harrypotterindonesia.com
July 30, 2010, 11:43:10 AM *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: Selamat datang di Forum HPI yang baru. Silahkan melakukan Registrasi untuk ikut berdiskusi di forum ini. Mari kita jaga Forum ini bersama.
 
   Home   Help Search Login Register  
Pages: 1 2 [3] 4
  Print  
Author Topic: Kompilasi One-shots  (Read 6998 times)
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #30 on: March 18, 2008, 03:58:35 AM »

Tema: Sad Ending Shortfic Love Story
Judul: It’s A Bad Ending
Rating:  G / K Suitable for most Ages
Jenis: Canon, missing scene
Sumber: Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Relikui Kematian bab 33


Kau selalu haus pengakuan. Karena sedari kecil tak pernah ada yang memberi perhatian. Kau punya ibu, tapi kau jarang mendengar pengakuan sayang darinya. Kau punya ayah tapi kau tak pernah mendengar pengakuan bangga darinya. Malah, karena ia Muggle dan kau penyihir, yang ia lakukan justru melecehkanmu, melecehkan kaummu, kaum penyihir.

Keadaan mulai berubah ketika kau berusia sembilan-sepuluh tahun. Kau menemukan seorang teman. Dia lahir dari keluarga Muggle, tapi kau menebak tepat: ia penyihir. Dan benar. Kalian menjadi akrab. Kau menunjukkan apa yang tidak ia ketahui: sekolah yang akan kalian masuki, hal-hal dan benda-benda yang ada di dunia penyihir. Dan itu membuatmu terpuaskan.

Gadis kecil tiu memberi apa yang kau inginkan: perhatian, pengakuan. Kalau ia ingin tahu sesuatu tentang dunia sihir, ia bertanya padamu. Dan biasanya kau bisa menjawab, bisa menerangkan. Kau merasa dibutuhkan. Ia bangga padamu. Ia memperhatikanmu.

Keadaan berubah lagi setelah kau masuk Hogwarts bersamanya. Dulu hanya kau yang tahu mengenai dunia sihir, dia tidak. Sekarang, kalian bersama-sama belajar. Dia mulai mencari sumber-sumber pengetahuan baru. Dan dia mulai membuka mata mengenai situasi. Sedang kau, masih memupuk peirlaku yang disebabkan oleh perilaku ayahmu: kau tergabung dalam geng Slytherin.

Kau memilih jalanmu, dia memilih jalannya.

Dia berkali-kali meminta agar mengikuti jalannya. Tapi matamu buta. Telingamu tuli. Hatimu tertutup. Kecuali bahwa kau jatuh cinta padanya, hal-hal lain di luar geng Slytherin tak masuk hitungan.

Jalan bercabang itu semakin jelas, semakin jauh. Ditambah dengan perlakuan seangkatanmu dari asrama Gryffindor, memuncakkan sudah semuanya. Kenyataan bahwa kau jatuh cinta padanya sesaat pupus oleh amarah, oleh emosi, oleh rasa tak terpuaskan, oleh rasa tak mendapat pengakuan. Dan meletuplah malapetaka itu, keluarlah kata itu. Darah-Lumpur ...

Jalan bercabang itu semakin jelas, semakin jauh.
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
harrypotterindonesia.com
« Reply #30 on: March 18, 2008, 03:58:35 AM »

 Logged
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #31 on: March 19, 2008, 05:57:38 PM »

BELATED BIRTHDAY



A/N:
1. Happy Birthday, Iputz!
2. Selamat menanti kelahiran Micha Junior, MSS, dan selamat menikmati kehamilan adiknya Naomi, Molly Halliwell!
3. Ulangtahunnya Remus Lupin adalah 10 Maret, dan Teddy Lupin menurut JKR dilahirkan di bulan April (Harry Potter dan Relikui Kematian, 674)
4. Menurut ini   bulan purnama terjadi pada 11 April 1998. Jadi ... maksa-maksain aja Tongue



Bulan April sudah sepuluh hari dilalui, tapi cuaca belum membaik. Masih dingin. Angin bertiup seolah bersekongkol dengan Kau-Tahu-Siapa: menakuti penduduk, dingin dan kencang. Seharusnya sudah masuk musim semi, tapi tumbuhan seperti malas tumbuh.

Jalan sepi, padahal hari sudah pagi sedari tadi. Biasanya manusia baru memulai kegiatan. Sedangkan sekarang, rumah-rumah tidak ada yang terbuka pintunya. Biasanya di pagi hari ibu-ibu atau gadis-gadis membuka pintu depan dan jendela, menyapu, mengelap-ngelap. Sekarang, suasananya sepi, mencekam.

Kalau diperhatikan, di sebuah rumah, di jendela depan, sering terlihat sebuah wajah. Memang tidak selalu ada. Tapi kalau ada, maka tirainya akan terlihat tersibak sebagian. Dan akan terlihat samar-samar wajah seorang wanita ...er, gadis? Mungkin wanita muda, bukan gadis, karena kalau kita menghampirinya lebih dekat, akan terlihat sosok wanita hamil. Dan dia seperti sedang menanti seseorang.

Saat ini tirai tertutup. Sedang tidak ada yang duduk di balik jendela. Tapi di jalan terlihat sesosok penyihir pria berjalan bergegas. Jubahnya dirapatkan, menghalangi dinginnya angin. Ia terlihat membawa bungkusan yang berat. Berhenti di depan rumah itu, membuka pintu pagar, masuk ke halaman, menggosok-gosokkan sepatunya di atas keset, lalu mengetuk pintu.

Belum juga selesai mengetuk, pintu sudah terbuka.

”Remus!” suara wanita itu terdengar lega. Dalam sekejap ia menarik Remus masuk, menutup pintu dan menguncinya lagi. ”Akhirnya kau pulang juga ...” tapi sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya, Remus sudah memotong.

”Kau baik-baik saja? Bayi kita baik-baik saja? Belum ada tanda-tanda, Dora? Belum kontraksi1)?”

Tonks menggelengkan kepala. Remus menghembuskan napas lega.

”Kau tahu, aku selama ini tidak bisa tenang. Inginnya sih berada di sini terus, tetapi tugas Orde ... belum lagi aku harus mengumpulkan uang untuk ...” ia menyimpan bungkusan yang ia bawa ke atas meja.

Ternyata ada beberapa bungkusan. Tonks membukanya sambil matanya menatap Remus, ”Kau tak usah memaksakan diri ... aku juga masih punya simpanan ... kau bahkan tidak ada di sini saat kau ulang ...” Tonks terpaku melihat isi bungkusan.

Ada selimut bayi. Popok. Baju-baju kecil. Toiletries. Dan bungkusan terakhir berisi beberapa buah kaleng susu.

“Aku tidak tahu apa bedanya susu ‘ibu hamil’ yang biasa kau pakai dengan susu ‘ibu menyusui’. Dengan asumsi kau sebentar lagi melahirkan, jadi aku belikan yang ‘ibu menyusui’ saja …”

Entah menangis entah tertawa, yang terlihat Tonks mengusap matanya dengan lengan baju dan menyusup ke dalam pelukan Remus.

Ada beberapa menit mereka berpelukan, tapi kemudian Tonks tersadar, “Kau belum makan? Aku siapkan makanan dulu, ya?” melepaskan diri dari pelukan dan berjalan ke dapur..

”Aku mau mandi dulu, Dora. Dan kau jangan masak, sudah saja, biar nanti aku ambil sendiri,” Remus menyusul, tapi Tonks sudah lenyap di dapur. Yang keluar dari dapur malah Andromeda.

”Sudahlah, Remus, pergilah mandi. Ada aku yang mengawasi, dia tidak akan boleh mengerjakan pekerjaan yang berat-berat.”

Dengan pandangan berterimakasih pada Andromeda, Remus pergi ke kamar mandi.

RLNT

Mereka bertiga baru saja selesai makan di malam harinya, ketika Tonks mengaduh dan memegangi perutnya.

”Ouch!”

”Dora, kenapa? Sudah terasa ya?” Remus bergegas berdiri, mendekati Tonks dan memegang perutnya.

”Sudah terasa,” Tonks terengah-engah, ”tapi baru sekali. Kata bidan Merryweather,” dia mengambil napas, ”jarak antara kontraksi satu dengan yang lainnya,” ambil napas lagi, ”kalau sudah lima menit sekali, ... ouch!” dia memegangi perutnya lagi, dan tak meneruskan ucapannya.

”Aargh!” Andromeda berdiri, ”ini sih kontraksi cepat. Nggak pakai lama-lama. Kau sudah keluar flek2)?”

Tonks mengangguk. ”Kemarin. Memangnya kenapa?”

”Kemarin sudah keluar flek dan kau tidak bilang? Ibaratnya flek itu tutup botol, kalau tutup botol sudah terbuka, flek sudah keluar, isi botol akan segera keluar juga!” Andromeda segera memasukkan tongkat sihirnya ke dalam saku.

”Biar aku saja yang menjemput bidan, ini sudah malam ...” Remus mengusulkan, tapi Andromeda mengacuhkan.

”Bawa saja Dora ke kamar, aku jemput bidan Merryweather,” dan dia ber-Disapparate.

Sepuluh menit kemudian, Tonks sudah terbaring di kamar, mengaduh tiap detik. Remus hanya bisa mengusap-usap perutnya, mulanya, tapi kemudian Tonks menjerit kesakitan, hingga Remus memindahkan elusannya ke tangan Tonks. Lalu tangan yang sedang dielus itu malah memegang erat tangan Remus, upaya menahan sakit. Jadi Remus memindahkan elusannya lagi ke kepala Tonks.

Beruntung saja Remus belum sempat bingung di mana lagi ia harus mengusap Tonks, ketika Andromeda dan bidan Merryweather ber-Apparate. Bidan Merryweather segera bertindak cepat.

“Napas, nak. Atur napas,” sahutnya, duduk di dekat Tonks dan mulai memeriksa. ”Bukaannya sudah bukaan sembilan3)! Cepat juga,” ia bergumam sambil menyiapkan alat-alatnya dengan satu ayunan tongkat.

”Ayo. Jangan membuang tenaga dengan menjerit, nak. Tarik napas. Hembuskan, Hembuskan. Hembuskan. Lagi, tarik napas. Hembuskan. Hembuskan. Hembuskan. Ya, begitu. OK, sudah bukaan sepuluh, tarik napas lagi. Hembuskan. Hembuskan. Hembuskan, ya begitu. Jangan dulu mengejan kalau belum kontraksi. Tarik napas lagi. Hembuskan. Hembuskan. Iya, ayo kita mulai mengejan, kepala tundukkan, jangan tengadah!” bidan terus membimbing.

Remus di samping Tonks, satu tangannya dicengkeram Tonks, satu tangan lagi sibuk mengusap keringat di wajah Tonks. Wajah Remus maupun Andromeda kelihatan sekali tegang.

”Kepalanya sudah kelihatan,” seru bidan, ”ayo, sekali lagi mengejan, satu, dua, tiga, dorooong! Jangan berhenti mengejan, nak. Kepalanya bisa macet di tengah jalan, sekali lagi mengejan, satu, dua, tiga, dorooooong!” Ia bersiap menerima, dan benar saja, begitu kepala bayi muncul, anggota badan yang lain meluncur dengan sendirinya ke tangan bidan. Tangisan membelah malam.

”Laki-laki! Normal, dan sehat!” umum bidan setelah sejenak memeriksa kilat bayi itu.

Tonks menghembuskan napas lega, begitu juga Remus, tapi Andromeda masih belum terlihat lega. Benar saja, Tonks terlihat tegang lagi.

”Tarik napas lagi, nak, hembus-hembus-hembus, ayo mengejan lagi, satu-dua-tigaaaa!” bimbing bidan lagi.

Kali ini rupanya lebih mudah, Tonks tidak kesakitan seperti tadi. Plasenta4) bayi meluncur mudah menyusul sang bayi, masih terhubung dengan tali ari-ari. Bidan mengarahkan tongkatnya pada tali ari-ari, mengucap sesuatu, dan tali ari-ari itu pun putus. Bidan mengarahkan tongkatnya sekali lagi, dan potongan tali ari-ari yang masih menempel di perut bayi, mendadak tertutup perban.

”Nah. Tidak usah takut, asal jaga agar tali ari-arinya tidak basah. Paling juga seminggu, akan mengering dan putus sendiri.” Sambil berkata demikian, bidan mengelap cepat bayi dengan handuk dan menelungkupkan bayi di dada Tonks. Refleks mulut bayi bergerak-gerak, dan oleh Tonks diarahkan ke payudaranya.

“Sekarang begitu ya, Merry?” tanya Andromeda takjub melihat bayi menyusu dengan lahap—padahal entah sudah ada atau belum ASIP-nya (Air Susu Ibu Penyihir)—“Tidak  dimandikan dulu?”

Bidan Merryweather menggeleng sambil terus mengayunkan tongkatnya cepat, membersihkan Tonks dari darah, mengobati lukanya5), memakaikan baju bersih.

“Itu namanya Inisiasi Menyusu Dini. Menyusu, bukan Menyusui. Karena refleks menyusu hanya ada dalam tigapuluh menit sejak dilahirkan, maka bayi dalam waktu tigapuluh menit itu dibiarkan dekat payudara ibunya, biarkan dia mencari sendiri.”

Andromeda mengangguk-angguk. ”Itu sebabnya bayi kita dulu banyak yang tidak mau menyusu ya? Makanya pakai botol ya?”

Bidan Merryweather mengangguk. Dengan sekali ayun tongkatnya bayi sudah memakai popok dan terbungkus kain flanel. ”Kalau besok ada sinar matahari, jemur dia ya. Lindungi matanya, tidak usah pakai baju. Tapi hanya kalau ada sinar matahari pagi, kalau siang sih jangan. Besok aku ke sini lagi.”

Tonks mengangguk lemah. Remus berterimakasih padanya, dan Andromeda mengantarnya sampai ke teras depan untuk ber-Disapparate.

Hanya berdua di kamar –maksudnya ber-duasetengah Tongue—Remus mencium kening Tonks dan berbisik, “Terima kasih, Dora.”

Tonks tersenyum. “Dia mirip sekali denganmu.”

Remus menggeleng, “Dia mirip denganmu.”

Keduanya berpandangan, lalu tertawa.

“Kita beri nama siapa?” Remus memandangi bayi yang tertidur lelap.

“Aku ingin mengabadikan nama ayahku,”

”Ted.” Remus menyentuh pipi halusnya, ”Teddy.”

”Teddy Remus Lupin,” sahut Tonks berseri. ”Hey, kau perhatikan?”

”Apa?” Remus mengikuti pandangan istrinya pada rambut Teddy yang tidak seberapa.

”Tadi aku yakin, warnanya hitam. Sekarang ...”

Remus membenarkan. Sekarang warnanya merah! Teddy Metamorphagus! Mendadak sekilas pikiran muncul, yang lekas-lekas ditepisnya, tatkala Andromeda masuk.

”Mum!” Tonks bergairah melapor, ”Ted Metamorphagus!”

“Ted … ah, jadi kalian sudah memberinya nama? Dan Metamorphagus? Bagaimana kau yakin?”

”Saat lahir tadi warna rambutnya hitam,” sahut Tonks.

Andromeda tersenyum, ”Dora juga berubah warna rambut hari pertama dia dilahirkan,” sahutnya mengenang.

Remus berdiri, ”Kau beristirahat saja dulu, Dora. Aku mau memberitahu Orde, mereka sudah wanti-wanti ingin diberitahu.”

“Kau tahu di mana mereka berada?” Tonks terlihat khawatir.

”Tahu. Aku tahu di mana Bill berada, dan Bill bisa memberitahu yang lain. Aku dengar, beberapa hari yang lalu, Harry dan rekan-rekannya ada di rumahnya.”

“Harry? Dia baik-baik saja?”

“Menurut apa yang kudengar, ya. Dan, hey! Menurutmu … kaupikir … apakah Harry sebaiknya kita jadikan …”

”Bapak baptisnya! Walinya! Ide yang bagus, Remus!”

Remus berseri-seri. ”Baiklah. Aku akan sampaikan itu padanya. Kau istirahatlah dulu ya?” Dikecupnya kening Tonks.

”Hati-hati!” suara Tonks dan Andromeda berbarengan saat Remus mengancingkan mantelnya dan ber-Disapparate.

RLNT

Hari berikutnya jadi hari yang sibuk. Kebetulan sinar matahari mengintip sedikit di pagi hari, jadi Ted bermandi matahari.

Sore hari Remus belajar cara menggendong bayi yang nyaman, yang entah bagaimana bisa dilakukan dengan baik oleh Tonks. Padahal dia tidak belajar dulu. Dan harus diingat juga bahwa Tonks biasanya serba canggung, segala dijatuhkan dan ditabrak. Tapi saat sedang memeluk Ted, mungkin naluri seorang ibu yang mengemuka.

Bandingkan dengan seorang bapak. Remus saja masih takut-takut saat pertama menggendongnya. Masih menggunakan Mantra Penopang. Masih takut akan bisa melukai makhluk yang rentan ini.

”Dia tidak se-rentan yang kau bayangkan,” gumam Andromeda saat menerima Teddy dari tangan Remus, ”asal kau meletakkan kepalanya di lekukan sikumu, telapak tanganmu menopang badannya, itu sudah beres. Apalagi kalau dia tidak terbangun, berarti dia nyaman di tanganmu.”

Dan Andromeda dengan asyiknya mengayun Teddy pelan-pelan. Teddy lelap di pangkuannya.

Remus perlahan-lahan masuk, duduk di ruang tengah. Melamun. Baru sadar saat tangan Tonks meremas bahunya.

”Ada apa, Remus?”

Remus menggeleng cepat-cepat. Tapi wajahnya terlihat kusut, jelas ia memikirkan sesuatu.

”Sesuatu pasti mengganggu pikiranmu. Jangan takut, kita akan bisa membesarkannya, Remus.”

Remus menggeleng lagi. ”Bukan itu.”

”Jadi?”

Remus menarik napas panjang. Dikeluarkannya kertas tebal tapi sudah sering dilipat-dibuka-dilipat-dan-dibuka lagi sehingga lusuh dan di mana-mana ada robekan. Dibukanya, dibereskan di hadapan Tonks. Tonks membacanya.

”Kalender bulan?” sedetik baru ia ingat, ”O ya. Malam ini purnama. Tapi kan, selama ini kita bisa mengatasinya? Ada ruang bawah tanah?”

”Bukan aku, Dora. Meski sulit, aku sudah menjalaninya selama berpuluh tahun. Tapi ... Ted.”

Keduanya terdiam.

Remus memecah keheningan lagi, ”Aku takut, hidup ini akan lebih kejam padanya nanti,” sahutnya lirih.

Mereka terdiam lagi. Tonks mengusap-usap rambut Remus. Tanpa suara, Remus menyandarkan kepala ke dada Tonks yang berdiri tepat di sampingnya. Kedua tangan Tonks merengkuh Remus.

Entah berapa lama. Kesunyian itu baru berakhir dengan tangisan Ted. Mungkin dia lapar.

Tonks mengambil alih Ted, membawanya ke kamar, dan menyusuinya. Remus menyusul ke kamar, duduk di sampingnya. Asyik memperhatikan Ted rakus menyusu.

Tonks menghela napas, ”Remus.”

Remus tidak menjawab, hanya menatap wajah Tonks.

”Pergilah ke ruang bawah tanah, seperti biasa.”

”Lalu ... Ted?”

”Kalaupun dia ... werewolf, kurasa aku masih akan bisa mengatasinya. Dia baru lahir. Tentu saja kekuatannya seperti cub, bayi serigala yang baru lahir. Jangan takut.”

Remus menghela napas, panjang. Malam sudah membayang. Remus mengecup kening istrinya, mengelus pipi anaknya, dan enggan ia beranjak ke ruang bawah tanah.

Semalaman ia—berujud serigala—gelisah.

RLNT

Pagi ia terbangun, sudah berujud manusia lagi, dengan rasa ingin tahu yang kuat. Bergegas ia keluar dari ruang bawah tanah, bergegas hendak mengetahui.

Tonks sedang menggendong Ted, terbalik, tanpa pakaian, hanya popok. Di bawah sinar matahari pagi.

Perlahan ia mendekatinya.

“Dora? Bagaimana?”

Tonks tersenyum lebar. “Tidak ada apa-apa. Dia Metamorphagus. Saja.”

“Kau yakin?”

“Yakin. Tadi malam, aku gendong dia di dekat jendela. Tepat di bawah sinar purnama. Dan tidak ada yang berubah, kecuali tanganku basah kena ompolnya.”

Remus menghembuskan napas lega, terduduk lemas. Dan baru ia menyadari kalimat terakhir Tonks. Ia tertawa. ”Kau diompolinya?”

Tonks ikut tertawa lebar. ”Jadi ibu memang harus siap diompoli, Sayang.”

Remus berdiri lagi, direngkuhnya Tonks berikut Ted dalam pelukannya. Hangat.

”Remus,” lirih suara Tonks.

”Hm..?”

”Aku belum mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Yang sudah lewat ... lebih dari sebulan lalu.”

“Aku tak peduli. Aku mendapat hadiah yang sangat berharga, tak jadi masalah kalau terlambat sebulan sekalipun.” Jemarinya mengelus pipi Ted, bibirnya mengusap pipi Tonks.

“Remus?”

“Hm..?”

”Pernahkah kau sadari, bahwa kalau Ted Metamorphagus sekaligus Werewolf, kita akan punya serigala berbulu pink?”

FIN



Catatan di kaki Tongue
1) kontraksi: mules-mules
2) flek: noda. Biasanya berupa darah bercampur lendir, beberapa tetes
3) bukaan dalam melahirkan ada sepuluh, bukaan satu itu selebar satu jari (1½ - 2  cm), bukaan dua selebar dua jari, dan seterusnya hingga bukaan sepuluh yang paling besar, lebarnya sepuluh jari, dan ini berarti bayi sudah siap untuk lahir
4) Plasenta: jaringan darah yang menyertai bayi. Saat bayi masih di dalam perut, plasenta berfungsi untuk meneruskan makanan dari ibu pada bayi
5) Di kaum Muggle sering ada pertanyaan pada ibu-ibu yang baru melahirkan: berapa jahitan? Untuk ibu-ibu penyihir, nampaknya luka habis melahirkan tidak dijahit tapi langsung dipulihkan dengan tongkat sihir, karena mereka tidak percaya dengan jahitan. Lihat saja kasus luka Arthur Weasley di HP5 Tongue
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
harrypotterindonesia.com
« Reply #31 on: March 19, 2008, 05:57:38 PM »

 Logged
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #32 on: May 16, 2008, 01:04:37 AM »

LUKISAN

Ia membuka selubung hitam beludru itu dan menatap benda yang ditutupi sedari tadi. Sosok dalam lukisan itu masih diam dan matanya tertutup.

“Akhirnya,” tangannya meraba bingkai lukisan itu, “setelah bertahun-tahun, nak …” ia menghela napas.

”Minerva,” lukisan di sebelah lukisan baru itu memanggilnya, ”sudah siap?”

Wanita itu mengangguk. ”Setiap saat ia bisa bangun, Albus!”

Lukisan Albus memandang ke lukisan yang baru itu dengan bangga, sebuah lukisan seorang kepala sekolah yang gelap, jubah hitam gelap, rambut hitam. Kecuali wajahnya yang putih, tetapi tidak pucat.

Dan ketika matanya akhirnya terbuka, matanya juga ternyata hitam. Hitam gelap. Mengejap-gejap membiasakan diri walau ruangan Kepala Sekolah saat itu tidak terang, temaram. Melihat ke kanan ke kiri. Akhirnya matanya terfokus pada satu-satunya makhluk hidup di ruangan ini.

”Kenapa aku ada di sini, Minerva?”

”Severus!” McGonagall menatap padanya dengan gembira. “Akhirnya. Setelah sekian lama, kami bisa menampilkanmu di sini.”

”Tetapi ... mengapa—”

”Mengapa kenapa? Kau pernah menjadi Kepala Sekolah di sini, kan?”

”Tapi aku menjadi Kepala Sekolah di sini atas perintah Pangeran Kegela—”

”Voldemort, Severus,” lukisan Dumbledore menyela.

”Pange—oh, baiklah, Vold—Voldemort. Dan bersamaku ada dua Pelahap Maut…”

“Kau menjadi Kepala Sekolah di sini atas permintaan Albus, Severus. Untuk menjamin keselamatan murid-murid. Dan ... aku minta maaf atas kejadian malam itu. Atas ketidakpercayaanku padamu, atas ... segalanya, Severus.”

Lukisan Snape memalingkan muka, ”Tidak ada yang perlu dimaafkan, Minerva.”

McGonagall tersenyum. ”Baiklah. Wizengamot memutuskan bahwa kau memang menjadi Kepala Sekolah atas permintaan Dumbledore—setelah meneliti bukti-bukti yang diajukan oleh para guru dan sejumlah murid. Dan terutama, bukti dari Harry Potter, yang aku sendiri tidak boleh melihatnya. Private Confidential.”

Lukisan Snape bergumam entah apa.

McGonagall melanjutkan, ”Berarti sekarang sudah memiliki kekuatan hukum sihir.”

”Dan mengapa bisa sampai begitu lama, Minerva?” tanya lukisan Dumbledore.

”Bukti-bukti yang diajukan banyak sekali, harus diperiksa satu persatu. Seluruh lukisan mantan Kepala Sekolah mengajukan kesaksian. Kami berempat Kepala Asrama, guru-guru lain, Filch, Hagrid. Lalu setelah ada pengakuan bahwa peri-rumah punya hak setara dengan para penyihir, seluruh peri-rumah mengajukan kesaksian. Setelah itu juga bergantian para murid. Itu memakan waktu cukup lama,” McGonagall memandang sungguh-sungguh kedua mata hitam itu.

Lalu dengan suara yang lebih pelan ia meneruskan, ”Tapi yang membuatnya menjadi sedemikian lama adalah, kami tidak punya dokumentasi tentangmu, Severus. Kami tidak punya lukisan atau fotomu dalam arsip sekolah. Jadi kami mencari dari rekan-rekanmu, tapi rata-rata mereka juga tidak punya. Kau tidak pernah difoto atau dilukis, Severus?” mata manik-manik itu menuntut sedemikian rupa.

Pelan lukisan Snape menggeleng.

”Harry kembali ke Privet Drive, menanyakan pada bibinya Petunia, kalau-kalau ia menyimpan barang-barang Lily. Di sana ditemukan fotomu berdua Lily. Tapi ... itu jauh sekali masanya dibanding masa kau ... meninggal. Kau masih anak-anak, kukira kelas tiga atau empat?”

”Kelas tiga,” ujar lukisan Snape pendek.

McGonagall memalingkan wajah sejenak, mengusap kedua ujung matanya, dan kembali memandang.

“Foto menyimpan cetak jejak subyeknya hanya sampai saat itu saja,” lukisan Dumbledore menerangkan seraya mengangguk pada McGonagall, “kalian harus mencari foto atau lukisan yang paling dekat dengan saat kematianmu. Lalu bagaimana kalian menemukan foto yang digunakan untuk dasar lukisan ini?”

”Kami akhirnya menemukan caranya,” McGonagall menjelaskan. ”Miss Granger ... maksudku Mrs Granger-Weasley yang menemukan metode ini. Mindpainting … metode kuno …”

“Ilmu yang sudah sangat tua dan nyaris tak terpakai lagi dengan ditemukannya kamera-sihir akhir-akhir ini,” ujar lukisan Dumbledore menyetujui. “Memori siapa yang digunakan untuk basis lukisan ini?”

“Memori Harry Potter, tentu saja.”

Lukisan Dumbledore mengangguk. Lukisan Snape mengeluh.

“Jadi, aku terperangkap di Kantor Kepala Sekolah ini?”

”Kenapa kau bilang kau terperangkap, Severus?” McGonagall terheran-heran.

”Kukira kau akan mengatakan bahwa lukisanku ini satu-satunya? Tidak ada lukisanku yang lain?”

McGonagall tersenyum, ”Lihatlah sendiri,” katanya pendek, lalu ia mengalihkan pandangan pada lukisan Dumbledore, ”Aku masih ada tugas bersama para guru lain. Kukira kuserahkan dia padamu, Albus?”

Lukisan Dumbledore mengedip jenaka. McGonagall berbalik dan berjalan keluar dari kantornya.

”Nah,” lukisan Dumbledore menatap lukisan baru di sebelahnya, ”Apa yang membuatmu berpikiran bahwa lukisanmu adalah satu-satunya?”

Lukisan Snape memandang lukisan Dumbledore dengan pandangan ’masa’ kau tak tahu sih’ dan akhirnya menghela napas, ”Tak ada orang yang akan dengan rela menyimpan lukisanku, apalagi memajangnya.”

Lukisan Dumbledore mengangguk. ”Baiklah. Kau mau mencobanya?”

“Mencobanya?”

“Ya. Kau lihat sendiri, ada pintu di kanan dan kirimu?”

Lukisan Snape mengangguk.

”Pintu itu tidak terlihat oleh orang yang masih hidup. Hanya kita yang bisa melihatnya. Pintu ke kiri adalah pintu untuk menjelajahi semua lukisan di Hogwarts. Kau bisa berpindah ke pigura mana saja selama pigura itu masih ada di Hogwarts. Sedangkan pintu ke kanan adalah pintu untuk berpindah ke pigura lukisanmu yang ada di luar Hogwarts. Kalau lukisanmu ini hanya satu-satunya, pintu itu tidak akan bisa dibuka.”

Terdiam, lukisan Snape mendekati pintu kanan. Seolah ragu, ia menoleh pada lukisan Dumbledore. Lukisan Dumbledore mengangguk.

Pelan dan dengan satu jari saja, lukisan Snape mendorong pintu kanan. Pintu itu bergerak.

Lukisan Snape menarik napas.

Lalu keluar dari pintu itu, tak terlihat lagi di pigura ruang Kantor Kepala Sekolah.

*****

Lukisan Snape berdiri di pigura yang tergantung tinggi bersama beberapa lukisan lain. Yang ia tahu, ada beberapa di antaranya adalah lukisan mantan Kepala Sekolah, termasuk di antaranya lukisan Dumbledore. Ia sudah biasa melihat mereka di Hogwarts.

Beberapa yang lain, ia merasa kenal tidak kenal. Mungkin ia pernah melihat foto mereka di buku Sejarah Sihir, tapi ada berapa orang yang mau menyimak pelajaran itu di kelas?

Dilihatnya ruangan yang memajang lukisannya. Besar, agung. Saat ini kosong, tapi ia yakin, bila diperlukan pasti ruangan itu akan dipenuhi kursi, atau kursi dan meja.

Ya, ini Wizengamot. Ia ingat benar saat ia diajukan ke pengadilan dan dibebaskan dengan jaminan Dumbledore.

Bagaimana fotonya bisa berada sejajar dengan para tokoh yang berada dalam buku Sejarah Sihir? Dengan para Kepala Sekolah Hogwarts terdahulu?

Lukisan Snape kembali ke pintu di piguranya di kantor Kepala Sekolah. Ragu, tapi ia ingin mencoba lagi. Setidaknya, ada berapa lukisannya yang ada di luar Hogwarts, ia ingin tahu.

Ia mencoba lagi, kali ini ia masuk ke pigura di sebuah ruangan yang megah.

Sepertinya Malfoy Mansion.

Dan rumah ini tidak sepi seperti dulu saat ia ke sana. Kecuali kalau ada pertemuan Pelahap Maut, rumah ini biasanya sepi. Maklum, rumah ini hanya dihuni tiga orang, plus pelayan-pelayan, pengawal, pengasuh anak, dan lain-lain tapi mereka tentu saja dilarang bicara kalau tidak perlu.

Sekarang ada suara tangis yang melengking, Sepertinya seorang bayi. Menilik dari tangisannya, ia sepertinya seorang bayi yang manja. Suara ibunya meminta agar dia diam, memohon-mohon. Sepertinya sang ibu sudah kewalahan.

’Anak Draco’, pikirnya. Ia tak ingin bertemu dengan Draco, setidaknya tidak untuk saat ini.

Ia kembali lagi, dan mencoba pintu lain lagi yang berada di kanan.

Ia tiba di ruangan yang tidak ia kenal. Lukisannya besar, berada di samping lukisan Dumbledore, setidaknya itu yang tertulis di bawahnya.

Sepertinya ruang kerja, karena lukisannya berada di dinding di sisi sebuah meja kerja. Jika pemiliknya sedang duduk, ia akan tepat berhadapan dengannya. Lukisan Snape mencoba mencari tahu, ia sedang berada di ruang kerja siapa.

Mengangkat kepala, dan ia segera tahu. Di dinding di seberangnya terpampang lukisan empat sosok. Potter, Black, Lupin, dan … Evans. Di bawahnya tertulis nama Lily Potter, tapi ia tetap Evans baginya. Entah disengaja atau tidak oleh pemasangnya, lukisan Potter dan lukisan Evans terpisah. Urutannya Potter, Black, Lupin, baru Lily di sisi satunya. Lukisan Snape menyeringai.

”Biar Al bersamaku, Gin, kau beristirahat saja,” suara yang sangat ia kenal mengagetkannya. Harry Potter.

Pemuda itu memasuki ruang kerja dengan menggendong seorang bayi. Menyalakan lampu. Dan terpana.

Pigura lukisan Severus Snape kini sudah ada penghuninya.

”Sir.”

”Potter,” hanya itu yang bisa ia katakan. Bagaimana lukisannya bisa berada di rumah Potter?

”Sir, saya ingin meminta maaf atas ...”

”Sudahlah. Semuanya sudah berlalu.”

Keduanya terdiam. Lalu Snape memecah kesunyian.

“Aku berterimakasih karena kau sudah memperjuangkan lukisanku di kantor Kepala Sekolah, tetapi ... itu sebenarnya tidak perlu.”

Harry bersikap serius sekali, “Itu kewajiban saya, Sir.”

Mereka terdiam lagi.

“Aku ingin tahu bagaimana mereka bisa memperoleh gambarku, Potter.”

”Harry saja, Sir. Mereka menggunakan mindpainting, Sir.”

”Minerva mengatakan itu padaku. Dari ... memorimu? Pasti citra yang jelek?”

Harry menggeleng, tersenyum. ”Justru citra terbaik yang mereka dapatkan.”

Snape mendengus. “Kapan kau melihatku dalam penampilan yang baik? Pasti citra yang negatif.”

Mindpainter-nya bilang, citra yang Anda pancarkan saat detik-detik terakhir kehidupan Anda, Sir, adalah yang terbaik.”

Pasti sangat jelek, pikir Snape. Pada saat menjelang kematiannya, kesakitan, darah mengucur dari leher ...

Harry seperti mengerti apa yang dipikirkan oleh Snape. ”Bukan jejak citra langsung yang mereka ambil, Sir. Tapi ... aura. Aura yang ada dalam diri Anda pada saat terakhir.”

Snape tak menjawab. Ia merasa ingin segera meninggalkan tempat ini. Ia bergerak berbalik, saat Harry berucap lagi.

”Sir, saya berharap Anda masih sudi singgah sewaktu-waktu ke sini...”

Bayi di tangan Harry bergerak-gerak, terjaga. Membuka mata.

Harry melihatnya, lalu mengangkat wajahnya pada lukisan. Snape mengikuti arah pandangan Harry tadi. Memandang langsung pada wajah bayi itu.

“Matanya,” katanya lirih.

Harry mengangkat bayinya agar terlihat lebih jelas. “Albus Severus Potter, kau sedang berhadapan dengan orang yang namanya kau sandang.”

Snape tak berbicara, tapi matanya nampak berkaca-kaca.

*****

Snape sudah berjalan-jalan ke banyak pigura di Hogwarts, tetapi tetap saja ada pintu baru yang belum dimasuki. Belum lagi pintu-pintu ke pigura-pigura lukisannya di luar Hogwarts. Alangkah banyak orang yang bersedia—yang cukup bodoh—untuk memajang lukisannya, rutuk Snape.

Sekarang ia sedang berkelana di Hogwarts.

Begitu ia masuk ke pigura yang ini, ia tahu ia sedang berada di mana. Rumah Kaca. Dan pigura ini adalah pigura lukisannya, ia tahu. Bukan lukisan yang lain. Tapi, untuk apa ada lukisannya di Rumah Kaca?

Bayangan lukisannya terpantul di salah satu jendela kaca, dan ia tersentak. Selama ini ia belum melihat sendiri lukisannya seperti apa. Kali ini ia melihat sendiri.

Wajah yang bersih, segar, dan tersenyum. Tidak pucat. Tidak gelap.

Citra yang terpancar di saat-saat terakhir, ia ingat Harry mengatakan itu.

Ia menghela napas—kalau lukisan bisa bernapas, bukankah mereka sudah tidak perlu bernapas lagi?

Ia melihat meja kerja yang ada di sudut. Ada foto terpampang di sana. Ia melihat lebih jelas untuk mengetahui foto siapa. Ingin tahu, siapa yang memasang lukisannya di Rumah Kaca.

Foto Frank dan Alice! Dan mereka melambai-lambai padanya!

Neville Longbottom!

FIN
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #33 on: May 16, 2008, 01:21:07 AM »

TAK SENDIRI

Disclaimer: Ambu pinjem Sabaku no Gaara dari Masashi Kishimoto, dan Severus Snape dari JK Rowling. Nanti dikembalikan kok Tongue


*****

Gaara mengejap-ngejapkan matanya. Tidak biasanya dia tertidur. Tidak .. rasanya ini bukan bangun tidur. Ini sesuatu yang lain.

Ia berusaha untuk bangkit.

Padang pasir luas terbentang. Matahari menguasai seluruh alam. Tidak, tidak seluruh alam, Gaara membatin saat ia menoleh ke belakang.

Di belakangnya alam remang seolah tak tersentuh cahaya.

Dan ada seseorang di sana. Jubah hitam, wajah pucat dengan rambut hitam membingkai. Wajahnya tanpa ekspresi.

Orang itu juga baru bangkit seperti dia. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan mendapatinya.

”Kukira aku sendiri, tak ada orang di sini,” sahutnya perlahan.

Gaara mengangguk tak tahu harus menjawab apa. Orang itu meraba lehernya, seperti merenung sejenak, sebelum ia menggumam lagi, ”Limbo.”

“Apa?” Gaara tak jelas mendengarnya.

Limbo. Alam sebelum kematian. Kau .. sudah mati kan?”

Gaara mengangguk ragu. Hal terakhir yang diingatnya adalah berusaha melindungi seluruh Suna dari ledakan bom Deidara. ”Koseisho,” sahutnya.

”Ko...?”

”Alam sebelum kematian,” ulang Gaara.

Orang itu terlihat berpikir sebelum mengambil kesimpulan, ”Kita berasal dari kebudayaan yang berbeda, bukan?”

Gaara mengangguk. ”Gaara,” sahutnya sambil mengulurkan tangan.

Orang itu ragu sejenak sebelum menyambut tangan Gaara, ”Severus Snape. Namamu … hanya Gaara?”

“Orang-orang memanggilku Sabaku no Gaara. Gaara The Sand.”

Kelihatannya Snape masih penasaran, tapi tak diteruskan pertanyaannya. Mungkin pertanyaannya terjawab dengan padang pasir yang membentang di hadapan Gaara.

“Mengapa kau tadi … mengira kau sendirian?”

Snape tidak langsung menjawab. Wajahnya sukar dipahami. Ia menghela napas, ”Mungkin .. kebiasaan. Aku terbiasa sendiri.” sahutnya pelan.

”Aku juga terbiasa sendiri,” sahut Gaara tak kalah pelan. ”Aku tak punya teman. Dulunya.”

Snape mengangguk. ”Tak punya teman. Tak ada yang bisa memahamiku. Kecuali seorang.”

Gaara memandang wajah tanpa ekspresi di hadapannya.

Snape melanjutkan, datar, ”Tapi ia kubunuh dengan tanganku sendiri.”

Gaara menundukkan kepala, ”Dulu aku juga mengira mempunyai seseorang yang bisa mengerti diriku dibanding orang lain. Tapi ... ia kemudian berusaha membunuhku,” suaranya getir teringat Yashamaru.

”Lalu .. kau membunuhnya?”

Gaara mengangguk berat.

Snape menghela napas. ”Aku ... Dumbledore, mentorku sendiri ... ia terkena racun. Ia memintaku untuk membunuhnya sebelum ia dibunuh oleh musuh-musuh kami.”

Seppuku.”

”Maaf?”

”Pembunuhan atas dasar kehormatan. Di kehidupan kami, pembunuhan seperti itu dibolehkan. Bahkan dihormati.”

Snape menggeleng. ”Tak ada dalam kebudayaan kami. Aku tentu saja dikutuk karena membunuh mentorku sendiri. Tak pernah ada yang tahu apa sebenarnya yang terjadi. Apa yang sebenarnya sedang kukerjakan.”

Padangan Gaara menyelidik, ”Kau .. seorang mata-mata?”

”Bisa dibilang begitulah. Karenanya .. aku tak punya teman.”

Gaara menghela napas juga. ”Pada mulanya aku juga tidak punya teman. Lalu aku bertemu dengan seseorang. Kami sama-sama jinchuuriki.”

”Jin... apa?”

”Dalam tubuh kami ada monster yang mengerikan. Orang-orang membenci kami, menyingkirkan kami. Aku semakin terisolasi. Itu satu-satunya cara agar penduduk desa aman dari monster yang ada dalam tubuhku. Tapi temanku ini tidak. Dia punya banyak teman,” mata Gaara menerawang. ”Dia selalu mati-matian bertarung untuk menyelamatkan teman-temannya. Ia mengatakan, teman-teman itulah yang menyelamatkannya dari kesendirian.”

Gaara duduk di tonjolan serupa batu. Snape mengikutinya, duduk di sebelahnya, tanpa bicara.

”Kau masih sangat muda,” sahut Snape pelan seperti pada dirinya sendiri, ”tapi kau sudah terlihat bijak, melampaui usiamu.”

Gaara tersenyum kecil dan menggeleng, ”Aku hanya mengulang apa kata orang. Aku beruntung punya teman yang memahami diriku.”

Mereka terdiam beberapa saat, lalu Gaara melanjutkan, ”Kalau tidak, aku akan terus membunuh orang. Menganggap aku ditakuti jika aku kuat dan bisa membunuh orang lain.”

Snape mengangguk pelan, ”Ya. Itu juga yang kulakukan sewaktu masih seusiamu.”

Mereka terdiam lagi.

”Kenapa kau mati?” Snape memecah kesunyian.

”Ada orang-orang tertentu ... Akatsuki .. menginginkan monster yang ada dalam tubuhku. Mereka berhasil menangkapku, mengeluarkan monster itu dari tubuhku.”

Snape tertawa kecil. ”Pangeran Kegelapan menginginkan Elder Wand. Anehnya, tongkat itu tidak ada padaku, tetapi Pangeran Kegelapan tetap bersikeras, kalau membunuhku berarti ia bisa memiliki tongkat itu. Aku tak mengerti.”

Serius Gaara menyahut, “Ada banyak yang tidak kita mengerti. Selama kita terus berjalan, terus berusaha mencapai cita-cita …”

“Kau sudah mencapai cita-citamu?”

“Aku sadar bahwa dengan membunuh, banyak orang takut padaku. Tapi hanya takut. Mereka tidak menghormatiku. Mereka tidak menganggap aku bagian dari mereka. Jadi aku bercita-cita menjadi Kazekage. Pemimpin desa Suna.”

“Dan .. sudah tercapai?”

Gaara mengangguk.

Snape memandang Gaara. Tak seperti biasanya, kagum tak tersembunyikan. “Dalam usiamu ini …”

Gaara menggeleng. “Aku belum tahu apakah aku memang bisa dihormati oleh penduduk desa. Apakah aku bisa menjadi bagian dari mereka…”

Snape menggeleng. “Di sekitar usiamu, aku baru masuk Pelahap Maut. Suka membunuh, menakuti orang, teror ... Hanya menginginkan pengakuan bahwa aku lebih dari yang lain. Bahwa aku patut ditakuti.”

”Padahal membuatmu ditakuti, tidak membuatmu nyaman.”

”Padahal membuatku ditakuti tidak membuatku merasa nyaman,” ulang Snape menyetujui. ”Satu peristiwa membuatku berbalik haluan. Hanya Dumbledore yang tahu. Dia yang membuatku menjadi mata-mata seperti ini. Orang-orang lain ... tidak tahu berada di pihak mana aku berada.”

Gaara mengangguk, ”Tak akan banyak yang mengetahui. Paling tidak, kau sendiri mengetahui kau berada di jalan yang benar.”

Lama Snape baru mengangguk. ”Ya.”

Dan mereka berdua terdiam.

Tak ada bunyi bahkan semilir angin pun.

Tapi Gaara tiba-tiba waspada. Ia mendengar-dengar.

“Ada apa?” Snape bertanya.

“Seseorang memanggil namaku. Dari alamku yang kutinggalkan.”

Snape mengangguk maklum. “Kau belum mati. Atau seseorang menghidupkanmu lagi.”

Gaara berdiri. Waspada ke suatu arah.

Snape tiba-tiba mengangkat kepala, tersentak, ke arah yang lain, terpaku.

“Ada apa?” Gaara mengikuti pandangan Snape, tapi ia tidak melihat apa-apa. Gelap di sebelah sana. “Kau melihat apa?”

“Cahaya. Aku melihat cahaya,” kata-kata Snape penuh harap.

Gaara masih tak mengerti. Snape memandangnya, ”Aku harus terus, Gaara. Kau harus kembali. Kita berpisah jalan.”

Gaara mengangguk. Snape mengulurkan tangan, ”Mudah-mudahan kita masih bisa bertemu lagi di suatu waktu, di masa yang akan datang.”

”Mudah-mudahan,” Gaara menyambut tangan Snape.

*****

Gaara berbalik, menyongsong arah suara yang ia dengar. Suara yang sangat ia kenal. Suara ... Naruto?

Sosok-sosok mereka mulai jelas.

Naruto. Sakura dengan seseorang di pangkuannya. Nenek Chiyo? Temari. Kankuro. Bahkan Rock Lee. Guru Kakashi. Nyaris semua shinobi dari Suna

Alangkah banyak yang mengkhawatirkan dirinya.

Ternyata ia tak sendiri.

Gaara baru tahu itu.

*****

Snape berdiri menyongsong cahaya yang ia lihat. Alamnya yang temaram tadi, kini semakin terang. Mulai jelas.

Ada sosok-sosok yang menanti dengan senyum terkembang.

Dumbledore. Lily. James. Bahkan Sirius. Remus. Mad Eye.

Alangkah banyak yang menyambutnya.

Ternyata ia tak sendiri.

Snape baru tahu itu.

FIN

A/N:
1. Agak canggung juga, karena Ambu nggak menguasai bahan. Jujur, iri pada FF-FF Narutonya Iputz dan Muscat (melirik kesel pada keduanya) Tongue
2. Lalu, agak bingung juga memikirkan siapa duluan yang memulai percakapan, Gaara atau Severus, karena dua-duanya diem sih biasanya.
3. Waktu penulisan: Gaara di chapter 279 (atau 280 ya? Hihi) dan Snape setelah bab 32 buku 7.
4. Ceritanya jadi memper-memper JATO ya?Hihi..
5. Jadi ragu sendiri, apa mengulurkan tangan/menjabat tangan itu biasa di Jepang? Bukannya lebih biasa membungkukkan badan? Emang sih Gaara menjabat tangannya Naruto, tapi ... yasuw Tongue Trus Seppuku, itu kan kebiasaan samurai ya? Bukan kebiasaan ninja? Hihi, salah lagi Tongue
6. Juga dipersembahkan pada mereka yang ulangtahunnya sama: Myu dengan Severus, GunZ dengan Gaara Tongue juga untuk Lily Kusanagi, penggemar FF yang cuma mau baca aja nggak mau review (ditakol, hihi)


Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #34 on: June 20, 2008, 03:25:20 AM »

DETENSI



Pagi masih menyisakan kabut menggantung ketika matahari samar berhasil menembuskan secercah cahaya memberi isyarat bahwa ia sudah naik cukup tinggi. Hari sudah cukup siang walau suhu masih dingin.

Langkah Harry ringan menapaki pelataran. Ia sendiri. Pertama kali ia sendiri di sini sejak berminggu-minggu sudah kini. Sejak Perang Besar bulan Juni lalu. Sekarang akhir Agustus. September menjelang.

Harry dan teman-temannya memutuskan untuk melanjutkan studi September nanti. Mungkin itu juga sebabnya pelataran pemakaman kini sepi. Semua mempersiapkan diri untuk esok hari, 1 September.

Harry menghentikan langkahnya tepat di depan dua buah makam. Makam terdepan dari beberapa puluh lain yang berjejer dalam kebisuan, dalam dinginnya kabut. Makam yang satu, pualam putih sudah terlebih dulu ada. Makam yang satu lagi, eboni hitam mengilap.

Seperti biasa, ia berlutut di depan kedua makam. Kilasan kenangan bergantian menampakkan diri di memorinya. Hampir tiap hari ia datang ke sini, memori yang sama ataupun yang baru silih bergantian membuatnya tak pernah lupa.

Biasanya ia tak pernah sendiri. Selalu ada yang berziarah. Apakah kawan-kawannya, Hermione, Ron, Ginny, Neville, Luna ... rekan-rekan Laskar Dumbledore ... murid-murid maupun alumni Hogwarts, sekali dua kali bahkan Draco Malfoy berlutut di sampingnya dalam diam, saling memaklumi. Anggota Orde. Anggota Auror. Tentu saja juga para guru, jangan lupakan juga para peri rumah dan para hantu.

Kali ini Harry sendiri.

Ia mengubah duduknya, bersila. Tak bosan-bosan ia menggali kembali memori, semua yang mengandung misteri terpecahkan kini. Kedua mentornya, walau yang satu selama hidupnya tak pernah ia sudi memanggilnya mentor—Profesor. Kini ia baru mengakui, betapa banyak pelajaran yang ia dapat.

Harry mengangkat kepalanya dari posisi menunduk tadi.

Dan mendadak ia terperangah.

Dari kelamnya makam eboni dan temaramnya latar berkabut, dari malasnya mentari menampakkan diri, nampak jelas seberkas—pada mulanya seberkas asap nampaknya, tetapi lama kelamaan seperti menjadi sesosok bayangan, putih agak keabuan atau mungkin keperakan, dan mengilap.

Sosok yang sangat ia kenal. Yang ia kenal dengan kesalahpahaman, pikirnya penuh sesal.

”Sir?” lirih ia berusaha menyapa.

Sosok itu menyeringai, ”Potter.”

Harry menelan ludah. Mengapa sekarang? Apakah sosok itu menunggu sampai Harry seorang diri baru kemudian mewujud?

Terperangah Harry melihat sosok itu mengangguk. ”Ya. Sulit juga mengharap kau datang seorang diri ke sini.”

”Ba-bagai-bagaimana...”

Seringainya terlihat jelas lagi, ”Bagaimana aku bisa membaca apa yang kaupikirkan? Potter, itu salah satu cara kami berkomunikasi.”

Perlu waktu beberapa detik sebelum Harry mengerti.

Tapi kemudian ia mengucapkan juga apa yang menjadi ganjalan selama beberapa minggu ini.

”Sir, saya mohon maaf...”

”Aku tahu, Potter. Itu yang selalu kau pikirkan tiap kali kau datang ke sini.”

Harry menatapnya lama.

”Baiklah. Supaya kau merasa lega. Permohonan maaf diterima. Selesai.”

”I-itu saja?”

”Tentu. Memangnya apalagi yang kau inginkan?”

”Tidakkah ... Anda merasa ...”

”Potter, aku sudah mati. Dan aku tidak ingin membawa-bawa dendam ke alam lain.”

Harry menghembuskan napas. Lega. Seperti ada beban yang diturunkan dari punggungnya.

”Te-terimakasih, Sir.”

Sosok itu hanya mendengus.

”Sebetulnya ada yang ingin kubicarakan denganmu, Potter.”

”Harry saja, Sir.”

Ia menghela napas (lagi-lagi pertanyaan: apakah hantu bernapas?). ”Baiklah. Harry.”

Harry menyeringai. ”Itu lebih baik, Sir. Ada apakah gerangan?”

“Order of Merlin, Kelas Satu. Aku merasa … tak pantas.”

“Itu keputusan Wizengamot.”

“Tentu dengan intervensimu.”

“Eh—ya—cuma sedikit kok,” Harry nyengir.

”Harry,” wajahnya serius, ”apa yang kulakukan, semua yang kulakukan, motifnya pribadi. Tak pantas mendapat penghargaan apapun.”

Entah mendapat dorongan apa, Harry dengan berani membalas, ”Saya ingat sebuah peristiwa di Tahun Ketiga. Di mana ada seseorang nyaris mendapat Order of Merlin, Kelas Kedua. Dan ia merasa tidak diperlakukan adil dengan lepasnya kemungkinan mendapatkannya.”

Kalaulah sosok itu manusia, tentulah ia sudah bersemu merah.

”Itu ... mungkin sebuah kesalahpahaman saja.”

Harry menyembunyikan senyumnya dengan menunduk.

“Jadi, Sir, terima saja. Disertai permohonan maaf dari saya dan Sirius karena … Anda tidak mendapatkannya di Tahun Ketiga saya itu.”

Sosok itu memalingkan muka.

Harry merasa mendapat dorongan keberanian.

“Sir, maaf kalau … saya terlalu ingin tahu.”

”Tanyakan saja.”

”Dari apa yang saya tahu,” Harry tak menyebut-nyebut Nick Si Kepala Nyaris Putus sebagai sumber informasi, ”Seseorang bisa menjadi hantu kalau ...”

”... kalau ada sesuatu yang belum terselesaikan. Aku tidak akan menjadi hantu untuk selama-lamanya, Harry, hanya medali itu masalahnya.”

Harry menatapnya lama, ”Tapi Anda belum juga memudar. Alih-alih malah semakin nyata.”

Selama hidupnya sosok itu belum pernah terlihat memasang raut wajah bingung seperti sekarang. Setelah beberapa menit baru ia lirih berujar, ”Mungkin ... mungkin ada sesuatu yang harus kuselesaikan, tapi tidak kutahu?”

Harry menunduk, takut-takut menyahut. ”Di Tahun Keenam,” Harry menelan ludah, ”Anda memberi saya detensi—membereskan kartu-kartu arsip catatan pelanggaran. Dan jika saya tidak bisa menyelesaikan semuanya di akhir semester, akan dilanjutkan lagi di tahun ajaran berikutnya.”

”Dan kau ... belum menyelesaikannya.”

”Dan saya belum menyelesaikannya,” Harry mengangguk.

Agak lama sebelum sosok itu berujar, ”Baiklah. Setiap Sabtu pagi, jam sepuluh. Di kantorku, jika masih belum ada yang memakainya sebagai gudang.”

Harry berseri-seri.

*****

“Sabtu-Sabtu begini, kau mau ke mana, Harry?” Ron memindahkan setumpuk sosis ke piringnya lalu menuangkan saus tomat banyak-banyak.

”Detensi,” jawab Harry pendek, menghabiskan telur orak-arik di hadapannya, lalu mengosongkan piala jus labu kuningnya.

”Detensi?” ulang Hermione, tak percaya, ”Siapa yang memberimu detensi? Sekolah bahkan baru mulai seminggu. Dan … rasanya tak ada guru yang memberimu detensi?”

“Ada,” jawab Harry singkat lagi, “Sudah ya! Aku harus cepat-cepat, nanti kesiangan.”

”Hey Harry! Mau ke mana?” Hermione masih setengah memaksa ingin tahu.

”Ruang bawah tanah.”

Hermione dan Ron saling berpandangan, bertanya-tanya dalam hati masing-masing. Pelan-pelan Hermione menyuarakan pikirannya, “Detensi? Ruang bawah tanah? Apa mungkin … Snape?”

*****

Harry memasukkan kunci yang didapatnya dari Profesor McGonagall—Kepala Sekolah—dan memutarnya dua kali. Pintu terbuka tanpa suara. Engselnya rupanya selalu diminyaki. Ruangannya juga seperti yang selalu dirawat.

Dalam temaram ruang tanpa lampu Harry bisa lebih jelas melihat sosok keperakan itu duduk di kursi kerjanya.

“Kau tepat waktu.”

“Ya, Sir.”

“Nyalakanlah lampu kalau kau mau.”

Harry sebenarnya lebih suka kalau ia tidak harus menyalakan lampu. Dengan suasana gelap ia lebih jelas melihatnya. Tapi ia sudah berdalih mengerjakan kartu arsip, dan untuk itu tentulah ia memerlukan cahaya.

”Sampai kotak yang mana kita tahun lalu? Kita hanya punya waktu setahun hingga ... kau lulus.”

Harry tersentak. Ia hanya punya waktu setahun hingga ia menyelesaikan pekerjaannya. Tepatnya, sepuluh bulan.

Sepuluh bulan yang sangat berharga.

*****

Sekarang Ron dan Hermione sudah terbiasa dengan ketidakhadiran Harry di Sabtu pagi. Sehabis sarapan biasanya ia bergegas ke ruang bawah tanah.

Tugasnya membereskan kartu catatan pelanggaran, tapi ia berusaha mendapatkan lebih dari itu. Terutama ... informasi tentang ibunya. Apapun yang dikatakan Snape, cukup berharga baginya, tak tergantikan oleh waktu latihan Quidditch. Ramuan, Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, apapun.

Sampai sekarang.

Hari ini nyaris selesai kartu-kartu pelanggaran itu diarsipkan. Lusa, Harry akan mulai mengerjakan ujian NEWT-nya.

”Jadi ... waktuku sudah hampir habis?”

Harry meletakkan pena bulunya. ”Ya,” enggan ia menjawab.

Snape mengangguk. ”Itu sebabnya aku melihatmu menulis lambat-lambat, seolah kau tak ingin cepat selesai?”

”...Ya.”

Snape memandang lama pada kepala Harry yang tertunduk.

”Tapi kau juga tahu bahwa ini pasti akan berakhir, Harry.”

Harry menghela napas, memberanikan diri mengangkat wajah, dan pandangannya terkunci. Alangkah senangnya jika bisa punya hubungan seperti saat ini semenjak mereka bertemu. Hubungan tanpa prasangka, murni hubungan guru-murid. Sekarang saja dalam sepuluh bulan, ilmu yang diperoleh Harry sudah berlipat jika dibandingkan dengan enam tahun lamanya ia bersekolah sebelumnya.

”Hanya tinggal satu kalimat lagi, Sir.”

Snape mengangguk. ”Aku juga sudah merasakan mulai memudar, Harry.”

Pelan Harry mengangguk.

”Tapi kau tidak akan membiarkanku seperti ini kan?”

Harry menggeleng ragu, tak tahu harus berkata apa.

”Ayahmu meninggal, sedikit banyak itu salahku. Black, ada andilku juga, Dumbledore...”

”Sir,” Harry bergegas memotong, ”Saya tahu itu bukan salah Anda…”

“Pada dasarnya …” lirih suara Snape, “akulah yang membunuh semua citra ayah—father figure—yang kau punyai. Bahkan juga … Dumbledore.”

Agak lama baru Harry menjawab, “Dan satu lagi.”

“Satu lagi?” Snape tak menyembunyikan keheranannya.

”Jika Anda pergi, pergi juga satu yang tersisa dari citra ayah yang saya punyai, Sir.”

Kali ini Snape yang terdiam. Dan kalau Harry jeli, dia akan menemukan cercahan mengilap di ujung mata Snape, buyar tatkala ia mengejap.

”Harry,” suaranya agak parau saat ia akhirnya memecah kesunyian, ”kurasa ... kurasa kau harus sudah kuanggap dewasa kini. Kau ... tidak boleh bersandar lagi pada citra ayah seperti masa-masa kemarin.”

Harry mengangguk. ”Kurasa .. memang demikian.”

Dengan lambaian tangan Snape membuka laci mejanya, dan dengan energi yang masih tersisa dalam sosok spiritnya, ia mengeluarkan sebuah kunci. Sepertinya logam yang cukup berat, hitam, berkesan kuno, menggesernya ke arah Harry.

“Koleksi buku-bukuku sudah aku wariskan pada Perpustakaan Hogwarts. Tapi yang koleksi yang ini, kuwariskan padamu. Aku percaya, kau akan kuat membacanya, tanpa tergoda untuk menjadi Dark. Periksa dinding di sebelah bekas tempat tidurku di sini.”

Harry memandang kunci itu tanpa menyentuhnya, malah balik bertanya, ”Mengapa, Sir?”

”Kalau kau nanti jadi Auror,” Snape menatapnya bersungguh-sungguh, ”kau harus selalu bersiaga. Kejahatan akan sealu ada. Kejahatan tidak akan terhenti dengan matinya Pange—V—Voldemort,” Snape berusaha tak berjengit. ”Mungkin .. kau bahkan nanti harus menangani kejahatan yang lebih keji lagi.”

Harry mengangguk. Dengan berat hati diambilnya kunci itu, hati-hati diselipkan di sakunya. “Terimakasih, Sir.”

“Laksanakanlah.”

Menghela napas, Harry meraih pena bulunya, mencelupkannya ke dalam tinta, tapi pena itu terhenti di udara, “Sir, sampaikan salam saya pada Dumbledore, Dad, Mum,” Harry ragu sejenak tapi dilanjutkannya juga, “Sirius, Remus, Tonks, Mad Eye…”

Snape mengangguk. “Jika aku bertemu dengan mereka, akan kusampaikan.”

”Dan, terimakasih untuk semuanya ...” Harry tak melanjutkan, tetapi nampaknya Snape sudah mengerti. Ia menjulurkan tangannya, mengusap kepala Harry perlahan. Seperti diguyur air es di kepala, tetapi terasa hangat menyelinap di hati.

Kalimat terakhir di kartu diselesaikan Harry pelan-pelan tanpa dilihat. Matanya tak putus memandang sosok memudar di hadapannya. Pandangannya yang teduh terakhir terlihat Harry saat ia membubuhkan titik.

Sosok itu lenyap.

FIN
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #35 on: November 14, 2008, 02:38:52 AM »

UNTUK MENGHORMATIMU


Disclaimer: Hermione Granger dan Severus Snape milik JK Rowling. Tidak, tidak, sama sekali tidak ada roman di sini, hanya rasa seorang murid pada gurunya. Lagian Snape-nya nggak muncul. Lebih banyak Madam Pince dan McGonagall...

Kado ulang tahun untuk Madam Lumos yang sangaaat terlambat sekali Tongue




Plop!

Beberapa sosok ber-Apparate di dekat jembatan. Langkah pasti menuju sebuah rumah. Lokasi Muggle memang, tapi ini kepunyaan penyihir. Tadinya kepunyaan seorang penyihir.

Seorang di antara mereka berjalan duluan, seorang wanita, dan seolah tak percaya.

”Beliau tinggal di sini?” ia memandang tak percaya pada lingkungan sekitar, pada sungai yang kotor, pada bekas pabrik dekat sana.

Rekan-rekannya tak menjawab. Sama saja, mereka juga tidak mengetahui. Hanya bertindak berdasarkan petunjuk. Salah satu menjawab.

”Kalau menurut alamat dari Kementrian—yang kukira mendapatkannya dari catatan Hogwarts, memang di sini.”

Mereka terdiam sampai tiba di depan pintunya, dan mencoba membukanya, ”Alohomora!”

Si wanita menyentuh pintunya, dan ternyata terbuka. Mereka masuk sambil terbatuk-batuk. Debu mengepul.

”Kukira ... memang ini tempat tinggalnya,” sahut si wanita itu, melihat sebuah meja kerja, sebuah amplop di atasnya dengan tujuan: Severus Snape, Spinner’s End

Diambilnya amplop itu. Berperangko. Tanda ini surat dari seorang Muggle. Bukan! Bukan seorang! Ada kop suratnya, sebuah universitas ternama di Inggris. Dengan sedikit rasa bersalah, dibukanya, dikeluarkannya surat di dalamnya.

Surat pemberitahuan pemuatan sebuah artikel di jurnal Ars Pharmatica, jurnal berkala tiga bulan sekali dari fakultas Farmasi sebuah universitas.

”Miss Granger?” penyihir-penyihir yang tadi bersamanya adalah petugas dari Kementrian, menyapanya.

“Oh, ya ..” sejenak ia melupakan tugasnya. Hogwarts menugaskannya untuk membantu petugas Kementrian. Surat wasiat Severus Snape menyatakan bahwa seluruh koleksi bukunya dihibahkan pada perpustakaan Hogwarts, kecuali satu buku untuk Harry. Dengan kehidupannya sebagai mata-mata, tentu saja akan banyak buku yang harus masuk ke dalam kategori Restricted. Hermione ada di sini untuk membantu Madam Pince—baru akan datang nanti siang—mengkategorikan buku-buku. Disaksikan oleh para petugas dari Kementrian tentu saja.

Hermione berjalan ke arah yang ditunjuk petugas tadi. Ada sebuah kamar, penuh dengan buku. Di lemari-lemari dindingnya, di meja, di mana-mana. Lalu ada sebuah kamar yang tingkap penutupnya—mungkin dimaksudkan sebagai pintu—difungsikan juga untuk lemari buku.

Hermione menghela napas. Kalau saja ia bisa berteman dengan profesor ini, alangkah senangnya melihat koleksi buku seperti ini. Alangkah senangnya kalau bisa berdiskusi dengannya. Kalau saja tak pernah ada kecurigaan itu, alangkah senangnya bisa diajar olehnya ...

Ia menghela napas lagi. Dihampirinya sebuah lemari. Dibacanya sekilas judul-judulnya. ”Restricted,” gumamnya, dan buku-buku itu melayang kemudian menumpuk sendiri di sebuah sudut. Dihampirinya lemari berikutnya, seperti tadi lagi dibaca judulnya, ”Kategori biasa.” Buku-buku yang ini melayang ke sudut yang berbeda.

Hermione melangkah ke lemari yang lain. Di sini bukan buku, sepertinya jurnal karena lebih tipis, dan tak terbaca judulnya dengan posisi berdiri begitu. Ditariknya sebuah, dan memang benar ternyata, sebuah jurnal, Potion Today. Ada kertas—mungkin maksudnya pembatas buku—terselip di jurnal itu.

Hermione membuka tepat pada halaman yang ditunjuk. Sebuah artikel tentang penyimpanan Darah Unicorn agar manfaatnya tetap optimal. Penulisnya, Severus Snape.

Jadi, selain dia pintar, pandai membuat Ramuan, dan entah apa lagi kepakarannya, dia juga menulis?

Dikeluarkannya beberapa jurnal lagi dari deretan tersebut. Semuanya memakai pembatas seperti tadi. Dan saat dibuka, memang semua tulisan Profesor Snape. Tersusun rapi menurut tanggal terbitnya. Hermione membuka satu demi satu, dan tertegun melihat bahwa Profesor Snape merupakan kontributor tetap jurnal itu. Bisa dibilang begitu, karena nyaris setiap nomor berisi tulisannya.

Tapi … itu baru Potion Today. Masih ada lagi jurnal-jurnal lain. Hermione membuka satu demi satu jurnal di situ. Ada jurnal Herbologi. Bahkan ada satu jurnal Astronomi, Hermione membacanya dengan kagum. Bagaimana Profesor Snape melihat dengan jeli bahwa Astronomi bisa berperan dalam menumbuhkan tanaman-tanaman tertentu hingga bisa diambil khasiatnya.

Ada juga beberapa jurnal yang tidak berisi tulisannya. Tak ada pembatas bukunya. Tapi setelah dibolak-balik, ternyata berisi tulisan Profesor Dumbledore. Juga ada koleksinya yang berisi tulisan Profesor Flitwick, Profesor McGonagall, sampai Profesor Sinistra. Setengah tersenyum Hermione lega karena tidak menemukan tulisan Gilderoy Lockhart di sini, tapi ada rasa senang di hatinya melihat sebuah tulisan, ditulis oleh orang yang namanya tak dikenal, dan diberi catatan. Tulisan tangan Profesor Snape, Hermione hapal betul, yang menyatakan bahwa nama itu adalah nama samaran dari Remus Lupin.

Tapi itu belum cukup. Setelah lemari demi lemari dijelajahinya, ada lagi sebuah lemari penuh dengan jurnal. Hermione menarik sebuah, dan membaca judulnya.

Ini ... jurnal Muggle? Ada beberapa nama Universitas yang ia sangat kenal. Cepat-cepat dilihatnya lagi, ya, ada pembatas bukunya. Berarti ... ada tulisan Profesor Snape di situ? Dibukanya dengan tak sabar. Memang ada. Bahasannya juga ilmiah, tak kalah dengan tulisan-tulisan lainnya.

Hermione terduduk, membacanya lebih jauh. Lalu tercenung.

 Ada sisi lain dari gurunya yang tidak ia kenal. Yang tidak ia tahu.

PLOP!

Madam Pince muncul. “Bagaimana, Miss Granger?”

“Sudah hampir semuanya selesai, Madam.” Hermione berdiri, memperlihatkan tumpukan buku yang sudah rapi. “Sebaiknya Anda memeriksa lagi, mungkin saja saya tadi salah meng-kategorikannya.”

”Hm. Hm.” Madam Pince memperhatikan selewat tumpukan demi tumpukan. ”Kurasa sudah benar. Kategori Restricted dan kategori biasa, sudah tepat. Sisanya?”

”Sisanya, masih banyak jurnal, Madam. Kebanyakan tulisan Profesor Snape. Kukira ... masuk kategori biasa saja, Madam.”

”Oke.”

”Belum selesai semua, Madam, masih ada satu lemari lagi, jurnal semua. Tapi ... jurnal Muggle,” Hermione memandang Madam Pince.

”Severus menulis untuk jurnal Muggle?” Bahkan Madam Pince juga keheranan.

Hermione mengangguk. ”Apakah ... apakah akan disimpan di Hogwarts juga?”

Madam Pince mengangguk. “Tentu. Kau saja yang menyortirnya.”

”Sudah rapi, Madam, sudah menurut judul dan tanggal.”

“Oke, aku siapkan tempat dulu di Hogwarts, setelah siap, aku beritahu agar bisa dipindahkan segera.”

“Baik, Madam.”

Madam Pince lenyap sehalus seperti datangnya.

Hermione meneruskan menyortir, membacanya. Walau sudah berurut nomer terbitnya, tetap ada rasa ingin tahu membaca isinya. Bagaimana seorang penyihir—walau guru—bisa menulis untuk jurnal akademis Muggle? Hermione tak habis kagum.

Terus ia menelusuri sampai sebuah deretan.

Ini ... bukan jurnal akademi.

Hermione menarik sebuah. Isinya fiksi. Ada puisi, ada fiksi berupa cerita pendek, ada cerita bersambung, dan ada juga essay berikut analisis sastra. Penasaran Hermione melihat, ada pembatas buku juga di situ. Berarti ... Profesor Snape menulis fiksi?

Cepat ia membuka halaman yang ditunjuk oleh pembatas.

Nama yang tertera bukan Severus Snape.

Ada rasa kecewa. Entah kenapa, tapi keinginannya adalah melihat nama gurunya di situ. Supaya lengkap, beliau menjadi penulis segala bisa, harapnya. Lemas, ditutupnya kembali periodikal ini.

Tapi ... kalau begitu, untuk apa ada pembatas buku? Tadi juga ada jurnal yang memuat tulisan Profesor Dumbledore, Profesor Flitwick, dan sebagainya, semua tak diberi pembatas buku.

Dibukanya lagi periodikal ini. Dibaca dengan rasa ingin tahu nama penulisnya. Perseus Evans.

Evans?

Ini bukan ... nama ibunya Harry?

Penasaran, dibacanya fiksi itu. Plot rapi, deskripsi tertata. Persis saja seperti gaya menulis Profesor Snape. Jangan-jangan … Hermione mencoba mengurai namanya. Siapa tahu, itu nama samaran? Anagram? Ditulisnya di atas secarik kertas, dan diotak-atik. Sekejap saja sudah tertebak. Jumlah huruf pas, huruf S ada tiga, ada huruf v, ada huruf ... yak, ada semuanya. Hermione tersenyum sedih.

Bahkan dalam menulis nama samaran pun, tak bisa jauh dari nama Evans.

Dibukanya periodikal yang lain, yang lain lagi, lagi, dan lagi. Hermione merasa seperti tersayat-sayat. Fiksi buatan Profes ... maksudnya Perseus Evans ini bagus, unik, kadang malah hal yang biasa dipandang dari sudut yang lain sehingga jadi tak biasa. Tapi ... semua satu nada.

Angst.

Hanya satu yang benar-benar dia ingin lakukan saat ini.

Hermione menutup periodikal itu, dan berdiri. “Mr William, ini sudah selesai saya kategorikan semuanya. Kalau sudah ada tanda dari Madam Pince, silakan pindahkan ke Hogwarts. Saya ada urusan sebentar.”

”Baik, Miss Granger,” kata petugas yang dipanggil Mr William itu.

*****

“Kau pikir akan banyak peminatnya?” Profesor McGonagall duduk di kursi di belakang meja Kepala Sekolah yang sekarang bertaplak kotak-kotak.

Hermione tersenyum, “Sepertinya sih … tidak akan banyak. Tapi, kita harus memulai walau sedikit, kan?”

Profesor McGonagall balas tersenyum, ”Untuk jadi akademisi ... selain banyak membaca, kita juga harus banyak menulis. Membagi pengetahuan pada yang lain. Kukira … Klub Menulis bisa dibuka. Fiksi atau Non-Fiksi?”

”Dua-duanya,” sahut Hermione mantap. ”Seseorang tidak bisa hidup hanya dengan rasio. Ia juga harus punya emosi.”

Profesor McGonagall melihat Hermione dengan kagum, ”Dan … dari siapa kau berguru sampai kau bisa mengatakan demikian?”

”Anda tidak akan percaya,” sahut Hermione, ”... dari Profesor Snape.”

FIN



AN:
Euh, kenapa jadi begini? Hihi … dipaksakan selesai sih, biar bisa jadi persembahan terakhir sebelum hiatus. Dipersembahkan pada Madam Lumos, sebetulnya ada FF lain yang mau dijadikan birthday fic, tapi nggak selesai-selesai, jadi ini aja, udah telat banget lagi Tongue Juga dipersembahkan pada Illyria Pffyffin, dan semua NaNoers tahun ini, sayang sekali Ambu nggak bisa terus ikutan. Tahun depan harus! Semangat!
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #36 on: January 09, 2009, 12:36:11 AM »

ERISED STRA EHRU



Happy Birthday Severus Snape!
Happy Birthday Miyuri!



SS

Ia terengah-engah, berlari tak tentu arah, matanya nyalang ke segala penjuru. Waspada kalau-kalau saja sosok-sosok yang mengejarnya muncul dalam pandangan. Keringat bercucuran, rambutnya yang hitam dan membingkai nampak lebih berminyak daripada biasanya, basah berat menempel sebagian di wajahnya.

Masih terengah-engah, ia berhenti. Mungkin ia sudah cukup jauh dari mereka, pikirnya, dan ia bersandar, mengambil napas. Beberapa menit kemudian baru ia menyadari bahwa ia bersandar di sebuah pintu.

Setengah berjaga-jaga kalau para pengejarnya menguntit hingga ke sini, juga setengah penasaran akan pintu apakah ini, ia mencoba membukanya.

Tidak terkunci.

Perlahan didorongnya pintu. Dimasukinya. Sepertinya ... ruang kelas yang tak terpakai. Meja dan bangku bertumpuk di satu sisi. Tersaput debu.

Ditutupnya pintu di belakangnya hati-hati, tanpa suara.

Dan ia berhenti sejenak.

Di hadapannya, tepat di seberang pintu, ada sesuatu yang nampaknya tidak layak berada di situ. Sesuatu yang kelihatanya sengaja disembunyikan di situ.

Sebuah cermin, setinggi langit-langit, dengan bingkai emas terukir, berdiri di atas dua cakar. Ada tulisan terukir di bagian atasnya: Erised stra ehru oyt ube cafru oyt on wohsi.1)

Rasa ingin tahu mendorongnya maju mendekat, selangkah demi selangkah. Cermin apakah ini?

Semakin dekat, terlihat samar wajahnya. Ah, cermin biasa. Lebih dekat lagi. Ia melihat bayangan wajahnya sendiri bersama ... Mum?

Severus berbalik untuk memastikan hanya ia yang ada di ruangan ini, tidak ada yang bersamanya. Ya. Ia hanya sendiri.

Dilihatnya lagi di cermin. Mum ada di sampingnya, tersenyum. Tunggu. Mum ... tersenyum? Serasa berabad-abad lalu ia terakhir melihat Mum tersenyum. Biasanya Mum hanya memamerkan wajahnya yang masam itu, menggerutu atau bahkan marah-marah pada apapun yang ia temui.

Dan … Dad? Dad berdiri di sebelahnya, menepuk-nepuk bahunya dengan pandangan bangga.

Bangga? Sejak kapan Dad terlihat bangga akan dirinya, atau bahkan sejak kapan Dad bisa berdiri begitu dekat dengannya, akrab?

Ia mengeluh pelan-pelan. Ini yang ia inginkan. Tangannya terulur, menempel di cermin, tak berhasil meraih apa yang ia lihat sebagai Mum atau Dad, tapi ia tak peduli. Wajahnya sumringah. Senyum Mum. Pengakuan Dad. Alangkah indahnya.

Kalau memang demikian, ia tak akan mempedulikan seperti apa keadaan sekolahnya. Seperti apa hubungannya dengan teman-temannya, ia tak akan peduli.

Entah berapa jam ia terpesona pada apa yang ia lihat, sebelum ia menghela napas. Sadarlah kau, Severus, ini hanya mimpi. Hanya ilusi. Ini tak akan pernah terjadi. Potter dan Black keparat itu akan selalu saja mengejarmu untuk kesenangan mereka, dan tentu saja Mum dan Dad tidak seperti apa yang kau lihat.

Menghela napas, berat ia bergerak, selangkah demi selangkah. Berat meninggalkan ‘Mum’ dan ‘Dad’. Berjanji ia akan ‘mengunjungi’ mereka lagi, ia akhirnya mendekati pintu, membukanya pelan-pelan, dan memandang cermin itu sekali lagi dengan pandangan haus kasih sayang.

Pelan-pelan ditutupnya pintu itu, melangkah ragu meninggalkannya. Saat ditolehnya lagi ke belakang, letak pintu itu tak terlihat bekas-bekasnya.

Dalam seminggu, tiap malam ia menyelinap untuk mencari di mana ruangan dengan cermin itu berada, dan walau ia bisa membanggakan kemampuannya untuk mengingat, tetapi kali ini tetap tak ditemukan.

Ia masih setengah berharap, walau ia berusaha melupakan apa yang ia lihat.

SS

Sumpah serapah keluar dari mulutnya, pelan tapi penuh amarah. Malam sudah larut, lewat tengah malam, tapi ia baru selesai mengerjakan detensinya. Belum pekerjaan rumahnya yang bertumpuk.

Ia mengutuk, kenapa ia menjadi lengah tadi siang, sehingga musuh bebuyutannya bisa menjebaknya dalam detensi ini, seolah-olah hanya dia saja yang bersalah, sementara kedua makhluk jelek itu bebas, dan mungkin sedang tidur lelap setelah lelah menertawakannya.

Ia meludah ke samping dengan gemas, dan disambut umpatan marah oleh salah satu patung ksatria. Ia mengacuhkannya. Langkahnya bergegas, mengingat pekerjaan rumah Sejarah yang harus ia selesaikan untuk dikumpulkan besok.

Tapi wajahnya yang sedari tadi tertunduk, tiba-tiba menengadah, terdiam memandang patung ksatria yang tadi mengumpat. Bukan, bukan patung itu, tetapi pintu di sebelahnya. Pintu itu seperti pernah ia kenal.

Susah payah ia berusaha mengingatnya, tapi tak bisa. Hanya rasa yang kuat mengundangnya untuk membuka pintu, yang ia rasakan. Lupa ia pada rasa kantuknya. Lupa ia pada pekerjaan rumahnya.

Perlahan ia memegang pegangan pintu. Mencoba membukanya. Tidak terkunci. Ia mendorongnya pelan-pelan.

Matanya terbelalak.

Cermin itu.

Tepat di seberang ruangan.

Tergesa tapi tetap berusaha tanpa suara, ditutupnya pintu. Bergegas dihampirinya cermin yang sudah nyaris ia lupakan selama beberapa tahun ini.

Yang ia lihat sekarang sama sekali berbeda dengan apa yang ia lihat beberapa tahun lalu. Bukan Mum. Bukan Dad.

Tapi ia dikerumuni oleh anak-anak sekolah, memujanya, sementara di pojok sana Potter dan Black berusaha mencari perhatian tapi tak berhasil. Semua anak laki-laki maupun perempuan sedang berusaha mencari perhatiannya, menanyakan pelajaran, menanyakan strategi Quidditch, ...

Ia terduduk. Bagaimana bisa cermin itu menggambarkan tepat apa yang ia inginkan? Teman-teman ... yang tidak mengucilkannya, yang tidak mengejeknya, apalagi melakukannya hanya karena Potter-si-sombong itu yang meminta? Atau si bajingan Black?

Lupa akan kelelahannya, ia memandang apa yang tergambar di cermin dengan berseri-seri. Entah berapa lama ia memandang, sampai ...

”Orang yang paling bahagia di dunia bisa menggunakan Cermin Tarsah seperti cermin biasa. Yaitu, kalau dia memandang cermin itu dia hanya melihat dirinya seperti apa adanya, Severus,2)” suara yang ia kenal benar, membuatnya tersentak, dan berdiri tiba-tiba.

”Pro-Profes-Profesor Dumbledore ...” sahutnya terbata-bata.

Kepala Sekolahnya memandangnya arif, setengah tersenyum. “Sudah dua kali kau melihatnya, bukan? Dua kali dengan dua gambaran yang berbeda?”

Severus mengangguk membenarkan, tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.

”Aku kenal kau, dan aku tahu kemampuanmu. Kuharap ... kau tidak akan terbius keinginan untuk melihatnya lagi besok malam, dan besoknya, dan seterusnya,” sahutnya masih tersenyum.

”Prof-Profesor ... tapi mengapa?”

Dumbledore menepuk bahunya, ”Kau tahu itu sekarang. Itu semua hanya keinginanmu yang paling dalam. Hasratmu yang terdalam. Hakiki yang kau lihat dari Cermin Tarsah.”

”Itukah ... namanya?”

Dmbledore mengangguk, dan membaca tulisan yang terukir di atasnya, “Erised stra ehru oyt ube cafru oyt on wohsi,” dan jarinya mengeja dari belakang, ”I show not ...”

Perlahan Severus mengerti, pandangannya terpaku pada tulisan di atas cermin itu dan ikut mengeja, ”... not your face but your hearts desire…” dan pandangannya dialihkan pada Kepala Sekolahnya, “Jadi … jadi hanya ilusi?”

Masih tersenyum, Dumbledore menjawab, ”Ya, dan tidak. Kau bisa terbius kalau kau tidak sadar apa sebenarnya benda ini. Kau bisa juga waspada. Terserah.”

Severus mengangguk. ”Baiklah. Jadi ... saya tidak akan melihatnya lagi nanti?”

Dumbledore menggeleng. ”Mana kutahu? Kau sendiri yang memutuskannya.”

Lemah Severus menjawab, ”Yes, Sir.” Dan ia melangkah ke pintu, berusaha untuk tidak melihat yang terakhir kalinya pada bayangan yang ada di cermin. “Selamat malam, Sir,” sahutnya nyaris tak terdengar, membuka pintu, keluar, dan menutup pintu pelan-pelan.

Badannya seakan tak bertenaga, tapi ia memaksakan diri berlari sepanjang koridor, membelok, dan turun terus di setiap tangga sampai ia masuk ke Asrama Slytherin. Ruang Rekreasi kosong, dan ia bersyukur karenanya, sehingga ia bisa langsung masuk ke kamarnya. Keempat teman sekamarnya sudah lelap berjam-jam lalu, dan ia menghempaskan diri di ranjang.

Matanya nyalang, dan ia tahu ia takkan bisa tidur. Tapi ia tak berusaha untuk bisa tidur. Tidak mengganti pakaiannya, tidak membuka selimutnya, bahkan tidak menutup kelambunya. Dan bahkan tidak tahu apakah ia sebenarnya tertidur atau tidak, yang ia tahu hanyalah saat teman sekamar-nya membangunkannya agar tak ketinggalan sarapan.

Dipaksakannya untuk bangun, gosok gigi, cuci muka dan berganti pakaian. Dipaksakannya untuk berkonsentrasi memilih buku-bukunya, dipaksakan dirinya makan sesuap-dua suap, dan mengikuti arus menuju kelas. Dipaksakan saja, karena ia tahu kepalanya masih penuh dengan apa yang diucapkan oleh Dumbledore tadi malam ...

Desire ...

Hasrat terdalam...

SS

Ia tahu kini bahwa ia tidak bisa sembarangan mengharapkan bisa melihat cermin itu lagi. Sudah setahun lebih ia tak bisa melihatnya, jangankan cermin, pintunya pun tak menampakkan diri lagi.

Ia seperti ... merindukannya. Sepertinya lega mencurahkan isi hatinya padanya. Walau cermin itu hanya benda mati, tak berreaksi jika ia ada di depannya, tapi ia lega bisa melihat hasratnya terdalam.

Aneh.

Dumbledore pernah memperingatkannya, dan ia tahu ia akan waspada kini. Tapi ... ia justru merindukannya.

Dan kini, sangat-sangat-sangat merindukannya. Saat ia kini sudah kelas lima, nyaris kelas enam bahkan, karena ia sudah menyelesaikan OWL-nya. Hari ini ia menyelesaikan OWL Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, dan ... kau tahu apa yang terjadi. ’Kata’ apa yang terucap.

Lunglai ia berjalan dari Asrama Gryffindor. Baru saja Lily menolak semua penyesalannya, putus sudah nampaknya persahabatannya.

Nampaknya dunia pun runtuh sudah.

Saat ia berjalan entah ke mana, masuk entah ke ruangan apa, dan terduduk di depan sesuatu pun ia tak sadar.

Sampai kemudian ia sadar bahwa ada seseorang—tidak, ada dua orang sedang menatapnya.

Lily Evans.

Dan dirinya.

Ia memeluk bahu Lily, sementara Lily melingkarkan tangan di pinggangnya, menatap penuh cinta.

Tersentak ia berdiri dan menatap sekelilingnya. Entah ia ada di mana, yang jelas ia ada di depan benda yang sangat ia rindukan. Cermin itu.

Cermin itu sekarang ada di depannya, dan yang ia tahu sekarang hanyalah menatap pasangan yang ada di dalam cermin. Pasangan yang hanya ada dalam mimpi. Ilusi. Pasangan yang ... tak mungkin terjadi?

Matanya basah.

Mengapa dulu Dumbledore memberitahunya, bahwa cermin ini hanya cerminan hasratnya belaka? Kalau tidak, mungkin saja ia bisa membohongi diri, menipu diri dengan berharap bahwa ini akan terjadi?

Severus berteriak, sudah hendak akan mengutuk cermin itu, saat ia kemudian berbalik dan meraung marah, berlari keluar dari ruangan itu entah ke mana. Menghilang di kegelapan malam …

SS

Untuk keduakalinya ia melihat Lily di cermin. Masih dengan penampakan yang sama, ia dan Lily, saling berpelukan, menatap penuh cinta.

Kali ini entah emosi apa yang sedang meliputinya. Wajahnya kosong, kaku, beku. Entah apa yang ia rasakan. Ataupun karena emosinya sudah terlalu meluap dan ia sudah tak bisa merasakannya lagi?

Beberapa langkah di belakangnya, bayangan seorang tua berjanggut memandangnya iba. Sepertinya ia ingin menepuk bahu pemuda yang sedang tenggelam menatap bayangan di cermin, tapi diurungkannya. Dibiarkannya beberapa saat.

”Kau ... benar-benar masih akan melakukan pekerjaan ini?” pelan-pelan orang tua itu bertanya.

Severus mengangguk. ”Ya,” ia menguatkan. ”Anda sendiri yang mengatakan bahwa ...”

”Tentu saja. Voldemort masih akan kembali. Aku hanya menanyakan kesiapanmu.”

Wajah Severus mengeras. ”Aku siap.”

Dumbledore mengangguk.

”Dan kupikir aku tak akan perlu Cermin Tarsah lagi, Sir.”

Dumbledore menggeleng. ”Suatu saat mungkin kau memerlukannya. Kau tahu di mana kau harus menemukannya.”

Severus tak menjawab. Sekali memandang agak lama pada bayangan cermin, lalu ia berbalik dan keluar dari ruangan.

SS

Dumbledore memang benar. Ia masih akan memerlukannya. Walau itu … bertahun-tahun bahkan berbelas tahun kemudian. Sebelumnya, ia tahu bahwa ia hanya akan menemukan bayangan Lily di cermin itu, tapi hari ini ia tahu, bayangan yang ia lihat di cermin akan berbeda.

Ia tahu persis di mana ia bisa menemukan cermin itu. Ia bukan seorang murid lagi kini. Ia bahkan bukan hanya seorang guru.

Ia Kepala Sekolah di Hogwarts. Tentu saja ia tahu di mana disimpan cermin itu.

Dan ia berlutut di depan cermin, menatap bayangan. Bayangan mentornya, gurunya. Masih hidup, tersenyum, dan menawarkan permen jeruk padanya.

Entah berapa lama ia terpuruk di sana. Setelah sekian lama ia dengan berat memaksakan diri keluar, kembali ke kantornya. Ada rapat guru yang harus ia tangani. Ada pekerjaan-pekerjaan lain yang harus ia kerjakan.

Masuk kembali ke kantornya, lukisan Dumbledore menatapnya dengan prihatin. ”Habis kembali dari sana lagi?” tanyanya lunak.

Severus mengangguk.

”Kukira ... kau sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa bayangan itu ...”

”... hanyalah hasrat terdalam seseorang, ya benar,” sahutnya frustasi. “Setidaknya biarkanlah sekali-sekali aku melampiaskannya. Setidaknya … aku tenang setelahnya,” lanjutnya.

Lukisan Dumbledore terdiam, tidak berkomentar lagi, tapi tetap memandang prihatin.

Severus menghela napas panjang, “Apakah … ada orang yang benar-benar bahagia, benar-benar melihat dirinya apa adanya di cermin ini?”

Dumbledore menggeleng, “Aku tak tahu, Severus. Aku sendiri saja masih melihat diriku yang berbeda, walau perbedaannya hanya dengan memegang sepasang kaos kaki wol …”

Severus menghela napas lagi. Lukisan Dumbledore membiarkannya tenggelam dalam lamunannya.

SS

Severus menyiapkan tongkatnya, diselipkan ke pinggangnya. Dirapikan jubahnya. Ia tahu, saatnya sudah tiba.

Ia sudah merasa, Pangeran Kegelapan, sudah dekat. Potter juga kabarnya sudah masuk kompleks Hogwarts. Instingnya merasa, inilah saatnya Perang Besar.

Tugas terakhir dari Dumbledore harus ia laksanakan. Ia harus memberitahu sesuatu pada Potter, entah dia akan percaya atau tidak. Entah bagaimana caranya, tapi ia yakin akan menemukan jalannya.

Matanya bertemu dengan mata dalam lukisan Dumbledore. Dumbledore tersenyum memberi semangat, mengangguk padanya.

Ia berdiri. Keluar dari kantornya. Menyusuri koridor.

Entah mengapa ia membelok sebentar ke sebuah ruangan.

Cermin itu masih ada di sana.

Dan ia tidak melihat siapa-siapa dalam bayangan cermin itu.

Hanya dirinya saja.

Tidak kurang.

Tidak lebih.

FIN





Catatan:
1) Paragraf delapan dan sembilan diambil dari halaman 258 Harry Potter dan Batu Bertuah.
2) Harry Potter dan Batu Bertuah halaman 265-266
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #37 on: February 03, 2009, 08:59:57 PM »

LILY

Disclaimer: Harry Potter © JK Rowling
A/N: 1. Timeline post-Great Battle, 22 tahun kemudian
2. Peserta Valentine Challenge di Infantrum
3. Jumlah kata 1.119 di Microsoft Word

Februari 1976

Pemuda berjubah seragam Hogwarts itu berhenti di bawah sebuah pohon. Pohon rindang. Di tepi Hutan Terlarang. Jejak-jejaknya tercetak jelas di salju.

Dengan berpegang pada cabang pohon terendah yang bisa ia raih, ia mengayunkan tubuhnya. Sekali gerak ia sudah naik di cabang itu. Setumpuk salju di atas cabang pohon berguguran. Ia duduk di tempat bekas tadi salju menumpuk, dan tangannya diulurkan. Dalam jangkauan tangannya, ada sebuah lubang di batang pohon itu. Nampaknya seperti bekas sarang burung hantu. Atau tupai.

Tapi ia tidak sedang mencari burung hantu. Tangannya meraba-raba lubang gelap itu, mencari sesuatu. Dapat. Ternyata sebuah peti kayu kecil. Perlahan ia berbalik, hati-hati menggeser duduknya di cabang pohon ini menjadi bersandar pada batangnya. Dibukanya peti itu hati-hati. Ia merogoh saku dalam jubahnya dan ia mengeluarkan sesuatu. Sepertinya sepucuk surat.

Disimpannya surat itu di dalam peti, menambah tinggi tumpukan surat di dalamnya. Ditutupnya peti itu. Pemuda itu menghela napas panjang.

‘Kau sudah memilih jalanmu. Aku juga sudah memilih jalanku.’

Sekali lagi ia menghela napas panjang.

”Happy Valentine, Lil,” bisiknya lirih.

Dikembalikannya peti itu ke tempat semula. Lalu ia melompat turun. Berjalan kembali ke asramanya, sambil tongkatnya digerak-gerakkan menghapus jejaknya di salju.

-o0o-

Februari 1982

Pria berjubah hitam itu berjalan dengan pasti menuju sebuah pohon. Tanpa menoleh kiri kanan pada pohon yang lain. Langsung menuju pohon itu, menuju sebuah lubang di ketinggian sekira di atas kepalanya. Tanpa ragu ia mengacungkan tongkatnya dan membisikkan mantra sehingga sebuah peti kayu kecil melayang dari dalam lubang itu.

Ditangkapnya. Dibukanya. Dikeluarkannya sepucuk surat dari saku dalam jubahnya. Tanpa melihat lagi, diletakkan surat itu di atas tumpukkan surat terdahulu.

”Kau sudah tak bisa lagi menerima suratku, Lil. Mungkin ... kau bisa langsung membacanya saja, di alam lain?” bisiknya.

Ditutupnya peti kecil itu, dan diletakkannya lagi di tempat semula.

”Happy Valentine, Lil,” matanya terpancang pada lubang itu sejenak.

Lalu ia berbalik. Sama sekali ia tidak menoleh ke belakang saat ia kembali ke kastil. Dengan wajah dingin ia menggerakkan sedikit tongkatnya untuk menghapus jejaknya di salju.

-o0o-

Februari 1992

Wajahnya masih sama seperti tahun-tahun lalu. Penampilannya masih sama seperti tahun-tahun lalu. Lubang di pohon masih sama seperti tahun-tahun lalu. Saljupun masih sama seperti tahun-tahun lalu.

Mungkin ... wajahnya bertambah keras seiring dengan berlalunya waktu. Tapi kerasnya wajah itu sedikit melunak saat ia menambahkan tumpukan surat di dalam peti kecil itu.

”Happy Valentine, Lil. Dan mungkin kau sudah tahu, anak Potter—anakmu—sudah berada di Hogwarts. Aku akan memenuhi janjiku pada Albus, jangan khawatir.”

Dan ia menyimpan peti kayu kecil itu seperti tahun-tahun lalu. Kembali ke kastil seperti tahun-tahun lalu, dengan menghapus jejak-jejaknya di salju. Seperti tahun-tahun lalu.

-o0o-

Februari 1998

”Aku tak tahu, apakah setelah ini aku masih bisa menulis padamu, Lil. Tetapi kau tahu, hatiku takkan pernah berubah. Happy Valentine, Lil,” bisiknya saat ia meletakkan suratnya di tumpukan paling atas. Surat-surat itu kini sudah banyak.

Ditutupnya peti kecil itu. Masih dipandangnya sejenak dengan raut wajah lunak, dengan wajah sayang. Dengan helaan napas panjang, dikembalikannya ke dalam lubang.

Ia tidak kembali ke kastil dengan berjalan, tapi ia melayang sedikit di atas salju. Salju tak terjejak, tak perlu untuk menghapusnya kini.

-o0o-

Februari 2020

”Cathleen, tupainya melompat ke pohon di belakangmu!”

”Mana? Mana? Ah! Tak tertangkap!”

”Kau jangan kasar-kasar begitu dong, tupainya takut. Entah ke mana ia melompat sekarang!”

Gadis berambut hitam panjang yang dipanggil Cathleen itu tiba-tiba terdiam. Mengangkat telunjuk kanannya di depan bibir sebagai isyarat agar diam, dia mendekat pada gadis satunya lagi, perlahan.

“Ada di lubang di pohon di belakangmu, Lil,” sahutnya berbisik, “pelan-pelan agar dia tak curiga.”

Gadis yang dipanggil Lil tadi perlahan mundur, tak bersuara. Berjalan memutari pohon tadi, berpikir agar bisa meraih lubang yang tingginya di atas kepalanya. Tapi kemudian wajahnya berseri-seri.

Dilihatnya sarang laba-laba, yang sepertinya tadi menutup lubang tadi, tapi sekarang sudah koyak. Pasti tupai tadi masuk ke dalam lubang dan merusakkan sarang laba-laba itu! Aha!

Diacungkan tongkatnya pada sarang laba-laba, diucapkan sesuatu, dan sarang laba-laba itu menutup lagi!

Diliriknya Cathleen, yang bersorak kegirangan tanpa suara. Ia menyimpan tongkatnya di balik jubah, melihat sekitar pohon itu. Bagaimana ia bisa naik? Ah! Ada cabang yang agak rendah!

Tapi itupun ia harus melompat beberapa kali sebelum tangannya meraih cabang itu. Susah payah ia naik dan mengulurkan tangannya, membersihkan sarang laba-laba yang tadi ia tutup, dan memasukkan tangannya ke dalam lubang.

Dapat!

Tupai tadi mencericit pelan, tapi sudah pasrah.

Cathleen bersorak—dengan suara sekarang—melompat-lompat. ”Gila, Lily! Kau bahkan sampai naik-naik pohon segala!”

Lily nyengir. ”Runnin’ in the family. Semua keturunan Weasley pandai naik pohon.” Ia memindahkan tupai tadi dari tangan kanan ke tangan kiri dan dipeluknya. Ia sudah akan melompat turun ketika ia melihat sesuatu dalam lubang.

”Hei! Ada peti!” Tangannya merogoh lagi ke dalam lubang, dan mengeluarkan sebuah peti kecil dari kayu, penuh debu.

”Lily, jangan! Mungkin kepunyaan seseorang! Mungkin isinya sihir jahat! Atau ...”

Tapi Lily sudah memasukkannya ke dalam jubah, dan sambil melindungi tupai tadi dengan kedua tangan, ia melompat dari cabang pohon. ”Ini!” diserahkannya tupai tadi pada Cathleen.

Cathleen langsung meraihnya, ”Aduuuh, lutuna! Jangan takut, kau takkan kami apa-apakan, kau hanya akan menjadi maskot kami di pesta Valentine nanti malam. Ya? Besok kau akan kami kembalikan. Kau mau kenari?”

Saat Cathleen sibuk dengan tupai, Lily memeriksa peti tadi. Dibukanya, tak terkunci. Dilihatnya, isinya hanya tumpukan kertas.

Sepertinya surat.

Dibukanya satu, dibaca.

Satu lagi.

Satu lagi.

”Cathleen,” bisiknya.

Sedang memandang tupai yang sedang sibuk menggerigiti kenari, Cathleen mengangkat mukanya, ”’da’pa, Lil?”

”Surat ini ... surat Valentine. Dan ... semuanya untukku. Untuk Lily.”

”Mana mungkin?” Cathleen mendekat memperhatikan, ”kertas-kertasnya saja sudah lapuk begitu. Lagian, kan masih banyak orang yang namanya Lily?”

”Iya sih,” Lily terpaksa menyetujui, ”kata Dad nenekku juga namanya Lily, walau aku tak pernah bertemu dengannya. Konon namaku diambil dari namanya.”

”Lalu ini,” Cathleen menunjuk nama pengirim, ”SS. Siapa coba? Rasanya tak ada yang berinisial SS yang kita kenal. Scorpius kan inisialnya SM?” Cathleen menggoda

“Eeeew!” Lily menunjukkan rasa tak senang ketika disebut nama kakak kelasnya itu, tapi pipinya memerah, ”apa coba maksudmu! Ya sudah, ini aku simpan lagi ke atas.”

Lily menutup lagi peti kayu kecil itu. Melompat-lompat lagi beberapa kali sampai bisa meraih cabang itu lagi, dan naik. Disimpannya peti surat itu di dalam.

”Nah. Tenanglah di sana. Entah siapa penulismu, untuk siapa kau ditulis, tapi aku minta maaf tadi sudah lancang membacamu. Semoga kalian bahagia.”

Lily melompat lagi ke tanah bersalju. Dan berdua Cathleen berjalan sambil mengobrol tentang pesta Valentine yang akan mereka laksanakan nanti malam.

Tak merasa perlu untuk menghapus jejak di salju.

Tak perlu juga merasa untuk menoleh sekitar. Jikalau mereka agak jeli, di semak-semak ada seekor rusa betina memandang semua kelakuan mereka ...

FIN
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #38 on: February 12, 2009, 04:02:24 AM »

Too Late ini pertama kali di-publish udah lama banget. Bab keduabelas di-post pas sebelum keluar buku ketujuh. Dan setelah itu rasanya males mau nerusinnya. Beberapa hari kemarin, Lily nagih-nagih sambungannya, dan inget juga kalau 13 Februari adalah ultahnya pinguin oren. Dengan semangat yang udah turun, selesai juga walau tidak seperti yang diharapkan.

OK, multichapter ini Ambu masukin di sini sebagai oneshot karena sudah selesai Tongue


TOO LATE

Kenangan 1
Hari Pertama Aku Mulai Bekerja


Hari yang indah. Mulai hari ini aku bekerja, di toko Wilbur, Hogsmeade. Toko itu menjual berbagai bahan ramuan. Yah, seperti Apothecary di Diagon Alley, tetapi yang ini lebih bersih dan teratur.

Wilbur sendiri –oya, dia seorang pria yang sudah tua, serius kalau sedang bekerja, tetapi kalau waktu makan siang tiba, kau akan sakit perut tertawa-tawa mendengar lelucon-leluconnya—biasanya bekerja ditemani seorang asisten, tetapi karena asistennya itu menikah, maka ia mencari penggantinya.

Dan aku terpilih.

Mengapa ini jadi istimewa?

Karena aku bukan penyihir. Aku seorang Squib. Karenanya aku tidak bisa membuat ramuan. Kau tahu, sepertinya seorang Muggle juga bisa membuat ramuan. Tetapi yang jelas, tanpa kekuatan sihir, ramuannya akan berbeda dengan yang dibuat oleh seorang penyihir. Meski bahan-bahannya persis sama.

Meski aku tidak bisa membuat ramuan, tapi aku hapal bahan-bahan ramuan. Aku bisa menunjukkan dengan mata tertutup, yang mana daun Athelas, yang mana tumbuhan Asphodel, yang mana taring Nundu. Pokoknya aku hapal semua. Kenapa? Eh, soalnya Nenek menyukai membuat ramuan, dan ia tadinya berharap Mum meneruskan kesukaan itu. Ternyata Mum tidak suka. Lalu saat aku lahir, Nenek berharap aku yang akan meneruskannya. Tetapi aku malah tidak punya darah sihir sama sekali. Yah, Nenek tidak putus harapan, dia mengajariku menghapal  bahan-bahannya.

Sayang sekali dia sudah meninggal. Hari ini seharusnya membuat dia bangga, aku berhasil bekerja di toko bahan ramuan. Yah, semoga dia bahagia di alam sana.

Hari ini juga ada kejadian yang memalukan. Ada seseorang datang, laki-laki, tinggi, berambut hitam dan wajahnya masam. Karena Wilbur sedang sibuk melayani pelanggan lain, aku yang melayaninya. Semua bahan yang dia minta, kusediakan. Kecuali satu. Darah Unicorn. Itu hanya bisa dibeli dengan menunjukkan Surat dari Kementrian. Lagipula, kupikir di toko Wilbur, bahan itu tidak ada.

Tapi dia bersikeras. Dan berkata kalau dia biasa membeli itu di sini. Kami sempat bersitegang. Lalu Wilbur melihat kami, dan mendekat.

“Profesor Snape! Maafkan, asisten saya ini baru. Maafkan. Mari, kita langsung mengambil di Kamar Persediaan,” katanya ramah.

Profesor? Wah, dia seorang guru! Aku tidak pernah sekolah di sekolah penyihir, soalnya. Yah, namanya juga Squib!

“Anna, kamu ikut!” Wilbur mengajakku. Ke mana?

Ke Kamar Persediaan!

Tadinya kukira di belakang ruang ini tidak ada pintu ke kanan, mengapa sekarang jadi ada? Oh, well, nanti saja kutanyakan pada Wilbur. Pokoknya, sekarang dia menyuruhku menimbang Darah Unicorn, lalu kami ke depan lagi, aku menjumlah belanjaannya, dan Wilbur memasukkan jumlahnya dalam rekening Professor Snape. Lalu dia pergi.

Oya, dia sempat memandangku sejenak, seakan dia menilaiku dari atas rambut sampai ke ujung kaki. Tapi dia tidak berkata apa-apa. Lalu dia pergi. Begitu saja.

Karena saat itu tidak ada pelanggan, Wilbur lalu mengambil kesempatan untuk memberi aku ‘kuliah’. Ya, benar, ada bahan-bahan yang tidak dapat dibeli begitu saja, harus ada Surat dari Kementrian. Ada orang yang hanya memerlukannya sesekali, jadi aku harus menanyakan Surat itu kalau ada orang yang mau membeli bahan-bahan kategori Terlarang. Tapi juga ada orang yang sudah mendapat ijin untuk selalu menggunakan bahan-bahan itu. Misalnya seperti orang yang tadi, Profesor Snape. Pekerjaannya sebagai Guru Ramuan di Hogwarts –Aih! Aku benar-benar iri padanya—membuatnya selalu memerlukan bahan-bahan Terlarang. Jadi dia punya Ijin Terusan.

“Lalu, bagaimana aku bisa tahu kalau seseorang punya Ijin Terusan?” tanyaku. Aku tidak ingin tampil bodoh lagi seperti tadi. Ya, kalau orang yang bawa Surat kan gampang, tinggal tanya saja. Kalau dia ingin bahan Terlarang dan tidak bawa Surat, aku tolak saja. Kalau orang yang punya Ijin Terusan?

“Bawa saja ke Kamar Persediaan,” sahut Wilbur enteng. “Kalau orang itu tidak punya Ijin Terusan, Kamar itu tidak akan ada. Tidak akan terlihat. Kalau seperti Profesor Snape tadi, Kamar itu langsung kelihatan kan? Kamu juga tadi pagi tidak melihat Kamar itu kan?”

Aku mengangguk.

Jadi, tambah satu pengetahuanku.

Aku mengantuk. Mau tidur dulu. Besok tidak boleh kesiangan.


Kenangan 2
Hari Kelimabelas Masa Kerjaku


Hari ini sampai siang tidak ada yang aneh. Biasa-biasa saja. Tapi setelah sore, nyaris malam, Profesor Snape datang lagi. Aku ingat karena penampilannya itu. Tanpa senyum. Dan lagi, saat itu tidak ada siapa-siapa. Wilbur sedang ke belakang. Dan tidak ada pelanggan.

Beliau datang, melihatku. Tanpa ekspresi dia menyebutkan bahan-bahan ramuan. Kali ini tidak ada bahan Terlarang. Jadi aku menyediakan semua pesanannya, menjumlah harganya, menulis di rekeningnya seperti yang dilakukan Wilbur, dan mengucap terima kasih padanya. Seperti biasa, seperti pada pelanggan-pelanggan yang lain.

Selain dari saat menyebutkan bahan-bahan tadi, tak ada sepatah katapun yang terucap.

Begitu ia sudah mau pergi, Wilbur datang.

“Profesor Snape! Kukira siapa. Anna menyediakan semuanya dengan baik?” tanyanya.

“Cukup baik,” katanya singkat. “Selamat malam, Wilbur,” lalu dia melangkah pergi.

Wilbur memandangku dengan senyum. “Kau tidak melakukan apa-apa yang memalukan lagi, kan?”

Aku menggeleng, tidak mengerti.

Tapi Wilbur tidak bicara lagi. Ia memberes-bereskan toples-toples, memeriksa pembukuan, dan seribu satu pekerjaan lain. Dan pelanggan yang lain datang. Dan tibalah saat menutup toko.

Dan aku di sini, di tempat tidurku, sudah lelah dan mengantuk.


Kenangan 3
Sebulan Aku Aku Bekerja di Wilbur


Hari ini aku tepat sebulan bekerja di Wilbur. Keluargaku siapa yang peduli? Nenek sudah meninggal, Mum sudah meninggal, tinggal Kakek dan Dad. Keduanya tak mau peduli. Lagipula, jangankan memperingati sebulan aku berhasil bekerja, hari-hari yang lebih penting saja seperti hari ulang tahunku, hari meninggalnya Nenek, hari meninggalnya Mum, tidak ada yang peduli.

Jadi, kuputuskan untuk merayakannya sendiri. Mungkin sepulang kerja aku beli es krim?

Tapi nyaris saja gagal. Hari ini toko kedatangan seseorang yang menyebalkan. Sangat. Menyebalkan. Did I say menyebalkan? Belum? Baiklah, dia memang sangat menyebalkan!

Dia datang dengan seorang pesuruh nampaknya. Penyihir juga, tapi kastanya seperti direndahkan begitu. Dan mungkin seorang peri rumah, tapi tidak begitu kelihatan.

Gayanya sok sekali. Dia membaca dari daftar belanjaannya. Padahal akan lebih mudah kalau daftar belanjaannya diserahkan padaku, lalu aku mencarikannya.

Ini tidak.

“Darah Kadal,” katanya seperti seorang yang sedang memerintah anakbuahnya.

Aku naik ke atas tangga dan mengambilkan Darah Kadal  karena letaknya memang di rak bagian atas.

“Ini, Madam,” sahutku berusaha sopan.

“Bukan ini!” sahutnya kasar, “Darah Kadal yang diambil saat Purnama!”

Lha, kedua hal itu berbeda, kan? Tadi kan dia bilang hanya Darah Kadal, kan? Tapi, baiklah.

Darah Kadal aku ambil, kukembalikan lagi ke atas. Lalu kuseret tangga ke bagian rak yang lain, naik lagi untuk mengambilkan Darah Kadal Purnama.

“Darah Unicorn,” katanya angkuh.

“Maaf, Madam, ada Surat-nya?” tanyaku.

“Untuk apa?”

“Darah Unicorn masuk kategori Terlarang, jadi yang mau membelinya harus memperoleh Surat dari Kementrian,” sahutku menjelaskan. Sudah disabar-sabarkan hatiku.

“Kenapa? Kenapa sih harus ada peraturan yang seperti itu…” Dan dia merepet panjang lebar tentang garis keturunannya, bahwa dia turunan Lord Anu, Duke Anu,  Sir Anu, dan bahwa dia tidak pantas diperlakukan demikian, bla, bla, bla..

“Saya hanya menjalankan tugas, Madam. Lagipula, kalau tidak ada Surat itu, saya tidak bisa membuka Kamar Persediaan tempatnya disimpan,” jelasku.

Masih dia merepet bla, bla, bla. Aku menengok kanan kiri, melihat para pengunjung yang nampaknya rata-rata sebal melihat kelakuan Madam ini. Mereka sudah ingin dilayani, tapi harus menunggu giliran, setelah Madam ini. Mereka memperlihatkan raut wajah tak sabar, dan tersenyum mendukungku. Aku rasanya mendapat tenaga baru.

Akhirnya dia berhenti. Lalu dia membacakan daftar belanjaannya lagi. Aku naik turun tangga lagi, menggeser tangga ke sana ke mari, mengembalikan yang salah ambil karena dia salah baca. Mengambilkan sesuatu dari rak yang paling atas, dari sudut stoples yang paling dalam, pokoknya sibuk.

Wilbur melihat, dan dia mengambil alih sebagian pengunjung. Huh, akhirnya.

Selesai. Aku menjumlah kesemuanya. Nilai belanjaan yang sudah kujumlah itu aku perlihatkan padanya, dia tinggal membayar ke Wilbur.

“Ah, masa sampai sebegitu?” nadanya tak percaya.

“Betul, Madam. Silakan diperiksa,” sahutku. Aku benar-benar sudah tak sabar, lima menit lagi harus menghadapi dia, aku akan meledak.

Ia mengeja satu persatu, menjumlah satu persatu, seakan tidak percaya akan kemampuanku menghitung. Oya, aku dari dulu terkenal akan kecepatanku menghitung. Akhirnya dia menyerah.

“Baiklah. Aku tidak jadi membeli yang ini, yang ini, dan yang ini,” katanya lemah.

Ampun. Kerjaan lagi. Tapi aku lakukan. Kukeluarkan barang-barang yang ditunjuk, lalu menjumlah lagi. Kutunjukkan jumlah itu padanya.

Dia mengeluarkan pundi-pundi. Menghitung Knuts dan Sickles. Ternyata tidak ada Galleon. Lalu diserahkan seluruhnya padaku. Lalu mengambil barangnya. Lalu pergi. Hpmfh…

Aku menyerahkan pundi-pundi itu pada Wilbur disertai catatan jumlah. Wilbur melirik sejenak, lalu memasukkan pundi-pundi itu dalam peti. Wilbur percaya pada kemampuan menghitungku.

Aku kembali ke sudut tadi, dan mengembalikan barang-barang yang tidak jadi dia beli. Naik turun tangga lagi deh. Dasar, uang hanya sebegitu, sok banget. Merintah-merintah. Aku bersungut-sungut. Sampai aku tidak sadar, pelanggan yang berikutnya memperhatikanku.

“Mengapa tidak kau pakai Reverse Accio saja untuk mengembalikan bahan-bahan tadi?”

Nyaris saja aku jatuh dari tangga, kalau aku tidak cepat-cepat menyambar sisi rak untuk pegangan. Profesor Snape!

“Eh, saya .. tidak bisa, Sir. Saya .. Squib,” ucapku perlahan begitu tiba di bawah.

“Squib?” tanyanya meyakinkan.

Aku mengangguk. Pasrah. Biasanya kalau penyihir tahu aku Squib, sikap mereka jadi berbeda. Merendahkan. Tidak ada bedanya dengan Muggle. Kukira Profesor Snape pun sama saja. Makanya aku pasrah. Menunduk. Tapi dia diam. Maka kuberanikan diri mengangkat kepalaku.

Dia sedang memandangku. Bukan pandangan merendahkan.

Tapi pandangan kagum.

“Kau seorang Squib? Kau yakin?” tanyanya tidak percaya.

Aku mengangguk lagi.

“Kau seorang Squib, tapi kau bisa menghapalkan semua bahan-bahan di sini?”

Aku mengangguk lagi. Oya, satu-satunya penyihir selain Nenek dan Mum yang percaya bahwa seorang Squib bisa sebaik penyihir dalam menghapalkan bahan-bahan ramuan adalah Wilbur. Makanya aku diterima.

“Darimana kau tahu nama-nama bahan ramuan ini? Dari siapa?” Profesor Snape mendesak.

“Nenek saya,” kataku pelan. Melihat Profesor Snape masih memandang mendesak, kusebut namanya, “Agrimony. Agrimony Hissop,” aku mengeja hati-hati nama Nenek. Dia terkenal sebagai pembuat ramuan di desaku. Hanya di desa, lokalan.

“Agrimony. I see,” ia mengangguk. “Pantas.”

“Sir?” tanyaku tak mengerti.

“Dia Potion Mistress yang cukup baik di jamannya. Dan dia Slytherin,” pandangannya tidak terlepas dari wajahku. Aku merasa jengah.

“Eh, Slytherin itu apa?” wajahku pasti memancarkan ketololan.

“Slytherin itu nama Asrama. Asramaku. Terkenal karena karakter penghuninya ambisius,” pandangannya seolah meneliti seluruh wajahku, “Dia tentu kecewa cucunya Squib, tetapi dia tidak menyerah, dia malah menjadikanmu ahli mengenali bahan ramuan. Betul?” selidiknya.

Aku terpaksa mengangguk.

“Kalau begitu, lebih mudah. Aku tak perlu menyebut rinciannya. Aku perlu bahan-bahan untuk Ramuan Tidur Tanpa Mimpi untuk kelasku besok. 20 dosis,”

Aku berani sumpah, meski wajahnya masam tapi kilat hitam matanya tersenyum. Aku pun mau tak mau tersenyum sambil menyiapkan bahan-bahan.

Dan dia pun tersenyum sambil mengucapkan ‘terima kasih’ saat menerima bungkusan, dan berlalu.

Dan aku jadi merayakan sebulan aku bekerja di Wilbur dengan es krim. Tiga rasa. Cokelat, vanila, dan strawberi. Parutan kacang. Hmm.

Hari yang indah.


Kenangan 4
Bulan Kedua Aku Bekerja di Wilbur


Hari itu toko penuh sekali. Dari yang kudengar, sekarang di kalangan para penyihir sedang berjangkit flu. Jadi ramuan Merica Meletup laris terjual.

Sambil sibuk melayani, aku berusaha tetap senyum. Tetap ramah. Tanganku keduanya sibuk, ke sana ke mari. Untunglah, karena sudah diperkirakan akan banyak yang menanyakan, aku –disuruh Wilbur sih—sudah menyiapkan bahan-bahan Ramuan Merica Meletup. Sudah ditimbang dan dibungkus satu paket. Jadi lebih cepat sih, ‘Mbak (ini pasti penyihir berdarah Jawa) ada ramuan Merica Meletup? Saya minta untuk dua orang,’ dan aku langsung memberi dua paket. Praktis kan?

Wilbur memang berdarah bisnis. Hal-hal seperti itu selalu terpikirkan. Bagaimana melayani lebih cepat, bagaimana menjual lebih banyak, tetapi juga lebih ramah. Memberi informasi tentang bahan atau ramuan juga tidak pelit.

Omong-omong soal pelit, konon katanya Profesor Snape itu juga pelit? Menurut murid-muridnya yang berbelanja di sini, Profesor Snape itu pelit nilai. Ah, nggak ikut-ikutan. Aku kan bukan siswa Hogwarts, bahkan bukan penyihir sama sekali.

Pokoknya tadi ia datang, memesan bahan untuk Ramuan Polijus. Dan untuk itu aku harus ke Kamar Persediaan. Ia ikut.

“Terima kasih,” sahutnya setelah kuberikan pesanannya, “Terima kasih, Nona … er, kukira bukan Nona Hissop, kan?”

Aku tersenyum, “Hissop itu nama gadis Nenek. Ia menikah dengan Bluefern. Anaknya, ibuku, menikah dengan Lightweather. Nama kecilku Anna. Jadi aku Anna Lightweather,”

Ia juga tersenyum. “Terima kasih, Nona Lightweather,”

“Anna saja, please,”

Ia menyilangkan tangan kanannya menyentuh bahu kiri, sedikit membungkuk, “As you wish, Nona Anna,”

Aku tergelak, “Anna saja. Tidak usah pakai Nona,”

Tapi ia menggeleng. Dan ia mengisyaratkan, ada banyak pelanggan di sini. Jadi aku tidak bisa lama-lama dengan satu pelanggan saja.

Dengan satu anggukan kecil ia melangkah pergi.

Dan senyuman menghiasi wajahku sampai sore. Lelah, tapi aku suka.


Kenangan 5
Hari Ulang Tahunku


Begitu bangun pagi-pagi aku memeluk diriku sendiri dan kuucapkan selamat ulang tahun padaku. Hehe.. Satu-satunya ucapan ulang tahun yang kuterima. Kakek dan Dad mana ingat? Terus terang, sepertinya mereka kecewa karena aku terlahir Squib. Tapi karena mereka merasa sebagai anggota masyarakat penyihir yang beradab, rasa itu tidak terang-terangan diungkapkan.

Wilbur juga ternyata ingat! Tadinya aku heran, darimana ia tahu? Ternyata dari Curriculum Vitae yang kuberikan waktu melamar kerja dulu. Duh, sampai lupa.

Tapi hari itu berjalan seperti biasa. Melelahkan. Dan tidak ada hasrat untuk melakukan hal istimewa. Makan malam yang spesial, misalnya. Males ah. Satu-satunya yang kuinginkan adalah pulang, mandi berendam dengan air hangat, dan tidur.

Jadi yang kubayangkan adalah bantal empuk di kasur hangat.

Saat aku akan menutup toko, Profesor Snape datang. Wilbur tentu saja menunda tutup toko, dan melayaninya.

Sudah berapa kali ia kemari, kuperhatikan ia selalu memilih aku yang melayani. Tapi hari ini ia langsung ke Wilbur. Kukira ada yang perlu dibicarakan dengannya. Jadi aku teruskan beres-beres toko.

Sempat kulihat ia membayar pada Wilbur. Padahal kan biasanya untuk keperluan sekolah pembayaran selalu dimasukkan pembukuan langsung. Nanti Gringotts yang akan mengurus, memindahkan sejumlah tertentu dari rekening Hogwarts ke rekening Wilbur.

Tapi aku diam saja. Bukan urusanku.

Selesai, dan ia menoleh padaku, “Nona Lightweather, boleh kuantar pulang?”

Sejenak aku ragu.

“Kalau kau memang mau langsung pulang. Kecuali kalau kau memang ada urusan lain…”

Aku menggeleng, “Tidak, tidak ada urusan lain,” sahutku menyangkal.

“Jadi kau bersedia kuantar pulang?”

Ampun. Kena deh. Kejebak juga.

Jadi mau tak mau aku pulang bersama Profesor Snape. Kikuk juga rasanya Jarak seperempat jam berjalan kaki serasa bertahun-tahun.

“Kau tahu artinya potpourri?” tanyanya setelah kami berdiam diri sejenak.

“Eh, rangkaian bunga kering?” kataku menebak-nebak. Ada apa gerangan? Aku merasa seperti seorang murid yang akan mengikuti ujian.

“Cukup tepat,” sahutnya.

Kami sudah tiba di flatku. Ia membuka bungkusan yang tadi ia beli. Serangkaian potpourri?

“Untukmu,” katanya memberikan padaku.

“Untukku?” sahutku bingung.

“Untukmu, ya. Untuk hari ulang tahunmu.”

Aku melongo. Dari mana ia tahu?

“Itu rahasia,” sahutnya seolah bisa membaca pikiranku.

Kuterima potpourri itu dengan gemetar. Tangan kami bersentuhan. Tapi ia tetap menahan tangannya di atas tanganku, dan mulai menunjuk bunga-bunga yang ada di sana dengan tangan yang satu lagi.

“Lavender, Marjoram, Thyme, Mint, akar Orris, Ketumbar, Cengkeh,” katanya, “kau tahu apa khasiatnya?”

“Efek Sedatif?” kataku ragu.

Ia tersenyum. Tanganku dikecupnya perlahan, “Selamat Ulang Tahun, Anna,”

Aku tak mampu berkata-kata. Susah payah kuberanikan diri untuk mengumpulkan suara, “Te..terima kasih, Profe..”

“Severus saja, Anna,”

Aku menelan ludah. “Se-Seve-Severus. Baiklah. Maukah .. kau minum teh dulu?”  entah dari mana timbul keberanian itu.

Ia menggeleng. “Aku ada hal-hal lain yang harus dikerjakan.”

Ia menyentuh keningnya dengan ujung jari, tersenyum padaku, dan berbalik.

Entah berapa menit aku mematung di depan pintu. Baru aku tersadar. Sebuket potpourri di tanganku.

Jadilah hari itu benar-benar hari ulangtahunku. Dan rangkaian bunga kering itu menghiasi kamarku. Wanginya menemaniku tidur.

Edit to add: Wilbur memang ternyata yang memberitahu Profes Severus tanggal ulang tahunku. Sudah kusangka. Tapi aku masih sulit memanggil Severus padanya.

Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #39 on: February 12, 2009, 07:36:53 PM »

Kenangan 6

Hari ini aku harus pergi ke Hogwarts. Profesor Snape minggu kemarin memesan sejumlah bahan ramuan, tetapi ada bahan tertentu yang harus dipesan dari pihak lain. Dari toko ramuan di luar negeri.

Tadi pagi pesanan itu datang. Aku disuruh Wilbur untuk mengantarkannya ke Hogwarts. Rasanya, kalau bisa, tidak usah deh. Yang terbayang olehku mengenai Hogwarts adalah, ‘mengerikan’ ‘menakutkan’ dan ‘membuat gemetar’.

Ya, membuat gemetar. Tetapi tugas adalah tugas. Baiklah. Mungkin aku hanya mengetuk pintu, menyerahkan bungkusan ini pada orang yang menjaga pintu, lalu aku pulang. Selesai, kan?

Jadilah aku pergi. Dan aku sekarang ada di depan pintu gerbang. Aku memegang ketukan pintu dan menggoyangkannya dengan canggung. Tidak berapa lama pintu terbuka. Seorang laki-laki yang … mengerikan, dengan seekor kucing di pangkuannya membukakan pintu.

“Saya Lightweather dari toko bahan ramuan Wilbur, mengantarkan pesanan Profesor Snape,” lancar kalimat yang sudah kuhafalkan.

Alih-alih mengambil pesanan itu dan menyuruhku kembali, ia malah memberi isyarat agar aku mengikutinya. Langkahnya cepat, membuat aku juga terpaksa melangkah seirama. Untung saja bungkusan ini tidak berat.

Kami menyusuri koridor yang terang, lalu berbelok ke koridor yang lebih gelap. Berbelok ke sana dan berbelok ke mari. Kalau aku disuruh kembali ke pintu gerbang sendiri, pasti tak akan sampai. Bingung.

Lalu kami menuruni tangga. Semakin gelap. Cahaya hanya datang dari obor yang terpasang di dinding setiap sekian meter. Dingin juga, lembab. Lalu ada cahaya temaram, nampaknya dari pintu sebuah ruangan.

Laki-laki dengan kucing itu berhenti di depannya, mengetuk.

“Ya, siapa?” Suaranya bukan suara Profesor Snape.

“Headmaster, ada utusan untuk Profesor Snape,” kata lelaki dengan kucing itu.

Pintu terbuka, dan muncullah sesosok tua dengan rambut dan janggut keperakan.

“Ah! Nona Lightweather. Masuklah,” suara itu ramah. Matanya juga teduh. Perlahan aku masuk. Dia Headmaster? Albus Dumbledore? Aku belum pernah sedekat ini dengannya. Dan dia mengenali namaku?

“Terima kasih, Filch,” kata Dumbledore, dan lelaki dengan kucing itupun pergi.

“Eh, aku ..” aku jadi salah tingkah. Profesor Snape kemana? Aku jadi bertanya-tanya.

“Ini kantor Profesor Snape memang. Dia belum datang, jadi kita menunggu saja di sini,” kata Dumbledore, seolah membaca pikiranku. Aku jadi curiga. Untuk apa seorang Kepala Sekolah menunggui salah seorang staffnya di sini?

Dumbledore memandangiku sejenak, “Kau mirip dengan seseorang yang pernah sekolah di sini,” katanya agak ragu ingin menebak.

Aku tahu. Pasti ingat Nenek, jadi kujawab saja, “Saya cucu Agrimony Hissop,” dan jawabanku langsung membuatnya gembira. Sambil menepuk kedua tangannya ia melanjutkan,

“Sudah kukira. Wajahnya memang mirip. Dan bakatmu juga mirip,” Dumbledore tersenyum lebar. Aku juga tersenyum. Wajahnya ramah, dan matanya teduh. Rasanya betah berada berjam-berjam dengannya.

“Mau permen jeruk?” tawarnya. Aku menggeleng. Lho, dia suka makanan Muggle?

“Yah, kalau kau sedang menunggu seperti ini, paling enak makan permen jeruk,” katanya. Benar-benar seperti membaca pikiranku!

Tapi kami kemudian membicarakan Nenekku, lalu membicarakan aku yang Squib –sebenarnya aku agak jengah dibicarakan seperti itu—dan tak terasa pintu ada yang membuka.

Pertama aku tidak mengenali dia. Profesor Snape. Tetapi dia memakai jubah yang agak aneh, dan topeng yang mengerikan. Dia mengangguk pada Dumbledore tetapi wajahnya berubah ketika melihatku. Dia membuka topeng dan jubahnya, menjentikkan jarinya dan kedua benda itu  menghilang.

Aku sampai tak bisa bicara. Wajahnya. Wajahnya seperti sangat lelah. Atau … seperti menanggung beban yang sangat berat.

“Aku disuruh Wilbur mengantarkan ini,” kataku cepat, seolah mengatakan ‘aku nggak sengaja ke sini saat kamu sedang capek’. Tapi dia mengangguk.

“Wilbur memang cepat mendapatkan pesanan,” sahut Dumbledore. Aku tidak tahu itu pujian atau tidak. Tapi Profesor Snape hanya mengangguk. Lalu Dumbledore melanjutkan, “Severus, kau antar dia keluar kembali ke pintu gerbang. Pastikan dia tidak kebingungan. Setelahnya, kutunggu di kantorku,” sahutnya sambil tersenyum padaku. “Aku senang bertemu denganmu, nona Lightweather,”

“Saya juga senang. Tapi, seperti saya bilang tadi, panggillah saya Anna saja,” kataku. Dumbledore tersenyum, menyentuh topinya, dan keluar ruangan.

Aku memperlihatkan pesanannya yang kubawa, dan profesor Snape membereskannya ke dalam stoples dan bejana-bejana di sepanjang dinding. Jajaran Stoples dan bejana ini mengingatkanku pada jajaran stoples di toko Wilbur. Hanya bedanya, toko Wilbur terang benderang, sedang ruangan ini temaram.

Dia tidak berbicara sama sekali. Apakah ini karena aku tadi melihatnya dengan topeng itu? Kenapa? Dan topeng itu topeng apakah?

“Mari, kuantar,” katanya singkat ketika ia sudah selesai membereskan. Aku tidak bicara lagi. Kuikuti dia keluar, dia menutup pintu, dan berjalan cepat menyusuri koridor. Aku menyesuaikan, melangkah cepat. Hm, rasanya aku tidak melalui jalan yang ini tadi. Atau aku memang tidak ingat karena koridor-koridornya bersimpang-siur?

Kami sampai di pintu gerbang. Tanpa banyak bicara, aku mengangguk padanya dan melangkah pergi. Dia juga mengangguk. Setelah beberapa langkah, aku menoleh ke arah pintu gerbang, ternyata pintu sudah ditutup.

Dia sudah tidak di sana.

Aku mempercepat langkahku, kembali ke Hogsmeade. Kembali ke tugasku. Sambil bertanya-tanya, apakah ada yang salah dengan apa yang kuperbuat? Apakah Profesor Snape –Severus—tidak senang aku datang ke Hogwarts?

Aku melayani pelanggan dengan setengah hati.


Kenangan Ketujuh

Beberapa hari setelah kunjunganku ke Hogwarts, Profes… maksudku Severus, sudah datang lagi ke toko Wilbur. Wajahnya biasa-biasa saja seperti tidak ada yang terjadi pada pertemuan kami terakhir. Biasa, maksudnya wajahnya sih tetap saja dingin seperti biasa,  dia berbicara dan berlaku seperti Severus yang biasa. Walau setengah heran, kulayani dia dengan biasa juga.

Itu terjadi beberapa kali. Sekali dia datang saat menjelang toko tutup dan menemaniku pulang. Ia tidak memberi penjelasan tentang apa yang terjadi di pagi itu di Hogwarts. Karena kurasa dia tak ingin membicarakannya, jadi akupun tutup mulut. Dan hanya membicarakan daun-daunan, bisa ular tertentu, pengumpulan embun, atau tanggal kadaluarsa bahan-bahan tertentu.

Beberapa hari sesudahnya aku pulang dengan lelah. Mandi berendam air hangat, minum susu, lalu menyusup ke dalam timbunan selimut. Lalu tidak ingat apa-apa lagi.

Aku terbangun dengan rasa haus. Dan rasa ingin buang air kecil, tetapi itu sebaiknya tidak kubicarakan ^_^. Jadi, pendeknya, aku keluar kamar, mengambil segelas air, lalu kembali ke kamar.

Saat aku hendak naik kembali ke tempat tidurku aku merasa tidak nyaman. Seperti ada yang memperhatikanku. Seolah ada yang membimbing, mataku terarah ke jendela.

Di sana ada sesosok bayang hitam. Kuperhatikan, nampak samar sosok bertudung, berdiri diam di luar pagar, melihat ke arah jendela. Atau kurasa begitu.

Tetapi keadaanku yang terdiam terpaku untuk beberapa saat itu mungkin diwaspadai. Dia sadar bahwa kehadirannya diketahui. Jadi dia berbalik dan pergi secepat hembusan angin di malam dingin.

Aku diam, bingung. Siapa dia? Walau mungkin sosok tubuh itu aku kenal, … tapi mungkinkah Severus? Dengan jubah dan topeng yang dulu itu?

Aku tidak bisa tidur hingga pagi.

Dan paginya aku ingin agar bertemu Severus, aku ingin bertanya soal malam hari itu. Tapi hingga sore, hingga toko tutup, dia tidak datang.

Sambil beres-beres, iseng aku bertanya pada Wilbur. “Wilbur, apakah kau pernah melihat orang yang memakai jubah hitam, bertudung, dan memakai topeng?”

Wajah Wilbur berubah seketika. “Hus! Jangan membicarakan hal-hal jahat seperti itu, Anna. Berharap saja mereka tidak pernah ada di sekitar kita,” katanya serius.

“Apakah mereka jahat?” tanyaku.

“Ya. Orang menyebut mereka Death Eaters, Pelahap Maut. Mereka sangat kejam. Apalagi untuk orang yang keturunan Muggle, atau Squib sepertimu. Untuk mereka hanya ada Pureblood, dan Pureblood juga hanya yang mengabdi pada Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut. Selain itu, boleh dibunuh,” Wilbur menggigil.

Aku merinding. Apakah memang benar ada orang-orang yang seperti itu di dunia ini? Mengapa Nenek atau Mum dulu tidak menceritakan padaku? Ah, ya, mungkin pernah tetapi aku tidak ingat. Mungkin.

Aku pulang dengan hati tak tentu. Kalau makhluk yang tadi malam itu memang Death Eaters, berarti mereka sudah ada di daerah sekitar ini. Tetapi, orang yang tadi malam itu hanya berdiri saja memandang jendelaku. Dan kalau memang dia benar adalah Severus … aku tak berani membayangkan.

Itu terjadi beberapa hari lalu. Mungkin sekitar dua minggu lalu. Aku sudah agak melupakannya, ketika malam ini tiba.

Aku tidak bisa tidur, jadi aku keluar dari kamar, duduk di ruang tamu. Membaca buku, bosan, dan akhirnya tertidur di sofa.

Dan terbangun terkejut mendengar suara gemerisik di luar.

Kuberanikan diri melihat asal suara. Aku mencari lilin, dan keluar. Dan aku melihat sesosok tubuh teronggok di dekat pintu pagarku. Aku mendekatinya perlahan. Ya, ini memang sosok tubuh yang kulihat beberapa minggu lalu. Dan saat aku menyentuhnya, membalikkannya agar bisa kulihat wajahnya, … dia memang Severus. Dia pingsan, atau semacamnya. Kuperiksa nadinya, masih ada.

Aku takut sejenak, ingat apa kata Wilbur. Tapi mengingat dia adalah Severus, aku memberanikan diri. Aku harus membawa dia ke dalam. Maka kutiup lilin, kutaruh di dekat pagar. Dengan sekuat tenaga aku mengangkat tubuhnya agar dalam posisi berdiri. Berat. Tapi kutahan. Kulingkarkan tangannya agar dia bersandar ke bahuku. Agak susah memang, karena dia tinggi, sedang aku termasuk mungil.

Aku membawanya setengah menyeret. Selangkah demi selangkah. Setelah agak lama, akhirnya kami bisa masuk ke dalam rumah. Aku mendekati sofa, dan membaringkannya di situ.

Aku menghela napas. Lalu, harus bagaimana? Aku bukan Healer. Lalu, kalau ada luka-luka sihir bagaimana? Aku harus menghubungi siapa?

Beribu pertanyaan berkecamuk di benakku. Tapi ini harus ditangani. Maka kucoba membuka topengnya. Kusimpan di sisinya. Lalu melepas tudungnya. Paling tidak orang akan lebih mudah bernapas. Kurapikan tubuhnya di atas sofa. Kuperhatikan.

Wajahnya yang biasa pucat, kali ini lebih pucat lagi. Sudah agak membiru. Napasnya cepat tak beraturan. Aku tak tahu apa ada bekas memar atau yang lainnya, tetapi dia seolah-olah sedang menahan nyeri. Kalau luka dalam bagaimana? Aku kan tidak bisa mendeteksinya? Kurapikan rambutnya dan teraba kulit wajahnya, panas.

Dengan cepat aku ke dapur. Kuambil sebuah mangkuk, kunyalakan keran, kuisi mangkuknya setengah. Kucari lap yang bersih dari laci. Aku kembali ke ruang tamu dan mengompresnya. Aku berlari ke ruang tidur, menarik selimut dan menyelimutinya.

Keadaan belum berubah.

Aku harus bagaimana?

Aku duduk di sampingnya, berharap terus agar ada perubahan. Tanpa sadar kugenggam tangannya.

Dan kurasa dia juga sedang menggenggam tanganku. Erat.

Entah berapa lama aku menggenggam tangannya. Dan seulas ingatan muncul. Nenek suka memijat tanganku kalau aku tegang dan tidak bisa tidur. Kalau jantungku berdebar tak teratur karena ditakut-takuti hantu oleh teman-teman. Er, bukan memijat sih, hanya menyentuhnya perlahan.

Mungkin bisa kucoba. Kubuka telapak tangannya dari posisi memegang tanganku. Kuletakkan di atas telapak tangan kiriku. Tangan kananku menyentuh tengah telapak tangannya. Lalu melingkar ke arah luar. Seperti orang sedang menggambar spiral. Dari tengah, melingkar keluar perlahan, terus melingkar, keluar, melingkar, keluar. Perlahan. Setelah tiba di ujung terluar telapak tangannya, kuulangi lagi dari tengah.

Napasnya mulai teratur. Detak jantungnya juga.

Aku meraba keningnya, tidak begitu panas lagi. Kuambil kompresnya. Kukeringkan keningnya. Kubenahi selimutnya.

Dan matanya perlahan terbuka. Ia sudah bangun, kurasa.

Ia mencoba duduk. Kubantu ia untuk duduk. Kuberi segelas air yang langsung diteguknya. Tapi tangannya masih gemetar, jadi gelas itu kupegang juga agar tidak tumpah.

Ia menghela napasnya. “Anna …” sahutnya lirih.

“Ada apa, Severus? Apakah yang terjadi?” tanyaku. Aku tahu, ada beribu pertanyaan menyusul, tapi ia sudah memotong.

“Aku seorang Death Eaters…”


Kenangan Kedelapan
Death Eaters


“Aku seorang Death Eaters.”

Mula-mula kata-kata itu nampak tidak bermakna apa-apa untukku. Baru bermenit-menit kemudian menghajar kesadaranku.

“Kau … Death Eaters?”

Ia mengangguk. “Sejak berumur tujuhbelas tahun. Aku melihat Death Eaters sebagai sarana untuk mewujudkan cita-citaku. Selama itu  aku selalu dihina, dicaci. Dilecehkan. Dengan masuk Death Eaters orang takut padaku.”

“Tapi itu hanya berlangsung sesaat. Kemudian aku sadar, bahwa cita-cita yang bisa diwujudkan dalam Death Eaters itu hanyalah semu. Mimpi yang bisa diwujudkan dalam Death Eaters itu hanyalah mimpi Dark Lord. Mimpi yang lain tinggallah mimpi semata. Aku terlihat menakutkan dari pihak penyihir lain, tetapi selebihnya aku bahkan lebih buruk. Kami semua anggota Death Eaters terlena oleh ilusi bahwa kami lebih baik dari yang lain, padahal kami semua budak.”

“Dark Lord bisa dengan semena-mena meng-Crucio anak buahnya hanya karena dia sedang kesal. Apalagi kalau ada kesalahan. Aku berusaha menahan Crucio, tetapi semakin Crucio itu tidak berakibat, semakin dia akan meningkatkan efeknya. Crucio yang aku dapat ini, yang membuatku terhenti di depan rumahmu … sudah tingkat keempat.”

“Menjadi anggota Death Eaters tidak bisa berhenti. Kami tidak bisa berhenti kecuali mati. Bahkan matipun ada kemungkinan kami dijadikan Inferi…”

Aku mundur. Ngeri.

“Kemudian pemicunya datang. Rencana Dark Lord untuk membunuh satu keluarga tertentu. Aku sudah tak tahan. Aku tak tahu harus ke mana. Terlintas di benakku untuk berbicara dengan Dumbledore. Ternyata ia menerimaku, memberi kesempatan kedua. Ia mengatur agar keluarga yang diincar Dark Lord itu dilindungi. Ternyata gagal. Karena ada pengkhianat di sana…”

Suaranya getir. Ia tersenyum pahit, “Dan Dumbledore menerimaku sebagai pengajar di Hogwarts. Sekaligus … sebagai mata-mata. Itulah aku sekarang, Anna, seorang mata-mata.”

Aku menghela napas. Seakan apa yang diceritakan padaku hanyalah mimpi. Tapi ternyata tidak, ini kenyataan. Mengapa ia menceritakannya padaku? Kutanyakan padanya, “Mengapa … kau percaya padaku?”

Ia menangkupkan kedua belah tangan menutupi wajahnya. Lalu perlahan diturunkan tangannya sehingga menopang dagu, “Aku tidak tahu,” ia terdiam sejenak.

“Aku tidak tahu,” ujarnya. Ia menunduk.

Aku tak tahu ada kekuatan  dari mana hingga aku duduk mendekat dan mengusap-usap punggungnya.

Dan kepalanya rebah ke pangkuanku.


Kenangan Kesembilan
Gejala Awal



Pagi itu aku bekerja dengan tak keruan. Setelah Severus pergi tadi malam –dini hari—aku tidak bisa tidur lagi. Maka lihatlah penampilanku. Lingkaran hitam di sekeliling mataku. Mata itu sendiri kuyu. Menguap berkali-kali. Penampilanku jadi teu pararuguh (maaf, ini bukan karena ada turunan Sunda dalam darahku. Sama sekali tidak. Tanya saja pada pengarangnya. Er, mungkin pengarangna yang orang Sunda ya?).

Berkali-kali aku ke kamar kecil untuk membasuh wajahku. Lumayan, setelah itu agak segar. Tetapi tidak lama kemudian sudah layu lagi.

Wilbur menangkap gelagat aneh ini, “Kau kenapa?” tanyanya menyelidik.

“Tadi malam aku tidak bisa tidur,” sahutku setengah menutupi.

“Kalau begitu, kau kerja setengah hari saja. Pulang dan tidur saja, besok kamu pasti sudah segar lagi.”

Aku berterima kasih padanya, dan pergi untuk beres-beres sedikit agar Wilbur nanti tidak terlalu repot melayani pelanggan sendiri. Tapi pada saat beres-beres itu aku terpaksa berhenti sejenak.

“Anna, kenapa?” Wilbur melihatku dan khawatir.

“Aku tidak jelas melihat,” sahutku. “Pandanganku kabur.” Aku memejamkan mata sejenak. Kubuka mataku, agak lumayan sekarang. Tapi tidak sejelas seperti saat normal.

“Aku pulang sekarang saja, Wilbur. Aku istirahat di rumah saja,” kilahku.

Wilbur mengangguk. “Kalau kau masih belum sehat, besok jangan masuk dulu. Lusa saja. Kau kelihatannya akan sakit, mungkin flu. Istirahat, minum yang banyak, makan buah. Ini ada ramuan Merica Meletup, pakailah. Nggak akan dimasukkan ke dalam rekening, kok.”

Aku tertawa kecil. “Terima kasih, ya Wilbur. Kau baik sekali.” Aku memeluknya. Dia bahkan lebih perhatian padaku daripada Kakek atau Dad.

Wilbur bahkan akan menutup tokonya sejenak agar ia bisa mengantarku pulang. Tapi kutolak. Aku masih bisa berjalan pulang kok, walaupun pelan-pelan.

Sesampainya di rumah aku langsung tidur. Entah sampai jam berapa, yang kutahu saat aku bangun, suasana sudah gelap.

Aku terpaksa bangun. Badanku seperti remuk. Dan penglihatanku tidak membaik. Atau karena hari sudah gelap? Kunyalakan lampu, dan aku mengedip-ngedip. Hm, agak lumayan.

Dengan badan yang tidak enak, aku terpaksa memasak air, merebus ramuan, dan membuat bubur. Beginilah, kalau seorang penyihir kan gampang, tinggal mengayunkan tongkat. Tapi kalau Squib sepertiku, terpaksa memasak seperti biasa.

Aku memasukkan air ke dalam termos. Aww! Air panas terpercik ke tanganku! Aku memasukkan jari ke dalam mulut agar tidak terlalu terasa panas. Biasanya aku bisa memasukkan air panas ke dalam termos dengan mudah. Entah, mungkin keadaanku sedang begini, tanganku terasa lumpuh dan penglihatanku agak berkurang.

Entah berapa jam kemudian baru aku sadar, aku tertidur di sofa! Oh, tidak! Aku kan sedang menunggu bubur masak dan ramuan mendidih! Langsung aku terduduk, dan … tapi tidak ada bau hangus…?

Aku duduk sejenak mengumpulkan kesadaranku. Dan aku melihat, ada sebuah piala berisi ramuan masih panas berkepul tersimpan dengan manis di atas meja.

Siapa yang mengangkat ramuan itu dan memasukkan ke piala?

“Aku datang ke toko, dan Wilbur bilang kau sakit,” suara itu mendekati. Severus!

Severus membawa semangkuk bubur, meniupinya, dan duduk di depanku. “Aku suapi ya?” Dan tanpa menunggu respon dariku, ia mulai menyendok bubur.

Aku terpaksa menurut. Dia membantuku duduk dengan menambah bantal di punggungku. Lalu membetulkan selimutku. Dan aku tidak ingat kalau tadi aku pakai selimut, pasti dia menyelimutiku.

Sehabis mangkuk bubur, aku harus menghabiskan ramuan yang ada di piala di meja. Aku menurut. Sebelum meminumnya, aku mengendusnya. Baunya bukan Merica Meletup.

“Ramuan yang dimasak tadi sudah hampir gosong,” katanya tanpa kutanya. Aku tersenyum malu, malu ketahuan ketiduran. Tapi dia meneruskan dengan serius, “Aku lihat sepertinya bukan flu. Aku tidak tahu penyakit apa. Tapi aku buatkan ramuan yang lain. Kata Wilbur pandanganmu kabur, dan gerakanmu agak kaku. Mungkin demam chikungunya, atau yang lain, tapi belum terdeteksi.”

Aku tak menjawab. Kuhabiskan cairan pahit itu. Aku tak berani minta minum, takut nanti akan mengurangi khasiatnya.

“Pahit?” tanyanya. Aku mengangguk. “Bilang dong, kan sesudahnya boleh minum agar tak terasa,” katanya tersenyum mengangsurkan segelas air putih. Lagi-lagi aku tersipu-sipu.

“Sudah, tidurlah lagi. Aku akan menungguimu.”

Aku mengangguk dan menurut, naik ke kamar lalu meringkuk seperti kucing. Dia menyelimutiku, lalu mengecup keningku.

Aku sakit, dan seorang Death Eaters menungguiku.
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #40 on: February 12, 2009, 07:44:05 PM »

Kenangan Kesepuluh

Dua hari sesudahnya aku sudah masuk kerja lagi. Rasanya sih sudah sehat. Meski mataku agak kabur, tak senormal biasa, tapi bisa-lah dipakai bekerja biasa.

Severus setiap hari membawakanku Ramuan. Meski aku tidak bertemu dengannya langsung, tapi tiap sore sepulang kerja, aku menemukan kuali berisi Ramuan menggelegak di atas api, siap dipindahkan ke piala dan diminum.

Keadaan sekarang cukup genting. Beberapa saat lalu konon ada siswa Hogwarts yang nyaris mengenakan kalung yang sudah dikutuk. Konon ia mendapatkannya di tempat minumnya Madam Rosmerta. Siswa itu sekarang sih sudah sekolah lagi setelah beberapa waktu dirawat di St Mungo.

Itu di Hogwarts, tempat yang konon dikenal paling aman. Jangan dikata di tempat-tempat lain. Ada yang diserang manusia serigala, padahal bukan malam bulan purnama. Ada yang dikecup Dementor, kau tahu kan, Kecupan Dementor? Belum lagi yang diserang Inferi ... Makhluk-makhluk aneh mulai bergentayangan.

Severus datang malam-malam lagi. Kali ini ia tidak memakai jubah Death Eaters-nya, hanya jubah biasa. Wajahnya muram. Kusut. Lelah. Seperti ... habis bertengkar. Tapi, bertengkar dengan siapa?

Kami duduk di sofa. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Refleks tanganku mengusap-usap rambutnya. Hening. Senyap. Ia seperti yang ingin berkeluh kesah, tetapi ditahannya.

Aku juga ingin bertanya, tetapi kutahan saja. Kubiarkan saja. Mungkin tidak tepat bicara denganku. Mungkin terlalu pelik, terlalu rumit. Sebagai Squib, ada banyak permasalahan penyihir yang tidak kuketahui. Jadi kubiarkan saja.

Akhirnya ia buka suara, “Anna...”

“Hm...”

Hening lagi.

“Soal ... penyakitmu dulu.”

“Tidak usah dihiraukan, Severus. Paling flu biasa,” sahutku sekenanya. Aku merasa bukan hal itu yang dirisaukannya. Ada hal lain yang jauh, jauh, jauh lebih rumit sekali yang sedang dihadapinya. Masalah penyakitku, itu masalah kecil. Lagipula, aku kan sekarang sudah sehat. Paling tinggal mataku saja. Dan sendi-sendi tulangku rasanya sedikit lebih cepat lelah.

Ia duduk tegak, wajahnya seriu, “Anna, tapi aku tidak dapat menemukan apa penyakitmu waktu itu. Aku curiga ... itu penyakit Muggle.”

Keningku berkerut, “Memangnya ada perbedaan antara penyakit Penyihir, Squib, dan Muggle?” tanyaku heran.

“Pada derajat tertentu, ada. Aku takkan menerangkan lebih lanjut,” katanya sungguh-sungguh, “tapi, maukah kau berkonsultasi dengan Healer Muggle?”

“Dokter.”

“Dokter, apalah namanya. Atau perlu kuantar?”

Aku tersenyum. Membayangkan dia dengan jubah hitamnya mengantarku ke dokter.

“Tidak usah. Biar aku sendiri saja.”

Ia mengangguk, “Janji ya?”

Aku mengangguk juga.

Ia memelukku dan mencium keningku. “Aku pulang dulu. Kau pergi tidur. Jangan kurang tidur lagi, nanti kau sakit lagi.”

“Kau sendiri juga ...” aku sudah mau  protes, tetapi diletakkannya telunjuknya di atas bibirku.

“Jangan protes,” bisiknya. Dikecupnya ringan bibirku, lalu ia keluar dari pintu depan.

Kususul ia ke pintu, tapi ia sudah lenyap.


Kenangan Kesebelas


Kemarin, sepulang kerja, aku langsung ke dokter Muggle. Aku pernah melihat rumah sakit Muggle di luar teritori Hogsmeade, jadi aku datang ke sana saja. Lagipula, aku merasa tidak enak badan lagi. Padahal rasanya aku tidak melakukan apa-apa, selain bekerja di toko Wilbur. Itu kan sudah biasa, dulu juga tidak berakibat apa-apa.

Jadi, aku pergi ke dokter Muggle itu. Dokter Howards. Sudah tua, rambutnya sudah memutih, senada dengan jasnya. Pasiennya sedikit, jadi aku merasa santai ketika diperiksa. Lagipula dokternya sabar.

Ia memeriksa dengan hati-hati. Tidak mengatakan apa-apa, hanya hmm…hmm.. untuk sementara waktu. Lalu ia menyuruhku duduk.

“Apakah ada saudara dekat yang menderita gejala-gejala seperti yang Miss Lightweather rasakan?”

Aku menggeleng pelan-pelan. Siapa? Yang terhitung punya hubungan saudara tinggal Dad dan Kakek.

“Siapa saja dalam hubungan keluarga. Yang sudah meninggal juga, mungkin kalau ingat,” katanya mendorong aku bicara.

Yang sudah meninggal?

Mendadak aku jadi ingat. Mum dan Nenek juga mengalami gejala yang sama. Tetapi, lebih banyak. Selain capek-capek, dan mata yang kabur, mereka juga mengalami gejala-gejala yang lain, mereka jadi sulit bicara, lumpuh, sering mengompol tanpa dirasa… Apakah …?

“Nenek dan Mum, dokter. Apakah .. ini … berlaku dalam keluarga?” tanyaku hati-hati.

“Mungkin. Kalau dugaanku benar. Tetapi, aku ingin memeriksa dengan teliti. Mudah-mudahan bukan penyakit itu. Mudah-mudahan capek-capek biasa,” katanya sambil menulis surat pengantar.

“Besok, datanglah pagi-pagi ke Laboratorium. Bawa juga sampel urine pertama sesudah bangun tidur, sebelum minum atau makan apa-apa. Apakah anda bekerja?” tanyanya mengkonfirmasi.

Aku mengangguk.

“Mintalah ijin cuti sehari. Pemeriksaan itu akan memakan waktu seharian,” katanya menyerahkan surat pengantar yang ia buat. “Minggu depan, datanglah lagi kemari. Hasil Lab akan dikirim langsung pada saya, jadi mungkin minggu depan sudah akan ada hasil.”

Aku mengangguk lagi. “Terima kasih, dokter,” kataku sambil berdiri dan keluar dari kamar prakteknya.

Aku berjalan pelan-pelan. Di samping memang aku agak lelah, aku juga sibuk memikirkan penyakitku. Apakah aku menderita penyakit seperti Mum dan Nenek? Tapi penyakit Mum dan Nenek seperti yang berat, sedang yang aku rasakan ini hanya capek-capek, mungkin masuk angin.

Hari sudah gelap saat aku sampai di rumah. Aku membuka pintu, menyalakan lampu, dan masuk tanpa memperhatikan lagi yang lainnya. Aku langsung masuk ke kamar tidur, dan membaringkan diri tanpa mengganti pakaian lagi.

*****

Keesokan harinya aku kembali ke rumahsakit Muggle itu. Untung tadi aku tidak lupa untuk membawa urine. Dengan berdebar-debar aku menunggu namaku dipanggil di Laboratorium itu.

Oya, aku sudah mengirim burung hantu –meminjam punya Dad—untuk mengirim surat pada Wilbur, minta cuti untuk hari ini.

Pemeriksaannya memang melelahkan. Dan … menyakitkan. Harus kuakui itu. Pertama-tama, aku menyerahkan urine yang sudah kutampung itu. Lalu pemeriksaan darah. Oke, ini tidak begitu menyakitkan. Aku tidak takut pada jarum, jadi lebih mudah.

Setelah itu pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI). Err, ini apa maksudnya ya? Tapi aku mengikuti pegawai lab itu ke suatu ruangan. Ia bertanya, apakah aku menggunakan unsur logam dalam pakaianku, dan dalam tubuhku, seperti alat pacu jantung, pen untuk menyambung tulang, dan lain-lain. Walau aku ragu –apakah Muggle memang suka menyimpan logam dalam tubuhnya?—tapi aku menggeleng saja. Untuk lebih amannya, petugas itu menyuruhku ganti pakaian dengan pakaian pemeriksaan, tanpa pakaian dalam. Aku menurut. Aku mengganti pakaian di kamar kecil di samping kamar MRI itu.

Ternyata aku disuruh berbaring di … bendanya seperti laci. Aku berbaring di situ, lalu ‘laci’ itu didorong maju ke dalam alat besar bundar mengerikan itu. Aku disuruh diam tak bergerak. Mungkin ada sejam aku mencoba tak bergerak di sana. Berbunyi macam-macam, ada kilasan cahaya. O, ya aku disuruh menutup mata di sana. Lalu diberi karet penutup telinga.

Selesai, aku diminta tidak mengganti pakaian dulu. Lalu masuk ke ruangan Lab satu lagi. Menurut surat pengantar yang kubawa, kali ini pemeriksaan cerebral spinal fluid. Entahlah.

Tapi aku disuruh duduk dengan kaki diangkat ke atas kursi. Kaki ditekuk. Lalu aku memeluk kedua kakiku. Kepala ditundukkan. Posisiku seperti seorang bayi, kata seorang pegawai di sana. Pokoknya bentuk posturku menjadi bulat seperti bola.

Lalu, ini yang sangat menyakitkan. Mereka menusukkan jarum di tulang belakangku, dan mengambil cairan yang ada di sana. Sangaaaat menyakitkan. Sangat. Sampai sekarang masih terasa ngilu-nya. Perihnya.

Benar-benar melelahkan. Dan menyakitkan. Jadi aku pulang sudah tidak bisa mengingat apa-apa. Alangkah senangnya kalau ada yang mengantar pulang.

Tapi kalau di rumah sudah ada yang menunggu, boleh juga. Severus ternyata sudah menunggu dari tadi.

“Tadi aku datang ke Wilbur, dan ia bilang kau mau tes laboratorium. Aku khawatir. Karenanya aku ke mari, tapi kau belum pulang,” katanya membantuku duduk.

Aku duduk dengan lega. Menyandar padanya. Setelah beberapa lama baru aku punya kekuatan untuk menjawab. “Hasilnya baru akan diketahui minggu depan. Aku diharuskan kembali ke dokter Howards.”

Severus memandangku prihatin. “Tadi itu .. nampaknya cukup melelahkan untukmu?”

Aku mengangguk. Terlalu lelah untuk menjawab.

Kedua tangan Severus merengkuhku. Aku terdiam. Kalau bisa aku ingin waktuku berhenti saat itu.


Kenangan keduabelas



“Multiple Sclerosis.”

“Mul … ti … “

“Multiple Sclerosis. Tadinya saya akan menjulukinya MS-probable, tapi ternyata positif. Yang saya takutkan.”

“Penyakit apakah itu, dokter?”

Dokter itu menunjuk gambar otak yang ada di sisinya, “Otak memberikan perintah pada syaraf untuk menggerakkan anggota badan. Atau melihat. Atau mendengar. Semacam itulah.”

“Syaraf dilindungi oleh selaput berlemak, namanya Myelin. Pada penderita MS, Myelinnya hilang atau rusak di beberapa tempat, membentuk bekas luka, dan diberi nama sclerosis. Dengan adanya sclerosis, syaraf tidak bisa menerima perintah lagi dari otak, dan sebaliknya juga tidak bisa memberi informasi pada otak,”  ia menunjuk-nunjuk gambar otak itu.

“Mak..maksudknya..” aku masih belum mengerti, “ini .. penyakit … yang gawat?”

Dia tersenyum menenangkan, “Semua penyakit juga gawat kalau tidak ditangani dengan baik. Kita,” dia menekankan pada kata ‘kita’, “akan menangani penyakit ini dengan baik, miss Lightweather.”

“Anna saja,” sahutku lemah. “Apakah .. penyakit saya ini .. belum ada obatnya?”

Dia menggeleng. “Sayangnya sampai kini belum ada obatnya. Tapi dengan penanganan yang baik, anda akan bisa menjalani kehidupan dengan baik. Seperti biasa. Tentu akan ada beberapa hal yang tidak bisa anda lakukan, tapi kita tidak bisa melakukan semua hal, bukan?”

Aku mengangguk, tetapi pikiranku tidak fokus. Dengan pikiran yang bercabang aku mengikuti penjelasan dr Howard tentang obat apa saja yang harus kuminum untuk memperingan gejala penyakit ini, apa saja yang harus kulakukan. Aku sebaiknya tidak tinggal sendiri, harus ada yang membantu dalam kegiatan sehari-hari. Harus berjemur di pagi hari manakala ada sinar matahari, vitamin D sangat membantu. Minum vitamin B12 membantu dalam pembuatan kembali Myelin. Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Aku pulang dengan pikiran tak menentu. Dr Howard mengatakan aku termasuk beruntung karena penyakitku dideteksi dini, pada stadium awal. Jadi bisa dilakukan tindakan-tindakan pencegahan. Tapi aku tak tahu…

Pulang dengan lelah, aku menyandarkan diriku di sofa. Tak ingin melakukan apa-apa.

Tapi terlintas kemudian di pikiranku, apa yang harus kukatakan pada Severus? Sejujurnya kah?

*****

Sore sudah mulai menggelap ketika Severus datang. Tapi aku tak sempat mengatakan apa-apa karena dia hanya memelukku erat.

Dia melonggarkan pelukannya, dan aku dapat melihat langsung ke matanya. Mata yang lelah. Dan sepertinya mata itu tidak berada di tempat ini. Tidak ingin berada di sini. Tapi jauh, jauh mengembara.

“Ada apa, Severus?” tanyaku hati-hati.

Ia menggeleng. Aku tak tahu apa yang dia ingin sampaikan.

Aku juga tak tahu apa yang sedang terjadi ketika bibirnya cepat memagut bibirku yag gemetar, dan melumatnya. Dunia seakan terhenti. Aku terhenti bernapas.

Entah berapa lama barulah kesadaranku kembali. Ia menatap mataku dalam-dalam.

“Aku .. tak pandai mengatakannya.Tapi .. aku mencintaimu.”

Dan aku terdiam tak bisa mengatakan apa-apa.

“Aku tak bisa mengatakannya padamu,” ia melanjutkan, “tapi aku merasakan ada sesuatu yang akan terjadi,” ujarnya serius. “Kita tak bisa bersama, Anna. Tapi kau harus tahu kalau aku mencintaimu.”

Aku masih terdiam.

“Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin aku tahu, tapi aku tak bisa mengatakannya padamu. Aku … ini akan menggemparkan,” katanya lirih.

Ia melepas pelukannya, kedua tangannya menangkup kedua pipiku, lalu ia mengecup keningku. “Baca saja koran besok,” katanya pendek. Lalu ia pergi. Secepat datangnya.

Lama aku memandang ke arah ia pergi walau sosoknya sudah tak terlihat.

Dan aku baru teringat, tak sepatah katapun aku bicara padanya tentang Multiple Sclerosis.

*****

Malamnya aku tidur tidak nyenyak. Subuh aku putuskan bangun saja. Mandi, berpakaian, sarapan. Yang semakin lama memang semakin sulit aku kerjakan sendirian.

Burunghantu pengantar koran datang. Ia seperti kelelahan. Dan ia seperti tergesa-gesa mengantar koran ke penyihir atau Squib lain. Ada apakah gerangan? Sepertinya setiap orang ingin membaca koran hari ini. Severus mengatakan padaku tadi malam--  dan aku tertegun membaca judul berita utama di halaman depan.

KEPALA SEKOLAH ALBUS DUMBLEDORE DIBUNUH
OLEH STAF PENGAJARNYA SENDIRI, SEVERUS SNAPE

Aku terduduk.

Tidak cukup dua kali aku membaca berita itu. Juga berita-berita yang terkait di halaman-halaman lain.

Kepala Sekolah?

Dan Severus?

Wilbur pasti lebih tahu. Dia penyihir bukan Squib. Jadi aku bergegas ke toko.

Di jalan orang-orang hilir mudik dengan panik. Dengan ketakutan.

Aku tiba di toko. Ternyata tidak buka. Er, … pintunya hanya buka setengah. Aku masuk, dan kudapati Wilbur seperti orang linglung. Di tangannya koran terpegang erat-erat.

“Wilbur…”

Ia mendongak, memandangku tajam-tajam, “Anna, kenapa bisa jadi begini?”

Aku menggeleng. Aku duduk di sebelahnya.

Aku teringat mata hitam yang kulihat tadi malam. Mata yang lelah. Mata yang jauh.

Jauh.


Sisi Yang Lain

Sekitar setahun setelah kematian Dumbledore, peperangan besar terjadi sudah. Dan seperti apa yang sudah diprediksi Dumbledore, Potter menang.

Tanpa banyak bicara aku menyerahkan diri pada para Auror—yang mengherankan banyak pihak karena Death Eaters yang lain butuh pengejaran yang intensif. Tentu saja, mereka sebelumnya bebas menindas karena berpikir aman berada di bawah lindungan Pangeran Kegelapan.

Di balik terali sel Azkaban aku hanya bisa pasrah. Apapun alasannya, aku sudah membunuh Dumbledore. Dan karena kelemahan-kelemahanku, aku gagal menyelamatkan banyak orang. Karena kesalahan-kesalahanku, aku justru menyebabkan kematian banyak orang.

Menjadi kejutan ketika Potter justru tampil menjadi saksi utama yang meringankan. Dengan sistematik ia mengemukakan semua yang kulakukan, latar belakangnya, berikut semua buktinya.

Wizengamot menjatuhkan vonis bebas murni. Bahkan yang kudengar, Potter sedang mengajukan usulan agar aku memperoleh Order of Merlin.

Aku tak peduli.

Yang kutuju pertama kali hanya satu, ia yang selalu terpikirkan saat dalam pelarian, saat menyerahkan diri, saat memandang jeruji, saat menandatangani surat pembebasan dari Azkaban dan menerima tongkatku kembali ...

Jadi, tempat pertama yang kutuju adalah rumah Anna.

Tapi tempat itu sudah berubah. Penghuninya berbeda, dan mereka tidak mengenal nama Anna Lightweather. Tentu saja, mereka hanya penyewa.

Baik, kucari ke tempat Wilbur.

Wilbur sedang melayani pembeli ketika aku datang. Ia melihatku, dan segera setelah ia selesai melayani, ia bergegas menutup tokonya. Untung, kupikir, tak ada pelanggan lain hari itu.

Aku belum sempat bertanya, ketika ia memberi isyarat agar mengikutinya. Setengah bertanya-tanya, aku menurut. Ia membawaku … ke pemakaman.

Anna? Tak mungkin!

Tapi memang benar. Wilbur menunjukkan nisannya.

Aku berlutut lemas di depan makamnya. T-tak mu-mungkin! TAK MUNGKIN!

Wilbur menyentuh bahuku pelan. Aku memandangnya minta penjelasan. Seperti tadi, Wilbur hanya memberi isyarat agar aku mengikutinya, kembali.

*****

Toko Wilbur bersatu dengan rumahnya. Toko di bagian depan, bagian belakang untuknya tinggal. Kami masuk, terus hingga ke belakang. Wilbur menyalakan perapian, mengambil dua buah cangkir, dan mengisinya entah dengan apa, aku tak memperhatikan. Setelah aku memegang cangkir, ia beranjak ke kamarnya, dan kembali dengan sebuah kotak. Diserahkannya padaku.

Aku membukanya. Di dalamnya ada barang-barang yang kutahu milik Anna. Ada poutporri yang pernah kuberikan padanya saat ulang tahunnya. Ada barang-barang lainnya, tapi yang langsung menarik perhatianku, adalah sebuah buku.

Tapi sebelum aku membukanya, Wilbur berdeham, dan mulai bercerita.

“Saat kau … peristiwa Dumbledore itu, ia ternyata baru tahu kalau ia kena penyakit Multiple Scerosis.”

Aku juga ingat, bahwa sebelumnya aku pernah menyuruhnya memeriksakan diri ke Healer Muggle. Multiple ... Scerosis?

”Aku tak tahu detailnya, tapi pada pokoknya, dia perlahan-lahan jadi tak mampu melakukan pekerjaan apapun. Aku pernah menemaninya ke Healer Muggle-nya, dan ia berpendapat, seharusnya kondisinya tidak secepat itu berubah menjadi drop. Dokter Howard mengatakan bahwa, penyakit ini ditemukan saat masih dalam stadium dini, sehingga ia masih punya harapan hidup bertahun-tahun, bahkan bisa lebih dari sepuluh tahun. Kemungkinan ... ada pengaruh dari pikiran.”

Pikiranku melayang-layang saat Wilbur dengan rinci menggambarkan bahwa kondisinya merosot dengan cepat. Melihatnya, Wilbur menawarkan agar ia tinggal di sini, agar ada yang menemani. Dan ternyata tepat. Mulai dari bawah, dari kaki, dan terus ke atas, anggota badan Anna kemudian berhenti berfungsi. Lama kelamaan ia semakin lemah, dan ... tiga hari lalu lalu ia menyerah.

Suara Wilbur lirih, dan kata-katanya terpatah-patah. Aku tahu, Wilbur menyayanginya seperti anak sendiri. Wilbur tidak punya anak, tidak punya keluarga. Anna walau punya ayah dan kakek, tak pernah menganggapnya ada.

Mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Wilbur, aku gemetar. Tak mungkin. Ini pasti hanya mimpi. Tak mungkin!

Wilbur mengambil buku dari dalam kotak itu. Membukanya. Halaman terakhir yang terisi.

Tanggal yang tertulis di situ adalah tanggal saat aku menerima vonis bebas dari Wizengamot. Tiga hari lalu.

Severus bebas. Aku tahu itu akan terjadi. Aku lega. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang.

Hanya kalimat itu yang tertulis di sana. Dengan tulisan yang acak-acakan. Sepertinya ... ditulis dengan usaha keras.

”Saat itu ia sudah tidak bisa berdiri lagi. Duduk pun tak bisa. Hanya berbaring, ia berusaha menuliskan kata-kata ini, padahal aku menawarkan bantuan untuk menuliskannya. Ia tidak mau, ia ingin menulis sendiri.”

”Pagi ia mendengar berita ini, menuliskannya, dan siang hari ... ia pergi. Penyakit itu sudah mencapai jantung. Kau tahu, otot kaki bisa berhenti, dan kau masih bisa hidup. Otot tangan bisa tak mau bekerja, dan kau masih bisa berpikir. Tapi kalau otot jantung berhenti bekerja ...” Wilbur mengusap matanya.

Aku tak bisa berbicara sepatah katapun. Bahkan otakku menolak untuk mengolah kata.

Hanya dua kata yang terngiang-ngiang.

Sudah terlambat ...

FIN

A/N: Sebenernya udah males nyeleseinnya. Nggak mood. Dan jadinya tidak seperti yang diinginkan. Tapi beberapa hari kemarin Lily nagih-nagih. Plus jadi inget, 13 Februari ini ulangtahunnya mitalucudanimut aka pinguin oren. Jadi ya ... dipaksakan diselesaikan Tongue

Hepi bersdey, ya mit! 21 Februari nanti mudah-mudahan selesai satu Snapefic lagi buat pakde Rickman *nyengir lucu*
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #41 on: February 12, 2009, 07:56:06 PM »

Happy Valentine, Angie!

Disclaimer: Harry Potter © JK Rowling

A/N:
1.   Drabble. Mudah-mudahan masih masuk entry untuk Valentine Challenge dari Infantrum
2.   Timeline setelah Great Battle, George sudah menikah dengan Angelina Johnson dan punya anak, Fred
3.   Jumlah kata 573 di Microsoft Word
4.   Diperuntukkan spesial  untuk Yohanna Yuni
5.   Paragraf dengan tulisan italic merupakan salinan atas halaman 475-476 Harry Potter dan Piala Api


-o0o-

Salju masih turun perlahan di Ottery St Catchpole saat malam semakin pekat.

Sosok transparan itu tak terpengaruh oleh suhu, tertembus butiran salju, menyelusup tembus tembok The Burrow. Celingukan, seperti mencari sesuatu. Walau dia tahu, jam segini sih kecil kemungkinan masih ada yang bangun.

Ia menembus tembok lagi ke kamar adik perempuannya. Tidak ada seorangpun di sana. Tentu saja, Ginny pasti bersama Harry, entah di Grimmauld atau di Godric Hollow. Tapi, mungkin tadi ia di sini, Fred mencium jejaknya.

Ia keluar lagi menembus tembok. Masuk ke kamar yang lain. Adik laki-lakinya. Juga tidak ada. Tentunya Ron sudah asyik bersama Hermione di rumah mereka. Sama seperti Ginny, nampaknya ia tadi juga ada di rumah ini.

Menembus tembok yang lain lagi, ia masuk ke dalam kamarnya. Dulu, kamarnya bersama George. Sekarang, kamar George. Bersama seorang gadis—tidak, wanita muda. Bagaimanapun, dia sekarang adalah saudara iparnya, tak bisa dia mengatakannya sebagai ‘gadis’. Sekarang ‘gadis’ itu adalah istri kembarannya, George, bahkan sudah menjadi ibu.

Angelina Johnson.

Sekarang sudah menjadi Angelina Johnson-Weasley.

Fred melayang perlahan mendekati tiga sosok yang sedang lelap di tempat tidur—tidak  mungkin jumlahnya hanya dua setengah kalau yang satu itu hanya dihitung setengah, Fred tertawa kecil. Makhluk kecil yang menggemaskan. Dan George memberinya nama ‘Fred’.

Fred duduk—tepatnya mengambang—tepi tempat tidur. Pandangannya terpusat pada Angelina.

Angie.

Pikirannya melayang pada peristiwa beberapa tahun yang lalu. Saat mereka masih dekat. Saat mereka masih dalam satu grup, tim Quidditch Gryffindor. Semuanya sangat akrab, dia, George, Angie, Katie Bell, Alicia Spinnet, bahkan Oliver Wood.

Tak ada yang menyangka kalau dia sebenarnya menyimpan rasa pada Angie. Tak ada. Bahkan George sekalipun.

Fred tersenyum.

Mungkin karena tidak tahu itu, George tidak nampak terbebani saat menikahinya. Ah, mereka memang selalu saja sama dalam selera. Untung saja ... dia sudah mati, jadi George tak punya beban menahan diri mengalah.

Fred tersenyum semakin lebar.

”Kalau begitu harus buru-buru, kalau tidak yang cantik-cantik sudah keambil semua,” kata Fred.

”Kau sendiri pergi dengan siapa?” tanya Ron.

”Angelina,” kata Fred segera, tanpa malu-malu.

”Apa?” tanya Ron kaget. ”Kau sudah memintanya?”

”Pertanyaan bagus,” kata Fred. Dia menoleh dan berteriak ke seberang ruang rekreasi. “Oi! Angelina!”

Angelina, yang sedang mengobrol dengan Alicia Spinnet di dekat perapian, memandangnya.

“Apa?” dia membalas berteriak.

“Mau ke pesta dansa bersamaku?”

Angelina memandang Fred dengan pandangan menilai.

“Baiklah,” katanya, dan dia kembali menoleh ke Alicia dan meneruskan mengobrol, dengan wajah sedikit nyengir.

“Begitu,” kata Fred kepada Harry dan Ron, “gampang.”


Fred menyeringai. Kalau saja Harry dan Ron tahu bahwa jantungnya juga berdebar-debar menunggu jawaban Angie. Tapi memang mereka semua tahu bahwa ia, George, Angie, Alicia, Katie, sangat-sangat-sangat akrab. Tak kan ada yang mengira bahwa ia ... menyimpan rasa.

Fred melayang ke arah Angie tidur, menunduk ke arah kepalanya. Tidurnya lelap, sangat damai, dan wajahnya polos.

Diulurkan dua jarinya, berkonsentrasi agar tak menembus rambut Angie, berusaha memindahkan helai-helai rambut yang tak beraturan itu agar rapi ke belakang telinga. Berhasil.

Tersenyum, ia berbisik di telinga Angie, “George akan menjagamu selalu. Aku tahu itu.” Ia menegakkan kembali tubuhnya, masih memandangnya.

“Happy Valentine, Angie.”

Dan ia melayang pergi, entah ke mana.

FIN

Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #42 on: August 07, 2009, 03:50:44 AM »

FATHER FIGURE

Harry Potter by JK Rowling
Cerita dimulai dari akhir Perang Besar (2 Mei 1998 – HP Lexicon)


Special for  Niero Alluka, have a Very Happy Snappy Birthday!

-o0o-

Guru adalah mereka yang menjadikan dirinya jembatan
Para murid diundang untuk menyeberanginya
Setelah semua menyeberang, dengan senang hati mereka mengundurkan diri
Dan mendorong para murid untuk menciptakan jembatan sendiri

[Nikos Kazantzakis – Chicken Soup for the Kid’s Soul]

-o0o-

Walau suara pintu berderit halus sekali, Harry langsung berdiri. Sosok matron setengah baya itu keluar dengan raut wajah yang tak bisa dibaca.

“Madam Pomfrey?” pinta Harry, harap cemas.

Perempuan itu menghela napas panjang. “Dia memang memakai Stopper in Death. Penangkalnya sudah diberikan.” Harry sudah nyaris tersenyum lega ketika kalimat berikutnya menyusul, “tapi … ada kesulitan.”

-o0o-

Begitu selesai dengan urusan Elder Wand, Harry, Ron, dan Hermione kembali ke asrama Gryffindor. Lelah, berniat untuk tidur. Hermione sudah masuk ke kamarnya, Ron sudah menyusup ke dalam bantalnya, ketika Harry tiba-tiba teringat.

Jenazah Snape masih ada di Shrieking Shack.

Tak membuang waktu untuk membangunkan Ron, ia bergegas mengenakan pakaian lagi, menyelipkan tongkat, lari ke Shrieking Shack. Di sana ia temukan, jenazah itu masih dalam posisi seperti tadi.

Sekuat tenaga dibawanya sendiri—keluar dari Shrieking Shack bukan perkara mudah—jenazah ke Aula Depan, ketika disadarinya ada sesuatu yang aneh. Jenazah Snape tidak kaku, seperti jenazah-jenazah lain, seperti Fred, seperti Remus atau Tonks.

Mendadak terpikir olehnya, mungkinkah ia memakai Stopper in Death?

Tapi untuk bertanya, bertanya pada siapa? Mulanya terlintas Hermione—tapi dia pasti sudah kecapekan sekarang dan sedang tertidur lelap. Tak berpikir panjang seperti biasanya, dia langsung saja membawa jenazah Snape ke Hospital Wings.

Mungkin Madam Pomfrey tahu.

-o0o-

Madam Pomfrey tahu ternyata. Selain karena sedikit-sedikit pernah membaca, juga ternyata Snape pernah memberitahu. Tapi karena satu dan lain hal, Madam Pomfrey mempersiapkan agar Harry tidak terlalu optimis.

Pertama, antara waktu Snape ‘mati’ dan waktu ia diberikan penangkalnya, lumayan jauh. Kedua, dan ini yang cukup mengkhawatirkan, Snape ‘mati’ karena bisa ular. Jauh lebih mengkhawatirkan dari ‘mati’ ditusuk misalnya.

Apalagi bisa ularnya jenis langka, ular besar yang bukan hanya membunuh dengan membelit tetapi juga dengan mematuk. Menyebarkan racun dengan bisa, yang ternyata termasuk jenis cepat membunuh.

Itu yang harus ditangani sekarang. Itulah kesulitannya.

Stopper in Death menahan kematian pada waktu yang tepat, tapi selanjutnya harus diupayakan membersihkan bisa ular dalam darah dan seluruh tubuh Snape.

Harry memandang lekat-lekat Madam Pomfrey.

“Aku tak tahu soal itu, Madam Pomfrey.”

Madam Pomfrey balas memandangnya dengan lembut, “Karena itulah kau kuberi tahu. Kau pernah me-Legilimens Severus?”

Harry mengangguk ragu. Kejadian itu sudah lama, dan tidak sengaja.

“Bisa ular yang menjalar di seluruh tubuh Severus bisa kuatasi. Mudah-mudahan tak lama bisa bersih. Tapi bisa yang masuk ke dalam otak, harus diatasi secara khusus.”

Harry tak begitu mengerti.

“Kau tahu bagaimana menggosok lantai kamar mandi tanpa sihir?”

Itu tentu saja Harry tahu. Sering detensi. Perlahan Harry mengangguk tak mengerti arah pertanyaannya.

“Ini seperti menggosok lantai kamar mandi, harus digosok bagian perbagian. Tak bisa disihir sekaligus semuanya, harus sedikit-sedikit.”

“Tanpa sihir?”

“Dengan Legilimens.”

Mulai terbuka kenapa Madam Pomfrey memintanya. Tentu. Ia akan mengerjakannya, seberapa lama pun wakt—

“Dan dalam waktu yang terbatas. Bisa ular itu ternyata punya kadaluarsa. Seminggu. Jadi kita harus bisa mengeluarkan bisa itu dalam waktu seminggu sejak ia digigit, dan kuhitung itu berarti sudah duabelas jam yang lalu.”

Berarti tinggal enam hari duabelas jam lagi?

Masalah bertambah saat Hermione datang dengan tangan penuh gulungan perkamen.

“Harry. Madam Pomfrey. Sesuai dengan dugaanmu, jika otak Profesor Snape sudah dipenuhi bisa ular itu—dan itu jelas karena gigitannya di leher—maka kita harus bekerja sangat keras.”

Gulungan perkamen yang satu dibuka, gambar penampang otak. Hermione menggantungkannya di dinding. Gulungan satu lagi dibuka, penuh tulisan.

“Otak bukan gumpalan licin yang bisa kita bersihkan dalam waktu setengah jam, Harry, otak adalah kumpulan kerutan, yang kalau kita beberkan dan luruskan, luasnya jadi tak terhingga. Dan itulah yang harus kita bersihkan, Harry. Dalam waktu enam hari lebih sedikit.”

Harry meraih tongkatnya, digenggamnya erat-erat. “Baik. Mari kita lakukan.”

Hermione mendeham. “Sebentar, Harry.”

“Adakah lagi yang harus kuketahui?”

“Kita kemungkinan besar tidak bisa membersihkan semuanya tepat waktu. Karena itu harus ada … prioritas.”

Harry menelan ludah. Apakah ia memang tidak akan bisa menyelamatkan gurunya tepat waktu?

Hermione menunjukkan gambar otak yang satu, “Gambar ini menunjukkan bagian-per-bagian otak dengan fungsinya. Bagian kiri dan bagian kanan. Otak untuk menerima rangsang syaraf, otak untuk menyimpan memori, dan tentunya yang paling penting bagi kita penyihir adalah … otak untuk mengontrol kemampuan menyihir kita. Yang mana yang harus didahulukan … dibersihkan?” suara Hermione memelan.

Harry terduduk. Ia menoleh pada Madam Pomfrey, dan menoleh lagi pada Hermione.

Madam Pomfrey mengangguk pelan, “Ini kuserahkan padamu Harry. Percaya atau tidak, aku merasa banyak kesamaan antara dia dan dirimu.”

Harry menunduk. Pilihan diserahkan padanya? Prioritas mungkin otak untuk menerima rangsang syaraf, lalu memori, lalu … tapi kemampuan sihir juga penting, dan … jadi yang mana dulu?

Perlahan ia berdiri. “Tolong ingatkan, Hermione. Pertama membersihkan susunan syaraf, motorik halus. Lalu bagian otak untuk mengontrol kemampuan menyihir. Sesudahnya memori. Hal-hal lain mungkin dikerjakan kalau masih ada waktu. Mudah-mudahan.”

Hermione memandang Madam Pomfrey, lalu bertanya pelan pada Harry, “Kau yakin?”

Madam Pomfrey yang mengangguk, “Kukira untuk penyihir lain harus dimulai dengan susunan syaraf untuk motorik halus, lalu motorik kasar, baru hal-hal lain, tapi untuk Severus, ya, pilihanmu tepat Harry. Mari kita mulai.”

Harry berdiri, memegang erat tongkatnya dan berbicara pelan pada tongkat itu, “Please, jangan kecewakan aku ya?”

Perlahan ia masuk ke dalam kamar di mana gurunya terbaring. Masih sama seperti waktu dibaringkan, nyaris tak ada gerakan. Selintas sama saja seperti jenazah.

Hermione menyusul dengan gulungan peta otak, dan berbisik pada Harry, “Mulai dari sini, Harry,” sahutnya menunjuk satu tempat.

“Baik,” sahut Harry, juga nyaris tak terdengar. Ia berdiri tepat di hadapan Snape, mengacungkan tongkat ke tengah-tengah kening dan berbisik, “Legilimens!”

Jauh lebih sulit dari Legilimency yang terdahulu. Selain ia harus lebih memusatkan perhatian, sekarang ia juga harus mengarahkan ke mana Legilimency bergerak dan membuatnya membersihkan tempat itu.

Memusatkan perhatian tanpa henti membuatnya lelah. Harry memutuskan untuk berhenti sejenak.

“Baru sejam?” tanyanya tak percaya. Seakan ia sudah berjam-jam. Tapi ia berkecil hati juga saat melihat Hermione mewarnai tempat yang sudah dibersihkan dalam otak Snape. “Baru sebegitu yang berhasil dibersihkan?”

Hermione mengangguk tanpa suara.

Harry mencoba tidak terlihat putus asa. Baru sekian, ia sudah merasa lelah? Tidak boleh, ia tidak boleh terlihat lelah. Lagipula, ia harus mencoba sekerasnya.

“OK, aku siap lagi,” sahutnya, mengusir rasa lelahnya.

Satu, dua, ti … “Legilimens!”

Malam sudah tiba saat Hermione berhasil memaksa Harry agar beristirahat sejenak. Daerah yang sudah berhasil dibersihkan agak lumayan juga. Nyaris seluruh jaringan syaraf sudah berhasil dibersihkan. Harry tadinya tak ingin berhenti, tapi Hermione berhasil menunjukkan daerah-daerah di mana ia nyaris saja gagal.

“Kalau sudah nyaris gagal, kalau pemusatan perhatian sudah melenceng, berarti kau perlu istirahat.”

“Tapi, kalau aku beristirahat, akan berkurang waktuku untuk memulihkannya—“

“Tidak, Harry. Kalau kau terus bersikeras, kau justru bisa saja membunuhnya—“

Baru Harry menyadarinya. Dalam keadaan lelah, pemusatan pikiran bisa melenceng. Mau tak mau ia kembali ke kamarnya, makan dengan cepat hidangan yang disediakan Kreacher, dan berusaha tidur dengan cepat.

“Kreacher, bangunkan aku dua jam lagi.”

Tepat dua jam kemudian Harry sudah berdiri lagi di Hospital Wing, menyipitkan mata,  memusatkan lagi perhatian, merapal lagi Legilimens.

Tapi kali ini begitu ia selesai satu sesi, seseorang sudah menemaninya.

“Malfoy?”

“Ron mencariku, dan menceritakan apa yang kau lakukan. Aku memang belum pernah merapal Legilimens, hanya sering Occlumens, tapi dari apa yang diceritakan bibi Bella, nampaknya tidak begitu berbeda. Mudah-mudahan kita bisa mengejar waktu.”

Harry menghela napas lega. Setidaknya ada pengganti. Mereka bisa bekerja 24 jam kalau begitu.

“Terima kasih, Malf—Draco.”

Draco menggeleng. “Aku hanya ingin menebus kesalahanku,” bisiknya pelan. Mengeluarkan tongkatnya, dan bersiap. Harry menepuk bahunya, dan mundur.

Kali ini pekerjaan agak lebih cepat. Hermione mewarnai bagian demi bagian dalam peta otak dengan puas.

“Seluruh susunan syaraf sudah bersih. Kau dan Draco sudah nyaris membersihkan juga bagian kemampuan mengontrol sihir. Nanti sore mungkin kita bisa masuk ke bagian memori. Ini akan lebih susah, karena lebih banyak.”

“Apalagi,” Madam Pomfrey masuk, “bagian memori itu lebih dinamis, berbeda dalam tiap orang. Akan lebih sulit.”

Harry mengangguk. Seberapa sulitnya, akan dicoba, tekadnya, memperhatikan sekarang giliran Draco sedang beraksi.

“Madam, bagaimana dengan bisa ular di bagian yang lain?”

Madam Pomfrey tersenyum membesarkan hati, “Sudah dibersihkan. Sekarang jika susunan syaraf juga sudah bersih, ada kemungkinan ia bisa bangun kapan saja.”

“Benarkah?”

Madam Pomfrey mengangguk. “Kau sendiri jangan lupa istirahat. Sekarang biarkan Draco yang mengerjakannya, kau pergilah istirahat.”

Rasanya satu beban hilang dari punggung Harry saat ia pergi beristirahat siang itu.

-o0o-

Tanggal 8 malam, saat Harry menghentikan sesi bagiannya.

“Memori sudah selesai, Madam Pomfrey. Sekarang tinggal susunan syaraf untuk motorik kasar—“

“Pergilah beristirahat, Harry. Jangan memforsir begitu. Selama ini kau sama sekali tidak beristirahat, hanya menyandarkan diri saat Draco menggantikanmu. Ini sudah seminggu, Harry!”

“Tapi waktu hanya tinggal beberapa jam lagi, Madam. Setelah itu, saya akan beristirahat. Saya janji!”

Madam Pomfrey menggeleng-geleng.

Hanya tinggal beberapa jam lagi. Jika saja ia berhasil menyelesaikan bagiannya, otak Profesor Snape akan bersih total. Ia bisa bangun kapan saja. Dan bisa melakukan apa saja, apa yang ia suka.

Hermione menyela, “Harry, lakukan dengan perlahan-lahan saja. Satu jam, istirahat, dan seterusnya. Jangan memaksakan diri.”

“Baiklah,” Harry mengalah. Ia duduk sejenak. Minum. Dan tak sabar memulai sesi selanjutnya.

Memegang erat tongkatnya, konsentrasi, dan, “Legilimens!”

Beberapa jam lagi. Ia harus berlomba dengan waktu. Masih ada beberapa bagian dari otak yang belum diwarnai oleh Hermione, berarti masih belum bersih betul. Istirahat. Mulai lagi. Istirahat. Legilimens lagi. Ia belum boleh istirahat. Masih ada satu jam lagi, walau nampaknya tidak akan penuh semua dibersihkan, tetapi inilah maksimalnya.

Legilimens!”

Dan setelah ini Profesor Snape akan bangun. Dan ia bisa meminta maaf akan semua yang sudah ia lakukan dulu. Dan ia—

“Harry!”

“HARRY!”

Tersentak bangun ia mendadak. Tidak! Apa yang sudah terjadi? Wajah Hermione nampak khawatir

“Kau tertidur, Harry, untung saja kau menarik tongkatmu di saat terakhir—“

Apa?

“Saat terakhir tadi kau tertidur, untung kau sempat menarik tongkatmu.”

Linglung Harry berusaha bangun. Dilihatnya jam. Sudah lewat dari masa seminggu rupanya. Dilihatnya peta otak buatan Hermione, masih ada beberapa spot yang masih belum berwarna.

Lemas ia terduduk.

“Hermione—“

Hermione membantu Harry berdiri, duduk di kursi dengan benar. “Tidak apa-apa, Harry. Kita sudah tahu kan, bahwa kita tidak akan bisa membersihkannya seratus persen. Tidak apa-apa, Harry. Bagian-bagian yang penting sudah kita bersihkan, ia akan bisa bangun lagi, ia akan bisa hidup lagi seperti orang biasa.”

Harry mengeluh, menyisir rambutnya dengan jari, “Tidakkah bisa kita balikkan dengan Time Turner, Hermione? Tinggal sedikit lagi—“

Hermione bertukar pandang dengan Madam Pomfrey.

“Tidurlah, Harry. Nanti setelah segar, kembalilah ke mari, kita lihat seperti apa hasil kerjamu selama ini. Draco juga akan kami beritahu.”

Seperti tidak ada tenaga, Harry mengangguk. Hermione mengangsurkan tongkat yang tadi ia pakai, yang terjatuh saat ia tertidur tadi. Tanpa daya ia memasukkan tongkatnya ke dalam jubah, dan berdiri.

“Aku ke kamar dulu.”

Hermione dan Madam Pomfrey mengangguk.

Padahal hanya tinggal sedikit. Padahal hanya tinggal sedikit lagi, pikirnya sambil menukar pakaiannya dengan piama dan masuk ke ranjangnya. Padahal hanya tinggal sedikit saja.  Kalau saja ia masih diberi beberapa jam lagi. Padahal—ia menepis. Ayolah. Itu sudah hasil terbaikmu, tukasnya dalam hati, dan berusaha menerima.

-o0o-

Ia sudah tidur nyenyak, sudah mandi, sudah makan, dan sedang berjalan menuju Hospital Wing, ketika tiba-tiba ada perasaan tak enak saat semakin mendekat. Kamar itu ramai!

Tentu saja, pikirnya, kemungkinan Profesor Snape sudah bangun. Di sana ada Madam Pomfrey, ada Hermione. Ada Draco nampaknya. Juga ada Profesor McGonagall.

Jadi, untuk apa ia berada di sana?

Saat Profesor Snape masih tak sadar, kegunaannya jelas: menggunakan Legilimency untuk membuatnya sadar kembali. Tapi sekarang? Profesor Snape belum tentu menginginkan kehadirannya. Yang jelas, Profesor Snape membencinya.

Harry berhenti.

Bimbang.

Dan sudah membuat langkah untuk memutar kembali ke kamarnya, ketika pintu terbuka. Hermione keluar.

“Profesor Snape menginginkan bertemu denganmu, Harry.”
(diterusin di post selanjutnya)
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #43 on: August 07, 2009, 04:06:46 AM »

(lanjutan post sebelumnya)
“Profesor Snape menginginkan bertemu denganmu, Harry.”

Tak percaya. Harry terdiam sejenak. “Bertemu—denganku?”

Hermione mengangguk. Menunggu sampai Harry melewatinya, melewati pintu kamar. Dan yang ada di dalam sana semua melihat ke arah Harry.

Canggung.

Harry berjalan menuju tempat tidurnya. Berhenti tiga-empat langkah sebelumnya.

“Saya—saya dengar Anda sudah sadar,” sahutnya.

Madam Pomfrey selesai memeriksa tensi. Memasukkan tongkat ke dalam jubahnya. Mengangguk pada Snape, dan berjalan ke luar kamar.

Profesor McGonagall menepuk lembut tangan Snape, dan menyahut, “Beristirahatlah,” lalu berjalan keluar kamar.

Draco mengangguk pada Snape, berjalan menuju ke luar kamar, melewati Harry, dan mengangguk juga pada Harry, lalu berjalan ke luar.

Hermione sedari tadi berdiri di pintu kamar, keluar dan menutup pintu kamar dari luar.

Harry tak tahu apa yang harus dilakukan.

Maju ke dekat pembaringan, ada kursi di sana, tadinya digunakan Profesor McGonagall. Tapi ia tidak duduk di sana, hanya menggeser kursi, dan berdiri di sana. Kemudian ia mendadak ingat pada memori yang diberikan padanya sesaat setelah Nagini menggigit Snape.

Dirabanya saku jubahnya. Ada di sana. Memang selalu ada di sana, tak pernah ia berani menyimpannya sembarangan. Dikeluarkannya.

“Milik Anda,” sahutnya pelan, diserahkan pada Snape.

Dari tadi Snape memandang Harry tanpa berkedip. Tapi kini ia menunduk. “Simpanlah,” sahutnya tak kalah pelan.

Ada beberapa saat di mana keduanya tak saling memandang. Keadaan yang aneh, karena biasanya di masa sekolah dulu, keduanya sering ngotot saling memandang dengan penuh amarah.

Harry berusaha mengangkat kepalanya duluan, “Sir—“

Snape juga mengangkat kepala, tapi tidak melihat ke arahnya.

Berusaha tak gemetar, Harry meneruskan, “Saya—saya minta maaf,” suaranya masih tetap pelan.

“Untuk apa?” Snape menoleh.

Menelan ludah, Harry melanjutkan, “Untuk—untuk semuanya. Karena saya—karena saya menyebut anda pengecut. Karena saya—“

“Akulah yang harus minta maaf, Potter.”

Tak percaya Harry memandang tepat di wajah Snape, yang kini juga tepat memandangnya.

“Karena selama ini aku melihatmu sebagai Potter junior,” Snape menunduk lagi. Melanjutkan dengan suara lebih pelan, “Bukan sebagai anak Lily.”

“Sir?”

“Kau anak Potter, memang. Tapi kau juga anak Lily,” Snape mengulang. Memandang Harry kali ini. Lama. Karena Harry tak tahu harus berkata apa.

Snape beringsut membenarkan duduknya. Harry mendekat dan membantunya, otomatis. Tapi setelahnya, canggung lagi. Takut—ia tersinggung.

“Menurut Poppy—kau yang menyembuhkanku?”

“—eh, ya. Maksud saya, saya hanya—“

“Hanya kau yang sudah pernah terlatih Legilimency kukira.”

“Tidak, tidak, Draco juga—“

“Draco hanya membantu sebagian, ia mengaku. Ia hanya terlatih Occlumency, jangan lupa.”

Matanya kini menatap tajam pada Harry. Harry menunduk.

“Jadi, kau?”

Harry mengangguk.

“Dan siapa yang memberimu pilihan, mana yang harus diprioritaskan?”

“—saya—“ Harry kembali menelan ludah. Tidak, ia sudah berjanji akan menerima semua kemarahan Snape apapun yang terjadi—

“Bagaimana kau bisa tahu mana yang aku inginkan untuk diproritaskan? Bagaimana kau bisa tahu bahwa yang kuinginkan di atas segala hal adalah memori, bukan kemampuan motorik kasar seperti berjalan dan berlari?”

“Eh—“

Suara Snape yang sudah naik, perlahan turun lagi, “Bagaimana kau tahu persis apa keinginanku?”

Harry tersentak. Mengangkat kepala.

Tidak ada kemarahan dalam mata hitam yang sedang menatapnya lekat-lekat.

“Terima kasih, Potter.”

Menelan ludah sekali lagi, Harry memaksa diri untuk berbicara, “Harry saja, Sir.”

“Harry. Duduklah.”

-o0o-

Harry mengocek teh di cangkir sebelum akhirnya menyerahkan cangkirnya pada Snape hati-hati. Kemudian mengocek teh di cangkir yang satunya lagi, untuknya. Duduk di dekat tempat tidur dan memperhatikan cangkir Snape, tangannya memang bergetar, tetapi tidak menampakkan tanda-tanda akan jatuh.

Bagian terakhir dari otak yang dibersihkan Harry adalah pusat gerakan motorik kasar, dan itu berarti duduk, berdiri, berjalan, dan sebagainya. Dan itu tidak sempat diselesaikan Harry. Berarti Snape harus mulai belajar dari awal lagi: duduk, berdiri, berjalan.

Tapi Snape tidak menyesalinya. Paling tidak, itu yang nampak dari raut wajahnya. Ia lebih menyukai kenyataan bahwa memorinya kembali utuh. Itu juga yang dikatakannya pada Madam Pomfrey, ketika ia mengatakan memilih Harry sebagai perawatnya. Madam Pomfrey sampai tak percaya, sampai harus memintanya mengulang dua kali kalimatnya. Harry … merawatnya?

Mungkin … kepribadiannya ada yang berubah setelah tercuci oleh bisa Nagini? Bisa jadi, tapi Harry tak ingin tahu. Yang ia ingin lakukan hanya berusaha memperbaiki hubungannya.

“Kau tak menyesal, merawatku di sini? Mengajariku berdiri dan berjalan?”

Harry menggeleng. Tadi seharian ia berusaha melatih Snape berdiri lagi, dan setelah bisa, setelah makan siang, ia bersikeras belajar berjalan.

“Anda seharusnya lebih banyak beristirahat.”

“Aku sudah tidur seminggu penuh minggu lalu,” raut wajah Snape keukeuh.

Harry mengalah, dan tak berbicara lagi. Hanya sesekali mengusulkan untuk duduk, dan kali ini usulnya untuk minum teh diterima. Itu juga setelah dikatakan bahwa tehnya dikirimkan khusus oleh Profesor McGonagall.

“Kau tak menyesal terus-terusan melatihku di sini?” ulang Snape setelah menyesap setengah cangkir tehnya.

Harry menggeleng.

“Atau kau memang ingin bersembunyi, menghindari para wartawan?”

Harry tersenyum kecil. Sejak Perang Besar selesai, alangkah banyaknya permintaan wawancara, baik wawancara penuh maupun hanya sekalimat-dua kalimat mengenai sesuatu hal. Dari wawancara menyeluruh tentang politik persihiran hingga bagaimana pendapatnya tentang warna lipstick yang akan digunakan dalam pemilihan Miss Wizard bulan yang akan datang. Dari Daily Prophet hingga Witch Weekly. Satu-satunya yang dilayani hanyalah wawancara dengan Luna untuk The Quibbler, itu juga tidak disadarinya sebagai wawancara, sebelum akhirnya Luna nyengir dan berkata percakapan tadi akan dimuat untuk The Quibbler nomer mendatang.

“Anda sudah tahu,” sahutnya pendek, nyengir.

Snape menyerahkan cangkirnya, dan berusaha untuk berdiri lagi. Harry cepat-cepat menyimpan cangkir-cangkir itu dan membantu Snape berdiri.

Tidak langsung, ia hanya berdiri tepat di belakangnya, siap untuk memegangnya jika terjatuh. Harry melihat sendiri bahwa Snape berusaha keras untuk bisa berdiri dan berjalan sendiri. Secepatnya.

Secepatnya?

Itu kesan Harry. Seperti Snape ingin bisa bergerak sendiri secepatnya, dan … pergi dari sini?

Harry berusaha menekan perasaannya, dan dalam diam membantu terus melatih Snape berdiri, bangkit, berjalan.

“Kau nampak sudah lelah, Harry?” selidik Snape.

“Tidak, ti—“

“Setelah Kreacher mengantar makan malam, pergilah beristirahat.”

“Tapi, Anda—“

“Aku tidak apa-apa. Aku sudah bisa mengambil gelas sendiri. Dan jangan khawatir, aku tidak akan mengambil Firewhiskey.”

Harry terpaksa tersenyum. Madam Pomfrey keras sekali melarang minuman beralkohol di Hospital Wings.

“Baiklah. Tapi Anda juga beristirahat—“

Snape mengangguk, kelihatan sekali hanya untuk menenangkan Harry.

“Tapi, jangan—“

“Tidak, aku tidak akan berdiri atau berjalan. Kalau tidak bisa tidur, aku akan membaca perkamen-perkamen, itu saja.”

Harry menghela napas. “Besok pagi saya kembali.”

Snape mengangguk.

Harry menatap Snape lama sampai Kreacher datang membawakan makan malam mereka. Baru ia memindahkan pandangannya.

“Terimakasih, Kreacher.”

“Sama-sama, Master Harry. Master Profesor,” dan ia membungkuk dalam-dalam sebelum menghilang.
 
Harry menata piring dan sendok-garpu. Ia bersikeras untuk tetap di sana selama makan malam, agar ia melihat sendiri seberapa banyak Snape makan.

“Tapi kau juga makan,” sahut Snape, tak menggerakkan tangannya sampai Harry mengambil juga sebuah piring dan mengisinya, “Aku tak mau justru kau yang jatuh sakit.”

Harry merasa justru seperti ia sedang mengawasi, seperti sedang mengkhawatirkan anaknya agar tidak jatuh sakit—lagi.

-o0o-

Pagi masih dingin saat Harry menelusuri koridor menuju Hospital Wings, tapi di sana rupanya sudah ada suara-suara. Sepertinya Profesor McGonagall sudah mengunjungi koleganya pagi ini.

Tapi Harry menghentikan langkahnya.

Seperti … pertengkaran.

“—baiklah, baiklah, kalau itu memang maumu. Aku—“ suara McGonagall terputus. Menghela napas. “Baiklah. Aku tak bisa memaksamu.”

Suara McGonagall berdiri dari kursi, dan membuka pintu kamar, akan keluar. “Selamat pagi, Severus.”

“Pagi.”

Dan McGonagall keluar. Menghentikan langkah ketika melihat Harry, dan tidak jadi menutup pintu. Membiarkan Harry lewat—setelah Harry mengangguk padanya.

“Tutup pintunya,” sahut Snape pelan.

Harry menutup pintu tanpa suara. Di meja di samping tempat tidur, sudah ada sebaki sarapan yang belum disentuh. Tanpa bicara, Harry mengangkat dan meletakkan piringnya di atas pangkuan Snape, menyodorkan sendok dan garpunya. Snape terpaksa menerima.

“Makanlah,” sahut Harry tenang—ditenang-tenangkan. Sama sekali tidak menyinggung peristiwa barusan.

“Kau juga makan,” akhirnya Snape menurut dengan syarat. Harry menjentikkan jari, dan Kreacher datang membawa sarapan untuknya. Sebenarnya Harry sudah makan, tetapi demi agar Snape mau menghabiskan sarapannya, ia makan sekali lagi pelan-pelan.

“Aku akan kembali ke Spinner’s End.” Pendek.

“Sendirian?” Ada banyak pertanyaan yang mengikuti, tapi hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Harry.

“Kalau kau bersedia—denganmu. Hanya untuk waktu sementara. Setelah aku bisa berjalan bebas lagi, kau bebas untuk—“

Harry meletakkan piringnya. “Saya bersedia. Sampai waktu tak terbatas. Dengan syarat—Anda kembali lagi ke Hogwarts 1 September.”

Telak.

Rupanya, itu yang sedari tadi dipertengkarkan dengan McGonagall, dan Harry dengan tepat membawa persoalannya terbuka.

Snape berhenti mengunyah, dan menyimpan piringnya juga. “Aku—sudah tak ingin bertemu dengan murid-murid, apalagi mengajar.” Ia menghembuskan napas panjang, dan menerawang ke langit-langit. “Minerva justru menginginkan aku kembali—sebagai Kepala Sekolah.”

Harry terdiam sejenak. Lalu menyahut pelan, “Profesor McGonagall hanya Pejabat Sementara Kepala Sekolah Hogwarts, Profesor Snape.”

“Aku sudah bukan Profesor-mu lagi, Harry.”

“Anda masih, Sir. Dan akan masih menjadi Profesor untuk waktu yang lama.”

Snape menunduk. Lalu, parau nadanya, “Mengapa orang tidak mau membiarkanku sendiri? Aku bersedia menerima jabatan Kepala Sekolah hanya untuk menjaga para murid agar tidak jatuh lebih dalam cengkeraman para Pelahap Maut, dan aku memperkirakan hanya satu tahun paling lama. Kenapa dengan kerjaku yang seperti itu masih ada saja orang yang ingin menjadikanku Kepala Sekolah?” suaranya semakin tinggi, tetap parau, tetap tak stabil.

Tak tahu harus berkata apa, Harry menyahut pelan, “Mereka menghormati Anda, Sir.”

“Dengan pembunuhan Alb—“ nadanya pendek, pelan, terpotong tak mampu ia teruskan.

“Mereka—dan saya juga—hanya ingin tetap bersama-sama Anda lagi, Sir.”

Harry memberanikan diri menatap wajahnya, dan menemukan mata hitam yang biasanya tajam itu, terluka.

“Sir?”

Snape tak menjawab untuk waktu yang lama.

Betapa inginnya Harry melakukan sesuatu. Memeluknya, mungkin? Tapi Harry sendiri juga tak pernah merasakan berada dalam situasi seperti ini. Harus bagaimana?

Harry bergeser maju dari kursinya. Tangannya diletakkan perlahan di atas tangan Snape.

“Paling tidak, jika Anda tidak ingin menjadi Kepala Sekolah, tetaplah menjadi Guru Ramuan kami, Sir.”

Snape memandang Harry dalam-dalam. Harry mengangguk. Snape memejamkan matanya sejenak, sebelum kemudian menyahut pelan.

“Spinner’s End, besok pagi.”

Harry menghembuskan napas lega. “Dan 1 September?”

Snape terdiam sejenak, kemudian, “Outstanding untuk Ramuan.”

Harry tersenyum lega. “Deal.” Tak apa ia harus bekerja keras, tak apa ia harus berusaha untuk hal yang nyaris tak mungkin: Outstanding untuk Ramuan, tapi ia akan berusaha!

“—dan jangan kau kira itu mudah.”

Yes, Sir.

-o0o-

Kemarin siang, Harry mengantar Snape ke Kantor Kepala Sekolah untuk menemui Profesor McGonagall. Walau agak kecewa, namun nampaknya McGonagall menerima keinginan Snape. Tidak menjadi Kepala Sekolah, hanya sebatas Guru Ramuan.

“Kau saja yang menjadi Kepala Sekolah,” usul Snape pada rival-sekaligus-koleganya.

“Aku tak tahu, Severus. Aku takut tak cukup mampu untuk memangku jabatan itu.”

“Aku akan membantu.” Harry belum pernah mendengar percakapan semacam ini dari kedua gurunya, tapi kelihatannya mereka sebenarnya cukup bersahabat.

“Aku akan mendengarkan kata Dewan Sekolah saja nanti,” sahut McGonagall, “dan jangan kau cabut janjimu untuk membantu.”

Snape mengangguk. “Untuk sementara ini, aku akan pulang dulu. Kalau boleh—Harry aku bawa.”

McGonagall mengangkat bahu, “Terserah, tanya saja dia, mau atau tidak.”

Harry tersenyum lebar. “Tentu saja, saya bersedia dengan syarat Profesor Snape kembali ke Hogwarts 1 September nanti.”

“Diam-diam kau licik juga ya, Harry,” McGonagall tersenyum, “jangan-jangan kau sebenarnya bukan Gryffindor tapi Slytherin.”

Alangkah senangnya kalau suasana seperti itu terus setiap hari.

Pagi ini, ia sudah bersiap-siap. Datang pagi-pagi benar ke Hospital Wings, ternyata Snape sudah bangun.

“Apakah tidak lebih baik kalau saya membawa Kreacher? Untuk bersih-bersih?” usul Harry hati-hati.

“Bawa saja. Asal ia berhati-hati saat bersih-bersih nanti.”

Jadilah mereka berdua berjalan sampai titik Apparation di ujung halaman Hogwarts. DisApparate, dan Apparate di tepi sebuah sungai. Kreacher akan langsung menyusul nanti.

Sungai yang tidak begitu besar, tidak begitu bersih. Tercekat Harry melihatnya lingkungannya. Bagaimana bisa seorang gurunya hidup di tempat seperti ini?

Mereka menyeberangi sungai, yang tidak bisa dikatakan beraroma segar. Tepiannya ditumbuhi semak, sampah berserakan. Nun sebagai latar sebuah cerobong besar kehitaman, peninggalan penggilingan yang sudah tak terpakai, menjulang seperti bayangan mengerikan.

Berjalan menyusuri jalan batu sempit, di antara rumah-rumah seragam dari bata kumuh, jendela-jendelanya suram dan tertutup dalam kegelapan. Sebagian pecah dan ditutupi papan—tak ada upaya perbaikan. Salah satu jalan itu bernama Spinner’s End.

Snape mendahului berjalan hingga sampai di rumah paling ujung. Berhenti dan mengeluarkan tongkat dari dalam jubah, dan membisikkan ‘Alohomora’. Terbuka, dan mereka masuk. Lapisan debu menyambut.

“Kreacher!”

PLOP!

Kreacher datang seketika dengan seperangkat alat bersih-bersih.

Ruangan pertama yang menyambut mereka adalah sebuah ruang duduk kecil dengan seluruh dinding yang berupa rak buku. Dengan acungan tongkat Snape, salah satu rak membuka, dan itu ternyata adalah pintu-berlapis-rak-buku ke arah sebuah ruangan.

“Kamar tidurku,” sahut Snape, dan mengacungkan tongkat ke arah yang lain, terbuka lagi sebuah pintu-berlapis-rak-buku yang lain, membuka ke arah sebuah ruangan di bawah tangga.

“Aku khawatir … ini adalah kamar tidurmu. Kecil tetapi—“

“Jauh lebih besar dari kamar-di-bawah-tangga di Privet Drive,” sahut Harry ringan, dan meletakkan ranselnya di kamar itu. “Kreacher, hati-hati membersihkannya, jangan memindahkan barang yang tak perlu dipindahkan.”

“Baik, Master,” dan dengan riang ia mulai membersihkan debu yang menumpuk.

“Sebaiknya kita keluar dulu,” Snape bertelekan pada tongkat, “ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan.”

Heran, Harry mengikuti saja langkah Snape. Keluar dari rumah, mereka berjalan hati-hati terkadang Harry memapah langkah Snape menyusuri tepian sungai. Mengikuti isyarat Snape, mereka menyeberangi sungai di bagian yang lain. Menanjak sedikit, dan mereka muncul di sebuah tempat yang agak lapang.

Déjà vu bagi Harry.

Sebuah tempat bermain yang tak terawat. Semak-semak nyaris menutupi beberapa tempat. Dua ayunan yang sudah berkarat, ditutupi debu dan sarang laba-laba.

“Kau mengenalinya?”

Tentu saja. Persis seperti apa yang ada dalam kenangan yang diberikan Snape di Shrieking Shack. Pelan Harry mengangguk.

“Jalan kecil ke sana,” Snape menunjuk, “jika diikuti terus akan keluar di perumahan. Di sanalah rumah ora—kakek dan nenekmu.” Matanya menerawang jauh. “Sekarang sudah berganti pemilik. Kakek dan nenekmu sudah meninggal, Petunia menikah dan pindah ke Privet Drive, dan ibumu—sejak menikah ia tinggal di Godric Hollow.” Suaranya hampa.

“Sir,” Harry tak tahu harus berkata apa.

“Sebenarnya mereka pindah sejak Lily kelas enam.”

“Anda tahu ke mana mereka pindah?”

Snape mengangguk.

“Anda tahu, dan tidak menyusul?”

“Untuk apa? Lily sudah tidak menganggapku ada lagi,” suaranya semakin pelan.

Harry menghela napas. “Anda selalu mengingatnya, sementara ia sudah pergi dengan orang lain?” suaranya terasa aneh mengingat yang disebutnya ‘orang lain’ adalah ayahnya sendiri.

Snape terdiam.

Snape maju, mendekati sebuah ayunan. Menepis beberapa daun dan sarang laba-laba di atasnya, dan perlahan duduk. Tidak begitu stabil, karenanya Harry bergegas menahan ayunan itu agar Snape dapat duduk dengan baik. Sedikit membungkuk, Snape meraih sekuntum bunga kering, memandanginya—bunga  yang sama dengan yang jatuh dari semak, yang disihir oleh ibunya Harry. Nyaris tak ada yang berubah dari lingkungan itu—dan  meremasnya hingga hancur.

Harry menatap Snape dalam-dalam. Ada rasa terluka di matanya. Ada rasa menyerah. Ada rasa pasrah. Ada rasa tak kuasa.

Disentuhnya pelan lengan baju Snape. Angin agak dingin terasa walau di musim panas—Inggris tak pernah punya musim panas yang benar-benar panas—.

“Kita kembali saja, Sir. Anginnya kurang baik. Lagipula, Kreacher mungkin sudah selesai bersih-bersih dan sedang menyiapkan makan siang.”

Snape tidak menjawab, tapi perlahan berdiri dan melangkah, kembali.

Begitu tiba, Kreacher memang sudah selesai. Ia sedang menyiapkan makan siang. Dengan isyarat tanpa suara ia menghilang, meninggalkan Harry dan Snape. Mereka makan dalam diam.

Selesai makan, Snape menyusuri koleksi bukunya, dan mulai membaca salah satu. Harry meng-Accio sapunya, dan mulai menyemir. Sesekali dilihatnya Snape sedang apa, dan kali terakhir dilihatnya sudah tertidur dengan buku di tangan.

Diselimutinya.

Harry merasa seperti ia sedang mengawasi, seperti sedang mengkhawatirkan anaknya agar tidak sakit hati—lagi.

-o0o-

(masih ada lanjutannya)
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #44 on: August 07, 2009, 04:10:29 AM »

(bagian terakhir)

Standing Ovation yang spontan dan riuh di Aula Besar saat Profesor McGonagall mengumumkan bahwa Profesor Snape akan tetap bersama mereka di malam pembukaan musim belajar 1998-1999. Sambil ikut bertepuk tangan mata Harry menatap tajam raut wajah profesornya.

Wajah yang lelah. Harry tahu, lelah yang ditutupi. Kembali ia menguatkan tekad untuk mendapat Outstanding dalam NEWT nanti.

Keseluruhan situasi memang lebih menguntungkan untuk mereka yang benar-benar belajar. Lebih kooperatif.

Begitu selesai makan malam, Harry naik ke Ruang Rekreasi dan mulai membaca, ketika Ron menyusul. Mengangkat buku yang sedang dibaca Harry.

“Ramuan? Kita malah baru akan dapat Ramuan hari Kamis mendatang, Harry!”

“Aku sudah berjanji pada Snape untuk hasil Outstanding, Ron.”

Hermione masuk membawa setumpuk buku seperti biasa. “Aku diberitahu anak-anak kelas tiga yang mendapat Ramuan hari ini. Kelasnya tidak menyeramkan seperti Ramuan tahun-tahun lalu.”

Ron memandang Harry, memandang Hermione, memandang Harry lagi. “Jangan-jangan … bagian dari otak yang tidak sempat kau bersihkan darinya, adalah kekejaman?”

Ron dan Hermione tertawa kecil, Harry tersenyum, tapi pikirannya berjalan. Jangan-jangan Ron benar?

Disimpannya bukunya, dan ia berjalan ke luar Ruang Rekreasi, menuju ke Ruang Bawah Tanah. Diketuknya sejenak sebelum dibukanya pintu. Snape sedang memeriksa hasil kuis anak-anak.

“Ada apa, Harry?”

“Eh—tidak. Hanya—mengecek keadaan Anda—“

“Aku tidak apa-apa. Kembalilah. Pergi belajar, atau pergi tidur. Kau perlu itu.”

Sarkasme-nya masih tetap seperti dulu, tapi Harry menangkap ada perhatian pada nada suaranya.

“Y-Ya, Sir. Selamat malam, Sir.” Dan ia menutup pintu.

Tidak ada bagian yang terhapus, tidak ada bagian yang terlewat dari otaknya saat Legilimency kemarin, pikir Hary lega. Hanya bagian motorik kasar yang harus terus dilatih.

Tapi tiba-tiba Harry merasa khawatir.



Harry merasa seperti ia sedang mengawasi, seperti sedang mengkhawatirkan kesehatan anaknya agar tidak sakit—lagi.

-o0o-


Outstanding pada Ramuan sudah dilewati. Snape hanya tersenyum kecil saat Harry memperlihatkan hasilnya, tapi ia tahu Snape bangga dari sorot matanya.

Setelah itu pendidikan Auror yang ketat. Nyaris Harry tidak punya waktu untuk mengunjungi Snape, tapi disempat-sempatkannya juga. Apalagi setelah tertangkap olehnya, sorot mata.

Sorot mata yang lelah, sekarang juga adalah sorot mata yang sepi.

Harry mengunjunginya sesempat dia bisa, dan di waktu-waktu lain ia meminta Kreacher agar membantunya mengawasi. Dan tiap kali Kreacher kembali, Kreacher selalu membawa laporan yang tak begitu mengenakkan. Snape begitu terfokus pada pekerjaan, pada penelitian, kadang lupa makan, kadang lupa istirahat. Jangankan latihan untuk motoriknya.

Maka dipaksakannya juga mengunjunginya, sekedar menemaninya makan, sekedar menemaninya berjalan-jalan agar Snape mau berlatih berjalan. Sebenarnya kalau bisa ia ingin memeriksakan kemajuan otaknya, ia ingin tahu apakah ada yang salah pada pekerjaannya dulu.

Sekali waktu pernah juga terucap. Tapi Snape hanya  mendengus sambil menggeleng.

“Tidak usah, Harry. Kalaupun dulu kau melakukan kesalahan dalam Legilimency, untuk apa diungkit-ungkit? Aku sudah cukup puas dengan keadaanku sekarang.”

“Paling tidak, jaga kesehatan Anda—“

“Aku menjaga kesehatanku—“

“—dengan kadang tidak makan, dengan kadang tidak beristirahat? Sebenarnya apa yang Anda cari? Begitu terburu-buru, seolah-olah Anda sudah tak punya waktu lagi—”

Jawaannya pelan, tapi membuat Harry tersentak.

“Sebenarnya, untuk apa aku dibiarkan hidup? Aku tak punya tujuan hidup lagi sekarang.”

Beberapa detik Harry membeku, sebelum akhirnya mencoba menjawab pelan, “Kalau—kalau boleh—kalau diperbolehkan untuk berlaku egois, saya ingin Anda tetap hidup waktu itu karena saya—karena saya ingin merasakannya. Ingin mengulang kembali hidup tanpa rasa sesal bersama Anda. Ingin menerima dibentak-bentak. Didetensi. Saya—saya  memang egois.”

Hening.

Ketika Harry sudah memutuskan untuk tak melanjutkan lagi percakapan, Snape mengangkat wajahnya, “Menginaplah di sini. Malam ini.”

Dan malam itu di tengah-tengah percakapan yang hangat tentang segala hal, Harry melihat mata hitam itu sedikit menyala. Hidup.

Harry merasa seperti ia sedang mengawasi, seperti sedang mengkhawatirkan keadaan anaknya agar tidak sepi, sendiri—lagi.

-o0o-

Perlahan, dan dengan susah payah, Harry membawa Snape ke dalam kehidupan di The Burrow. Sesekali makan malam bersama. Walau awalnya mata Snape selalu mengawasi telinga George dengan perasaan bersalah—dan diantisipasi George dengan wajar seperti dia tak pernah mempermasalahkannya—Snape masuk juga ke dalam kehidupan The Burrow. Molly yang selalu ngomel-ngomel—dengan sayang—betapa dahulu Snape tak pernah mau mencicipi sup bawangnya; Fleur yang membanding-bandingkan pelajaran Ramuan dengan di Beauxbaton--yang diajar oleh seorang Madam yang cantik jelita; dan sebagainya. Walau tak banyak bicara, Harry merasa Snape sudah merasa punya tempat di sana. Ia bisa sedikit menghela napas lega.

Waktu berlalu dengan cepat. Harry menikahi Ginny. James lahir. Dan sekarang Ginny sedang menantikan kelahiran anak kedua.

Harry muncul di Spinner’s End seperti biasa, menjelang tengah malam.

“Kau tidak dinanti keluargamu?”

“Ginny sedang menginap di The Burrow, kangen katanya. Molly sedang senang-senangnya tidur bersama James. Hermione dan Ron juga sedang berada di The Burrow bersama bayi Rose. Kutinggal sebentar tentu saja tak apa.”

Snape tak menjawab, hanya merapikan tumpukan buku di meja. “Kalau aku sudah tak ada, aku hibahkan buku-buku ini ke Hogwarts.”

“Sir?”

“Kecuali yang ini. Kau mau menyimpannya?” tangannya mengangsurkan buku yang ia kenal benar—yang pernah ia sembunyikan di Kamar Kebutuhan, dan ketemu lagi saat Snape sudah mengajar kembali di Hogwarts.

Harry mengangguk. “Tapi, kenapa—Sir?”

Sejenak Snape tak menjawab, tapi kemudian ia berbicara pelan, “Kita kan tak hidup selama-lamanya. Aku kan tak punya Horcrux—“ tersenyum tipis.

Harry terpaksa tersenyum juga.

Malam itu berlalu dengan percakapan hangat tentang segala hal, tentang masa lalu, tentang betapa bencinya Harry muda pada pelajaran Ramuan, bahkan tentang Lily—.

Harry akhirnya menginap di Spinner’s End malam itu. Dan terbangun kesiangan, matahari sudah masuk ke celah-celah jendela.

Tapi tak ada suara sama sekali.

Harry mengetuk kamar Snape. Tak ada jawaban. Hatinya mulai tak enak. Dicobanya membuka pintu. Tak terkunci.

Harry lemas berlutut di sisi pembaringan.

-o0o-

“Ia tersenyum, seolah-olah tersenyum adalah kebiasaan sehari-hari dalam kehidupannya,” sahut Harry pelan. Ginny tak berkata apa-apa, mengelus kandungannya dan menggenggam tangan Harry. Hermione menepuk pundak Harry. Ron, Bil, George, dan Arthur sedang sibuk mengatur segala sesuatu agar jenazah bisa dibawa ke Hogwarts, dan dimakamkan di sebelah Albus Dumbledore.

Seekor burung hantu sekolah hinggap di ambang jendela. Hermione menangkapnya, membuka surat yang dibawanya, membacanya, dan memberikannya pada Harry.

Dari Profesor McGonagall, menjelaskan bahwa persiapan untuk persemayaman Snape sudah siap.

‘—dan Harry, lukisannya tadi pagi sudah muncul di sebelah lukisan Dumbledore. Mereka sedang bercakap-cakap sekarang. Severus sudah berulang kali menolak permen jeruk yang ditawarkan Albus—‘

Harry menghapus sebutir cairan yang turun meluncur.

FIN

AN:
Ambu nulis adegan terakhir ini di tengah-tengah berita WS Rendra. Kalimat puisi terakhir yang ditulisnya adalah: Tuhan, aku cinta pada-Mu.

Entah kenapa, rasanya sedih banget. Seperti sesuatu tercerabut dari kehidupan Ambu, padahal Ambu jarang mengapresiasi puisi Rendra. Ambu kurang bisa mengapresiasi puisi.

Fic ini selesai juga. Please, don’t kill me!


Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
Pages: 1 2 [3] 4
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.8 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!

supported by : IndoLowonganKerja.com