harrypotterindonesia.com
March 22, 2010, 05:11:08 AM *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: Selamat datang di Forum HPI yang baru. Silahkan melakukan Registrasi untuk ikut berdiskusi di forum ini. Mari kita jaga Forum ini bersama.
 
   Home   Help Search Login Register  
Pages: [1] 2 3 4
  Print  
Author Topic: Kompilasi One-shots  (Read 6454 times)
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« on: January 15, 2007, 02:39:31 AM »

[Kompilasi One-shots punya Ambu]

I Am Not A Hero, Not Me


Fandom: Harry Potter
Rating: K, mudah-mudahan…
Disclaimer: Semua punya JKR kecuali ide cerita. Hey, jangan-jangan JKR sedang menulis seperti ini juga?
Character: Harry Potter, Remus Lupin, Severus Snape

Author’s Note:
1. Ditulis untuk memenuhi First Challenge di milis indonesian_fanficcers. Kaya’nya masih harus panjang ceritanya, tapi karena Audriel sudah mau menutup pintu di batas waktu, jadi … inilah. Kalau kurang puas, bilang sama Audriel, ya?
*kabur*
2. Patronus Dumbledore itu Phoenix, dan hanya penyihir dari pihak Light yang bisa menyihir Patronus, kata JKR di sini




“Kau sadar, Harry, bahwa orang yang mau mengorbankan diri, menyerahkan jiwanya demi kepentingan orang banyak biasanya disebut pahlawan? Tetapi, apakah kau juga sadar, bahwa ada juga orang yang berani melakukan hal yang berbeda? Mengorbankan orang lain demi kepentingan orang banyak juga, akankah kau berani melakukannya? Mengorbankan Ron, Ginny, atau Hermione, misalnya? Mengorbankan orang yang kau anggap sebagai orang tuamu? Yang kau hormati dengan seluruh jiwamu? Dan imbalannya seumur hidupmu kau akan dibayangi perasaan bersalah? Juga tatapan marah dari semua orang? Beranikah kau melakukan seperti itu, Harry?”

Kalimat itu menggantung. Kalimat itu keluar dari mulut Dumbledore, --lukisan Dumbledore. Harry sudah akan berangkat dari Hogwarts saat itu ketika Profesor McGonagall memanggilnya, berkata bahwa Dumbledore --lukisan Dumbledore-- ingin berbicara dengannya.

Harry tak menjawab, karena ia bingung. Dan lukisan Dumbledore juga tidak memberikan jawaban. Hanya  memberi isyarat, bahwa pembicaraan sudah selesai.

Sekarang, dalam perjuangan menemukan dan menghancurkan Horcruxes, kalimat itu seakan terlupakan.

*****

Suatu malam yang gelap, lembab, dan dingin. Membuat semua putus asa dalam pencarian Horcruxes ini. Harry, Ron, dan Hermione. Dan Remus.

Tak terduga keputusasaan itu hilang dengan datangnya seekor Patronus. Dengan kegembiraan yang tidak dapat disembunyikan, Harry menyambut datangnya Patronus Phoenix itu. Yang entah dari mana datangnya.

Kegembiraan Harry berlipat dengan datangnya Patronus itu. Pertama, karena dengannya teka-teki Horcrux Ravenclaw terjawab sudah. Dan kedua, karena Patronus yang membawa jawaban itu adalah seekor Phoenix.

Dumbledore pernah mengatakan kalau Patronusnya Phoenix. Harry dengan kegembiraan yang meluap, menganggap Patronus itu datang dari Dumbledore. Entah bagaimana caranya.

Hanya raut muka sekilas yang ditunjukkan oleh Remus mengungkapkan keraguan. Hanya Hermione yang memperhatikan.

Hanya mereka, yang memperhatikan dengan seksama, setiap kali Patronus itu datang.

Dan Patronus itu datang berkali-kali. Biasanya tatkala mereka sudah putus asa dengan Horcrux yang sedang dicari.

Dan kali ini, menurut perhitungan Dumbledore dulu, adalah Horcrux yang terakhir. Nagini. Menurut Patronus itu, sudah dihancurkan. Sudah dibunuh. Jadi tinggal potongan jiwa dalam tubuh Voldemort yang masih harus dihancurkan.

Harry menghela napas. Langkah terakhir perjuangan. Hidup atau mati.

*****

Hembusan angin dingin menusuk tulang terus menerpa. Tipis kabut mulai turun. Suara-suara yang terdengar hanyalah angin itu. Semakin lama semakin membekukan tubuh.

Harry menggeratakan geraham. Ia terlalu termakan napsu untuk membunuh Voldemort, karena ia merasa tenaganya sudah semakin tipis. Hingga kini di sinilah dia. Terpisah dari para Auror, terpisah dari para anggota Orde. Terpisah dari Ron dan Hermione.

Ia berusaha bangkit. Susah payah. Dengan bertelekan tongkat, ia berdiri. Lamat-lamat ia melihat sosok di seberang sana juga sedang berusaha untuk bangkit. Setelah ledakan yang maha dahsyat tadi.

Harry putus asa. Mantra apalagi yang harus ia keluarkan? Semua pengetahuannya sudah terkuras. Sementara Voldemort, memang juga sudah terlihat parah, tetapi nampak masih digdaya.

Angin terasa lebih membekukan tulang. Refleks Harry menoleh. O, tidak! Serombongan sosok Dementor melayang mendekatinya. Sisa-sisa Dementor! Satu saja sudah cukup untuk menguras habis energi Harry yang tersisa. Ini serombongan!

Tawa terkekeh terdengar dari sosok di seberang. “Kau sulit untuk memutuskan mana yang akan duluan mengunyahmu, menyantapmu?” Tawa keji itu membahana.

Konsentrasi! Konsentrasi, Harry! Tapi Harry bahkan tidak sempat untuk menarik napas panjang. Diiringi suara ‘plop’ halus yang nyaris tak terdengar, muncul satu lagi musuh yang sangat ia benci.

Voldemort. Dementor. Dan sekarang laki-laki itu. Harry merasa sesak.

Tapi tak ada waktu untuk berpikir. Dalam hitungan milidetik, Harry mengangkat tongkatnya.

Ia terlambat. Lelaki itu telah mendahului.

“Expecto Patronum!”

Dari ujung tongkat lelaki itu keluar sebentuk makhluk keperakan. Lalu mewujud lebih jelas. Seekor Phoenix.

Harry menahan napasnya.

Patronus mendekati para Dementor dan mengusir mereka.

Dalam keterkejutan, Harry menatap lelaki itu. Lekat-lekat. Tak percaya. Dan Harry lebih tak percaya lagi saat lelaki itu berbalik menatap Harry, dan berkata padanya dalam bentuk Legilimens.

‘Saat ia akan melepas Avada Kedavra padamu, balikkan dengan Specularis Reversium. Non-verbal’ katanya dingin.

Tak ada kesempatan untuk bertanya, karena Voldemort nampak begitu marah dengan kemunculan lelaki itu. Ia berdiri tegak seketika dan mengeluarkan tongkat keduanya. Tongkat yang tidak berhubungan dengan tongkat Harry.

“Avad…”

“Specularis Reversium!” Harry mengucap dalam hati, berharap mantra itu benar melafalkannya.

Kilatan hijau dari tongkat Voldemort tak sampai ke tubuh Harry, malah berkelit berbalik dan menghunjam tubuh Voldemort.

Kaku, tubuh itu berdebam ke tanah.

Dengan mata membelalak. Ketidakpercayaan akan apa yang bisa menimpa dirinya. Ketidakpercayaan yang  tak berjawab.

Mungin bermenit-menit sebelum Harry sadar akan apa yang baru saja terjadi. Ia menoleh. Lelaki yang tadi sudah tidak ada.

Dan ramai suara-suara yang berteriak memanggilnya, mendekat. Suara Ron. Suara Hermione. Suara Remus. Dan entah suara siapa lagi. Penuh kekhawatiran. Lalu berubah menjadi suara kegembiraan kala mereka menyadari apa yang telah Harry lakukan.

*****

Pesta yang sangat meriah. Great Hall disihir untuk menampung beberapa lipat kali daya muatnya. Para peri-rumah tak henti-hentinya berseliweran menawarkan berbagai macam makanan dan minuman. Orang-orang yang Harry kenal maupun yang Harry tidak kenal datang memberi selamat. Memberi berbagai hadiah. Yang menawarkan diri sebagai orang tua angkat (atau bahkan sebagai mertua juga –dengan dicemberuti Ginny--) juga banyak.

Semua mengucapkan kata-kata pujian. Betapa beraninya Harry. Betapa pandainya, bagaimana dia bisa menemukan mantra yang tepat di saat yang tepat.

Tapi itu bukan aku, keluh Harry.

Bukan aku yang menemukan mantra itu

Tentang bagaimana dia menemukan dan menghancurkan Horcruxes.

Tidak, juga bukan aku. Tidakkah kalian semua mengetahuinya? Bukan aku..

Harry berharap Jubah Gaib ada di tangannya sekarang, untuk menghilang dari semua keramaian semu ini.

“Harry..”

Harry menoleh dan melihat Remus mengangguk padanya. “Aku pinjam Harry dulu sebentar. Urusan Orde,” kata Remus singkat pada orang-orang yang mengelilinginya.

Harry mengikuti Remus dengan penuh rasa terima kasih.

Ketika mereka tiba di koridor yang sepi, Remus mengeluarkan Jubah Gaib itu.

“Jubah Gaib? Thanks, Remus, “ Harry sedikit bingung, “tapi untuk ap…”

“Untuk menghindari dari orang-orang, tentunya,”sahut Remus, “Dia ada di sini, Harry. Di makam. Temui dia,” lanjutnya.

“Di sini? Di Hogwarts?” Harry tidak percaya.

Remus mengangguk.

“Remus, kau sudah menduganya sejak dulu, ya?” Harry mendesak.

Remus mengangguk lagi. “Sejak Patronus Phoenix itu datang untuk pertama kali, aku sudah mengetahuinya,”

Harry mengenakan Jubahnya. Masih terlihat kepalanya melayang-layang.

“Cepatlah, keburu dia pergi,” Remus mengerudungi kepala Harry hingga tak terlihat.

“OK. Aku pergi Remus,” Harry bergegas melangkah secepat ia bisa pergi.

*****

Dari kejauhan bisa terlihat sosok gelap itu. Semakin dekat, Harry melangkah perlahan. Agar tak terdengar.

Sosok berjubah gelap itu berlutut di sisi makam. Rambut hitam lurus yang membingkai wajahnya sekarang ditambah semburat warna abu-abu.

Harry melangkah mendekat. Lamat-lamat terdengar lagi, teringat lagi ucapan lukisan Dumbledore,

“Kau sadar, Harry, bahwa orang yang mau mengorbankan diri, menyerahkan jiwanya demi kepentingan orang banyak biasanya disebut pahlawan? Tetapi, apakah kau juga sadar, bahwa ada juga orang yang berani melakukan hal yang berbeda? Mengorbankan orang lain demi kepentingan orang banyak juga, akankah kau berani melakukannya? Mengorbankan Ron, Ginny, atau Hermione, misalnya? Mengorbankan orang yang kau anggap sebagai orang tuamu? Yang klau hormati dengan seluruh jiwamu? Dan imbalannya seumur hidupmu kau akan dibayangi perasaan bersalah? Juga tatapan marah dari semua orang? Beranikah kau melakukan seperti itu, Harry?”

Harry kini mengerti apa maksud kata-kata lukisan Dumbledore. Dipandanginya sosok di depannya lekat-lekat. Wajah yang dulu ditakuti murid-murid. Wajah yang pucat, kini semakin pucat. Dingin. Keras. Sekeras tahun-tahun yang dilalui.

Dan Harry melihat dua tetes air menitik, menelusuri wajah dingin itu.

Harry tercekat.

Lelaki itu mendongak, seperti mendengar sesuatu. Ia tidak mendengar apa-apa, tetapi sudah cukup untuk membuatnya waspada. Ia bangkit, berbalik, berjalan pergi.

Harry menepis tudung Jubahnya hingga kepalanya terlihat, dan memanggil, “Profesor Snape!”

FIN

Logged

harrypotterindonesia.com
« on: January 15, 2007, 02:39:31 AM »

 Logged
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #1 on: January 15, 2007, 02:44:23 AM »

This is not My Christmas

A/N: FF ini dibuat didasarkan Christmas Challenge di milis indonesian_fanficcers. Juga dipersembahkan spesial untuk Muscat-Dunghill ^_^. Versi POV Draco Malfoy atas HP at HBP halaman 404-410 edisi bahasa Indonesia


“Kutangkap kau!” raungan Filch menggelegar di kupingku.

Merlin! Crabbe dan Goyle memang tidak dapat diandalkan. Dalam waktu-waktu seperti ini malah mendapat detensi. Jadi aku tidak ada yang menjaga. Dan saat seperti ini aku tidak dapat mengelak lagi. Memalukan, Filch menyeretku di telinga! Seperti anak kecil saja. Padahal biasanya alasan-alasan yang kukemukakan selalu membuat orang mengangguk-angguk.

Filch terus mengomel sambil menyeretku di telinga, dan membawaku ke kantor yang terdekat, kantor Horace Slughorn.

“Profesor Slughorn,” desis Filch, rahangnya bergetar dan kilat maniak deteksi-pelanggaran di matanya yang menonjol, “saya menemukan anak ini bersembunyi di koridor di atas. Dia ngotot katanya diundang ke pesta Anda dan terlambat datang. Apakah Anda mengirim undangan kepadanya?”

Sialan! Mudah-mudahan Slughorn tidak menolakku. Tetapi dari karakteristiknya, rasanya tidak. Tapi daripada ditolak, mending pura-pura ingin mengikuti pestanya saja.

“Baiklah, aku tidak diundang!” kataku marah. “Aku mencoba nyelonong masuk, senang?”

“Tidak, aku tidak senang!” kata Filch, pernyataan yang betul-betul berkebalikan dengan kegembiraan pada wajahnya. “Kau dalam kesulitan! Bukankah Kepala Sekolah melarang berkeliaran di malam hari, kecuali kau mendapat izin, eh?”

“Sudahlah, Argus, tak apa-apa,” kata Slughorn, melambaikan tangan. “Ini hari Natal, dan ingin datang ke pesta bukanlah kejahatan. Hanya untuk sekali ini, kita akan melupakan hukuman, kau boleh tinggal, Draco.”

Ekspresi kecewa dan marah Filch sudah bisa diduga. Aku menghela napas. Yah, kali ini sebaiknya mencoba berpura-pura ingin mengikuti pestanya, dan melupakan Lemari Pelenyap kali ini.

Tapi rupanya Snape menangkap keinginan melakukan sesuatu dariku. Tadi nyaris saja aku lupa menutup pikiranku dengan Occlumency. Sekarang dia tidak bisa membaca pikiranku. Dia nampak marah.

Filch berjalan pergi dengan kaki terseret, mengomel. Aku cepat-cepat berterimakasih pada Slughorn, dia memang gila hormat. Sebaiknya kukatakan sesuatu yang bisa membuat dia senang.

“Tak masalah, tak masalah,” kata Slughorn, melambai menolak ucapan terima kasihku, Aku toh memang kenal kakekmu…”

“Beliau selalu memuji-muji Anda, Sir, kataku cepat-cepat, “Katanya Anda ahli-ramuan yang paling hebat yang pernah dikenalnya…”

“Aku mau bicara denganmu, Draco,” kata Snape tiba-tiba.

Oh, mulai lagi… Dan sementara Slughorn mengatakan keberatannya, Snape dengan kaku mengatakan yang sebaliknya.

“Aku kepala asramanya, dan aku yang akan menentukan sekeras apa, atau tidak perlu keras terhadapnya,” katanya, “Ikut aku Draco.”

Pasti dia akan berusaha dengan keras mengorek apa saja yang sudah aku lakukan. Jadi aku ikut saja, berusaha memasang Occlumency sebaik mungkin. Benar, rupanya…

“—berbahaya sekali membuat kesalahan, Draco, karena kalau kau sampai dikeluarkan—“ kata Snape di kelas kososng di ujung koridor.

“Saya tak ada hubungannya dengan itu, oke?” aku berusaha mengelak.

“Kuharap kau mengatakan yang sebenarnya, karena itu sungguh konyol dan bodoh. Kau malah sudah dicurigai berperan dalam peristiwa itu,”

“Siapa yang mencurigai saya?” kataku marah. “Untuk terakhir kalinya, saya tidak melakukannya, oke? Si Katie Bell itu pastilah punya musuh yang tak diketahui orang lain—jangan memandang saya seperti itu! Saya tahu apa yang Anda lakukan, saya tidak bodoh, tapi percuma saja—saya bisa menghentikan Anda!”

Hening sejenak. Aku merasakan pikirannya mulai merasuk pikiranku. Ya, ajaran Bibi Bella nampaknya bermanfaat juga, karena nampaknya ia kesulitan memasuki pikiranku. Tak lama ia berkata pelan,  “Ah, … Bibi Bella sudah mengajarimu Occlumency rupanya. Pikiran-pikiran apa yang kaucoba sembunyikan dari tuanmu, Draco?”

“Saya tidak mencoba menyembunyikan apapun dari dia, saya tidak ingin Anda mengganggu!” aku mencoba menekan rasa marahku. Kenapa? Kenapa aku selalu diganggu? Memang aku baru enambelas tahun tetapi aku sudah punya Tanda, dan Dia sudah menugaskan sesuatu padaku.

“Jadi, itukah sebabnya kau menghindariku semester ini? Kau takut aku akan ikut campur? Kau tentunya sadar bahwa, kalau orang lain yang tidak datang ke kantorku setelah beberapa kali kusuruh, Draco—“

“Kalau begitu beri saya detensi. Laporkan saya kepada Dumbledore!” cemoohku.

Hening lagi. Kemudian Snape berkata, “Kau tahu betul aku tak ingin melakukan kedua hal itu.”

“Kalau begitu jangan menyuruh saya datang ke kantor Anda lagi!”

“Dengarkan aku,” Snape memelankan suaranya, “Aku berusaha membantumu. Aku bersumpah kepada ibumu akan melindungimu. Aku membuat Sumpah Tak-Terlanggar, Draco—“

Aku terkejut, tetapi berusaha menyembunyikannya dari Snape. Tidak, dia tidak boleh tahu. Ibu membuat Sumpah Tak-Terlanggar dengannya? Oh, tidak! Kenapa semua orang yang kukenal selalu berusaha mencampuri apa yang kubuat? Dengan marah aku berkata, “Kelihatannya Anda harus melanggarnya, kalau begitu, karena saya tak memerlukan perlindungan Anda! Ini pekerjaan saya, dia memberikannya kepada saya dan saya sedang melakukannya. Saya sudah punya rencana dan rencana itu akan berhasil, hanya saja memerlukan waktu lebih lama daripada yang saya kira!”

“Apakah rencanamu?”

“Bukan urusan Anda!”

“Kalau kauberitahu aku apa yang sedang kaucoba lakukan, aku bisa membantumu—“

“Saya sudah mendapatkan semua bantuan yang saya butuhkan, terima kasih, saya tidak sendirian!”

“Kau jelas sendirian malam ini, dan ini tindakan yang bodoh bukan kepalang, berkeliaran di koridor tanpa ada yang membantu mengawasi ataupun pendukung. Ini kesalahan mendasar—“

“Crabbe dan Goyle akan bersama saya jika Anda tidak mendetensi mereka,” aku meninggikan suaraku.

“Pelankan suaramu!” bentak pelan Snape, “Kalau temanmu Crabbe dan Goyle ingin lulus OWL Pertahanan terhadap Ilmu Hitam mereka kali ini, mereka perlu bekerja lebih keras daripada yang mereka lakukan seka—“

“Apa gunanya?” sahutku ketus, “Pertahanan terhadap Ilmu Hitam—ini cuma lelucon, kan, cuma akting? Memangnya ada di antara kita yang perlu perlindungan terhadap Ilmu Hitam—“

“Itu bukan akting, itu hal penting untuk sukses, Draco,” kata Snape. “Di mana kaupikir aku akan berada selama bertahun-tahun ini, jika aku tidak bisa berakting? Sekarang dengarkan aku! Kau ceroboh, berkeliaran di malam hari, membiarkan dirimu tertangkap, dan jika kau mengandalkan bantuan dari asisten seperti Crabbe dan Goyle—“

“Bukan hanya mereka berdua, saya punya orang lain yang membantu saya, orang-orang yang lebih baik!”

“Kalau begitu kenapa tidak memercayaiku, dan aku akan bisa—“

“Saya tahu apa yang Anda inginkan! Anda ingin mencuri kejayaan saya!” seruku putus asa.

Hening lgi, kemudian Snape berkata dingin, “Kau bicara seperti anak kecil. Aku cukup mengerti bahwa penangkapan dan penahanan ayahmu telah membuatmu guncang, tetapi—“

Aku tak tahan lagi. Berbalik, aku segera meninggalkannya. Dia tidak mengejarku. Entah apa yang ada di pikiran Snape melihatku meninggalkannya begitu saja.

Tetapi aku harus mengakui, dia benar. Penangkapan dan penahanan Dad. Itulah titik mula. Dengan ditahannya Dad, aku jadi terseret dalam segala urusan ini, sebelum waktunya. Aku memang sudah berniat untuk masuk Death Eaters, tetapi pemanggilanku oleh Dark Lord memang terlalu pagi, menurut Mum.

Mum mengkhawatirkanku. Ia merasa tugas yang dibebankan oleh Dark Lord padaku terlalu berat. Apalagi di usiaku. Ia bilang, anggota seusiaku biasanya hanya dijadikan anggota magang. Dan ia juga bilang kalau tugas ini adalah semacam hukuman untukku. Untuk keluarga Malfoy, dari apa yang sudah dilakukan Dad. Kalau tidak berhasil dan aku mati, berarti hukuman itu sudah jatuh. Dad akan sedih, apalagi Mum.

Tapi aku tidak ingin membantah.Aku memang ingin masuk Death Eaters, jadi pemanggilan Dark Lord hanyalah mempercepat keinginanku. Dan aku langsung mendapat tugas sulit, ya kuanggap saja kehormatan.

Aku tidak ingin membantah Dark Lord.

Tapi aku juga harus mengakui bahwa tugas ini sangat sulit. Percobaan pertama, gagal karena jatuh ke tangan Katie Bell. Percobaan kedua, aku belum tahu. Botol minuman itu sudah ada di tangan Slughorn, tapi entah kapan akan diberikan pada Dumbledore.

Aku harus mengakui bahwa aku harus mendapat petunjuk dari mereka yang lebih berpengalaman. Tetapi siapa? Aku tidak bisa mempercayai Snape. Dia akan melaporkanku pada Dumbledore.

Aku terus berjalan. Tanpa kuketahui, aku sudah berhenti di depan toilet. Entah kenapa, aku masuk.

Dan di sana sepi. Tidak ada siapa-siapa.

Aku mengeluh. Dada ini rasanya penuh. Ingin kuceritakan, tetapi pada siapa?

Aku berdiri di depan wastafel. Keran kubuka, dan aku mulai mencuci muka. Tanpa kurasa, tanpa bisa kutahan, air mata meluncur, bersamaan dengan air basuhan mukaku.

“Kau menangis?” suara seorang gadis.

Aku terkejut, dan berbalik. Seorang gadis di toilet pria?

Ah, ternyata Myrtle Merana.

“Menangislah. Biar lepas semua rasamu,” kata Myrtle sambil mengelus (yang tidak bisa kurasakan) bahuku.

Dan aku melepaskan semua cerita padanya.

Hari ini memang bukan hari Natal untukku.

FIN
Logged

harrypotterindonesia.com
« Reply #1 on: January 15, 2007, 02:44:23 AM »

 Logged
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #2 on: January 15, 2007, 03:09:56 AM »

His Son

A/N: ditulis untuk memperingati hari kelahiran Severus Snape, 9 Januari.


“Ayo, Phimus!” Dad keluar dari kamarnya, mengepit berkas-berkas.

“Ke mana?” aku melepas pandangan dari buku yang kubaca.

“Rumah Buku,” jawab Dad pendek.

Seketika aku berdiri. Eits, nanti dulu, buku kututup rapi, kusimpan di atas meja. Lalu aku mengikuti Dad. Dad merangkul leherku dan berpura-pura mencekiknya. Tentu saja tidak bisa, tinggiku sekarang sudah hampir sama dengan Dad.

Hari ini umurku sebelas. Tapi Dad pemain Quidditch yang tangguh, dan ia sering melatihku. Maka dalam umurku yang baru sebelas, tubuhku tinggi dan tegap.

Dad seorang Seeker handal. Ia mengajariku mewaspadai semua arah agar bisa cepat mendapatkan Snitch. Padahal ia berkacamata, lho! Aku mungkin tidak secepat Dad, tetapi yang jelas, ia puas padaku.

Yah, sebenarnya aku lebih suka duduk membaca. Tapi kalau keluarga Weasley datang, uncle Ron dan auntie Hermione bersama anak-anaknya Viktor kecil dan Ginny imut, pasti kami akan sibuk bermain Quidditch. Three on three. Walau tim yang mendapat Hermione pasti kalah. Ia tidak begitu suka bermain Quidditch. Ia lebih suka duduk membaca bersamaku. Dan aku suka dia karena pengetahuannya seluas dunia! Bukan hanya mengenai dunia penyihir, dunia Muggle juga dengan fasih ia jelaskan padaku.

Makanya aku girang sekali setiap Dad mengajakku ke Rumah Buku. Rumah itu jauhnya hanya beberapa blok dari rumah kami. Tidak begitu besar, tetapi penuh dengan buku. Eh, sebenarnya yang memberi nama Rumah Buku itu aku. Dulu waktu aku masih belajar bicara –kata Dad—tiap kali ke sini aku selalu menyebutnya ‘umah kuku’. Karena penuh dengan buku. Di tiap ruangan pasti ada rak buku, ada tumpukan buku di meja, di sisi tempat tidur yang tak pernah ditiduri, bahkan di meja dapur.

Kata Dad, ini rumah temannya. Dan dia diserahi tugas untuk menjaganya. Makanya kami selalu ke sini, paling tidak seminggu sekali. Dad mengajariku mantra-mantra untuk membersihkan lantai, membuka jendela-jendela dan pintu membiarkan udara segar masuk, membersihkan debu di atas buku-buku. Yah sebenarnya, awalnya sih Grandmum Molly yang mengajari. Tapi sekarang aku juga sudah bisa. Pakai tongkat Dad, aku kan belum cukup umur untuk punya tongkat sendiri. Btw, kalau Dad beres-beres di sini, bersih dan rapi lho. Kalau di rumah suka rada cuek. Serampangan. Slordig. Itu kata Grandmum Molly, lho ^_^.

Oya, Molly itu ibunya Ron. Dia juga ibunya Ginny –bukan, bukan Ginny imut anak Ron-Hermione, tetapi adiknya Ron. Katanya sih Ginny dan Dad saling mencintai, tetapi Ginny tewas dibunuh oleh Voldemort, itu penjahat keji, yang dulu orang menyebut namanya saja sudah tidak berani.

Jadi aku ikut-ikutan Viktor dan Ginny menyebut Molly sebagai Grandmum. Dia orangnya cerewet, tapi baik hati dan penuh perhatian. Masakannya enak-enak. Aku tidak berkeberatan dianggap sebagai cucu Weasley kalau makanannya seperti itu setiap hari.

Dulu aku selalu menganggap Ginny –senior—itu  ibuku. Kalau mendengar Dad begitu mencintainya, tadinya aku menganggap Dad menikah dengan Ginny, punya anak aku, tapi Ginny meninggal, lalu kami hidup berdua Dad dan aku, dan saking cintanya Dad pada Ginny ia tidak menikah lagi.

Tapi Dad menggeleng. “Kami belum sempat menikah saat itu. Dan Ginny bukan ibumu, Seraphimus, walaupun aku ingin hal itu terjadi,” katanya lirih, misterius.

Jadi siapa ibuku?

“Nanti pada waktunya akan kujelaskan,” sahut Dad pendek.

Aku mencari tahu. Kutanya semua keluarga Weasley, mereka menggeleng. Saat bertemu dengan Remus dan Tonks, mereka menggeleng juga. Nampaknya mereka tahu tapi tak ingin memberitahu. Jadi aku diam sambil memasang mata dan telinga.

Tapi selebihnya, Dad memang hebat. Ia mengurusku sendirian. Grandmum Molly memang banyak membantu, kalau tidak mana bisa seorang laki-laki mengurus bayi sendiri waktu itu? Kuperkirakan umurnya saat aku masih bayi .. 18 atau 19 tahun. Bayangkan.

Saat Dad harus bertanding aku biasanya dititipkan di keluarga besar Weasley. Di The Burrow.  Setelah Ron dan Hermione menikah, apalagi setelah Viktor dan Ginny lahir, aku sering dititipkan di tempat Ron. Aku sih senang-senang saja. Bermain dengan adik-adik yang lucu. Atau setelah aku bisa membaca, membaca buku-buku Hermione yang banyak itu.

Suatu hari aku membantu Hermione meracik ramuan untuk obat flu Viktor. Ada rasa aneh merasuk dalam tubuhku. Aku menyukainya! Aku menyukai meracik ramuan! Dad memperhatikanku, dan ia berusaha mengajariku. Meski Ron dan Hermione menertawakannya.

“Bagaimana kau bisa mengajari Phimus Ramuan, Harry, kalau dulu saja nilaimu sering nol,” tawa Hermione tertahan, sambil menyihir kembali kuali yang meleleh karena Dad salah memasukkan bahan. Dad cuma menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, rambutnya yang tak beraturan.

Aku menganggap itu suatu kesungguhan. Dad yang tidak bisa meracik Ramuan, berusaha sekuat tenaga agar bisa mengajariku karena melihat aku menyukainya. Jadi aku belajar dasar-dasarnya pada Hermione, lalu membaca sendiri buku ‘Ramuan-Ramuan Mudah Untuk Diracik di Rumah”. Syukurlah sampai sekarang belum ada kecelakaan saat aku mencoba-coba.

Hal ini menimbulkan petunjuk baru untukku. Biasanya kepandaian diturunkan. Kalau Dad tidak bisa Ramuan, pasti Mum almarhumah yang pandai. Jadi aku mencari-cari, siapakah kiranya wanita yang pandai Ramuan, yang kira-kira seumur dengan Dad atau sekitarnya. Tapi hingga saat ini belum membuahkan hasil.

Di Rumah Buku ini ada ruang bawah tanahnya. Penuh dengan peralatan Ramuan! Dad mengijinkanku memakai ruang bawah tanah itu. Memilihkan buku-buku yang tepat untukku sebagai petunjuk mulai membuat Ramuan.

Tapi Dad termenung agak lama ketika aku sedang memisahkan buku-buku. Dia menyisihkan Advance Potion-Making by Libatius Borage, dari tumpukan buku yang kupilih.

“Yang ini nanti saja kalau kau sudah cukup terlatih dengan Ramuan Dasar,” katanya pendek. Tetapi alih-alih memasukkan buku itu kembali ke dalam jajaran buku di rak, dia malah membawanya. Aku tak tahu kenapa. Mungkin dia ingin membaca buku lusuh itu.

Selain itu dia juga menutup satu dinding penuh rak buku dengan kain hitam, menyegelnya dengan mantra tertentu. “Itu isinya buku-buku Dark Magic, Phimus. Nanti setelah kau terbukti kuat, bisa membaca buku-buku Hitam itu tanpa menjadi tergoda, kau boleh baca,” kata Dad. “Dark Magic itu sangat kuat sekali pesonanya, Phimus, kau harus berjanji untuk tidak mencobanya,” lanjutnya sungguh-sungguh.

Tentu saja aku berjanji. Tanpa harus membaca Dark Magic juga, di sini ada banyak sekali buku yang menarik untuk dibaca, banyak Ramuan asyik untuk dicoba.

Pendeknya, aku suka sekali di sini. Biasanya setelah beres-beres aku langsung memilih buku yang ingin kubaca atau Ramuan yang ingin kubuat. Sedangkan Dad pergi ke halaman belakang, dan duduk terpekur berlama-lama di sana. Yang kutahu, di halaman belakang ada dua gundukan tanah, mungkin makam? Tapi tidak kuperhatikan.

*****

(diteruskan di post berikutnya....)
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #3 on: January 15, 2007, 03:11:10 AM »

(sambungan dari post sebelumnya)

Tapi hari ini tidak berjalan seperti biasanya. Begitu kami masuk, Dad tidak langsung mulai beres-beres. Ia langsung menuju kursi kerja, menumpuk berkas-berkas yang tadi ia bawa di meja, meletakkan serangkaian kunci di atasnya. Ia juga menaruh dua tabung kaca hati-hati. Ia membuka kunci lemari meja dan mengeluarkan sesuatu, nampaknya seperti mangkuk yang berat, ada serangkaian tulisan Rune di sisinya

“Seraphimus, duduklah. Ada yang ingin kubicarakan,” suaranya serius.

Penasaran, akupun duduk di hadapannya.

“Hari ini kau genap berumur sebelas, Seraphimus,” Dad mulai bicara. “Di bulan Juli atau Agustus nanti, kuharap kau akan memperoleh surat panggilan dari Hogwarts.”

Aku mengangguk. Surat panggilan dari Hogwarts memang sudah lama kuimpikan.

“Sekarang rasanya saat yang tepat untuk menceritakan segalanya padamu,” Dad menghela napas panjang. “Nanti pada saat kau menerima surat panggilan dari Hogwarts, kuharap kau tidak kaget. Nama yang tercantum di surat itu bukan Seraphimus Potter.”

Aku terkejut, “Bukan Potter? Aku bukan anakmu?” sergahku.

Dad hanya mengangguk, airmukanya sedih.

Tapi itu memang menjelaskan sesuatu. Aku tidak begitu mirip dengan Dad. Rambutku memang hitam, tetapi tidak acak-acakan seperti Dad. Malah lurus. Kalau kubiarkan rambutku panjang, rambutku akan membingkai lurus. Tapi biasanya aku memotongnya cepak. Lalu, hidungku agak bengkok seperti burung. Dan aku tidak memakai kacamata.

“Namanya Severus Snape. Profesor Severus Snape,” katanya perlahan, memberi penekanan pada kata Profesor.

Profesor? Apakah dia Guru Ramuan? Apakah itu sebabnya aku senang Ramuan sedang Dad tidak?

“Dia seorang Guru Ramuan, saat aku masuk ke Hogwarts,” kata Dad. Ha! Benar ternyata. Aku memperhatikan Dad dengan serius. Aku penasaran.

“Sejak pertemuanku yang pertama dengannya, aku sudah diliputi pandangan yang salah tentangnya,” dan mengalirlah cerita tentang Dad dan dia.

Tentang pertemuan Dad dengannya pertama kali. Dia ada di Meja Tinggi, sedang Dad duduk bersama-sama murid yang lain. Pertemuan itu membuat bekas luka di kening Dad sakit –aku tidak melihat adanya bekas luka di kening Dad sekarang. Bekas luka itu kemudian selalu sakit jika Dad bertemu dengan Voldemort. Karena itu Dad mencurigai dia, --Professor Snape. Belakangan baru diketahui bahwa sakit pada bekas luka itu disebabkan karena di belakang Professor Snape, ada Quirell. Guru yang di belakang kepalanya ‘tercangkok’ Voldemort.

Lalu salah perkiraan saat pertandingan Quidditch setelahnya, karena Profesor Snape menyaksikan Dad bertanding sambil berkomat-kamit seperti mengucap mantra ketika Dad sedang berusaha mengendalikan laju sapu terbangnya yang menggila. Dad mengira Profesor Snape yang berbuat itu terhadap sapu terbangnya.

Dad menarik napas panjang. “Sedang Profesor Snape juga, dari dulu sudah menanam kebencian. Padaku. Karena aku anak ayahku. Karena aku seorang Potter. Baginya adalah musuh bebuyutan. Ayah dan anak sama saja.”

“Keadaan ini membuat kami saling membenci. Apalagi setelah aku tahu bahwa dia dulunya adalah Death Eaters. Aku terus beranggapan bahwa dia tetap menjadi Death Eaters.”

Aku tidak berani bernapas saat Dad mengatakan itu. Death Eaters! Walaupun pada saat ini sudah bisa dibilang tidak ada lagi Death Eaters, tetapi tetap saja namanya menggaungkan ketakutan. Rasa seram.Tapi tidak mungkin. Ayahku seorang Death Eaters?
 
“Hanya Hermione dan Remus yang selalu menepis anggapan itu,” Dad meneruskan. “Kepala Sekolahku saat itu, Albus Dumbledore, juga selalu menangkis anggapan itu. Dia selalu mengatakan kalau Profesor Snape sudah bersih dari tuduhan menjadi Death Eaters itu.”

Hening sejenak. Dad menghela napas lagi. Wajahnya berubah menjadi lebih suram. “Tapi Albus Dumbledore justru meninggal di tangan ayahmu, Phimus. Meninggal dengan Avada Kedavra yang dirapalkannya. Kebencianku saat itu benar-benar memuncak. Aku bersumpah, tidak akan berhenti mencarinya. Aku rasa aku lebih membencinya daripada membenci Voldemort.”

Dendam telah bertumpuk saat Dad bertemu dengan Snape saat Pertempuran Terakhir. Tapi ternyata orang yang selalu mengirimkan petunjuk saat Dad melakukan pencarian Horcruxes adalah dia. Dia juga yang menyuruh Dad untuk terus berlatih menutup pikiran.

“Kalau saja aku menuruti apa katanya, mungkin tidak akan jadi begini,” Dad nampak menyesali dirinya, “karena Voldemort ternyata banyak menggunakan perang-pikiran dan mantra non-verbal. Karena dia tahu, tongkatnya terhubung dengan tongkatku, dan mustahil baginya untuk mengucapkan Avada Kedavra dengan tongkatnya. Maka dia mencari  jalan lain. Pertama dia menculik Olivander, tapi pembuat tongkat itu tidak mau menuruti keinginannya. Lebih baik mati.”

“Akhirnya di Pertempuran Terakhir Voldemort menggunakan Mantra Penyedot Jiwa. Mantra itu mula-mula memporakporandakan fisik kita. Pembuluh darah putus atau tersumbat dan pecah. Persendian terlepas. Tapi jiwa tidak langsung meninggalkan tubuh kita. Jiwa kita meninggalkan tubuh kita dengan sangat perlahan, membuat kita tersiksa. Membuat kita memohon-mohon agar nyawa kita dicabut secepatnya. Voldemort menggunakan mantra ini untuk menyiksa korbannya. Dan aku tahu itu kemudian. Setelah … ada korban yang kulihat sendiri, dengan mataku sendiri.”

Aku perlahan-lahan bisa mengurutkan kejadian yang dipaparkan Dad. Aku seolah mendapat firasat. Mungkinkah .. Profesor Snape, err .. ayah-lah korban itu?

“Apabila seseorang sedang merapalkan Mantra Penyedot Jiwa, maka seluruh konsentrasinya akan terpusat ke sana. Di saat itu, bila ada seseorang menyerangnya, dengan mantra yang sederhana sekalipun, maka akibatnya akan fatal. Tetapi, sukar sekali kita mengetahui kapan seseorang sedang merapalkan Mantra itu, karena Mantra itu hanya bisa dirapalkan dengan non-verbal. Langsung pada pikiran kita, pusat syaraf kita.”

“Kalau aku berlatih menutup pikiran dengan baik, maka Voldemort tidak akan bisa menyerangku seperti itu. Aku sudah diperingatkan oleh ayahmu agar melatih Occlumency-ku. Dan memang sudah terlambat.”

“Pada Pertempuran Terakhir itu Voldemort hanya tertawa dan memandangku aneh. Ternyata dia sedang merapalkan Mantra itu padaku. Biasanya Mantra itu langsung bekerja. Aku akan langsung kesakitan. Lebih dari dikutuk menggunakan Crucio. Tapi tidak demikian yang terjadi. Mantra itu tidak langsung kena padaku, tetapi ada seseorang yang menyerapnya. Ayahmu, Phimus. Ayahmu. Dia sudah siaga sejak awal, dia tahu aku tidak akan siap untuk serangan ini.”

Aku terpana. Meski aku sudah menduganya, aku tidak mengira akan benar adanya. Ayahku? Ayahku? Ayahku dengan sukarela menyerap Mantra Penyedot Jiwa itu?

“Aku tidak langsung menduganya, Phimus. Aku hanya bisa terpana selama beberapa detik. Setelah Ayahmu menyuruh aku untuk menyerang Voldemort, dengan mantra apa saja, aku langsung tersadar apa yang sedang terjadi. Aku langsung menyerang Voldemort, yang dengan gusar juga baru menyadari bahwa pengkhianatan –pengkhianatan dobel—itu membuatnya vulnerable, membuatnya rentan.”

Hening sejenak. Aku masih belum bisa mencerna dengan baik. Pengkhianatan? Jadi ayahku .. mata-mata? Mata-mata dobel?

Dad menghela napas panjang, “Aku langsung menyerang Voldemort, dan dia langsung hancur berkeping-keping. Aku tahu, itu berarti sudah tidak ada Horcrux lagi tersisa. Yang tadinya kukira masih ada satu lagi, Nagini ularnya. Rupanya ayahmu juga yang sudah menghabisinya.”

“Aku langsung memburu ayahmu, yang saat itu juga mulai kesakitan. Aku sudah akan memanggil Remus, atau siapa saja untuk membantuku membawanya ke St Mungo.”

Aku langsung membayangkan rasa kesakitan yang dialami Ayah. Aku tidak tahu seperti apa rasanya. Aku tidak pernah mengalami rasa sakit.

“Tapi Ayahmu tidak mau, Phimus. Aku tahu ia pasti kesakitan. Aku sudah pernah dikutuk dengan Crucio, dan kukira aku tidak akan bisa menahan rasa sakit yang ditimbulkan oleh Mantra Penyedot Jiwa ini. Ia tahu, Mantra ini tidak ada penawarnya. Mantra ini berarti vonis mati. Hanya persoalannya kapan kau akan mati, itu saja.”

“Ayahmu hanya minta aku membawanya dengan Apparate, ke rumah ini. Rumah yang tidak banyak orang tahu. Di sini aku bertemu dengan wanita itu. Ibumu, Phimus. Ia sedang mengandung. Ia langsung tahu apa yang sudah dialami ayahmu. Ia tegar, Phimus. Ia tidak menangis. Ia hanya menemani ayahmu di saat-saat terakhirnya.”

“Ayahmu hanya berpesan agar kau diberi nama Seraphimus, kalau kau laki-laki, dan diberi nama Anne-Marie, sama seperti ibumu, kalau perempuan. Dan ia berpesan padaku … agar aku menjagamu.”

Ya. Aku tahu sekarang. Jadi aku anak musuhmu, dan sekarang selama sebelas tahun ini kau merawatku?

“Tak lama setelah ayahmu meninggal, kau lahir. Dan kukira karena kesedihan yang dalam, ibumu juga menyusul tak lama setelah kelahiranmu.”

Ia mengulurkan berkas-berkas di depannya, “Ini catatan harian ayahmu, dan ibumu, yang terakhir. Ada banyak catatan harian lainnya di kamarnya,” ia mengulurkan kunci-kunci kamar. Satu kunci nampak berbeda.  “Kunci ini kunci Gringotts, lemari besi ayahmu. Hermione sudah mengurusnya, semua hak paten dari ramuan-ramuan yang dihasilkan ayahmu, royaltinya masuk ke lemari besi ayahmu setiap bulan…”

Tapi aku tidak begitu mendengarkan. Kau dan ayahku bermusuhan? Dan akhirnya kau membunuhnya, ya kan? Voldemort seharusnya membunuhmu, dan seharusnya kau cukup kuat untuk melawannya, ya kan? Tetapi kau tidak cukup kuat untuk melawannya, kau harus dibantu oleh ayahku? Dan itu sama saja dengan membunuh ayahku!

Aku sontak berdiri dan menatapnya langsung di mata, “Kau yang membunuh ayahku, kan? Benar kan?” kataku dengan tajam.

Ia menunduk, lalu ia berkata dengan lirih, “Ya. Bisa dikatakan begitu. Akulah yang membunuhnya,” bisiknya. “Secara tidak langsung, akulah yang membunuhnya. Aku pembunuhnya, Seraphimus.”

“Aku hidup dengan pembunuh ayahku selama ini? Dan kau merahasiakannya?”

Ia mengangguk lemah.

“PERGI! PERGI! AKU TIDAK INGIN DEKAT DENGAN PEMBUNUH AYAHKU!”

Ia berdiri, seolah sudah siap untuk pergi dari tadi. Ia menyodorkan dua tabung kaca hati-hati, “Ini adalah memori Albus Dumbledore saat ia membicarakan pembunuhan dirinya dengan ayahmu. Dan yang satunya adalah memori terakhir ayahmu. Lihatlah dengan Pensieve ini, kupinjam dari Hogwart,” suaranya tercekat. Lalu ia berlalu dengan tertunduk.

“PERGI SAJA!” kemarahan menguasai seluruh tubuhku. Sampai gemetar. Aku terduduk. Berurai air mata. Tidak. Aku tidak menyangka.

Aku tak tahu berapa lama terduduk seperti itu. Perlahan aku meraih kedua tabung. Aku berdiri. Membuka tutup salah satunya, dan menuang isinya ke dalam Pensieve. Aku membungkuk sedikit ke atas Pensieve, dan aku tersedot ke dalamnya.

Seorang laki-laki terbaring di ranjang, didampingi seorang wanita. Cantik. Dan sedang mengandung. Ibuku? Itu Ibuku! Tangannya menggenggam tangan laki-laki itu. Ayah? Betapa aku ingin memeluk keduanya…

“Jika bayi ini kelak laki-laki, berilah nama Seraphimus. Dan jika perempuan, berilah nama seperti namamu, Anne-Marie.”

Ibu mengangguk dan mengusap matanya. “Kau akan kuat, Severus, kau akan kuat hingga bayi ini lahir, Severus.”

Laki-laki itu menggeleng. “Aku tahu bahwa saatku sudah tiba.”

Lalu Ayah mengalihkan mata pada seorang .. dia Harry! Harry saat lebih muda.

“Aku percayakan padamu untuk menjaga anakku kelak, Potter,” suaranya bergetar.

“Sir, saya .. saya..”

“Aku tahu. Aku sudah memperkirakan semua akibat yang akan terjadi. Dan inilah yang terbaik.”

Harry menunduk. Dia mengusap matanya. Lalu mengangkat wajahnya, “Saya ingin minta maaf .. untuk semuanya, Sir. Terutama saat saya menyebut Anda..”

Ayah berusaha untuk duduk tegak dari posisinya, namun nampaknya usaha itu membuatnya kesakitan. Tapi ia terus berusaha. Harry membantunya. Ayah tidak berusaha mengelak.

“Saat kau bersedia untuk menjadi seorang mata-mata, apalagi mata-mata dobel sepertiku, kau harus bersedia untuk menempuh apa saja. Walau itu merobek-robek hatimu. Tidak ada yang lebih menyakitkan saat aku harus mengangkat tongkat dan merapal Avada Kedavra padanya…”

Harry mendekat dan duduk di samping satunya, “Sir, please, saya mohon..”

Ayah merogoh ke balik jubahnya. Tindakannya membuat dia menyeringai kesakitan, tetapi dia meneruskan. Mengeluarkan sebuah tabung.

“Memori Albus. Saat percakapan kami mengatur pembunuhan dirinya. Ia membagi memori ini untukku, untuk pertahananku. Untuk membela diri di sidang jika kelak tiba saatnya. Tapi, kupikir ini tidak akan gunanya sekarang. Kuberikan saja padamu,” dia mengulurkan tabung itu pada Harry. Harry terpana.

“Sir?”

“Tongkatku?” tanya ayah, meraba-raba saku jubahnya yang satu lagi. Gerakannya semakin tak menentu. Harry membantunya mencari tongkatnya.

“Ambilkan sebuah tabung, di lemari yang itu,” kata ayah. Harry mematuhinya.

“Yang ini untuk anakku nanti kalau ia sudah cukup umur. Berikan padanya, dan ceritakan padanya yang sebenarnya. Aku ingin kau menjaganya dari unsur-unsur Dark Magic. Jangan biarkan ia masuk ke lingkungan Dark Magic,” sahut ayah lembut. Tetapi penuh kesungguhan.

Ayah menunjukkan tongkatnya pada kepalanya dan mengalirlah cairan keperakan. Masuk ke dalam tabung.

Lalu gelap.


*****

(diteruskan di post-berikutnya)...
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #4 on: January 15, 2007, 03:13:37 AM »

(sambungan post sebelumnya)

Otomatis aku terlempar keluar dari Pensieve. Aku terdiam. Cairan itu otomatis masuk kembali ke dalam tabungnya. Entah kenapa refleks aku membuka tabung yang satu dan menuang isinya ke dalam Pensieve.

Ada dua orang di sana. Yang satunya ayah. Dan satunya lagi, berjenggot keperakan. Mungkin itu Albus Dumbledore?

Pertama-tama aku tidak mengerti percakapan mereka. Lama-lama ayah nampak marah.

“Anda nampaknya begitu saja menganggap saya pasti akan melakukannya! Saya sudah tidak mau melakukannya lagi!”

“Kau sudah setuju untuk melakukannya. Jadi harus dilakukan.”

Hening. Ayah nampak sedang berusaha mengendalikan amarahnya. Lalu dia memalingkan muka.

Dumbledore mendekatinya, dan menyentuh bahunya. Ayah berbalik, dan menghapus matanya.

Dia menangis!

“Albus, saya tidak mau dianggap pengecut. Tapi Anda satu-satunya yang mempercayai saya. Setelah Anda pergi nanti, siapa lagi yang akan mempercayai saya? Siapa? Lalu, dengan tiadanya yang akan mempercayai saya, dalam keadaan saya nanti, siapa yang akan menjamin kalau saya tidak akan kembali ke lingkungan Hitam lagi?”

Dumbledore melipat tangannya, “Aku mempercayaimu luar dalam, Severus. Dalam keadaan hidup maupun mati. Ingatlah itu kalau kau hendak menyeberang. Aku percaya padamu, aku hidup atau mati.”

Ayah terdiam sejenak. “Kalau itu dilakukan, siapa yang akan percaya pada saya? Siapa yang akan percaya bahwa saya melakukan kebaikan dengan membunuh Anda? Selain itu, saya harus ke mana bila ingin bertanya?”

“Kita memang harus melakukan hal yang berat, Severus. Kau tidak akan dipuji orang. Kau justru akan dicaci. Mungkin kau akan dicari-cari orang untuk dibunuh. Tapi aku percaya kau bisa. Karena itu aku merencanakan ini untukmu.”

Dumbledore menghela napasnya, “Mungkin namamu bahkan tidak akan bersih untuk waktu yang lama. Mungkin tidak pernah.  Bahkan orang-orang terdekatmu akan mencaci. Tapi ini resiko sebagai mata-mata. Aku percaya kau kuat, Severus.”

Hening.

Ayah terdiam beberapa lama. Lalu ia mengangkat wajah. “Baiklah, Albus. Mungkin ini memang sudah jalannya.”

“Aku minta maaf, Severus. Tapi aku percaya kau bisa.”

Ayah mengangguk.

Dumbledore menepuk bahu ayah. Lalu, “Aku akan mengambil memoriku. Simpanlah, untuk jaga-jaga.”

Ayah mengangguk lagi. “Terima kasih, Albus.”

Dumbledore tersenyum. “Jangan lupa sampaikan salamku untuk Anne-Marie. Permintaan maafku darinya, karena kehidupan kalian menjadi tidak wajar seperti ini.”

Ayah menghela napas, “Dia tahu apa resikonya, Albus. Dia tahu.”

Dumbledore juga menghela napas.

Kemudian gelap.


Aku keluar dari Pensieve lagi.

*****

Lalu aku meneliti berkas-berkas. Catatan harian ayah. Catatan harian ibu. Catatan harian ibu berhenti setelah tanggal lahirku, setelah menulis tentang kelahiranku.

Aku membaca berkas berikutnya. Catatan harian Hermione mengenai perjuangan Harry untuk membersihkan nama ayah. Sampai ke tingkat Wizengamot, sampai-sampai Harry disumpah dengan minum Veritaserum dan di-Legilimency. Dan menghasilkan penghargaan Orde Merlin kelas satu.

Aku masuk ke kamar. Medali itu ada di lemari,sesuai catatan Hermione. Berkilap di sana. Tapi ayah sudah tidak ada! Dia tidak bisa menikmatinya. Dia meninggal dengan mengenaskan. Dan nyaris tidak ada yang akan mengenangnya.

Penasaran, aku ke halaman belakang. Benar, keduanya memang gundukan makam seperti kukira.. Kubaca nama-namanya. Ada nama ayah, Severus Snape dan ada nama ibu, Anne-Marrie Snape. Tanggal kematian ayah dua hari sebelum aku lahir. Dan tanggal kematian ibu sehari setelah aku lahir.

Aku terduduk di antara kedua nisan. Jadi, di sinilah Harry …Dad selalu terpekur hampir tiap minggu. Di kedua makam ini. Di makam gurunya.

Oya ni hagureta hinadori mo
Itsuka wa yasashii futokoro ni
aeru ashita mo aru darou
Danoni naze meguri aenu chichi no kage
Naku mono ka boku ha otoko da
Shinjite’ru shinjite’ru sono hi no koto wo
Kono te de chichi wo
Daki shimeru hi no koto wo

No ni saku hana mo tsuyukusa mo
Itsuka ha hito to meguri ai
Kataru yuube mo aru darou
Danoni naze otozurenai shiawase ga
Naku mono ka boku ha otoko da
Taetematsu taetematsu sono hi ha kuru to
Te wo tori chichi to warai au hi ga kuru to

Mikazuki wo ou murakumo mo
Itsuka ha kaze ga huki harai
Kagayaku yoru mo aru darou
Danoni naze kiramekanai chichi no hoshi
Naku mono ka boku ha otoko da
Tatakau zo tatakau zo sono hi no tame ni
Kono te ni chichi wo
Tori modosu hi no tame ni

There will be a tomorrow
When even this little bird that turned from his parents
Can someday return to their kind bossom, right?
Yet why can’t I even meet my father’s shadow?
Am I going to cry? No way, I am a man
I believe, I believe in that day
The day I embrace my father in my arms

Someday the flowers of the fields and grass of the rainy season
Shall meet someone
Perhaps there will come a day I can say so
Yet why doesn’t happiness come?
Am I going to cry? No way, I’m a man
I shall endure, I shall bear and wait  for that day to come
The day when I can hold father’s hand and laugh with him

Someday the wind shall sweep away
The clouds hung over the crescent moon
Perhaps there will be a brilliant night
Yet why doesn’t father’s star shine?
Am I going to cry? No way, I ‘m a man
I shall fight, I shall fight for that day
For the day I take back father with my own hands

[Ending song of Voltus V]


Aku menghela napas.

Aku harus kembali.

*****

Rumah gelap. Lampu tidak dinyalakan. Hanya ada api kecil menyala di perapian. Dan Dad duduk menopang dagu di depannya. Nampaknya sudah lama dia terpekur begitu.

Aku mendekatinya tanpa suara. Di pangkuannya ada sebuah buku. Advance Potion-Making by Libatius Borage. Sudah lusuh. Dan terbuka di halaman tertentu tanpa dibaca. Aku tercekat.

Dad tersadar, dan melihat padaku, “Phimus?” tanyanya serak.

Aku mendekat, berdiri di depannya. Berlutut di hadapannya. “Harry.  Err .. Dad?”

Dad memandangku tidak percaya.

Aku menelan ludah, “Masih bolehkah aku memanggilmu Dad? Seperti dulu?”

Lama dia memandangku.

Dia memelukku. Erat. Aku pun memeluknya erat. Tidak peduli apakah namaku akan dipanggil Seraphimus Potter atau Seraphimus Snape dalam upacara penerimaan murid baru nanti di Hogwarts.

Tapi aku punya Dad.

Dan aku punya ayah.

Di hatiku

FIN




Catatan Harry Potter:

Sebelas tahun yang panjang untuk membesarkan anak itu, dan harus diakhiri dengan mengungkapkan rahasia yang selama ini harus kututupi. Dengan berat. Aku sudah jatuh sayang padanya. Sudah tak kuanggap anak Profesor Snape lagi, sudah kuanggap anakku sendiri. Aku sampai membeli rumah di dekat rumah keluarga Snape itu, dan rutin mengunjungi rumah mereka tiap minggu.

Yang Seraphimus belum tahu adalah, sehabis mengalahkan Voldemort, aku mengikuti ujian persamaan NEWT lalu tes Auror, mengikuti pendidikannya selama dua tahun. Setelah itu aku masuk tim nasional Quidditch. Orang hanya tahu bahwa aku gagal ujian akhir Auror dan masuk tim Quidditch. Padahal aku lulus, dan masuk tim Unspeakable. Masuk anggota tim Quidditch sebagai undercover.

Aku akhirnya mengerjakan apa yang dulu dikerjakan oleh Profesor Snape, menjadi mata-mata. Sebagai anggota tim Quidditch aku harus bepergian ke mana-mana. Sama dengan sebagai anggota Unspeakable. Aku harus mengatur jadwal bepergianku agar nampak sebagai anggota tim Quidditch yang sibuk.

Tentu saja, di masa ini tidak seberbahaya di masa Profesor Snape dulu menjadi mata-mata. Tetapi aku jadi lebih menghargai apa yang sudah dilakukan seniorku itu.

1 September tahun lalu Seraphimus Snape masuk Hogwarts, dan terpilih masuk Ravenclaw oleh Sorting Hat. Bukan Slytherin apalagi Gryffindor. Dalam masa libur ia tetap pulang ke rumahku, dan pergi ke rumahnya sendiri secara rutin.

Aku juga masih mengunjungi makam Profesor Snape dan istrinya setiap minggu. Tapi hatiku sekarang sudah teduh.
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #5 on: March 04, 2007, 10:27:05 PM »

SEMALAM DARI DUA PULUH SEMBILAN LAINNYA


Mungkin terlalu berlebihan,
jika malam ini juga kupinta
agar bisa melihat, seperti malam-malam yang lain
seperti hari-hari yang lain


~*~*~*~*~*~*~*

Iungo!”

Sekejap cahaya berpendar. Dan dalam hitungan nano-detik, aku bisa melihat! Aku bisa melihat kaki .. tunggu, itu kaki Dad? Kaki Mum?

“Romulo, jangan melihat ke bawah. Lihat ke atas,” Dad memberi perintah.

Dan pandanganku berganti dengan wajah-wajah gembira Dad dan Mum.

“Dad? Mum?” sahutku gemetar, terlalu gembira. Mum mendekatiku dan memelukku, wajahnya basah oleh airmata, dan tak mampu berkata-kata.

Dad hanya menepuk bahuku, “Anne-Marie, ini hanya hadiah kecil untuk ulangtahunmu yang ke sebelas,” katanya.

“Hadiah kecil, katamu, Dad? Hadiah kecil? Ini adalah hadiah yang tak mungkin kulupakan, Dad,” dan akupun memeluk Dad erat-erat. Kami bertiga saling berpelukan jadinya.

*****

Aku belum berumur lima tahun ketika mataku buta. Aku yang sedang senang-senangnya berlari di antara rumpun bunga, mengejar kelinci, kupu-kupu, perlahan-lahan tidak mampu lagi menghindari kebutaan itu. Aku tidak tahu penyakit apa, yang jelas, enam tahun ini hanya diisi dengan warna hitam yang gelap.

Yang aku tahu, Dad dan Mum sibuk mencari obat dari penyakitku. Ke sana ke mari. Sampai ke luar kota, sampai ke luar negeri. Dari yang serius, sampai dengan yang hanya mencari uang saja. Iseng. Entah berapa ribu Galleon Dad habiskan untuk itu.

Suatu kali Mum pernah nyeletuk, “Kalau kau normal, bisa melihat, pada usia sebelas nanti, kau akan masuk Hogwarts.”

“Hogwarts?” tanyaku tidak mengerti.

“Hogwarts,” ulang Mum. “Sekolah penyihir terbaik di dunia. Aku kira kau sudah terdaftar di sana sejak kau lahir, ternyata…”

“Lalu, bagaimana kalau aku tidak bisa melihat begini?” keluhku.

Sejak saat itu Dad dan Mum menambah pencarian mereka: bagaimana agar aku bisa melihat walau untuk sementara.

Tapi ternyata jawabannya didapat dari Albus Dumbledore. Kepala Sekolah Hogwarts. Dia mengajukan usul,

“Mudah saja, Mr. Lightday. Carikan seekor binatang yang bisa berada di dekatnya untuk waktu yang lama. Misalnya, seekor burung hantu. Atau seekor anjing. Nanti, latihlah putrimu untuk merapal mantra tertentu. Untuk menghubungkan mereka berdua,”

Mum sangat gembira, sampai-sampai memeluk dan mencium pipi Kepala Sekolah. Sampai-sampai ia tak dapat berbicara sepatah katapun.

Kepala Sekolah hanya manggut-manggut dengan senyum berseri-seri. Dengan mata yang jenaka. Dia menambahkan, “Bulan September ini, kutunggu dia di Hogwarts ya, Mrs Lightday!”

Maka Mum dan Dad mencari binatang peliharaan yang sesuai. Setelah mencari untuk waktu yang lama, mereka menemukan seekor anjing. Tepatnya .. seekor serigala.

Tepatnya lagi, aku yang menemukan, err… serigala itu yang menemukanku. Aku sedang meraba-raba sekitar di halaman belakang rumahku, ketika kurasa ada sesuatu mendekatiku. Aku mencoba untuk mendekatinya.

“Anne-Marie! Hati-hati, itu sangat berbahaya!” suara Nanny—pengasuhku—terdengar dari teras rumah, mendekat.

“Nanny, ada apakah gerangan?” sahutku keheranan.

“I-itu .. ada seekor serigala di dekatmu,” Nanny menjawab dalam suara yang gemetar.

Aku berhenti. Dan kurasa ‘sesuatu’ itu mendekatiku. Berhenti juga. Dan menjilatiku.

“Nanny, dia .. jinak,” sahutku sambil berusaha meraba ‘benda’ itu. Dia diam saja kubelai-belai.

Di belakang rumahku memang ada sebuah hutan kecil. Dari sana selalu ada binatang yang nyasar. Tapi biasanya liar. Kalau dia melihat ada orang mendekat, biasanya langsung lari. Tapi yang ini jinak.

Ketika Mum dan Dad pulang, kuberitahu ‘penemuanku’. Dad langsung memeriksa serigala itu, dan tidak menemukan tanda-tanda bahwa serigala itu kepunyaan seorang lain.

Dad langsung menghubungi Kepala Sekolah untuk mendapatkan mantranya. Dan inilah aku, Anne-Marie Lightday, bersama Romulo serigalaku, siap menaklukkan naga berkepala tujuh! Er.. maksudku, siap belajar di Hogwarts ^_^

*****

Aku masuk Hogwarts pada bulan September seperti yang lain. Ulang tahunku bulan Juni. Jadi masih ada waktu untuk membiasakan diri ‘melihat’ melalui Romulo. Dad juga menyarankan agar aku tidak selalu ‘melihat’, tetapi sering memutuskan hubungan penglihatan melalui mantra ‘Abiungo’. Kasihan Romulo kan, kalau harus selalu menengadah melihat ke atas, ke arah pandanganku.

Aku juga mengejar ketinggalanku atas pelajaran. Aku jadi suka sekali membaca, segala buku aku lalap. Enam tahun, coba! Tapi saat itu aku tahu satu hal. Romulo akan meninggalkanku di saat bulan purnama!

Aku tidak tahu kenapa. Tapi tepat malam bulan purnama, Romulo tidak ada di sampingku. Malam bulan purnama bulan depannya juga, ia tidak ada. Dan bulan depannya.

Jadi aku bersiap-siap saat sudah di Hogwarts. Semalam sebelum malam bulan purnama aku mengerjakan pe-er dari para profesor untuk besok lusanya. Agar malam purnama aku tidak kebingungan mencoba ‘melihat’.

*****

Dan aku lulus dengan memuaskan. Er, .. sepuluh NEWT termasuk memuaskan ya? Hihi. Pokoknya aku memanfaatkan fasilitas belajarku dengan baik. Hanya olahraga Quidditch yang tidak dapat kuikuti. Padahal kelihatannya mengasyikan, ya? Tapi bagaimana caranya Romulo naik ke atas sapu bersamaku dan mencari Snitch dengan cepat? Ya, sudahlah, aku cukup puas menyaksikan pertandingannya saja.

Aku juga belajar WitchBraille untuk menulis di atas perkamen tanpa ‘melihat’. Ya, Romulo kan tidak selalu bersamaku. Kalau malam bulan purnama dan aku perlu menulis artikel bagaimana? Oya, aku bekerja di majalah Witch Weekly, bagian rubrik psikologi. Kalian pernah menulis surat ke rubrik itu? Ya, aku yang membalasnya!

Tapi aku merasa hal yang aneh. Bila malam bulan purnama, aku selalu merasa bahwa Romulo tetap mendampingiku. Aku pernah mencoba merapalkan ‘Iungo’ tapi aku tetap tidak bisa melihat apa-apa. Berarti Romulo tidak ada di sekitarku. Tapi perasaan itu tetap saja ada.

Nah, setelah aku lulus dan bekerja, perasaan itu perlahan-lahan hilang. Kau tahu kenapa?Aku tidak tahu, tapi mungkin saja berhubungan dengan kenyataan bahwa aku menemukan seseorang. Seseorang! Ya, seorang laki-laki. Namanya Romi. Ia bekerja di Witch Weekly juga, sebagai freelancer. Tapi tulisannya bagus-bagus dan berbobot. Ia tidak datang tiap hari ke kantor, hanya sehari saja dalam sebulan untuk mengambil honornya. Tulisannya sendiri dikirim via burung hantu.

Tadinya aku heran, kenapa honornya tidak ditransfer via Gringotts saja? Ya, tadinya Romi juga berpikiran begitu. Tetapi setelah dipikir-pikir, lebih baik ia datang sendiri ke kantor majalah dan mengambilnya.

Aku jadi agak ge-er. Mungkin dia mau datang ke kantor untuk bertemu denganku? Soalnya dia pasti ngobrol denganku sampai larut malam. Mulanya dia simpati pada keadaan penglihatanku. Tetapi lama kelamaan kami berdua melupakan hal itu, karena banyak hal yang bisa kami bicarakan tanpa harus bersinggungan dengan membicarakan penglihatan.

Semakin lama aku semakin sayang padanya. Dan rasanya dia juga sayang padaku. Dia memperhatikan keperluanku, mendengarkan semua masalahku. Sebaliknya aku juga mendengarkan semua masalahnya. Kami semakin lama semakin erat.

Hanya satu yang kusayangkan. Aku belum pernah melihat wajahnya. Ya, aku sudah membayangkan, melihat wajahnya melalui Romulo. Tapi tidak. Romi selalu datang di malam bulan purnama. Bukan malam lain. Dan tidak pada siang hari. Ia berkilah, karena hanya pada malam itu dia bebas untuk pergi.

Seperti malam ini. Malam bulan purnama. Romulo sudah pergi. Aku ditinggalkan dalam kegelapan. Tetapi, tidak apa. Biasanya tak lama kemudian Romi akan datang. Dan kami akan bercakap-cakap lagi semalaman.

Dan aku sudah punya rencana untuk malam ini.

*****

“Romi, tapi biasanya kau baru pulang di pagi hari. Mengapa sekarang kau sudah ingin pulang?” Menurut perasaanku, jam baru menunjukkan sekitar jam 3 dinihari.

“Ada yang harus kulakukan,” katanya memegang tanganku, “aku akan datang lagi bulan depan, ya, Anne?”

“Kita hanya bertemu sebulan sekali, kenapa?” tanyaku.

Kurasa Romi menggeleng, karena dia tidak menjawab. Dia hanya mencium tanganku lalu beranjak.

Dengan pendengaranku yang terlatih, aku berpura-pura berdiri dari sofa, dan kakiku ‘tidak sengaja’ menginjak besi pengait kayu bakar untuk di perapian. Pengait itu panjang, kalau Romi duduk di dekatku, pasti kena. Romi mengaduh!

“Romi, kenapa? Ah, aku menginjak sesuatu, apa ini? Kaitan kayu bakar? Pasti kena kakimu, Romi? Kena tidak?” tanganku meraba-raba.

“Kena, tapi tidak apa-apa. Jangan khawatir. Aku pulang dulu, ya!”

Aku tidak membiarkannya pergi. Aku memegang tangannya dan bersikeras untuk mengobati dulu kakinya. Romi bersikeras untuk segera pulang. Aku bersikeras. Romi bersikeras.

Dan aku mulai merasa ada perubahan pada tangan Romi yang kupegang. Ada bulu-bulu halus di tangannya. Romi mulai tak berkata-kata. Hanya geraman rendah.

Aku bingung. Tapi refleks aku merapal, “Iungo!”

Aku langsung bisa melihat.

Kubawa Romi—atau siapapun, apapun dia—mendekat ke cermin di balik pintu.

Romulo.

Dan kakinya berdarah.


FIN



Author’s Note:
1. Buat Jo dan Micha *peluk-peluk Jo, Micha sih biar Jo yang peluk*
2. Buat bee hamz, Wita Lupin, Illyria Pffyffin, Ireth Halliwell, dan semua pecinta bulan purnama. Bisa lihat gerhana?
3. Hubungan Anne-Marie–Romulo di sini Ambu adaptasi sebagian dari hubungan Maud Moody–Athena dari fanfiction-nya RJ Anderson, trilogi (sebenarnya empat) Darkness & Light.  Maud Moody si gadis buta keponakannya Alastor Moody, mempunyai burung hantu yang bernama Athena. Untuk bisa melihat, Maud harus terhubung dengan Athena, dan mantranya adalah ‘Iungo’, serta ‘Abiungo’ untuk mengakhiri keterhubungan. Itu yang Ambu ambil. FF-nya sendiri bagus banget lho, baca ya! Snape sih .. (ngiklan tanpa dibayar, hihi)
4. FF ini memang tidak secara langsung berhubungan dengan Harry Potter, hanya universe-nya saja. Kangen sama Cerita Berbingkai When The Moon Saw
5. Cuma iseng menulis ide yang aneh: bagaimana kalau kebalikan dari Remus Lupin, satu malam dia jadi manusia biasa, dan selebihnya jadi serigala.. Judulnya mengisyaratkan sebulan itu tiga puluh hari, meski dalam perjalanan bulan, sebulan ada yang dua puluh sembilan atau dua puluh delapan hari. Dan gerhana yang baru berlalu, mulai pukul 03.18 WIB
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #6 on: March 04, 2007, 10:36:02 PM »

SEMBILAN NYAWA

"Trust me, Miss Moody," said McGonagall very gently. "The human eye and mind can be fooled any number of ways, but a cat's nose never lies."
RJ Anderson – Darkness and Light


~*~*~*~*~*~*~*


“RON! TIDAAAAAAK!!” suara histeris itu nyaring terdengar.

Hermione! Ada apa dengan Hermione dan Ron? Harry secepatnya menyelesaikan duel dengan Death Eaters di hadapannya, dan berlari ke arah suara itu.

Untungnya para Auror dan anggota Orde sudah berhasil menyelesaikan menghabisi pada Death Eaters, dan bergegas menghampiri tubuh Ron yang tergeletak di pelukan Hermione. Mengerumuninya.

“Ron!” Harry bergegas menyibak kerumunan, “Dia ..”

Hermione menggeleng. “Aku sudah meraba nadinya, dia .. dia ..” Hermione tak mampu melanjutkan.

Kingsley mengambil keputusan. “Mari aku bawa ke St Mungo.”

“Ke Hogwarts saja,” Hermione lirih perlahan.

“Baiklah. Hogwarts,” Kingsley mengalah. Dengan sekali angkat tubuh jangkung itu dibopongnya, dan dia berDissaparate. Hermione, Harry, dan yang lainnya menyusul.

*****

Ruang itu temaram. Hermione duduk di samping ranjang sambil tersedu. Madam Pomfrey nampak sedang memeriksa tubuh Ron. Dia menggeleng-geleng.

“Aku tak berani mengatakan ini, Hermione. Aku tak dapat menemukan tanda-tanda .. kehidupan,” ia berkata pelan di hadapan Hermione.

Hermione nampak tidak percaya. “Dia .. sudah .. meninggal?”

Pintu membuka. Profesor McGonagall.

“Bagaimana? Aku dengar Death Eaters itu mengacau lagi?”

“Kami berhasil menghabisi mereka, kecuali Bellatrix. Dia sedang menghadapi Ron. Dan Ron .. Ron ..” Harry tak bisa mengatakannya.

Profesor MocGonagall memandang tubuh Ron. “Poppy bilang apa?”

“Ia bilang, ia tak bisa menemukan tanda-tanda kehidupan di tubuh Ron. Ia bilang Ron sudah .. sudah ..”

Profesor MocGonagall memejamkan mata. Sedetik ia berubah menjadi seekor kucing, dengan garis kacamata di sekitar matanya. Mendengus-dengus ke sekeliling tubuh Ron.

Lalu berubah lagi. “Ia masih hidup. Jangan khawatir.”

Seketika Hermione berdiri dan memeluk tubuh profesornya itu, “Benarkah? Benarkah? Oh, Profesor McGonagall, terima kasih! Terima kasih!”

Profesornya itu memeluk balik Hermione, “Jangan khawatir. Teruskan saja perawatan Apophis, itu akan membuat hawa hangat tubuhnya kembali. Dan kau akan menemukan denyut nadi, detak jantung, dan napasnya lagi.” Ia melepaskan pelukannya. Membelai-belai rambut Hermione.

Dan berbalik pada Harry, “Harry, aku perlu kau. Kingsley akan merencanakan langkah berikutnya,” katanya sambil tersenyum pada semua orang di kamar itu.

*****

Kantor Kepala Sekolah terasa masih hangat. Baru saja ditinggalkan oleh Harry, Kingsley, beberapa Auror, dan beberapa anggota Orde. Hermione ragu-ragu mencoba membuka pintunya.

“Tidak dikunci, Hermione. Bagaimana Ron?”

Hermione masuk dengan wajah lega. “Madam Pomfrey sudah menemukan detak nadinya. Dan baru saja Mrs dan Mr Weasley datang. Jadi aku bisa meninggalkannya sebentar.”

Profesor McGonagall tersenyum. “Kukira kau tak akan bisa meninggalkannya sebelum ia bangun. Dan kalau sudah bangun, dia yang akan membuatmu tak akan meninggalkannya,” katanya sambil memasang wajah menggoda.

Hermione memerah.

“Ada apa?” Profesor McGonagall bertanya ketika melihat Hermione tak mampu berkata-kata lagi.

“Tadi waktu Anda menemukan bahwa Ron masih hidup… bagaimana bisa?”

Profesor McGonagall tersenyum hangat, “Untuk seekor kucing, penciuman penting. Dan penciuman kucing lebih tajam dari penglihatan manusia. Karena itulah, apa yang tidak sanggup dilihat manusia, mungkin masih bisa dideteksi oleh kucing,” katanya panjang lebar.

“Apakah… apakah aku bisa mempelajarinya?”

“Kelebihan seekor kucing itu akan kau dapat kalau animagimu adalah kucing. Tetapi animagimu mungkin bukan seekor kucing. Walau kau bersusah payah mempelajari ilmu menjadi animagus, kalau bentuk animagimu bukan kucing, bagaimana?”

Hermione menghela napas. “Aku mengerti.” Ia berdiri, mengangguk mohon pamit.

Profesor McGonagall memandanginya hingga hilang dari pandangan.

*****

Hermione kembali ke rumah sakit. Di tengah jalan bertemu dengan Mr dan Mrs Weasley yang menuju ke arah kantor Kepala Sekolah. Molly tersenyum lebar padanya, “Hermione, Hermione. Ron menanyakanmu. Harry sedang menjaganya, tapi kurasa dia lebih baik di tanganmu.”

Hermione memerah lagi, dan ia menambah kecepatan berjalannya.

Tapi di tikungan ia berhenti. Seperti ada yang mengikuti jalannya. Siapa? Dia menengok kiri-kanan. Tak ada.

Ia meneruskan jalannya.

Ya, rasanya ada yang berjalan di belakangnya.

Maka ia menghentikan jalannya dan secepatnya berbalik. Kena!

“Eh, eh … maaf. Aku tidak bermaksud .. jahat, kok.” Seorang pemuda kurus tinggi. Memakai topi seperti Sherlock Holmes, itu tokoh detektif Muggle.

“Kamu siapa? Kenapa membuntutiku?”

“Namaku Ken. Ken Ichijouji. Ravenclaw, seangkatan denganmu. Eh, kudengar kau bertanya-tanya tentang kucing?”

“Iya. Kenapa? Kau tahu sesuatu tentang menjadi animagi kucing?”

“Yah, sebenarnya .. tidak, sih. Bukan animagi kucing.”

“Kalau begitu kau tidak bisa membantuku.”

“Bisa. Bisa sekali. Kalau kau bersedia…”

“Bersedia apa?”

Dia tertegun sejenak. “Bagaimana mengatakannya, ya? Begini,” dia membuka topinya. Rambutnya acak-acakan. Dia membereskan rambutnya. Menyisirnya dengan jari-jari tangannya. Dan di atas kepalanya mencuat …kuping yang lucu. Kuping .. kucing? Rasanya Hermione bisa mengenalinya. Seperti kuping Crookshanks.

“Namanya nekomimi. Kuping kucing. Kau mau?”

Hermione terpaku sejenak.

Ken berbalik, dan memperlihatkan bahwa di balik jubahnya bagian belakang ada sesuatu, “Dan bukan kuping saja. Kau juga akan memperoleh ekor.”

Hermione bergidik. Dia mendadak ingat saat kelas dua, saat dia ditumbuhi bulu via ramuan Polijus. Tapi bukan Hermione kalau tidak bertanya sesuatu.

“Lalu, apakah aku akan mendapat kuping dan ekor, itu saja?”

Ken meringis mirip kucing, “Kau juga akan memperoleh semua kelebihan kucing, tentu saja. Matamu bisa melihat di kegelapan. Pupil matamu akan bisa membesar dan mengecil. Kalau kamu jatuh dari ketinggian, pasti mendarat dengan keempat kakimu. Er, dua kakimu. Semua saja. Oya, mungkin kau nanti akan lebih suka ikan daripada makanan lainnya.”

Hermione terdiam beberapa saat. Menimbang-nimbang. Apakah ini ilmu Hitam bukan? Dan,

“Oke. Baiklah.”

*****

Ron sembuh dengan cepat, dan siap bertugas lagi. Dan tidak memperhatikan hal-hal kecil pada diri Hermione. Laki-laki, biasa. Mana mungkin memperhatikan.

Hermione memang tidak berubah banyak, hanya dia seperti mempunyai rahasia. Rambutnya tidak pernah disisir rapi seperti dulu. Sekarang dia seperti sengaja membiarkan rambutnya mengombak. Dan lebih sering memakai topi.

Lalu dia selalu memakai celana panjang. Tidak pernah memakai rok lagi, apalagi rok mini. Ketika Ginny menanyakan, jawabannya, karena celana panjang lebih praktis. Maka Ginny-pun sekarang lebih sering memakai celana panjang. Memang lebih praktis.

*****

Dan kali ini mereka bertemu lagi dengan Bellatrix. Dan gang-nya tentu saja. Seperti biasa, sedang membuat kekacauan.

Entah bagaimana, akhirnya Hermione berhadapan dengannya. Hermione seperti penuh dendam terhadapnya. Bellatrix memandang remeh padanya.

“Baiklah, Miss Prissy, kita akhirnya bertemu. Dan kini giliran pacarmu itu yang akan menangis di atas mayatmu,” Bella terkekeh. Hermione terdiam, sambil matanya menyala.

Avada Kedavra!”

Avada Kedavra!”

Keduanya tergeletak.

“HERMIOOOOOOOOOONE!” kali ini suara Ron begitu menyayat.

Refleks dia meloncat, hanya diperlukan waktu satu detik untuk meraih kekasih hatinya ke dalam pelukannya.

*****

Rasanya lama sekali Madam Pomfrey memeriksa Hermione. Ron masih berharap. Karena tubuh Hermione masih hangat. Tidak kaku dengan mata membelalak seperti mayat Bella.

“Dia masih hidup,” suara Madam Pomfrey akhirnya membelah kesunyian.

Ron kontan berdiri, dan terduduk lagi. Lemas. “Syukurlah,” katanya lirih. Tangannya menggenggam tangan Hermione.

Harry-pun bersyukur. Tetapi dengan bingung. ‘Jadi, selain diriku, Hermione juga lolos dari Avada Kedavra? Atau, apakah Bella sudah berkurang kesaktian sihirnya? Atau Hermione menemukan mantra penangkalnya?’

Profesor McGonagall masuk. Dan berbincang dengan Madam Pomfrey. Mengangguk-angguk. Berbincang lagi. Memeriksa tubuh Hermione. Kepala Hermione. Membalikkan tubuh Hermione. Berbincang lagi. Mengangguk-angguk lagi.

Lalu menepuk bahu Ron. Dan pergi.

Harry bergegas menyusulnya.

“Profesor McGonagall,” serunya.

“Harry! Ada apa?”

“Aku ingin tahu .. kenapa,” tanya Harry bingung.

Profesor McGonagall mengarahkan Harry ke kantornya. Dan ia duduk. Menyuruh Harry untuk duduk juga.

“Seharusnya aku tahu hal ini saat Hermione menanyakan mengenai animagi kucing. Tapi, kukatakan, untuk apa dia ingin mempelajari animagus kalau setelah bersusah payah ternyata dia tidak menjadi animagi kucing? Jadi berang-berang, misalnya.”

“Mendapat penolakan dariku, ternyata dia mencari dari sumber lain. Untung bukan ilmu Hitam. Dia menjadi nekomimi.”

“Neko .. apa?”

“Nekomimi. Ilmu dari Timur, entah dari mana. Jepang mungkin. Kalau kau perhatikan, di kepalanya akan ada kuping kucing. Dan di bokongnya ada ekor kucing. Dia menjadi semakin seperti kucing.”

“Lalu hubungannya dengan Avada Kedavra dari Bella yang gagal?”

“Tidak gagal. Keduanya merapal Avada dalam saat bersamaan, dan keduanya terkena. Bella langsung mati. Hermione-pun langsung meninggal.”

Harry bingung. Pikirannya langsung campur aduk. “Eh, lalu … mengapa? Bagaimana?”

Profesor McGonagall tersenyum. “Karena Hermione punya sembilan nyawa. Persis seperti kucing. Jadi, sekarang dia tinggal punya delapan nyawa. Peringatkan padanya untuk lebih berhati-hati.”

Harry terdiam.

Profesor McGonagall menyentuh bahunya, “Mungkin membingungkan. Tetapi memang terjadi. Bersyukurlah.” Lalu dia berdiri, “Aku harus memeriksa korban-korban yang lain. Dan laporan dari para anggota Orde. Tinggallah di sini sampai kau merasa baikan.”

Harry mengangguk.

Profesor McGonagall meninggalkannya.

Harry mengangkat kepalanya, memandang langsung pada lukisan Dumbledore, “Sir?”

Lukisan Dumbledore tersenyum dengan mata jenaka, “Jadi, kau tak usah membunuh untuk membuat Horcrux, eh?”


FIN

Author's Note: Ken Ichijouji itu diambil dari DIGIMON. Sembarangan aja, biar kedengeran nama Jepang  Wink
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #7 on: March 08, 2007, 10:04:18 PM »

SAMA

A/N: Happy Birthday, Pack Brother Remus J Lupin!

Bulan bulat penuh bersinar keperakan lembut. Sesekali tersaput awan tipis, tetapi tidak sampai menghalangi pancaran sinarnya. Perlahan meniti dari Timur, hingga kini telah sampai di puncaknya.

Angin semilir. Tak bertiup kencang, tetapi cukup untuk menusuk tulang. Membuat lebih banyak orang, penyihir maupun bukan, memilih berselimut daripada menikmati pemandangan malam.

Seekor serigala melolongkan lagu kesunyian. Tidak biasanya seekor serigala berkeliaran sendiri. Mereka biasanya berada dalam satu rombongan. Dengan seekor pemimpin, Alpha Pack. Dengan struktur hirarki yang jelas.

Tidak serigala ini. Dia sendirian.

Ia melanjutkan lolongannya, panjang dan menyayat.

Dari puncak bukit yang lain sayup terdengar lolongan serigala yang lain. Terdengar mantap dan tidak sendirian. Suara itu di-back up oleh Beta Pack-nya. Serigala-serigala yang lebih muda, lebih rendah hirarkinya dalam struktur organisasi kumpulan mereka.

Suara itu seolah bertanya, “Siapa kau? Dari kumpulan mana kau berasal? Jangan menghalangi jalan kami.”

Serigala yang sendiri itu melolong lagi, “Aku hanya pengembara. Sendiri. Dan aku tidak akan menghalangi jalan siapapun.”

Serigala sendiri itu tiba-tiba terdiam. Kupingnya tegak. Hidungnya mengendus-endus. Tapi kemudian sikapnya mengendur. Ekornya mengibas. Ia menyalak pendek.

“Woof!”

“Hm. Kau tidak akan menghalangi jalan siapa-siapa? Kau hanya pengembara?” yang datang ternyata seorang penyihir. Tinggi dan kurus. Tidak bisa disembunyikan oleh jubah. Rambutnya hitam dan lurus, berkibar tertiup angin semilir, jatuh membingkai wajahnya. Jubah gelapnya diselubungkan menutupi keseluruhan tubuhnya. Tangannya dilipat keduanya di depan dada.

“Woof!” serigala itu duduk tegak dengan kedua kaki belakang dilipat.

Penyihir itu juga duduk di sebuah batu, berhadap-hadapan dengan Serigala. Menghela napas.

“Aku tidak suka mengatakan ini, tetapi aku harus,” ia menelan ludah, “Terima kasih telah mempercayaiku selama ini.”

Serigala menggeram pelan. Bulu coklat mudanya berkibaran ditiup angin malam yang kian menggigit.

“Aku tahu. Kau sangat kehilangan. Potter, beberapa anak Weasley. Dan terutama .. Tonks,” penyihir itu menghela napas lagi. Uap hangat menghambur dari mulutnya.

Serigala memandang jauh.

Hening sejenak. Hanya suara angin perlahan membekukan.

Penyihir itu melanjutkan, seolah bisa membaca pikiran Serigala, “Dan Dumbledore.”

Serigala menggeram.

“Ya,” penyihir itu mengangguk, “Kau kehilangan Dumbledore. Aku kehilangan Dumbledore,” penyihir itu menunduk, “Dumbledore selalu memberi kesempatan pada kita. Yang oleh orang lain tak akan dipandang sebelah mata.”

“Woof! Woof!”

Penyihir itu tersenyum sinis. “Kau betul. Nasib kita sama. Kita pengembara dalam kehidupan ini. Dan akan selalu sendiri.”

Serigala berdiri pada keempat kakinya, mengibas ekornya, mengarahkan kepalanya kembali pada bulan purnama.

Dan ia mulai melolong panjang. Lolongan menyayat hati.

Penyihir itu merapatkan jubahnya. Tapi ia bergeming. Tidak pergi dari situ.

Hingga fajar menjelang.

FIN
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #8 on: March 16, 2007, 03:56:40 AM »

PLEASE



Aku mengeratkan genggaman pada tongkatku. Bersedia akan apapun yang akan terjadi.

Akhirnya. Aku berhadapan dengannya. Yang menyebabkan kematian orangtuaku. Yang aku tuduh sebagai penyebab kematian Sirius, waliku. Dan yang jelas-jelas membunuh Dumbledore.

Aku kembali mengeratkan genggaman pada tongkatku. Dan menggeratakan gerahamku. Ya! Akhirnya aku berhadapan dengannya.

Wajahnya dingin, keras, dan kaku, seperti biasa, saat kupandangi dengan penuh kebencian. Dendam kesumat. Bara yang terus menyala di hatiku kini bergejolak, menggelegak. Apalagi melihat sikap tenangnya seperti melecehkan.

“Snape!” seruku sesampainya suaraku berteriak, “aku akan membuatmu mempertanggungjawabkan apa yang sudah kau lakukan, pengecut!”

Tiada perubahan pada ekspresi wajahnya.

Sectum..”

Ia menggerakkan tongkatnya, merontokkan mantraku. Aku semakin bernapsu.

Cruc..”

Lagi-lagi ia meruntuhkannya setengah jalan.

Cruc..” aku berusaha lebih cepat, namun ia terus meruntuhkannya.

Baiklah. Non-verbal, kalau begitu, walau aku tidak begitu bisa.

“…”

Tapi lagi-lagi aku terhenti di tengah jalan. Ah! Ia tentu sudah me-Legilimens-ku. Baiklah. Aku sudah lelah sedari tadi bertarung, sementara dia nampaknya baru saja turun gelanggang. Bagaimana kalau yang ini, agar lekas selesai. Apa kau kira ini bisa kau tangani?

Dengan kebencian yang meluap-luap aku merapalkan mantra yang satu ini.

Avada~”

Ia sama sekali tidak meruntuhkannya, tetapi melompat ke arahku! Apa yang hendak ia lakukan?

“~Kedav~”

Sambil melayang ia menjulurkan tongkatnya tepat ke arah tongkatku.

“~ra~”

Secepat aku menyelesaikan merapal mantra, secepat itu pula ia mengarahkan tongkatnya ke arah di belakangku. Tepat di belakangku. Dalam jangkauan beberapa meter, dalam waktu beberapa nano-detik, terdengar gemeresak, seperti pohon tumbang.

Refleks aku berbalik.

Merlin! Aku melihat sesosok tubuh di balik pohon, kaku tak bernyawa, perlahan jatuh menggeresek mengiris semak-semak di sekitarnya.

Sosok yang aku kenal benar. Sosok dengan mata  merah dan raut keji itu tak bernyawa lagi. Dengan wajah yang menampakkan seolah tak percaya akan apa yang terjadi.

Dan aku pun nyaris tak percaya. Aku bingung sejenak. Dan mencoba menata pikiranku. Jadi … Avada Kedavra yang kurapal telah dibelokkan oleh Snape? Ke arah Voldemort? Di tempat di mana dia tidak percaya akan apa yang sedang dilakukan oleh kepercayaannya? Aku pun tak percaya!

Tetapi dalam hitungan detik pikiranku jernih. Dan berbalik. Snape limbung terjatuh beberapa meter di hadapanku.

Bergegas aku menghampirinya, “Profesor..!”. Aku mendekatinya. Ia tertelungkup di tanah. Perlahan aku membalikkan tubuhnya. Masih bernapas.

“Profesor,” sahutku lirih. Hatiku tak menentu. Jadi, siapa dia sebenarnya? Dia ada di pihak mana? Mengapa?

Ia terbatuk. Aku terduduk, dengan kepalanya di pangkuanku. Ia membuka matanya, dan bertanya perlahan, “Pangeran … Kegelapan .. sudah ..?”

Aku mengangguk. “Ya. Dia sudah mati.”

Ia terbatuk lagi. Lalu memuntahkan cairan kental seperti darah, tetapi hitam legam dari mulutnya.

“Sir, kita ke St Mungo…”

Ia menggeleng. Tapi ia tidak menolak ketika aku berusaha menghapus sisa cairan hitam itu di sekitar mulutnya

“Baiklah, ke Hogwarts saja…”

Ia menggeleng lagi, “Tidak,” sahutnya lirih. Ia meraba-raba jubahnya, dan susah payah mengeluarkan sebuah gulungan perkamen tipis. Kecil, hanya setebal pena bulu. Nampaknya perkamen itu menggulung membungkus sebuah tabung kecil.

Ia memberikan perkamen berikut tabung itu padaku. “Longbottom,” napasnya satu-satu, “Berikan pada Longbottom. Ini satu dosis, suruh ia membuat dua dosis. Dalam dua kuali. Kerjakan sendiri. Tidak boleh dibantu,” ia terbatuk lagi. Ia menarik napas, yang tersengal di tengah jalan. “Setelah … selesai, teteskan darah dari … tabung ini, tiga tetes,” ia memejamkan matanya. Seakan sedang merasakan kesakitan yang teramat sangat.

Ia menarik napas lagi, lalu mencoba meneruskan, “Aduk searah jarum jam .. lalu … darahnya sendiri .. tiga tetes..” ia menarik napas lagi. Nampak seperti ia mengalami kesulitan bernapas.

“Profesor, apakah tidak sebaiknya kita ke Hogwarts saja?”

Ia menggeleng. Meneruskan, “Untuk kedua orangtuanya. Itu darah Bellatrix,”

Aku menutup mataku. Campur aduk beribu rasa bergulat di dalam dadaku. Dia masih memikirkan tentang orangtua Neville di saat seperti ini? Dadaku serasa seperti diiris-iris.

Dan dia memikirkan tentang cara bagaimana aku bisa menghancurkan Voldemort! Dia tahu bahwa tongkatku dan tongkat Voldemort tidak bisa dipakai untuk bertempur, maka dia menggunakan tongkatnya untuk mengantarkan Avada Kedavra itu? Dan aku terus mengatainya pengecut?

Ia menutup matanya. Mulutnya terkatup rapat, matanya terpejam rapat, seperti sedang merasakan kesakitan yang amat.

“Profesor, … saya minta maaf … saya selalu  ...”

Ia membuka matanya. Lalu terkekeh. “Permintaan maaf diterima. Dan lupakan,” ia terbatuk lagi. Hanya itu? Begitu, dan selesai?

“Tetapi, apakah kita tidak akan kembali ke Hogwarts? Atau ada seseorang yang bisa mengobatimu?”

Ia menggeleng. Ia terbatuk lagi, kali ini dengan hebat. Dan ia memuntahkan cairan kental itu lagi.

“Untuk apa?” katanya lirih. “Untuk apa aku diobati?” sesaat aku seperti mendengar orang yang akan menangis.

Aku tidak bisa menjawab. Hanya berusaha membersihkan sisa-sisa cairan itu di sekitar wajahnya. Wajahnya, yang untuk pertama kali aku melihatnya dari dekat. Tidak dingin, keras, dan kaku seperti biasa. Tetapi justru seperti orang yang telah menderita bertahun-tahun. Matanya yang hitam itu lunak, tidak tajam.

“Profesor,” aku memberanikan diri bertanya, “lalu mengapa kau melakukannya? Kau memb..” aku tidak sanggup lagi meneruskan.

Dia terkekeh pelan. “Dumbledore seharusnya sudah mati sejak dia pulang dari menghancurkan cincin Gaunt, Potter. Aku menemukan ramuan untuk meneruskan kehidupannya. Hanya beberapa bulan. Itu saja yang bisa diberikan ramuan yang kutemukan. Itu saja waktu yang dia punyai. Karena itu .. dia seperti bergegas .. menyelesaikan … Horcruxes,” dia terbatuk lagi. Dadanya nampak sesak. Seperti dadaku sekarang. Dadaku juga sesak, oleh airmata. Aku menunduk.

 “Potter,” suaranya lembut. Aku mengangkat kepala. “Apakah kau akan menghukumku?”

Aku menggelengkan kepala keras-keras. Tidak, aku tidak bisa menghukumnya. Aku akan membelanya di Wizengamot jika dia memang akan diajukan ke pengadilan.

Dia tersenyum tipis. “Kalau begitu, bunuhlah aku.”

Aku tertegun. Aku tidak mengerti. “Bu .. nuh? Mengapa, Sir?”

Matanya menerawang jauh. “Karena setiap mataku terpejam, yang terbayang hanyalah Astronomy Tower dan apa yang terjadi di sana,” sahutnya lirih.

Aku bagai dihantam halilintar. Pikiranku terbuka kini. Di saat aku berkabung dengan kematian Dumbledore, dia juga pasti berkabung. Dan bahkan pasti ingin menangis, dengan kenyataan bahwa dia yang harus membununuhya. Dengan tangan sendiri. Tapi, bagaimana? Dia berada di kumpulan Death Eaters di mana dia seharusnya tertawa dengan kematian Dumbledore. Sekian bulan ini dia menutup pikirannya tentang itu. Bagaimana kau tidak akan gila jika kau berada dalam keadaan seperti itu?

Dia berusaha menarik napas panjang, tapi hasilnya hanya tersengal-sengal. Lalu dia melanjutkan, “Dan bahkan sekarang, bukan hanya saat tidur aku bermimpi buruk. Bahkan di saat aku berkedip pun aku bisa melihat dengan jelas.”

Lalu aku harus bagaimana? Aku harus membunuh Profesor Snape? Dengan apa yang sekarang kuketahui?

“Harry..”

Suaranya lunak. Tak pernah kudengar sebelumnya. Aku merinding. Ingin menangis saja. Pilihan seperti apa yang harus aku jatuhkan?

“Harry .. please…”

Aku tak punya pilihan lain. Dengan rasa benci, benci karena ketidakberdayaanku untuk menolongnya, aku mengangkat tongkatku.

“Avada Kedavra!”

FIN



Author's Note:
Tadinya mau dipasang di Challenge HPatDH, tapi ga jadi. Pertama, ini bukan pertarungan H-V, kedua, akhirnya ga pake 'scar' (Enggak pake juga boleh kok  Grin) ...
OK, Enjoy!
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #9 on: May 11, 2007, 12:16:43 AM »

Surat


Sosok tinggi berjubah hitam sedang asyik mengaduk ramuan menggelegak, saat didengarnya ketukan-ketukan kecil di jendela. Diselesaikannya dulu jumlah adukan yang diperlukan, baru ia mendekati jendela tertutup itu. Seekor burung hantu putih, kecil, yang nampaknya sudah hapal benar perangai orang yang dikirimi surat ini, menunggu dengan sabar di jendela.

“Hallo, Heinell!” sambut orang itu sambil membukakan jendela, “ada apa lagi dengan tuanmu?”

Burung hantu keturunan Hedwig ini masuk, berputar sekali, hinggap di meja kerja, menyorongkan kaki kanannya.

Orang itu melepas gulungan perkamen yang terikat di kaki burung hantu itu. Heinell terbang ke tenggeran yang sudah dihapalnya. Tenggeran itu tidak kosong, ada seekor burung hantu hitam legam besar menyeramkan, melirik ke arah Heinell dengan pandangan merendahkan.

“Falco, geser sedikit. Beri tempat,” sahut orang itu, menambah air di tempat minum dan mengisi Owl Treat di wadah makanan. Burung hantu hitam itu bergeser ogah-ogahan. Heinell langsung bertengger. Tempat sedikit juga cukup, dia kecil kok. Heinell minum, mematuk beberapa potong Owl Treat, dan memandang ramah pada Falco, mengeluarkan bunyi ‘uhu-uhu!’ seolah menegur, “Yuhu! What’s up, bro?”. Falco melengos.

Orang itu kembali ke meja kerjanya, duduk, membuka gulungan perkamen yang cukup tebal dan mulai membaca.

Hallo Kakek Severus,

Hadiah Natal sudah dibuka? Cukup tidak? Kalau tidak cukup, berarti aku harus merajut lagi gantinya. Lambang ularnya bagus nggak? Cocok nggak jadi ular Slytherin? Kata paman Fred ularnya kekecilan, sedang kata paman George, ularnya lucu, tidak menyeramkan. Aku tunggu komentar Kakek!

Eh, ya. Itu sih cuma basa-basi. Masalah utamanya sih … ciele… ialah, Dad. Iya. Dad nyebelin deh. Memang dia nggak diskriminatif. Cewek cowok sama saja. Tapi, itu berarti cewek-cowok sama-sama harus latihan Quidditch! Di liburan Natal ini? Plis deh!

Udah cukup latihan di Hogwarts karena aku dipaksa masuk tim inti Slytherin, menonton tiap pertandingan antar-asrama, kirim laporan tertulisnya ke Dad, begitu pulang ke rumah yang diomongin latihan Quidditch, latihan Quidditch, latihan Quidditch melulu. Bosan bosan bosan! Latihan melulu. Belum kalau keluarga besar Weasley kumpul, wuih!  Yang diomongin Quiddiiiiiiiiiiiitch terus, dari pagi sampai pagi lagi. Lemparan yang melenceng, tangkapan yang sempurna, pukulan yang kurang keras, tipuan ini, trick itu. Cape deh!

Memang Dad Seeker handal. Mum juga pernah main waktu sekolah. Tapi, plis deh. Aku kan nggak suka Quidditch! Kenapa Dad dan Mum nggak mau tahu itu?

Kadang-kadang bibi Hermione membantuku, mengajak aku membantunya membuat Ramuan, atau sekedar membawakanku bacaan. Kadang bacaan Muggle, tapi keren kok. Tapi bibi Hermione kan tidak selalu ada!

Tadi pagi aku berantem dengan Dad. Dia bilang gini: “Kadang nyesel juga pernah berucap kalau aku punya anak akan kunamai sama dengan Snape. Kalau punya anak laki-laki sih nggak apa-apa, tetapi kalau perempuan seharusnya ucapan itu tidak berlaku. Ini malah aku  memodifikasi Severus jadi Severina. Jadi gini deh, sifatnya persis seperti Snape. Ga ada mirip-miripnya denganku”

Sebel kan? Ga dianggap anak kandung kan? Dianggap anak angkat, atau malah anak pungut. Padahal rambutku hitam berantakan, persis rambut Dad. Coba, cewek kan seharusnya rambutnya pirang, panjang, lurus, tergerai. Atau paling tidak coklat ikal seperti bibi Hermione. Atau bahkan seperti Mum, rambut merah tergerai. Ini, item dan ga bisa dirapiin. Rambut cewek kok nggak bisa dirapiin… Terpaksa aku potong cepak. Kaya’ anak cowok kan?

Lalu aku sudah pakai kacamata sejak umur 8. Langsung minus 2. Sekarang malah sudah nambah jadi minus 3. Psst, Kakek jangan bilang-bilang ya, ini akibat hobiku baca di ruang bawah tanah yang remang-remang itu…

Tapi Dad bilang, aku memang mirip Kakek. Buktinya aku masuk Slytherin, bukan Gryffindor. Semua keturunan Potter dan Weasley masuk Gryffindor, aku kok malah masuk Slytherin. Hehe, aku bilang aku pengen jadi seperti Kakek!

Oya, tadi aku nemu mantra,
Deoxyribonucleic acidus. Fungsinya untuk menyamakan sel-sel tubuh antara 2 orang, mencari apakah antara keduanya ada keterhubungan keluarga. Dan Kakek tahu? Aku dan Dad hasilnya 99 persen, Mum dan aku hasilnya 98 persen. Aku dan Kakek hasilnya 1 persen. Aku tunjukin hasilnya ke Dad dan Mum, dan hasilnya aku malah diketawain. Mereka bilang, kami yakin kok, nggak usah pake mantra DNA-us itu. Soal namamu yang seperti nama Kakek dan menjadikanmu jadi seperti Kakek, itu kan cuma becanda!

Huh! Sebel! Pengen cepet-cepet Tahun Baru dan balik lagi ke Hogwarts!

Udah ah! Nanti Heinell keberatan bawain suratnya. Cium sayang, jangan terlalu banyak minum eggnog! Jangan terlalu banyak minum Firewhiskey juga! Jaga kesehatan!

Cium sayang sekali lagi, mmmuah!

Severina Potter

PS: Liburan Paskah mendatang aku pulang ke rumah Kakek aja ya? Males deh pulang ke Godric Hollow lagi. Ya? Ya? Ya?


Snape menyeka matanya yang basah sambil masih saja terkekeh. Entah kenapa, sejak Severina bisa menulis –dia waktu itu masih memakai Hedwig—dia sering menulis untuknya. Dan isinya selalu seperti ini, membuat orang tertawa.

Anak yang polos.

Snape kembali ke Ramuannya. Diaduknya beberapa kali. Ditutupnya. Baru perlu diaduk lagi setengah jam kemudian. Jadi selama setengah jam ini dia bebas menulis.

Dia duduk di meja kerjanya. Diambilnya perkamen, pena bulu, tinta. Dan mulai menulis…

Severina yang cerewet,
……

FIN



A/N: Ceritanya, Harry Potter berakhir dengan manis: Voldemort kalah, Harry menyadari dirinya dibantu Snape, keduanya berbaikan, tapi Snape tidak mau mengajar lagi, dan malah mengasingkan diri. Nah, kira-kira dengan latar belakang itulah, pada suatu hari yang cerah, cerita ini muncul Tongue
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #10 on: June 06, 2007, 04:35:08 AM »

MIMBULUS MIMBLETONIA


“Sir,” ucap Harry lirih, suaranya bergetar. Di hadapannya jelas-jelas berdiri orang yang dulu sangat-sangat dibencinya.

Dengan fakta-fakta yang baru saja diketahui, di depan matanya sendiri, terkuaklah kebenaran yang sebenar-benarnya. Kebenaran yang pahit. Kebenaran yang bisa memaksa Harry memanggil orang itu dengan ‘Sir’.

“Potter.” Suara yang sama dengan suara yang dulu sering terngiang-ngiang di telinganya.

“Sir,” Harry menelan ludah, “karena semua sudah selesai .. marilah kita kembali .. ke Hogwarts…”

Snape menggeleng. “Kau tidak akan memenuhi sumpahmu untuk membunuhku?” raut wajahnya tetap dingin, tanpa ekspresi.

“Tidak. Tidak akan,” Harry menggeleng keras, “Tidak mungkin, dengan apa yang saya ketahui sekarang …”

Masih dengan raut wajah yang sulit dibaca, dengan perlahan tapi tajam menusuk, ia berkata, “Kalau begitu, kembalilah sendiri. Katakan saja pada semua orang, kau sudah membunuhku.”

“Tetapi, mengapa …”

“Lakukan saja.”

Harry bimbang. Ia berbalik, ragu melangkah.

Baru dua langkah, ia merasa Snape sedang menyembunyikan sesuatu. Ia membalikkan diri. Dan melihat sosok yang tadi tegak berdiri, kini sudah jatuh lunglai. Setengah berlutut. Memuntahkan darah atau cairan entah apa yang berwarna kehitaman. Sebagian besar membasahi jubahnya.

“Profesor!” teriak Harry, memburunya, berlutut di depannya, memegang menopang tubuhnya agar tidak rubuh.

Disekanya wajah gurunya dengan lengan jubahnya sendiri, lalu dengan setengah memohon ia berkata, “Sir! Kita ke Hogwarts!”

Snape menggeleng. “Sudah terlambat,” bisiknya lirih, “katakan saja .. katakan .. saja.. pada mereka .. kau sudah membunuhku…” suaranya lemah. Wajahnya yang pucat semakin pucat. Bibirnya mengerucut, menahan sakit, membiru. Matanya menutup. Ia terkulai. Kepalanya jatuh di pangkuan Harry.

“Profesor!” Harry terkejut. Lekas-lekas diletakkannya dua jari di bagian samping leher profesornya, mencari detak nadi. Masih ada.

Dengan sekuat tenaga diangkatnya tubuh Snape, lalu Side-Along Apparation.

*****

“Dia menyerap sebagian besar Kutukan yang diarahkan Voldemort padamu, Harry,” McGonagall menerangkan hasil pemeriksaan Madam Pomfrey. “Itulah makanya banyak mantra Voldemort yang tidak sampai padamu, dan kau bebas merapal mantra balik. Sampai kau bisa membunuhnya. Tetapi efek mantra itu sendiri jadi bekerja pada tubuh Severus. Tubuhya jadi seperti digerogoti. Semua organ dalam tubuhnya, hati, limpa, ginjal, paru-paru, jantung, bahkan otak dan jaringan syaraf, semua sudah .. hancur,” McGonagall mengusap kedua belah matanya.

Hening.

“Tidak adakah … obatnya?” Harry memecah keheningan.

McGonagall menggeleng. “Sampai sekarang belum ada. Madam Pomfrey hanya bisa memberi ramuan penawar rasa sakit. Itupun hanya untuk sementara,” ia menghela napas. “Hermione sedang kusuruh ke St Mungo, kuberi surat pengantar. Siapa tahu di sana ada obatnya … atau Severus harus dipindahkan ke sana …”

Harry terdiam. McGonagall menepuk bahunya, kemudian dengan berat hati meninggalkannya.

Sampai semalaman Harry duduk menunggui Snape. Sampai Hermione kembali, dan menggeleng tanpa kata.

Sampai Remus datang, mendorong-dorong Neville.

“Remus, Neville…” Harry setengah heran. Remus, mungkin dia mau menengok teman seangkatannya ini, sesama anggota Orde juga. Tetapi Neville? Dia biasanya ketakutan setengah mati bahkan hanya dengan bayangan Profesor Snape sekalipun.

“Bilang sana …” Remus mendorong Neville, yang maju setengah hati.

“Eh,” Neville menelan ludah, “waktu itu … tetapi ini belum ada pengujian klinis-magis … aku baru mencoba-coba…” Neville keluar lagi gugupnya, yang sudah beberapa tahun ini hilang. “Harry … aku takut kalau salah … ini menyangkut nyawa .. tapi … aku harus yakinkan … kalau … klinis-magisnya … belum ada … eh … jadi …” Neville tambah gugup.

Remus mengambil alih, “Kau ingat serangan Greyback yang terakhir, Harry? Sebenarnya aku sudah terluka parah. Luka dalam. Bukan luka luar. Neville yang pertama menemukanku, dan mengobatiku.”

“Aku tidak ingat kau terluka parah, Remus. Kukira, … luka ringan biasa?”

“Ya, karena Neville sudah memberiku ekstrak Mimbulus Mimbletonia.”

“Stinksap?”

“Bukan,” Neville menggeleng, “Stinksap itu cairan yang diproduksi langsung kalau Mimbulus Mimbletonia diganggu. Sedang ekstrak ini, kalau Mimbulus Mimbletonia dipotong dengan minta ijin terlebih dahulu padanya, dikeringkan, dibuat bubuk, lalu diseduh dengan air mata unicorn, diaduk, lalu dipanaskan dengan api kecil sampai mendidih, lalu…”

“Detailnya tidak perlu, Neville,” Harry memotong, nyaris tertawa mendengar antusiasme Neville kembali lagi karena mereka membicarakan tanaman magis, “intinya kau merasa bisa mengobati Profesor Snape?”

“… Ya.”

Remus mendukung. “Ekstrak itu sudah pernah dicoba padaku, dan hasilnya  bagus. Walau belum ada pengujian klinis-magis resmi. Kalau saja ini berhasil, bisa dibilang pengakuan untuk kerja keras Neville selama ini, bukan begitu? Kalau tidak berhasil …” raut mukanya berubah, “paling tidak kita sudah mencobanya, kan?”

Harry mengangguk. “Kita harus mencobanya. Cara apapun. Kita harus.”

*****

“Kau juga sudah mati, Potter? Bagaimana bisa?”

“Sir?” wajah berkacamata dengan rambut hitam berantakan itu nampak bingung ketika Profesornya bangun dan langsung berkata demikian.

“Aku jelas-jelas sudah mati. Dan aku sekarang melihatmu, Potter. Berarti, kau juga sudah mati,” Snape menjelaskan tak sabar.

“Anda belum meninggal, Sir.”

“Belum…?” Snape melihat berkeliling. Lingkungan yang sangat dikenalnya. Hospital Wings. Ada sosok Poppy tersenyum lega. Minerva juga tersenyum, tapi tangannya sibuk menghapus ujung kedua matanya. Potter. Lupin. Dan … Longbottom.

“Neville yang menemukan Ramuan untuk menyembuhkanmu, Severus,” Madam Pomfrey menjelaskan, melihat ke arah mana pandangan Snape.

Longbottom?

McGonagall serta merta menangkap rasa penasaran di mata Snape. Ia menepuk-nepuk tangan Snape, “OK, aku tinggal dulu. Istirahatlah yang cukup, Severus.”

Remus menarik Harry agar keluar. Madam Pomfrey menutup tirai bilik Snape dari luar.

Pandangan Snape lurus tertuju pada Neville. Yang tertunduk, gemetar ketakutan.

“Saya … saya … tidak sengaja. Mulanya Trevor … katak saya, ia luka parah. Luka dalam. Saya … sedang … meneliti ekstrak Mimbulus Mimbletonia. Unsur antiseptiknya. Lalu … saya berikan padanya.”

“Lalu katak itu sembuh?”

Neville mengangguk. Menelan ludah. “Lalu .. setelah penyerangan Greyback … Remus juga luka dalam. Saya coba berikan juga ekstraknya. Dan ia juga sembuh. Karenanya, Remus mendorong saya untuk …” Neville tidak dapat meneruskan kata-katanya.

“Jadi itu yang membuatmu yakin untuk memberiku ekstrak Mimbulus Mimbletonia?”

Neville menggeleng. “Saya … saya tidak yakin. Ekstrak itu belum lulus uji klinis-magis,” sahutnya lemah.

“Lalu apa yang mendorongmu?”

Neville menelan ludah lagi, sebelum mengangkat wajahnya dan menjawab lirih, “Kemungkinan Anda sembuh sangat kecil. Tapi .. kemungkinan itu … ada. Dan harus dicoba,” katanya.

Pandangan Snape mengunci pandangan Neville. Raut wajahnya tak bisa dibaca.

Snape kemudian berkata lunak, “Apakah bekas kantorku sudah dipakai orang lain?”

Neville menggeleng, tak mengerti.

“Bukalah pintunya. Pakai ‘Alohomora’ biasa. Pergi ke lemari buku sebelah kiri meja. Buka dengan kata kunci ‘Light Always Win’. Hanya kau yang kuberi tahu kata kunci itu,” Snape meyakinkan Neville, “Lalu ambillah gulungan perkamen yang paling tebal di rak kedua. Tutuplah lagi lemari dengan kata kunci yang sama.”

Neville masih belum bergerak.

“Bawa kemari perkamen itu. Pergilah,” Snape setengah menyuruh.

“Eh, ba-baiklah,” Neville gugup berbalik, dan setengah berlari keluar ruangan.

Di luar orang-orang sudah menunggu, dan bertanya-tanya apakah yang mereka bicarakan. Tapi Neville hanya berkata pendek, “Nanti,” dan terus berlari ke ruang bawah tanah.

Hanya dalam beberapa menit ia sudah kembali membawa gulungan perkamen yang sangat berat. Gemetar dan terengah-engah, ia menyerahkannya pada Snape.

“Duduklah,” perintah Snape. Masih belum mengerti, Neville menurut, duduk di samping ranjang.

Snape membuka gulungan perkamen itu. Di baris atas tulisan tertera nama ‘Frank Longbottom dan Alice Longbottom’.

Neville hanya bisa melongo.

“Perkamen ini sudah kukerjakan hampir tujuh belas tahun,” Snape menghela napas, “dan sampai sekarang, aku masih belum bisa menemukan di mana letak kesalahannya hingga Ramuan untuk menyembuhkan akibat Kutukan Cruciatus itu belum bisa dibuat.”

“Mungkin kalau dua kepala yang memikirkannya, akan berbeda hasilnya.” Snape memandang Neville yang masih melongo. “Kau sudah terbukti bisa melakukan pekerjaan meneliti dan setelahnya menciptakan Ramuan. Mungkin, kau bisa membantu melanjutkan pekerjaan ini?”

Snape menyerahkan gulungan perkamen itu pada Neville.

*****

Sudah berbulan-bulan berlalu.

Snape, masih menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan, tetapi sudah cukup sehat untuk mengajar. Di hadapannya terpapar sehelai perkamen dengan ukuran jumbo. Di dalamnya terdapat nama-nama peserta ujian NEWT berikut nilai-nilainya.

Snape mencelupkan ujung pena bulunya ke dalam botol tinta. Semua guru yang berfungsi sebagai pengawas dalam ujian itu, harus turut menandatangani pengumuman nilai. Setelah semua pengawas dan penguji menandatanganinya, otomatis akan terkirim perkamen pengumuman nilai pada masing-masing peserta.

Matanya menelusuri kolom Ramuan. Ada dua orang yang mendapat nilai Outstanding. Miss Hermione Granger. Dan Neville Longbottom.

Baru kali ini Snape gemetar menandatangani perkamen pengumuman.

Dan kedua orangtua Neville akan hadir pada acara wisuda nanti.

Tandatangan telah digoreskan.

Tidak pernah akan selesai tugas seorang guru. Tidak pernah. Tapi baru kali ini ia merasakan benar-benar sebagai seorang guru.

FIN



A/N: Kata Mimbulus Mimbletonia mungkin saja dibikin JKR atas permainan kata Mimulus. Mimulus adalah nama genus tumbuhan nyata di dunia Muggle, berupa bunga berkelopak lima. Selain untuk antiseptik, tumbuhan ini dipercaya orang sebagai obat untuk menyembuhkan ‘shyness, anxiety, and forgetfulness’ yang kita tangkap sebagai sifat-sifat yang ditunjukkan oleh Neville Longbottom.
« Last Edit: June 06, 2007, 05:04:21 AM by ambudaff » Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #11 on: June 13, 2007, 07:45:36 PM »

I Have Fallen In Love
(With The Same Woman, Three Times)


Aku menghentikan langkahku di depan pintu pagar. Pintu pagar yang sama seperti beberapa waktu lalu. Apakah itu … dua puluh tahun yang lalu?

Tapi suasananya masih sama. Pintu pagar dan pagarnya masih sama. Kuarahkan pandangan pada rumah kecil berpulas hijau muda itu. Juga masih sama seperti dulu.

Akankah penghuninya masih sama seperti dahulu?

Hanya ada satu cara mengetahuinya: hadapi langsung.

Akan tetapi, mengapa hati ini ragu?

Aku tidak pernah ragu dalam menuangkan unsur-unsur Ramuan. Aku tidak pernah ragu mengiyakan saat aku dijadikan mata-mata. Mata-mata dua belah pihak bahkan. Hanya saat terakhir itu aku agak ragu. Saat pembunuhan Dumbledore. Di saat itu aku agak ragu. Tapi bila tidak kulakukan, apakah yang akan terjadi?

Dan Perang sudah selesai. Dark Lord sudah mati. Mati sebenar-benarnya mati. Aku menyerahkan diri. Dan diajukan ke Pengadilan, Wizengamot. Aku sudah tidak membela diri lagi. Aku sudah menyerahkan nasibku. Tetapi takdir berkata lain. Bukti-bukti menyatakan bahwa Dumbledore telah memerintahkan aku membunuhnya agar Rencana berjalan lancar.

Dan sekumpulan Penyihir Pengacara menyusun pembelaanku. Entah apa saja yang mereka lakukan, apa saja yang mereka katakan, yang jelas, aku hanya dijatuhi hukuman dua tahun untuk pembunuhan yang terpaksa aku lakukan.

Konon ada di koran, mereka ramai menulisnya. Aku tak membacanya. Aku tak peduli.

Dan itu sudah selesai.

Aku bebas kini.

Dan aku ragu.

Apakah … aku masih akan diterima?

Ragu aku melangkah, membuka pintu pagar.

Masih berbunyi berderit pintu itu jika terbuka. Seperti dulu.

Dan akibat bunyi pintu itu, seseorang waspada, dan membuka pintu rumah.

Nannetta?

“Severus?”

Aku maju, ragu. Nannetta maju. Dan yang kutahu setelahnya adalah bahwa ia sudah masuk ke dalam pelukanku.

*****

Pelukan kedua yang kuterima adalah dari Serenity. Dia sudah menjadi gadis sekarang. Cantik jelita seperti ibunya.

Dan keraguanku pupus sudah.

“Aku minta maaf,” lirih suaraku, “atas semuanya. Atas ketidakhadiranku selama ini,” kerongkonganku tercekat. Aku tak sanggup bicara lagi.

Nannetta sama sekali tidak bicara. Ia hanya mempererat pelukannya. Aku membalasnya.

Serenity yang bicara. “Dengan satu syarat, Dad.”

“Apakah itu?” aku bertanya, “Aku akan memenuhinya, Serenity. Apapun.”

Ia tersenyum, “Jangan tinggalkan kami lagi, Daddy!”

Aku menggeleng. Kami bertiga tertawa dan menangis bersamaan.

Agak lama Nannetta kemudian melepaskan diri. “Ayo masuk. Aku siapkan makan malam!”

“Aku bantu,” Serenity melonjak mengikuti, dengan tangannya menarik tanganku. Lalu ia mendudukkanku di ruang tengah. “Daddy duduk saja di sini.”

Rumah kami –satu-satunya yang sempat kubelikan untuk Nannetta—tidak besar. Dengan duduk di ruang tengahpun aku bisa bercakap-cakap dengan Nannetta di dapur.

“Minerva bersikeras agar aku mengajar lagi,” sahutku.

“Lalu? Terima saja,” ujar Nannetta sambil menyimpan pinggan hidangan di meja.

Aku menghela napas, “Dan terpisah lagi dengan kalian?”

“Dad, kalau kita masih bisa saling menghubungi, itu bukan terpisah namanya,” Serenity tertawa renyah, menyusun piring, sendok, garpu, dan gelas di atas meja.

Aku tersenyum. Merlin, suasana semacam ini sudah kurindu sejak … duapuluh tahun lalu?

Bel pintu berbunyi.

“Aku yang buka,” Serenity berlari ke pintu depan. Terdengar suaranya bercakap-cakap dengan seseorang. Lalu dia kembali lagi.

“Mum,” katanya agak ragu.

“Ada apa, Sere?” Nannetta tidak mengangkat kepalanya dari panci saus yang sedang diaduknya di atas kompor.

“Charlie, Mum.”

“Ajak ia ke mari, kita makan bersama.”

“Err …” ia melirik padaku.

Nannete tersenyum, menuangkan saus ke mangkuk, dan membawa mangkuk itu ke meja. Lalu dilepaskannya celemek, digantungnya di dapur.

“Kenalkan saja dulu pada Dad, baru kau boleh berpikir apakah Dad setuju atau tidak.”

Oh, Merlin. Anakku benar-benar sudah besar tanpa kusadari. Saat kutinggalkan dulu, ia baru mulai tertatih belajar berjalan…

Melihat Serenity masih salah tingkah begitu, aku berdiri, “Mau kau kenalkan pada Dad?”

“Kukira … kukira justru Dad sudah mengenalnya,” sahutnya, menggamit lenganku ke pintu depan.

Sesosok pemuda berpostur gempal dengan rambut merah dan bintik-bintik di wajahnya. Tidak salah lagi, pasti anak kedua Arthur. Aku memang lebih jarang bertemu dengannya dalam pertemuan-pertemuan Orde karena dia memegang posisi Luar Negeri. Rumania, Bulgaria, dan negara-negara lain di sekitarnya.

“Charles Weasley. Senang bertemu denganmu, pada keadaan yang berbeda kini,” sahutku mengulurkan tangan.

“Severus! Aku tak mengira … kalau Serenity … adalah putri …” ia menyambut tanganku.

“Putri seorang mata-mata wahid kelas dunia,” Serenity dengan tawa renyah mendorong kami berdua ke ruang makan.

Kami duduk berempat dan mulai makan. Aku dan Charlie membicarakan kelanjutan Orde di masa damai ini. Sesekali Serenity menyela. Serenity ternyata banyak juga kenalannya walau dia tidak bersekolah di Hogwarts. Ia mengambil homeschooling, pelajaran privat yang diantar burung hantu. Dan menggunakan nama keluarga Nannetta sebagai nama keluarganya agar tidak mengundang kecurigaan.

Aku minta maaf untuk itu, anakku.

Selesai makan, Charlie mengajak Serenity keluar. Serenity setuju, dan pergi ke kamarnya untuk ‘berganti pakaian yang lebih pantas’. Nannetta ganti mengusir aku dan Charlie ke ruang tamu, karena ia akan membereskan piring-piring, dan ‘urusan yang lain’.

“Jadi, bagaimana rencanamu selanjutnya?” tanyaku.

Charlie terdiam. “Aku belum tahu,” ujarnya jujur, “Aku masih takut … kalau kami menikah nanti, … dia akan sering kutinggalkan.”

Merlin. Apakah … memang itu persoalan orang-orang yang akan menikah?

I have fallen in love
With the same woman, three times
In a day spanning nineteen years
Of tearful joys and joyful tears.

I loved her first when she was young,
Enchanting and Vibrant, eternally new,
She was brilliant, fragrant and cool
As the morning dew.


Keadaannya persis seperti saat aku bertemu dengan Nannetta dulu. Kami bertemu dan saling jatuh cinta. Aku takut untuk meninggalkannya. Tapi rasa cinta mengalahkan rasa takut itu, kataku pada Charlie.

I fell in love with her the second time
When first she bore her child and mine
She's always by my side
The source of my strength
Helping to turn the tide.


Masa-masa indah itu hanya berlangsung singkat. Nannetta melahirkan Serenity, dan aku jatuh cinta lagi padanya. Sayangnya, aku mulai sering pergi. ‘Ditugaskan’ oleh Dark Lord. ‘Ditugaskan’ oleh Dumbledore. Dan akhirnya, aku benar-benar meninggalkan mereka, demi keamanan mereka. Bahkan untuk sekedar melihat mereka dari jauh pun merupakan kesempatan yang mewah dan berharga.

Aku menghapus ujung kedua mataku, dan aku tahu Charlie pura-pura melihat ada sesuatu yang menarik di pintu depan karenanya.

But there were candles to burn
The world was my concern
While our home was our domain,
And the people were mine
While the children were hers to maintain


Ada saat-saat di mana aku berpikir bahwa aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan Nannetta dan Serenity. Bahwa itu adalah saat-saat terakhirku. Di mana aku bahkan tidak bisa membisikkan kata-kata permintaan maafku pada mereka, karena aku takut mereka akan ketahuan mempunyai hubungan denganku. Apalagi dengan ahli Legilimency seperti Dark Lord. Aku harus menguasai Occlumency lebih kuat lagi. Kusimpan kenangan tentang Nannetta dan Serenity dalam ruangan terdalam yang kupunya, yang bahkan tak akan kukeluarkan dalam mimpi atau igauanku selagi tidur sekalipun.

So it was those eighteen years and a day,
Till I was detained, forced in prison to stay
Suddenly she's our sole support
Source of comfort, our wellspring of hope
On her shoulders fell the burden of life,


Sampai Perang telah usai, aku belum bisa menghela napas lega. Aku masih harus diadili. Aku sudah pasrah. Jika aku diputuskan akan dihukum mati, atau di-Kecup, maka Nannetta dan Serenity hanya tinggal kenangan.

Tapi ternyata tidak. Dan dalam masa-masa sepi tanpa ada yang menemani di penjara, aku memikirkannya. Memikirkan mereka. Melihat bagaimana Nannetta bekerja keras menghidupi dirinya dan anaknya. Anakku. On her shoulders fell the burden of life…

I fell in love again with the same woman the third time
Looming from the battle her courage will never fade.
Amidst the hardships she has remained
Undaunted and Unafraid
She is calm and composed,
She is God's lovely maid.


Dan ia tidak pernah berhenti berharap akan kepulanganku. Ia selalu menyimpan asa itu. Itu membuatku jatuh cinta padanya untuk yang ketiga kalinya.

“Charlie,” kataku pelan, “jangan takut. Serenity adalah anakku. Anak Nannetta. Ia akan mewarisi keberanian ibunya, ketegaran ibunya. Jika ia mencintaimu, ia tidak akan berubah dengan hanya sering ditinggalkan.”

Charlie mengangguk. Tangannya bergerak ke arah saku jubahnya yang agak menonjol. Kukira ada kotak cincin di sana. Kukira.

*****

Serenity keluar dari kamar, nampak lebih cantik dari yang kulihat tadi. Ia berlari ke dapur, minta ijin pada Nannetta. Lalu mendekatiku, mencium pipiku, dan berkata ia akan pulang tidak terlalu malam.

Aku mengangguk dan tersenyum pada Charlie, memberi semangat.

Keduanya keluar, dan menutup pintu depan.

Nannetta keluar dari dapur. Berhenti sejenak, menanggalkan celemeknya, menggantungnya di paku di dapur, tak lupa mengeringkan tangannya. Lalu ia berjalan mendekatiku. Duduk di sebelahku. Menyandarkan kepalanya di dadaku.

Aku memeluknya rapat.

Rasanya aku akan jatuh cinta lagi pada wanita yang sama, empat kali kini.

FIN

A/N:
1. Hepi Bersdeeey untuk Mrs Severus Snape! *cipika-cipiki*
2. Lagu di atas judulnya I Have Fallen In Love (With The Same Woman, Three Times) . Lirik diambil dari puisi yang ditulis oleh Senator Benigno Aquino Jr (Ninoy) dari Filipina saat ia masih dipenjara oleh Ferdinand Marcos. Ninoy ditembak mati oleh Marcos saat ia pulang dari berobat di Amerika. Kematiannya memicu kemarahan rakyat, dan pada akhirnya mendudukkan jandanya, Corazon Aquino (Corry), sebagai Presiden. Saat Corry menjadi Presiden, puisi ini dijadikan lagu oleh Jose MariChan (Beautiful Girl)
3. Waktu mendengar lagu ini, yang terbayang adalah Snape. Lalu Ambu berpikir, Snape kan tidak punya istri. Ambu mencoba orang lain, pasangan James-Lily. Nggak pas. Pasangan Arthur-Molly. Nggak pas juga. Akhirnya… balik lagi ke Snape. Nannetta dan Serenity adalah nama istri dan anak Snape dalam FF A Bitter Consequence oleh Mrs Severus Snape. Mm, Serenity-nya kurasa agak MarySue ya?
4. Enjoy!
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #12 on: June 27, 2007, 02:59:17 AM »

Agar Aku Bisa Selalu Membencimu


“Sir,” Harry akhirnya membuka mulut, mengakhiri keterkejutannya selama ini. Setelah semuanya berlalu. Di tengah asap, bau daging manusia terbakar, tetesan darah atau darah yang telah mengering.

“Potter.”

Harry kehilangan kata-kata.

“Aku tak akan kembali ke Hogwarts, kalau itu yang kau inginkan,” Snape menyimpan tongkat di balik jubahnya. Tak diragukan lagi, dia sudah melakukan Legilimency terhadap Harry.

“Tapi surat wasiat Dumbledore menyebut -”

“Kau pernah mendengar cerita tentang bantal bulu angsa, Potter?”

Heran dan kebingungan Harry menggeleng.

“Kalau kau melubangi sebuah bantal bulu angsa, menepuk-nepuknya hingga isinya, bulu-bulu angsanya, beterbangan ke sana ke mari. Lalu kau diminta mengumpulkan kembali semua isi bantal itu, apakah kau sanggup?”

Harry menggeleng.

“Aku sudah membunuh Dumbledore. Semua orang sudah tahu. Sekarang, kabar mengenai surat wasiat Dumbledore sudah ditemukan, paling-paling hanya akan menyebar pada beberapa gelintir orang.”

“Kau tahu itu? Bagai mengumpulkan isi bantal bulu angsa yang sudah kau sebarkan ke seluruh negeri,” Snape memandangnya tajam.

Harry menunduk.

“Anda .. tidak ingin … menziarahi makam Dumb-” Harry mengangkat kepalanya.

Snape menggeleng. “Aku punya caraku sendiri, Potter.” Pandangannya bertemu dengan pandangan Harry. Harry bisa melihat kilatan beratus mata dalam mata hitam mantan gurunya itu.

“Selamat tinggal, Pot…”

“Sir,” potong Harry cepat, ia menelan ludah sudah payah untuk mengeluarkan apa yang ingin ia ucapkan, “Saya … saya … ingin berterima kasih atas semua yang telah Anda lakukan. Yang saya sadari atau tidak. Terutama, yang tidak saya sadari.”

Harry menghela napas sebelum buru-buru meneruskan, “Saya juga ingin minta ijin … untuk berhenti membenci Anda.”

Snape mengangkat sebelah alisnya.

“Tapi,” Harry berusaha keras untuk melanjutkan, “saya tidak ingin minta maaf atas semua kesalahan yang saya lakukan pada Anda. Yang saya sadari atau tidak.”

Wajah Snape tanpa ekspresi saat ia melangkah mendekat.

“Agar aku bisa menemukan tempat dan waktu untuk kembali membencimu, juga untuk kembali membenci ayahmu, dengan tenang?”

Harry ragu, mengangguk pelan.

Snape tersenyum tipis. “Akan kupikirkan. Akan kupikirkan.”

Harry balas tersenyum.

Tulus.

FIN


A/N: Pernah ada isu bahwa animagus Snape itu laba-laba. Kalau memang begitu, dia bisa mengunjungi makam Dumbledore sesuka hatinya. Karenanya 'Harry melihat kilatan beratus mata dalam mata hitam' diibaratkan Harry melihat mata laba-laba. Yang banyak itu ..
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #13 on: March 12, 2008, 01:55:13 AM »

Karena Spoiler sudah tidak berlaku lagi, FF Ambu dipost di sini deh  Grin

The Silver Doe

Untuk Gunz, thanks untuk mengingatkan Ambu atas rusa Pandu Tongue
FF ini hanya iseng belaka



-----

Angin bertiup sepoi-sepoi. Hari panas siang itu, tapi masih ada naungan mega yang kadang melintas.

Tidak ada binatang yang berlalulalang saat ini, kebanyakan mereka mencari keteduhan. Ada yang tidur-tiduran, ada yang tidur beneran, ada yang menjilati dan merapikan bulu, ada juga yang sedang memamah biak.

Segerombolan rusa berbagai jenis sedang memamah biak dengan santai sambil bertukar kabar terbaru.

“—anehnya, kenapa kalau orang ngomongin rusa betina, doe, namaku suka dibawa-bawa. Aku kan rusa jantan,” seekor rusa muda bicara sambil sibuk mengunyah-ngunyah.

”Bambi, kamu itu masih kecil, jadi mungkin orang senang mengelompokanmu dengan rusa betina. Lagipula, ceritamu itu juga kan melibatkan almarhumah ibumu, seekor rusa betina, kan?” White Doe menjilati kaki depannya dengan seksama.

”Btw, White, kamu bisa nggak cerita tentang perjalanan hidupmu? Kenapa bulumu putih begitu? Beda dengan Bambi yang bertotol-totol?” seekor rusa lainnya menyela.

“Aku ini jelmaan Desiree. Ceritanya, berawal dari Prancis. Ada seorang perempuan, ingin memiliki anak. Seekor kepiting menjadikannya bisa punya anak. Anak itu namanya Desiree. Tapi, pas syukuran anaknya, kepiting itu malah nggak diundang. Jadi kepiting itu memberi kutukan, Desiree nggak boleh kena matahari selama lima belas tahun.”

”Trus, dia kena matahari?” tanya Bambi penasaran.

”Yah, namanya juga dongeng,” White Doe tersenyum. “Karena kena matahari itu, dia berubah jadi aku, White Doe. Rusa putih. Yah, pendeknya dia ketemu pangeran, dan akhirnya kutukan itu hilang, dan mereka bahagia—”

”—they live happily ever after,” seekor rusa lainnya mengamini.

“Kau bagaimana?” tanya White Dove pada seekor rusa yang nampaknya tidak mau berpisah dengan pasangannya. Berduaan aja…

“Sebenarnya kami ini jelmaan seorang Resi di jaman Pandu. Di Asia sana. Aku dengan istriku,” rusa jantannya menjawabkan. ”Saat ingin bermesraan, sang Resi mengubah diri dan istrinya menjadi rusa. Tapi saat kami sedang bermesraan, Pandu dan kelompoknya lewat, dan memanahku. Aku terus mati, tapi aku sempat mengeluarkan kutukan, bahwa Pandu tak akan pernah bisa mendekati istrinya untuk bermesraan. Kalau itu terjadi, dia akan mati.” rusa jantan itu menerawang.

”Bukankah Pandu memiliki anak?” tanya seekor rusa yang berada di sebelahnya.

”Punya, dengan bantuan dewa. Dia punya dua istri. Istri pertama, Dewi Kunti, punya anak dari Dewa Yama, Yudistira. Dari Dewa Bayu, punya Bima. Dari Dewa Indra, punya Arjuna. Sedang Dewi Madrim, dari Dewa Aswin punya Nakula dan Sadewa.”

Rusa betina yang selalu berada berduaan dengan rusa jantan itu lalu bertanya, ”Kau sendiri siapa? Bagaimana kau tahu riwayat Pandu?”

”Aku tak tahu namaku, tapi aku rusa yang dipanah oleh Jara, seorang pemburu. Dia mengira ada rusa, tetapi ternyata itu adalah Kresna.”

”Kresna-nya marah?” seekor rusa perak bertanya.

“Tentu saja tidak. Kresna adalah awatara, titisan Wisnu. Makanya setelah dipanah, ia sadar, sudah saatnya untuk kembali ke Kahyangan, sudah selesai perannya di dunia.”

“Hm. Banyak kematian hanya untuk mengingatkan mereka yang masih hidup.” rusa perak itu menggumam.

”Kau sendiri, bagaimana?”

Rusa perak itu menghela napas. ”Aku seekor Patronus.”

”Patronus? Apa itu?” serempak rusa yang berkumpul di situ bertanya.

”Patronus itu cerminan harapan, kebahagiaan, keinginan untuk selamat ... dari seseorang. Biasanya berbentuk binatang. Dan kami bisa berubah, tergantung parasaan si perapal mantra itu.”

”Kau ... pernah berubah?”

”Pada Penyihir pertama, aku tidak berubah. Aku dari dulu memang rusa betina. Tapi pada Penyihir kedua, aku berubah, aku bukan bentuk Patronusnya yang dulu. Aku tak tahu apa, tetapi aku ’dipanggil’ untuk menjadi Patronusnya setelah Penyihir pertama meninggal.”

”Kasihan... Sekarang, Penyihir kedua itu sudah meninggal juga?”

Rusa perak itu mengangguk. ”Sudah bertahun-tahun.”

”Kau tidak akan menjadi Patronus lagi?”

Rusa perak itu tersenyum, ”Kalau ada yang memanggilku, aku pasti menjadi Patronus lagi.”

Berbarengan dengan itu, ia mendengar sesuatu yang membuatnya waspada. Telinganya bergerak, tegak.

“Ada apa, The Silver Doe?”

“Ada seseorang memanggilku,” dia berdiri. “Siap bertugas lagi. Selamat tinggal, teman-teman. Senang berkenalan dengan kalian.”

Dia bergerak, melangkah semakin jauh.

0o0o0o0o

“Seekor rusa betina…?” suara-suara anak-anak berbisik-bisik di tengah kemunculan Patronus di tengah kelas.

“Elizabeth Potter, bagus sekali! Sekali merapal mantra, kau sudah dapat memanggil Patronusmu,” suara seorang laki-laki nyaring di tengah-tengah suara tepuk tangan.

“Baiklah, baiklah. Jadi, sekali lagi Ravenclaw mendapat sepuluh poin untuk kecerdasan mereka. OK, pelajaran selesai, PR-nya, tuliskan apa itu Patronus, apa saja fungsinya, lalu berlatihlah agar Patronus kalian muncul. Kalau sudah muncul, tulislah apa bentuknya, itu akan menjadi bonus nilai. Untuk minggu depan ya!”

”Baik, Profesor Lupin!” serentak anak-anak menjawab.

“OK, kelas selesai.”

Anak-anak berhamburan keluar dari kelas. Elizabeth Potter sengaja melambatkan diri agar menjadi yang terakhir.

“Lily,” sapa Profesor Lupin muda pada muridnya, ”aku akan menulis pada Paman Harry tentang kemajuanmu ini. Dia pasti senang!”

”Terima kasih, Profesor.”

Profesor muda itu mengibaskan tangannya, ”Kalau kelas sudah selesai, jangan panggil aku Profesor lagi. Ted saja, kenapa sih?”

Lily tertawa, ”Masih banyak yang bisa mendengar, Profesor Teddy!” lalu berlari keluar, “Jangan lupa, Mum mengundangmu makan malam Sabtu nanti, Profesor!”

Teddy hanya tersenyum simpul, lalu membereskan mejanya lagi. Selesai, dia keluar kelas. Dan menutup pintu.

FIN
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #14 on: March 12, 2008, 02:11:18 AM »

Di Matamu

untuk pinguin_oren dan Muscat-Dunghill

FF ini diikutsertakan dalam Challenge: Forgiveness yang diselenggarakan oleh milis indonesian-fanficcers

Tema: Forgiveness
Judul: Di Matamu
Fandom: Harry Potter
Karakter: Severus Snape, Harry Potter
Rating: K (Suitable For Most Age) – eh, bener ya?
Bahasa: Indonesia
Genre: General
Warning: Spoiler for Deathly Hallows (buku 7)
Jumlah kata: 3.167 termasuk judul
Panjang: One Shot


In your eyes, I can see my dream’s reflections
In your eyes, found the answers to my question
In your eyes, I can see the reasons why our love’s alive
In your eyes, we’re drifting safely back to shore
I think, I’ve finally learned to love you more

[George Benson – In Your Eyes]


--------------------------------------------------------------------------------

Nagini menyerang nyaris tak terduga. Oh, well, di sini sekarang akhirku. Darah mulai mengucur. Tanganku memegang bekas luka.

Aku terjatuh. Dan ditinggalkan oleh Pangeran Kegelapan beserta ularnya. Dalam kubangan darah yang semakin menggenang.

Aku merasa ada yang mendekati. Dia mendekatiku. Dan mewujud dari jubahnya.

Baiklah. Di sini mungkin saatnya. Aku mengeluarkan memori yang kupunya. ”Ambil ... itu ... ambil ... itu...”

Aku melihat semua memori yang kukeluarkan sudah ditampung di sebuah tabung. Baguslah. Aku sudah tidak punya hutang apa-apa lagi. Aku sudah membayar semuanya. Kuharap dia cukup pintar untuk melihatnya dengan Pensieve, dan punya kesempatan untuk itu.

Tugas terakhir dari Dumbledore sudah kulakukan.

Hanya ada satu lagi yang ingin kulakukan.

Tanganku gemetar menjambak ujung jubahnya ke dekatku, cukup dekat agar bisa kulihat. Dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya. Untuk yang terakhir.

”Pandanglah ... aku ...” sahutku susah payah. Tak tahu apakah ia memang menurut atau hanya refleks saja, tetapi ia memandangku. Menatapku langsung.

Mata itu.

Mata Lily.

Selama ini aku melihat anak itu sebagai reinkarnasi Potter, tetapi hanya dalam beberapa detik ini aku bisa melihat, mata Lily ada di sana. Selama ini.

Teduh.

Dan damai.

Dan gelap.

--------------------------------------------------------------------------------

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku di sini. Tapi udaranya nyaman. Hangat. Aku membuka mata. Tetapi mataku tidak bisa melihat jelas. Mulanya.

Mulanya gelap, tetapi perlahan gelap mulai sirna. Gelap memecah, cahaya pelan tapi pasti, datang. Seperti ... kabut kelabu tebal. Seperti kabut di Spinner’s End, hanya tanpa bau-bauan yang menyengat. Tanpa rasa dingin yang mengiris.

Hangat. Nyaman.

Kabut itu perlahan menyingkir. Menipis. Cahaya keemasan yang tidak menyilaukan menguasai seluruh permukaan. Aku berusaha bangkit.

Di manakah aku? Mengapa aku ada di sini?

Aku melihat berkeliling.

Rasanya tempat ini kukenal. Sudah lama sekali ...atau tidak?

Sungai kecil yang mengalir tenang, bergemericik teratur. Cahaya keemasan masuk melalui sela-sela pepohonan, temaram tapi tidak gelap, terang tapi tidak menyilaukan. Sejuk dengan tumpukan daun-daun yang gugur tapi tidak dingin. Hangat cahaya matahari tapi tidak panas.

Rumpun pepohonan dekat rumah Lily Evans, tempat aku dan Lily mendiskusikan tentang bagaimana menjadi seorang penyihir. Sebelum kami masuk Hogwarts …

Aku bangkit. Apakah ini … nyata? Bagaimana aku bisa berada di sini? Bukankah aku seharusnya sudah mati?

”Seharusnya, ya.”

Suara ... Dumbledore?

Aku melihat ke arah suara itu, keluar dari balik pohon besar. Ia seperti Dumbledore yang selalu kukenal, sebelum ia terkena kutukan itu di tangannya.

”Selamat datang,” katanya gembira, ”aku senang sekali bertemu lagi denganmu, Severus. Aku gembira.”

Dan ia merangkulku. Canggung aku balas merangkulnya. Aku tak biasa. Lagipula … benarkah ia Dumbledore? Wajahnya seperti jauh lebih muda, mata yang jenaka, tak ada kerut-kerut yang menandakan beban yang harus dipikul.

“Aku ya aku, Severus,” ujarnya melepas rangkulan, seperti ia bisa membaca pikiranku saja. Tidak, ia tidak sedang me-Legilimens-ku, itu pasti akan terasa.

”Semua yang ada di sini berada di waktu dan tempat yang paling kau sukai. Karena ini waktumu, tempatmu, Severus.”

Aku mulai mengerti.

”Jadi, tempat apa ini, yang kau pilih?” Dumbledore bertanya.

”Tepian sungai, dekat rumah Lily,” aku menjawab lirih.

Dumbledore mengangguk. ”Walau ini hanya tempat perhentianmu sementara.”

”Sementara?” aku mulai tak mengerti lagi.

Dumbledore mengibaskan tangannya, tak menginginkanku bertanya lagi. Ia malah menunjuk ke balik pohon tempat ia kulihat pertama kali. ”Lihat, siapa yang datang!”

Aku menoleh. Lily? Lily Evans?

Senyumnya terkembang. ”Sev!” serunya, berlari dengan tangan terbuka ke arahku, dan memelukku.

”Lily? Lily Evans? Benarkah ini kau?”

Ia mengangguk, “Sev, oh Sev!”

Aku memeluknya erat. “Lily?” tak kurasa mataku basah. ”Lily? Maukah kau memaafkan aku? Oh, bukan. Bukan memaafkan. Maukah kau mengampuniku, Lily? Please?”

Aku tahu bicaraku tak karuan, tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin agar dia memaafkan aku ...

Terasa kepala berambut merah gelap itu menggeleng. Ia melonggarkan pelukannya, tapi kedua tangannya masih melingkar di leherku. ”Aku sudah memaafkanmu, Sev. Aku sudah memaafkanmu. Tapi kau menjaga putraku, Sev, dengan segala cara. Bahkan dengan nyawamu, Sev. Dan itu, tak cukup ucapan terima kasih yang kupunya untuk membalasnya.”

Kikuk aku melepas tangannya dari leherku, ”Aku tak menjaganya dengan baik, Lily. Aku selalu merasa ...”

Jari Lily menutup bibirku, menghentikan ucapanku, ”Bagiku, kau menjaganya dengan sepenuh hati. Itu sudah cukup.”

”Aku juga merasa demikian. Kau menjaganya dengan segala upaya.”

Aku melepas diri dari Lily, dan menoleh pada pemilik suara. James Potter.

Ia mengulurkan tangan, yang dengan ragu kuterima. Tapi tak kulihat lagi wajah penuh kesombongan itu. Justru yang nampak adalah wajah respek. Penuh hormat.

Dua tangan bertemu dan saling menggenggam.

Dua orang lagi keluar dari balik pohon. Black dan ... Lupin? Lupin ada di sini?

Black mendekatiku dan menyalamiku juga. ”Aku juga berterimakasih telah menjaga anak waliku dengan baik, Severus!”

Tidak ada Snivellus kali ini. Aku menyambut tangannya.

Lupin juga menyalamiku.

”Kau ... juga ada di sini?” tanyaku.

Ia mengangguk. ”Ya, aku ada di sini. Sejam setelah kau,” katanya.

Aku memandang berkeliling. Semua berwajah bersahabat, tersenyum padaku. Aku merasa … tak pantas. Aku mengeluh.

Lalu dari arah hulu sungai aku melihat sebuah perahu layar beralun mendekati kami. Perlahan perahu itu merapat di tepi.

”Ayo,” Black langsung saja melompat ke dalam perahu, ”mari kita berangkat!”

Potter menggamit istrinya, dan berjalan ke arah perahu juga. Lily melihat padaku.

Aku seakan tak mampu bergerak.

“Aku … tak bisa,” sahutku pelan.

”Sev, kenapa?” Lily berhenti langkahnya.

”Aku tak tahu,” sahutku. ”Tapi ... rasanya aku tidak bisa.”

”Severus,” Lupin berkata pelan, ”kami di sini menginginkanmu ikut. Semua. Bahkan Sirius juga.”

Black mengangguk.

”Aku tak tahu. Aku tidak bisa.”

Lily mengedarkan pandangan ke semua. ”Apakah ada yang tidak ikhlas memaafkannya? Sehingga ia tidak bisa pergi?” Pandangannya terhenti di wajah Black dan suaminya.

”Lily, ini afterlife, bukan dunia nyata. Kami mana bisa menyembunyikan isi hati kami?” Black menggeram.

Pandangan Lily berbalik padaku. ”Aku tahu. Kau-lah yang tidak bisa memaafkan dirimu sendiri. Sev?”

Lidahku serasa kaku. Akhirnya aku mengangguk.

Lily mendekatiku. ”Sev, ayolah. Jangan menghukum diri seperti itu.”

Aku menutup mataku. Menghela napas panjang.

Dan akhirnya merasa terbebas.

Lily tersenyum padaku. Aku sudah siap untuk pergi. Potter melangkah lagi. Lupin sudah masuk ke perahu.

Tapi Dumbledore masih memandangiku.

Tiba-tiba Black berseru, ”Hey! Di sini, ada daftar manifes penumpang, dan tak ada nama Severus di sini!”

“Sirius, jangan bercanda!” Lupin menyentak. Ia mendekati Black, dan melihat temuannya. Selembar perkamen di dekat kemudi perahu.

”Aneh, mengapa tak ada nama Severus di sini?” Lupin turut keheranan.

”Sudahlah,” aku menenangkan mereka. Tapi aku sendiri apatis. ”Mungkin bukan arahku ke mari. Mungkin aku seharusnya ada di neraka,” suaraku pelan. Dan berbalik akan meninggalkan mereka.

”Tidak,” suara Dumbledore menahan langkahku. ”Seseorang yang akan masuk neraka tidak bisa datang ke sini, Severus. Di sini hanyalah langkah awal untuk kita bersama ke arah surga. Kalau kau sudah sampai ke sini, itu berarti kau tidak akan masuk neraka, Severus.”

”Lalu, mengapa ia tidak bisa naik perahu ini bersama kita?” Lily keheranan.

Mata Dumbledore bersinar jenaka, ”Itu berarti dia belum mati.”

“Belum ma—tidak mungkin!” aku mencoba menyangkal pernyataan Dumbledore. Aku sendiri merasakan Nagini mematukku. Genangan darah di sekitarku. Dan anak itu, anak Lily, oh, baiklah—Harry Potter, yang mengumpulkan memoriku…

Dumbledore bersungguh-sungguh, “Severus, mungkin ini akhir dari sebuah bab dalam hidupmu, tapi hanya sebuah bab. Masih ada bab-bab lain dari buku kehidupanmu yang tebal. Bukan akhir dari kehidupanmu keseluruhannya.”

Masih beberapa saat sebelum akhirnya ucapan Dumbledore menyentuh pikiranku. Akhirnya aku mengangkat kepalaku. “Baiklah. Aku kembali,” suaraku pelan. Aku menelan ludah. Aku nyaris menangis, yang entah sudah berapa puluh tahun tak pernah kulakukan.

Akankah nanti saat aku benar-benar mati, akan kualami lagi yang seperti ini?

Lily seperti membaca pikiranku. ”Kalau kau mau, kami akan menjemputmu nanti bila saatmu tiba. Kami semua.”

Aku melihat padanya. Aku melihat suaminya. Aku melihat Lupin. Aku melihat Black. Aku melihat Dumbledore. Mereka bersamaan mengangguk.

Akupun mengangguk. Mencoba tersenyum.

Semilir angin sejuk mengiringi Dumbledore naik ke perahu, dan terakhir Lily. Mereka terus memandangku, melambaikan tangan, saat perahu mulai berjalan. Sampai tak terlihat lagi.

Aku mengeluh, dan berbalik. Aku harus mulai lagi.


--------------------------------------------------------------------------------

Harry sudah berbaring di kasurnya, ketika ia tiba-tiba terlonjak bangun.

Ada sesuatu yang dilupakannya. Benar-benar terlupakan. Bagaimana bisa?

Harry mengenakan lagi bajunya. Disentuhnya lengan Ron, tapi nampaknya Ron sudah berpindah alam ke alam mimpi terlalu jauh.

Baiklah. Ia akan mengerjakannya sendiri. Sebisanya.

Entah dorongan dari mana, Harry mengerudungkan Jubah Gaib ke badannya dan keluar ke Aula Besar.

Keadaan di luar sunyi. Sepi. Orang-orang kelelahan setelah Perang Besar tadi, dan sekarang, tidur atau tidak, keadaan benar-benar sunyi.

Matahari mulai muncul.

Harry melanjutkan langkahnya menuju Dedalu Perkasa. Dengan satu jentikan tongkatnya, akar Dedalu Perkasa terdiam, tidak memukul-mukul lagi. Menunggunya masuk ke terowongan Shrieking Shack.

Harry masuk dan melangkah pelan-pelan. Melalui terowongan ia menunduk. Ia terlalu takut untuk melihat kenyataan, apa yang harus dihadapi, jauh di dalam sana.

Dan ia ada di sana. Tepat seperti saat ditinggalkan. Bersaput genangan darah yang sekarang sudah mulai mengering. Pucat, lebih pucat dari apa yang bisa ia bayangkan.

Harry membuka Jubah Gaibnya, diletakkan sembarangan. Ia berlutut mendekat.

Bagaimana bisa seseorang yang seharusnya menjadi penyihir hebat, bisa meninggal dalam keadaan yang mengenaskan begini, lirih hati Harry tersayat-sayat.

Mata hitamnya masih terbuka. Dingin, bukan dingin yang biasa, tapi dingin, kaku. Perlahan Harry menutup kedua mata mantan profesornya itu.

Damai.

Entah mengapa Harry mendapat kesan seperti itu dari wajah yang biasanya selalu keras mencemoohnya.

Teduh.

Walau keadaannya tak sepantasnya.

Harry mengayunkan tongkatnya, ”Scourgify.”

Darah yang mengering tadi menghilang.

Harry melihat berkeliling. Ada ranjang di sudut, ranjang yang dulu pernah diduduki Ron saat mereka membuka kedok Peter Pettigrew. Dibersihkannya dengan satu sapuan tongkat. Seharusnya ia minta bantuan Hermione tadi, ia tidak begitu mahir dalam hal beres-membereskan seperti ini.

Harry sudah akan mengangkat tubuh Snape dengan Mobilicorpus, ketika timbul keinginan, dorongan lain dalam dirinya. Diselipkan tongkatnya di ikat pinggangnya.

Dan diangkatnya tubuh Snape dengan kedua tangannya.

Mengapa,’ Harry berbisik dalam hati, ‘mengapa setelah begini terlambat baru aku tahu apa yang sebenarnya terjadi? Anda memang mata-mata yang sangat handal, Sir, sehingga semua orang tidak tahu apa yang sebenarnya Anda laksanakan.’

Dibaringkannya tubuh Snape di ranjang. Harry baru sadar bahwa tubuh Snape ringan, tidak seberat yang ia bayangkan.

Ditangkupkannya kedua tangan Snape di atas dada. Dibereskannya jubah Snape yang masih berbekas darah kering.

Anda tahu, Sir,” Harry bergumam sendiri, ‘pelajaran yang anda ajarkan, justru yang paling banyak menyerap.’ Harry duduk di sisi jenazah. “Buku yang tak pernah saya kira itu adalah milik Anda, buku itu juga yang paling banyak mengajarkan Ramuan pada saya. Saya kira, Anda juga tahu, bahwa buku itu ada bersama saya. Mengapa tidak Anda katakan? Mengapa Anda biarkan saja?

Diluruskan kedua kaki Snape.

Mantra yang Remus katakan sudah menjadi ‘signature’ saya, Expelliarmus, itu juga berasal dari Anda, Sir,’ Harry mengeluh pelan.

Harry meletakkan tongkat Snape di samping tangannya.

Dan yang paling membuat tentram,’ Harry menerawang, ‘Patronus Anda. Tatkala di Hutan Dean, melihat Patronus Anda … saya merasa aman. Rasanya saya mengenal Patronus itu, sudah lama, rasanya ia memang datang khusus untuk saya.’

Dirapikan rambut jenazah itu. Saat ia merapikan, tak sengaja tangannya menyentuh wajah Snape.

Aneh.

Tadi ia membantu merapikan jenazah-jenazah Remus, Tonks, dan Fred. Dan beberapa jenazah lainnya, yang ia tahu mereka meninggal setelah Snape. Tubuh-tubuh mereka sudah kaku.

Tapi ini tidak.

Tubuhnya ... masih lentur. Seperti orang sedang tidur.

Harry terpana.

Refleks, ia meraba denyut nadi Snape. Tidak ada.

Dirabanya nadi di leher. Juga tidak ada denyutan.

Kurang puas, ia meraba bagian jantung. Masih tak ada denyutan. Jadi, Snape memang sudah meninggal. Ayolah, Harry, hadapilah. Mungkin … kondisi tubuhnya spesial, sehingga tidak mudah menjadi kaku.

Tangannya masih ada di dada Snape. Dan entah kenapa, ia meraba ke bagian saku dalam jubah Snape. Seperti ada yang menuntun.

Seperti ada benda keras. Bundar, kecil. Dirogohnya. Sebuah tabung kecil, dengan cairan bening tak berwarna. Diambilnya hati-hati.

Dibuka gabusnya. Apakah ... apakah ini Stopper in Death?

Diendusnya. Tak berbau.

Harry ingat, Veritaserum juga tak berwarna dan tak berbau. Jadi, Ramuan apa ini? Mengherankan ia samasekali tak berpikir untuk kembali ke kastil dan membangunkan Hermione untuk menanyakan Ramuan apa ini.

Masih mengandalkan naluri, ia hati-hati membuka bibir Snape, cukup untuk menuangkan tiga tetes Ramuan itu. Dan menunggu.

(dilanjutkan di postingan bawah)
Logged

Pages: [1] 2 3 4
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.8 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!

supported by : IndoLowonganKerja.com