harrypotterindonesia.com
March 10, 2010, 11:20:47 PM *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: Selamat datang di Forum HPI yang baru. Silahkan melakukan Registrasi untuk ikut berdiskusi di forum ini. Mari kita jaga Forum ini bersama.
 
   Home   Help Search Login Register  
Pages: 1 [2] 3
  Print  
Author Topic: ~FF KEROYOKAN~ Hogwarts 4 Everyone  (Read 6406 times)
The Watcher
Slytherin
HPI
**

Karma: +207/-66
Posts: 1253


Don't be joking! Life is not centered on you. Ha!


« Reply #15 on: September 05, 2008, 11:51:07 PM »

Kulanjutin, ya... Grin

OC: Madeline Lestrange-nya Lia


Seperti yang diduga Daphne, siapa lagi itu kalau bukan Madeline lestrange, satu-satunya anak Slytherin yang tak pernah mengejek darah-lumpur.

"Madeline," desis Daphne marah. "Sama sekali bukan urusanmu jika aku menyebut darah-lumpur kepada siapa saja!" Dia memang sudah lama mendengar gadis ini aneh, karena tak pernah mengejek satu pun darah-lumpur di sekolah. Bahkan ada juga gosip yang mengatakan bahwa ayahnya adalah Muggle atau lebih buruk lagi, darah-lumpur, karena semua anak Slytherin tahu bahwa Scorpina & Madeline berasal dari ayah yang berbeda.

"Oh, kau salah paham, Daph. Itu memang bukan urusanku jika Draco menyerangmu. Aku kan bermaksud baik, memberimu peringatan agar kau tak disakiti oleh Draco seperti Pansy," kata Madeline tersenyum manis.

"Hentikan senyum bodohmu itu kalau kau tak mau kukutuk jadi ulat bulu!" kata Daphne penuh ancaman.

"Wah, kalau kau melakukan itu, jelas Draco jauh lebih marah daripada yang bisa kaubayangkan, jalang kotor!" kata Madeline dengan nada semanis madu.

"APA! Beraninya kau...?"

"Memangnya aku tak tahu? Kau & adikmu juga suka mencuri-curi pandang ke Draco, kan?" kata Madeline, kali ini menanggalkan senyum manisnya dan nadanya menjadi sinis.

"Bagaimana kau....?"

"Aku memerhatikan, Daphne," kata Madeline tajam. "Karena itu, jangan menyalahkan Blaise kalau dia playboy. Kau sendiri playgirl, cewek kotor."

"Kau....!" desis Daphne marah. Dan dia melompat maju untuk menyerang teman seasramanya itu yang telah menghinanya habis-habisan. Tak perlu tongkat sihir, karena ini pertarungan antar-wanita. Madeline pun tampak siaga tanpa tongkat sihirnya.

"PROTEGO----!!!" teriak suara lain dari belakang Madeline. Sontak, tameng transparan muncul di antara kedua gadis itu.

"Jangan bertengkar seperti anak kecil, kalian berdua!" teriak suara yang dikenal. Kedua gadis itu menoleh dan tak percaya pada siapa sosok yang muncul. Coba tebak? Neville Longbottom. Entah bagaimana, dia sendirian, padahal tadi Daphne melihatnya bersama Potter & Weasley.

"Longbottom," desis Daphne marah. Dan dia berlari pergi ke luar Kastil dengan tangan menutupi mata.

Neville sudah akan berbalik ketika Madeline memanggil, "Nev...Longbottom!"

"Kenapa?" kata Neville dengan nada sedingin es. Dan dia menatap gadis itu dengan tatapan kebencian yang selama ini hanya pernah diberikannya kepada Bellatrix Lestrange.

"Er...terima kasih telah menolongku tadi," kata Madeline tulus.

Neville mendengus keras. "Jangan salah sangka! Aku sama sekali tak ada niat untuk menolongmu tadi!"

Madeline tampak bingung. "Lalu kenapa? Kenapa kau tadi melakukannya?"

"Aku melakukannya hanya karena aku......"

***

Hehehe....silahkan dilanjutkan!
Logged


Siggy by: Laff
harrypotterindonesia.com
« Reply #15 on: September 05, 2008, 11:51:07 PM »

 Logged
Clytemnestra S.H.
Slytherin
HPI
**

Karma: +276/-70
Posts: 1221


Never give up on something that you can't go a day


WWW
« Reply #16 on: September 06, 2008, 05:16:54 AM »

Karena ending yang dikasi Verdo nanggung (Neville belum sempet berantem ama Madie), terpaksa aku sedikit kasi peran ama Madeline. Biar terkesan masi cameo (karena 2 OC gak boleh tampil barengan), dialognya Madie aku kasi dikit banget, cuma 4 dialog aja. Maap kalo ternyata masih melanggar aturan. Aku udah berusaha keras loh ^^


OC di chapter ini Scopina Lestrange-nya Verdo dan Madeline Lestrange as cameo

“…bukanlah manusia rendahan yang dibutakan oleh dendam. Ibumu sudah menghancurkan keluargaku, Madeline Lestrange. Ibumu sudah membuatku sangat menderita karena harus kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuaku yang jiwanya rusak parah. Orang tuaku gila karena ibumu!

“Tapi semua itu tidak akan membuatku jauh lebih baik jika harus berdiam diri melihatmu disakiti hanya karena alasan itu. Jika aku merasa puas melihatmu menderita, kupikir aku pasti jauh lebih buruk dari ibumu. Aku bukan manusia pengecut hina!”

Madeline menerima semua ucapan Neville dengan raut tenang sekali. Tak ada airmata yang menggenangi pelupuk mata dan tak ada kedua tangan mengepal kuat-kuat. Yang ada malah senyum penuh pengertian dan kedua mata bersinar menyorotkan keprihatinan. Neville jijik melihatnya, membayangkan dia menerima simpati dari anak seorang pelahap maut busuk yang telah membuatnya sengsara selama ini.

“Hentikan kepura-puraanmu, Lestrange! Buka topeng memuakkanmu itu! aku tahu dalam hatimu sebenarnya kau sangat senang!” bentak Neville emosi.

Madeline mengangkat sepasang alisnya yang terukir indah dan mengerjapkan kedua matanya mendengar ucapan bernada keras ini. Ekspresi heran yang tidak dibuat-buat, begitu pikir Neville. Meski begitu perasaan Neville tidak juga membaik apalagi saat Madeline membuka mulutnya dan mulai bertutur.

“Menjadi anak seorang pembunuh bukanlah sebuah kebanggan, Longbottom, asal kau tahu saja. Justru kupikir aku akan jauh lebih bangga jika punya kedua orang tua pemberani seperti orang tuamu. Bergabung dengan pangeran kegelapan dan melakukan sejumlah kerusakan di dunia jelas bukanlah tindakan heroik,” kata Madeline lirih, kali ini ekspresinya tampak begitu muram. “Sejak dulu aku selalu ingin membayar apa yang sudah orangtuaku lakukan. Hanya saja aku tak tahu harus kubayar dengan apa…”

Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba aku kasihan kepadanya? batin Neville tak habis pikir.

“Jika kau pikir perasaanku lebih baik darimu, kau salah. Aku justru merasa jauh lebih buruk darimu, bahkan dari siapapun,” sambung Madeline sendu.

“Ah, kau mencoba membodohiku, Lestrange!” sentak Neville meski di dalam hati kecilnya dia melihat ketulusan Madeline. “Kau mencoba membuatku jatuh iba padamu supaya menganggap kalau nasib kita berdua sama-sama tragis, begitu? Kau benar-benar ular berbisa! Kau licik, Lestrange! Sama seperti ibumu! Sama seperti kebanyakan manusia keji menjijikkan yang dipelihara di dalam asramamu itu! Semua Slytherin sama saja!”

Madeline mengangkat wajahnya dan membiarkan Neville terkesiap melihat sorot mata hijau itu yang seolah berkata, “Hina aku sampai kau puas!”

Neville sempat membuang muka selama sepersekian detik. Kini dia bimbang dengan semua perkataan kotor yang sudah keluar dari mulutnya. Kenapa sepertinya semua perkataan itu bukanlah berasal dari dirinya, seakan orang lain yang sudah mengucapkan perkataan itu dengan menggunakan dirinya sebagai mediator. Melihat ekspresi Madeline barusan membuat Neville merasa bersalah. Oh, kenapa ini? Seharusnya aku tidak merasa bersalah begini! batin Neville.

“Kupikir para Gryffindor selalu sok bijak dan berani dalam setiap kesempatan, tapi ternyata pemikiranku salah besar…” seloroh seseorang dari balik punggung Neville. “Ada juga yang bermulut kotor dan hanya berani kepada seorang gadis. Menyedihkan!”

Sontak Neville berbalik dan menjumpai Scorpina Lestrange, adik tiri Madeline yang tampak sama sekali tak senang melihat kakak tirinya dicerca habis-habisan oleh Neville.

***

“Jauhi kakakku, Longbottom! Jika kau tidak ingin bernasib sama memilukannya dengan orang tuamu, Memilukan? Oh, maaf. Seharusnya aku bilang memalukan alih-alih memilukan,” kata Scorpina dengan seringai di wajahnya. Dengan berlenggak-lenggok dia menghampiri Madeline dan menggamit lengan kanan gadis itu sambil masih melempar sorot mengancam untuk Neville.

“Kalian berdua sama-sama ular betina berbisa,” cemooh Neville, matanya menyipit dan wajahnya merah menahan geram. “Keluarga kalian adalah keluarga paling menyedihkan yang pernah ada di muka bumi ini. Keluarga Azkaban atau keluarga Pelahap Maut, mana yang lebih kalian suka? Oh, kurasa keduanya sama-sama menjijikkan! Kasihan sekali…”

“Tak ada seorang pun yang pantas menghina keluargaku, Longbottom!” pekik Scorpina murka. Tanpa pikir panjang dia merogoh saku jubahnya dan menodongkan tongkatnya ke arah Neville.

Neville menanggapi amukan ini dengan santai, bahkan sama sekali tidak berniat mengeluarkan tongkatnya untuk menghalau serangan yang akan diluncurkan Scorpina padanya. Ini membuat Scorpina semakin gusar saja, merasa sudah disepelekan.

“Hanya seorang munafik yang berpendapat keluarganya lebih mulia daripada keluarga lain. Kau menyerangku dengan menggunakan nasib malang yang menimpa orang tuaku, lalu kenapa aku tak boleh menyerangmu dengan alasan yang sama?” ujar Neville dingin.

Scorpina sudah berancang-ancang mengeluarkan kutukan kepala menggelembung untuk cowo yang dianggapnya sangat kurang ajar ini. Namun belum sempat dia merapalkan mantra, tiba-tiba saja Madeline merampas tongkat miliknya.

“Madie?!”

Kakak tirinya itu sama sekali tidak mengubris teriakan protesnya dan malah melenggang meninggalkan Scorpina berdua saja dengan Neville. Tentu saja Scorpina tidak ingin ditinggalkan begitu saja mengingat Neville sedang memandanginya dengan sorot penuh kedengkian. Buru-buru dia menyusul Madeline dan menuntut penjelasan tentang ini.

“Kenapa, Madie?”

Tanpa menyahut, Madeline mengembalikan tongkat yang tadi dirampasnya pada Scorpina. Wajah Madeline tak dapat ditebak, campuran sedih, kecewa dan terpukul.

Melihat keadaan Madeline begini, Scorpina merasa semakin geram saja. Dia tidak suka kakak tirinya itu diperlakukan tidak baik oleh siapapun. Sejak dulu selalu saja dia yang melindungi kakaknya, membelanya dari gangguan orang-orang yang menghina dan merendahkan martabat mereka sekeluarga, dan menghibur Madeline yang dari hari ke hari semakin muram saja.

Kadang Scorpina merasa ini semua terbalik. Harusnya Madeline yang melindunginya, bukan dia yang melindungi kakak tirinya itu. Kakak tirinya ini memang terlalu lemah dan menyedihkan! Sama sekali tak bisa diandalkan! Tapi tidak apa-apa, Scorpina sudah punya Draco yang selalu bersedia melindunginya, berbeda dengan Madeline yang akhir-akhir ini selalu menjauhi Draco tanpa alasan. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Dengan tingkahnya ini, justru semakin memperkuat alasan murid-murid asrama lain untuk menjulukinya ‘Gadis Slytherin Aneh’.

“Kau tidak seharusnya diam saja mendengar orang tua kita dihina seperti itu,” omel Scorpina. “Longbottom konyol itu seharusnya diganjar dengan kutukan tak termaafkan, sama seperti orang tuanya yang sudah tidak waras itu. Dia pantas mendapatkannya, kau tahu!”

Madeline tidak menampakkan tanda-tanda mendengarkan ceramah Scorpina. Dia terus saja berjalan dengan pandangan lurus ke depan, mengabaikan Scorpina yang berjalan menjejerinya.

“Madie!!” sentak Scorpina yang merasa tidak dihiraukan sedari tadi sembari mencengkram lengan Madeline. Sontak Madeline menghentikan langkahnya, namun tetap menolak menatap Scorpina. “Kenapa kau jadi aneh seperti ini? Kau membuatku tidak mengenalimu lagi. Apa kau sedang kena kutukan Imperius atau apa? Kenapa kau jadi begitu tertutup kepadaku dan Draco? Apa kau sudah tidak percaya kami lagi? Kami keluargamu, Madie! Kami menyayangimu!”

“Aku juga menyayangi kalian, Ina…” sahut Madeline lirih, hampir tak terdengar. “…hanya saja semua hinaan ini terasa pantas kuterima.”

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tuntut Scorpina, kepalanya terasa terhantam pemukul Bludger tak kasat mata setelah mendengar ucapan Madeline ini. Selama ini dia mengira kakak tirinya ini adalah tipe kakak perempuan sempurna yang diinginkan oleh semua anak gadis, cantik, tinggi semampai, berambut indah dan pintar. Tapi ternyata Madeline sangat lemah dan pengecut! “Kau tidak pantas menjadi seorang Slytherin jika berpikir seperti itu!”

Madeline hanya memberi senyum misterius ketika berkata, “Aku bahkan tak pantas berada di sini, Ina. Tenanglah, aku akan segera pergi jauh dan tidak akan kembali lagi. Aku senang kau sudah pintar menjaga diri.”

Perkataan ini membuat Scorpina tercengang. Sudah lama dia tahu betul kalau Madeline punya penyakit jantung bawaan dan juga bisa meramalkan nasib, tapi kalau perkataan ini memang berarti sesuatu, Scorpina belum siap kehilangan kakak tirinya itu untuk selama-lamanya.

Namun Madeline tidak memberi Scorpina kesempatan untuk bertanya apa maksud perkataannya barusan. Dia sudah berada jauh di depan saat Scorpina tersadar dari lamunannya.

Sementara itu, tak jauh di dekat tempat di mana Scorpina berdiri tercenung, Ginny Weasley dan pacarnya, Dean Thomas tampak sedang berdebat seru tentang sesuatu hal. Ekspresi mereka sama-sama marah saat saling membentak satu sama lain. Apalagi saat Dean berkata….

Yang udah ngebet pengen jadiin Ginny tokoh utama, noh udah aku bukain jalannya tuh!
Yuk dilanjutin!  Wink Wink
Logged


Or perhaps in Slytherin
You'll make your real friends
Those cunning folk use any means to achieve their ends
harrypotterindonesia.com
« Reply #16 on: September 06, 2008, 05:16:54 AM »

 Logged
Allegre Cielo Indah
Gryffindor
HPI
**

Karma: +105/-23
Posts: 467


What is this? This feeling.....


WWW
« Reply #17 on: September 07, 2008, 12:34:25 AM »

 Cheesy...maap rada aneh.... Roll Eyes




“Well, aku memang tidak sesempurna Potter! Kekasih impianmu itu! Dan kau tak perlu berdalih banyak jika ingin memutuskan aku!” tukas Dean, keras dan ketus. Setelah Ginny, untuk kesekian kalinya mengeluhkan kebiasaanya yang suka berjalan di belakang gadis itu ketika mereka sedang jalan bersama.

Ginny terpana tak percaya akan perkataan pacarnya itu. Untuk pertama kalinya sejak mereka pacaran, Dean berkata begitu keras dan ketus. Terkejut, dan kemudian marah menjalar di urat sarafnya. Wajah cantiknya mengeras. Namun, Ginny tak langsung mengatakan sesuatu. Ia malah diam dalam ekspresi kaku. Keheningan yang menegangkan pun terjadi di antara keduanya.

Sementara Dean tiba-tiba merasa gemetar seluruh tubuh dan hatinya. Ia menyesal. Menyesal atas apa yang baru saja dilakukannya. Dan memaki dirinya sendiri. Bagaimana mungkin keluar kata-kata seperti itu dari mulutnya, dalam intonasi yang begitu keras, terhadap gadis yang begitu dipuja dan dicintainya. Tapi sesal tinggallah sesal. Dean sudah ikhlas menerima apapun konsekuensinya, termasuk jika Ginny membalasnya dengan kemarahan dan kenyataan terpahit, memutuskannya.

Masih dalam gemetar, Dean memberanikan diri untukmenatap langsung ke arah Ginny yang masih terdiam kaku.

Terdengar kemudian Ginny menarik nafas panjang, lalu membalas tatapan Dean. Namun kali ini ekspresi wajahnya telah melembut, sepasang mata coklatnya yang indah bersinar lebih teduh dari sebelumnya.

“Jadi… begitukah kau memandangku Dean? Setelah aku rela bertengkar dengan kakakku hanya untuk tetap mempertahankan hubungan kita…… Bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti itu?” Ginny menatap Dean lurus-lurus. Mata coklatnya tetap teduh, tidak ada bara kemarahan dan tidak nampak ada air mata yang menggenang di sana.

Dean tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa begitu bersalah tiba-tiba. Hatinya bergetar lebih hebat ditatap Ginny demikian.

“Baiklah, jika kau tak tahu harus bagaimana… kupikir memang hubungan kita ini akan lebih baik berakhir sampai di sini. Terima kasih untuk semuanya Dean, dan aku minta maaf untuk segala salah yang pernah kulakukan selama kita jalan bersama. Selamat tinggal… ,” ucap Ginny dengan suara tertekan. Ditatapnya Dean yang tampak terpana bisu, dan kemudian ia pun berbalik lalu melangkah cepat meninggalkan cowok itu.

Dean termenung kaku dalam diam,  tak kuasa bersuara apalagi untuk berteriak memanggil Ginny kembali. Dia masih mencoba mencerna apa saja yang baru didengarnya dari Ginny. Pelan, hatinya melembut dan ia rela jika akhirnya harus putus dari Ginny. Karena, selain merasa bangga bisa memacari gadis itu, di sisi lain ia juga kurang percaya diri. Ia sering merasa Ginny jauh lebih baik dalam segala hal daripadanya. Ginny tidak hanya cantik, tetapi ia memiliki kehebatan sihir yang bahkan mampu memukau seorang Profesor Shlugorn yang dengan respek mengundangnya untuk menjadi anggota klub Shlug. Tidak hanya itu, ia juga begitu berbakat di Quidditch, bahkan bisa bermain dalam dua posisi sama baiknya. Sementara dia,…. Dia bukan apa-apa dibandingkan dengan gadis itu.


Dean sadar, sesadar-sadarnya. Ia sungguh rela jika hari ini adalah hari terakhir baginya menjadi kekasih Ginny Weasley. Walaupun, hatinya seperti hancur berkeping-keping. Karena ia sangat menyukai gadis itu. Namun, ia toh seorang laki-laki… pantang untuk menangis.

Sementara itu….


Ginny yang merasa sangat kecewa dan sedih, meneruskan langkahnya tanpa arah. Dibiarkannya kakinya terus melangkah menyusuri lorong-lorong kastil. Pandangannya lurus kedepan, tapi tampak kosong. Hingga di sebuah tikungan, karena kurang perhatian ia menubruk dengan keras seseorang sampai orang yang ditubruknya itu terjatuh.


“Oh! Maaf aku…., “ permintaan maaf Ginny tercekat di tenggorokan begitu tahu siapa yang baru saja ditubruknya itu.


“Ginny?” orang yang ditubruk Ginny itupun tampak tak percaya akan siapa yang telah menabraknya.

“Harry? Bukankah kau sedang bersama Ron? Dimana kakakku itu sekarang?”
Tanya Ginny setelah bisa mengendalikan kekagetannya.

Harry mengalihkan tatapan matanya dari mata Ginny ke ujung rambutnya. Entah mengapa, belakangan ini ia selalu merasa aneh jika bertemu mata langsung dengan adik sahabatnya itu.

“Harry, kau baik-baik saja bukan? Apa yang terjadi?” Ginny menatap heran karena Harry tampak aneh.

Belum sampai Harry menjawab, tiba-tiba keduanya  dikejutkan oleh sebuah suara keras. Sontak, keduanyapun menoleh ke asal suara itu. Dan alangkah terkejutnya mereka ……..




Hehehehe…. Maaf banget jika kaku bin aneh…. Maklum kering ide tapi maksa ngeroyok…
Moga yang lanjut ga susah ya…. Silahkan….
(OOT : aku suka Ginny… tapi ga pernah suka untuk mengingat dia pernah jalan ama Dean…
Denger lagu ini : SAVE GINNY WEASLEY FROM DEAN THOMAS di blog iBonnie : http://www.bonniewrightonline.com/   jadi beginilah hasilnya….*kabur sebelum dikemplang*)
Logged

ORGULLOSO SER
Gracias Mimbs
No War.. PEACE ..Save Palestina
The Watcher
Slytherin
HPI
**

Karma: +207/-66
Posts: 1253


Don't be joking! Life is not centered on you. Ha!


« Reply #18 on: September 07, 2008, 02:38:35 AM »

hohahahahah...... aku lanjutin, ya!! Cheesy

OC: Scorpina Lestrange


Sumber suara itu kedengarannya dari tikungan di koridor.

"Siapa, sih, yang berteriak-teriak begitu?" tanya Ginny.

"Entahlah. Dan suaranya agak aneh. Kedengarannya bukan suara anak-anak ataupun remaja," kata Harry.

"Bagaimana kalau kita selidiki?" usul Ginny.

"Yah, bukan ide buruk. Hanya saja firasatku agak aneh. Tapi seharusnya Kastil ini aman, kan?" kata Harry suram.

"Oh, ayolah, Harry! Tahun lalu kan kita sudah menghadapi bahaya yang lebih besar di Departemen Misteri!"

Harry dibuat tercengang oleh kata-kata itu. Sungguh, Ginny memang gadis yang luar biasa. Dan ini membuat Harry semakin yakin bahwa dia harus meminta pendapat Ron agar Ron tidak keberatan jika Harry memacarinya.

"Harry? Kau masih bersamaku?" tanya Ginny sambil menjentikkan jarinya di muka Harry.

"Er...yeah! Kau benar! Ayo kita selidiki!" kata Harry.

Maka mereka berjalan pelan-pelan di koridor. Saat sampai di tikungan, mereka berjingakt agar tak ketahuan oleh sumber suara itu. Mereka mengintip di tikungan.

"Lestrange?" bisik Harry & Ginny bersamaan.

Mereka melihat Scorpina Lestrange sedang berbicara entah dengan siapa di balik patung gargoyle besar. Yang jelas si lawan bicaranya tak terlihat, hanya suaranya saja yang terdengar: suara wanita dewasa yang rasanya tak asing lagi bagi Harry.

"......Kau tak bisa membiarkan dia menjadi lemah begitu, Ina! Bikin malu nama keluarga kita & Slytherin! Kau harus lakukan sesuatu!" kata suara itu.

"Aku tahu! Tapi dia tak mau memberitahuku kenapa!" kata Scorpina gusar.

"Cih! Dia memang banyak mewarisi sifat-sifat ayah darah-lumpurnya!"

"Apa yang harus kulakukan, kalau begitu? Aku tak mau dia lemah begitu. Selama ini aku & Draco yang harus selalu melindunginya dari cercaan anak-anak Gryffindor, Hufflepuff, & Ravenclaw! Aku kan malu sebagai keluarganya!"

"Cobalah Kutukan Imperius. Dan buat dia mengaku dengan itu," kata suara wanita itu.

"Kutukan Imperius? Aku belum bisa melakukannya!" kata Scorpina.

"Oh, baiklah," kata wanita itu gusar. "Pakai cara yang lebih mudah, kalau begitu. Gunakan Veritaserum dan buat agar dia sampai meminumnya. Kalau kau tak bisa membuatnya, curi stok Veritaserum Snape atau Slughiehorn. Mengerti?"

"Itu juga tidak mudah. Profesor Snape belakangan ini sering mengunci gudang pribadinya dan jarang berada di sana. Dan Profesor Slughorn, dia terlalu pintar dan dia tidak sembarangan menyimpan ramuan sehebat itu. Lagipula dia tak menyukai anak Pelahap Maut. Kalau aku sampai ketahuan mencuri....."

"Jangan banyak alasan! Baiklah, kalau begitu, minta Draco mengajarimu bagaimana cara mengutuk orang dengan Imperius. Seharusnya dia cukup pintar memakainya."

"Draco? Um...Baiklah. Aku akan coba bicara padanya nanti," kata Scorpina bimbang.

"Dan bagaimana keadaanmu selama ini di sekolah, Sayang?" kata wanita itu, mendadak suara kasarnya menjadi lembut.

Sayang? batin Harry bingung.

"Tak begitu baik. Sejak kau lolos dari penjara dan orang-orang Kementerian menghadiahkan 1000 Galleon untuk kepalamu, banyak orang yang tak menyukaiku dan Madeline di sini," kata Scorpina suram.

"Ha! Jangan hiraukan idiot-idiot itu, Nak! Yang penting kau bisa jadi penyihir hebat seperti kami & Pangeran Kegelapan!" kata wanita itu.

"Aku mengerti, Ibu," kata Scorpina. "Dan nantinya, aku akan mengikuti jejak Draco!"

"That's the spirit, my girl!" kata wanita itu.

Jantung Harry & Ginny berdegup kencang. Apalagi mendengar beberapa kata di bagian akhir percakapan tadi.

Mungkinkah itu....Bellatrix?

***

Hahhahahah...sori, my brothers and sisters! Gw gak tahan untuk segera menghidupkan boneka itu! Semoga gak bingung ngelanjutinnya, ya! Grin Grin
« Last Edit: September 07, 2008, 02:52:55 AM by Verdo Beoulve The 'Good' Guy » Logged


Siggy by: Laff
p i n k - pinkyglaze
Hufflepuff
HPI
**

Karma: +32/-2
Posts: 188


it represents me much...


« Reply #19 on: September 08, 2008, 09:50:14 PM »

Pink Lanjut kawan.....
OC: Lestrange besodara.... punya temen-temen kita tersayang....


Harry merogoh kantong dibalik jubahnya, Ginny memperhatikan dengan detak jantung yang ikut berpacu cepat. Mereka masih tersembunyi, sama seperti sosok yang tak terlihat oleh mereka di balik patung gargoyle.

“Lumos” seru Harry, mengarahkan ujung tongkat sihirnya yang bercahaya redup ke atas perkamen ditangannya. “Aku bersumpah dengan sepenuh hati bahwa aku orang tak berguna” kata Harry dengan berbisik, sampai-sampai Ginny harus menjulurkan kepalanya untuk mendengar. Peta perampok mulai menampakkan rahasianya. Semua lorong-lorong dan koridor-koridor hogwarts, kelas-kelas kosong serta Aula Besar begitu juga dengan setiap ruang rekreasi dan kamar tidur anak-anak. Harry berhenti menitikan jarinya pada lorong tempat ia dan Ginny sekarang berdiri berdempetan..

Di ujung lain lorong label kecil bernama Scorpina Lestrange sedang berhadapan dengan— batin Harry serasa berehenti bekerja, pikirannya serasa membeku dalam keterkejutan.

“Astaga— Ginny membekap mulutnya sendiri yang hampir mengeluarkan teriakan. Pegangan Harry pada tongkatnya semakin menegang hingga membuat torehan kalimat aku tak boleh berbohong berwana putih terpetakan samar.

“Bellatrix Lestrange” desis Harry geram. Ingatannya kembali pada walinya sirius yang jatuh menerjang selubung musim panas lalu setelah ditumbangkan oleh Bellatrix. Menjejalkan asal peta dalam sakunya. Harry beranjak dari tempatnya berdiri dan langsung menerjang...

“CRUCIO” teriak Harry ke arah belakang patung gargoyle yang disambut dengan ledakan keras salah satu coRong obor tiba-tiba meledak setelah diterjang kutukan tak termaafkan.

Sebelum wajah di tengah apinya lenyap, Bellatrix jelas-jelas terkejut, namun ia telah memperhitungkan hal semacam ini saat mencoba masuk Hogwarts, walaupun hanya menjulurkan kepalanya alih-alih lewat salah satu lubang perapian di ruang rekreasi Slytherin, kepala Bellatrix malah muncul dari dalam coRong obor di dinding koridor yang kosong.
*Takol buat Verdo yang udah ngasih scene sulit gini... Oalah kok bisa-bisanya death eater nomor 1 lolos masuk Hogwarts, saat Dumbly masi idup lagi, Pink juga heran.....*

Keterkejutan yang sama tergambar jelas pada wajah Scorpina Lestrange, melihat kutukan tak termaafkan melayang tepat diatas kepalanya, dan sepersekian detik kemudian kepingan obor meledak didepan wajahnya.

“MUM—
Teriak Scorpina ditengah gemuruh ledakan, refleks Ginny langsung menarik Scorpina merunduk, menghindari ledakan serta api yang tersisa. Harry pun demikian berusaha berlindung dari ledakan hasil usahanya sendiri.

“POTTER, berani-beraninya kau” jerit Scorpina, setelah melepaskan diri dengan paksa dari Ginny.

“Harry, apa yang kau lakukan? Dan kau—Ginny menoleh pada Scorpina— jangan berteriak pada Harry” sambar Ginny tak kalah sengitnya dari Scorpina, sehingga membuat Scorpina mendelik ke arahnya. Namun gadis Weasley tak mau kalah seakan menabuh genderang perang.

“KAU, Weasel darah penghianat, berani-beraninya memerintah di depanku,” sekarang nampaknya Scorpina akan meledak kepada Ginny, sambil mengacungkan tongkatnya ke arah Ginny.

“Hentikan Lestrange, atau ku kutuk kau seperti sepupumu kemarin—

*timingnya kapan ya??
Phiuh jadi lupa, kemaren, apa tadi sore, atau siang ya... apakah adegan2 ini masih dalam 1 hari?Huh Tolong aku T T*—


Harry melangkah di antara Ginny dan Scorpina masih memegang erat tongkatnya, berusaha melindungi Ginny, namun Ginny malah menepisnya mendorong Harry minggir, bermaksud menghadapinya sendiri.

“Biar aku yang selesaikan Harry, lepaskan, kubilang, ibu dan anak sama-sama tak berkemanusiaan. Lepaskan tanganku Harry...” Ginny
masih berusaha melepaskan diri dari Harry yang menahannya menyerang Scorpina.

“Lain Kali jaga kelakuanmu Lestrange, Ibumu tak akan ada tuk menolongmu, dan katakan pada ibumu, aku akan senang sekali bertemu lagi dengannya, ia masih berhutang satu nyawa...” kata Harry kemudian sambil menarik pergi Ginny yang masih berusaha melepaskan diri, diselingi dengan eongan Mrs.Norris di kejauhan yang mencium adanya keributan. Scorpina pun berbelok di tikungan lorong yang lain,

“Sial—umpatnya.

***

“Harry, Harry, oi HARRY POTTER kau dengar aku” teriak Hermione esok paginya saat Harry akan melangkah lubang lukisan untuk turun sarapan di Aula Besar. Menunggu Hermione di sana tidak membuat nyonya gemuk senang, ia bahkan berteriak-teriak marah kepada Harry yang membiarkannya menganga terbuka dalam waktu cukup lama.

“Oh jangan perdulikan dia Harry,” Hermione mengerling ke arah lukisan yang mengayun menutup dan kemudian berbicara lagi. “Tadi pagi Ginny cerita padaku, dia hampir putus dari Dean,”

“Oh yeah??” perut Harry terlonjak mendengar ini, kesenangan luar biasa melanda, namun sesaat palu besar mengahntam kepalanya.

“Hampir?? Apa maksudnya??”

“Yeah kau tahu kan? Hampir, mereka baikan lagi. Semalam suntuk Dean menunggui Ginny dibawah tangga kamar anak perempuan dan Ginny kembali padanya, cuma salah paham.”
Anjlok sudah rasa bahagia Harry. Raungan kemarahan yang kini menjalarinya setelah kesengan sesaat tadi...

“Tapi bukan itu yang ingin kutanyakan.” Lanjut Hermione, Harry tetap membisu, hanya tampangnya yang berubah menjadi kaku. “Dengar, benarkah yang Ginny katakan, bahwa-bahwa, Bellatrix datang dari dalam obor?” tanya Hermione yang menyamai bisikan.

“Ya” Harry menjawab singkat. Mereka berdua terus berjalan menelusuri koridor dan tangga.

“Dan kau melancarkan kutukan Cruciatus kepadanya? Di depan Lestrange Slytherin itu?” Hermione kembali bertanya saat mereka tiba di tangga pualam.

“Ya,” Harry menjawab sama singkatnya seperti tadi.

“Oh, Harry dengar!” Hermione menghentikan langkah Harry. Kini ia berhenti satu anak tangga di bawah Harry memblokir arus menuju ke bawah. “Kau tak boleh melakukannya Harry, kau tahu itu. Itu kutukan terlarang, tak termaafkan. Apalagi di hadapan seorang Slytherin, untung kau tidak dilaporkan kepada dewan guru Harry” kata Hermione prihatin, seperti biasanya.

“Hermione hentikan, Lestrange tidak akan mengatakan apapun, mengingat ibunya Bellatrix Lestrange orang nomor satu yang dicari oleh kementrian mengunjunginya,”

“Sssttt....... Harry!!”

“Apa??” teriak Harry kesal. Membuant beberapa anak kelas satu yang lewat terlonjak kaget.

“Tidak ada, sudahlah....” Hermione terus berjalan dan tak bicara sepatah katapun lagi, hingga mencapai pintu Aula Besar ia berhenti membuat Harry yang berjalan dibelakangnya terkejut dan ikut berhenti.

“Apa sekarang?” tanya Harry jengkel.

“Bisakah kau berhenti berteriak-teriak padaku Harry? Bukan gara-gara aku Ginny dan Dean baikan” tanya Hermione dengan nada bosan.

“Aku tidak-tidak berpikir begitu Hermione— Lupakan, kalau begitu apa?” Harry kembali berteriak namun agaknya sedikit melunak.

“Be-be-benarkah yang kudengar, ke-ke-ke-kemarin kau, Neville, Ron, Blaise, dan-dan, Dra—maksudku Malfoy, berkelahi?” tanya Hermione gugup.

“Ya, Malfoy menghinamu, Ron mengamuk tapi Zabini yang menyerangnya karena ia menyerang Parkinson kemarin dulu. Lalu Malfoy menghinamu lagi, dan kemudian aku, Neville dan Zabini melancarkan kutukan tapi Weasley yang pemberani melancarkan mantra pelindung, Malfoy selamat, tapi kuharap mantra Zabini melukainya,  beruntung sekali dia.” Harry menyelesaikan kisahnya, Hermione terdiam cukup lama hingga Harry tersadar dibuatnya. “Hermione, kau baik-baik saja?” tanya Harry kemudian.

“Ya-ya, Harry a-a-aku baik-baik saja, aku hanya mau-mau ke toilet,” Hermione menghapus air mata yang sudah terlanjur terbentuk di pelupuk matanya dengan punggung tangannya yang bebas karena tangannya yang lain memeluk segebug besar perkamen dan Daily Prophet usang.

“Hermione jangan lama-lama, setelah ini kita-kita ada pelajarannya Snape.” kata Harry kemudian sebelum Hermione berlalu.

***

“Draco, ajari aku,” Scorpina merengek dengan memelas, menghentikan Draco disela-sela pergantian pelajaran di koridor.

“Ina, sudah kukatakan padamu bahwa kau belum boleh menggunakannya” kata Draco pelan. Matanya semakin cekung dan berkantung. Wajahnya semakin pucat tanpa terkena sinar matahari. Tampangnya sungguh mengenaskan.

“Tapi, Mum bilang kau boleh mengajariku,”

“Apa kau bilang? Tante Bella bilang begitu?” Malfoy terperanjat atas perkataan sepupunya barusan. Scorpina mengangguk bersemangat, masih memegang jubah depan Draco.

“Baiklah kalau begitu, nanti malam— oh tidak maafkan aku, besok malam ku tunggu di ruang rekreasi Ina,” Draco cepat-cepat mengubah janji pada Scorpina, mengingat lemari-sial usangnya belum juga mau berfungsi, padahal sudah berbulan-bulan ia menghabiskan waktu di dalam sana, mencoba memperbaikinya, tapi nampaknya usahanya akan sia-sia belaka, dan ia tahu apa taruhannya, Hidupnya....

“Oh iya Ina, jangan mudah percaya atas apa yang kau dengar. Kau percaya padaku bukan?” tanya Draco, tetapi ia sendiri agaknya sangsi dengan pertanyaannya sendiri. Apa ia mempercayai dirinya sendiri, ia tidak mengerti.

“Tentu Draco, kau kan sepupuku. Sampai jumpa besok malam kalau begitu.” Kata Scorpina berlari-lari kecil sambil masih membawa-bawa boneka perempuan bergaun hitamnya itu, di atas tas sekolahnya.

“Dan Ina, dengar,” Draco setengah berteriak. Scorpina kemudian berhenti, Draco mendekatinya tampak waspada, “Hati-hati terhadap apa yang kau minum, siapapun yang memberikannya padaku, meskipun itu aku, katakan itu juga pada Madie, ingat.”

“Baiklah sepupuku, akan kukatakan pada Madie,” Scorpina agaknya sedikit bingung nmaun ia langsung berlalu meninggalkan Draco.....
dan juga katakan padanya, pada darah lumpur itu atas apa yang dia minum.
Draco kembali terbayang atas berita kecelakaan yang menimpa Katie Bell beberapa waktu lalu. Salahmu Draco, salahmu

***

Februari berganti Maret tanpa perubahan cuaca, kecuali selain hujan sekarang juga berangin.... [HBP page 490, Indonesian version...]

Hermione berlari terburu-buru, menaiki tangga dua-dua yang mengarah ke Rumah sakit, air mata nampak menggenang di sudut matanya...

Hermione, syukurlah kau berada di sini. Tadi kudengar Ron Weasley dibawa ke Rumah Sakit oleh Harry dan Horrace, sebaiknya kau bergegas ke sana, aku sedang mengirimkan surat kepada Molly, nampaknya ia menelan sesuatu yang beracun, masih belum terdeteksi apa itu, beruntung Potter meminumkannya bezoar, masih dapat ditolong, semoga burung hantunya cepat sampai.

Kata-kata McGonnagal masih terngiang di telinganya, baru beberapa saat lalu saat ia hendak menemui Proffesor Vector soal essai Arithmanccy-nya, ia sudah diterjang oleh Proffesor McGonnagal dengan beerita mengejutkan, sampai-sampai tak satupun kata keluar dari mulutnya. Hingga di ujung koridor lantai lima, air matanya mengalir deras. Namun langkahnya terhenti. Draco Malfoy sedang berjalan dari arah yang berlawanan, kemudian berhenti tercengang menatapnya sedang banjir air mata....

“Granger.......


Sorry ya panjang.... abis udah numpuk ni ide....
muup>>> -Pink-
Silahkan lanjut....
Logged

::
-Pink, Outside?? Absolutely...
but Inside??
I've never sure-
::
The Watcher
Slytherin
HPI
**

Karma: +207/-66
Posts: 1253


Don't be joking! Life is not centered on you. Ha!


« Reply #20 on: September 09, 2008, 05:47:41 AM »

Lanjuutt....

OC: Madeline Lestrange-nya Lia


"Kenapa, kau, Granger?" tanya Draco dingin. "Siapa yang kautangisi? Apa si Weasel, eh?"

Hermione menatap Draco dengan pandangan murka. Apalagi karena Ron yang hampir mati masih saja dihina olehnya.

"Aku kenapa sama sekali bukan urusanmu, Malfoy!" jawab Hermione ketus.

Draco menaikkan alisnya. "Oh, kau salah paham, Granger! Memang apapun yang hendak kulakukan sama sekali bukan urusanku. Hanya saja aku tertarik jika itu mengenai Potty atau Weasel...."

“JANGAN MENGHINA MEREKA!!!” teriak Hermione.

“Wah...wah....sungguh mengharukan,” kata Draco dengan senyum mengejek. “Dari apa yang kudengar dari gosip-gosip, Weasel  membuatmu kesal dengan suka adu bibir bersama si jalang Brownie itu, eh? Apa Brownie punya Ciuman Maut, eh? Dan Weasel mati setelah dicium olehnya....?

Draco tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Hermione sudah mendaratkan satu tamparan di pipi kanan Draco dan membuat cowok pirang itu kaget sekaligus kesal bukan kepalang.

“BAIK!! AKAN KUBERITAHU KENAPA!! RON HAMPIR MATI GARA-GARA MINUM MEAD BERACUN, TAHU!! SENANG?” teriak Hermione di luar kendali. Dan Hermione berlari meninggalkan Draco dengan berlinang air mata.

Draco memegang pipi yang habis ditampar tadi. Draco tak tahu harus kesal atau cemburu. Kesal karena Hermione sudah menamparnya? Atau cemburu karena Hermione menangis untuk si Weasel itu? Draco tak tahu pasti.

Draco melamun entah berapa lama. Memikirkan perasaan aneh di hatinya. Tak tahu pasti apa yang benar-benar dia rasakan saat ini. Dia sama sekali tak mengharapkan kejadian ini. Padahal tadinya dia pikir Profesor Slughorn akan meminum Mead beracun itu bersama Profesor Dumbledore sehingga Draco bisa menyelesaikan tugas yang dibebankan Pangeran Kegelapan kepadanya. Namun kenapa hasilnya malah menjadi bumerang untuknya? Dia bukan hanya gagal meracuni Kepala Sekolahnya, tetapi juga mendapati Hermione –yang selama ini Draco memendam perasaan untuknya ---menangis untuk si Weasel itu! Draco tak tahu lagi harus bagaimana? Dia merasa sudah putus harapan. Belum lagi Scorpina memaksanya untuk mengajarkan Kutukan Imperius kepadanya. Rasanya kepala Draco mau pecah! Dia rasanya ingin mati saja kalau saja dia tak ingat akan ibunya yang terancam akan dibunuh Pangeran Kegelapan kalau tugasnya gagal.
“Draco?” terdengar suara yang membuyarkan lamunan Draco. Draco mendongak dan melihat sepupunya, Madeline, berdiri di depannya.

“Oh, Madie. Kenapa?” tanya Draco. Dan dia heran melihat boneka perempuan bergaun hitam yang dipegang Madeline. “Bukannya itu boneka adikmu, Madie?”

“Ah, yeah. Memang. Tadi saat bersamaku di toilet, Ina memberitahuku dia kehilangan bonekanya. Lalu aku mencarinya & menemukannya di koridor lantai tujuh dekat lukisan Barnabas yang sedang mengajari Troll bermain balet.”

Draco tak begitu mendengarkan. Dia terkejut setelah mendengar lokasi yang dikatakan oleh Madeline. Bukankah itu tepat di dekat pintu masuk Kamar Kebutuhan?

“Dan tak mungkin boneka ini bisa berjalan sendiri, kan?” lanjut Madeline terdengar lagi di telinga Draco.

“Er....yeah,” jawab Draco asal saja. Dan mau tak mau dia teringat Scorpina yang hari ini minta diajari Kutukan Imperius.

“Apa kau lihat adikku, Draco?” tanya Madeline. “Aku bermaksud mengembalikan boneka ini kepadanya, tapi aku tak menemukannya di manapun.”

 “Er....tidak,” jawab Draco. “Maaf, Madie. Aku harus buru-buru, aku ada keperluan...”

“Tunggu, Draco,” kata Madeline tajam. “Kau tak apa-apa?”

“Aku baik-baik saja, terima kasih!” kata Draco tak kalah tajam.

“Tidak! Kau jelas tidak baik-baik saja! Lihat wajahmu sendiri di cermin! Kau pucat sekali!” kata Madeline khawatir.

“Sudah kubilang aku tidak apa-apa!” kata Draco, tak tahu harus kesal atau berterima kasih. Kesal karena sepupunya ini begitu ingin ikut campur, atau berterima kasih atas kepeduliannya. “Aku harus pergi dulu,” dalih Draco. Draco tak ingin Madeline tahu bahwa dia ingin mengajari Kutukan terlarang kepada Scorpina. Madeline jelas takkan rela adiknya jadi penyihir Hitam. Tutup pikiran...tutup pikiran....

Hening sejenak. Dan Draco tahu bahwa Madeline sedang berusaha me-Legilimensnya.

***


hehehe...sori, nih! Jadinya aku lagi yang ngelanjutin. Soalnya aku lsg dpt ide setelah baca punyanya Pink! hehehe...
Logged


Siggy by: Laff
Sin JÖran
HPI
**

Karma: +5/-1
Posts: 53


« Reply #21 on: September 09, 2008, 01:06:16 PM »

OC = Madeline Lestrange milik Dahlia

Imperius...

..orpina..

...kre....


Dan akhirnya Draco berhasil menutup pikirannya di saat-saat terakhir. Menanggapi hal itu, Madeline memicingkan matanya curiga kepada Draco yang berwajah sepucat tembok sekarang. Meskipun legilimensinya berhasil ditaklukkan, namun Madeline berhasil mendapatkan secercah informasi meskipun hanya sedikit.

"Draco, apa itu maksudnya? Imperius? Dan apakah ada hubungannya dengan Ina?" selidik Madeline.

Draco segera membuang mukanya dan menjaga agar matanya tidak bertemu dengan mata  Madeline, sebab kontak mata adalah penting dalam legilimensi.

"Tidak, Madie. Aku hanya penasaran dengan mantra Imperius, itu saja."

Draco kemudian melihat arloji peraknya dan pura-pura tersentak kaget.

"Sudah jam segini! Maafkan aku Madie, aku harus ke err.. kau tahu kan? Ke ruang-kau-tahu-apa..." Draco mengecilkan volume suaranya hingga hanya dapat didengar oleh Madeline saja.

"Jadi, sampai nanti.."

"Tunggu, Draco!"

Draco tidak menghiraukan kalimat perintah terakhir dari Madeline yang masih dipenuhi oleh rasa penasaran. Dia yakin bahwa ini ada hubungannya dengan Scorpina sebab secara tersamar, dia dapat melihat wajah adiknya itu di dalam pikiran Draco. Madeline masih sibuk dengan pikirannya sendiri sambil berjalan ke ruang rekreasi Slytherin bersama dengan boneka bergaun hitam milik Scorpina. Sejenak terdengar suara terkekeh pelan dari dalam boneka itu, namun sayangnya Madeline tidak menyadarinya. Sementara itu Draco menghilang ke dalam salah satu ruangan di lantai 7 ditemani dengan Goyle yang sudah menunggunya sedari tadi.

*****

"Benarkah itu? Benarkah Ronald berada di rumah sakit karena diracuni? Aku dengar dari McLaggen. Oh, benarkah, Hermione?"

Gejolak emosi dengan susah payah ditahan oleh Hermione yang sedang berada di hadapan Lavender. Hermione tidak bisa berbicara karena suaranya tentu akan bergetar hebat, namun pada akhirnya dia memberikan anggukan singkat kepada Lavender sebagai ganti jawaban iya.

Di sisi lain, Lavender memberikan reaksi berlebihan ketika mendapati jawaban dari Hermione. Jeritan-jeritan yang didramatisir keluar dari mulutnya yang segera ditenangkan oleh Parvati yang berada tidak jauh dari sana. Air mata telah menghiasi mata milik Lavender yang mulai mengoceh ucapan-ucapan meracau tidak jelas, seperti "My poor Won-Won... Come to mama..."

Hermione hanya bisa mendengus tanpa suara dan berpikir akan lebih baik jika dia keluar dari ruang rekreasi sekarang juga. Reaksi histeris Lavender dan suara decak tawa penuh kemenangan McLaggen telah menganggunya sedemikian rupa. Dengan berlari-lari kecil, Hermione bergerak menuju ke aula depan yang sudah sepi sekarang. Air matanya sudah tidak dapat terbendung lagi. Sambil terengah-engah, Hermione pun larut dalam kesedihan dan kebingungannya dalam menentukan pilihan hatinya. Napasnya terputus-putus seiring dengan isak tangis yang terdengar memilukan. Suara Ron yang memanggilnya secara perlahan sebelum pingsan tadi membuatnya semakin tersiksa saja, sementara itu di sisi lain hatinya terbayang sosok tampan seorang anak lelaki berambut pirang dan berwajah tirus.

"Miss Granger?"

Hermione terlonjak kaget dan langsung mendongak kepada sosok tinggi yang menyapanya. Air mata masih menggenangi matanya sehingga pandangannya tidak begitu jelas. Namun kilau mata berwarna biru cerah itu secara otomatis memberitahu Hermione siapa yang sedang dihadapinya.

"Professor Dumbledore?", sadar Hermione dengan suaranya yang tercekat.

"Ya, Miss Granger. Apa yang terjadi?"

Sungguh ajaib. Suara Dumbledore yang dipenuhi wibawa dan kebijaksanaan telah mengangkat satu-per-satu beban yang terdapat di hati Hermione secara perlahan-lahan. Efeknya bagaikan suara burung phoenix saja. Hermione cepat-cepat menyeka matanya dengan pinggiran jubahnya. Dirinya sudah cukup tenang sekarang dan siap untuk bercerita.

"Professor, baguslah Anda kembali. Ada..ada kejadian penting..."

Dengan agak terbata-bata Hermione menceritakan apa-apa yang telah terjadi. Tentang Ron yang keracunan (Hermione agak tercekik ketika berusaha menyebutkan nama Ron), tentang Harry yang menyelamatkannya dengan menggunakan Bezoar, dan tentang asal muasal racun itu yang adalah minuman yang disajikan oleh Slughorn.

Dumbledore hanya diam sambil mendengarkan. Tidak ada reaksi terkejut atau apapun yang tampak dari ekspresi wajahnya. Seakan-akan dia sudah tahu lama kronologis insiden ini.

"Tetapi, Hermione.." ujar Dumbledore setelah Hermione menyelesaikan ceritanya.

Hermione tercengang sebab ini adalah kali pertamanya Dumbledore memanggilnya dengan menggunakan nama depannya.

"Kurasa kau menangis dengan hebat bukan karena hal itu."

"A..aku... Apa maksud professor?", tanya Hermione dengan terbata-bata. Wajahnya sempat memerah karena mengira bahwa Dumbledore telah berhasil menebak isi hatinya.

"Aku menangis karena.. mengkhawatirkan keadaan TEMAN-ku, Ronald Weasley." jelas Hermione dengan sedikit penekanan pada kata 'teman'.

Dumbledore kembali tersenyum mendengarkan pernyataan bohong Hermione. Hal tersebut jelas membuat Hermione kebingungan dan salah tingkah. Memang kelakuan kepala sekolahnya ini selalu di luar dugaan, tetapi di lain sisi sangat mengagumkan.

"Tidak, kurasa lebih dalam daripada itu."

"Sayangnya aku tidak bisa berkata-kata lebih jauh. Tetapi kuingatkan bahwa kau bebas membuat pilihan. Segalanya baik atau buruknya berada di tanganmu."

Kata-kata yang diajukan Dumbledore terdengar samar dan tidak begitu jelas bagi orang lain, namun tidak untuk Hermione. Bahkan sedikit kecurigaan timbul di benaknya bahwa Dumbledore memakai legilimensi untuk mengetahui pemikirannya. Kepala sekolahnya itu sangat hebat bukan? Mungkin pikiran seorang anak berumur 16 tahun dapat dengan mudah dimasukinya tanpa dia sadari.

"Yang pasti, kau jangan membuat dirimu susah dengan berpikir yang tidak-tidak. Percayalah bahwa masa ketika kau puas akan pilihanmu akan segera datang. Aku pribadi, percaya itu."

Hermione tidak bermaksud menyembunyikan lagi perasaannya dan hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya tanda bahwa otak pintarnya itu mengerti segala maksud yang dikemukakan oleh Dumbledore. Setitik cahaya telah menerangi hatinya yang sedari beberapa waktu yang lalu kelam. Dia memang salah karena memandang segalanya dari sisi negatif. Sungguh akan lebih ringan jikalau dia memandang dari sisi sebaliknya. Sebuah senyum akhirnya tersungging di bibirnya yang berwarna merah itu.

"Sungguh, waktu berjalan dengan cepat sekali. Sekarang aku hendak menanyai Horace secara langsung. Terima kasih atas segala informasimu, Hermione."

"Tidak, professor. Justru aku yang harus berterima kasih kepada Anda.", sanggah Hermione cepat-cepat.

"Untuk apa?", tanya Dumbledore sambil mengedipkan matanya dan beranjak dari sana.

Hermione tidak menjawabnya dan hanya menyaksikan kepala sekolahnya yang luar biasa hebat itu menghilang di balik pintu aula dalam senyuman. Sudah saatnya dia meninggalkan aula depan yang sepi ini dan kembali bergabung dengan Harry dan keluarga Weasley yang masih berada di Hogwarts.

*****

"Peevise cinta keributan! Peevise cinta rambut Filch yang bau! Wiiiiiii...."

Peeves meluncur dengan gerakan akrobatik sambil bernyanyi parau diikuti oleh Filch yang terengah-engah mengejarnya.

"Awas kau Peeves! Kulaporkan kali ini! Kulaporkan kalau kau sudah membuat WC lantai 5 kebanjiran!" teriak Filch dengan depresi.

"Oh yeah? kalau begitu laporkan juga ini."

Peeves menyeringai jahil dan melemparkan gumpalan-gumpalan tanah ke arah Filch. Dengan susah payah, gumpalan-gumpalan tanah yang ternyata adalah pupuk kotoran naga itu berusaha dihindari Filch yang tentu sudah berkurang jauh daya refleks dan kelincahannya. Dan dengan satu lemparan final, Peeves berhasil mengenai 3 gumpalan pupuk kotoran naga itu ke arah wajah Filch. Hal itu menyebabkan sebuah keributan yang adalah perpaduan antara jerit penuh kejijikan milik Filch dan derai tawa kesenangan milik Peeves.

"Rambut Filch semakin bau! Filch bau naga! Filch bau naga!"

Peeves dengan cepat meluncur menuju tangga sambil berteriak-teriak kegirangan. Sementara itu Filch sedang berusaha membersihkan wajah dan rambutnya dari kotoran-kotoran naga itu sambil memaki-maki tidak jelas. Tiba-tiba saja matanya berkilat jahat karena melihat seorang murid Hogwarts berada di luar asramanya pada jam segini. Setidaknya murid Hogwarts yang tersesat itu bisa membuatnya senang alih-alih jengkel karena Peeves. Dihampirinya anak itu dan langsung menghardiknya dengan keras.

"Senang berada di luar tempat tidur? Detensi!" desisnya kejam.

Namun dia hanya bisa berkata-kata kejam sampai di situ, sebab yang ditegurnya adalah sosok tidak asing baginya.

"Kau?!?"

*****

as usual, gw mah side-plot ajah Cheesy
« Last Edit: September 09, 2008, 01:09:25 PM by S.I.N » Logged
The Watcher
Slytherin
HPI
**

Karma: +207/-66
Posts: 1253


Don't be joking! Life is not centered on you. Ha!


« Reply #22 on: September 09, 2008, 11:13:16 PM »

OC: Scorpina Lestrange

Scorpina Lestrange sedang berjalan di koridor lantai tujuh dengan tampang letih. Dia masih juga belum menemukan boneka miliknya yang hilang. Padahal ibunya sudah berpesan agar boneka itu selalu dijaga dengan baik. Apa kata ibunya nanti kalau dia tahu boneka itu sudah hilang? Dia akan dimarahi habis-habisan oleh ibunya!

Dan dia belum bertemu kakaknya selama seharian ini. Apa kakaknya sudah menemukan boneka itu untuknya? Entahlah. Semoga saja begitu. Tapi sekarang dia berjanji untuk menemui Draco yang akan melatih Kutukan Imperius kepadanya. Dan Draco di mana? Dia bilang hendak menemuinya di sini. Bagaimana kalau dia ketahuan Filch?

Kalau saja ada ruangan yang memungkinkan dirinya untuk bersembunyi dari Filch...

Dan baru saja dia berpikir begitu, tiba-tiba sebuah pintu muncul dari tembok begitu saja. Scorpina merasa heran, bukankah ini ruangan yang dipakai Laskar Dumbledore tahun lalu saat anak-anak Slytherin yang tergabung dalam Inquisitorial Squad memergoki mereka? Kenapa bisa muncul? Oh yeah! Tentu saja! Ruangan ini bisa dipakai untuk bersembunyi sementara waktu!

Scorpina masuk dan dia melihat ruangan ini terdapat banyak barang. Dan rasanya dia mendengar suara orang. Sepertinya juga ada suara semacam kayu. Tok..tok..tok... apa ada orang di sini? Scorpina melihat sekeliling. Dan matanya terhenti melihat sebuah boneka laki-laki duduk di atas lemari dan di sebelah dekat patung dada yang memakai tiara aneh. *wekekekek! Pada tau kan, itu tiara (atau diadem) apa?*

Boneka itu berkerudung hitam, sekilas seperti Dementor kalau saja wajah boneka itu tidak imut, tidak memiliki kaki, tidak berambut hitam, dan tidak memiliki mata coklat yang indah. Selain itu, kalau saja itu manusia, dia akan terlihat seperti pria yang luar biasa tampan. Scorpina ingin mengambilnya karena terlintas pikiran konyol dan kekanakan dalam kepalanya untuk memasangkan boneka itu dengan boneka perempuan bergaun hitam miliknya, tapi lemari itu terlalu tinggi. Dia mengeluarkan tongkat sihirnya dan berucap agak keras, “Wingardium Leviosa!” Boneka itu melayang, dan mendekati Scorpina perlahan-lahan.

“SIAPA DI SITU??!” terdengar teriakan dalam ruangan itu. Scorpina yang terkejut tak sengaja menjatuhkan boneka itu ke lantai. Dia buru-buru mengambil boneka itu, lalu melihat ke sekeliling untuk mencari pemilik teriakan tadi. Rasanya suara teriakan itu dia kenal.

Namun hal aneh terjadi lagi, tiba-tiba ruangan itu gelap. Dan ada tangan yang menarik dan menyeret lengannya, Scorpina ingin menjerit, tapi tangan yang lain menutupi mulutnya. Dan beberapa detik selanjutnya, dia sudah dilempar keluar dari Kamar Kebutuhan bersama bonekanya, dan pintunya menghilang begitu saja.

“Tidak! Jangan! Aku butuh tempat untuk bersembunyi! Aku butuh tempat untuk bersembunyi!” seru Scorpina putus asa. Filch bisa datang kapan saja!

Dan yak! Panjang umur! Baru saja dibicarakan, suara orangnya langsung terdengar, “Senang berada di luar tempat tidur? Detensi!” desis suara kejam Filch.

“Kau!? Lestrange!” desis Filch geram. Siapa pun, termasuk Filch, selalu memandang rendah anak-anak Pelahap Maut sejak berita kebangkitan Voldemort tersiar. “Mau apa kau, hah! Ritual Sihir Hitam, hah?”

“Tidak! Sungguh, Mr Filch! Saya tersesat, saya....”

“Dan apa itu di tanganmu?” gertak Filch sambil menunjuk boneka besar berkerudung hitam yang sekilas seperti boneka Dementor kalau saja boneka itu tidak berwajah imut dan tidak memiliki kaki.

“Cuma boneka biasa! Saya menemukannya tadi di..di....”

“Ah, ini jelas benda Sihir Hitam! Lihat saja, warnanya serba hitam begitu!” geram Filch yang jelas tidak mendengarkan kata-kata Scorpina barusan.

“TIDAK! BUKAN! Ini hanya boneka biasa! Dan ini bukan punya saya! Saya menemukannya di...di....”

“Di MANA?” gertak Filch.

“Di..di ....halaman depan! Di semak-semak...” ucap Scorpina terbata-bata. Dia nyaris menyebutkan Kamar Kebutuhan tadi.

“Oh ya?” kata Filch tak percaya.

“Benar!” dusta Scorpina sungguh-sungguh.

“Huh! Tapi masih harus kuperiksa apakah itu benda Sihir Hitam!” kata Filch keras kepala sambil mengeluarkan Sensor Rahasia dari dalam saku jubahnya yang kotor dan berbau pupuk kotoran naga.

“Sudah saya bilang ini hanya boneka biasa!”

Tapi Filch tak percaya, langsung dia tusukkan Sensor Rahasia-nya ke bagian mana saja di boneka itu.

“Ada apa ini, Mr Filch?” terdengar perempuan lain.

Scorpina memutar bola matanya dan melihat gadis yang dia curigai Draco memendam perasaan untuknya. Yak, si darah-lumpur Hermione Granger. Matanya agak merah seperti habis menangis.

“AHA! Murid keluar kamar lagi! Deten....” kata Filch asal.

“SAYA INI KETUA MURID, MR FILCH! DAN SAYA SEDANG GILIRAN PATROLI!” seru Hermione berang. Hatinya sedang kacau tanpa harus ditambah Filch si maniak-deteksi-pelanggaran.

“Oh, yeah,” gumam Filch malu, sekaligus kesal karena kehilangan satu korban. “Miss Granger, kau tak usah repot-repot. Saya baru saja akan mendetensi Lestrange. Biar saya saja yang tangani detensinya,” kata Filch, matanya berkilat jahat saat mengucapkan kata ‘detensi’.

“Sedang apa kau malam-malam begini, Lestrange?” tanya Hermione, matanya menyipit curiga.

Scorpina balas memandangnya tak kalah sengit. “Sama sekali bukan urusanmu, anak cengeng!” kata Scorpina licik. Dan dia melanjutkan dengan suara pelan yang tak bisa didengar Hermione ataupun Filch, “Darah-lumpur brengsek!”

“Potong 20 poin dari Slytherin karena menghina Ketua Murid!” kata Hermione geram. “Dan saya serahkan urusan detensinya pada Anda, Mr Filch!”

“Tak masalah, Miss Granger,” kata Filch senang bukan kepalang.

Hermione berlalu pergi, tapi, “Benda apa itu di tanganmu, Lestrange?”

“Ah, itu boneka curian, Miss Granger,” kata Filch makin senang karena alasan untuk menambah detensi semakin kuat.

“Aku tidak mncurinya! Aku menemukannya!” bantah Scorpina.

“Sudah kukatakan, Miss Granger, akan kutangani si Lestrange ini. Dan kupastikan boneka ini kumasukkan ke Lemari Barang Sitaan Yang Berbahaya milikku,” kata Filch licik.

“Sori, Mr Filch. Saya rasa tidak. Kalau Lestrange mencurinya dari anak lain, haruslah Ketua Murid yang menanganinya,” kata Hermione.

Filch tampak tak senang. Dan dia pergi dengan ekspresi luar biasa jengkel.

“Ikut aku ke Kantor Ketua Murid, Lestrange,” kata Hermione dingin.

Scorpina terpaksa mengikutinya dengan ekspresi kebencian di wajahnya. Boneka temuannya itu diapit di lengannya.

“Apa kau tak pernah belajar sesuatu dari orang tuamu, Lestrange? Agar kau tak menjadi orang jahat seperti mereka?” kata Hermione geram pada adik kelasnya itu.

Scorpina semakin marah. Kalau saja Darah-lumpur ini bukan Ketua Murid, mungkin Scorpina sudah akan mengutuknya menjadi musang seperti yang dilakukan Profesor Moody palsu dua tahun lalu.

Tanpa mereka berdua sadari, boneka yang dibawa Scorpina di lengannya menggerakkan mata coklatnya dengan agak aneh.

***

Hihihihi...*Chucky's laugh*

sebenernya ini pernah hendak kumasukin di fic yg Child's Play, di mana bagian jiwa Voldy ada yang disembunyiin di dalam boneka. Tapi gak kesampaian karena aku dah pengen cepet2 namation fic itu. Maka jadinya aku masukin aja di fic keroyokan ini.

Jadi ceritanya, Tom Riddle juga memasukkan bagian jiwanya ke dalam boneka yang dijadikan Hocrcurx olehnya. Dan dia menyembunyikan Boneka Horcrux itu di Kamar Kebutuhan barengan ama Diadem Ravenclaw.

Jadi penasaran gimana lanjutannya.... Grin Grin


EDIT TO ADD:

Boneka Horcrux-nya Voldie kyk gini kali, ye:

« Last Edit: September 11, 2008, 02:44:13 AM by Verdo Beoulve Lee Ray » Logged


Siggy by: Laff
Allegre Cielo Indah
Gryffindor
HPI
**

Karma: +105/-23
Posts: 467


What is this? This feeling.....


WWW
« Reply #23 on: September 11, 2008, 11:00:47 AM »



Masih dengan rasa sebal dan dongkol di hatinya Scorpina toh mengikuti langkah-langkah cepat Hermione menuju kantor Ketua Murid. Sementara itu, boneka dalam gendongannya sesekali menggerakkan mata coklatnya seperti sedang mencari-cari sesuatu. Tetapi, tentu saja baik Hermione maupun Scorpina sama sekali tidak menyadari hal itu.

Mereka berdua nyaris sampai  ke ruangan Ketua Murid, kalau saja tidak muncul sesosok lain yang berseru-seru memanggil nama Scorpina.

Spontan keduanya menoleh ke asal suara, dan terlihat oleh mereka Mafalda Prewet, teman sekamar Scorpina tampak berlari-lari menuju ke tempat mereka berdiri.

Scorpina karuan saja heran dengan tingkah Mafalda itu. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi. Tetapi ia tidak tahu apa itu.

“Ada apa Mafalda? Kenapa kau berlarian seperti orang mengejar maling begitu?”  Tanya Scorpina penasaran.

Dengan nafas masih terengah-engah, Mafalda pun menjawab…

“Kakakmu! …. Dia… Dia masuk rumah sakit, Ina!” Mafalda menjawab dengan suara terputus-putus.
Namun jawabannya itu tak urung membuat Scorpina terkejut bukan main.

“Apa yang terjadi dengan Madie, Mafalda? Kenapa ia sampai masuk rumah sakit?” Tanya Scorpinakemudian. Sementara Hermione masih diam saja menyaksikan hal tersebut. Ia sendiri acuh tak acuh mendengar kabar bahwa Madeline Lestrange masuk rumah sakit.


“Belum ada yang tahu penyebab pastinya. Sekumpulan anak Ravenclaw menemukan Madie sudah dalam keadaan pingsan di dekat Kamar Kebutuhan… Dan mereka jugalah yang membawa Madie ke Madam Pomfrey. Tetapi… mereka mendapati Madie pingsan dengan boneka di tangannya. Dan kau tahu Ina, boneka itu boneka kesayanganmu yang kau cari-cari seharian ini.” Mafalda bertutur panjang lebar.

Hermione tanpa sadar ikut menyimak segala pembicaraan dua anak di hadapannya itu, sampai-sampai ia lupa untuk menegur Mafalda yang juga keluyuran malam. Hingga kemudian ia tiba-tiba sadar akan hal ini, ia pun segera memasang kesan tegasnya sebagi Ketua Murid.

“Hehm!... Prewett kau tidak sadar bahwa kau baru saja melakukan sebuah pelanggaran sama seperti temanmu si Lestrange ini. Keluyuran malam di luar asrama…Dan kalian tentu tahu apa artinya itu bukan?” Hermione menatap tajam kedua adik kelasnya itu.

“Tutup mulutmu, Darah… maksudku Granger. Ini bukan saat yang tepat kau menjalankan wewenangmu sebagai Ketua Murid! Aku harus melihat kakakku sekarang…!” Scorpina tidak kuasa menahan rasa sebalnya lagi, dan tidak perduli pada posisi Hermione sebagai Ketua Murid yang harus dihormati.

“Ohya? Aku tak melarangmu melakukan itu tentu saja. Silahkan jenguk kakakmu di rumah sakit. Tetapi sebelumnya, potong masing-masing 50 angka dari Slytherin karena berkeliaran di malam larut dan  melecehkan Ketua Murid!” Ucap Hermione dengan intonasi tinggi. Ia benar-benar marah atas sikap kurang ajar Scorpina Lestrange barusan.

“Kau?! Kur… Sudahlah! Ayo Scorpina, kita tinggalkan tempat ini….!” Mafalda menarik tangan Scorpina untuk beranjak dari tempat itu. Namun……..

“Tunggu! Boneka itu! Kau tidak diperkenankan untuk membawanya bersamamu Lestrange! Benda itu kusita untuk sementara sampai aku yakin bahwa boneka itu bukan perangkat sihir hitam!” ucap Hermione dengan keras dan tegas.

Scorpina sudah akan mengamuk, kalau saja ia tidak ingat bahwa kakaknya tengah terbaring di rumah sakit dan ia perlu untuk segera ke sana untuk melihat keadaannya.

Dengan tatapan penuh rasa kedongkolan yang memuncak, Scorpina mengulurkan boneka yang baru ditemukannya itu ke tangan Hermione yang menyambarnya dengan cepat.

Kemudian Ia dan Mafaldapun bergegas menuju rumah sakit sambil menggerutu dan memaki sepanjang jalan.

Sesampainya di rumah sakit, Scorpina dan Mafalda mendapati Madeline masih terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Wajah putihnya tampak sangat pucat.

Scorpina meraih tangan kakak tirinya itu, dan meremasnya lembut. Berharap kakaknya itu menyadari kehadirannya.

“ Madie… cepatlah sadar! Dan katakan padaku apa yang terjadi. Siapa yang membuatmu jadi begini?”
Seiring berkata demikian, sebenarnya Scorpina memikirkan 2 hal yang mungkin bisa menjadi alasan atas pingsannya Madeline.
Pertama, mungkin saja Madeline pingsan karena serangan jantung tiba-tiba dan terlambat menelan obatnya.
Kedua, mungkin… karena boneka itu! Tetapi boneka itu terisi oleh jiwa ibunya sendiri, Bellatrix Lastrange. Jadi mana mungkin ia akan melukai Madeline, yang juga anak kandungnya sendiri.

Scorpina menggeleng tidak mungkin untuk kemungkinan yang kedua. Tidak mungkin Ibunya akan melukai Madeline, walaupun Ibunya itu marah akan sikap Madeline yang dianggapnya terlalu lemah untuk seorang Pureblood sejati.

Jadi akhirnya, Scorpina berpikir akan kemungkinan yang pertama, bahwa Madeline, kakaknya itu mendapat serangan jantung tiba-tiba.

Scorpina kemudian menatap boneka kesayangannya yang tergolek di atas meja dekat gelas ramuan obat Madeline.
Ia tersenyum tipis menatap boneka itu. Seolah menatap ibunya sendiri….


Sementara itu…
Hermione telah memasuki ruang rekreasi Gryffindor.
Nyala api di perapian masih menyala, walau dengan api kecil ketika ia masuk. Dan segera ia tahu sebabnya. Seseorang tengah menunggunya…

Ginny. Menatapnya lekat. Melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Patroli Hermione?” Tanyanya datar dengan tatapan mata menyelidik.

“Begitulah… Dan kenapa kau belum tidur di malam yang selarut ini?”

Hermione merasa tidak suka dengan cara Ginny menatapnya, seolah ia baru saja melakukan kesalahan.

“Ron sudah dibolehkan kembali ke kamarnya dan tak pelu lagi dirawat di rumah sakit. Apakah kau sudah tahu itu?” Ginny masih menatap Hermione tajam.

“Oh… begitu. Syukurlah kalau begitu.” Hermione terkejut gembira sebenarnya akan kabar itu. Tetapi, entah mengapa Ginny membuatnya merasa aneh.

“Kau aneh Hermione… Dan apa itu di tanganmu?” Ginny menunjuk boneka laki-laki yang dipegang Hermione.

Hermione belum sempat menjawab, ketika sekejap Ginny menangkap sorot mata dari boneka itu…..

Dan seketika itu pula wajahnya memutih….



*hihihihihihi….. silahkan dilanjut….*  *kaga tau mau ngomong apa lagi….*
 Huh Cool Roll Eyes  *kaburrrrrrr*
« Last Edit: September 11, 2008, 04:44:38 PM by CieLo alegriye » Logged

ORGULLOSO SER
Gracias Mimbs
No War.. PEACE ..Save Palestina
L-affy
Slytherin
HPI
**

Karma: +139/-27
Posts: 432



« Reply #24 on: September 12, 2008, 04:49:16 PM »

   Boneka itu memiliki mata boneka terindah yang pernah Hermione lihat. Bola matanya berwarna cokelat dan terbuat dari kaca tipis yang memancarkan efek cahaya tertentu jika posisi kepalanya diubah. Pipi boneka itu nampak begitu lembut walau terbuat dari porselain yang dingin dan keras. Dan rambutnya terurai lembut hampir mirip rambut asli.

   Boneka ini sempurna. Dan sangat tampan.

   Namun reaksi Ginny sungguh berbeda dari yang orang pikir. Gadis itu memandang boneka itu dengan ekspresi horor yang terpetakan jelas di wajahnya. Hal ini membuat Hermione terheran-heran dan ikut mengamati boneka itu dengan penasaran.

   “Ada yang salah dengan boneka ini, Gin?” Hermione mengerutkan alisnya ketika dirasakannya tak ada yang aneh dengan boneka di pegangannya.

   Ginny diam saja. Ia masih menatap boneka itu dan wajahnya kian memutih, seolah ia semakin lama semakin yakin bahwa benda di tangan Hermione itu berbahaya.

   Api perapian yang menyala di belakang Ginny menyala dan meliuk-liuk semakin membesar, menciptakan bayangan siluet kedua gadis itu pada tembok asrama. Hermione, dengan posisi berdirinya, dan Ginny dengan posisi duduknya yang tegang.

   “Gin,” Hermione mulai jengkel, ia mengayunkan boneka itu dengan sebelah tangan, “sebenarnya kau kenapa, sih?”

   Ginny mengalihkan pandang ke arah Hermione, sepasang matanya mengerjap melihat ekspresi gusar sang Ketua Murid Putri. “Oh, tak apa...” ucapnya beberapa saat kemudian dengan ekspresi datar—seolah wajah ketakutannya tadi tak pernah terjadi.

   “Tidak mungkin—“ Hermione menyela dengan sebal, “—tadi kau bersikap seperti telah melihat inferi. Dan tak biasanya kau menungguiku seperti ini.”

   “Aku hanya mau mengabari tentang Ron,” Ginny menyahut dengan nada sebal, “kau bahkan belum menjenguk dia lagi.”

   Hermione merasa wajahnya memerah. Alasan mengapa ia tak menjenguk Ron lagi adalah karena ia tak ingin mendapati Lavender ada disana ketika ia datang.

   “Hermione, kau tahu sepupu Malfoy—”

   Jantung Hermione seolah berhenti berdetak ketika nama itu dilisankan Ginny.

   “—si Madelaine Lestrange itu, dia terjatuh tadi.”

   Hermione mengangguk dalam diam.

   “Kau tahu ia selalu membenciku, Lestrange satu itu,” wajah Ginny mengeras, “tapi bukan itu yang ingin kubicarakan. Ketika terjatuh tadi, katanya Lestrange memegang sebuah boneka. Apa itu boneka yang dimaksud?” Jemari kurus Ginny menunjuk ke arah boneka yang dipegang Hermione.

   “Tidak... kurasa ia memegang boneka milik adiknya, Scorpina yang lancang mulut itu.” Jawab Hermione setengah menggerutu.

   “Lucu,” Ginny tertawa muram, “jika adiknya bisa kau sebut lancang mulut, maka perlakuan kakaknya padaku kau sebut apa?”

   “Slytherin membenci Gryffindor, Gin.” Hermione menggelengkan kepalanya sedih.

   “Tidak, ini bukan soal asrama.” Ginny menyahut tegas dan mantap. “Yang benar itu adalah Madelaine Lestrange membenci aku.”

   “Tidak secara personal, kurasa. Slytherin memang terlahir membenci kita. Scorpina, Parkinson, Nott, Zabini...” Hermione menambahkan. Selama ini ia heran dengan pendapat Ginny tentang kebencian Madelaine padanya. Padahal Madelaine tak pernah nampak membenci orang lain seperti itu.

   “Dan Malfoy. Bos mereka semua.” Timpal Ginny kemudian.

   “Oh...” Hermione memejamkan matanya untuk sepersekian detik. “Ya. Dia juga.”

   Dia juga benci aku.

   “Boleh aku memegang boneka di tanganmu, Mione?” tanya Ginny dengan suara lembut.

   “Tentu.” Hermione menyahut dengan heran. Sejak kapan Ginny jadi begitu tertarik dan antusias dengan boneka? Apalagi boneka milik dua Lestrange itu!

   Ginny menatap boneka itu dengan nanar ketika benda itu berpindah tangan. Setelah meneliti agak lama, ia menghela nafas dan ekspresi horor itu kembali muncul di wajahnya. “Tidak salah lagi. Aku harus menemukan Harry.”

   “Kenapa??” Hermione menatapnya terkejut. Ada hubungan apa Harry dengan boneka itu? “Aku baru saja ingin melihat apa boneka ini ada kaitannya dengan sihir hitam.”

   Ginny mengangguk muram dan cengkeramannya pada boneka itu mengeras.

   “Hermione, kau perlu tahu, aku pernah melihat boneka ini ketika...............”



Laff merasa tambahan dari Laff ini gak penting deh...  Grin maklum, namanya juga bikin dadakan habis sahur, masih gak connect.
Logged

Clytemnestra S.H.
Slytherin
HPI
**

Karma: +276/-70
Posts: 1221


Never give up on something that you can't go a day


WWW
« Reply #25 on: September 12, 2008, 10:54:02 PM »

Note : Maap kalo misal critanya rada aneh, coz aku masi geli aja kalo keinget muka innocent boneka ‘Susan’-nya Verdo dan gak bisa bayangin bonek selutu itu ternyata jahat. Di sini alurnya maju mundur coz aku pengen kilas balik kejadian apa yang menimpa Madie di malam itu

OC di sini Madeline Lestrange.

…aku berada di dalam buku harian Riddle dulu.”

Sontak Hermione mencelos, matanya terbelalak tak percaya. Namun Ginny mengabaikan keterkejutan Hermione ini (karena dia sudah menduganya) dan meneruskan pernuturannya dengan nada suara bergetar.

“Ya, Hermione. Tom Riddle sempat menunjukkan boneka ini sekilas kepadaku. Dia bilang boneka ini adalah salah satu barang berharga miliknya yang sengaja ditinggalkannya di Hogwarts. Saat itu kupikir aneh sekali kalau anak laki-laki seperti dia menyukai boneka. Apalagi dia bilang boneka ini sama berharga seperti jiwanya.”

“Kau tidak berpikir kalau ini…?” ucapan Hermione terputus. Sebuah pemikiran yang melintas di kepalanya membuatnya panik. Boneka ini berhubungan dengan Kau-Tahu-Siapa, bahkan dia mengklaimnya sebagai barang yang nilainya sama seperti jiwannya. Ini berarti boneka ini memang benar-benar perangkat sihir hitam yang sangat berbahaya!

Wajah Ginny maupun Hermione kini pucat pasi. Ekspresi ketakutan Ginny bahkan melebihi segalanya. Hermione belum pernah melihat adik Ron itu begitu ketakutan seperti sekarang. Ini pertanda buruk! Jelas pertanda akan terjadi marabahaya sebentar lagi.

“Kita harus menemui Dumbledore secepat mungkin. Kurasa dia yang lebih tahu tentang hal-hal semacam ini,” usul Hermione sambil merebut boneka itu dari tangan Ginny. “Ayo! Sebelum semuanya terlambat!”

Namun Ginny seolah mematung di kursinya, kedua matanya melotot dan bibirnya bergetar hebat. Baru saja dia melihat kilasan sinar merah dari sepasang mata boneka yang sedang dipegang Hermione dan juga seulas seringai mengerikan. Tidak. Mereka berdua sudah terlambat. Suasana semakin mencekam saat terdengar suara kekeh mendirikan bulu kuduk, suara yang berasal dari bibir mungil boneka itu.

Beberapa jam sebelumnya,

Terdengar suara langkah-langkah bergema memenuhi ruang-ruang kosong di sepanjang lorong yang hanya diterangi cahaya obor. Suara ini berasal dari Madeline Lestrange yang tampak kebingungan mencari-cari sesuatu di setiap tempat yang bisa dilongoknya.

“Sejak dulu aku sudah curiga dengan boneka itu,” gumam Madeline gelisah. “Aku sangat ingin membuangnya jauh-jauh kalau saja Scorpina tidak menyayangi boneka seram itu. Sekarang boneka aneh itu hilang lagi saat aku tinggal sebentar untuk pergi ke toilet. Entah bagaimana bisa, tapi aku yakin ada sesuatu yang salah dengan boneka itu. Oh, aku harus segera menemukannya sebelum Scorpina yang menemukan boneka itu lebih dulu.”

Tentu saja Madeline semakin curiga dengan boneka yang diberikan ibunya kepada Scorpina. Sejak lama dia sudah merasakan banyak keanehan yang semuanya berasal dari boneka kesayangan adiknya itu. Mulai dari kedipan dan sorot misterius yang ditunjukkan boneka itu setiap kali dia menatap boneka itu dengan tatapan tak senang, dan juga karena boneka itu seolah punya kemampuan untuk berpindah-pindah tempat sesukanya. Keyakinan Madeline ini diperkuat dengan dugaannya kalau tidak mungkin boneka dari ibunya itu hanya boneka biasa, itu pasti boneka yang mengandung sihir hitam.

Mendadak kegelisahan di hati Madeline hilang dan diganti dengan perasaan benci bukan main saat di kejauhan dia melihat sosok gadis berambut merah yang sangat dikenalinya sebagai Ginny Weasley, saingan beratnya dalam memperebutkan hati Harry Potter.

“Berkeliaran malam-malam, Weasley? Sudah puas mengunjungi semua cowo simpananmu rupanya,” tegur Madeline dingin sambil melempar tatapan menghina.

“Lancang sekali kau!” hardik Ginny, sama sekali tak senang. Apalagi saat Madeline menyorotinya dari atas ke bawah dengan senyum melecehkan. “Kau sama sekali tak punya alasan untuk menghakimiku sesukamu, Lestrange!”

Madeline memutar bola matanya, berlagak seolah tidak mendengar pernyataan keras Ginny barusan. Dia memang benci sekali kepada gadis yang satu ini. Tidak. Tidak sekedar benci setengah mati, tapi dia ingin sekali melihat saingannya ini mati menderita. Sebuah kebencian teramat sangat yang kadang membuat Madeline sampai heran sendiri mengingat tidak seharusnya dia berpikiran sekejam itu.

“Tentu saja aku punya alasan, Weasel girl! Aku bukan gadis murahan yang berganti pacar sesering berganti pakaian, kan? Aku bukan gadis sok penting yang menyodorkan diri ke setiap cowo di asramaku. Oh, tapi kurasa kau juga punya alasan untuk melakukan itu. Sungguh! Tentu kau punya alasan, Weasley. Kalau tidak, dari mana kau bisa terus bersekolah di sini. Keluarga kumuhmu itu kan hanya bisa mengandalkan kemampuan payah ayahmu untuk mengais uang dari rongsokan kaum Muggle.”

Wajah Ginny merah padam menahan marah. Rahangnya terkatup rapat. Madeline sudah sangat keterlaluan tidak hanya karena lancang menuduhnya gadis murahan, tapi juga karena dia sudah berani menghina nama keluarganya.

“Ya ampun! Aku sudah kehilangan waktuku yang sangat berharga hanya untuk meladeni gadis jalang kotor berdarah pengkhianat busuk,” sahut Madeline datar, bergidik jijik.

Kesabaran Ginny sudah habis. Tanpa banyak pikir lagi dia mencabut tongkatnya dan berseru, “Impe…!”

Butuh sekali lambaian ringan bagi Madeline untuk memblokir mantra Ginny. Tampaknya dia sudah menduga akan begini jadinya. Lagipula dia mahir Legilimens dan ini membuatnya serasa di atas angin.

“Expeliarmus!” seru Madeline mantap. Tongkat Ginny pun terlempar jauh. Namun Madeline belum juga puas karena setelah itu dia masih merapal mantra untuk menjatuhkan lawannya ini. “Impedimenta!”

Tubuh Ginny terpental dan menyusur lantai yang dingin dan keras. Saat ia mencoba untuk bangkit, tongkat Madeline sudah menekan lehernya dan pemilik tongkat itu sedang berjongkok tepat di sampingnya, menatapnya dengan ekspresi setenang permukaan air, karakter khas pembunuh berdarah dingin.

“Jangan pernah berpikir untuk macam-macam denganku, gadis Weasley kotor! Kau belum tahu kalau aku bisa jadi sangat kejam jika aku mau,” desis Madeline tajam, menyodokkan tongkatnya semakin kuat ke leher Ginny, tak peduli lawannya itu sedang kesakitan. “Jangan tanyakan kenapa! Aku hanya membencimu. Sangat membencimu. Dan aku bersumpah dengan sepenuh hati kalau suatu saat nanti aku akan menyingkirkanmu dari sini. Camkan itu baik-baik, gadis jalang busuk!”

Seringai di wajah Madeline semakin melebar dan dari sudut bibirnya terlontar kata-kata makian kotor untuk Ginny sebelum dia berdiri dan meninggalkan lawannya yang masih terbaring di lantai. Madeline sadar betul kalau saat ini Ginny sedang melemparkan tatapan panas menusuk di belakang sana, tapi dia tak peduli. Dia memang sangat membenci Ginny Weasley dan rasa benci ini tumbuh subur di dadanya hari demi hari.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Madeline sudah berada di koridor yang ada di lantai tujuh. Entah apa yang menggerakkannya ke sana, namun dia merasa arah yang ditujunya ini sudah benar. Belum sempat Madeline berpikir lebih jauh, mendadak muncul sebuah pintu di tempat yang tadinya hanya berupa dinding kosong dan tubuh Madeline seketika itu juga seakan membeku. Dia melihat sesosok anak perempuan bertubuh sangat kecil yang muncul dari pintu yang terbuka itu. Tapi sesaat kemudian Madeline sadar betul apa yang sedang dilihatnya ini. Sosok itu bukan anak perempuan kecil, melainkan boneka adiknya.

“Oh, astaga…” desah Madeline dengan kerongkongan tercekat dan keterkejutan Madeline bertambah saat boneka itu memergoki kehadirannya.

“Kau? Madie?”

“I…ibu…?” Perasaan Madeline semakin tak karuan. Boneka itu mengeluarkan suara yang sangat dikenalinya, sekaligus suara yang begitu dirindukannya selama ini, suara ibunya, Bellatrix Lestrange. Namun hanya itulah kata terakhir yang sempat diucapkannya sebelum dia jatuh tak sadarkan diri karena rupanya kondisi jantungnya yang lemah tak bisa menerima semua ini.

Maap kalo kependekan. Nah, silahkan dilanjutin mulai dari scene Hermione dan Ginny yang sudah tahu kalau boneka itu punyanya Kau-Tahu-Siapa. Bisa jadi ini mulai klimaksnya, coz dua boneka udah dibangkitkan. Maap ya kalo ga memuaskan.*Lirik2 Verdo*
Logged


Or perhaps in Slytherin
You'll make your real friends
Those cunning folk use any means to achieve their ends
The Watcher
Slytherin
HPI
**

Karma: +207/-66
Posts: 1253


Don't be joking! Life is not centered on you. Ha!


« Reply #26 on: September 18, 2008, 04:34:06 AM »

Sementara itu, Draco Malfoy baru saja keluar dari Kamar Kebutuhan dengan wajah luar biasa pucat dan lelah. Dia tadi hampir saja ketahuan oleh Scorpina yang entah bagaimana bisa menemukan Kamar itu. Draco terpaksa melemparnya keluar dengan kasar karena Draco tak ingin siapapun, termasuk kedua sepupunya, tahu apa yang dikerjakan Draco dalam Kamar itu. Sia-sialah kalau Draco sampai ketahuan apalagi Lemari sialan itu sudah separo-selesai. Sekarang Draco harus segera kembali ke kamar tidurnya sebelum kepergok Filch dan dipermalukan lagi seperti saat pesta Slughorn waktu itu.

Untungnya saat ini tak ada tanda-tanda Filch, yang ada hanyalah Peeves yang dengan kurang ajar melempar Bom Kotoran naga ke arah Draco yang berhasil dihindarinya dengan lambaian malas tongkat sihirnya. Setelah berhasil melewati Peeves, Draco terus berjalan hingga sampai ke tembok lembab tempat masuk Ruang Rekreasi Slytherin.

“Darah-murni,” ucapnya, dan tembok batu itu terbuka mememperlihatkan jalan masuk.

Draco mengenyakkan diri di sofa dan memejamkan matanya. Draco tak bisa berhenti memikirkan gadis Darah-lumpur itu. Yeah, Hermione Granger. Mengapa? Mengapa Draco merasakan denyut kecemburuan saat melihatnya menangisi Weasel tadi? Apa ini berarti Draco suka padanya? Tidak! Tak mungkin! Tapi kalaupun ini benar, bahaya sekali kalau sampai anak-anak Slytherin tahu, Draco akan jadi bahan tertawaan. Mungkin juga, sepupunya, Madeline, tahu tentang ini karena dia dapat membaca pikiran. Tapi selama ini Draco selalu berusaha menutupi pikiran dan perasaannya yang paling tersembunyi itu dari sepupunya.

Oh, Tuhan. Mengapa? Mengapa harus dia? Mengapa harus gadis itu yang Draco pikirkan? Padahal banyak gadis-gadis Slytherin yang mengantri untuknya kendatipun dia sudah dikenal sebagai anak Pelahap Maut dan anak narapidana yang selama ini hanya pernah dirasakan oleh Madeline & Scorpina.

Draco masih memejamkan mata, dan tanpa sadar, dia tertidur pulas di sofa.

***

Kamar tidur anak laki-laki Gryffindor....

Neville gelisah. Entah mengapa dia susah sekali tidur. Dia bangun dan melihat ke arah teman-temannya yang tertidur pulas. Harry, yang tahun lalu sering dihantui mimpi uruk, sekarang ini selalu bisa tidur pulas dan kelihatannya tak pernah mengalami mimpi-mimpi itu lagi. Ron, yang baru saja keluar dari rumah sakit, juga tidur pulas sekali. Dean, yang setahu Neville baru saja bertengkar dengan Ginny lagi, entah bagaimana juga sanggup tidur pulas. Dan Seamus, yang tampaknya tak memiliki beban pikiran apa-apa, juga sama pulasnya dengan mereka.

Tapi Neville, tidak bisa tidur hanya karena memikirkan gadis itu. Madeline Lestrange. Mengapa, Neville? Bisa-bisanya kau jadi sulit tidur hanya gara-gara gadis Lestrange itu! Ingat dia siapa!

Tapi menurut anak-anak cowok lain, termasuk Harry & Ron, Lestrange satu-satunya gadis Slytherin yang baik. Dia berbeda dari anak Slytherin kebanyakan, kata suara dalam hati kecil Neville.

Tapi lihat bagaimana adiknya menghinamu! Adiknya sama sekali tak menyesali apa yang telah dilakukan orang tuanya terhadap orang tuamu!

Yeah. Tapi menurut gosip yang beredar, Madeline dan Scorpina mungkin berasal dari ayah yang berbeda. Malah ada gosip miring bahwa ayah Madeline mungkin Muggle, atau mungkin kelahiran-Muggle. Tapi tak ada yang tahu pasti tentang kebenarannya.

Bagaimana mungkin kau mencari pembelaan untuk seorang Madeline Lestrange? Apa kau tak dengar apa yang dikatakan Dean tadi siang? Dean bilang, “Madeline, harus kuakui, gadis yang cantik & manis. Dia sangat berbeda dari anak-anak Slytherin lainnya. Tapi aku tak mengerti kenapa, tiap kali aku & Ginny berpapasan dengannya, dia selalu melempar pandang dengki yang sepertinya dikhususkan kepada Ginny seorang. Aku tak mengerti kenapa. Rasanya Ginny tak pernah berurusan apalagi bermasalah dengannya.”

Kau lihat, Neville? Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya! Madeline Lestrange sudah mewarisi sifat jahat ibunya! Tak jauh beda dengan adiknya yang mewarisi sifat kedua orang tuanya yang Pelahap Maut! Malah mungkin, ayah Madeline yang Muggle atau kelahiran-Muggle juga penjahat kelas teri macam Mundungus Fletcher.

Neville mengacak-ngacak rambutnya, dia merasa frustrasi dan bodoh sekali, bahkan jauh lebih bodoh seperti yang divonis Snape kepadanya selama Neville menjadi muridnya. Bagaimana mungkin dia mengasihani anak permepuan yang orang tuanya telah menyebabkan orang tuamu menjadi gila dan tak bisa mengenalmu? Kau sungguh bodoh, Neville!

Neville bangkit dari tempat tidurnya. Dia berpikir mungkin dengan dudul-duduk di Ruang Rekreasi bisa menenagkan pikirannya yang kacau. Dia membuka pintu perlahan---dia tak ingin membangunkan Ron yang baru sembuh. Dan keluar dan menutup pintu dengan perlahan.

Dia menuruni tangga, dan beberapa detik kemudian, dia mendengar suara tawa melengking yang dilanjutkan kata-kata aneh yang kedengarannya seperti perkenalan diri, “Hi! I’m Tommy! Do you wanna play?” dari dalam Ruang Rekreasi.

Suara siapa itu? batin Neville luar biasa bingung.

***

Boneka itu tertawa mengerikan. Bibir Ginny bergetar sking shocknya, namun tak ada yang mengalahkan shocknya Hermione. Bahkan Hermione tak sadar saat boneka itu menggerakkan tangannya untuk mengambil tongkat sihir Hermione.

“Hermione, awas!” seru Ginny. Tapi terlambat, boneka itu sudah keburu meluncurkan kutukan tepat ke dada Hermione hingga Hermione terpental ke seberang ruangan dengan masih memegang boneka itu.

Hermione terbaring di lantai dan tak bergerak, tapi boneka itu bergerak dan bangun, lalu menyeringai jahat ke arah Ginny.

“Did you miss me, Ginny Weasley?” kata si boneka dengan suara yang sudah dikenal Ginny. “Apa kau lupa kata-kataku dalam buku harian? That I’ll be your friend to the END?!”

“Kau...Tom Riddle?” kata Ginny, tak percaya bahwa ketakutan terbesarnya menjadi kenyataan. “Jadi memang benar kau?”

Si boneka itu tak menjawab, dia meluncurkan sinar merah dari tongkatnya ke arah Ginny, Ginny berhasil menghindar dan menyerang balik, “Stupefy!”

Tidak kena. Boneka Tommy Riddle itu melompat sangat lincah seperti gerakan ninja dan meluncurkan serangan balasan yang mengenai pipi Ginny hingga berdarah. Ginny memegang pipinya, dan saat dia mengangkat wajahnya, ternyata wajah Riddle sudah dua senti dari wajah Ginny. Ginny shock, apalagi saat si boneka menendang tangan kanannya yang memegang tongkat hingga tongkat sihir Ginny terpental ke sisi lain ruangan. Lalu si boneka mengarahkan tongkat sihirnya ke wajah Ginny.

“Farewell,” bisik Tommy Riddle dramatis.

Tapi dia lengah, dan tak mengetahui seorang anak laki-laki muncul di belakangnya, dan Kutukan Ikat-Tubuh Sempurna-nya tepat mengenainya hingga dia terbujur kaku.

“Ginny, kau tak apa-apa?” tanya anak itu.

“Neville? Oh, syukurlah, aku pikir riwayatku tamat sudah,” bisik Ginny lirih. “Hermione!” Ginny berlari ke seberang ruangan dan memeriksa keadaan Hermione. “Pingsan. Syukurlah.”

“Tapi anak kecil ini siapa?” kata Neville sambil membalikkan tubuh kaku boneka Riddle. “Oh, astaga! Dia boneka?”

“Hati-hati, Neville! Itu boneka hasil Sihir Hitam Tom Riddle!” kata Ginny.

“Siapa Tom Riddle?”

“Astaga! Tentu saja kau tidak tahu. Itu nama asli Kau-Tahu-Siapa!”

Neville langsung memucat, apalagi saat melihat tangan si boneka perlahan mulai bergerak, buru-buru Neville berucap, “Incarcerous!” dan sebuah tali mengikat erat Boneka Riddle tepat saat Kutukan Ikat-Tubuh hilang: Riddle mulai bergerak memberontak untuk melepaskan diri.

“Kita harus memberitahu seseorang!” kata Neville, dan tepat saat itu lubang lukisan terbuka. Prof. McGonagall masuk.

“Aku mendengar ada suara ribut-ribut. Ada apa ini? Jelaskan!” kata Prof McGonagall marah. Si boneka mendadak berhenti memberontak. “Longbottom, Weasley! Jelaskan! Dan ada apa dengan Miss Granger?”

Neville & Ginny menjelaskan apa yang terjadi, mata Prof McGonagall melebar tak percaya.

“Kami tidak bohong, Profesor! Boneka itu benda Sihir Hitam Tom Riddle, Anda-Tahu-Siapa!” kata Ginny putus asa.

“Yeah, tadi boneka ini yang menyerang Hermione! Dan dia juga nyaris membunuh Ginny....” kata Neville.

“....kalau Neville tak sempat menyelamatkan saya,” lanjut Ginny.

Prof McGonagall masih tampak tak percaya, tapi dia hanya diam selama beberapa detik, lalu berkata singkat, “Aku percaya pada kalian. Miss Weasley, tolong bawa Miss Granger ke Hospital Wing. Mr Longbottom, kau ikut aku ke Kantor Kepala Sekolah, dan bawa boneka itu...dalam keadaan terikat. Kita temui Kepala Sekolah.”

Mereka menurut, dan mereka keluar dari lubang lukisan bersama-sama, lalu berpencar: Ginny membawa Hermione yang pingsan ke Hospital Wing, sementara Neville & Prof McGonagall membawa boneka Riddle ke Kantor Kepala Sekolah.

***

Hospital Wing

Madeline masih belum bergerak. Scorpina masih memegangi tangannya, berharap dia akan segera bangun.

Mafalda mendekatinya dan berbisik, “Ina, tak ada yang bisa kaulakukan di sini. Ayo kita kembali ke Asrama. Lagipula Madam Pomfrey tak begitu senang jika ada yang menjenguk pasien pada larut malam begini.”

Scorpina tak menjawab, dia masih berharap kakaknya bangun. Lalu dia berkata pelan, “Kau duluan, Mafalda. Sebentar lagi aku menyusul.”

Mafalda hanya menghela nafas panjang, lalu dia pergi keluar. Scorpina mendekati boneka perempuan itu, tapi alih-alih mengambil boneka yang dia cari selama seharian itu, dia justru berbisik, “Ibu, tolong jaga Madie, ya.” Lalu dia pergi keluar.

Sekitar semenit setelah adiknya keluar, Madeline membuka matanya. Lalu memegang dadanya yang tadi sakit. Dia bangkit dari tempat tidurnya, dan baru sadar dia berada di Hospital Wing. Dia melihat ke sekitar, tampaknya Madam Pomfrey sedang tak ada di sini.

Tapi matanya langsung terhenti melihat boneka yang terletak di meja dekat gelas ramuan. Itu boneka yang tadi mengeluarkan suara ibunya. Madeline berusaha menahan sakitnya detak jantungnya yang melawan. Dia mengambil tongkat sihirnya yang diletakkan di meja lain, lalu berucap, “Specialis Revelio.” Dan boneka itu membuat gerakan mendadak, dia berdiri dan menyumpah-nyumpah.

Madeline kaget, tapi dia sudah siap mental kali ini sehingga dia tak pingsan lagi.

“Madie, kenapa kau lakukan itu pada ibumu sendiri?” gertak si boneka marah.

“I...Ibu? Jadi itu benar kau? Astaga! Bagai...bagaimana kau bisa? Bukankah kau seharusnya berada di Malfoy’s Manor,” gagap Madeline. “Bukan Pangeran Kegelapan yang melakukan ini padamu, kan?”

“Tentu saja bukan!” bantah boneka Bella, gusar karena tuannya dijelek-jelekkan.

“Lalu kenapa....?”

“Justru dialah yang mengajarkan Ilmu ini kepadaku! Dengan begini, aku bisa memantau kegiatan kalian di sini, dalam wujud bukan manusia!” tukas Bellatrix puas.

“Pangeran Kegelapan menyuruhmu untuk mengintai kami?” kata Madeline berang. “Tapi itu keterlaluan!”

“Keterlaluan? Astaga, Madie! Sadarlah kau ini siapa! Kau & Ina adalah kandidat Pelahap Maut-nya yang berbakat!”

“Tapi aku tak ingin menjadi seperti Draco!” bantah Madeline nyaring. “Lagipula Draco juga.....” Madeline bimbang.

“Juga----apa?” gertak boneka ibunya. “Juga tak suka menjadi Pelahap Maut? Bukankah dia justru bersemangat!”

“Dengar, Ibu. Aku tak peduli akan kesetiaan keluarga kita pada Pangeran Kegelapan. Hanya saja, aku tak ingin menjadi Pelahap Maut, aku tak ingin terikat dengan organisasi semacam itu!”

“Kau....kau melawan ibumu sendiri? Kau mau jadi anak durhaka?” bentak boneka Bellatrix.

“Maaf, Ibu. Dan yang kau pakai inilah pasti Sihir Hitam, dan aku juga tak begitu menolerir-nya. Jadi, aku minta maaf.” Madeline mengacungkan tongkat sihirnya ke arah Bellatrix. “Incarcerous.” Dan muncul tali yang mengikat erat si boneka menyeramkan itu.

“Mad...Madie? apa yang kau....berani-beraninya kau!” gertak Bellatrix.

Aku harus menemui Prof. Snape....tidak! Aku harus menemui Kepala Sekolah! Yeah, lagipula Prof Snape akhir-akhir ini agak aneh.

Madeline mengambil boneka yang terikat itu---sambil mengabaikan kata-kata kotor yang keluar dari mulut boneka itu. Dan membawanya keluar Hospital Wing. Dan dia berlari menuju Kantor Kepala Sekolah.

***

Di tengah jalan menuju Kantor Kepala Sekolah, Madeline tanpa sengaja berpapasan dengan Neville, yang tak menyangka bakal ketemu gadis Slytherin itu, & Prof McGonagall, yang tampak tak senang melihat ada murid keluar kamar.

“Lestrange! Apa yang kaulakukan selarut ini?” kata Prof McGonagall galak.

“Saya harus menemui Kepala Sekolah, Ma’am! Ini penting!” kata Madeline.

“Tentang boneka lagi, eh?” kata Prof McGonagall, matanya meneliti sesuatu di tangan Madeline.

“Yea...bagaimana Anda tahu? Dan apa maksud Anda dengan ‘lagi’?” tanya Madeline.

Tapi Prof McGonagall tak menjawab, toh Madeline sebenarnya juga tak butuh jawaban, karena dia me-Legilimens Neville, yang ternyata ke sini juga untuk tujuan sama. Madeline tersenyum ke arah Neville, yang sama sekali tampak tak senang, dan sengaja memalingkan wajahnya. Neville sendiri bingung kenapa Madeline juga datang ke sini dengan membawa-bawa boneka.

“Yah, sebaiknya kita temui Kepala Sekolah sekarang,” kata Prof McGonagall. “Percival Kendra Ariana.” Dan setelah mengucapkan kata-kata itu, gargoyle batu yang menghalangi jalan masuk.

Mereka menaiki tangga spiral. Begitu sampai di depan pintu, Prof McGonagall mengetuk pintu, yang langsung dijawab oleh suara Prof Dumbledore, “Masuk.”

Mereka bertiga masuk. “Ah, Prof McGonagall,” sapa Prof Dumbledore, lalu dia memberi isyarat pada mereka bertiga untuk mendekatinya. “Ada berita apa sehingga aku layak mendapat kehormatan untuk mendapat kunjunganmu selarut ini?”

“Begini, Kepala Sekolah. Tadi Longbottom & Lestrange.....” Prof McGonagall memulai, dan dengan bantuan Neville & Madeline, mereka menjelaskan secara ringkasnya.

“.....nah, begitulah, Sir,” Neville mengakhiri.

Dumbledore hanya mengangguk-anggukkan kepala, lalu berkata, “Ah, kurasa sebaiknya kalian meletakkan dulu boneka itu di mejaku. Aku akan menanganinya. Kalian kembalilah ke Asrama masing-masing.” Mereka bingung, tapi tahu bahwa tak ada artinya membantah, maka mereka menuruti apa yang diperintahkan.

Terdengar ketukan pintu lagi. Dan Prof Snape masuk.

“Ah, Severus. Kebetulan sekali! Bisakah kau mengantar Miss Lestrange kembali ke Asramanya?” tanya Prof Dumbledore.

Prof Snape tampak tak senang, padahal tadi Dumbledore menyuruhnya datang ke kantornya pukul sebelas malam, Dumbledore yang tampaknya menyadari ketidaksenangan Snape berkata, “Setelah itu, kembalilah lagi ke sini. Kebetulan ada yang perlu kubicarakan denganmu,” tambahnya dengan mata agak mengedip.

Prof Snape hanya mengangguk. Lalu memberi isyarat kepada Madeline untuk mengikutinya kembali ke Asrama Slytherin. Madeline sempat melempar senyum terbaiknya ke arah Neville, yang lagi-lagi berpura-pura tak melihatnya. “Selamat malam, Sir,” kata Madeline kepada Prof Dumbledore, yang mengangguk singkat. Madeline sempat mencoba me-Legilimensnya saat berkontak mata karena ingin mengetahui rahasia tersirat antara Kepala Sekolahnya dengan Kepala Asramanya, tapi Dumbledore salah satu Occlumens terhebat, sehingga tak mempan.

Prof McGonagall yang tampak bingung dengan kedatangan Prof Snape yang tiba-tiba, berkata, “Er...Longbottom. Ayo, kita kembali ke Asrama juga.”

“Selamat malam, Sir,” kata Neville kepada Prof Dumbledore, yang mengangguk singkat.

***

Dumbledore telah bangkit dari kursinya, berjalan ke lemari kaca miliknya, dan mengeluarkan sebuah pedang bermata batu delima pada gagangnya.

“Sungguh aku tak menyangka, Tom. Kau masih nekat membuat satu Horcrux lagi,” kata Dumbledore kepada boneka Tommy. “Dan kau juga, Bellatrix, ternyata kau diajari oleh tuanmu, ya?”

“Bellatrix?” kata salah satu lukisan kepala sekolah, Phineas Nigellus Black. “Cicitku yang kabur dari Azkaban itu? Apa maksudmu, Dumbledore? Kau memercayai cerita anak itu tadi? Tapi itu kan boneka....?”

“Ah, Phineas. Kukira sudah jelas sekarang. Semua teoriku hampir lengkap. Aku hanya tinggal menunggu memori Slughorn yang belum didapat oleh Harry untuk memastikan kebenaran teoriku ini,” jawab Dumbledore tenang.

Phineas tampak tak puas dengan jawaban itu. Tapi dia tak bertanya lebih jauh.

“Aku kecewa sekali, Tom. Kau seharusnya belajar lebih banyak tentang arti kehidupan, dan itu jelas bukan berarti mencabik-cabik jiwamu menjadi sembilan*. Nah, dengan ini, satu Horcrux lagi telah terbinasakan,” kata Dumbledore sambil mengangkat pedangnya, lalu menusuk boneka Tommy di bagian jantungnya, di mana darah bermuncratan ke mana-mana. Boneka itu menjerit keras dengan suara Tom Riddle. Lalu bergetar hebat. Dan akhirnya getarannya terhenti.

“Tuan!” pekik boneka Bellatrix tiba-tiba. Phineas Nigellus kaget bukan main mendengar suara cicitnya dari boneka itu. “Dumbledore! Beraninya kau....?” Dia tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena Dumbledore keburu menusuk jantungnya dengan pedang itu juga. Boneka perempuan itu menjerit keras juga, bergetar hebat, lalu menjadi kaku: kembali menjadi boneka biasa.

Dumbledore mencabut pedangnya yang berlumuran darah, lalu mengeluarkan tongkat sihirnya dari dalam jubah. Dia mengeluarkan Patronus Phoenixnya dua kali.

“Kau mengirim pesan kepada siapa, Dumbledore?” tanya lukisan Everard Proudfoot.

“Minerva & Severus,” jawab Dumbledore. “Aku memerintahkan mereka untu memodifikasi memori Mr Longbottom, Miss Granger, Miss Weasley, & kedua Miss Lestrange, agar mereka tak sempat menyebarluaskan cerita tentang boneka-boneka ini & agar mereka melupakan boneka ini. Anak-anak akan sangat khawatir jika mendengar cerita tentang boneka bergerak ini, kan?”

Para lukisan kepala sekolah hanya mengangguk-angguk.

***

Keesokan harinya, Neville terbangun di tempat tidurnya di kamarnya. Kepalanya pusing. Dan hal terakhir yang diingatnya adalah dia sedang memikirkan Madeline Lestrange tadi malam sebelum dia akhirnya tertidur.

Hermione tidak ingat bagaimana dia bisa terbaring di Hospital Wing, begitu juga dengan Ginny yang menemaninya di sana.

Madeline & Scorpina juga tak ingat apa-apa. Mereka sudah lupa sama sekali bahwa boneka itu adalah ibu mereka. Tapi saat mereka keluar kamar tidur menuju Ruang Rekreasi, mereka mendapati seorang anak laki-laki pirang sedang tertidur pulas di sofa, wajahnya luar biasa letih & pucat.

“Draco?”

to be continued...

***

fiuhh...konflik boneka-boneka setan sudah kuselesaikan!

jadi silahkan lanjutin Dramione-nya & Neville-Madeline-nya*lirik2 Lia utk bagian Neville-Madeline* Grin

*) sembilan jiwa Voldemort:

1. Buku Harian Riddle
2. Cincin Marvolo Gaunt
3. Kalung Salazar Slytherin
4. Piala Helga Hufflepuff
5. Diadem Rowena Ravenclaw
6. Nagini
7. Jiwa Voldemort dalam Harry Potter
8. Jiwa TM Riddle dalam boneka Tommy
9. Jiwa Voldemort dalam tubuhnya sendiri

tuh ada sembilan, kan? Grin

*kabur*
« Last Edit: September 18, 2008, 11:41:19 PM by Verdo Beoulve Lee Ray » Logged


Siggy by: Laff
L-affy
Slytherin
HPI
**

Karma: +139/-27
Posts: 432



« Reply #27 on: September 26, 2008, 07:39:12 PM »

Kumasukin unsur Dramione dan NevMadie  Grin
OC : Scorpina dan Madie Lestrange
Cameo : Laffy Bloomfield (di Horcrux Doll, si Laffy jadi Healer kan? disini kubikin ia emang bercita-cita begitu!)




   Draco Malfoy pemuda yang kuat.

   Draco Malfoy pemuda yang keras.

   Namun kini kelelahan dan bias pucat tergambar jelas di wajahnya. Bahkan ada lingkaran hitam yang mengelilingi pelupuk matanya yang tertutup—tanda ia tertidur pulas. Hal ini membuat Madie dan Scorpina sangat khawatir.

   “Ia sangat kelelahan...” bisik Scorpina sambil mencengkeram ujung jubahnya kuat-kuat. Ia tak tega melihat sepupu kesayangannya nampak seperti orang sakit seperti itu.

   Madie mengusap bahu Scorpina, mengiyakan tanpa suara. Keduanya tak ada yang berani bergerak dan mendekati Draco, takut membangunkan.

   Dalam diam, mereka mengawasi dan mengamati sepupu laki-laki mereka itu. Mereka berdua tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Madie, dalam keingintahuannya tentang misi Draco,—dan perasaan bahwa ia harus mencegah misi itu—berpikir keras bagaimana caranya agar Draco mau memberitahunya.

   Sedangkan Scorpina, dalam pikirannya hanyalah keinginan untuk membantu Draco, agar sepupunya itu tidak usah menjalani hari-hari berat lagi seperti ini. Ya, Scorpina memang masih polos. Ular betina, namun polos.

   “Errrh...”

   Draco bergerak. Wajahnya menoleh ke samping sementara alisnya berkerut, tanda ia siap untuk bangun. Scorpina dan Madie hanya bisa menatapinya tanpa bersuara sedikitpun.

   “M-madie..? Ina..? Sedang apa kal—oh!”

   Scorpina dan Madie terperanjat. Draco yang tadi hendak bangkit dari posisi tidurnya kini limbung ke lantai. Spontan, Madie meloncat maju dan menopang tubuh sepupunya itu walau Draco lebih besar dan berat dari dirinya.

   “Maaf, Madie...” bisik Draco lemah. Sepertinya cowok itu pusing, dan masih belum bisa berdiri tegak. Madie hanya mengangguk saja dan terus berusaha menopang tubuh Draco. Samar, ia mencium aroma tubuh sepupunya itu, dan ia mengernyit heran. Ia mencium bau debu—pertanda Draco baru menghabiskan harinya di ruangan yang kotor dan berdebu.

   “Berbaringlah lagi.” Madie menyokong tubuh Draco agar kembali ke sofa.

   “Yeah, thanks.” Gumam Draco sambil memegangi kepalanya. “Sedang apa kalian? Kok tidak tidur?”

   “Kami... emm...”

   Scorpina membuka mulutnya untuk bicara. Namun kemudian ia terheran-heran sendiri. Apa yang baru saja kami lakukan? Aku tak ingat!

   “...ini sudah pagi, Draco.” Madie yang menyahut. Nada bicaranya datar dan tenang, namun Scorpina yakin kakaknya itu juga kebingungan akan hal yang sama dengan dirinya.

   “Oh? Begitu... pandanganku masih gelap...” Draco menggumam lemah.

   “Kau masih pusing. Sepertinya kau kelelahan, bisa jadi kau sakit.” Madie membelai pundak Draco dengan sayang. Baginya Draco sudah seperti kakak sendiri.

   “Y-yeah...” Draco mengangguk. “Aku butuh sarapan dan istirahat. Cuma itu.”

   Tiba-tiba, terdengar gemuruh riuh dari arah tangga asrama anak perempuan dan laki-laki. Sepertinya mereka semua sudah bangun dan hendak mengambil sarapan.

   “Hai, Malfoy, Lestranges!” seorang perempuan berambut hitam dan mengenakan topi hitam mendekat. Ia melambaikan tangannya dengan ceria ketika melihat tiga sepupu itu.

   “Hai Laffy.” Madie yang menyahut.

   “Oi, Malfoy, wajahmu pucat.” Gumam Laffy Bloomfield sambil mengamati wajah Draco dengan seksama. Alis gadis itu bertaut dan wajahnya serius sekali.

   “Oh, dasar calon Healer St. Mungo, pintar saja analisamu. Draco memang sedang kelelahan.” Goda Madie—membuat wajah Laffy bersemu merah.

   “Ah, pengetahuanku belum mencapai seorang Healer,” Laffy nyengir, “kusarankan kau ke Hospital Wing, Malfoy. Eh tapi, sedang ada dua Gryffindor—Trio Emas, lagi!—disana, mungkin kamu tidak mau, yaa...”

   “Trio Emas? Dua?” kening Draco berkerut.

   “Siapa? Yang kutahu cuma Weasel yang keracunan itu.” Scorpina ikut penasaran.

   “Kudengar semalam dari anak yang baru saja meminta obat sakit perut dari Madam Promfey, bahwa Hermione Granger dirawat disana. Ia luka parah—entah kenapa.” Jawab Laffy enteng. “Eh, aku ke Aula Besar ya, lapar nih~! Selamat beristirahat, Malfoy!”

   Sepeninggal Laffy, wajah Draco semakin memucat.

   Hermione? Luka parah? KENAPA?
   

***


   “Draco Malfoy! Kembali kesini!!” Madie memekik panik ketika Draco lenyap dari balik lubang lukisan. Entah mengapa sepupunya itu bergegas pergi—dengan wajah jauh lebih pucat dan ekspresi cemas.

   “Apa yang si bodoh itu pikirkan!? Ia sedang sakit!” Scorpina ikut memekik.

   “Oh, dasar anak itu...” gerutu Madie sambil menyusul dan memanjat lubang lukisan juga. “Ina, kau pergi makan saja ke Aula Besar. Biar aku yang menyeret sepupu kita tersayang.”

   Scorpina mengangguk dan memandang kepergian Madie dengan diam.


***


   “Kemana Draco pergi? Cepat banget, padahal dia kan sedang sakit!” Madie mengomel gusar kepada dirinya sendiri. Tidak seperti biasanya Draco bertindak begitu ceroboh. Madie sampai keheranan. Apa yang terjadi?

   Tiba-tiba, ia merasa mengetahui sesuatu.

   Hermione Granger. Hospital Wing. HERMIONE GRANGER.

   Bergegas Madie memacu larinya kesana.

   Ia yakin, Draco menuju kesana!

   Dalam ketergesaannya, Madie tidak memperhatikan jalan, dan di sebuah tikungan ia menabrak seseorang. BRAKK!

   “Aaw!!” Madie terpelanting. Namun orang yang ditabraknya hanya bergeming.

   “M-maaf, kau tak apa—oh, kau Lestrange.”

   Madie mendongak heran. Sambil mengusap keningnya yang sakit, ia berusaha memfokuskan pandangan pada orang yang ia tabrak.

   “...Longbottom?”


sok atuh, dilanjut...hehe
Logged

Clytemnestra S.H.
Slytherin
HPI
**

Karma: +276/-70
Posts: 1221


Never give up on something that you can't go a day


WWW
« Reply #28 on: September 26, 2008, 11:24:10 PM »

Chapter ini bakalan jadi penutup konflik The Lestranges-Neville. Lagian, kayanya si Madie tambah OOC ajah. Kok bisa2nya dia OOC di tangan authornya sendiri. Wekekek…  *digaplok Madie*
Yawda deh. Anggap aja Madie di sini beda ama Madie di HBL. Moga aja bisa muasin smua orang. ^^


“Ya. Ini aku,” sahut Neville muram, kedua tangannya terulur untuk membantu Madeline berdiri. Ada sedikit perasaan aneh yang menyelinap di dadanya saat ini. Semalaman dia memikirkan Madeline dan detik ini juga dirinya bahkan berhadap-hadapan dengan gadis itu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua?

Ragu-ragu, Madeline menyambut uluran tangan Neville dan bangkit dengan sedikit kesusahan. Sesaat setelah berdiri, dia malah tertegun, menyadari perubahan air muka Neville yang selalu menatapnya dengan sorot kebencian namun kali ini justru tampak gugup. Butuh beberapa menit bagi Madeline untuk menyadari apa yang sedang terjadi. Seleret pemikiran melintas di kepalanya beserta sebuah hantaman mengejutkan. Mereka berdua sedang berhadap-hadapan rapat dengan kedua tangan saling menggenggam! 

“Oh…!” pekik Madeline tertahan, cepat-cepat melepaskan tangannya dari genggaman Neville. Hal yang serupa juga dilakukan oleh Neville dengan wajah semerah tomat segar.

“A… aku harus pergi…” kata Madeline, kedua pipinya serasa memanas saat ini. Dia ingin secepatnya lenyap dari pandangan Neville. Bukan apa-apa, hanya saja dia merasa sangat aneh saat ini. Lagipula dia harus segera menyusul Draco.

“Tunggu!” seru Neville saat Madeline melewatinya begitu saja. “Kita butuh bicara, Lestrange.”

Langkah Madeline terhenti, dia bimbang. Haruskah dia berbalik untuk menghadapi Neville lagi? Atau sebaiknya dia tidak usah mempedulikan si Gryffindor ini?

“Apa apa, Longbottom? Belum puas kalau sehari belum menghinaku?” sahut Madeline perlahan sambil memutar badannya, berharap tindakannya ini benar.

Neville menggeleng pelan, memberi Madeline tatapan yang tidak dimengerti gadis itu. Ekspresinya menyiratkan kebingungan bercampur harap-harap cemas. Ada sesuatu yang tampaknya ingin sekali dia katakan sekarang.

“Aku sedang buru-buru. Sepupuku…”

“Maafkan aku… Lestrange,” potong Neville terpatah-patah. Madeline tersentak, bibirnya segera tertutup rapat begitu mendengar ucapan Neville ini. “Maafkan aku atas semua perbuatanku padamu selama ini. Maaf…”

Madeline menyipitkan kedua matanya, tak percaya dan heran. Pemuda di depannya ini sedang mengigau atau apa. Bukankah selama ini Neville yang selalu menuntut permintaan maaf darinya atas apa yang sudah terjadi kepada orang tuanya? Bahkan permintaan maaf dari Madeline selalu saja tidak digubrisnya.

Jangan-jangan Longbottom baru saja tersengat tanaman beracun sampai kacau begini, pikir Madeline.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Longbottom, karena memang tidak ada yang patut untuk disalahkan,” balas Madeline lembut, mencoba tersenyum tipis.

Wajah Neville terlihat sangat lega dan balas tersenyum untuk Madeline. Meski begitu dalam benaknya masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Di antaranya kenapa dia terus-menerus memikirkan Madeline semalam? Benarkah hanya karena dia sedang didera perasaan bersalah? Atau karena ada sesuatu yang lain dalam hatinya?

Madeline yang sudah ingin enyah dari situ kembali tertegun. Banyak hal yang sedang dipikirkan Neville ini membuatnya sangat ingin tahu sekaligus terkejut.

Dia memikirkanku semalaman? Benarkah? batin Madeline heran.

“Ada apa, Neville?”

Neville mengangkat wajahnya, terkesiap. Baru kali ini Madeline memanggilnya dengan nama depan saja. Suara merdu Madeline membuatnya semakin gugup saja.

“Banyak hal… yang terus kupikirkan… tentangmu… “ jawab Neville putus-putus, rasa gugupnya bertambah parah. Sementara Madeline menatapnya dengan sorot penasaran. “Kenapa kau tidak seperti anak Slytherin lainnya?”

Madeline tersenyum mendengarnya, dan senyum ini terlihat begitu cantik di mata Neville, membuatnya terpana.

“Oh, kukira apa,” sahut Madeline kalem. “Senang kalau kau bisa menganggapku begitu, Longbottom. Aku sendiri mengira kalau selama ini aku sudah durhaka kepada orang tuaku. Bahkan sepertinya aku sudah membuktikan kalau aku ini memang durhaka, hanya saja aku tidak terlalu ingat…” sambung Madeline sambil berusaha keras mengingat kejadian semalam.

“Entahlah, kupikir aku sudah bahagia dengan diriku apa adanya. Aku tidak ingin hidup seperti kedua orangtuaku. Sudah cukup aku dan adikku dibuat sengsara karena ulah mereka. Mengikuti jejak orangtuaku pasti akan semakin menambah penderitaan kami.”

Neville terdiam. Dia belum bisa memutuskan untuk mempercayai pengakuan Madeline. Namun dia melihat ada kesungguhan yang tersimpan di balik sinar mata gadis itu. Dia merasa ada rasa simpati yang tumbuh dalam hatinya. Bisa jadi Madeline memang gadis yang baik, beda dengan adik tiri dan orangtuanya.

“Boleh aku memanggilmu Madeline?” tanya Neville agak ragu. “Selama ini aku selalu teringat banyak hal buruk dan menyakitkan setiap kali memanggilmu dengan nama belakangmu itu. Aku tidak suka nama belakangmu, maaf.”

“Jangan panggil aku Madeline!” pinta Madeline sambil sekali lagi tersenyum manis. Neville terkejut mendengar penolakan ini, namun Madeline sudah menyambung perkataannya. “Cukup Madie saja. Itu nama panggilan dari semua orang yang menyayangiku. Tapi itu kalau kau tidak keberatan sih.”

“Aku tidak keberatan, Madie. Aku juga tidak keberatan kalau kau memanggilku Neville,” tukas Neville, tersenyum simpul.

“Well, terima kasih, Neville.”

“Sama-sama, Madie.”

Saat ini masalah Draco sudah terhapus sama sekali dari ingatan Madeline, dia sudah lupa apa yang sedang dilakukan oleh sepupunya itu. Dan alih-alih kembali mengejar Draco, Madeline lebih memilih untuk berlama-lama dengan Neville. Sangat mengherankan! Bukan hanya karena selama ini dia selalu dingin kepada semua pemuda (kecuali Harry), juga karena baru beberapa menit lalu dia dan Neville terlibat perseteruan. Tapi semua sudah berubah sekarang. Mereka bisa jadi teman atau malah lebih? Siapa tahu.

Neville mungkin tidak sehebat Harry. Namun Madeline bisa melihat kalau ada sesuatu hal besar yang sedang menunggu pemuda itu dan Madeline juga tahu kalau Neville mungkin tidak tampak seperti apa yang selama ini dipikirkan banyak orang. Neville punya keberanian luar biasa, berjiwa besar dan sikap rela berkorban yang akan diperlihatkannya suatu hari nanti. Neville Longbottom pantas dikagumi banyak orang suatu hari nanti. Seperti itulah ramalan Madeline saat menelusuri garis-garis di tangan Neville saat ini. Entah sudah berapa lama mereka berduaan.

“Aku ingin mengenalmu lebih jauh, Madie,” kata Neville setengah berbisik, membiarkan jemari Madeline yang lentik bermain di telapak tangannya. “Boleh?”

Madeline tersenyum tersipu, tapi justru membuatnya terlihat semakin memesona.

“Tentu saja boleh, Neville. Karena aku juga ingin melakukannya,” balas Madeline dengan kedua pipi merona.

***

Sementara itu Draco sudah tiba di Hospital Wings. Dia hanya berdiri terpaku di ambang pintu, ragu-ragu akan masuk atau tidak. Sebagian dari hatinya sangat ingin memerintahkan kedua kakinya untuk melangkah masuk, namun sebagian yang lain menolaknya mentah-mentah. Rasanya seperti terjebak di dalam tubuh orang lain dengan dua pikiran yang bertolak belakang.

Saat Draco masih disibukkan oleh pertentangan batinnya, tanpa sengaja dia melihat sosok Ginny yang sedang menuju ke arahnya. Lekas-lekas dia bersembunyi di salah satu sudut yang sedikit terhalang lemari berisi banyak ramuan obat, menunggu sampai Ginny melewatinya.

Ginny yang tidak menyadari kehadiran Draco, terus saja berjalan menjauh, meninggalkan Hospital Wing. Sepertinya Hermione memaksanya untuk tetap mengikuti pelajaran dan meninggalkannya sendiri di bangsal. Draco sadar kalau ini berarti dia punya kesempatan untuk menemui Hermione, si Darah Lumpur yang secara misterius selalu mengusik batinnya selama ini.

Tunggu apa lagi? bisik suara dalam hati Draco. Ayo cepat! Temui dia!

Setelah menghela nafas panjang berkali-kali, akhirnya Draco memantapkan diri untuk melangkah masuk ke Hospital Wing…


Aku mau minta maap sama SIN coz kayanya pairing Neville-Hermione engga bisa aku lanjutin. Bukan coz aku ni Dramioneshipper loh (padahal iya juga sih. Hehe ^^) tapi mungkin lebih ke tuntutan crita. Lagian kok kayanya fic keroyokan ini mau ditamatin deh.
Coz aku gak ahli bikin Dramione, aku lemparin tugas ngelanjutin ke ahli Dramione ajah. Diawali Dramione, diakhiri juga dengan Dramione.
Yuk, dilanjut…! ^^

Logged


Or perhaps in Slytherin
You'll make your real friends
Those cunning folk use any means to achieve their ends
voldy_baby
Member Baru
*

Karma: +0/-0
Posts: 8


« Reply #29 on: February 10, 2010, 10:37:41 PM »

Lanjutannya biar aku aja…

Draco melangkahkan kakinya ke dalam bangsal, seluruh tempat tidur didalam St. Mungo sudah terisi penuh. Tapi pengeran kecil ini tidak mau repot-repot melemparkan pandangannya ke seluruh penjuru bangsal itu, matanya hanya tertuju pada satu orang yang selama ini selalu mengusik pikirannya. Hermione Granger tergeletak tak berdaya di salah satu tempat tidur itu, tergolek lemah tak berdaya. Kaki Draco perlahan melangkah ke arah Hermione. Rasa panas dan geram menjalari hatinya, dia ingin sekali mengutuk orang yang telah membuat Putri kesayangan Gryfinndor ini terbaring di sini. Draco duduk di samping tempat tidur Hermione, dan perlahan Draco menggenggam tangan kecilnya. Mengelus jari-jari mungilnya, jari-jari yang selama ini selalu terangkat ke atas setiap kali pertanyaan di lontarkan di dalam kelas.

Hermione mengguman tidak jelas dalam tidurnya. Draco memperat pegangan tangannya, sebelum dia mendengar lebih lanjut gumaman Hermione, “Ron,”. Draco tertegun, rasa marah kembali menguasainya. Pikirannya memaksa agar Draco segera pergi dari tempat ini, tapi tubuhnya tetap menolak. Tangannya malah lebih memperat pegangannya. “Maaf karena selama ini aku selalu mengejekmu, tapi kau harus tahu Hermione, aku melakukan ini agar kau selalu menganggapku ada. Walaupun aku harus selalu mendengar makian-makian dari bibirmu, bahasa tubuhmu yang jelas-jelas menyiratkan kebencian yang sangat dalam padaku, tapi entah kenapa aku selalu menginginkannya. Menginginkan agar kau tetap membalas penghinaan-penghinaan yang selalu ku lontarkan, agar kau tetap menganggapku ada,”

“Ron,” Gumaman Hermione semakin menjadi-jadi. “Kau mimpi buruk tentang si Weaselman itu ya?,” Draco terkekeh pelan mendengar gumaman Hermione. Sesaat tidak terdengar apapun dibalik tirai tempat Hermione di rawat. Draco mendekatkan kepalanya ke telinga Hermione, dan berbisik pelan “Maaf, tapi aku ingin kau hanya menjadi milikku seorang,” Draco kemudian mengecup kening Hermione dan mengambil tongkat sihirnya dibalik jubah sekolahnya. “Oblivate,”

***

Suasana Aula Besar tampak ramai karena anak-anak sudah turun untuk makan malam. Harry dan Ron berdiskusi tentang rencana mereka menengok Hermione. Harry mengerling Malfoy yang tampak aneh. Tentu saja aneh, selama ini Malfoy tidak pernah menyendiri, dia selalu dikelilingi anak-anak Slytherin, tapi sekarang dia terlihat duduk di sudut meja Slytherin. Malfoy tampak tenang, dan kelihatan sangat senang. Harry mengalihkan pandangannya ke anak buah Malfoy yang saling melempar makanan.

Perhatian Harry terganggu dengan teriakan Ginny yang duduk tepat disampingnya. Sesaat Harry tidak mengerti apa yang membuat Ginny juga seluruh anak-anak Gryfindor berteriak seperti melihat Trol keluar dari sarangnya, tetapi ketika ia mengikuti arah pandangan Ron yang mulutnya megap-megap seperti ikan yang terdampar di padang pasir, ia akhirnya mengerti. Hermione sudah keluar dari St. Mungo, tapi yang membuatnya berteriak seperti anak-anak Gryfindor lainnya adalah Hermione sedang bermesraan dengan Draco Malfoy. Hermione memeluk erat lengan Malfoy seperti Pansy Parkinson lakukan selama ini. Harry mengerling kearah Pansy, dan yang dilihatnya Pansy seperti ingin memberikan Kutukan Kepak Kelelawar kepada Hermione. Draco mengecup kening Hermione dan berbisik ditelinganya. Harry tidak tahu apa yang di bisikkan Malfoy yang membuat Hermione tertawa, tapi yang jelas, sikap Malfoy membuat seisi Aula Besar berteriak lebih keras lagi. Guru-guru yang tidak tahu apa yang membuat seisi penghuni Hogwarts berteriak, mengikuti arah pandang siswa-siswanya yang rata-rata melihat pasangan baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Pasangan DraMione seakan tidak menyadari pandangan melecehkan-menghina-menyetujui dari sesisi Aula Besar. Blaise Zabini ialah orang pertama yang mampu menguasai diri setelah melihat pemandangan langka ini ─sangat jelas bahwa guru-guru tidak mau repot-repot mengurusi percintaan anak muda─. Ia duduk tepat didepan Draco dengan ekspresi biasa, seakan dia sudah tahu sebelumnya apa yang terjadi. “Hai Granger, sudah keluar dari St. Mungo, uh,?”, Zabini memulai percakapan setelah seisi Aula Besar terdiam melihat sikap Zabini. Hermione tersenyum mendengar sapaan Zabini. “Sebenarnya Madam Pomfrey tidak mengizinkanku keluar hari ini, tapi aku benar-benar bosan di sana. Setiap hari dia menyuruhku minum obat yang rasanya seperti ramuan Polijus,” Zabini tersenyum mendengarnya, dia mengalihkan pandangannya ke arah Draco yang tersenyum sambil memakan sandwich, Zabini memberikan pandangan kita-harus-bicara. Draco hanya menyeringai.

Anak-anak dari seluruh asrama berangsur-angsur meninggalkan Aula Besar, dan besar kemungkinan mereka akan membahas gossip ini di asrama masing-masing. Hermione memberikan kecupan selamat malam kepada Draco dan berlalu dari Aula Besar. Dia berjalan bersama Patil bersaudara dengan senyum menghiasi wajahnya. Sementara Ron yang selama adegan tadi hanya terdiam, kini dia melangkahkan kakinya ─dibelakangnya Harry menahan lengan Ron agar Ron tidak kehilangan kendali─ “Apa yang kau lakukan kepada Hermione, Ferret,” maki Ron dengan suara yang membuat siswa-siswa yang masih berada di Aula Besar menoleh ke arah mereka. Draco hanya tersenyum sinis melihat kemarahan Ron, dia bersumpah dia melihat urat-urat berdenyut di kepala Ron sudah sampai batas limit “Kenapa Weasley? Cemburu?,” Ron maju selangkah, Harry membisikkan sesuatu ke telinga Ron, dan langsung menyeretnya keluar dari Aula Besar. “Potong sepuluh angka dari Gryfindor karena berani menghina Ketua Murid,” teriak Draco sebelum Harry dan Ron hilang dari pandangan.

Ditengah perjalanan menuju asrama Gryfindor, Ron menggerutu tidak jelas. Harry juga tidak begitu mendengarkannya, pikirannya sibuk memikirkan pasangan DraMione. “GENOLUS BUSUK,” teriak Ron ketika mereka sampai di depan lukisan Nyonya Gemuk. Kelihatan sekali Nyonya Gemuk merasa terganggu dengan teriakan Ron “Apakah kau tidak bisa sopan sedikit?,” gerutu Nyonya Gemuk. “Hei, apa benar Granger sudah jadian dengan anak dari Slytherin itu? Namanya siapa ya.. oh ya, Malfoy, Draco Malfoy,” lanjutnya dengan suara yang berubah drastis menjadi lebih lembut. “BUKA SAJA BODOH,” teriak Ron dengan lebih keras lagi. Nyonya Gemuk hanya mendengus mendengar teriakan Ron. Ketika Ron dan Harry masuk ke ruang rekreasi, Hermione sedang di hakimi oleh Ginny, Neville, Dean, dan Seamus di depan perapian. Harry dan Ron mendekat untuk ikut menghakimi Hermione. Tetapi yang dihakimi hanya duduk manis sambil sesekali tersenyum tanpa mengeluarkan suara. Ginny benar-benar menyerah dan memutuskan untuk tidur, sedangkan cowok-cowok tetap bertahan untuk menginterogasi. “Hermione, tell us! What happen? Kenapa kamu bisa sampai akur seperti tadi dengan Malfoy,” Hermione hanya mengangkat bahunya. Ron yang kesabarannya sudah tidak bisa ditahan lagi, mencengkeram bahu Hermione dan menguncangkannya, “Apa kau terkena kutukan Imperius? Dia itu musuhmu Hermione, MUSUHMU!,” teriakan Ron benar-benar membuat Hermione terkejut. Harry segera menarik tangan Ron dari bahu Hermione. “Hermione, ceritakan saja, apa yang sebenarnya terjadi?,” Dean kembali bertanya kepada Hermione, walaupun dia tahu bahwa Hermione tidak akan bicara. Tapi diluar dugaan Hermione akhirnya berbicara, “Dengar, aku tidak terkena kutukan Imperius, Ron. Aku hanya ingin melakukan apa yang ingin kulakukan. Paham?,”. “Duduk di meja Slytherin, bermesraan dengan seorang Ferret, itu maumu selama ini? Kau gila!,” kemarahan Ron benar-benar sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Hermione berdiri dengan wajah memerah saking marahnya, “Dengar Ron, sekali lagi aku mendengarmu mengejek Draco, aku tidak akan segan-segan memutuskan tali persahabatan kita. Dan apa kau ingat ketika kau bermesraan dengan Lavender? Aku tidak pernah melarangmu bukan? Aku tidak pernah melarangmu melakukan sesuatu!,” suara teriakan Hermione mengalahkan suara Ron. “Ini beda, Hermione. Dia Slytherin! Musuh Gryfindor! Kau tahu bahwa selama ini Gryfindor dan Slytherin saling bermusuhan! Apa kau ingin di benci oleh seisi penghuni Hogwarts?,” “Dumbledore menginginkan agar ke empat asrama bersatu. Kurasa Dumbledore akan sangat senang jika mengetahui kabar gembira ini. Sekarang aku mau tidur. Jangan ganggu aku,” kata Hermione dingin.

Setelah pertengkaran hebat yang terjadi ruang rekreasi semalam, hubungan Ron dan Hermione semakin buruk. Harry kembali menjadi jembatan penghubung antara mereka berdua. Hari itu anak-anak tingkatan ke tujuh Gryfindor dan Slytherin mempunyai kelas yang sama. Kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Harry sengaja memberikan Hermione sisa tempat duduk mereka, agar Ron dan Hermione bisa berbaikan. Tetapi sepertinya usahanya sia-sia, Hermione lebih memilih duduk disamping Malfoy ─setelah sebelumnya dia berhasil mengusir Pansy Parkinson dengan sadis─.

Di kelas PTIH, Severus Snape ingin menguji sejauh mana kemampuan anak-anak tingkatan tujuh dalam penggunaan mantra non verbal, setiap anak dari Gryfindor akan dipasangkan dengan satu anak dari Slytherin. Ron mendengus kesal mendengarnya, sehingga membuat Gryfindor kehilangan sepuluh angka. Harry-Blaise, Ron-Draco, Hermione-Pansy, Neville-Crabbe, Seamus-Goyle, dan beberapa anak lainnya. Draco agak khawatir mendengar pembagian itu, bukan karena ia dipasangkan dengan si rambut merah itu, ia tidak mungkin kalah darinya, tapi yang lebih membuatnya cemas adalah pasangan Hermione, Pansy. Seluruh anak-anak Slytherin tahu, bahwa semalam Pansy mengamuk dan mengancam akan bunuh diri jika Draco tidak memutuskan Hermione. Tapi, selintas di kepalanya muncul ide. “Sir, apa aku boleh berganti pasangan?,” Snape mengerutkan keningnya. “Maaf Draco, kau tidak bisa seenaknya mengganti pasanganmu. Ini sudah ditentukan, jadi jangan mengeluh,” suara dingin Snape mematahkan semangat anak-anak lain yang juga ingin berganti pasangan. Giliran pertama jatuh pada Dean dan pasangannya, tapi Draco tidak memperhatikannya, dia sibuk memainkan rambut Hermione yang hari ini dikuncir kuda. Dia memperhatikan ekspresi menjijikkan Pansy ketika mata mereka adu pandang, seakan-akan Pansy berkata aku-akan-membunuhnya. Draco bergidik, Hermione yang sejak tadi menikmati sentuhan Draco pada rambutnya, langsung menoleh ketika dengan tiba-tiba Draco menarik tangannya. “Ada apa?,” tanya Hermione heran. “Tidak apa-apa. Kau tidak khwatir dengan Pansy?,” tanya Draco sambil menyingkirkan seuntai rambut yang jatuh menutupi wajah Hermione. Hermione tersenyum menanggapi kecemasan Draco, “Kita lihat saja nanti. Kalau aku menang kau harus membelikanku es krim yang ada di Hogsmade nanti. Bagaimana?,” senyum nakal Hermione menghiasi wajah cantiknya. “Baik, tapi bagaimana kalau kau kalah?,” tanya Draco lagi. “Oh, come on Draco, aku tidak mungkin kalah darinya, aku juga tidak akan membiarkan si wajah pug itu senang karena berhasil memantraiku,”.

“Hermione Granger, Pansy Parkinson,” suara dingin Snape kembali bergema diruang bawah tanah. Hermione berdiri setelah mendengar ucapan Good Luck dari Draco. Pansy berjalan dengan angkuhnya ke depan kelas. Tongkat Hermione dan Pansy saling terancung, sudah bisa ditebak bahwa yang paling menguasai mantra non verbal adalah Hermione Granger. Wajah Pansy menyiratkan ia sangat berkonstrasi agar bisa memantrai Hermione sehingga wajahnya berubah menjadi keunguan. Diam-diam Hermione telah mengucapkan mantra pelindung beberapa detik setelah Snape memulai duel ini. Hermione tersenyum sinis melihat mulut Pansy menggumamkan mantra tetapi malah berbalik menyerang Pansy sehingga ia harus di bawa ke St. Mungo akibat banyak memuntahkan siput. Hermione kembali ketempat duduknya dengan senyum kemenangan. “Kau berhutang es krim padaku, Draco,” ucap Hermione nakal ketika dia kembali duduk.

Sisa pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam berakhir bahagia, bagi Hermione tentunya. Tapi tidak bagi Ron, Ron terkena kutukan yang membuat dia tidak bisa berhenti menggerak-gerakkan kakinya selama hampir setengah jam. Setelah pelajaran dari Snape Harry, Ron, dan Hermione masih punya pelajaran Ramuan ─Harry sanagt bersyukur Malfoy tidak akan sekelas dengan mereka lagi─. Dalam perjalanan menuju kelas Ramuan, Hermione masih saja menggandeng lengan Draco. Dibelakang mereka, Harry dan Ron dengan setia mengikuti. Harry dan Ron sempat kehilangan jejak Hermione karena Lavender yang terus merong-rong Ron, tapi mereka akhirnya menemukan Hermione dan Malfoy sedang berciuman di lorong menuju kelas Ramuan. BERCIUMAN!!. Malfoy bersandar didinding dan Hermione berada dalam pelukannya. Harry bersumpah dia melihat urat nadi kepala Ron sangat jelas. Diluar dugaan, Ron…
Logged
Pages: 1 [2] 3
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.8 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!

supported by : IndoLowonganKerja.com