Vernon bahkan menutup lubang WC! Dih, gak berani bayangin gimana kalo mereka kebelet ‘ke belakang’!

Hari Sabtu, masalah kiriman surat dan kulit lumpia mulai membuat Keluarga Dursley kewalahan. Entah dari mana datangnya surat-surat untuk Harry dan Shaven itu. Paman Vernon sudah menyampaikan pidato protes berapi-api kepada pihak kantor pos yang tidak tahu menahu mengenai pengiriman itu sementara Bibi Petunia kerepotan memasak lumpia yang seakan tidak ada habisnya. Bahkan Dudley jadi sangat terkagum-kagum dengan ulah pengirim surat yang makin hari makin ngotot mengirimkan suratnya pada Harry dan Shaven.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
« Last Edit: February 03, 2007, 07:20:22 AM by shaven » Logged

shaven
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +8/-2
Posts: 17



« Reply #4 on: February 01, 2007, 10:27:07 PM »

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Minggu pagi, Paman Vernon duduk di meja makan kelihatan sangat sakit dan kelelahan, tapi sepertinya senang.

“Tidak ada tukang pos di hari minggu.” Getarnya gembira. “Tidak ada surat hari in...”

BRUAAALLL!!

Dari dalam cerobong asap, surat-surat berterbangan ke seluruh penjuru rumah keluarga Dursley. Bibi Petunia dan Dudley melarikan diri ke ruang tengah, Harry dan Shaven yang sedang asyik bereksperimen dengan ulat bulu di tanaman milik Bibi Petunia juga ditarik keluar oleh Paman Vernon.

“Grrr... cukup sudah!!” maki Paman Vernon kesal. “SEMUANYA KELUUAARR!!”

Paman Vernon membanting pintu.

“Cukup sudah!” katanya. Dia berusaha setenang mungkin tapi kumisnya yang mirip Jojon bergerak-gerak saking emosinya. “Aku ingin kalian semua kembali kesini dalam lima menit! Kita akan meninggalkan tempat sial ini! Kita akan pergi! Kemas beberapa potong pakaian, gak perlu bawa satu lemari, cukup bawa satu kontainer! Jangan lupa bawakan penulis donat (hihihi...)! Gak boleh ada yang protes!”

Beberapa saat kemudian, keluarga Dursley plus Shaven Terpot-Ganno sudah meluncur dalam mobil Paman Vernon melalui jalan tol Cawang. Dudley tersedu sedan di kursi belakang karena Paman Vernon memukulnya berulang kali setelah dia berusaha memasukkan kulkas ke dalam ranselnya.

Entah sudah berapa jam mereka berkendaraan, pokoknya lama sekali. Bibi Petunia tidak berani bertanya apapun pada Paman Vernon. Mereka tidak berhenti di warung untuk minum atau makan. Ketika hari mulai gelap, Dudley melolong pedih, dia baru saja melalui hari terburuk sepanjang hidupnya. Dia lapar, melewatkan lima acara TV yang paling dia sukai dan dia belum pernah bepergian lama tanpa sekalipun membaca entry baru di forum HarpotIndo ataupun membaca lanjutan kisah The Rays of Avera di forum Aestera.net (hehehe...).

Paman Vernon berhenti (akhirnya... penulis juga mulai capek mengejar mobil Paman Vernon yang zigzag gak karuan) di sebuah hotel kumuh dan kecil di luar kota yang mungkin menjadi lokasi film ‘Psycho’. Dudley, Shaven dan Harry berbagi kamar dengan dua tempat tidur dan satu kasur tambahan, tentunya dengan seprei yang diragukan kualitas higienisnya. Seperti biasa, setelah dua menit menyentuh kasur, Dudley langsung ngorok. Shaven tidur tidak lama setelah Dudley, kalo soal tidur dia juga sama hebatnya. Hanya Harry yang masih terjaga sampai pagi dan sibuk bertanya-tanya dalam hatinya...

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Paginya.

Keluarga Dursley, Harry dan Shaven sedang sarapan dengan bubur ayam dan lontong sayur ketika sang pemilik hotel bertampang lebih parah dari Tukul Arwana menghampiri mereka.

“Err... anu... monghon maap. Tapi anu... apa ada di antyara kaliyan yang memiliki nama yaitu H. Potter dan S. Terpot? Lha ini ada syurat-syurat gak tau darimana... ada numpukh di halamant belakangh. Kami radah kerepotanh mengurusnyah.”

Pemilik itu mengangkat dua surat di genggaman tangannya. Satu surat biasa, satu lagi kulit lumpia. Paman Vernon terbelalak menatap alamat tertulis di surat dengan tinta hijau terang.

Mr. H. Potter
Room 17
Railview Hotel
Cokeworth

Mr. S. Terpot
Room 17 Extra Bed
Railview Hotel
Cokeworth


Harry dan Shaven sudah siap mengambil surat itu tapi Paman Vernon langsung mencegah mereka. Pemilik hotel menatap Paman Vernon heran.

“Saya yang akan mengurus surat-surat itu.” Kata Paman Vernon. Dia bangkit dan mengikuti sang pemilik hotel.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Apa tidak sebaiknya kita pulang saja ke rumah, Sayang?” usul Bibi Petunia. Tapi Paman Vernon cuek bebek.

Berjam-jam berlalu, Paman Vernon bagaikan mengajak Bibi Petunia, Dudley, Harry dan Shaven berkeliling dunia, keluar masuk hutan rimba, naik turun gunung dan lembah, pergi ke Timbuktu, pokoknya ke seluruh tempat terpencil yang sebisa mungkin jauh dari peradaban.

“Apa Daddy sudah mulai gila?” tanya Dudley pada Bibi Petunia saat Paman Vernon memarkir mobil di tepi pantai yang sepi, mengunci mereka semua dari luar dan menghilang entah kemana.

Hujan mulai turun. Tetesan air hujan segede jagung membombardir atap mobil. Dudley mulai merengek. “Ini hari Senin.” Kata Dudley pada ibunya. “Ada acara Extravaganza di TransTV. Aku pengen nonton Aming, ayo cari tempat yang ada tv-nya!”

Senin. Harry tertegun, kalau ini hari Senin, maka besok pasti hari Selasa! Bener kan? Iya dong! Pinter! Kalau sekarang Senin, gak mungkin besok hari Jumat! Harry dan Shaven berpandangan. Kalau sekarang hari Senin, maka besok hari Selasa, dan mereka berdua akan merayakan hari ulang tahun mereka yang ke-11. Walaupun ulang tahun Harry tidak pernah menyenangkan, Shaven dan Harry selalu merayakannya berdua. Tahun lalu, Paman Vernon memberi kado kaos kaki bekas dan gantungan baju pada Harry, masih mending dibanding Shaven yang sangat bahagia sewaktu mendapat kado kardus indomie bolong dari Mr. Ganno. Hihihi...

“Haha! Sudah kutemukan! Akhirnya! Tempat yang luar biasa sempurna! Ayo semuanya! Keluar!” ujar Paman Vernon sambil tersenyum lebar ketika dia kembali.

Cuaca sangat dingin diluar mobil. Paman Vernon menunjuk ke arah batu-batuan besar di lautan. Nangkring di ujung bebatuan itu terdapat sebuah gubuk yang mungkin jadi inspirasi lagu ‘Gubuk Derita’-nya Hamdan ATT. Gubuk itu sepertinya juga berfungsi sebagai mercusuar, meski keefektifannya masih diragukan mengingat kondisi gubuk yang parah.

“Kayaknya malam ini bakal ada badai besar!” kata Paman Vernon ceria sambil menepuk-nepuk tangan dengan senang. “Sungguh sangat menguntungkan bapak ini mau menyewakan perahunya pada kita.”

Seorang pria tua bergigi ompong bercelana bolong dan sepertinya hobi makan kacang polong menunjuk ke arah benda mengambang dengan pita merah jambu (walah genitnya...). Sekilas lihat benda mengambang itu mirip sepatu bot bekas yang dijahit jadi satu, tapi jangan salah, benda itu adalah perahu, sodara-sodara. Sepintas lirik saja sudah bisa dipastikan kalau perahu itu sebenarnya tidak pantas pakai, kalo ibarat makanan kaleng sudah kadaluarsa.

“Terima kasih, Bapak. Anda baik sekali.” Ujar Shaven sopan.

“Saya sih tidak masalah, siapa juga yang mau menyewa perahu bocor. Hehehe...” si bapak tua pemeran pembantu bergigi ompong itu terkekeh-kekeh bahagia mengantungi beberapa lembar duit pemberian Paman Vernon.

Perjalanan mengarungi pantai sungguh amat dingin. Sumpah! Dingin banget, saking dinginnya ingus Dudley yang baru keluar dari idung aja langsung berubah menjadi es batu asin. Hiyeeeeeek!! Jorooooookkk!! Setelah perjalanan berjam-jam, akhirnya mereka sampai di sebuah gubuk bertingkat yang di atas atapnya terdapat lampu sorot besar.

Suasana di dalam gubuk sungguh sangat menyeramkan dan menyedihkan. Bau-bauan yang kurang sedap memancar bak obat nyamuk beraroma terasi bakar rangkap tiga. Selain itu, macam-macam bentuk mahkluk hidup mendiami gubuk ini, cicak, kecoak, jangkerik, kura-kura, lele, bawal, udang, gurameh (hihihi, emangnya pemancingan). Tapi beneran deh, gubuk ini kacau balau. Langit-langitnya banyak yang bocor, dindingnya sudah lapuk. Kondisinya menyedihkan, mungkin hanya penulis sendiri dengan dana terbatas yang mungkin mengontrak rumah ini. Konon setelah menyaksikan sendiri kondisi rumah yang sangat layak dijadiin lokasi syuting film horror itu, tim Bedah Rumah siap diturunkan.

Paman Vernon sangat bangga sudah menemukan rumah di ujung dunia ini, karena mereka bisa menghindar dari hujan surat-surat yang berdatangan baik untuk Harry maupun Shaven. Dia bahagia sekali.

Malam tiba, hujan badai gaduh menantang. Hujan deras disertai angin besar menghajar tempat itu, mirip suasana kalau Dudley baru saja kentut. Bibi Petunia menemukan selimut yang sudah bolong-bolong sebagai alas tempat tidur Dudley. Si tukang iseng itu sendiri tidur di sofa yang ternyata juga sudah hampir habis dimakan ngengat, untungnya ngengat dan Dudley bersahabat, jadi mereka bisa tidur bersama dengan damai tanpa kurang suatu apa. Bibi Petunia dan Paman Vernon sendiri memilih tidur di kamar sebelah dan meninggalkan Shaven serta Harry yang tidur di kasur lipat milik Shaven di depan perapian basah yang bahkan seorang Sinterklas pun enggan memasuki saking kumuhnya.

Badai makin mengamuk di luar sana, suasana semakin seram, semakin malam suasana jadi semakin ngeri, apalagi kalo nonton film horror, wuih tambah ngeri. Apalagi sebelum tidur tadi, di TV ada acara ‘Percaya Nggak Percaya Dong’, sebuah acara yang dibalut muatan misteri seperti acara ‘Dunia Lain Dong’. Shaven dan Harry tidak bisa tidur. Mereka berdua memutuskan untuk main kartu, tadinya sih mau ngajakin Dudley, tapi si gendut satu itu suka curang kalo main. Kartu asnya suka diumpetin, kadang malah kelupaan ngumpetin dimana, suatu ketika pernah ketauan ternyata diumpetin di celana dalam dan lupa diambil tiga hari tiga malam! Nah lo~ hiyek banget kan? Jijay.

Suara ngorok si Dudley juga sama aja, saingan sama suara petir dan tabuhan gendang panggung dangdut di ujung cakrawala, buset deh, kirain udah ke ujung dunia, eh, masih kena kejar panggung dangdut pula. Tuh, kedengeran suaranya...

“Digoda? Mauuuuu doooooong...”

Jam tangan Shaven menunjukkan waktu jam dua pagi, jelas itu salah karena jam itu sudah mati sejak minggu kemarin, satu-satunya petunjuk waktu bagi mereka berdua adalah jam digital di tangan Dudley yang menjdi petunjuk bahwa sepuluh menit lagi mereka berdua akan berumur sebelas tahun. Harry bertanya-tanya apakah keluarga Dursley akan ingat hari ulang tahunnya. Sementara Shaven sudah tertidur pulas kembali kalau tidak tersenggol-senggol Harry yang gelisah. Hihihi, Shaven-mah kalo sudah kena bantal langsung pules, tadi kan cuma aksi aja nemenin Harry.

Lima menit menjelang hari ulang tahun. Shaven mendengar suara aneh di luar. Mudah-mudahan konser dangdut di sebelah sana sudah mau selesai, gak tahan lagi denger suara penyanyinya yang kenes itu.

Kucoba-coba melempar manggis,
manggis kulempar mangga kudapat,
kucoba-coba melamar gadis,
gadis kulamar janda kudapat.

Jamane, jamane, jaman edan..
Ono wong tuwo rabi perawan.
Prawane yen bengi nangis wae.
Amergo wedi karo manuke...

Manuke, manuke cucakrowo,
Cucakrowo dowo buntute,
Buntute seng akeh wulune,
Yen digoyang... serr... aduh enake...


(<ehem> maaf para pembaca, penulis kalo udah nyanyi ‘Cucakrawa’ terkadang suka rada berserk, hihihi. Oh iya, anu, kalo gak ngerti liriknya yang pake bahasa jawa, mendingan nanya sama yang bisa aja yah... hihihi, penulis lagi males nerjemahin nih.)

Empat menit lagi, hem, kayak apa yah suasana Privet Drive sekarang? Mungkin sudah berubah jadi pasar malam, gak cuma ada onde-onde, tapi juga ada bolang-baling, martabak, tahu petis dan lain-lain. Begitu pikir Shaven dalam hati. Memang kurang relevan dengan situasi menegangkan yang saat ini dihadapi, tapi yah memang dari awalnya dia udah bodor.

Tiga menit lagi.

He? Ada bunyi apa itu di luar? Mengetuk-ngetuk bebatuan dengan keras?

Dua menit lagi.

Dan bunyi berderak apa pula itu di luar? Apakah batu-batuan yang jatuh ke laut?

Shaven dan Harry cekikikan, mereka tertawa karena menyadari kenyataan lucu, mereka dilahirkan pada waktu yang hampir bersamaan, tinggal berdekatan dan sekarang merayakan ulang tahun pun bersama. Satu menit lagi dan usia mereka bertambah menjadi sebelas tahun.

30 detik…
20…
15…
26…
29…

Eh salah kok malah balik lagi ke 26… mohon maaf, penulis kadang kurang konsen, Hihihi.

10…
9…

Shaven melirik iseng ke arah Dudley, mungkin dia akan melempar anak itu keluar rumah, sebagai kado ultah bagi dirinya sendiri.—

3…
2…
1…

KA-BOOM.

Seluruh tempat itu bergetar. Shaven dan Harry bangkit bersamaan. Mereka menatap dengan tegang ke arah pintu yang terus menerus bergetar. Seseorang ada di luar, dan jelas-jelas sedang berusaha masuk, mungkinkah itu tukang pos? Kok iseng amat nganterin kiriman sambil ribut-ribut gedor-gedor pintu?

Atau pengantar pizza?
Atau tukang koran?
Atau tukang listrik lagi ngecek meteran?
Atau tukang kredit panci?

Yang jelas…


Jawabannya ada di edisi selanjutnya…
Eng ing eng…
.
.
.
.
.
.
.
PS: Jawabannya sudah pasti Hagrid. Gak perlu nunggu edisi selanjutnya kan? Kalian juga pasti udah tahu. Hehehe…




-BERSAMBUNG-
« Last Edit: February 03, 2007, 07:26:03 AM by shaven » Logged

shaven
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +8/-2
Posts: 17



« Reply #5 on: February 01, 2007, 10:31:08 PM »

CHAPTER FOUR
Menara Kembar





BOOM.

Bunyi suara keras mengetuk pintu terdengar lagi. Dudley terbangun dengan kaget, celananya terlihat basah karena ompol, untunglah dia pake pampers sehingga ompolnya gak menyebar kemana-mana. Dengan wajah sayu karena masih mengantuk, Dudley bertanya lugu. “Sapa sih yang kentut?”

Tiba-tiba tedengar bunyi berdebam di belakang Shaven dan Harry. Rupanya Paman Vernon bak Spider-Man dengan sigap sudah turun ke ruangan bawah. Dia memegang sepucuk pistol air di satu tangan dan pemukul lalat di tangan lain. Luar biasa gagahnya.

“Sapa tuh!!” teriaknya. Paman Vernon bergaya mirip Jaja Miharja. “Sapa tuhh!?”

Tidak terdengar suara apapun. Semuanya senyap. Lalu…

BUMMM!!

Pintu depan yang kokoh terlempar masuk ke dalam rumah dan terjatuh bagaikan kartu domino yang baru saja dilempar oleh pemain domino yang sedang memainkan domino di ajang permainan domino (Argh!! sekali lagi ada kata pengulangan kata, penulis bakalan… Arghhh!! Pokoknya arghhh!!).

Dua orang pria bertubuh besar seperti buto ijo berdiri di tempat dimana tadinya terdapat pintu besar. Yang satu wajahnya lumayan sangar, gondrong, brewok dan griwut-griwut. Bukan wajah yang menunjukkan karakter seorang anggota DPR, tapi kalo dilihat sekilas lumayan mirip Surya Paloh. Matanya yang tajam menyorot tajam bagaikan pisau tajam sedang menyayat tajam benda yang bisa dipotong oleh pisau tajam (Argghhhhhhhhhhhhhhhh!!!).

Pria bertubuh besar yang satu lagi berkulit hitam dan gundul, rada susah dibedakan ini orang apa tiang listrik saking itemnya, untung kadang murah senyum. Wajahnya lumayan jenaka tapi sorot matanya serius. Ini adalah penampilan debutnya, jadi dia merasa perlu menunjukkan karakter serius sebagai upaya meraih simpati publik agar bisa terus dijadikan karakter utama.

Si bongsor brewok masuk ke dalam gubuk derita dengan sedikit usaha ekstra, maklumlah, lubang pintu yang didesain kecil sesuai anggaran itu memang sengaja dibuat khusus untuk ukuran orang bertubuh normal, bukan yang ala bagong begini. Begitu masuk pun, si bongsor musti rada membungkuk, untunglah dia tidak tinggal di sini, bisa kena osteoporosis. Suara guntur di luar sana berulang-ulang membahana seakan sang petir sedang asyik menggoreng sayur (sumpah mati, ini perumpamaan nan sangat ngawur). Si bongsor menatap mereka yang berada di dalam gubuk satu demi satu, tak lama kemudian, temannya yang berkulit hitam menyusul masuk.

JDUG!

Aduh… tuh kan, gak membungkuk sedikit sih, kejedot deh. Tapi si kulit hitam cuek, tentunya karena malu luar biasa. Hihihi. Si kulit hitam langsung nyerocos. “Adah nyang bisah membikinken segelas teh? Bibir inyong rada-rada bekuh gara-garah perjalanan jauh…”

Dengan santai si bongsor brewok duduk di samping Dudley yang melongo sejuta perkara. Dia menatap Dudley tanpa berkedip.

“Apa liat-liat? Naksir yah?” tanya si bongsor pada Dudley.
“Ng… ng… ng…”
“Boo!”
“Emaaaaaakkk!!!” ditakuti-takutin seperti itu, Dudley langsung ngacir dan sembunyi di belakang ibunya, yang juga sedang meringkuk ketakutan di balik Paman Vernon.

“Apa nyang ini nyang namanya Haryo Petir?” tanya si kulit hitam sambil menunjuk Harry.

Harry dan Shaven meringkuk di depan perapian dan berpelukan mesra, lumayan ketakutan, walau gak sampe ngompol kayak Dudley.

“Harry Potter… bukan Haryo Petir.” Si bongsor brewok membenarkan. “Emangnya orang Jogja? Ngawur aja! Bisa diprotes si JK kamu…”

“Kalau nyang ini pasti Shaven!” si kulit hitam menunjuk Shaven Terpot dengan bangga. Raksasa berkulit legam itu tersenyum lebar. “Terakhir kali ketemu kalian berdua, kalian masih orok, masih pake pampers! Tapi coba liat kalian sekarang! Wah-wah, benar-benar mirip kayak bapak ibunya! Hahahaha…! Lho, Shaven… kamu kok lebih mirip buah melinjo?”

Paman Vernon maju. Dia tidak takut, dia dilahirkan sebagai orang paling berani kentut di muka umum di keluarganya, dan dia tidak takut pada raksasa manapun, baik yang brewok maupun yang mirip karung beras. Jempol kakinya menggigil tapi dia tidak takut. “Saya minta anda berdua segera keluar dari tempat ini, Bapak-bapak! Anda berdua sudah masuk tanpa diundang!”

“Aesh! Diem aja lah, Dursley! Nafasmu itu bau terasi!” bentak si kulit hitam. Si brewok dengan mudah menyita pistol air dan pemukul lalat dari tangan Paman Vernon dan melemparkannya ke pojok ruangan. Beberapa ekor tikus yang tadinya hidup damai ngamuk-ngamuk karena benjol kena lemparan.

Paman Vernon jadi nginyem. Kalah arang.

“Nah – Harry.” Kata si brewok, dia memunggungi keluarga Dursley yang saling berpelukan kayak Teletubbies. “Selamat ulang tahun buat kamu yah. Kamu juga Shaven, selamat ulang tahun! Dippy! Mana kuenya?”

“Err… tadi sih ada… cuma kayaknya abis di perjalanan. Abis laper…” si kulit hitam malu-malu mengakui.
“Walah!” si brewok geleng-geleng kepala. “Untung aku bawa cadangan. Sorry kalo rada rata, tadi kegiles pantat. Tapi rasanya masih enak kok.”

Dari kantung dalam jas panjang hitamnya, si brewok menarik sebuah kotak yang sepertinya baru saja terlindas truk gandeng. Harry dan Shaven membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ternyata terdapat cake coklat dengan hiasan tulisan berwarna hijau, ‘Selamat Ulang Tahun Harry Potter & Shaven Terpot’.

Shaven menatap ke arah kedua raksasa itu dengan heran. Seumur-umur dia belum pernah liat yang ginian, apa mereka ini yang dinamakan jin iprit? Harry menatap Hagrid dengan takut-takut, maunya sih mengucapkan terima kasih, tapi yang keluar dari mulutnya malah… “Siapa kalian?”

Kedua raksasa itu tertawa terbahak-bahak.

“Ah iya. Aku belum memperkenalkan diriku sendiri. Namaku Rubeus Hagrid, penjaga kunci merangkap tukang kebun di Hogwarts.” Kata si brewok sambil tertawa.

“Kalo aku Dippodus Hagrid, biasa dipanggil Dippy. Pekerja freelance di Hogwarts, kadang jadi janitor, kadang jadi tukang kebun, kadang jadi tukang reparasi, pokoknya segala macam pekerjaan asal halal. Maklumlah, cari kerjaan sekarang susah.” Si kulit hitam menyusul. “Oh iya. Kami berdua ini saudara kembar lho. Mirip kan? Ada yang bilang kami ini susah dibedakan.”

Dudley, Paman Vernon, Bibi Petunia, Shaven dan Harry pun terpaksa melongo. Saudara kembar?? Kembar dari mananyaaaa??

Hagrid dan Dippy mengajak Harry dan Shaven bersalaman. Tangan mereka yang benar-benar besar seperti melumat tangan-tangan kecil Harry dan Shaven.

“Ma-maaf… tapi Rubeus Hagrid dan Dippodus Hagrid? Kami benar-benar tidak mengenal kalian.” Kata Harry berusaha sopan.

“Mungkin ada kenal dengan Wijanarkus Inggrid yang presenter itu?” tanya Shaven.
“Hush! Itu Inggrid Wijanarko! Jauh amat plesetannya!” sergah Harry.
“Kalau dengan Ermus Kullid yang penyanyi?” tanya Shaven lagi.
“ITU ERMY KULIT!! Plesetannya yang deket dikit napa?!” hardik Harry gondok.
“Yeee… namanya juga nanya, sapa tau sodara.” Shaven protes.

“Bagaimana kami bisa memanggil kalian?” giliran Harry yang bertanya.

“Panggil saja aku Hagrid.” Kata si brewok itu lagi. “Semuanya memanggilku begitu. Seperti yang aku ceritakan tadi, aku pemegang kunci di Hogwarts. Kalian berdua sudah tahu banyak tentang Hogwarts kan tentunya?”

“Err… belum.” Jawab Shaven lugu.

Hagrid nampak terkejut. Wajahnya mirip seperti Spongebob yang baru saja kesetrum ubur-ubur sekaligus menjumpai Patrick sedang berpesta dengan Squidward tanpa mengajak dirinya.

“Maaf…” Harry menyambung. “Tapi kami benar-benar tidak tahu.”

“Dasar dodol.” Dippy menggeleng jengkel dan menatap pasangan Dursley dengan mata melotot disangar-sangarin. “Kalau keluarga Ganno sih memang tidak tahu apa-apa, jadi mereka tidak bisa disalahkan. Tapi pasangan Muggle yang mirip kaleng sarden ini… grr… seharusnya mereka minta maaf! Kalo cuma ngumpetin surat sih okelah. Tapi kalo mereka sampai tidak memberitahu Harry soal Hogwarts itu sudah keterlaluan! Ampuuuun deh! Benci akuuu! Harry, apa kamu tidak bertanya-tanya dari mana orangtuamu mempelajari semuanya?”

“Semuanya apa?” Harry tambah bingung.

Shaven sudah mau usul kalau bingung mendingan pegangin puser, tapi kayaknya usul itu jarang ada yang mau menuruti, jadi dia mengurungkan niatnya.

“SEMUANYA APA?” Hagrid dan Dippy berdiri serentak dengan kaget.

Kedua pria bertubuh raksasa itu nampak sangat marah, emosinya memuncak, pasti darah tinggi mereka sedang kumat. Keluarga Dursley tambah nginyem di pojokan. Wajah si Dudley yang kena pepet Paman Vernon dan Bibi Petunia jadi mirip kardus pipih.

“Berani-beraninya kalian tidak menceritakan apapun –APAPUN!! Pada Harry Potter?” gertak Dippy.
“Cerita apa?” Harry tambah penasaran.
“Tentang dunia kita, duniamu, duniaku, dunia orangtuamu, dunia kita!”

“Dunia apaan?” bisik Shaven pada Harry. “Kalau Sinar Dunia sih merk buku tulis.”
Harry mengangkat bahunya. “Aku juga gak begitu ngerti. Dunia apaan?”

Hagrid tambah emotion. “DURSLEY! Dasar dondong duren duku!!”

Paman Vernon yang pucat pasi hanya membisikkan sesuatu yang kedengeran seperti. “Temntpmesr.”

Hagrid menatap Shaven dan Harry bersamaan. “Tapi mustinya kalian mengenal orangtua kalian. Mereka orang ngetop. Sengetop Donal Bebek. Mereka terkenal. Kalian juga terkenal.”

“Ha? Terkenal? Kalo di antara tetangga sih memang kami terkenal…” Shaven menjawab dungu. “Yang paling nggak satu blok-lah…”
“Apa? A-ayah dan Ibuku orang terkenal? Apa mungkin mereka adalah David Beckham dan Victoria Adams?!” Harry tambah kacau.

Dippy dan Hagrid memandang lembut dua anak kacau itu.

“Mereka tidak tahu, Hagrid.” Kata Dippy.
“Ya. Mereka tidak tahu…” Hagrid mencoba bertanya lebih pelan pada Harry dan Shaven. “Kalian tidak tahu siapa kalian ini sebenarnya?”

Tiba-tiba saja Paman Vernon protes. “Woe-woe! Tunggu dulu! Berhenti sampe di situ! Kularang kalian memberitahu apapun pada anak itu! Kalo Shaven sih dari sananya juga udah dongo~ tapi kalian dilarang menceritakan apapun pada Ha…”

“Kamu tidak pernah memberitahu dia? Tidak pernah memberitahu apa yang tertulis di surat Dumbledore yang ditinggalkan untuknya? Aku berada di sana! Aku melihat Dumbledore meninggalkan surat, Dursley! Kalian menyimpan semua rahasia ini selama bertahun-tahun?!”

“Surat? Kata ayahku sih dulu memang ada surat yang seharusnya diberikan padaku… tapi… kata ayah suratnya luntur karena kelupaan kesimpen di kantong celana ayah dan kecuci di mesin cuci… kayaknya suratnya ancur deh…” Shaven mengingat-ingat.

“Surat apa? Menyimpan rahasia apa?” Harry makin risih.

Paman Vernon tambah panik. “JANGAN! KULARANG KALIAN!”
Bibi Petunia ketakutan.

“Ah… sudahlah kalian berdua! Harry dan Shaven kan belum menjadi penyihir.” Kata Dippy.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“…belum jadi apa…?” Harry dan Shaven serentak bertanya.

“Penyihir, tentu saja!” kata Hagrid. Dia dan Dippy duduk di sofa dengan santai. “Kalian adalah calon penyihir-penyihir hebat! Setelah melalui beberapa latihan, aku yakin dengan bakat lahir kalian, kalian akan menjadi penyihir hebat. Yah… paling tidak kalau Dippy bilang sih, kalian berbakat jadi tukang tambal ban.”

Shaven akhirnya memberanikan diri membuka surat yang terbuat dari kulit lumpia yang sejak kemarin selalu berusaha disampaikan padanya. Surat itu bertuliskan namanya dalam tinta hijau terang,

To Mr. Terpot,
The Floor,
Gubuk Derita On The Rock,
The Sea.


Shaven mulai membaca suratnya.

HOGWARTS SCHOOL of WITCHCRAFT and WIZARDRY
Headmaster: ALBUS DUMBLEDORE
(Order of Merlin, First Class, Grand Sorc., Chf. Warlock, Supreme Mugwump, International Confed. of Wizards)

Dear Mr. Terpot,
We are forced to inform you that you have been accepted reluctantly at Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry.
Please find enclosed a list of all necessary books and equipment.
Term begins on September 1. We await your owl by no later than July 31.

Yours sincerely,
Minerva McGonagall,
Deputy Headmistress


Seribu pertanyaan meledak dalam kepala kecil Shaven seperti korek api menyalakan obat nyamuk bakar di gudang petasan. Dia bingung apa yang harus ditanyakan, seperti misalnya… kenapa kok suratnya pake bahasa Inggris? Dia kan kurang lancar berbahasa Inggris. Shaven dan Harry yang sama-sama membuka surat saling berpandangan untuk yang kesekian kali dan melongo untuk yang kesekian kali pula. Kalo keseringan melongo, mereka lebih cocok jadi aktor Dumb & Dumber sebenarnya.
« Last Edit: February 13, 2007, 12:33:01 AM by shaven » Logged

shaven
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +8/-2
Posts: 17



« Reply #6 on: February 01, 2007, 10:33:47 PM »

Setelah beberapa saat kemudian, barulah Harry yang mengajukan pertanyaan. “Apa maksudnya, mereka menunggu burung hantuku?”

“Weladalah, lutung pake sarung! Ampir aja lupa!!” kata Hagrid. Dia menepuk tangan ke dahinya sendiri dengan sangat keras. Paman Vernon tadinya hendak menyarankan pada Hagrid kenapa gak sekalian saja menggunakan palu, tapi langsung diurungkan niatnya. Dari balik jas panjangnya, kali ini Hagrid mengambil seekor burung hantu. Burung hantu beneran – idup, ngos-ngosan – gimana gak ngos-ngosan kalo sepanjang hari dikempit di ketiak si Hagrid? Hagrid juga mengambil pena dan satu gulungan perkamen. Hagrid pun segera menulis surat, Shaven mengintip surat itu, buset, tulisannya benar-benar cakar ayam.

Dear Professor Dumbledore,
Surat Harry dan Shaven sudah diterimakan.
Aku akan mengajak Harry membeli barang-barangnya,
Sedangkan Dippy akan membawa Shaven.
Di sini cuaca jelek, ujan terus.
Salam kompak selalu.
Empat kali empat enambelas,
Sempat tidak sempat harap dibalas.

Hagrid.


Hagrid menggulung surat itu, memberikannya pada sang burung hantu yang langsung menggigit gulungan surat itu dengan paruhnya. Hagrid membawa burung hantu ke lubang pintu dan melemparnya ke arah badai dengan santai. Dia lalu kembali dan duduk di sofa.

Harry dan Shaven melongo. Bujubuset! Kayak sulap di kelurahan aja!
 
“Sampai mana tadi?” tanya Hagrid, tapi saat itu, Paman Vernon yang masih sedikit malu-malu kucing mendekat ke arah perapian.

“Dia tidak akan pergi kemana-mana.” kata Paman Vernon.

Hagrid melenguh kayak sapi. “Coba lihat saja, bagaimana Muggle perkasa kayak kamu akan menghentikan dia?”

“Mu-… Apa?” tanya Shaven, dia tertarik dengan kata yang baru saja disebut Hagrid.

“Seorang Munyel.” Bisik Dippy pada Shaven yang berdiri di sebelahnya. “Itu sebutan untuk manusia non penyihir, kayak keluarga Dursley nyang nyebelin itu, mereka Munyel-Munyel paling menyebalkan nyang pernah aku lihat.”
“Muny… Apa tadi sebutannya?” Shaven bertanya.
“Munyel.”
“Munyel?”
“Iyah. Munyel. Kenapa?”
“Bukannya kalo di buku-nya JK itu sebutannya Muggle?”
“Eh iyaa!! Muggle!! Walah, kamu kok lebih tau dari aku yah?”

Perhatian Shaven dan Dippy kembali lagi pada ‘drama’ yang terjadi antara Keluarga Dursley, Harry Potter dan Hagrid.

“Kami sudah bersumpah saat menerima Harry kalau kami akan menghentikan semua omong kosong itu.” Kata Paman Vernon. “Pokoknya kami tidak mau dia menjadi penyihir!”

Singkat cerita, Paman Vernon dan Bibi Petunia akhirnya mengakui kalau mereka sengaja menyembunyikan kenyataan yang selama ini menyelubungi rahasia masa lalu Harry. Bibi Petunia akhirnya juga membuka cerita masa lalunya tentang bagaimana dia iri pada saudarinya (Lily – Ibu Harry) karena sejak kecil Lily dianggap sebagai idola di rumah mereka sedangkan dia hanya dianggap idola oleh segelintir satpam komplek. Lily akhirnya bertemu dengan James Potter, mereka menikah dan lahirlah Harry Potter. Bibi Petunia kesal karena sejak Lily dilenyapkan oleh ‘seseorang’, merekalah yang harus merawat anaknya yang sama anehnya dengan James dan Lily. Sekali lagi… kalo mau cerita lengkapnya, baca aja buku Harry Potter yang pertama, capeklah penulis kalo musti menulis lengkap di sini. Hihihi…

Sekarang giliran Shaven.

“Shaven… orang tuamu sebenarnya adalah dua orang penyihir yang tidak kalah hebatnya dengan James dan Lily Potter.” Ujar Dippy menerangkan. “Mereka berdua, Aragorn dan Arwen Terpot adalah pimpinan kelompok penyihir underground yang mengadakan perlawanan terhadap seorang penyihir jahat. Mereka menghilang dan tidak pernah dijumpai lagi saat akhirnya berhadapan dengan penyihir itu.”

“Lho? Bukannya mereka beralih profesi menjadi pemaing kethoprak wayang orang?” tanya Shaven. “Seperti yang ditulis oleh penulis di bab satu cerita ini?”

“Itu juga benar… <keluh>… ceritanya sedikit panjang…” kata Dippy. “Merepotkan memang ketidak-konsistenan penulis yang dodol itu.”

“Lah? Tapi… apa yang sebenarnya terjadi?” Shaven terus mengejar.

Emosi menghilang dari wajah Hagrid. Dia menjadi sedikit gelisah.

“Aku tidak mengira akan melakukan ini.” Katanya pelan dan khawatir. “Aku tidak membayangkan apapun waktu Dumbledore bilang kalian hanya tahu sedikit saja tentang dunia sihir dan masa lalu kalian. Ah, Shaven… Harry… aku tidak tahu apakah kami orang yang tepat untuk menceritakan ini pada kalian… tapi seseorang harus melakukannya… kalian tidak bisa begitu saja pergi ke Hogwarts tanpa tahu apa-apa.”

Hagrid menatap keluarga Dursley dengan jijik.

“Yah… mungkin aku dan Hagrid bisa menceritakan sedikit kisah yang kami ketahui. Sedikit saja sih, karena semuanya masih misterius. Tapi… semuanya dimulai dari…” Dippy menghentikan ceritanya.

Dippy dan Hagrid berpandangan dengan kacau, mereka melenguh hampir bersamaan seperti suporter sepakbola yang gawang tim kesayangannya kebobolan duabelas gol. Dippy akhirnya membuka suara. “Semua dimulai… dari seseorang… sebenarnya semua orang di dunia kami mengenalnya…”

“Siapa?” tanya Harry.

“Yah- kalau bisa sih aku tidak ingin menyebutkan namanya. Tidak ada yang mau menyebutkan namanya.” Kata Dippy.

“Kenapa tidak?” Harry kembali bertanya.

“Onde monde, Harry! Orang-orang masih ketakutan. Auh… ini susah sekali. Jadi begini, ada seorang penyihir hebat yang berubah menjadi… jahat. Lebih jahat dari gerombolan siberat. Jahat sekali pokoknya. Dan namanya adalah… namanya adalah…”

Dippy meneguk ludah, tapi tidak ada kata-kata yang terucap.

“Bisa ditulis aja kan?” usul Shaven.

“Gak bisa. Menulis ‘Apel’ aja musti beberapa kali ulang, apalagi menulis nama penyihir yang satu ini. Dippy rada payah kalo suruh mengeja.” Bisik Hagrid. “Suatu kali dia pernah disuruh Professor Dumbledore menulis ‘Ini Ibu Budi’ eh… yang ditulis malah… ‘Ienie Iebuw Buwdi’. Hihihi… Dippy memang suka asal.”

“Baiklah…” Dippy menyerah. “Namanya Voldemort. Jangan membuatku mengulang namanya sekali lagi karena…”
“Siapa?” Shaven bertanya.
“Voldemort.” Jawab Dippy.
“Aduh, aku gak denger… siapa?”
“Voldemort.”
“Valdemar?”
“VOLDEMORT!! Dih! Bolot amat sih..... Ups…” Dippy baru sadar kalau dia malah mengulang-ulang menyebutkan namanya. Hihihi.

Hagrid mengambil alih dan menerangkan. “Penyihir ini, sekitar 20 tahun yang lalu, berkampanye untuk mencari pengikut. Lumayan banyak yang bergabung dengannya, apalagi saat itu partainya lumayan mendapat dukungan dalam pemilu. Yang bergabung dengannya sebagian karena takut, sebagian karena pengen menguasai kekuatannya, sebagian lagi karena menganggur dan susah cari kerja, gajinya pun konon rada lumayan, maklumlah penyihir swasta. Masa-masa itu adalah masa-masa yang kelam. Tidak tahu siapa yang bisa dipercaya, tidak ada yang berani berteman dengan penyihir yang aneh, apalagi dengan Si Sirik, Juwita aja ogah. Penyihir ini perlahan berkuasa. Tentu saja banyak yang melawannya, banyak yang dibunuh dan banyak pula yang dihilangkan kekuatan dan ingatannya, seperti pada kasus orang tua Shaven, Aragorn dan Arwen Terpot. Sampai saat ini, kami masih belum tahu di mana mereka berada, kami hanya tahu dari gossip yang beredar kalau mereka sudah beralih profesi, sangat mungkin mereka sudah dicuci otak oleh Jahat-Amat-Sih-Nih-Orang dan melupakan jati diri mereka yang sebenarnya.”

“Aragorn dan Arwen Terpot mendanai gerakan perlawanan terhadap Yah-Gitu-Deh-Namanya. Mereka memiliki perusahaan penghasil selai nanas besar dan lumayan disegani. Menyadari sumber dana itu, Idih-Siapa-Sih-Tuh akhirnya mengirim sihir luar biasa kuat yaitu sihir ‘Gulungtikarus Perusahaanus Gak Majus Majus’. Sihir ini berhasil membuat Aragorn dan Arwen bangkrut.” Lanjut Hagrid. “Aragorn dan Arwen melarikan diri ke Hogwarts dan bergabung dengan James dan Lily Potter. Kenapa Hogwarts? Karena Albus Dumbledore sang kepala sekolah adalah tokoh paling ditakuti oleh Ya-Dia-Itu. Dia tidak melanjutkan pengejarannya pada Aragorn dan Arwen ataupun pada James dan Lily. Paling tidak untuk saat itu.”

“Karena dekat dengan Dumbledore, keempat orang ini tidak berhasil dibujuk oleh Pokoknya-Itu-Namanya ke sisi kegelapan. Entah karena mungkin gatel dengan gangguan keempat tokoh penyihir hebat ini, pada perayaan Halloween sepuluh tahun lalu, Pokoknya-Penjahat-Paling-Hebat ini datang ke desa tempat tinggal orang tua kalian yang kebetulan bertetangga dan berhadapan langsung dengan orang tua kalian. James dan Lily Potter… yah… tidak selamat dalam peristiwa itu, sementara Aragorn dan Arwen Terpot… menghilang entah kemana.” Dippy menjelaskan.

Dippy dan Hagrid berpelukan dan mengeluarkan dua lembar sapu tangan yang ada tulisan ‘Welcome’. Hihihi… ini sapu tangan atau keset sih? Mereka berdua sedih karena harus mengingat tragedi sepuluh tahun yang lalu.

“Maaf.” Kata Dippy. “Tapi kami sedih sekali. Mereka berempat adalah orang-orang yang baik dan manis… hiks… apalagi si Aragorn Terpot pinjem duit buat kredit panci belum dibalikin, oalah sedihnya aku… hiks…”

“Si-Penjahat-Keji-Lagi-Bau-Ketek itu tidak berhenti begitu saja. Entah kenapa dia juga berusaha membunuh kalian berdua.” Wajah Hagrid menegang. “Mungkin dia ingin membersihkan keluarga kalian hingga tidak ada yang tersisa. Tapi dia gagal melakukannya. Kalian berdua selamat, walaupun Dia-Yang-Namanya-Susah-Dieja meninggalkan kenang-kenangan berupa tanda mirip petir di dahi Harry dan tanda yang sama di pantat Shaven. Penjahat-Keji-Tapi-Ngetop itu berhasil melenyapkan orang tua kalian, menghancurkan rumah kalian, tapi gagal membunuh kalian berdua. Itu sebabnya kalian berdua menjadi terkenal. Seumur-umur belum pernah ada yang selamat dari ancamannya. Tidak ada seorang pun yang selamat kecuali kalian berdua. Dia sudah membunuh penyihir-penyihir terhebat sepanjang masa seperti keluarga McKinnons, Bones, Prewetts, Kusnadis dan Bajuris. Kalian masih orok, tapi berhasil selamat. Karena peristiwa tersebut, kalian berdua jadi bocah-bocah yang paling ngetop seantero jagad.”

Harry jadi teringat sebuah kenangan menyakitkan, cahaya hijau menyilaukan dan tawa yang mengerikan. Shaven malah teringat kata-kata makian karena pipisnya tanpa sengaja mengenai seseorang yang penampilannya tidak begitu jelas.

Hagrid dan Dippy saling pandang dan dengan sedih menatap mereka berdua. “Kami menyelamatkan kalian dari puing-puing rumah kalian atas perintah Dumbledore. Lalu membawa kalian ke…”

“Cerita murahan!” tukas Paman Vernon. Shaven terkejut, apalagi Harry. Mereka lupa kalau keluarga Dursley juga masih ada di sini, kenapa gak ke laut aja sih? Paman Vernon yang nampaknya sudah kembali pede-nya menatap Hagrid dan menggenggam tinjunya. “Dengar Harry… aku gak peduli kalau kamu anehnya kayak penulis sekalipun, tapi bapak ibumu itu biangnya aneh, kalo menurutku sih dunia ini lebih mending kalo gak ada mereka, dan segala urusan sulap menyulap ini menambah…”

Dippy melompat mendekati Paman Vernon dan menarik celana kolor berwarna pink dari dalam jasnya. “Aku peringatkan kamu, Dursley. Satu kata lagi dan…”

Melihat Dippy menggoyang-goyangkan celana kolor super apek di tangannya dengan gerakan mengancam, Paman Vernon jadi nginyem lagi. Dia mundur teratur dan dengan lagak tidak peduli mengisi buku TTS di pojokan.

“Begitu lebih baik.” Kata Hagrid.
Harry yang penasaran terus bertanya. “Tapi, apa yang terjadi pada Vol-… maaf… maksudku… Dia-Yang-Namanya-Voldemort… eh… pokoknya Dia-Itu-Deh.”

“Pertanyaan bagus, Harry. Dia lenyap. Hilang. Entah dimana. Dia hilang tepat pada malam dia mencoba membunuh kalian berdua. Itu juga menambah kadar ketenaran kalian. Itu juga sebagian dari misterinya. Dia bertambah kuat setelah menyingkirkan empat penyihir paling berbakat di Hogwarts, lalu –puff- dia pergi tanpa pamit. Entah pergi kemana.” Kata Hagrid.

“Ada yang bilang dia sudah mati. Ada yang bilang dia jualan rujak di pojok perempatan. Entahlah. Beberapa pengikutnya kembali ke sisi kami, sebagian seperti dalam kondisi terhipnotis, tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya dia kembali nanti. Sebagian besar dari kami beranggapan kalau dia sudah kehilangan kekuatan dan menyingkir untuk sementara karena terlalu lemah untuk melanjutkan aksinya. Pada malam naas itu, entah apa yang terjadi, sesuatu dari diri kalian berdua menyebabkan Dia-Yang-Namanya-Rada-Panjang mundur dari dunia sihir.” Lanjut Dippy.

“Hagrid. Kayaknya gak mungkin aku ini seorang penyihir.” Kata Shaven.

Hagrid dan Dippy tertawa renyah seperti krupuk.

“Bukan penyihir eh? Apa akhir-akhir ini kalian berdua belum pernah mengalami kejadian aneh saat sedang ketakutan atau marah teramat sangat?” tanya Hagrid.

Shaven tertegun. Kejadian dengan toples kacang itu! Dia sedang dalam kondisi ketakutan karena menahan ompol!

“Jelas kan?” kata Dippy. “Shaven Terpot, bukan penyihir eh? Tunggulah beberapa hari lagi, kamu akan jadi sangat terkenal di Hogwarts.”

Tapi Paman Vernon segera meloncat. “He, aku tidak peduli dengan bocah itu, tapi Harry harus tetap pergi ke Stonewall High dan harus berterima kasih padaku. Aku sudah membaca surat-surat itu… Harry harus mengumpulkan berbagai macam tetek bengek seperti buku dan tongkat sihir dan…”

“Kalo Harry mau pergi, seorang Muggle sepertimu tidak akan menghentikannya.” Gerutu Hagrid. “Menghentikan putra Lily dan James Potter ataupun putra Aragorn dan Arwen Terpot pergi ke Hogwarts adalah penghinaan! Namanya bahkan sudah tertera di daftar hadir sejak dia lahir. Harry dan Shaven akan pergi bersekolah di sekolah sihir paling hebat di seluruh dunia. Tujuh tahun menimba ilmu dan mereka akan menjadi penyihir-penyihir hebat. Mereka akan bergabung dengan kawan-kawan sebaya dan berada di bawah pengawasan langsung kepala sekolah sihir terhebat yang pernah dimiliki Hogwarts, Albus Dumble…”

“AKU TIDAK MAU MEMBAYAR SESENPUN PADA ORANG TUA TOLOL UNTUK MENGAJARI BOCAH INI TIPUAN SULAP!!” Paman Vernon berteriak.

Tapi saat itu Paman Vernon sadar, dia sudah terlalu jauh melangkah. Dippy kembali mengacungkan celana kolor pinknya dan memutar-mutarnya dengan ganas. “JANGAN PERNAH…” Giginya bergemeretuk saking marahnya. “MENGHINA… ALBUS… DUMBLEDORE… DI… HADAPANKU!”

Celana kolor itu melayang di udara dan mengenai Dudley yang sedang asyik menyantap roti milik Harry dan Shaven diam-diam. Suara petir menggelegar dan sinar terang membuat silau siapapun yang sedang menatap celana kolor pink itu. Terdengar suara pekikan dan Dudley berputar-putar di tempat dengan histeris. Di hidungnya kini tumbuh ekor babi! Lho? Kok ekornya tumbuh di hidung? Yah… namanya juga cerita parodi… suka-suka penulisnya lah…

Paman Vernon meraung, menarik Bibi Petunia dan Dudley ke ruangan lain. Dia menatap Hagrid dan Dippy ketakutan dan menutup pintu keras-keras.

Dippy menggeleng-geleng kepala sambil mengelus-elus kepalanya yang gundul.

“Wah-wah. Aku kehilangan kesabaran.” Katanya menyesal. “Untung saja sihirku tidak begitu becus. Mau mengubah dia jadi kuda nil, eh yang keluar malah ekor babi. Yah… pokoknya semua bereslah.”

Dippy dan Hagrid menatap Shaven dan Harry.

“Kami akan sangat berterimakasih kalau kalian tidak menceritakan peristiwa ini kepada siapapun di Hogwarts.” Kata Hagrid. “Kami… er… yah… tidak seharusnya menggunakan sihir, walaupun untuk mengirimkan surat dan mengikuti kalian kami diperbolehkan menggunakan sedikit sihir.”

“Kenapa kok gak boleh?” tanya Shaven.

“Err… kami berdua pernah bersekolah di Hogwarts. Tapi dikeluarkan hampir bersamaan. Hagrid dikeluarkan di tahun ketiganya dan aku menyusul tidak lama kemudian. Tapi kami berdua masih diijinkan bekerja di Hogwarts. Untunglah Dumbledore orangnya sangat baik.” Dippy menerangkan.

“Kita harus segera bergegas kalau tidak mau terlambat.” Kata Hagrid. “Kita harus mengantarkan mereka berdua belanja dulu di kota, Dippy.”

“Ah iya.” Dippy mengangguk. “Supermarket sweeps!”

Shaven dan Harry saling berpandangan dengan penuh semangat.

Penulis jadi rada curiga dengan dua orang itu, kok sering banget mesranya, jangan-jangan ini bukan cerita dunia sihir tapi Brokeback Mountain? Hihihi…



-BERSAMBUNG-

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
shaven-note:
1. Episode ini merupakan parodi dari bab keempat novel “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone” yang berjudul “The Keeper of The Keys”
2. Wah-wah… episode kali ini benar-benar membutuhkan waktu lama untuk ditulis. Apalagi aku sempat kena sakit bulan ini, benar-benar menyebalkan, tapi Thank God, rampung juga.
3. Enjoy.
« Last Edit: February 13, 2007, 12:35:43 AM by shaven » Logged

shaven
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +8/-2
Posts: 17



« Reply #7 on: February 13, 2007, 12:16:00 AM »

CHAPTER FIVE
Diagonal Ih!



Pagi yang cerah.

“Uaaahhheeeeem…nyem…nyem…”

Put. Put. Put.

Tokoh utama kita, Shaven Terpot, hampir terbangun di pagi yang indah ini. Dia terbangun karena terganggu suara ketukan. Siapa yang mengetuk?

Shaven terkejap-kejap berusaha membuka mata, tapi karena masih ngantuk, tak kunjung terbuka. Walaupun belum melek, Shaven berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. “Hmm… mimpi yang aneh. Entah dari mana, tiba-tiba saja ada dua raksasa datang ke sini. Mereka lalu memberikan surat padaku dan Harry. Isinya kami diundang masuk ke sekolah sihir.”

Put. Put. Put.

Suara itu terdengar lagi.

Pasti itu suara Bibi Petunia mengetuk pintu karena Dudley kelamaan nongkrong di WC. Shaven menarik selimutnya dan berusaha tidur lagi. Dia tidak mau terbangun, matanya aja gak bisa melek sedari tadi. Mimpinya benar-benar aneh tapi indah, direwind ah! (emangnya kaset?). Mimpi lagi ah…

Put. Put. Put.

“Iya, iya!” gerutu Shaven. “Bangun nih! Bangun nih!”

(Just curious. Emang suara mengetuk itu ‘Put. Put. Put’? Bukannya ‘Tok. Tok. Tok’. Atau gimana gitu? Mohon maaf pembaca semua. Karena keterbatasan dana, penulis terpaksa tidak bisa menyewa sound effect yang sesuai dengan keinginan pembaca. Mohon maaf atas kekurangnyamanan ini, semoga tidak dimasukkan ke dalam hati).

Saat mengangkat badan untuk bangun, jaket panjang Dippy jatuh mengenainya. Buset baunya. Tidak ada satupun laundry yang dipastikan mau menerima cucian jaket buluk ini, kalo dilemparin ke kucing, pasti kucingnya langsung mati. Gubuk derita yang ditempati Shaven sudah dipenuhi sinar matahari yang menyeruak masuk, rupanya badai telah usai. Dippy sendiri tengah tertidur di kursi malas sedangkan Harry dan Hagrid tidak nampak. Seekor burung hantu tengah mematuk-matuk (dengan paruh kayaknya) dan mengais jendela (kalo yang ini pake cakar). Satu eksemplar surat kabar diambil oleh burung hantu itu dari ransel yang ia kenakan. Benernya sih di buku ‘Harry Potter & The Sorcerer’s Stone’, korannya dejepit pake paruh, tapi berhubung penulis kasihan karena si burung hantu tentunya telah menempuh perjalanan jauh, maka penulis menyumbang beberapa tas ransel agar bisa dipakai backpacking oleh para burung hantu.

Shaven membuka jendela dan burung hantu itu langsung terbang ke dalam. Dia menjatuhkan koran ke Dippy, dan raksasa hitam itupun terbang~… oh ternyata tidak. Dippy tidak terbangun. Dia malah nginyem-nginyem keenakan. Dasar dudul. Burung hantupun segera mematuki hidung Dippy biar tambah pesek.

“Hei-hei, jangan! Kok yang diserang idungnya! Kepalanya aja! Hihihi…”

Shaven mencoba mengusir burung hantu yang tiada kenal lelah itu.

“Hoooeeehh!!” Shaven mengusir dengan jeritan feminis. (Penulis mohon dengan sangat, jangan dibayangkan).
“Ada apa Shaven?” tanya Dippy tenang.
“Ada Tukul Arwana!!”
“Tukul Arwana?”
“Bukan! Ada lumba-lumba!!”
“Lumba-lumba?”
“Bu-bukan… apa sih nama binatang ini…”
“Binatang?”
“Iyah! Yang ada sayapnya!”
“Binatang bersayap? Ayam kali?”
“Ayam?! Bukan! Ini sejenis burung!”
“Ayam juga burung!”
“Masa sih?”
“Unggas itu!”
“Oh iya, bener juga yah. Ayam termasuk bangsa burung.”
“Iya. Ayam termasuk unggas.”
“…”
“…”
“…”
“…”
 “KENAPA YANG DIBAHAS MALAH AYAM!!!” jerit Shaven gemas. “INI LHOOOO!!!”
“Ha?”
“Ini lho!! Binatang apa ini!!”

Dengan malas Dippy beranjak dari tidurnya dan menengok ke arah yang ditunjuk Shaven. Si jayus itu sedang duduk di pojokan berselimut jaket buluk milik Dippy dan menunjuk ke sebuah arah dengan getaran genit (sekali lagi penulis mohon, adegan yang sedikit feminin dan lumayan memalukan ini tidak usah diingat-ingat apalagi diperbincangkan di kemudian hari. Please. I beg of you. Forget about it!).

“Lah, kalo itu mah cuma burung hantu!”
“Burung hantu?”
“Iya, kalo di dunia Muggle mungkin namanya kurir. Jasa pengiriman surat gitu.”
“Kenapa repot-repot? Kan ada email?”
“Email?”
“Iyah. Surat elektronik. E-Mail. Paham?”
“Email bukannya pelawak?”
“ITU KIWIL!!”
“Oh, lain yah?”
“…”
“…”
Garing.

“Kalo burung hantu di tempat kita, biasanya nganterin surat ato koran.” Lanjut Dippy. “Jangan lupa dibayar dulu jasa antarnya.”
“Lah?” protes Shaven. “Kok bayar?”
“Namanya juga jasa pengiriman.”
“Yah. Dunia sihir masih pake bayar-bayar juga yah.”
“Idih. Lha kamu pikir semua gratis? Ke laut aja! Semua ada ongkosnya, mas! UUD! Ujung-ujungnya dawet! Eh salah… Ujung-ujungnya duit! Cari duit di kantongku.”
“Hrr… ini jaket bulukan isinya kantong semua.”
“Baiklah aku tawarkan. Mau kantong yang sebelah kanan atau kantong yang sebelah kiri?”
“Err… kanan?”
“Bener?”
“Err… bener?”
“Baik! Kalau begitu aku tawarkan lagi yang lain, mau kantong sebelah kanan atau tirai nomor satu?”
“…”
“…”
“EMANGNYA INI SUPERDEAL??” protes Shaven.
“Oh? Salah lagi yah?” Jawab Dippy sambil melongo.
“…”
“…”
Garing.

Setelah merogoh-rogoh kantong yang isinya kunci-kunci, benang, kantong teh instan, mie rebus instan, becak, bajaj, kancil, busway dan kapal feri, akhirnya Shaven menemukan beberapa uang receh yang bentuknya aneh.

“Kasih dia lima kepeng.” Kata Dippy.
“Kepeng?”
“Err… maksudnya lima Knuts.” Ralat Dippy. “Kalo pake duit kepeng entar dikira cerita jaman majapahit yah.”
“Knuts?” Shaven masih belum mengerti.
“Duit itu, alah yang warnanya rada-rada kuning agak kecilan.”
“Owh, yang ini.”

Setelah Shaven memberikan uang kepada burung hantu kurir yang kemudian membubuhkan tanda-tangan di nota pembayaran, burung itupun terbang melalui jendela yang terbuka.

“Sebaiknya bersiap-siap, Shaven! Banyak yang harus kita kerjakan hari ini. Aku yakin Hagrid dan Harry juga sedang pergi berbelanja.”
“Belanja, Dippy?”
“Iyalah! Kita pergi ke London untuk membeli semua barang-barang kebutuhan sekolahmu di Hogwarts nanti.”

“Err… ta-tapi…”
“Tatapi apa?”
“Tapi aku tidak punya uang sepeserpun.”
“Hm.” Gumam Dippy sambil memakai sepatu bootnya yang tinggi. “Coba ulangi.”
“Aku tidak punya uang sepeserpun, dan aku tidak berminat meminta uang pada ayah dan ibu angkatku! Mereka memang baik, terlalu baik malah! Tapi mereka saat ini tidak punya uang yang banyak dan…”
“Jangan khawatir, Terpot muda.” Kata Dippy. Dia berdiri tegak sambil mengelus-elus kepalanya yang gundul. “Kamu pikir Aragorn dan Arwen Terpot belum bersiap-siap untuk menangani masalah segenting ini? Lagipula aku juga tidak keberatan kalau kamu pinjem ke aku barang satu dua kepeng… hayah, lupa lagi! Masa pake kepeng.”
“Lah? Bukannya rumah orangtuaku hancur saat…”
“Mereka tidak pernah menyimpan duit mereka di rumah. Hari gini, nyimpen duit di celengan? Bukan, langkah pertama kita adalah mengunjungi Gringotts. Bank para penyihir. Nah, tentunya langkah kedua kita adalah mampir ke warung donat untuk sarapan.”

“Sebentar-sebentar…” Shaven mengernyitkan dahi. “Penyihir punya bank?”
“Satu-satunya.” Angguk Dippy. “Pegawainya Goblin semua.”
“Goblin?”
“Iya — hanya orang gila yang berani merampok bank para goblin! Jangan pernah berurusan dengan para goblin, Shaven. Gringotts mungkin tempat teraman untuk menyimpan sesuatu (selain Hogwarts tentunya), tapi goblin tetap goblin. Ah, untung inget, aku juga harus mengambil sesuatu di brankas Gringotts untuk Dumbledore. Urusan Hogwarts.”

Kemudian Shaven mengikuti Dippy pergi meninggalkan kawasan mengerikan berbatu terjal itu. Langit sangat cerah dan air berkilauan ditimpa sinar cahaya mentari. Perahu Paman Vernon yang kemaren disewa masih ada di pinggir pantai. Perahu itu hampir tenggelam karena air yang masuk ke dalam perahu saat hujan lebat dan badai kemarin hari.

“Lah!! Kok kamu bisa nyampe ke sini? Naik apa?” tanya Shaven sambil mencari-cari perahu lain. “Pan perahunya cuman satu? Si Harry sama Hagrid naik apa pula?”

“Mereka naik perahu. Kalo aku kemarin terbang.” Jawab Dippy santai.
“Ter-terbang?”
“Iya.”
“Kayak Superman?”
“Euh… siapa?”
“Superman?”
“Tidak. Aku tidak terbang seperti Si Parman.”
“…”
“…”
“…”
Garing.

“Pokoknya aku ke sini terbang. Titik. Hum… walaupun sebenarnya itu rahasia.” Kata Dippy. Ia lalu berbisik pada Shaven. “Tidak seharusnya aku menggunakan sihir secara sembrono seperti tadi malam. Jangan bilang sapa-sapa yah.”

Shaven mengangguk. Mereka berdua mengayuh dayung hingga satu dua pulau pun terlampaui (hayah!). Pokoknya mereka berdua sedang meninggalkan gubuk derita dengan menggunakan perahu. Tapi kalo perahunya cuma ada satu, bagaimana Harry dan Hagrid meninggalkan pulau? Pokoknya kalo ada sihir, semua urusan jadi beresss! Jadi gak usah khawatir.

“Kenapa hanya orang gila yang berani merampok bank Gringotts?” tanya Shaven mencoba memulai percakapan.

“Mantera sihir kelas wahid.” Jawab Dippy. “Katanya ada seekor racoon yang menjaga ruangan besi yang memiliki pengamanan ekstra ketat. Pokoknya Bank Gringotts aman. Bank ini terletak ratusan mil di bawah London. Jauh sekali di dalam tanah, siapa yang mau repot-repot ngerampok?”

“Euh… yakin yang menjaga racoon?”
“Rac… hmm…” Dippy mencoba mengingat-ingat. “Racoon apa naga yah?”
“Kayaknya naga deh, abis kalo racoon kan gak ada serem-seremnya?”
“Hmm… iya. Naga. Euh… naga apa lutung yah?”
“Hnn!”

Percakapan garing itu tidak berlangsung lama karena Dippy kembali tenggelam membaca suratkabarnya. “Kementerian sihir kacau lagi, kayak biasanya.” Gumam Dippy sambil membalik halaman. “Mereka sedang merancang undang-undang anti pornografi dan pornoaksi.”

“Ada yang namanya Kementerian Sihir?”

“Oh iya! Ada!” kata Dippy. “Dulu sebenarnya saya yang dicalonkan menjadi menteri.”

“Begitu?” entah kenapa Shaven sulit percaya.

“…”

“…”

“Ok, ok! Sebenarnya Dumbledore yang dipercaya mendapatkan jabatan itu, tapi dia menolak karena sudah terlanjur betah di Hogwarts dan akhirnya jabatan itu kini dipegang Corneyus Fudge atau biasa kami panggil ‘Bang Yus’.”

“Ok, Lalu apa yang sebenarnya dilakukan kementerian sihir?”
“Yah, kerja mereka antara lain memastikan agar keberadaan kaum kita tetap tersembunyi dari para Muggles.”
“Kenapa kok sembunyi?”
“Lah, kalo gak sembunyi banyak kaum Muggles yang akan minta bantuan kita! Cape’ deh!”
“Kan bisa dijadiin duit?”
“Itu mah kerjaan dukun!”

Saat itu perahu mereka akhirnya sampai di dermaga. Dippy melipat korannya dan mereka naik ke jalan. Jalan itu ternyata jalan menuju stasiun kereta api. Beberapa orang yang lewat di jalan itu terheran-heran melihat Dippy. Tidak biasanya mereka menemui tiang listrik pake jaket & bawa-bawa koran, hihihi…

“Dippy, kamu bilang tadi ada naga di Gringotts?” tanya Shaven antusias.
“Gosipnya sih.” Kata Dippy. “Tapi aku suka naga lho, jangan salah.”
“Kamu suka naga?”
“Iyah. Sekarang aja aku bawa satu di kantong.”
“Buset!”
“Beneran!”
“Mana lihat sini!” Shaven melongok-longok ke kantong Dippy.

Dippy mengeluarkan gadget kecil dari kantongnya. Mirip seperti mainan, warnanya ijo. Dengan bangga Dippy memencet-mencet tombol dan seekor naga digital berwajah imut pun bangun di monitor kecil alat itu. Tat tit tut tat tit tut.

“Ini nih, nagaku. Namanya Tam-tam. Lucu yah? Lama lho miaranya. Dari mulai telur…”
“Err… Dippy.”
“Iya?”
“KALO YANG INI MAH NAMANYA TAMAGOTCHI!! INI MAINAN JAMAN KERETA KAYU!!”
“He?”

Shaven geleng-geleng kepala.
Logged

shaven
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +8/-2
Posts: 17



« Reply #8 on: February 13, 2007, 12:18:27 AM »

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Akhirnya, sampailah dua makhluk ganjil yang tampil sebagai tokoh utama serial ini di stasiun kereta api tut tut tut siapa hendak turut ke Bandung Surabaya. Menurut Dippy, ada kereta api menuju London yang akan datang lima menit lagi. Dasar Dippy pelit, Shaven terpaksa nombok buat perjalanan itu. Uhh, sebel deh.

Orang-orang memperhatikan mereka berdua. Kemanapun Shaven dan Dippy berjalan selalu diikuti oleh lirikan banyak orang. Bukan apa-apa, abis dua orang ini kok pantas banget jadi copet. Mereka takut aja dompet mereka dijambret. Dippy duduk di kursi dengan santai.

“Suratmu belum ilang kan, Shaven?” tanya Dippy.

Shaven menggeleng dan mengeluarkan amplop perkamen dari kantongnya. Iya, yang kemaren.

“Bagooss!!” kata Dippy sambil mengacungkan dua jempol ala Indy Barends. “Ada daftar barang-barang yang nanti dibutuhkan.”

Shaven membuka kertas kedua yang terlipat. Dia tidak memperhatikan surat itu malam sebelumnya, dan membaca:

------------------------------------------------------------------
HOGWARTS SCHOOL of WITCHCRAFT and WIZARDRY
------------------------------------------------------------------
SERAGAM
Murid kelas satu diharapkan memiliki:
1. Tiga set baju kerja yang biasa-biasa saja. Inget, biasa-biasa aja lho! Perhatian untuk murid baru bernama Shaven Terpot: Koteka bukan baju biasa dan tidak diperkenankan dipakai di Hogwarts! Ya, kami tau rencana busukmu itu!
2. Topi hitam lancip khas penyihir. Kenapa pake topi lancip? Soalnya kalo pake caping ntar dikira petani bukan penyihir. Hihihi… ehm… sori. Garing.
3. Sepasang sarung tangan. Hmm… omong-omong soal sarung tangan nih, kenapa yah, Miki Mouse pake sarung tangan? Kan aneh? Kadang-kadang Miki itu cuma pake celana merah, sepatu sama sarung tangan doang. Lha bajunya manaaa? Manaaa? Manaaa ekspresinyaaaa? Hihihi… ehm… sori lagi. Lebih garing.
4. Mantel penyihir.
5. Oh iya, mumpung inget: satu mantel ujan buat melindungi diri dari ujan.
6. Payung, sapa tau ujannya deres.
7. Mantel penyihir cadangan. Sapa tau yang satu basah kena ujan.
8. Celana kolor. Don’t ask. Pokoknya gak ada hubungannya sama ujan.
9. Topi hitam lancip ala… eh di atas udah ada yah?
10. Celana kolor cadangan. Believe me. Don’t ask.
Catatan tambahan, buat anak baru yang merasa dirinya manis dan belum punya pacar silahkan hubungi nomor HP berikut kalo ingin berkenal… eh salah… untuk murid-murid baru, dipersilahkan pake name tags di bajunya.

BUKU-BUKU PELAJARAN
Para murid diharapkan untuk memiliki buku-buku berikut ini:
1. ‘The Standard Book of Spells (Grade 1)’ oleh Miranda Goshawk
2. ‘A History of Magic’ oleh Bathilda Bagshot
3. ‘Magical Theory’ oleh Adalbert Waffling
4. ‘A Beginners' Guide to Transfiguration’ oleh Emetic Switch
5. ‘One Thousand Magical Herbs and Fungi’ oleh Phyllida Spore
6. ‘Magical Drafts and Potions’ oleh Arsenius Jigger
7. ‘Fantastic Beasts and Where to Find Them’ oleh Newt Scamander
8. ‘The Dark Forces: A Guide to Self-Protection’ oleh Quentin Trimble
9. ‘The Manual of Perfected Spells (Pedoman EYD) oleh JS Badada
10. ‘Silent Please’ oleh Tukuly Arwanas.

PERLENGKAPAN LAIN
Untuk perlengkapan lainnya, para murid dipersilahkan membaca buku ‘Harry Potter & The Sorcerer’s Stone’. Hihihi… males nih nulis ulang.


Oh iya. Para murid dipersilahkan membawa binatang-binatang yang ada kaitannya dengan dunia sihir menyihir kita yah! Boleh burung hantu, kucing, katak ato terserahlah apa, pokoknya kesannya magis. Perhatian untuk murid baru bernama Shaven Terpot: ayam milik tetangga sebaiknya jangan ikut dibawa, apalagi yang udah digoreng. Ya, kami juga tahu rencana busuk yang ini! Jangan ambil punya tetangga! Itu namanya nyolong!!

PERINGATAN UNTUK PARA ORANG TUA: ANAK-ANAK KELAS SATU TIDAK DIPERKENANKAN MENIRU ADEGAN SMACKDOWN… eh salah… MAKSUDNYA BELUM DIPERKENANKAN MEMBAWA SAPU TERBANG MEREKA SENDIRI.

“Lah! Bujubune! Apa-apaan ini?! Mak! Apa barang-barang yang kayak ginian bisa dicari di London?” tanya Shaven hampir pingsan lihat daftar yang absurd itu. “Mungkin bisa kita cari yang agak murah di E-Bay?”
“Semuanya ada di London.” Jawab Dippy.
 
Jangankan toko-toko di London, Shaven pergi ke pasar sebelah kampung aja jarang. Meskipun tahu arah mana yang dituju, sepertinya Dippy belum terbiasa pergi ke tempat tujuan itu dengan menggunakan kendaraan umum dan cara yang dilalui oleh orang biasa. Belum lagi sewaktu Dippy terjebak di antrian WC umum dan memprotes keras kebijakan air hemat di WC tersebut.

“Aku bingung bagaimana caranya kaum Muggle bertahan tanpa menggunakan sihir.” Kata Dippy sambil mengelus-elus perut yang makin lama makin mules. Ini salahnya sendiri juga sih, makan mie ayam satu mangkok tapi lomboknya 20 biji.

Setelah mengantri di WC, salah masuk ke pemandian air panas, keliru belok di gang buntu dan tersesat di kawasan desa Sukamaju, akhirnya Shaven dan Dippy sampai di sebuah gang kotor di tengah kota London. Hanya jalan biasa saja. Shaven sempat ragu-ragu apa di sini ada toko yang menjual peralatan sihir ato tidak. Kalo peralatan pramuka sih Shaven liat ada di pojokan.

“Ini nih!” kata Duippy sumringah sambil menunjuk sebuah toko. “Ini namanya Leaky Cauldron. Tempat yang sangat terkenal di kalangan kita.”

Sebuah pub kecil dan sedikit terlihat kotor. Kalo tidak diantar oleh Dippy, Shaven pasti mengira tempat ini semacam lokasi pembuangan sampah. Tidak ada satu orangpun yang melewati jalan itu memperhatikan pub ini. Bukan karena sihir ato apa. Baunya itu lho! Tak sempat Shaven terpesona oleh kekumuhan lokasi ini, dia sudah diseret masuk ke dalam oleh Dippy.

Untuk sebuah tempat yang terkenal, suasananya sangat gelap dan lumayan kumuh. Beberapa wanita tua duduk di pojokan dan bergosip kesana kemari sambil minum teh hijau. Seorang pria dengan topi tinggi bercakap-cakap dengan sang bartender yang berkepala botak dan mirip berang-berang (mohon jangan dibayangkan). Suara percakapan langsung terhenti saat Shaven dan Dippy melangkah masuk. Beberapa di antara mereka nampak mengenali Dippy. Mereka tersenyum dan memberi salam. Bahkan sang bartender meraih gelas dan langsung menawarkan minum. “Yang seperti biasanya, Dippy?”

“Sori, Bos, ini masih jam kerja.” Tolak Dippy. Dia menepuk pundak Shaven dengan bangga. “Ini adalah Shav~…”

“Onde monde! Dippy!” sang bartender melongo dan menatap ke arah Shaven tak percaya. “I-ini… mungkinkah anak ini…”

Leaky Cauldron langsung senyap.

“Sungguh sebuah berkah tiada terkira!” bisik si bartender uzur. “Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda, Tuan Asterix dari Galia.”

Gubrags!
Shaven dan Dippy langsung terjengkang. Hihihi…

“Bukan, bos! Ini Terpot muda! Shaven Terpot! Dasar dudul!”

Sang bartender meninggalkan barnya dengan buru-buru dan menyalami Shaven sambil meneteskan air mata.

“Selamat datang kembali, Tuan Terpot, selamat datang kembali.”

Shaven tidak tahu harus menjawab apa. Semua orang melirik ke arahnya dengan pandangan aneh. Dippy berseri-seri dan menepuk-nepuk pundak Shaven tanpa henti. Daripada ditepuk, mending dipijitin kek. Begitu kata Shaven dalam hati.

Tiba-tiba semua orang yang berada di Leaky Cauldron langsung bergerak meninggalkan kursi mereka dan memukuli Dippy! Hihihi, emangnya maling ayam? Enggaklah, mereka berebut bersalaman dengan Shaven. Kayak artis-artis sinetron itu lho.

“Sumanto, Tuan Terpot. Saya tidak membayangkan akhirnya bisa bertemu dengan anda.”
“Bangga sekali, Tuan Terpot. Sangat bangga. Yakin anda bukan Asterix?”
“Saya ingin sekali bersalaman dengan anda – duh saya gugup. Lho… kok malah ngompol yah?”
“Bahagia. Bahagia sekali, Tuan Terpot. Tidak ada kata-kata yang… nama saya Gamgee. Sammy Gamgee.”

“He! Aku pernah liat kamu sebelumnya” seru Shaven. Saat itu juga topi Sammy Gamgee jatuh ke lantai saking senengnya. “Aku lupa dimana tapi pokoknya kita pernah ketemu deh!”

“Dia ingat! Horeeee! Kalian dengar itu! Dia ingat pernah ketemu sama aku!!!” Sammy Gamgee lonjak-lonjak kegirangan. Dia memutari Leaky Cauldron seperti kesetanan. Shaven tidak henti-hentinya menyalami setiap orang. Ada Nenek Bebek, Desi Bebek, Agus Angsa, Lang Ling Lung, Koko dan Kiki, yah sebutkan semua karakter dari album Donal Bebek, mereka semua ada (bagi pihak yang menangani royalti tokoh Disney… penulis mohon maaf! Ampun! Ampuuun!! Ini kan cuma fanfic!).

Seorang pria muda berwajah keras dan memiliki kulit kusam berwarna abu-abu mendekati Shaven dan DIppy dengan sangat gugup. Penampilannya aneh, tidak bisa dibedakan antara orang ini dan kardus pasta gigi.

“Nah, nah! Siapa nih? Profesor Kirun!” jerit Dippy genit (halah!). “Shaven, ini adalah Profesor Kirun. Salah seorang guru di Hogwarts.”

“Tuan Terpot.” Kata Profesor Kirun sambil menyalami Shaven. Kata-katanya berat dan aneh, seperti ada jauh di ujung WC. “Tidak bisa dikatakan betapa bangganya saya berjumpa dengan anda.”

“Sihir apa yang anda ajarkan, Profesor Kirun?”

“Ludruk dan Ketoprak.” Gumam Profesor Kirun sedikit malu. “Saya mengajarkan kesenian ludruk dan ketoprak di Hogwarts. Walaupun sepertinya anda tidak begitu membutuhkan kemampuan dalam kesenian itu, wahai Terpot?”

“Err…” belum sempat Shaven menjawab, Profesor Kirun menyambar lagi.
“Kalian mau berbelanja? Saya sendiri mesti beli beberapa buku ketoprak dan dampaknya terhadap ekosistem dan geologi.”

Tapi pengunjung Leaky Cauldron yang lain tidak membiarkan Profesor Kirun mendominasi percakapan dengan Shaven Terpot yang mendadak tenar itu. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk membukakan jalan bagi Shaven melewati mereka semua.

“Harus cepat-cepat – banyak yang harus dibeli, ayo Shaven!” kata Dippy.

Sammy Gamgee menyalami Shaven untuk terakhir kali dan bersumpah tidak akan mencuci tangannya. Menurut penulis itu ide yang sangat jorok. Dippy membawa Shaven melalui pintu di belakang meja bar dan keluar ke arah halaman belakang yang sempit. Tidak ada apa-apa disana kecuali sampah dan rumput liar di tengah halaman bertembok.

Dippy tersenyum pada Shaven. “Sudah kubilang kan, kalian sudah terkenal bahkan sebelum kalian dikenal. Bahkan Profesor Kirun sendiri gugup berjumpa denganmu.”

“Kenapa kulitnya berwarna abu-abu kusam?”

“Ah itu. Yah. Laki-laki malang. Dia dulu seorang pria yang cerdas dan ceria. Suatu ketika dia berjalan-jalan ke Black Forest, hutan di dekat Hogwarts dan entah bagaimana dia menghilang selama berminggu-minggu. Saat ditemukan oleh Hagrid, kulitnya sudah abu-abu gitu. Au ah. Mana tadi payungku yah?”

Dippy lalu sibuk menghitung bata di tembok di atas kotak sampah. Dippy bergumam sendirian. “Tiga ke atas, dua menyamping. Awas, Shaven. Mundur dikit.”

Put. Put. Put.

Dippy mengetuk tembok itu tiga kali dengan ujung payungnya.

Tembok yang diketuknya bergetar – bergeliang geliut dan akhirnya, di tengah-tengahnya, muncul lubang kecil yang makin lama makin membesar dan terus membesar. Sesaat kemudian mereka sudah berada di sebuah jalan besar yang ramai di tengah sebuah kota. Ini jelas bukan London. Atau ini London? Shaven terkagum-kagum.

“Welcome.” Kata Dippy sambil tersenyum. “to Jurassic Park.”
“…”
“…”
“…”

Dippy membolak-balik naskah cerita. “Mohon maap bapak penulis. Boleh diulang lagi kata-kata saya? Tadi itu skenario cerita yang lain.”

Penulis mengangguk dengan geram.

Baiklah, kita ulangi.

Sesaat kemudian mereka sudah berada di sebuah jalan besar yang ramai di tengah sebuah kota. Ini jelas bukan London. Atau ini London? Shaven terkagum-kagum.

“Shaven-boy, selamat datang.” Kata Dippy sambil tersenyum. “di Diagon Alley.”

Shaven sudah terbengong-bengong sejak tadi. Dippy meringis aja. Mereka berdua menyusuri jalanan, sementara di belakang mereka, tembok yang tadi melebur kembali terbentuk menjadi dinding kokoh.

Matahari bersinar terang di Diagon Alley. Toko demi toko dilewati oleh Dippy dan Shaven. Mereka juga melewati sebuah toko yang menjual tongkat sihir. ‘Jual Tongkat – Segala Macam Tongkat – Tongkat Sihir, Tongkat Penggebuk Anjing, Tongkat Kornelius (itu sih Okan! Dudul!) dan lain-lain’.

“Yoi coi, nanti kita beli satu.” Kata Dippy. “Tentunya kita harus beli celana kolor pula. Tapi sekarang yang penting kita harus mengambil uang dulu di bank.”

Shaven seperti orang ‘ndeso’ di tempat itu. Kepalanya terus berpuyar-putar karena terheran-heran menyaksikan semua keanehan di tempat ini. toko-tokonya, barnag yasdg meraek juaasl… alksdjas laskdja aslkdj…

“…” Shaven terdiam.
“…” Dippy juga.
“Ada apa dengan penulis?” tanya Shaven. “Kok ketikannya ngaco?”
“Sstt… dia juga lagi terpesona sama tempat ini. Kalo soal ‘ndeso’, dia juga sama aja kayak kamu… udah yuk… jangan digangguin, ntar ngamuk-ngamuk.”
“Ah masa sih?”
“Yah, kalo bukan itu, paling alasannya keyboardnya lagi error.”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Baiklah. Saya sudah siap lagi.

Shaven seperti orang ‘ndeso’ di tempat itu. Kepalanya terus berpuyar-putar karena terheran-heran menyaksikan semua keanehan di tempat ini. Toko-tokonya, barang yang mereka jual, penjualnya, yang membeli, yang lihat-lihat barang yang dijual, yang tidak jadi beli, yang dimarahi gara-gara gak jadi beli, semuanya aneh dan baru bagi Shaven.

Seorang wanita gemuk yang baru keluar dari sebuah toko melintas di depan mereka sambil bersungut-sungut, “Hati naga kok jualnya 17 Sickles per ons. Enak ajah. Emangnya ini Indonesia? Penjualnya gila…”

Suara-suara aneh keluar dari sebuah toko yang bertanda ‘The Sims Pets Emporium – Dari Ulat Bulu Sampai Gajah Biru’. Beberapa remaja seusia Shaven menempelkan hidung di depan sebuah toko yang memajang setangkai sapu di jendela display.

“Wow, wow. Lihat itu!” salah seorang dari mereka menunjuk ke dalam toko. “Itu Nimbus 2000 yang baru. Sapu yang tercepat yang pernah diciptakan.”

Ada toko yang menjual jubah, teleskop, peralatan perak, tungku, ceret, ban bekas, pulsa telepon dan macam-macam lainnya. Shaven celingukan melihat kesana-kemari dengan perasaan berbunga. Luar biasa. Sangat luar biasa.

"Gringotts." Kata Dippy.

Sampailah mereka di sebuah gedung berwarna putih yang menjulang tinggi. Lebih tinggi dibanding toko-toko lain. Di samping pintunya yang berlapis perunggu, berdirilah sesosok makhluk dengan seragam merah emas.

“I-itu…” tunjuk Shaven terheran-heran.

“Iya. Itu goblin.” Bisik Dippy saat mereka mendekati gedung itu. Sang goblin bertubuh lebih pendek dari Shaven. Wajahnya kehitaman dan nampak sangat cerdas. Mereka memiliki jenggot yang panjang meruncing dan tangan serta kaki yang amat panjang. Sang goblin membungkuk memberi hormat saat Shaven dan Dippy masuk ke dalam. Mereka menemui satu pintu lagi berwarna perak. Di pintu itu terukir kata-kata:

Enter, stranger, but take heed
Of what awaits the sin of greed,
For those who take, but do not earn,
Must pay most dearly in their turn.
So if you seek beneath our floors
A treasure that was never yours,
Thief, you have been warned, beware
Of finding more than treasure there.


Yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dippy sebagai berikut:

Ke Rawabelong,
atau ke Ancol?
Berani nyolong?
Kepala benjol!


“Kalo aku, biar diupah lima ratus perak tetep gak mau nyolong di sini.” Kata Shaven.
“Kalo diupah dua milyar?” tantang Dippy.
“Kalo dua milyar ya nyolong. Sapa yang gak mau dua milyar?”
“Hnn… wong edyan! Tapi seperti yang pernah aku bilang, hanya orang gila yang berani merampok tempat ini.” kata Dippy.

Sepasang goblin membungkuk memberi hormat saat Shaven dan Dippy masuk melewati pintu berwarna perak. Begitu masuk ke dalam, Shaven langsung terpukau. Lobi bank ini adalah sebuah ruangan luas yang dilapisi oleh marmer. Sekitar seratus goblin duduk berjajar di kursi di belakang meja kasir yang amat panjang, sibuk menulis dan mencatat transaksi di buku kas besar, menimbang koin di timbangan kuningan dan memeriksa batu berharga dengan kacamata tebal mereka. Di kanan kiri tembok banyak pohon cemara… eh salah, banyak pintu menuju entah kemana sementara beberapa orang goblin (orang ato ekor yah?) sibuk mengantar orang-orang keluar masuk pintu-pintu itu.

“Selamat pagi.” Kata Dippy pada salah satu goblin yang menjadi teller. “Kami datang untuk mengambil uang atas nama Tuan Shaven Terpot.”

“Anda membawa kuncinya?”

“Ada! Ada!” Dippy merogoh kantongnya, lalu mengambil dompet dan menuang isinya ke atas meja counter si goblin. Langsung saja, dua ekor tikus, lima ekor jerapah dan tujuh ekor orangutan melesat keluar dari dompet dan mencari nafas. Entah sejak kapan mereka terjebak di dalam dompet si Dippy yang jauh dari kata ‘nyaman’. Si goblin mengernyit marah.

Akhirnya sebuah benda kecil berwarna emas jatuh. “Hahaha! Ketemuu!!”

Sang goblin melihat dengan seksama. “Betul. Ini kunci dari sini.”

“Ada lagi!” kata Dippy. “Aku membawa surat dari Profesor Dumbledore. Ini menyangkut Penyihir-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut-Kecuali-Keceplosan di lemari besi nomor 713 dan 313.”

Sang goblin mempelajari surat yang kemudian diberikan oleh Dippy. “Baiklah.” Katanya. “Ruangan nomor 713 telah dibuka dan diambil isinya oleh makhluk griwut-griwut yang juga diutus oleh Profesor Dumbledore yang bernama Kermit. “
“Kermit?” Shaven dan Dippy saling berpandangan.
“Iyah. Namanya Rumus Kermit.”
“Rumus Kermit?” Dippy menggaruk-garuk kepala. “Rubeus Hagrid, kali?”
“Eh iya! Rubeus Hagrid!”

Shaven pun bengong. Buset dah, ini goblin kacau juga.

“Akan aku panggilkan rekan yang akan mengantarkan kalian ke ruangan yang dimaksud. Sayuti! Sayuti! Kemari kau!”

Tentunya Sayuti adalah nama goblin yang lain lagi. Setelah memasukkan semua barang ke dalam kantong jaket, Dippy dan Shaven mengikuti Sayuti memasuki sebuah pintu di samping lobi utama.

“Apa yang disimpan oleh si-itu-tuh di lemari besi nomor 313?” tanya Shaven.

“Waduh, aku tidak boleh menyebar rahasia.” Jawab Dippy sok misterius. “Rahasia perusahaan nomor wahid. Urusan orang tua, Shaven. Anak kecil gak boleh tau. Aku bisa disihir jadi lumba-lumba kalo sampe ngasih tau orang apa yang ada di dalam sana.”

Sayuti memegang pintu untuk mereka berdua. Shaven yang tidak tahu apa yang ada di balik pintu menjadi terkejut. Sangat terkejut. Di belakang pintu ternyata terdapat jalan setapak yang menuju ke arah perut bumi. Di ujung jalan terdapat rel kereta yang terhampar jauh entah kemana. Sayuti bersiul dan dengan sekejap sebuah kereta kecil mendatangi mereka.

“Yakin, ini bukan Dufan?” tanya Shaven.

Shaven, Dippy dan Sayuti masuk ke dalam kereta kecil itu, dan wuzzzz… pergilah mereka.

Saat mengendarai kereta ini, Shaven jadi teringat kereta kancil yang biasa ia naiki di pasar malam. Mirip. Lumayan bikin mabuk juga. Bocah jayus itu lumayan terheran-heran, soalnya kereta ini bergerak sendiri dengan kecepatan tinggi menuju entah kemana. Kecepatannya bikin mules. Udah untung Shaven nggak ngompol, tapi Dippy yang berpegangan erat pada ujung kereta sepertinya sudah kentat-kentut sejak pertama kali berangkat.

Shaven melihat-lihat kesana kemari, takjub. Beberapa kali dia sempat melihat semburan api di sela-sela bebatuan. Apakah itu semburan api seekor naga? Entahlah, soalnya di dalam sini Shaven juga melihat ada beberapa goblin yang jualan jagung bakar.

“Aku selalu bertanya-tanya.” Kata Shaven sedikit berteriak. Ia mengajak Dippy berbicara di tengah riuhnya suara kereta. “Apa bedanya jagung manis dan jagung biasa?”

“Emangnya gue pikirin?” jawab Dippy yang wajahnya sedikit berwarna kehijauan. Mungkin dia mabuk. “Jangan nanya yang aneh-aneh! Aku… hoeeeekkkkhhh!!”
Logged

shaven
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +8/-2
Posts: 17



« Reply #9 on: February 13, 2007, 12:26:27 AM »

Setelah perjalanan jauh, kereta yang dinaiki Shaven, Dippy dan Sayuti akhirnya berhenti di sebuah tempat di mana terdapat sebuah pintu kecil di sisi tembok lintasan. Setelah turun, Dippy langsung lari dan mencium tanah.

“Aku selamaaat! Aku selamaaat! Aku selamaaaaaaattt! Huhuhuhu… hoeekkkhhh!!”

Shaven dan Sayuti, sementara itu, sibuk membersihkan kereta dari muntahan Dippy.

Tak lama kemudian Sayuti membuka pintu kecil yang terdapat di tembok. Begitu dibuka, asap berwarna kehijauan langsung menyeruak keluar. Walaupun apek, tapi masih jauh lebih harum dari bau kentut si Dippy. Saat asap itu hilang, Shaven terkesiap. Di dalamnya terdapat tumpukan uang emas, koin, perak, perhiasan, timbunan knuts, buku Lords of The Rings, koleksi DVD porno punya Aragorn dan sepeda motor yang belum lunas kreditannya.

“I-ini semua punya siapa?” tanya Shaven tergagap melihat uang melimpah ruah.

“Paman Gober.” Jawab Sayuti. “Ini gudang uangnya.”

“…”
“…”

Shaven dan Dippy langsung melirik ke arah Sayuti.
“Kenapa? Emangnya goblin ndak mboleh mbecanda?” kata Sayuti nginyem.
“Semua ini milikmu, Shaven.” Kata Dippy sambil tersenyum.

Semua milik Shaven. Mengagumkan. Amazing. Ajaib. Walaupun tidak pernah mengeluh dan hidup sederhana, keluarga Mr. dan Mrs. Ganno tentunya akan lebih bahagia kalau Shaven bisa menghadiahi sesuatu untuk membalas jasa mereka. Ia tidak tahu kalau ia diberkahi dengan harta sebanyak ini. Dalam hati Shaven sudah berencana mengajak orangtua angkatnya makan di restoran. Sudah terlalu lama mereka cuma makan mie instan.

Dippy membantu Shaven memasukkan sebagian tumpukan uang ke dalam tas. “Yang emas namanya Galleon.” Kata Dippy menerangkan. “17 Sickles perak sama dengan 1 Galleon dan 29 Knuts sama dengan 1 Sickle. Mudah kan? Oke, segitu dulu aja. Udah cukup kalo cuma buat membeli Indonesia. Kita akan segera ke… hoeekkkhhhh!!”

Shaven dan Sayuti mundur menghindari muntahan Dippy. Untung Sayuti tadi bawa balsem. Dioles-oleslah perut Dippy supaya hangat.

Dippy berpaling ke Sayuti. “Sekarang ke ruang nomor 313.  Saya mohon deh, bisa lebih pelan sedikit keretanya?”

“Maaf. Jalur lambatnya sedang diperbaiki, dipersiapkan untuk mbusway. Kita mau ndak mau musti kudu menggunakan kereta nyang ini.” jawab Sayuti.

Ruang 313 ternyata jauh lebih dalam daripada ruang penyimpanan harta keluarga Terpot. Udara menjadi makin dingin dan sesak saat kereta yang mereka kendarai makin masuk ke perut bumi. Udah gitu si Dippy berulang kali kentut, menambah semaraknya suasana perjalanan ini.

Setelah tersiksa, sampailah mereka di kamar penyimpan nomor 313.

Ruangan penyimpan nomor 313 tidak memiliki lubang kunci. Ada WC di sebelahnya, tapi tidak ada lubang kunci.

“Saya mohon mundur sedikit.” Kata Sayuti. Dia menowel pintu itu dengan genit dengan jemarinya yang lentik (jangan dibayangkan) dan perlahan pintu itu melebur dengan ajaib. “Seandainya bukan goblin dari Gringotts yang melakukan hal itu, maka si maling akan tersedot oleh si pintu dan terjebak di ndalam.”

“Seberapa sering kalian memeriksa ada tidaknya seseorang di dalam?” tanya Shaven.

“Oh, cuman sekali tiap sepuluh tahun. Itu juga kalo inget.” Jawab Sayuti sambil cengengesan.

Mestinya ada sesuatu yang menakjubkan di balik ruangan berkeamanan luar biasa ini, begitu pikir Shaven. Tapi ternyata Dippy hanya mengambil bungkusan kecil dengan beberapa surat dari kulit lumpia yang tergeletak begitu saja di tanah. Tidak nampak berharga sama sekali. Dippy menyimpan bungkusan itu di dalam kantong jaketnya. Shaven penasaran dan ingin bertanya apakah itu kado valentine untuk seseorang yang disayangi, tapi rasanya pertanyaan itu terlalu jayus.

“Cape deh. Ayo, kita balik pake kereta. Omong-omong, Sayuti, aku sangat tidak setuju dengan penggunaan kereta ini. Tidak nyaman dan bikin mabok. Aku akan menulis surat yang ketus pada pimpinan Gringotts seandainya sampai nanti malam aku terus menerus mengeluarkan kentut dan… hoeeekkkhhh!!!”

Setelah menempuh satu perjalanan menggunakan kereta lagi, sampailah mereka di dunia atas yang diterangi cahaya mentari dan dipenuhi udara segar. Huaaa… legaaaa! Setelah diserang bertubi-tubi oleh bau kentut Dippy, Shaven dan Sayuti yang mengenakan selang dan tabung oksigen akhirnya bisa bernafas lega.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Shaven dan Dippy meninggalkan Gringotts. Teringat pada uang di tas, Shaven sudah bersiap-siap lari membelanjakan duitnya di warnet sebelum disergap Dippy.

“Sebaiknya mencari seragam untukmu, Shaven.” Kata Dippy. Dia menunjuk ke arah toko ‘Madam Malkin ~ Menjual Jubah Untuk Segala Macam Keperluan’. “Hooeekkkhhh… duh, kayaknya masih mabuk deh. Aku paling benci naik kereta Gringotts. Dengar, Shaven. Aku perlu minum sedikit ‘penyegar’ di Leaky Cauldron. Kamu masuk sendirian ke sana yah. Gak papa kan? Hoeeekkkhhh!!”
“Gpp.”
“Sip. Aku cabs dulu kalo gitu.”
“Oke.”
“Bye.”
“Bye.”

Dengan langkah grogi tapi penuh kegagahan seorang tokoh utama, Shaven melangkah masuk ke toko Madam Malkin.

Madam Malkin adalah seorang penyihir bertubuh pendek dan gemuk yang mengenakan pakaian berwarna lembayung muda. “Hogwarts, sayang?” tanyanya. Shaven mengangguk malu-malu dan Madam Malkin dengan ramah mengajak Shaven ke belakang. “Di sini tempatnya, ada anak baru lain yang juga sedang mengepas jubah. Kalian bisa berkenalan, siapa tahu di Hogwarts jadi teman satu asrama.”

Di bagian belakang toko, seorang bocah berwajah pucat sedang berdiri di atas tempat pijakan kaki sementara seorang penyihir lain sedang memasang jubah hitam panjangnya. Madam Malkin menyuruh Shaven berdiri di samping si bocah lalu memasang jubah penyihir padanya pula.

“Halo.” Sapa si bocah. “Ke Hogwarts juga?”
“Iya.” Jawab Shaven.
“Ayahku ada di toko sebelah sedang godain SPG sedangkan ibuku ada di seberang jalan sedang mencuri telur ayam di warung sembako.”
“…”
“…”
“…”
“Hahaha! Aku becanda, bos! Ayahku sedang mencari buku dan ibuku sedang melihat-lihat tongkat sihir.” Kata si bocah sambil cekikikan. “Aku sih kepengen membeli sapu terbang balap keluaran terbaru. Entah kenapa ada peraturan anak baru tidak boleh memiliki sapu. Aku akan merengek supaya dibelikan dan menyelundupkannya ke Hogwarts. Wekekek.”

Bocah itu mengingatkan Shaven pada Dudley.

Hmm, nggak juga. Bocah itu mengingatkannya pada Gerombolan Siberat.

Hmm, juga bukan.

Shaven langsung teringat pada seekor sapi. Loh? Kok sapi? Gak tau deh, tiba-tiba aja keingetan ma sapi.

“Sudah punya sapu terbang?” tanya sang bocah.
“Belum.” Jawab Shaven. “Tapi di rumah ada sapu ijuk.”
“Sudah pernah main Quidditch?”
“Belum. Apa itu kudis?”
“Idih! Becanda yah! Masa tidak tahu Quidditch? Lalu permainan apa yang pernah dimainkan bersama teman-teman?”
“Err… bola bekel? Lompat tali? Ngisi TTS? Monopoli? Nyolong tebu?”
“Walah. Kakak kacau.”
“Terima kasih. Banyak yang bilang gitu.”
“Kalo kata ayah, aku ini berbakat bermain Quidditch. Seharusnya aku masuk tim utama di asrama nanti. Sudah tahu kakak masuk asrama mana?”
“Belum.”
“Ngg, emang belum ada yang tahu sih kalo belum sampai ke sana, ya kan, tapi aku tahu aku pasti masuk Slytherin. Seluruh keluargaku masuk ke sana. Kalo sampe masuk Hufflepuff, aku pasti minggat, hahaha…”
“Hmmm.” Jayus.

Madam Malkin menepuk-nepuk bahu Shaven dan si bocah untuk memberitahu jubah mereka selesai dipasang. Madam Malkin meninggalkan mereka berdua bercakap-cakap.

“Kadal ketupat kolang kaling!!! Liat ke sana itu!!! Itu orang ato karung kentang?!!” kata sang bocah tiba-tiba sambil menunjuk ke satu arah di luar jendela. Dippy berdiri di arah yang ditunjuk sang bocah. Dippy tersenyum pada Shaven, wajahnya sudah terlihat jauh lebih segar. Sayangnya kalo sedang senyum susah dibedakan mana yang Dippy mana yang ubi rebus.

“Oh, kalo yang itu sih aku tahu. Itu bukan karung kentang. Itu pohon rambutan. Hihihi, bukanlah! Itu yang namanya Dippy. Dippodus Hagrid. Dia kerja di Hogwarts.”

“Oh?” si bocah takjub. “Aku sudah pernah dengar tentang dia. Bukannya dia itu pembantu?”

“Buset! Yang kayak gituan pembantu? Kita bukannya kaya malah tekor kalo yang ginian diekspor jadi TKI!” kata Shaven. Tapi ucapan sang bocah meremehkan Dippy membuat Shaven kurang simpati kepadanya.

“Beneran deh. Kalo yang dari aku denger, dia itu sebangsa manusia purba yang terkena imbas mutasi. Kalo pagi jadi kanibal kalo malem jadi banci prapatan. Tinggal di gubuk di halaman Hogwarts dan rada brutal, sekali dua kali mabuk-mabukan tiga empat kali mabuk beneran. Pernah suatu ketika dia merapal sihir, eh, gubuknya langsung tenggelam ke air. “

“Ha? Tenggelam ke air? Apa dia salah mengucap mantera sihir?”
“Err… bukan. Waktu itu memang lagi musim banjir.”
“Walah.” Shaven menggeleng. “Tapi aku tidak percaya gosip. Dippy orang yang baik kok.”
“Oh begitu?” si bocah tersenyum menghina. “Kok dia bisa pergi sama kamu? Kemana orangtuamu?”

“Mereka sudah menghilang sejak lama. Entah dimana mereka sekarang.” Jawab Shaven. Dia mulai jengah meladeni percakapan si bocah.

“Oih. Sori.” Sahut si bocah. Entah kenapa, ‘Oih. Sori’-nya terdengar seperti ‘Emangnya gue pikirin’. “Yah, pokoknya nanti kita ketemu lagi di Hogwarts, kecuali kalo kamu berasal dari keluarga Muggle, yang aku yakin sepertinya bukan. Mereka yang berasal dari keluarga Muggle tidak pantas masuk ke Hogwarts. Oke deh. Cabut dulu, bos!”

Shaven mengangkat bahu dengan malas. Bocah itu pergi meninggalkan Shaven sendiri.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Yo, dude!” sapa Dippy.
“Halo Dippy.” Shaven membalas dengan lemas.

Dippy menghampiri Shaven yang terlihat suntuk. Dippy yang ternyata bisa mendengar percakapan antara Shaven dan si bocah di dalam toko  menepuk-nepuk pundak Shaven (kok bisa mendengarkan percakapan? Kan jaraknya jauh? Pokoknya bisa. Suka-suka penulis dong, namanya juga dunia sihir! Hihihi.).

“Jangan dipikirkan. Tidak semua orang menganggapku baik, sebagian malah mengira aku ini keturunan gorila, terima kasih sudah membantuku tadi. Kamu tidak perlu sesedih ini, karena memang sudah nasibku memiliki penampilan seperti vokalis TeamLo. Jangan juga bersedih karena omongan bocah tadi, sinis yah? Tidak usah dipikirkan dalam hati. Dia tahu apa sih? Apalagi komentarnya soal keluarga Muggle yang tidak pantas masuk Hogwarts! Cih, dia tidak tahu apa-apa! Dia cuma sok tahu! Lagipula keluargamu bukan keluarga Muggle, lihat saja ibumu. Dia benar-benar seorang penyihir yang hebat dan datang dari keluarga Muggle. Jadi, jangan bersedih hanya gara-gara bocah yang…”

“Err… Dippy.”
“Iya?”
“Aku bukan sedih gara-gara itu.”
“Terus?”
“Aku sedih gara-gara lihat harga majalah Donal Bebek di kios itu.”
“…” Dippy bengong. “Ha-harga majalah Donal Bebek?”
“Iya. Duitku kurang dua ribu rupiah. Boleh pinjam dulu?”

(Iya. Di London-pun Donal Bebek dijual dengan kurs rupiah. Kok rupiah? Bukannya pounds? Ih rese amat sih! Suka-suka penulis dong! Hihihi…).

Dippy nginyem. Kirain sedih ngapain. Dasar dudul. Shaven pun melonjak-lonjak bahagia saat Dippy mengeluarkan uang dua ribu rupiah dari dompetnya dengan perasaan tak rela. Tanpa belas kasihan, Shaven menyambar dua lembar uang ribuan di tangan Dippy dan melesat ke kios majalah tanpa menengok ke belakang.

Dippy misuh-misuh. Hihihi.

Shaven yang bahagia kembali dengan majalah Donal Bebeknya yang baru dan duduk di samping Dippy.

“Jadi apa itu kudis… euh… Quidditch?” tanya Shaven.
“Itu olahraga kaum penyihir. Kayak apa yah? Polo air campur balap karung.”
“Polo air campur balap karung?”
“Euh… kok jauh amat yah perbandingannya? Mungkin kayak sepakbola kalo di dunia kaum Muggle. Semua penyihir menyukai Quidditch. Dimainkan di udara dengan sapu terbang dan menggunakan empat bola – agak susah sih nerangin peraturannya. Nanti kamu juga tau sendiri. Aku kan cuma pemeran pembantu, kurang pantas kalo kebanyakan kalimat yang tidak ada dalam skrip. Ntar dikira kemaruk pengen jadi pemeran utama.” Kata Dippy.

“Lalu Slytherin dan Hufflepuff?”
“Itu nama asrama. Ada empat yang resmi: Slytherin, Hufflepuff, Ravenclaw dan Gryffindor, sebenarnya ada satu asrama lagi disembunyiin sama kepala sekolah saking ancurnya.”
“Pasti aku masuk ke asrama yang ancur itu.” Kata Shaven suram.
“Mending begitu daripada masuk ke Slytherin.” Sanggah Dippy. “Lulusan Slytherin terkenal bodor. Si-Dia-Yang-Namanya-Musti-Disambung-Pake-Garis adalah lulusan Slytherin. Tak terhitung penyihir jahat lain lulus dari Slytherin seperti Bolot, Malih dan Jojon.”
“Lho? Mereka kan pelawak? Bukan penyihir?”
“Eh iya yah? Pokoknya gitu deh.”

“Jadi Si-Vol-De-Mort itu dulunya juga sekolah di Hogwarts?”
“Dulu sekali.” Jawab Dippy. “Seperti Eko, Parto dan Akri juga.”
“Euh… itu grup Patrio. Mereka juga pelawak.”
“Oh. Iya.” Dippy terdiam.
Logged

shaven
Ravenclaw
HPI
**

Karma: +8/-2
Posts: 17



« Reply #10 on: February 13, 2007, 12:30:26 AM »

Dippy mengajak Shaven untuk belanja beberapa buku di sebuah toko yang bernama Flourish and Blotts. Sebuah toko buku yang sangat lengkap dan kebetulan sedang ada diskon. Dippy mencomot buku ‘Beternak Ikan Koi’ untuk dirinya sendiri. Sementara, Shaven yang sehari-hari jarang baca buku ternyata lumayan betah dan kagum dengan kelengkapan koleksi buku di tempat ini. Ada banyak buku sihir yang menarik hatinya seperti: ‘Membedakan Alam Semesta dan Alam Adiknya Vetty Vera oleh Endangku Rnia’, lalu ada buku ‘Tip Mudah Membuat Witch-Blog Tanpa Repot Mempelajari HTML oleh Ory Suryo’, ada pula buku best seller ‘Wiz Dad Poor Dad karangan Robert Iyosaikiwae’. Tapi buku yang paling diminati Shaven adalah ‘Mengkomersilkan Mantera Sihir: Dari Susuk Sampai Pelet karangan Mpu Wesewesewes Bablasangine’.

“Huehehehe… aku pengen cari tahu gimana caranya masang susuk. Lumayan buat penghasilan tambahan kalo ntar lulus dari Hogwarts.”

“Bukan maksudku melarang. Tapi kita tidak diperkenankan menggunakan sihir seenak wudel di dunia Muggle kecuali dalam kondisi tertentu. Istilah kerennya, emergency. Contohnya? Sewaktu kita sedang nongkrong di toilet dan tissuenya abis atau airnya kering. Nah, itu baru boleh pake sihir! Lumayan sering aku praktekkan sendiri sih.” Kata Dippy. “Lagian, kamu belum nyampe ke situ kok. Untuk bisa mempelajari mantera sihir, kamu harus belajar keras. Oh iya, satu lagi. Kita ini penyihir, bukan dukun. Tolong dibedakan yah.”

Setelah buku, Dippy membawa Shaven berkeliling lagi untuk belanja kebutuhan sihir lain seperti bawang merah, bawang putih, cabe, saos sambel, saos tomat, garam dan nasi. Penulis jadi bingung, benernya ini mau jadi penyihir ato penjual nasi goreng? Yah, singkat cerita, pokoknya mereka belanja untuk keperluan di Hogwarts nantinya.

Setelah dirasa cukup, Dippy memeriksa daftar belanjaan lagi. “Hmm, cuma tinggal celana kolor dan… oh iya, aku masih belum memberikan hadiah ulang tahun buat kamu.”

Wajah Shaven langsung memerah. “Ah, gak perlu kok…”

“Eh, perlu! Perlu sekali! Gini aja deh, aku yang akan mengambil binatang peliharaan buat kamu. Yang jelas aku tidak akan memilihkan kodok untukmu, udah gak jaman. Jadul banget. Aku juga gak begitu suka kucing, kalo pipis dimana-mana. Kalo burung hantu kayaknya berkesan serem. Oke deh, aku tahu! Shaven! Akan kuberikan seekor kuda nil untuk hadiah ulang tahunmu, gimana? Kuda nil sedang tren tahun ini, besar, berkesan bloon dan gak begitu peduli biar dihina kayak apa juga.”

“Ku… kuda nil?”

Setengah jam kemudian, Shaven dan Dippy melangkah keluar dari The Sims Pets Imperium. Kini Shaven sudah memegang kandang besar berisikan seekor burung beo yang sedang manggut-manggut ngantuk. Untunglah stok kuda nilnya sedang habis, batin Shaven. Memang burung beo bukan burung hantu, tapi lumayanlah daripada nggak ada. Stok burung beo inipun sebetulnya disediakan bukan untuk penyihir, tapi untuk bajak laut. Jack Sparrow sering belanja di sini kalo keabisan stok gurita raksasa. (Yah nggak papalah, crossover dikit, dari Harry Potter ke Pirates of The Caribbean).

“Makasih yah Dippy buat kado burung beonya.”

“Alah, hanya sekedarnya ini.” kata Dippy. “Benernya sih rada mahal juga, musti kredit tiga kali bayar, tapi gak apa-apa kok, kan udah terlanjur dibeli.” Dippy kembali sibuk menghitung sisa uang di dompet sambil bersungut-sungut. “Kayaknya cuma tinggal belanja di tempat si Ollie yah. Tempat terbaik untuk mendapatkan celana kolor paling trendy bagi penyihir sejati. Kita harus mendapatkan celana kolor terbaik untukmu, Shaven!”

Celana kolor. Benda inilah yang sedari tadi menjadi pertanyaan bagi Shaven. Apa sih pentingnya celana kolor bagi seorang penyihir? Ketika hal ini ditanyakan pada Dippy, jawabannya simpel. ‘Lebih penting mana antara celana dan tongkat sihir untuk seorang penyihir? Jawabannya adalah celana. Lebih baik pake celana tanpa bawa tongkat daripada bawa tongkat tapi gak pake celana’. Jawaban yang sangat menentramkan.

Shaven sudah siap dengan kalimat ‘Bukannya pakaian penyihir ketutupan jubah?’, tapi diurungkan niatnya menanyakan perihal itu. Gak penting banget. Jawabannya pasti: ‘Suka-suka penulis dong!’. Hrr~

“Kenapa kok gak sekalian sama Madam Malkin tadi, Dippy?” tanya Shaven.
“Apanya? Celana kolornya? Hue… soalnya yang ini khusus! Special! Lagian tadi kan jubah, sekarang celana kolor, lain dong, bos!”

Toko penjual celana kolor itu ternyata terletak di sebuah sudut yang lumayan tersembunyi. Di atas pintu kayu terdapat sign ‘Diagonal Ih Tailor: Menjual celana kolor pilihan sejak 382 BC. Tersedia berbagai macam merk dan warna’. Sebuah celana kolor berwarna merah jambu tergeletak manis di jendela display yang mulai berdebu.

“Aih ada pelanggan. Tak uk uk! Selamat sore.” Terdengar suara yang lumayan ‘flamboyan’ (kalo gak bisa dibilang rada menjeng) menyambut mereka. Shaven dan Dippy menoleh ke arah suara dan melihat sosok seorang pria berkacamata gaul, berambut trendy dan mengenakan lipgloss berjalan ke arah mereka dengan gerakan yang lemah gemulai.

“Euhh… apa kabar.” Tanya Shaven sopan.

“Ah ya!” sambut si pria flamboyan yang sudah bisa dipastikan kalo dia ini adalah pemilik toko. “Ya ya ya! Aduh-aduh, gak nyangka deh bo! Akhirnya bisa ketemuan sama Tuan Shaven Terpot muda! Wah wah, udah gede yah? Ihik, cakep pula! Ikke naksir deh, bo! Jadi inget ma Papanya yang ganteng gitchu, aih si Aragorn Terpot pokoke honke-honke banget! Aahhhh!! Seperti baru kemaren aja si Aragorn yang pantatnya aduhai itu beli celana kolor di sini! Ikke masih inget, celana kolor warna biru yang ada totol-totol putih segede koin lima ratus perak! Ya ya ya. Nama lengkap Ikke Johanal Berandal Ollipollie, tapi biar akrab panggil aja Om Pollie. Ihik! Kamu cakep deh!”

Melalui gaya bicaranya, sudah bisa dipastikan dari jenis apa Om Olliepollie penjual celana kolor ini. Jenis tengahan, cewek bukan, cowok meragukan. Om Pollie mendekati Shaven dengan nekat. Shaven bergerak mundur dengan sedikit ketakutan. Dia paling ogah sama yang ginian.

“Ikke punya pepatah manjur: Bukan seorang penyihir yang memilih celana kolor. Tapi celana kolorlah yang memilih pemiliknya! Gitchu!” kata Om Pollie. Saking dekatnya dengan Shaven, bocah itu bisa mencium bau telur ceplok setengah matang yang tentunya adalah menu sarapan Om Pollie. Hiyeeekk!! “Celana kolor juga berguna untuk menyembunyikan luka berbentuk kilat yang ada di pantat!”

Shaven tambah mundur dan memepetkan badan ke tembok waktu Om Pollie menyebut-nyebut kata ‘pantat’.

“Sungguh menyesal Ikke kehabisan stok pampers sewaktu kamu diserang Si-aihh-ahh-uhh! Tak sanggup Ikke. Ikke tak sanggup. Sanggup Ikke tak. Sudahlah. Ikke selalu bad mood kalo mengingat ulah si-pemilik-celana-kolor-warna-item-bergambar-udang-bongkok itu. Hiks hiks, Ikke menyesal udah menjual celana kolor itu! Ahhhh dunia memang kejam! Kejam! Kejam pada Ikke!!!” kata Om Pollie lagi sambil berpaling ke arah Dippy. “Lho…! Ada kamu toh!! Waladalah!! Dippodus Hagrid, gitchu!! Piye kabare? Sini-sini! Muah-muah dulu to ya!!”

Dengan nginyem dan penuh keterpaksaan, Dippy pun menyerahkan pipinya untuk cipika cipiki.

“Dippy, Dippy! Seneng banget bisa ketemu kamu lagi! Sebentar-sebentar! Ikke ingat kok, celana kolor ijo gambar bakpao!! Hahaha!! Bener kan? Masih dipake? Sekali-sekali dicucilah!”

“Ma-masih kok Om, masih dipake…” Entah mau ditaruh kemana muka Dippy.
“Antik lho itu! Mana ada yang lain yang gambar bakpao! Ada juga gambar rantang sayur! Masih bagus kan kondisinya?”
“Lumayan Om, rada sobek waktu Hagrid dan saya dikeluarin dari Hogwarts.”
“SOBEK!!! Aih!!! Sini Ikke jahit!! Sini!!! Sekarang!!”
“Errr… kayaknya waktunya nggak tepat deh, Omm.”
“Tapi masih bisa dipake kan?”
“Err… rada ancur sih bentuknya, tapi masih bisa dipake kok, Om.”

“Ya ya ya… oke deh.” Om Pollie beralih kembali ke Shaven. “Nah, -- Tuan Terpot muda. Apa yang sekiranya cucok buat kamu yah? Hmmm…” Om Pollie menarik gulungan meteran dari balik celananya. Dengan teknik canggih dan cepat Om Pollie segera mengukur lingkar pinggang Shaven dan lingkar-lingkar yang lain yang sebaiknya tidak disebutkan disini karena tentunya kurang sopan mengingat banyak anak-anak membaca cerita ini. Hehehe.

“Setiap kolor yang diproduksi oleh Diagonal Ih Tailor punya bahan magis yang bisa dikatakan tidak didapat dengan mudah, Tuan Terpot muda. Kami menggunakan bahan pilihan seperti misalnya kulit pantat naga, bulu ketiak burung Phoenix yang bersertifikat dan dijahit menggunakan uban Unicorn. Semuanya bahan pilihan, gitchu! Celana kolor kami hanya satu-satunya di dunia. Tidak ada duanya, one and only, gak ada clonenya. Pokoknya anda puas, kami lemassss…”

Shaven baru sadar, kalo meteran yang digunakan untuk menghitung lingkar tubuhnya bergerak sendiri. Om Pollie berjalan gemulai namun cepat menyusuri lemari demi lemari untuk mencari celana kolor yang sesuai.

“Cukup.” Kata Om Pollie, dan meterannya pun jatuh ke lantai. Pria flamboyan itu mengambil sepotong celana berwarna biru metalik dan memberikannya pada Shaven. “Baiklah, Tuan Terpot muda. Mungkin yang ini dicoba dulu. Itu bilik gantinya ada di sana.”

Shaven sudah hendak melangkah masuk ke kamar pas, ketika Om Pollie menghentikannya.

“Hum, warnanya kurang cocok dengan sinar matahari musim ini. Coba yang ini dulu.” Kata Om Pollie sambil memberikan celana yang lain. Kali ini celana kolor bermotif Hawaii.

Shaven mengangkat bahu dan mengambil celana yang diberikan Om Pollie. Tapi lagi-lagi sebelum masuk ke kamar pas, celana itu diambil.

“No no no no! Warnanya kurang cucok rasanya sama kulit kamu, gitchu. Oke deh, pake yang mana lagi yah? Hmm… ala biker nggak cucok, pake jeans rada ketat nggak cucok pula, pake rok? Ahahahahaha! Becanda tentu saja! Ikke hobi becanda lho, bo!”

Entah kenapa pernyataan tersebut tentunya nggak ada yang nanya.

Silih berganti Om Pollie memberikan celana, tapi langsung diambil kembali. Ada satu celana berwarna pink bergambar sandwich, yang sudah hampir dipakai Shaven, ternyata celana punya Om Pollie sendiri yang belum sempat disetrika. Shaven menolaknya mentah-mentah.

Akhirnya…

“Susah banget sih, bo! Tapi jangan khawatir! Ikke pasti punya celana yang pas untuk… eh sebentar… jangan-jangan… iya juga yah… kenapa nggak? Kombinasi yang rada unik. Hanya tinggal satu-satunya…”

Om Pollie memberikan celana berwarna biru kehitaman. Shaven masuk ke kamar pas dan swing~ kamar pas itu menyemburkan cahaya keemasan yang menyilaukan ruangan. Dippy tersenyum puas. Shaven keluar dari kamar pas sambil tersenyum. Om Pollie bertepuk tangan. “Luar biasa! Oh indahnya, perpaduan yang sangat pas! Oh, Ikke bisa menangis haru! Nah, nah, nah, menarik sekali… sungguh menarik… menarik sekali…”

Om Pollie membungkus celana kolor itu dan memasukkannya ke dalam tas kresek sambil bergumam. “Menarik sekali… sungguh menarik sekali…”

“Ehm, maaf.” Tanya Shaven. “Tapi apanya yang menarik?”

Om Pollie menatap Shaven dengan pandangan serius. Jauh lebih macho dari biasanya. “Ikke selalu ingat tiap celana kolor yang Ikke jual, Tuan Terpot muda. Semuanya Ikke ingat, gitchu. Entah kebetulan ato apa, tapi tali kolor yang terdapat pada celana milik Tuan Terpot muda terbuat dari buntut kuda nil merah jambu. Hanya ada satu kuda nil seperti itu di dunia, dan buntutnya sudah dipotong dua. Satu untuk anda… dan satunya lagi…”

“Satunya lagi?” Shaven penasaran.
“Digunakan untuk tali kolor sepotong celana hitam bergambar udang bongkok.”
“Maksudnya?”
“Tali kolor celana anda memiliki asal yang sama dengan tali kolor celana dia yang telah membubuhkan tanda kilat di pantat anda, Tuan Terpot muda. Sungguh menarik kan?”

Shaven menelan ludah.

“Ya ya.” Om Pollie melanjutkan lagi. “Sungguh menarik kalo dua kolor dari asal yang sama ternyata memilih pemilik yang berseberangan. Ingat pepatah Ikke tadi? Celana kolorlah yang memilih pemiliknya, bukan sebaliknya. Ah, Ikke yakin, Tuan Terpot muda pasti akan memiliki masa depan yang cemerlang dan melakukan perbuatan-perbuatan jayuz yang luar biasa. Bagaimanapun, si-dia-yang-namanya-aku-aja-lupa telah melakukan tindakan-tindakan yang luar biasa. Mengerikan memang, tapi luar biasa.”

Shaven merinding sambil memegangi pantat.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Sore harinya, matahari mulai menyembunyikan diri di balik langit saat Shaven dan Dippy yang kelelahan akhirnya tiba di stasiun kereta.

“Makan-makan dulu deh, Shav. Laper banget nih.” Kata Dippy yang sepertinya memang tidak bisa menyembunyikan nafsu dahsyatnya menyantap makanan.

Dippy membelikan lontong sayur untuk Shaven dan mereka duduk berdua di sebuah emperan. Shaven mulai memandang lingkungan sekitar. Ada yang aneh. Entah apa, tapi rasanya ada yang aneh. Semuanya aneh.

“Kok diem aja, Shav? Lagi pundung?” tanya Dippy.

Shaven tidak yakin dia bisa menceritakan apa yang dia rasakan pada Dippy. Dia baru saja memperoleh ulang tahun terhebat sepanjang hidupnya dan kini sambil makan lontong sayur, dia mencoba mencari kata-kata yang tepat.

“Semua orang menganggap aku ini spesial.” Kata Shaven.
“Siapa bilang?” tukas Dippy. “Kamu ini biasa-biasa aja kok.”

“Yah, setidaknya orang-orang di Leaky Cauldron, Professor Kirun, Om Pollie… tapi aku kan gak ngerti apa-apa. Jangankan sihir, sulap aja gak ngerti. Tapi kok bisa-bisanya mereka mengharapkan aku melakukan sesuatu hal yang luar biasa nantinya? Aku ini terkenal, bukan berarti aku narsis lho ya, tapi aku ini terkenal dan aku tidak tahu terkenal dimananya. Penampilan biasa saja, bau wangi juga nggak, pinter juga nggak. Hebat dimana coba? Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi sewaktu si Vol-, maaf si-penembak-pantat itu datang di malam orangtuaku menghilang.”

Dippy tersenyum lebar, walaupun maunya ramah, tapi malah keliatan menyeramkan, untung  gak ketemu ‘Tim Pemburu’, bisa-bisa dimasukin ke botol. “Nggak usah khawatir, Shav. Masih ada sumur di ladang, masih boleh kita menumpang mandi. Kamu pasti bisa kok, kamu harus yakin pada dirimu sendiri. Dunia ini tidak selebar daun kelor dan berakit-rakit ke hulu kita berenang ke tepian untuk sepandai-pandainya tupai melompat (apa hubungannyaaaa?!). Belajarlah dulu sedari awal di Hogwarts, semuanya juga begitu, memulai dari awal. Memang agak susah, apalagi kamu cuma sendirian di sana, tapi aku yakin kamu akan mendapatkan masa-masa yang menyenangkan di Hogwarts. Aku juga kok. Jangan khawatir deh, seperti kata pepatah: gara-gara nila setitik, rusaklah susu sebelanga. Oke?”

Dippy membantu Shaven naik ke kereta api yang akan membawanya kembali ke keluarga Ganno. Dia memberikan tiket untuk Shaven.

“Ini tiket untuk pergi ke Hogwarts.” Kata Dippy. “Rada mahal juga ini tiket. Kutukupret! #@$%!! Gara-gara kantong celanaku bolong, musti beli tiket di calo tadi pagi. Pokoknya ingat, tanggal satu September. King’s Cross. Semua keterangan ada di tiket. Kalo ada masalah penting, hubungi 911! Kalo sakit berlanjut hubungi dokter! Kalo ada masalah yang berhubungan dengan Hogwarts, kirim surat pake burung beonya, dia pasti tahu kemana mencari aku. Kalo dia gak terbang-terbang, tendang aja! Oke deh, jumpa lagi yah, Shaven! Pokoknya ingat kata pepatah: kalo ada tupai yang pandai jatuh ke sumur di ladang bolehlah kita berenang ke tepian! Ciao!”

Tut! Tut!

Kereta yang dinaiki Shaven mulai meninggalkan stasiun. Bocah itu memandang ke arah Dippy tanpa berkedip dan melambaikan tangannya. Begitu Shaven berkedip, Dippy sudah lenyap dari pandangan. Entah kema… oalah, ternyata Dippy masuk ke kedai donat. Dasar!!


-BERSAMBUNG-

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

shaven-note:
1. Episode ini merupakan parodi dari bab kelima novel “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone” yang berjudul “Diagon Alley”
2. Enjoy!
Logged

Pages: [1]
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.8 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!

supported by : IndoLowonganKerja.com