harrypotterindonesia.com
July 30, 2010, 11:42:11 AM *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: Selamat datang di Forum HPI yang baru. Silahkan melakukan Registrasi untuk ikut berdiskusi di forum ini. Mari kita jaga Forum ini bersama.
 
   Home   Help Search Login Register  
Pages: [1] 2 3
  Print  
Author Topic: ~FF KEROYOKAN~ Hogwarts 4 Everyone  (Read 7704 times)
L-affy
Slytherin
HPI
**

Karma: +139/-27
Posts: 432



« on: August 18, 2008, 11:22:38 AM »

   Inilah cerita awalnya! untuk Q, A, C, C silakan post disini


   “Ini konyol.” Ginny Weasley menaikkan sebelah alisnya, memandang sebuah papan pengumuman di Aula Besar dengan raut wajah sebal.


KURSUS APPARITION

Jika kau berusia tujuh belas tahun, atau akan menjadi tujuh belas pada atau sebelum tanggal 31 Agustus, kau memenuhi syarat untuk ikut kursus Apparition selama dua-belas-minggu dari Instruktur Apparition Kementerian Sihir.
Silahkan mencatatkan nama di bawah jika kau ingin ikut. Biaya: 12 Galleon.


   Luna Lovegood tersenyum tanpa fokus sambil memilin-milin kalung gabusnya. Gadis itu menoleh pada Ginny dan melirik lagi ke pengumuman tersebut. “Kau ingin ikut, begitu?” ujarnya dengan suara melamun.

   Ginny mencibir. Ia belum tujuh belas tahun. Ia ingin ikut, apalagi karena didengarnya Fred dan George langsung lulus di ujian Apparition mereka yang pertama.

   “Lihat, nama kakakmu ada disini.” Ginny menatap sekilas pada kertas yang ditunjuk Luna. Benar, Ronald Weasley. Ha, rupanya kakaknya tersayang berharap bisa lolos ujian ini, sama seperti dirinya. “Kutebak dia dimana sekarang? Membual pada teman-temannya bahwa dia akan bisa segera menyelesaikan ujian Apparition ini, dan dengan begitu Lavender Brown akan semakin nempel kepadanya. Mmuach muachh....”

   Luna mengangkat bahunya, “Kudengar suaranya beberapa saat yang lalu disini.” Ujar gadis itu tenang. Ia nampak tak peduli sama sekali dengan Kursus Apparition ini. “Kau tahu, Apparition itu kata dad sebenarnya adalah—“

   “Oh, hai Ginny, Luna.” Sebuah suara muram menyela. Kedua gadis itu memandang terkejut kepada si penyapa mereka. Hermione, berjalan di sebelah Neville Longbottom, nampak muram dan menahan marah. “Mione, ada apa?” Ginny menatapnya cemas.

   “Won-Won.” Geram Hermione dengan nafas tertahan. Somehow, Ginny melihat kilatan berang di mata Hermione, dan ia merasa simpati dengan gadis itu. Seperti dirinya, yang telah lama menahan kesal melihat Sang Terpilih bersama Cho Chang.

   “Oh, apakah itu judul sebuah lagu baru?” Luna menanggapi riang, wajahnya yang putih cenderung pucat nampak berseri-seri seketika. “Aku suka sekali lagu ceria. Won-Won sepertinya judul yang bagus.”

   “Oh ya, bagus sekali.” Hermione tersenyum lebar. Namun Ginny malah melihat seolah ia siap mengeluarkan taring dan bukannya tersenyum. Ginny menepuk pelan bahu Luna agar ia bisa sedikit diam. “Mau mengobrol bersama kami, Hermione?” tawarnya manis. Bermaksud mengalihkan perhatian Hermione dari kakaknya.

   “Maaf Ginny, aku harus mengikuti pelajaran. Sore ini, mungkin...?” Hermione menggeleng lemah. Dan Ginny semakin prihatin melihatnya murung seperti itu. Ronald Weasley memang terkadang menyebalkan, namun belum pernah Ginny sebegini ingin memberi kakaknya itu pelajaran.

   “Kau tahu, sebaiknya kau mulai mencurahkan perhatianmu ke orang lain, Ron tidak seharusnya membuatmu kesal begini.”

   Hermione menampilkan ekspresi yang seolah mengatakan “siapa-bilang-dia-membuatku-kesal!?” yang jelas membuat wajahnya bertambah murung, namun sejenak kemudian Ginny memergoki gadis itu menggumamkan sesuatu yang kedengarannya seperti “Slytherin-sial” dengan sedih.

   “Beritahu kami jika kau ingin mengobrol dengan kami, oke?” ulang Ginny sekali lagi. Menekankan kata-katanya dengan tegas agar Hermione tahu ada yang peduli padanya. Namun gadis itu masih nampak sedih walaupun ia mengangguk dan berusaha tersenyum sebelum akhirnya ia meninggalkan mereka untuk kelasnya.

   Hermione menyadari bahwa kedekatan Lavender dengan Ron belakangan ini sangat membuatnya muak. Ia begitu kesal dan berang melihat keduanya bersama, dan ingat betapa mereka begitu mesra berciuman di ruang rekreasi setiap saat seolah dunia hanya milik berdua. Setiap saat.

   Tapi... ada saat dimana Hermione bahkan tidak memedulikan apakah Lavender dan Ron benar-benar akan menikah kelak. Ya... saat itu pernah ada, saat itu pernah hadir, walau hanya sebentar, begitu singkat. Saat dimana orang lain memenuhi kepalanya.

   Hermione menyadari, bahwa orang itu semakin lama semakin kurus dan pucat. Ia nampak menyedihkan sekarang. Entah kemana kesombongan dan kekuasaan yang selama ini ia gembar-gemborkan. Hermione memperhatikan hal ini.

   Koreksi. Ia memperhatikan semuanya.

   Fakta bahwa Draco Malfoy nampak amat sangat tertekan seolah sesuatu siap mengancam nyawanya setiap detik, mengganggu pikirannya. Benarkah dugaan Harry bahwa Malfoy sedang merencanakan sesuatu untuk Pangeran Kegelapan? Hermione hanya bisa menghela nafas. Dari sudut hatinya yang terdalam, ia percaya kepada sahabatnya, dan ia yakin hal itu benar. Namun entah mengapa, sudut lain dari dirinya ingin agar pemuda itu dilepaskan dari segala tuduhannya.

   Sehingga ia dapat kembali ke dirinya yang semula. Tampan dan angkuh. Mempesona dan menjengkelkan. Berkuasa dan menginjak-injak.

   Hentikan, Hermione. Slytherin sialan itu tak berhak mendapat sedikitpun tempat dalam hatimu. NOT AT ALL.

   “Er-my-knee, itu perkamenku, terima kasih.” Sebuah suara lembut penuh terima kasih mengejutkan Hermione. Spontan, membuat gadis itu melonjak dan menoleh cepat ke orang tersebut. Di depannya, Harry nyengir lebar sambil menunjuk perkamen PR di tangan Hermione yang barusan ia isikan jawabannya sambil melamun.

   “Kenapa kau tidak bilang--!” Hermione meraung marah. Ia telah mengisikan hampir seluruh jawaban disitu, dan ia bahkan tak sadar bahwa itu bukan perkamen miliknya, namun milik Harry! Otomatis, Harry mendapatkan jawabannya tanpa bersusah payah. Rasanya Hermione dapat mendengar tawa cekikikan dari seluruh ruangan rekreasi Gryffindor sore itu. Hermione merasa wajahnya tenggelam dalam warna merah.

   “Hmm... Pusat kendali Hogwarts memanggil Hermione, Anda boleh mendarat dari langit ketujuh sekarang. Haruskah kukatakan padamu bahwa sudah kubisikkan padamu seribu kali bahwa perkamen itu milikku? Dan kau masih saja melamun.” Harry masih nyengir, mengambil kembali perkamennya dan menggulungnya rapi. “Tapi, terima kasih banyak lho. Kau sangat membantu.”

   Hermione menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Merasa panas di pipi karena malu. Ia berbisik geram kepada Harry, “Kalau kau sampai mengizinkan Won-Won melihat pekerjaan itu.........”

   “Oh, sejak kapan kau ikut memanggilnya Won-Won? Menurutku nama Pygmypuff malah lebih cocok.” Harry menaikkan sebelah alisnya jengkel. Hermione tahu, ia juga terganggu dengan keberadaan Lavender yang seolah memasang mantra perekat pada Ron. Harry juga pasti merasa sedikit kehilangan Ron.

   “Ya, terutama jika Pygmypuff itu mengenakan kalung emas dengan tulisan My Sweetheart di lehernya.” Dengus Hermione sambil mengibaskan rambutnya dengan sebelah tangan sambil melemparkan pandangan kesal ke sudut dimana Ron dan Lavender baru saja mengadakan deadly-kissing-match yang segera berakhir dengan sangat misterius ketika Hermione memasuki ruangan. Namun toh, Hermione yakin, kedua orang itu lenyap dari ruangan itu untuk melanjutkan 'acara' mereka.

   Harry melirik Hermione dengan raut wajah heran yang tertarik. “Kok kau tahu? Ron memberitahumu soal kalung itu?” tanyanya tak percaya. Ron bahkan bersumpah akan menanyakan permintaan terakhir Harry jika ia berani memberitahu siapapun.

   “Bolehkah aku mencium Ginny sebagai permintaan terakhir?”

   “Tentu saja, setelah kutukan Avada Kedavra satu ini.”


   Harry terkekeh. Percakapan barusan hanya terjadi dalam pikirannya, tentu.

   “Kenapa kau tertawa?” Hermione menatap Harry aneh. Namun cowok itu hanya nyengir saja. “Bagaimana kau bisa tahu? Won-Won mengatakan padamu?” ulangnya.

   “Tidak, aku mendengar Lavender begitu riang membicarakannya dengan Parvati kemarin siang. Kupikir ia punya selera yang luar biasa.”

   “Yea, Ron membenci kalung itu bahkan ia nyaris menghadiahkannya ke Dobby.”

   Hermione tersenyum. Perasaannya jadi lebih ringan, namun pikirannya masih belum tenang. Sesuatu masih mengetuk-ngetuk kepalanya keras.

   Sesuatu yang berambut pirang, berwajah pucat, dan memiliki senyuman licik yang menawan.

   "Hai semuanya!!"

   Hermione menoleh. Ia mengernyitkan kening memandang sosok yang berjalan santai memasuki ruangan Gryffindor. Siapa itu? Hermione membatin ketika memandangi..............


dilanjut ya!  Wink
« Last Edit: August 29, 2008, 12:04:38 PM by Laffmyworld~striking from hell~ » Logged
harrypotterindonesia.com
« on: August 18, 2008, 11:22:38 AM »

 Logged
Clytemnestra S.H.
Slytherin
HPI
**

Karma: +277/-70
Posts: 1248


Never give up on something that you can't go a day


WWW
« Reply #1 on: August 19, 2008, 06:15:56 PM »

Mau ngelanjutin critanya Laffmy. Tapi mungkin engga sebagus crita awal mengingat mood yang blum juga pulih *mellow mode on*. Smoga bisa sedikit menghibur…
Kalau misal ada yang menyalahi ketentuan, tolong aku ditegur ya? Smiley


OC di crita ini : Madeline Lestrange

Neville Longbotom, anak berwajah bundar yang pelupa dan sangat ceroboh, datang menghampirinya dengan wajah berseri-seri dan sebuah buku setebal dua puluh senti di tangan kanannya.

Hermione tak tahu angin apa yang mampu membuat Neville segirang ini.

“Hai, Neville,” balas Hermione, tersenyum tipis. Sebenarnya dia agak enggan berbasa-basi dengan Neville mengingat PRnya belum beres, apalagi moodnya sedang buruk malam ini. Tapi akan terasa tidak sopan jika dia mengacuhkan Neville begitu saja. “Kau terlihat senang. Memangnya ada apa?”
   
“Aku… oh, kau pasti tidak akan percaya ini, Hermione,” balas Neville, kedua matanya berbinar-binar saat melanjutkan. “Bukan bermaksud menyombongkan diri sih, hanya saja aku err… ingin berbagi kebahagiaan. Boleh?”

“Well, kenapa tidak?”

“Baru saja aku bertemu Profesor Sprout. Kami sempat terlibat pembicaraan dan dia memujiku di depan Profesor Slughorn yang kebetulan melewati kami. Aku tahu Profesor Slughorn agak meragukan kemampuanku selama ini. Kau tahu sendiri bagaimana sifatku selama ini. Selalu gugup luar biasa sampai-sampai membuat semua jadi berantakan. Dia punya alasan meragukanku sih, Profesor Slughorn itu…”

Celoteh riang dari Neville efektif mengalihkan perhatian Hermione dari sosok yang selama ini selalu ditolaknya untuk sekedar singgah sejenak dalam kepalanya, si Slytherin pirang yang bukan main menyebalkan dan angkuh luar biasa, Draco Malfoy. Meski Hermione tidak terlalu terpengaruh dengan berita bahagia yang dibawa Neville, bahwa dia baru saja berhasil mencuri sedikit perhatian dari Profesor Slughorn sekaligus mendapat dukungan dari Profesor Sprout yang berkata dengan penuh kebanggaan bahwa prospek Neville di bidang Herbologi sangat terbuka lebar, dia bisa mengerti mengapa hal-hal seperti ini membuat Neville merasa sangat senang.

Neville yang malang. Neville yang kehilangan kasih sayang dari kedua orangtuanya akibat Kutukan Cruciatus di masa kejayaan Kau-Tahu-Siapa. Dulu Hermione pernah tanpa sengaja bertemu kedua orangtua Neville di salah satu bangsal St Mungo, bersama Harry dan Ron. Kondisi orangtua Neville sangat menyedihkan dan ini membuat Neville merasa tidak enak hati kepada mereka bertiga, sangat malu lebih tepatnya begitu.

“Kurasa kau patut dipuji seperti itu, Neville,” kata Hermione, tersenyum tulus.

“Trims, Hermione. Kau memang sangat baik,” sambut Nevile. Senyumnya semakin lebar saja saat dia beringsut dari kursinya. “Kurasa aku ingin lekas-lekas memberitahu nenek tentang ini. Lagipula aku tidak boleh terus mengganggumu, kan? Met malam!”

Hermione mengedikkan kepalanya ringan dan Neville bergegas pergi entah kemana. Mungkin dia sedang menuju ke kandang burung hantu untuk mengirim surat pada neneknya. Kabar hebat ini memang harus segera diberitakan ke neneknya sebelum menguap habis di udara.

Untuk sekian detik Hermione termenung. Kenapa mendadak semangatnya untuk belajar meluntur? Dia kehilangan konsentrasi, hal yang sangat langka terjadi selama ini. Di dalam kepalanya hanya ada bayangan seseorang yang terus menggodanya dan di dalam hatinya ada secercah kerinduan. Tapi… ah, mustahil dia sampai sekacau ini hanya karena memikirkan seseorang yang bahkan bayangannya saja pun tak layak untuk sekedar hinggap di pelupuk matanya. Dia tidak sudi terus menerus melamunkan Draco Malfoy dan ini harus segera dihentikan!

Secepat kilat Hermione membereskan buku-buku dan alat tulisnya sebelum beringsut dari kursi empuknya. Dia lebih memilih menyepi saja di perpustakaan. Setidaknya di tempat itu dia tidak akan disuguhi tontonan memuakkan dari pasangan yang asyik pamer kemesraan dan di sana juga banyak sekali buku supertebal yang mungkin saja akan efektif menyumbat lamunan anehnya tentang sosok pemuda pirang arogan di dalam kepalanya.

***

Ruang rekreasi Slytherin,

“Kau yakin akan mengambil kursus Apparition?”

Pertanyaan ini keluar dari bibir seorang gadis mungil dengan rambut coklat emas bergelombang. Kedua matanya yang teduh menatap Draco dengan sorot ingin tahu.

“Tentu. Kenapa kau tidak, Madie?”

Madeline Lestrange, begitulah nama gadis itu, menunduk dalam-dalam dan menggeleng lemah. Nada suaranya terdengar lirih tanpa harapan saat berkata, “Aku… aku tidak terlalu berbakat dalam hal semacam ini. Sudah jadi kelemahanku tidak bisa melakukan hal-hal besar. Aku tidak sepertimu, Draco.”

Draco menghela nafas. Dia bosan dengan semua keluhan sepupunya ini, yang lemah, hopeless, naïf dan punya kepercayaan diri rendah. Mungkin terlalu lama menyendiri dan menjauhi anak-anak yang seasrama dengannya membuat gadis itu jadi minder dan agak tertutup. Padahal Draco yakin Madie punya banyak potensi tak tergali. Dia sangat menyayangi Madie, namun kurang senang terus-menerus melihat sepupunya itu menjadi gadis yang melankolis.

“Aku yakin kau bisa!” kata Draco tegas. Madeline mendongak, terganga kaget. Tapi Draco sudah meneruskan ucapannya dengan nada memerintah, “Jadi kau harus ikut. Tak usah khawatir atau takut, aku akan bersamamu. Oke?”

“Ba… baiklah…” sahut Madeline tak jelas, masih ragu nampaknya.

Merasa kurang nyaman dengan kebekuan yang menaungi seisi ruangan, Draco bangkit dari kursinya, meninggalkan Madeline yang masih saja kebingungan. Belum sempat Draco melangkahkan kaki keluar, seseorang sudah mencegatnya. Seseorang itu adalah…

Mangga dilanjutin atuh. Smoga engga susah ngelanjutinnya. ^_^
« Last Edit: August 19, 2008, 06:24:50 PM by DahLIA_ dPrincess-O-dDamn » Logged


SevMione (Severus Snape - Hermione Granger)
harrypotterindonesia.com
« Reply #1 on: August 19, 2008, 06:15:56 PM »

 Logged
Fratley Phoenixion
Slytherin
HPI
**

Karma: +207/-66
Posts: 1237



« Reply #2 on: August 20, 2008, 03:08:45 AM »

Aku lanjutin, ya....

OC di chap ini: Scorpina Lestrange

Rupanya Scorpina Lestrange, sepupu Draco yg lain sekaligus adik-lain-ayah-nya Madeline. Entah mengapa, matanya terlihat merah seperti habis menangis.

"Kau kenapa, Ina?" tanya Draco cemas.

"Si Pansy! Dia menyebalkan!" katanya geram.

"Kenapa lagi dengan dia?"

"Dia merusak bonekaku! Lihat!" katanya sambil menunjukkan boneka perempuan bergaun hitam yang dimaksud.

Draco memperhatikan boneka itu. Gaun boneka itu banyak yang sobek, terutama di bagian roknya.

"Ibuku bisa marah! Dia berpesan padaku agar jangan sampai boneka ini dirusak!" kata Scorpina histeris.

"Sini kubetulkan," kata Draco sabar sambil mengambil boneka itu. "Reparo!"

Setelah boneka itu menjadi seperti baru lagi, terjadi hal aneh. Mata boneka itu tiba-tiba agak bersinar merah. Draco kaget.

"Kenapa, Draco?" tanya Scorpina yang jelas-jelas tidak memerhatikan apa yang terjadi.

Apa Scorpina tidak menyadari? Atau mungkin itu tadi hanya halusinasiku saja? Draco memerhatikan boneka itu lagi. Mata boneka itu tidak lagi bersinar sehingga Draco memutuskan bahwa mungkin tadi dia hanya berhalusinasi karena dia terlalu capek. Yah, wajar saja, hampir setiap hari dia menghabiskan waktu dalam Kamar Kebutuhan untuk memperbaiki Lemari sialan itu.

"Er.....tidak, tidak ada apa-apa...OUCH!" rintih Draco sambil memegang matanya.

"Ada apa, Draco?" kini giliran Scorpina yang cemas.

"Ah, tidak apa-apa. Hanya kelilipan sedikit," kata Draco sambil mengucek-ngucek matanya.

"Jangan dikucek-kucek!" seru Scorpina agak ngebos. "Sini! Biar kutiupkan matamu agar tidak kelilipan lagi!"

Scorpina agak berjinjit agar dia bisa meniupkan mata Draco. Draco merasa senang atas kepedulian sepupunya ini. Memang, gara-gara Lemari sialan itu, mata Draco sering letih & sakit karena kurang tidur.

Tanpa mereka berdua sadari, seseorang mengawasi mereka.

to be continued...

***

monggo atuh, dilanjutin. Btw, anggep aja Scorpina adalah adik kelasnya Draco & Madeline. Soalnya aneh kalau Madeline ama Scorpina seangkatan. Gw mikirin Bellatrix, gimana dia bisa mengandung 2 anak yang ayahnya jelas-jelas berbeda! Grin Grin Grin Grin Grin Grin Grin
Btw, sori kalo kependekan....
*kabur*
« Last Edit: September 03, 2008, 03:01:21 AM by Verdo Beoulve --The Bloody Doll Emperor-- » Logged

L-affy
Slytherin
HPI
**

Karma: +139/-27
Posts: 432



« Reply #3 on: August 22, 2008, 11:01:18 PM »

   “Masih sakit, Draco?” Scorpina tersenyum sambil berdiri tegak kembali. Ia memandangi mata Draco yang tadi ditiupnya dengan senyum puas. Apalagi ketika Draco menggeleng lemah sebagai jawaban.

   “Aku heran kenapa kau tidak memakai mantra saja.” Draco tersenyum jahil. Melihat wajah Scorpina yang memerah karena baru menyadarinya, ia semakin lebar tersenyum.

   “Kau menggodaku? Jahat!!” pekik Scorpina sambil menampilkan wajah cemberutnya yang biasa membuat Draco tidak tega.

   “Ha... ha, maaf.” Draco nyengir dan membelai kepala Scorpina dengan sayang.

   “Apa yang kalian lakukan disini malam-malam?”

   Baik Scorpina dan Draco menoleh, dan sama-sama mendengus begitu melihat siapa yang muncul dari sudut di belakang mereka.

   “Granger,” Draco mendesis tajam sambil menyentuh pundak Scorpina dengan sikap melindungi, “bukan urusanmu sama sekali.”

   Scorpina melayangkan tatapan sebal kepada Hermione yang kini melangkah maju dan mendekat, Scorpina mundur berlindung ke balik punggung Draco dengan sikap terganggu.

   “Tentu urusanku.” Sahut sosok berambut cokelat ikal yang ternyata adalah Hermione itu. “Ini sudah lewat jam malam, dan aku Ketua Murid, ingat?”

   “Seingatku aku pun Ketua Murid.” Draco menyahut malas dan dingin, menghasilkan raut wajah keras dari Hermione dan senyum mengejek dari Scorpina.

   “Oh yeah, tapi Lestrange sudah melanggar jam malam.” Hermione masih bersikeras dengan sikap Ketua Murid-nya, membuat Draco dan Scorpina makin jengkel.

   “Itu bukan urusanmu, lagipula apa yang kau kerjakan disini, di dekat asrama Slytherin? Asramamu kan jauh dari sini!” gumam Scorpina sinis. Didikan ibunya yang mengajari bahwa jangan bergaul dengan Darah Lumpur masih membekas jelas di ingatannya. Ia berbeda dengan kakaknya yang bersikap manis kepada Hermione.

   Wajah Hermione memerah, ia sudah akan membuka mulut untuk bicara, namun gelak tawa Draco mengagetkannya sehingga ia berhenti.

   “Jangan bilang kau sedang punya janji dengan laki-laki disini, Granger!” Seru Draco di sela tawanya. Bola matanya yang abu-abu gelap memandang Hermione penuh ingin tahu sementara jemari panjangnya menyibak sedikit rambut pirangnya dengan gaya menyebalkan.

   “Oh,” Scorpina menyeringai dan tertawa juga.

   “Tutup mulut kalian!” Hermione menyipitkan matanya dengan marah dan berbalik menghadap Scorpina dengan geram. “10 poin dari Slytherin karena melanggar jam malam!” Dan dengan itu, ia melangkah pergi secepat mungkin dari situ.

   “Hei! Kau tak bisa berbuat begitu!” Seruan jengkel Scorpina terdengar.

   “Granger!” Seruan Draco turut terdengar, namun langkah Hermione tak berhenti. Ia yakin Draco akan mengejek dan memakinya sebentar lagi.

   “...Dengan siapa kau punya janji?”

   Langkah Hermione terhenti.

   Ada sesuatu dalam pertanyaan Draco yang terdengar berbeda.

   Dan sama sekali tidak terdengar menghina.

   Hal itu membuat Hermione menghela nafas berat dan teringat pada kegundahannya sepanjang hari ini.

   “Granger, kau dengar aku?” Draco berseru lagi. Masih dengan nada penuh keingintahuan yang sama.

   Dengan tekad untuk mengenyahkan semua kegelisahannya, ia berbalik dan memandang Draco lurus-lurus.

   “Aku kemari karena..........”

maaf kalau pendek... aku lagi banyak tugas jadi belum sempet update banyak... maaaf yaaa... sok atuh di lanjut..

Logged
Clytemnestra S.H.
Slytherin
HPI
**

Karma: +277/-70
Posts: 1248


Never give up on something that you can't go a day


WWW
« Reply #4 on: August 25, 2008, 08:29:38 PM »

Aku lanjutin ya? Tapi gak tau bagus apa kaga. Secara diriku lagi seneng. Takutnya malah gak dapet feel Dramionenya nih. Weleh! Grin


OC di crita ini masih Madie Lestrange ama Scorpina as cameo (boleh kan?).

“… Aku… “ Hermione tak mampu melanjutkan perkataannya. Apalagi setelah Draco menatapnya dengan sorot menuntut kejelasan. Well, walau benci untuk mengakui, namun seharian ini dia terus memikirkan tentang pemuda angkuh yang saat ini sedang berhadapan dengannya. Ataukah ini yang membuat Hermione berkeliaran tanpa sadar di sekitar asrama Slytherin, walau semua orang tahu kalau sebenarnya letak setiap asrama di Hogwarts dirahasiakan?

“Itu bukan urusanmu, Draco. Sama sekali bukan urusanmu,” sambung Hermione memantapkan diri, meski di dalam hatinya sedang terjadi perang batin. Entah dia harus gembira atau malah muak akhirnya dia bisa juga bertemu dengan si pirang ini.

“Memang bukan. Hanya saja…” kata Draco dengan ekspresi aneh di wajahnya sebelum ekspresinya kembali mengeras seperti biasa. “…aku ingin tahu siapa cowo yang sudi bergaul akrab dengan cewe berdarah kotor sepertimu selain duo idiot Potty dan Weasel.”

Sontak Hermione melotot marah. Dia sudah biasa dihina dan direndahkan oleh pangeran Slytherin ini. Tapi jangan sampai kedua sahabatnya itu dibawa-bawa.

“Aku tidak bisa menoleransi ini, Malfoy!” sentak Hermione gusar. Buku-buku yang sedang dipeluknya berjatuhan, namun dia tak peduli. Dia ingin sekali memberi cowo super menyebalkan ini pelajaran yang tak akan terlupakan sepanjang hidupnya.
   
“Kumohon hentikan!!”

Mendadak terdengar suara teriakan mantap dari suatu arah dan tiba-tiba saja Madeline sudah berada di antara kedua orang itu, berusaha menengahi.

“Maaf, Granger…”

“Madie!! Kenapa kau minta maaf pada darah-lumpur kotor ini?!” bentak Draco tak percaya dengan telinganya sendiri.

“Apa aku salah? Sejak tadi aku mendengarkan pertengkaran kalian dan ini sudah keterlaluan, Draco. Aku tidak ingin poin asrama kita dipotong lagi. Aku sudah bekerja keras mengumpulkan sebagian besar poin itu dan aku sangat ingin memenangkan Piala Asrama tahun ini, kau tahu!” ujar Madeline kalem dan menyambungnya dengan gumaman tak jelas. “Karena mungkin saja waktuku tidak akan banyak lagi…”

Hermione berjengit. Begitu rupanya pemikiran kebanyakan anak Slytherin. Mereka tidak pernah meminta maaf dengan tulus, selalu saja ada pamrih, batin Hermione kecut. Meski demikian, tetap saja kelakuan Madeline Lestrange sedikit lebih baik daripada rekan-rekan seasramanya. Setidaknya dia masih punya sopan santun.

“Dan kupikir kau seharusnya memberi contoh yang baik kepadaku dan juga Ina. Kau kan ketua murid dan juga kebanggan keluarga kita,” kali ini Madeline bertutur dengan raut muram yang menimbulkan rasa iba. Bisa jadi ini membuat Draco merasa bersalah sekarang. “Jadi sekali lagi, aku minta maaf, Granger. Aku minta maaf untuk sepupuku ini dan juga adikku. Permisi…”

Setelah mengatakan hal ini, Madeline menggandeng tangan Scorpina dan menyeretnya menjauh, tak mempedulikan teriakan marah adik tirinya itu, “Kenapa kau mempermalukan Draco di depan darah-lumpur itu?! Kenapa kau merendahkan dirimu, Madie?!!”

Ditinggalkan berdua dengan Draco dan saling mendiamkan satu sama lain justru membuat suasana sungguh semakin tidak mengenakkan. Hermione merasakan batinnya bergejolak. Entah apa yang sedang terjadi di dalam sana. Sampai akhirnya dia melambaikan tongkatnya dengan canggung, membuat buku-bukunya yang berserakan di lantai terangkat ke udara dan menumpuk rapi di atas kedua tangannya, sebelum mengucapkan dua patah kata penutup perjumpaan memuakkan ini.

“Selamat malam!”

Selamat malam? Jelas ini terlalu sopan untuk mengakhiri perjumpaannya dengan salah seorang penghuni Slytherin yang selalu saja tega menginjak-injak harga dirinya. Namun Hermione sudah tidak mau tahu lagi. Dia berbalik dengan anggun, mengibaskan rambut coklatnya yang lebat dan berjalan menjauh tanpa ingin menoleh ke belakang lagi.

***

Draco menatap kepergian Hermione dengan sorot kedengkian teramat sangat di matanya. Namun entah mengapa diam-diam ada sedikit kelegaan dalam hatinya. Apakah ini karena dia tahu kalau gadis hina itu tidak sedang ingin menemui seseorang? Ataukah jangan-jangan dia malah hendak menemui Draco? Oh, mustahil! Jelas itu sangat mustahil! tolak Draco mentah-mentah.

Setelah terdiam sejenak untuk merenung, Draco menghela nafas panjang dan melangkahkan kakinya mantap. Sudah tengah malam memang, tapi dia masih belum ingin tidur karena ada pekerjaan yang terus menuntut agar lekas diselesaikan olehnya. Di tengah keheningan malam, Draco terus berjalan menuju ke…

Yuk, dilanjutin yuk! ^^
Logged


SevMione (Severus Snape - Hermione Granger)
Wes_Wes
HPI
**

Karma: +3/-1
Posts: 27


« Reply #5 on: August 28, 2008, 09:52:18 PM »

Menapaki anak-anak tangga yang mengeluarkannya dari ruang bawah tanah tempat asramanya, remaja laki-laki itu masih melangkah tanpa tujuan. Malam ini ternyata malam yang panjang. Menghabiskan waktu dengan kedua Lestrange dan si darah lumpur. Mudblood. Draco Malfoy menghembuskan nafas beratnya jika teringat kata 'mudblood'. Hermione Granger. Hanya nama gadis dengan rambut coklatnya itu yang pertama kali hinggap di pikirannya. Kenapa? Padahal mudblood di sekolah ini tidak bisa dihitung dengan jari. Kenapa? Kuyakin kau bisa menjawabnya. Karena. Dia. Berbeda. Dia pintar. Dia menonjol. Dia berani. Dia--cantik.

"Apa yang kau pikirkan, Malfoy?"

"Beautiful mud--" Draco menghentikan kalimatnya yang spontan hampir terlontar dari mulutnya. Matanya menyipit dalam kegelapan dan dilihatnya sosok perempuan berambut pirang. Draco menyeringai. "Potong 50 poin dari Ravenclaw, Lovegood. Berkeliaran tengah malam."

Mata bulat Luna Lovegood semakin membulat mendengarnya. "Hei! Kau jug--sorry." Luna menghentikan ucapannya ketika menyadari bahwa Malfoy adalah Prefek. "Tapi kau harus tahu bahwa kata ayahku, peri-peri dinding kastil pada malam hari memberikan perlindungan pada tubuh. Ayolah, Malfoy. Kau bisa mencobanya, jika kau berkeliaran kastil dengan tangan yang memegang dinding kastil, peri-peri dinding akan berpindah ke tubuhmu dan akan membentuk perlindungan."

Draco tersenyum meremehkan mendengar ocehan yang lebih tepat disebut omong kosong itu. "Kata Xenophilius Lovegood si aneh dari The Quibbler? Tidak heran jika kau sama-sama anehnya."

Luna tersenyum mendengarnya kemudian menaruh kedua telapak tangannya pada dinding kastil. "Tidak heran kalau aku mendengar perkataan seperti itu dari keturunan Lucius Malfoy. Oh, Azkaban Azkaban.."

"Tutup mulutmu!" Draco menyambar tongkatnya dengan cepat dan sedetik kemudian tongkatnya sudah teracung di depan Luna. Perutnya terasa bergejolak ketika ada yang mengungkit-ungkit keberadaan ayahnya sekarang. Ditatapnya manusia aneh bernama Luna Lovegood yang masih tersenyum tenang.

"Expeliarmus!"

Tongkat Draco terpental sementara pemiliknya hanya bisa menggeram. Matanya menatap tajam orang yang merapalkan mantra itu. Well well, lihatlah orang yang bersikap sok pahlawan di sana. Potty. Si anak yang bertahan hidup.

"Apa kau tidak belajar bagaimana seharusnya menjadi seorang Prefek, Malfoy?" Harry berjongkok dan mengamit tongkat Draco kemudian berjalan pelan ke hadapan Draco. "Gunakan jika diperlukan." Harry menyisipkan tongkat itu ke dalam saku jubah Draco.

"Aku benar, kan? Peri-peri dinding kastil melindungiku," Luna mengumbar senyum penuh kemenangan di depan Draco. "Ah, terima kasih, Harry."

Draco hanya bisa mengangkat dagunya dan menatap tajam pada dua orang yang masuk ke dalam daftar orang yang tidak pantas ditemaninya. "Sinting." desisnya tajam kemudian kakinya berbalik kembali menuju ke ruang bawah tanah. Mengakhiri malam yang sinting ini sepertinya akan jauh lebih baik. Sementara Luna dan Harry tersenyum menatap kekalahan sang Malfoy. Harry memberi instruksi kembali ke Menara dengan matanya pada Luna. Kemudian Luna mengangguk dan berjalan mengikuti Harry masih dengan menaruh kedua telapak tangannya di dinding kastil.

"Kau mau mencobanya, Harry?"

"Ah, tidak. Terima kasih."

Menit membawa mereka sampai ke Menara. Luna membelok ke arah Menara Ravenclaw dan Harry menuju ke arah Menara Gryffindor setelah sebelumnya masing-masing mengucapkan selamat malam. Memberikan kata kunci pada Nyonya Gemuk, kaki Harry dapat leluasa melangkah memasuki asramanya. Harry mengangkat alisnya ketika mendapati Hermione yang masih ada di dalam ruang rekreasi dengan buku-buku Ramuan di depannya lengkap dengan pena bulu dan perkamen.

"Essai Ramuan? Kenapa kau baru mengerjakannya?" tanya Harry sambil duduk di depan sahabatnya. "Bukan Hermione Granger yang kukenal."

Kepala Hermione terangkat kemudian tersenyum. "Ah, hai, Harry. Entahlah, aku banyak pikiran yang tidak penting. Yah, jadi--" Hermione mengangkat lemah perkamennya. "--lupa. Well, tadi kau ke mana?"

"Oh, catatan Mantra tertinggal." kali ini Harry yang mengangkat buku catatannya. "Dan tadi aku bertemu dengan Luna yang sedang tersenyum tenang menghadapi tongkat Malfoy."

"Ha?" mulut Hermione membentuk huruf o mendengarnya. Malfoy. What?

Lanjutin Cheesy [\b]
Logged
Andrea K. Louise
Gryffindor
HPI
**

Karma: +48/-18
Posts: 368


Reborn for revenge


WWW
« Reply #6 on: August 29, 2008, 10:01:01 PM »

“—Err, apa yang dilakukan Malfoy dengan Lun—maksudku, bagaimana Luna bisa bertemu dengannya?” Hermione meletakkan perkamennya di karpet merah yang terbentang mengalasi Ruang Rekreasi Gryffindor. Matanya melebar. Perasaan aneh menyelinap ke dalam otaknya yang berpikir cepat tentang kemungkinan kronologis bertemunya Luna dan Malfoy. Mati-matian Hermione menahan agar suaranya tetap bernada seperti orang yang tidak peduli. Salah tingkah, gadis itu menunduk dan berpura-pura sibuk dengan perkamennya.

Harry mengangkat alis. “Oh, konyol sekali, kalau kau melihatnya. Lima puluh poin dari Ravenclaw. Sinting!” jawab Harry seadanya. Ia sama sekali tidak menyadari dengan perubahan tingkah Hermione. Hermione hanya ber-‘Hmm’ pelan, namun kepalanya mengangguk-angguk. Diam-diam bernafas lega. Seakan tersadar akan tingkah Hermione yang janggal, Harry menegakkan tubuhnya. “Sejak kapan kau jadi peduli dengan Malfoy?” tanyanya.

“Eh? Peduli? –Err, dengan Mal—I mean, Pemuja Pure-Blood itu? Mimpi kau. Hahaha, tentu saja tidak. Aku hanya kasihanjikaLunakenapa-kenapakarenabertemudengannya.” Hermione menjawab dan nyaris tak terdengar saking cepatnya dia berbicara.

Harry mengangkat bahu dan Hermione bersyukur Harry tidak bertanya lebih lanjut lagi. Tahu apa yang gadis itu pikirkan? Ah, sudahlah. Tak penting membicarakan itu sekarang. Yang jelas, Luna dan Malfoy tidak sengaja bertemu, bukan? Tidak direncakan, pastinya. Oh, aku tidak peduli kok. Tidak, tentu saja. Yang kupedulikan adalah keselamatan Luna dan bukan Si Brengsek Malfoy. Oh ya ampun, andai saja aku masih di sana saat mereka bertemu. Hermione bergumam panjang di dalam hati, berusaha mencari pembenaran akan sikapnya.

"Dimana Ron?" tanya Harry, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru Ruang Rekreasi.

"Entah. Bersama Lavender. Mungkin." Hermione menjawab setengah sarkastis. Ia melanjutkan essaynya, sementara Harry mulai memandangnya penuh harap.

"Ron sudah mengerjakan essay Ramuan-nya?""

"Belum mungkin. Kau tahu kan, dia akhir-akhir ini begitu sibuk dengan gadisnya," jawab Hermione cuek.

"Oh." Harry mengangguk mengerti, "aku juga belum buat." Senyumnya terkembang, setengah berharap Hermione mengerti maksudnya.

Hermione melirik jutek. Ia mengangkat tangannya dan mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu. Namun begitu Hermione menarik nafas, alih-alih berbicara, ia mendengus. Api di perapian yang semakin redup sementara semakin lama, Ruang Rekreasi Gryffindor semakin sepi saja. Tinggal beberapa anak yang masih berkutat dengan tugasnya. Well, hitung saja. Lima orang ditambah Hermione dan Harry. Hermione menghela nafas panjang.

“Sudah larut, Harry. Aku mau tidur. Selamat mal—BERAPA KALI HARUS KUKATAKAN, KERJAKAN ESSAYMU SENDIRI!” Hermione merenggut perkamen berisi essay Ramuan-nya yang sudah setengah jadi dari tangan Harry. “Contek punya Ron! Kalian bisa berduet mengerjakannya. Selamat malam, Harry. Sampai besok,” dengus Hermione. Gadis itu merunduk mengambil tumpukan perkamen serta Buku Ramuan Tingkat Lanjut karya Arsenius Jigger-nya, kemudian berjalan menuju Kamar Anak Perempuan Tingkat Lima.

Harry memandang kepergian Hermione dengan tatapan pasrah. Seorang anak mendekatinya. Seorang anak lelaki tingkat tiga, berkacamata. “Biasa, Potter. Perempuan kalau lagi ‘dapat’, memang agak sensitif.” Dengan sok akrabnya, anak itu menghempaskan diri di samping Harry.


Yoo, lanjutin~ Wink
« Last Edit: August 29, 2008, 10:12:27 PM by Bloody Irish » Logged


Credit to Miss Bailey-Deathwish@dA for the pic.. :3
IndoHogwarts
Hulk-mione Granger
~Orang terkeren se-HPI~
Global Moderator
HPI
****

Karma: +340/-64
Posts: 1854


Hermione berubah jadi Hulk? Seksinya!!


WWW
« Reply #7 on: September 01, 2008, 03:08:21 AM »

As you Wish, Heri Punten is Out.


Sebelah alis mata Harry terangkat mendengar komentar adik kelasnya itu. Matanya pun terus menatap wajah anak tadi. "Hmm, sori, apa yang kau katakan barusan? Dan siapa kau?"

"Oh, maaf aku belum memperkenalkan diri. Tapi seharusnya kau kenal aku, aku 'kan kembaranmu. Lihat, kita mirip kan yah?" kata anak tadi yang sudah menempelkan wajahnya ke dekat Harry dan menunjuk ke cermin yang dipegangnya. "Err, tidak deh. Aku kelihatan setingkat lebih keren!"

"Sepertinya aku masih belum mengenalmu," jawab Harry makin bingung. Sebetulnya dia memang pernah mendengar desas-desus kalau ada anak Gryffindor yang merasa dirinya paling keren, dan mungkin kini dia sedang berhadapan dengannya. Benar-benar anak polos! pikirnya.

"Ya sudah, perkenalkan! Aku Heri Punten, kampung halamanku di Bogor, Indonesia. Aku tinggal di Inggris karena ibuku seorang TKI, dan.."

"Cukup!" Harry semakin pusing. "Ya, ya, senang berkenalan denganmu. Dan, lihat.. Akhirnya, essay-ku sudah selesai, sekarang aku mau pergi tidur dulu. Selamat Malam!"

"Selamat malam juga," jawab Heri lesu, padahal dia masih butuh teman untuk ngobrol. Mungkin, Harry marah karena aku bilang aku terkeren. Hiks, nanti aku minta maaf saja ah!

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Sinar matahari menerobos masuk ke kamar anak perempua. Hermione membuka matanya. Dia paksakan tubuhnya untuk duduk. Padahal kepalanya masih pusing dan terasa berat karena kurang tidur. Semalaman dia terus memikirkan tentang Draco Malfoy, satu-satunya makhluk yang paling dia benci. Atau karena terlalu benci, dia jadi suka ya? Hermione menggelengkan kepalanya dan mengusir jauh-jauh pikiran itu. Huh, bagaimana mungkin aku suka padanya? Pada cowok manja pengecut itu! Sigh!

Hermione berdiri, menjetikkan tongkatnya pelan yang membuat ranjangnya rapi. Kemudian dia merasakan ada sesuatu yang janggal. "Ya, ampun! Kok kamar ini sudah sepi ya! Ah, tidak aku telat!"

Akhirnya, dengan terburu-buru Hermione mengganti bajunya dan memasukkan seluruh buku pelajarannya ke dalam tas. Mungkin jika tas itu hidup, dia akan memuntahkan segala benda yang Hermione masukkan, karena memang terlihat kapasitas tas itu melebihi daya tampungnya.

Setelah semua urusan beres, Hermione berlari cepat turun dari kamar anak perempuan dengan tetap membuat pintu kamar itu terbuka. Tadinya, Hermione akan berbalik lagi dan menutup pintu itu, namun hal itu tidak begitu penting sekarang. Yang paling penting dan yang dipikirkan sekarang adalah jangan sampai dia telat datang ke kelasnya. Sambil terus berlari di lorong-lorong kastil Hogwarts, Hermione merogoh-rogoh isi tasnya, mencari jadwal pelajarannya hari ini. Ah, beruntung sekali, pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam!

Drap.. Drap.. Drap.. Langkah kaki mungil Hermione bergaung di lorong lantai dua yang sepi. Mengantarkannya ke kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang kini sudah terlihat jelas di depannya. Namun, sebelum sampai ke pintu kelas itu, Hermione malah menghentikan langkahnya, karena melihat sosok anak laki-laki berambut pirang dan memakai dasi berwarna perak-hijau, Draco Malfoy.

"Apa yang kau..?"

"Kenapa? Apa ada yang salah denganku, Muggle Kotor?" sambut Malfoy dengan 'ramah'. "Aku telat, seperti dirimu. Dan lebih baik aku mati daripada masuk telat ke kelas Profesor Snape! Justru, yang mengherankan adalah kutu busuk, err, kutu buku sepertimu bisa telat. Hahaha.. Memalukan!"

"Huh, kau kan anak emas Prof Snape, bagaimana mungkin dia membunuhmu? Dasar bodoh!" Hermione memberengut dan membalikkan tubuhnya. Sebenarnya dia tidak ingin membalas cacian Malfoy, seandainya anak itu tidak memulai terlebih dahulu. Karena sebagian hatinya merasa senang, mereka bisa berduaan tanpa ada pengganggu. "Memangnya kenapa kau bisa telat?'

Hati Draco bergetar hebat, alasan dia telat kan karena tadi malam dia tidak bisa tidur, memikirkan gadis di depannya itu. Apa mungkin Hermione telat karena memikirkan dirinya juga ya? Tidak mungkin, si muggle itu pasti telat karena terlalu sibuk belajar dan belajar dan belajar. Lalu, apakah dia harus menjawab pertanyaan Hermione?

Dengan ragu Draco membuka mulutnya, kedua bibirnya bergetar saat dia berkata, "Aku telat karena....."

Bersambung~


Ok, Next!
Hihihi.. ketularan DraMione neh, padahal emang seruan Harry-Luna. Hoho..

EDIT:
Baru diedit pelajaran. Gw lupa di tahun ke-6, Snape ngajar PTIH. Hihi.. Thanks, Verdo!
« Last Edit: September 01, 2008, 03:37:42 AM by Hulkie-dditch » Logged


Dengan kekuatan bulan, akan menghukummu!
Allegre Cielo Indah
Gryffindor
HPI
**

Karma: +105/-23
Posts: 469


What is this? This feeling.....


WWW
« Reply #8 on: September 01, 2008, 08:49:53 AM »

 Grin Kulanjutin ya Hulkie... (ups! Heri bakal muncul lagi, meski cuman nama tok...hihihi)


“Aku telat karena apa, itu bukan urusanmu… Darah Lumpur!!!” Segera setelah berkata demikian, Draco bergegas masuk ke ruang kelas, meninggalkan Hermione yang tercenung sedih atau lebih tepatnya shock. Dalam hati Draco, andai saja Hermione tahu, ada rasa sakit bagaikan tertusuk pisau setiap kali ia mengucap kata-kata keji itu.

Sementara itu, Hermione menunduk sedih dengan hati remuk untuk kesekian kalinya. Padahal, entah benar atau hanya perasaanya saja, ia sempat menangkap sorot mata Draco lain daripad biasanya. Hemione menggeleng, membantah perasaanya sendiri.  “Cukup Hermione! Kau tidak seharusnya membuang-buang waktumu hanya untuk si keparat Slytherin itu!” Sebuah bisikan amarah terdengar dari sisi lain di hatinya.
Akhirnya, dengan lesu iapun berjalan memasuki ruang kelas di depannya itu. Untunglah Profesor Snape belum masuk kelas. Sepertinya ia juga sedikit terlambat mengajar pagi itu.

Ruang rekreasi Gryffindor…
Minggu sore yang cerah. Matahari musim semi bersinar hangat menerobos masuk menembus kaca-kaca buram ruang rekreasi yang saat itu tampak sunyi.
Di pojok ruangan, Hermione duduk seorang diri sambil menjalankan aktifitas favoritnya seperti biasa, membaca buku.

Tiba-tiba terdengar suara-suara berisik beriringan dengan munculnya sosok Ginny dan diikuti oleh Luna. Mata Hermione mau tak mau melotot heran melihat Luna masuk ruang rekreasi Gryffindor ini. Ia tahu, Luna selalu dengan Ginny kemana-mana, tapi ini kan ruang rekreasi anak Gryffindor…

“Halo Hermione… senang melihatmu ada di sini…” sapa Luna dengan ramah sambil memain-mainkan ujung rambut panjangnya yang kali ini dikepang dan diikat dengan tali pita yang lebih mirip dengan seutas tali jerami…

Hermione tersenyum lemah. Beralih menatap Ginny dengan pandangan, “ Bagaimana mungkin kau mengajaknya masuk ke sini? Apa kau tak memikirkan reaksi anak-anak lain kalau tahu hal ini?”

Ginny yang sepertinya memahami arti tatapan Hermione itu, hanya nyengir. “Tidak perlu khawatir soal itu, sobat! Luna dalam tanggung jawabku.” Katanya dalam bahasa mata pula.

Luna berjalan berkeliling melihat-lihat seluruh penjuru ruang rekreasi itu selayaknya turis yang lagi menikmati sebuah objek wisata yang menarik. Mau tak mau Hermione tersenyum geli juga melihat tingkahnya.

Sementara Luna masih asyik berjalan kesana-kemari, Ginnypun mengambil duduk tepat di samping Hermione.

“Hermione, aku tidak yakin kau baik-baik saja. Ayolah, ceritakan padaku apa yang membuatmu berubah jadi aneh begini. Kau tahu, kau sungguh membuatku khawatir.” Kata Ginny sambil menatap Hermione lekat-lekat.

“Jangan menatapku demikian Ginny. Aku baik-baik saja. Jika kau pikir aku aneh, itu hanyalah perasaanmu saja. Tapi, terima kasih telah mengkhawatirkan aku.” Ucap Hermione  dengan suara datar, tanpa balas menatap kepada Ginny yang masih mentapnya lekat-lekat.

“…. Baiklah kalau memang begitu. Aku tak bisa memaksamu untuk bercerita apa yang kau tidak ingin orang lain tahu tentu saja.” Ginny menghela nafas panjang, lalu melanjutkan kata-katanya..

“ Bytheway… apa kau tahu Hermione? Hari ini ada sebuah perang saudara yang cukup dahsyat antara dua orang dari Slytherin. Dan kau tahu mereka siapa? Si busuk Malfoy dan si lancang Parkinson!....” kata-kata Ginny langsung dipotong segera oleh Hermione yang tampak amat sangat terkejut.

“Apa? Kau bilang Draco dan Parkinsonmerekaberduaberperang?!’’ kata-kata Hermione meluncur secepat kilat sehingga membuat Ginny ganti terpana. Apalagi ketika telinganya menangkap, bagaimana Hermione menyebut nama Draco, dan bukannya Malfoy, seperti biasanya…

“Begitulah Hermione. Aku dan Luna menyaksikan sengan mata kepala kami sendiri bagaimana Malfoy meng-cast mantra Impedimenta ke arah Parkinson, hingga anak itu melayang di udara sebelum terbanting dengan keras ke lantai… “ Terang Ginny panjang lebar. Ia masih merasa heran atas reaksi Hermione, yang menurutnya aneh…

“Bagaimana mungkin Draco menggunakan mantra itu untuk menyerang kawannya sendiri? Apa kau tahu alasan dia sampai berbuat demikian Ginny? Dan apa dia mendapat detensi karena ini? Dan …” Hermione tidak melanjutkan kata-katanya. Ia baru saja sadar telah lepas control dan menunjukkan perhatian berlebih terhadap seorang Malfoy, anak yang selama ini selalu menghina ia dan kawan-kawannya.
Ginny sesaat terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.

“……kau mengkhawatirkannya Hermione? Anak keparat itu. Dan, bagaimana kau menyebut namanya… Jadi, apa yang dibilang Heri Punten itu benar semuanya… Oh, Hermione! Tidak mungkin….” Ginny tidak meneruskan kata-katanya.

“Ginny, kau jangan berpikir yang bukan-bukan. Apalagi mendengar perkataan si Punten itu. Aku kan hanya ingin tahu apa yang terjadi pada si Slytherin sialan itu setelah menyerang kawannya sendiri. Karena ini kan sangat aneh mengingat selama ini Dra..maksudku Malfoy adalah teman dekat Parkinson. Kan tidak salah jika aku juga ingin tahu mengapa mereka sampai demikian…” Hermione berdalih. Berharap Ginny tidak meneruskan kecurigaanya.

Ginny tidak berkata apa-apa. Ia merasa Hermione hanya berdalih untuk menyembunyikan perasaan dia yang sebenarnya.

*******

Malamnya Hermione tidak bisa tidur. Pikirannya terus melayang memikirkan Draco Malfoy. Padahal, ia sudah memutuskan untuk membuang jauh-jauh perasaan aneh itu. Tapi semakin ia berusaha, bayangan Draco malah semakin nyata.

Resah dan gelisah, Hermione beranjak turun dari tempat tidurnya. Disambarnya jaket, dan tongkatnya, lalu dengan mengendap-ngendap ia pun berjalan keluar dari kamar itu.

Hermione bernafas lega ketika akhirnya ia bisa keluar dari  ruang asrama Gryffindor  tanpa ada hambatan.

Sementara hati kecilnya mengutuki kenekatannya keluyuran di malam buta seperti itu, langkah-langkah kecilnya berjalan cepat menuju…..


*** Silahkan dilanjutkan, semoga tidak susah ya…
(dan maaf, berhubung ini ff pertamaku, jadi pasti masih banyak sekali kesalahnnya, ditambah lagi aku masih belum ''IN" dengan pairing DraMione...weleh... maksa banget kesannya... Grin )

« Last Edit: September 01, 2008, 05:05:30 PM by alegriye azadhe » Logged

ORGULLOSO SER
Gracias Mimbs
No War.. PEACE ..Save Palestina
L-affy
Slytherin
HPI
**

Karma: +139/-27
Posts: 432



« Reply #9 on: September 01, 2008, 09:41:47 AM »

   ...Menuju koridor yang gelap.

   Hermione berjalan sepelan mungkin, menerobos kegelapan dengan hati berdebar kencang. Pandangan matanya menyapu seluruh sudut, berusaha mewaspadai gerakan sekecil apapun dari sekitarnya.

   Mengapa aku mengendap-endap seperti ini? Seharusnya aku ada di Asrama-ku sekarang! Hermione mengomeli dirinya sendiri dalam hati.

   Langkah Hermione semakin ringan tak bersuara. Ia mulai bisa beradaptasi dengan kegelapan di sekitarnya, dan kini kewaspadaannya sedikit menurun. Tanpa menimbulkan bunyi sekecil apapun, ia bergegas menuju Menara Astronomi, satu-satunya tempat yang menurutnya aman untuk dikunjungi sebagai tempat melepas kepenatan.

   Segala pikiran mengenai seorang Slytherin—tertentu—memenuhi kepalanya. Sambil terus berjalan, Hermione melamunkan segala kemungkinan yang ada dari berita yang dibawa Ginny barusan.

   Mengapa Draco dan Parkinson bertengkar?

   Apa ada masalah dalam Slytherin?

   Mungkinkah—uhuk—mereka putus? Well... bukannya aku ingin begitu, tapi menurut gosip toh, Parkinson adalah kekasih Draco, walau aku belum mendengarnya dari bibir Draco maupun Parkinson langsung...


   Tanpa disadari, Menara Astronomi sudah di depan mata. Hermione mendesah lega ketika dilihatnya cahaya rembulan menerangi ruangan itu dengan lembut. Namun desahan itu berhenti dengan suara terkesiap kaget karena ternyata sudah ada orang lain disana.

   Buru-buru Hermione mengendap ke balik pintu, menyembunyikan dirinya sendiri. Perlahan, dijulurkannya kepalanya diam-diam ke arah bayangan orang disitu. Dari jauh, ia bisa mengenali ada dua orang, dan mereka adalah sepasang cewek-cowok.

   “Masih sakit?” Suara seorang laki-laki sepantaran Hermione terdengar. Nadanya terdengar prihatin dan cemas, membuat Hermione sedikit heran dan bertanya-tanya siapa pemilik suara itu.

   “Yeah...” desahan lirih yang perempuan terdengar. Hermione terbelalak ketika ia bisa mengenali suara manja tersebut. Parkinson!

   Mungkinkah yang laki-laki adalah....?? Hati Hermione berdegup kencang. Sedikit kecemburuan dan kekesalan melanda dirinya ketika membayangkan sosok seorang Slytherin berambut pirang.

   “Aku sudah tak apa, Blaise.” Suara Parkinson terdengar lagi. Lebih lirih namun lebih tenang.

   Blaise Zabini!?

   “Kenapa ia melakukan itu padamu, Pans?” Zabini bertanya lagi. Kini nadanya bercampur geram. Hermione bisa melihat dari kejauhan, sosok cowok itu mendekat ke tubuh Parkinson dengan gerakan canggung.

   “Entahlah.” Parkinson menggelengkan kepalanya dengan sedih. Hermione bisa melihat gadis itu tengah duduk di atas meja, sementara Zabini berdiri di hadapannya dengan kedua tangan menggenggam erat bahu gadis itu.

   Mereka... kekasih? Hati Hermione mencelos. Ia merasa lega sekaligus aneh. Lega karena ternyata Parkinson bukan kekasih Draco, namun aneh karena ia merasa lega untuk hal itu. Diam-diam Hermione tersenyum senang. Kepenatannya sedikit berkurang.

   “Malfoy harus punya alasan bagus.” Zabini kembali menggeram gusar. Hermione yang tadinya sedang senang, jadi sedikit takut mendengarnya.

   “Oh, aku tak mengerti apa salahku!” Parkinson meraung sedih. “Aku tengah mengejek beberapa Gryffindor dengan Millicent, lalu tiba-tiba si anak Ravenclaw aneh itu, Lovegood, lewat. Aku meledeknya, bertanya, kemana perginya Weaselette dan Darah Lumpur Granger temannya...”

   “Lalu tiba-tiba Malfoy marah padamu??” Zabini memotong marah.

   “Yeah, aku dan dia berdebat dan beradu mulut, lalu ia...” Parkinson mengeluarkan isakan pelan.

   Hermione tercenung.

   Benarkah yang ia dengar itu?

   Draco marah karena...?

   Tanpa sadar, Hermione menggerakkan sedikit tubuhnya untuk mendengar lebih jelas. Namun itu justru membuat bayangannya nampak dari balik pintu.

   “Siapa disana!?”

   Seruan Zabini menggema.

   Hermione mematung.

   Apa yang harus ia lakukan...?


ayo ayo... lanjutkan, nak... hehe
Logged
Sin JÖran
HPI
**

Karma: +5/-1
Posts: 53


« Reply #10 on: September 01, 2008, 12:26:43 PM »

Tokoh Slytherin: Daphne Greengrass, kakaknya Astoria Greengrass dan Tracey Davis (Chara milik bu JKR)

“Blaise…”

“Da…Daphne..? Kaukah itu?

Hermione dengan sangat terkejut sekaligus lega melihat seorang Slytherin yang juga satu angkatan dengannya, yaitu Daphne Greengrass berdiri di sisi pintu yang lain. Terlihat matanya yang berkaca-kaca semakin cemerlang saja karena tertimpa cahaya rembulan, yang sebenarnya bagus karena dengan begitu akan menghalangi pandangannya terhadap Hermione yang sedang sibuk menggeser tubuhnya ke dalam kegelapan.

“Ternyata benar kata Tracey.. KAU SELINGKUH!”, ratapan tangisnya seketika berubah menjadi teriakan amarah. Dan beruntunglah Hermione yang terperangkap dalam kegelapan itu, hanya bisa menyaksikan adegan dramatis diam-diam. Sementara itu Greengrass segera membalikan badannya, dan berlari menuju ke pintu keluar disertai dengan isakkan tangis yang mengiris hati.

Di sisi lain, Blaise Zabini hanya bisa terdiam dengan ekspresi kaget yang nyata di wajahnya. Di sebelahnya, tampak juga Pansy Parkinson yang sama terdiam karena belum bisa mencerna apa gerangan kejadian yang barusan terjadi. Hermione masih terdiam di tempatnya, berusaha menyembunyikan bayangannya. Namun hal itu sudah tidak ada gunanya lagi karena Zabini sudah berlari mengejar Greengrass diikuti dengan Parkinson yang masih berwajah bingung.

Lega sudah hatinya karena sangat nyaris ketahuan. Namun kelegaan hatinya bercampur dengan perasaan lain. Penasaran. Ya, dengan intelegensinya yang tinggi, maka akan sangat wajar apabila rasa penasaran dalam diri seorang Hermione Granger juga lebih tinggi dibandingkan murid-murid Hogwarts lainnya. Dan Hermione akan berbohong jika dia tidak mengakui bahwa ada secarik perasaan senang yang membuat hatinya menjadi sejuk. Setidaknya perasaan senang itu mampu membangkitkan sebuah senyum yang saat ini sudah jarang terukir di wajahnya.

*****

Keesokan harinya di ruang rekreasi Gryffindor tampak seorang anak lelaki dengan wajah kebingungannya. Neville Longbottom sedang memegang pena bulunya yang hampir rontok dan sebuah perkamen yang baru saja terisi setengahnya. Hari ini adalah batas waktu pengumpulan tugas essay ramalan dan Neville sama sekali lupa tentang tugas itu. Baru tadi pagi dia menyadarinya setelah mendengar igauan Ron tentang essay mantranya. Namun untunglah, karena tiba-tiba saja sebuah pertolongan datang. Hermione Granger menuruni tangga menuju kamar anak perempuan dengan langkah santai. Neville memang sudah tertarik dengannya sejak beberapa tahun yang lalu, namun sayangnya kepercayaan dirinya yang rendah telah menghalanginya. Dia yang bodoh ini mana pantas berpacaran dengan seorang juara sekolah?

“Hermione, bisakah kau menolongku? Aku mengalami kesulitan dalam essay mantraku tentang perincian mantra Fidelius.” , tanyanya terus terang. Sudah sebuah rutinitas seorang Neville Longbottom mengajukan pertanyaan tentang pelajarannya kepada seorang Hermione Granger dan terus terang, hal tersebut tidak membuat Neville bangga. Sebaliknya, dia malu karena kebodohannya semakin terlihat menonjol. Tetapi hanya inilah satu-satunya cara yang bisa membuatnya dekat dengan Hermione yang semakin hari tampaknya semakin jauh saja. 

Tetapi hari ini ada yang berbeda dengan Hermione yang akhir-akhir ini sering berwajah murung. Ekspresi wajahnya cerah dihiasi dengan senyumnya yang manis ditambah guyuran sinar mentari pagi yang menambah efek dramatis. Neville tidak bisa menyembunyikan warna merah di pipinya. Dan mau tidak mau, agar tidak ketahuan dia membuang mukanya dan beralih menatap lantai karpet merah.

“Ada apa Neville?”

Jantungnya berdegup dengan keras mendengar kata-kata dari seseorang yang disukainya. Dan dia menyadari bahwa tingkah lakunya ini sangatlah konyol. Merasa tidak bisa seperti ini lagi, Neville pun mendongakan wajahnya dan berkata, “Hermione, aa..aku..
Logged
Clytemnestra S.H.
Slytherin
HPI
**

Karma: +277/-70
Posts: 1248


Never give up on something that you can't go a day


WWW
« Reply #11 on: September 01, 2008, 06:43:07 PM »

Aku lanjutin ya? Langsung dapet ide abis baca punya SIN. Btw, cinta bersegi-segi yang diulas Laff ama SIN menarik banged loh. Hihihi…
   
OC di sini = Madeline Lastrange (lagi).

“…aku…” Neville menelan ludahnya dengan agak kesulitan. Kerongkongannya serasa tersumbat seonggok batu besar hingga kata-kata yang sangat ingin diucapkannya kepada Hermione selama ini seolah tersangkut di sana.

Sementara itu sepasang mata coklat Hermione terus menyoroti perubahan ekspresi Neville, tampak sangat penasaran. Apalagi karena gerak-gerik Neville semakin tidak karuan saja. Jelas cowo di hadapannya ini sedang salah tingkah.

“Ooi, Neville!!”
   
Suara panggilan untuk Neville ini membuyarkan segalanya. Kini Neville tak tahu harus lega atau malah harus sedih karena kegugupannya sendiri. Entah sampai kapan ia harus terus memendam perasaannya kepada Hermione. Sungguh menyedihkan mengingat betapa dia sangat mendambakan bisa mengungkapkan isi hatinya walau dalam lubuk hati terdalamnya dia tahu Hermione pasti akan langsung menolaknya mentah-mentah.

Dari semua hal yang sangat menyakitkan, berpura-pura tidak mencintai seseorang adalah hal yang paling menyakiti hati dan Neville tahu benar kalau inilah yang sedang dilakukannya, berakting seakan dia hanya sekedar ingin berteman biasa dengan gadis pujaannya sejak lama. Sungguh menyakitkan!

“Aku menemukan Trevor sedang bersembunyi di kolong tempat tidurku tadi. Kenapa sih kau selalu membiarkannya kabur? Berhati-hatilah sedikit!” kata Harry tegas seraya menyodorkan kodok kesayangan Neville, Trevor.

“Maaf, Harry, aku memang ceroboh,” sahut Neville muram, menerima Trevor dengan gerakan lambat-lambat.

Harry mengernyitkan dahi, agak bingung melihat reaksi Nevilla yang berbeda dari biasanya. Trevor memang sering kabur dari pemiliknya dan Neville selalu kesulitan menemukan dimana keberadaan kodok itu, namun setiap kali dia berhasil menemukan Trevor, Neville selalu tampak senang sekali.

“Kau kenapa, Neville? Sakit perut ya?” tanya Ron yang mendadak muncul dari arah belakang. Lavender sedang tidak bersamanya dan ini membuat Hermione tidak punya alasan untuk bersikap galak kepadanya.

“Tidak. Aku hanya… err,” Neville menarik nafas panjang, berusaha mengatasi kegugupannya yang semakin parah setiap kali berkontak mata dengan Hermione. “Essai mantraku…”

“Mungkin aku bisa sedikit membantumu, Neville,” sahut Hermione tenang, tanpa melirik Ron sama sekali. “Yuk!”

Untuk kali ini, wajah Neville kembali cerah berseri. Tak terbayang bagaimana girangnya ia saat Hermione mengajaknya menyingkir dari hadapan Harry dan Ron untuk kemudian duduk saling berhadapan di dekat perapian. Bagi Hermione, mungkin ini hanya terlihat seperti bantuan kecil untuk Neville, tapi bagi Neville sendiri, ini berarti banyak. Akhirnya dia bisa juga berduaan dengan gadis yang disukainya selama ini. Okelah, mungkin dia belum berani mengutarakan tiga kata ajaib “Aku suka kamu” yang selama ini sering terbayang dalam imajinasinya. Namun Nevilla bertekad akan mencobanya lagi suatu hari nanti. Begitulah.

***

“Aku masih belum mengerti apa alasan dia menjauhiku. Apa aku tidak boleh berhubungan dengan cewe manapun yang aku mau? Memangnya dia pikir dia itu siapa? Dasar arogan!” seru Ron agak emosi, mengingat bagaimana dingin cara Hermione mengacuhkannya tadi, seolah kehadiran Ron tak ubahnya seperti angin lalu.

Harry hanya menanggapinya kalem, “Kupikir bisa jadi Hermione punya alasan. Well, siapa tahu…”

“Dia tak punya alasan!” potong Ron. “Dia bukan siapa-siapa aku, kan? Dia… err…” Ron tergagap. Mungkin dia hendak mengatakan kalau Hermione sedang cemburu kepadanya dan Lavender. Tapi ini mustahil, pikirnya. Selama ini Ron mengira Hermione menganggap dirinya dan Harry hanya sebagai sahabat saja. Kebimbangan Ron teralihkan saat dia menyadari ada seseorang yang menarik perhatian mereka di kejauhan. “Oh, Harry, lihat siapa gadis di sana itu!”

***

Sontak langkah kaki Harry terhenti begitu memandangi obyek yang dituding oleh Ron. Madeline Lestrange, nama gadis itu, yang sedang melangkah anggun dengan helai-helai rambut coklat emas berkibar terusik hembusan angin pagi dan wajah cerah merona saat mereka berdua saling pandang. Well, Harry tak tahu apa yang sedang bergejolak di dalam dadanya saat ini. Kini dia hanya bisa berdiri terpaku dengan mulut setengah terbuka.

“Hai Har… ehem… maksudku Potter,” sapa Madeline ramah dan berpura-pura kaku saat menyapa Ron. “…dan Weasley, tentu saja.”

“Hai Mad… err… Lestrange,” balas Harry lamat-lamat, menyadari Ron menatapnya tajam saat dia salah ucap barusan. Tentu saja akan sangat aneh kalau dia dan Madeline saling memanggil nama depan mereka. Bisa-bisa Ron mengira hubungan mereka sudah cukup akrab walau memang itulah yang sedang terjadi.

Ron masih menyoroti Madeline dengan tatapan curiga saat gadis itu meminta jalan kepada mereka. Ron dan Harry memang agak memblokir jalan dengan berjalan berdampingan di sepanjang lorong.

“Permisi. Boleh ular betina ini meminta dibukakan jalan oleh dua anak kucing?” kata Madeline dingin, balas menatap tajam langsung ke mata Ron, tampak tak begitu senang dengan cara Ron memandanginya.

“Well, tentu. Silahkan lewat saja!” balas Ron asal sambil menggeser tubuhnya menyamping, memberi celah bagi Madeline untuk lewat.

Harry menyadari lirikan sekilas Madeline saat gadis itu berpura-pura menyelipkan beberapa helai rambutnya yang panjang sepunggung ke balik telinganya. Namun dia hanya bisa tersenyum lemah ketika mata mereka kembali bertumbukan. Sampai akhirnya gadis itu melewatinya begitu saja dan pergi menjauh tanpa menoleh lagi.

“Cewe Slytherin yang aneh,” gumam Ron dengan kata-kata yang sudah sekian kalinya dia ucapkan. “Kau percaya ada anak Slytherin yang bisa mengejek kita sesopan itu? Dua anak kucing? Manis sekali! Dia bahkan memanggil nama kita dengan baik, Potter dan Weasley. Gosh!”

Harry mengedikkan bahunya. Dia sudah tahu betul kalau Madeline memang tidak seburuk anak Slytherin lainnya. Beberapa sisi dari Madeline memang Slytherin, ambisius, kadang licik dan dingin, tapi selebihnya dia percaya kalau Madeline tidak sama dengan cewe-cewe Slytherin semacam Pansy dan Millicent. Paling tidak dia sedikit lebih menyenangkan dari kedua gadis itu, pikir Harry logis.

Mau tak mau, Harry dipaksa mengakui kalau Madeline cukup menarik perhatiannya. Hanya saja dia masih bimbang menentukan pilihannya. Apalagi dua orang gadis yang sedang memperebutkan tempat di kepalanya, Madeline Lestrange dan Ginny Weasley, keduanya sama-sama mustahil untuk didapat.

Mungkin tidak terlalu masalah kalau Madeline adalah seorang Slytherin mengingat Profesor Slughorn yang juga seorang Slyherin bukan termasuk gambaran kebanyakan lulusan Slyherin yang kini berprofesi sebagai Pelahap Maut, tapi Madeline adalah anak dari pembunuh Sirius, Bellatrix. Ingat nama belakangnya, Harry! Lestrange! Tidakkah itu berarti sesuatu bagimu?! batin Harry pedih.

Sedangkan Ginny Weasley, dia masih punya Dean Thomas di sisinya. Lagipula Harry selalu merasa berdosa setiap kali membayangkan sosok gadis berambut merah itu dalam angannya. Ginny adik Ron dan Harry khawatir Ron akan langsung overprotektif kepada adiknya sama seperti yang dilakukannya sekarang terhadap Dean begitu tahu kalau Harry sedang menaksir Ginny. Harry tidak mau persahabatannya hancur karena ini.

Lalu sebaiknya dia harus memilih siapa? Madeline atau Ginny? Keduanya sama-sama menimbulkan dilemma berkepanjangan dan semakin memusingkan setiap kali dipikirkan.

“Harry! Kau masih bersamaku, kan?” usik Ron, mengibaskan tangannya di depan muka Harry dan membuyarkan lamunan Harry.

“Oh yeah! Tentu saja…” jawab Harry tanggung. “Sebaiknya kita bergegas ke aula besar, Ron. Kau bilang kau sudah kelaparan tadi.”

Dengan langkah tergesa, seolah berusaha menghindari lontaran pertanyaan menyudutkan dari Ron, Harry berjalan meninggalkan Ron yang masih bengong di belakangnya. Sampai akhirnya Ron buru-buru menjejeri langkah Harry menuju ke aula besar. Mereka berdua tidak tahu apa yang sedang menunggu di sana.

Well, sebenarnya sedang terjadi kehebohan di depan pintu aula besar. Kita semua tahu apa yang sudah terjadi semalam di asrama Slytherin dan rupanya masalah ini masih saja berbuntut panjang dengan melibatkan…

Nah, loh, tambah ribet ya? Smoga aja ada yang bisa nemu ide unik lagi. Mangga dilanjutin! ^^
« Last Edit: September 01, 2008, 06:48:10 PM by DahLIA_ dPrincess-O-dDamned » Logged


SevMione (Severus Snape - Hermione Granger)
Fratley Phoenixion
Slytherin
HPI
**

Karma: +207/-66
Posts: 1237



« Reply #12 on: September 02, 2008, 10:25:46 PM »

Lanjut, meeennn........ Grin
Tambahan tokoh Slytherin: Mafalda
OC: Scorpina Lestrange (lagi)



.....si ular betina, er, maksudnya Scorpina Lestrange, adik tiri Madeline yang seperti biasanya masih membawa-bawa boneka perempuan menyeramkan itu bersama Mafalda. Mereka sedang bergerombol dengan beberapa cewek Slytherin, sepertinya sedang menyebar gosip.

"Jadi itu benar, Mafalda?" tanya Scorpina kepada seorang cewek Slytherin bertampang seperti Rita Skeeter...er, maksudnya tampang biang gosip begitulah.

"Yeah, Astoria bilang begitu. Dia bilang kakaknya melihat sendiri kemarin Blaise & Pansy kencan diam-diam di Menara Astronomi," jawab Mafalda antusias.

"Ha! Perempuan jalang itu! Sudah kuduga dia selama ini cuma menjilat di depan Draco!"

"Tapi yang dikatakan Blaise kepadaku berbeda," kata Mafalda yang suaranya makin pelan menjadi bisikan. Dan selanjutnya benar-benar menjadi bisikan sehingga Harry & Ron kesulitan menguping.

"Aku bawa ini," bisik Ron sambil mengeluarkan dua buah Telinga Terjulur.

"Bagus," bisik Harry. Mereka memasukkan tali Telinga ke kuping mereka dan Telinga Terjulur mulai berjalan mendekati gerombolan cewek Slytherin.

"Yeah! Blaise bilang dia hanya sedang menghibur Pansy," suara Mafalda terdengar lagi melalui Telinga Terjulur.

"Menghibur Pansy?" kata Scorpina heran. Beberapa cewek Slytherin bengong.

"Yeah," kata Mafalda. "Dia bilang Pansy baru saja mendapat perlakuan kasar dari Draco, sepupumu."

"APA?" seru Scorpina dan geng ceweknya berbarengan.

"SSSHH!" desis Mafalda. "Jangan keras-keras! Lalu dia mengatakan sesuatu yang aneh tentang sepupumu."

"Sesuatu apa?" desak Scorpina.

"Dia bilang Draco melakukan itu karena Pansy mengejek si sinting Lovegood itu," (tangan Harry mengepal), "Pansy bilang, 'ke mana perginya temanmu si jalang-tukang-ciuman Weasellete dan si bajing darah-lumpur Granger itu." (Sementara tangan Harry yang satunya juga mengepal semakin kuat, telinga Ron berubah menjadi merah padam)

"Lalu...?"

"Lalu Draco menyerang Pansy dengan Mantra Perintang. Pansy menangis dan, yah, kau tahu, dia mengadu ke teman dekat Draco, Blaise. Habis dia mau ke siapa lagi, ke si tolol Vincent & Gregory? Atau Theodore? Yah, memang hanya Blaise yang bisa melunakkan hati perempuan di antara mereka berempat, kan?"

"Tu...tunggu sebentar! Tadi kau bilang Draco langsung menyerang Pansy begitu dia menyebut Granger darah-lumpur?"

"Yeah! Itu dia yang baru saja kukatakan, Scorpina!" ujar Mafalda tak sabar.

"Ada yang aneh di sini....." gumam Scorpina curiga.

***

Harry menoleh ke arah Ron, yang luar biasa pucat.

"Ron...?" panggil Harry cemas. Namun, tambah satu lagi yang membuat dia makin cemas. Di belakang Ron muncul sosok yang sudah sangat mereka kenal dan bersuara dingin dan sangat licin yang berkata, "Sedang apa dua Gryffindor di sini dan bukannya langsung masuk ke Aula Besar?"

to be continued...

***

hehehe...silahkan lanjutkan! Grin Wink
semoga gak ngebingungin dan sori kalo kependekan... Wink

hehehe...bisa nebak itu siapa? semoga aja lanjutannya sesuai harapan gw... Grin Tongue


EDITED:
Thx to Laff who reminds me Wink
*klik [senang]*
« Last Edit: September 03, 2008, 02:59:54 AM by Verdo Beoulve --The Bloody Doll Emperor-- » Logged

p i n k - pinkyglaze
Hufflepuff
HPI
**

Karma: +32/-2
Posts: 187


it represents me much...


« Reply #13 on: September 03, 2008, 03:59:21 AM »

kekeke.... sory tadi salah ngepost... salah tred....
tadi ngasi pertanyaan tapi ditaruhna di tred ni...
Verdo, mzpinknerd lanjut ya...




Rambutnya yang berminyak membingkai wajah pucat Severus Snape. Suaranya yang bagi Harry dapat menyaingi suara Voldemort membuat gerombolan anak-anak perempuan Slytherin, terlonjak kemudian memandang Snape takut-takut dan menyingkir ke Aula Besar. Harry terdiam sesaat matanya masih berganti-ganti memandang Snape dan Ron yang masih belum fokus.

“Apa itu ditangan kalian?”
Snape bertanya yang ditujukannya kepada Harry. Mata hitamnya menatap tajam mata hijau Harry yang balas menatapnya tak kalah tajam.

“Telinga Terj—
Harry kemudian menginjak kaki Ron kuat-kuat di balik jubahnya membuat Ron kembali sadar dan langsung menjadi pucat pasi. Di belakang Snape kerumunan anak-anak lain yang rupanya telah berjejal dan berdesakan menuju ke Aula Besar malah ikut  ikut menonton dan berbisik-bisik.

“Bukan apa-apa” Kata Harry kemudian yang langsung dengan gerakan cepat mengantongi dua telinga terjulur ke dalam jubahnya. Namun Snape telah menangkap kata-kata Ron barusan, menyeringai licik sambil mencabut tongkat dari balik jubahnya.

“Accio Telinga”
Desis Snape lambat dan penuh penekanan pada dua kata terakhir itu, kemudian diikuti oleh dua gulungan panjang berwarna merah daging seberti benang yang meluncur keluar dari saku jubah Harry dan langsung jatuh ke tangan terbuka Snape.  Mata Harry dan Ron terpaku ngeri pada gulungan itu. Semua yang menonton terdiam melihat gulungan tipis daging agak menjijikkan di tangan Snape..

“Potong lima puluh angka dari Gryffindor karena membawa barang terlarang ke sekolah,”  Snape memandang Harry dan Ron dengan pandangan menghina.

“Barang-barang apapun dari Toko si kembar Weasel adalah terlarang di Hogwarts.”
Seseorang mendadak keluar dari dalam kerumunan. *barang-barang dari Toko Sihir Sakti Weasley kan dinyatakan terlarang di awal HBP...*

Draco Malfoy berteriak keras saat mencoba menyingkirkan beberapa anak kelas dua Hufflepuff yang menghalangi jalannya. Crabbe dan Goyle masih tertinggal dibelakang. Snape tersenyum singkat namun Malfoy tampak berusaha tidak melihatnya.

Telinga Ron terlihat kembali memerah, mendengar nama keluarganya disebut-sebut. Harry hanya menatap Snape penuh amarah dan kemudian berganti menatap tajam Malfoy. Harry sedikit terhenyak melihat keadaan Malfoy saat itu, wajah pucatnya semakin pucat dengan rambut pirangnya yang tidak selicin biasanya, dengan ujung jubahnya yang ternoda hitam dan ada sarang laba-labanya. Harry memperhatikan dengan seksama perubahan ini, namun belum paham sepenuhnya.

“Terimakasih Draco,” Snape mengucapkannya lambat tanpa melihat ke arah Malfoy.

“Dan potong masing-masing duapuluh angka dari Gryffindor karena menguping,” kata Snape kemudian yang langsung berjalan melewati kedua Gryffindor itu, sambil mengantongi telinga terjulur dalam jubahnya. Ron masih berdiri mematung memandangi langkah-langkah Snape yang kemudian menghilang di ujung koridor.

Anak-anak yang tadinya berada di belakang mereka kemudian bergerak menuju Aula Besar sedikit demi sedikit masih sambil berbisik-bisik, hingga hanya tersisa sedikit anak yang melankah pergi Harry, Ron, Malfoy dan kedua kroninya di barisan paling belakang. Harry yang berdiri dihadapannya masih memperhatikan Draco Malfoy, hingga Crabe dan Goyle yang tiba di kedua sisi Malfoy sambil mendesak anak-anak lain membuat mereka minggir, menyadarkan Harry.

“Apa yang kau lihat Potter?” Malfoy bertanya sinis.

“Bukan apa-apa” jawab Harry kemudian sambil menarik tangan Ron melewati Malfoy menjauh menuju Aula Besar.

“Menguping, eh?” Belum sempat dua langkah menjauh, Malfoy berkata lagi dengan nada mengejek.

Namun kali ini bukan Harry yang menjawab, Ron langsung berbalik dan berkata keras, tatapan matanya tajam, langsung bertatap muka dengan Malfoy,

“Dasar Pecundang, menyerang orang karena mereka mengatakan Darah Lumpur,”
Ron seperti mau meledak mengatakan ini. Harry memegang sebelah tangan Ron dan ternyata sebelahnya lagi dipegang oleh Neville yang tiba-tiba saja sudah berada di sana. Namun yang dikatai barusan nampak terguncang sesaat kemudian kembali pada sikap aroganya.

Sambil memandang angkuh para Gryffindor di depannya Malfoy menyeringai dan berkata,

“Bukan urusanmu Weasel siapa yang kusebut Darah lumpur, dan bukan urusanmu pula pada siapa aku menyerang,” belum habis Malfoy dengan kata-katanya, Ron telah mencabut tongkat sihirnya keluar dengan tangan yang seharusnya di pegang Neville erat.

“IMPEDIMENTA”

Raung suara yang bergema di sepanjang koridor. Malfoy, Crabe dan Goyle terpental ke dinding dibelakang meraka. Harry dan Neville sama-sama memandang Ron yang mengacungkan tongkat sihirnya di depan dada, namun Ron balas memandang mereka bingung. Harry dan Neville merasa suara yang keluar tadi bukan suara Ron.

“Expelliarmus”

Seru Harry refleks saat melihat Malfoy mengacungkan tongkatnya pada Ron. Berkelotakan, tiga tongkat jatuh sekaligus satu meter di depan Neville jauhnya.

“Bukan aku yang melakukannya, Malfoy” teriak Ron ke arah Malfoy, yang kemudian semua berbalik ke belakang Harry, Ron dan Neville ketika terdengar langkah kaki Blaise Zabini menuju mereka dari ujung tersembunyi koridor dengan tongkat teracung.

“Rasakan Malfoy, kutukan yang sama, yang kau lakukan pada Pansy.” Wajah tampan Blaise, digurati senyum mengejek. Harry, Ron dan Neville terperangah menonton kejadian ini.

“Oh, membela pacarmu rapanya, Blaise” kata Draco sambil berusaha berdiri. Blaise memandangnya kaku. “Tapi kukira Greengrass, tak akan senang mendengarnya,” Malfoy lalu tersenyum sama liciknya seperti yang dilakukan Blaise barusan.

“Diam..” seru Blaise kemudian. Tanpa tongkat sesungguhnya Malfoy tanpa daya, namun keangkuhan menguasainya.

“Aku akan berkata sesukaku, Zabini," Malfoy melangkah mendekati Blaise, dan sejenak kemudian malah menghadap Ron, dan menyeringai mengejek, "seperti aku melakukannya pada si Darah Lumpur Granger.”

Bukan hanya Blaise yang terbakar emosi, Harry, Ron, dan Neville juga yang ikut mengacungkan tongkatnya kepada Malfoy. Tiga kutukan berbeda menyerang ke arah Malfoy, bersamaan dengan seruan yang paling keras...

“PROTEGO”.....

Teriaknya saat melompat menengahi tiga mantra dari Blaise, Harry dan Neville, hingga proteksinya membuat dua kubu memantul dari dinding tak terlihat beberapa jarak. Ron sedikit terjatuh karena usahanya ini.

“Ron apa yang kau lakukan?” teriak Harry jengkel saat menemukan kembali suaranya. Neville memandang Ron nampak marah, Blaise pun demikian. Malfoy tercengang sambil memegangi dadanya karena jatuh terpental.

“Sori Harry, tapi dia tak pantas membuat kita bertiga didetensi, Herm.., dia mungkin tak mau kita melakukan ini padanya” kata Ron kemudian sedikit mengerling ke arah di mana Malfoy jatuh lalu melangkah pergi, setelah memandang Harry dan Neville singkat, tanpa memandang Malfoy lagi.

Tanpa diperintah, Harry dan Neville berjalan megikuti Ron, setengah mengejar untuk menyamai langkah.

Hening...

Air mata menetes perlahan membentuk genangan kecil disudut matanya, saat ia melihat kejadian itu didepanya tanpa dapat berbuat sesuatu dari balik pilar......


Thanks udah dikasih kesempatan... lanjutkan yaaa!!!
to Verdo, maap kalo nggak seperti harapanmu....


 

« Last Edit: September 04, 2008, 12:16:40 AM by MzPinkNerd » Logged

::
-Pink, Outside?? Absolutely...
but Inside??
I've never sure-
::
L-affy
Slytherin
HPI
**

Karma: +139/-27
Posts: 432



« Reply #14 on: September 05, 2008, 08:09:37 AM »

Maaf, OC-nya ngga jadi kumasukin... hehe... maaf juga kalau lanjutannya aneh dan jelek. Habis Laff nggak kepikir siapa orang lain di balik pilar itu. Gomenasai!

  Daphne Greengrass mengigit bibirnya kuat-kuat. Di depannya terjadi pertengkaran hebat dan ia tak bisa berbuat apa-apa. Namun air mata yang menetes di pipinya bukannya karena pertengkaran itu sendiri, melainkan karena sosok Blaise Zabini yang dilihatnya membela si jalang Parkinson itu di depan umum!

   Daphne menyeka ujung matanya dengan satu gerakan cepat. Hatinya teriris-iris mengingat kejadian semalam di Menara Astronomi. Sudah sejak lama ia tahu bahwa pacarnya itu memang playboy, dan walaupun ia siap kapanpun menghadapi kenyataan bahwa dirinya telah diduakan, tetap saja hatinya terasa pedih.

   Dengan gontai, Daphne menjauh dari pilar dan melangkahkan kakinya kembali ke Asrama Slytherin. Ditahannya air mata yang mulai memberontak keluar dari bola matanya yang indah. Samar, ia mendengar bisik-bisik dan tawa dari gadis-gadis Slytherin ketika ia lewat.

   Oh, bagus. Semua orang kini tahu ia telah dikhianati pacarnya sendiri.

   Emosi menguasai diri Daphne hingga ia tak memperhatikan langkahnya. Tiba-tiba saja, dari sebuah sudut, muncul seseorang dan Daphne menabraknya.

   “AAAW!!” jerit orang itu ketika tubuhnya limbung dan jatuh ke lantai. Daphne juga sama, namun ia tidak menjerit, ia terlalu kaget untuk membuka mulut.

   “...KAU! Lihat-lihat kalau jalan...!”

   Daphne membelalakkan matanya demi melihat siapa orang yang ia tabrak.

   Hermione Granger.

   Gadis kutu buku itu berdiri dan merapikan pakaiannya dengan jengkel.

   “Buku-bukuku...” ia menggumam sedih sambil menunduk dan memunguti bukunya. Daphne hanya bisa terdiam dan memandanginya dengan tatapan aneh.

   Hermione Granger.

   Hermione Granger.

   Inikah gadis yang dibela oleh Malfoy sehingga harus mengutuk Parkinson?

   Dan gara-gara itu dirinya jadi mengetahui pengkhianatan Blaise.

   Mendadak, tanpa alasan yang jelas, Daphne merasa amarahnya menggelegak demi melihat sosok berambut cokelat mengembang itu.

   Hari ini Daphne merasa dirinya bisa marah pada siapapun.

   “Darah Lumpur.” Desis Daphne ketika Hermione bangkit kembali dengan buku-buku lengkap di tangan. Hermione nampak terkejut mendengarnya, namun begitu melihat bahwa penabraknya adalah Slytherin, ia malah tersenyum sinis.

   “Greengrass.” Ucap Gryffindor itu dengan dingin.

   “Mau apa kau berkeliaran di Hogwarts, Granger? Darah Lumpur tak dibutuhkan disini.” Daphne memicingkan matanya sambil beranjak bangkit. Tatapannya tetap lekat dan tak lepas dari Hermione.

   Hermione terdiam sejenak mendengar hinaan itu, namun nampaknya ketenangan sempurna masih menguasai dirinya.

   “Oh, Greengrass.” Hermione menggelengkan kepalanya dengan senyum sinis masih mengembang. “Setidaknya aku berkeliaran di Hogwarts dengan mata terbuka, tidak sepertimu yang berkeliaran tanpa mata hingga menabrak—oh.”

   Daphne terkejut ketika sorot mata Hermione tajam memandangi lapisan airmata yang menyerupai kaca di kedua mata Daphne.

   Daphne tersentak ketika menyadari bahwa seorang Gryffindor baru saja menyaksikan dirinya dalam keadaan lemah—hampir menangis. Buru-buru Daphne menyeka matanya dengan panik. Memalukan... hampir menangis di depan Gryffindor...

   Namun tanpa diduga, Hermione hanya memalingkan wajahnya dan berjalan pergi dari situ tanpa mengatakan apa-apa.

   Daphne terperangah. Ia nyaris yakin bahwa tadi Hermione akan mengejeknya karena cengeng dan menangis hanya karena dikhianati. Andai saja tadi posisi mereka terbalik, Daphne takkan segan-segan menertawakan Hermione.

   Namun Hermione tidak mengatakan apa-apa.

   Apa gadis itu yang terlalu kuper hingga tak mendengar cerita dirinya dan Blaise?

   Itu tak mungkin. Daphne tahu betul bahwa mulut penggosip cewek-cewek Slytherin selalu bisa diandalkan untuk menyebar skandal sekecil apapun ke tempat seluas apapun. Bahkan Hermione Granger yang mengurung diri di perpustakaan setiap haripun takkan luput mendengar gosip satu itu—terutama karena pertengkaran Potter-Weasley-Longbottom-Malfoy-Blaise tadi.

   Itukah gadis yang kau bela kemarin, Malfoy? Sepertinya ia tak lebih dari sekedar gadis kuper biasa.

   Daphne baru akan beranjak pergi juga ketika di dengarnya suara tawa dari belakangnya. Tak lama, suara itu berbisik pelan padanya.

   “Seharusnya kau tak menghina Granger seperti tadi.”

   “Siapa itu!?” Daphne berbalik untuk melihat asal suara.

   “Malfoy mengutuk Parkinson karena menghina Granger, aku tak tahu apa yang akan dilakukan Malfoy jika ia mendengarmu tadi.” Suara itu terdengar riang namun sinis.

   “Siapa...?”

   Pemilik suara itu melangkah maju agar dirinya bisa terlihat jelas.........
Logged
Pages: [1] 2 3
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.8 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!

supported by : IndoLowonganKerja.com