harrypotterindonesia.com
July 30, 2010, 11:38:06 AM *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: Selamat datang di Forum HPI yang baru. Silahkan melakukan Registrasi untuk ikut berdiskusi di forum ini. Mari kita jaga Forum ini bersama.
 
   Home   Help Search Login Register  
Pages: 1 2 3 [4]
  Print  
Author Topic: Kompilasi One-shots  (Read 6997 times)
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #45 on: October 29, 2009, 03:45:48 AM »

HOLY AND HAWTHORN

Harry Potter belongs to JK Rowlings

Genre friendship. Silakan cari sendiri hints shou-ai kalau memang keukeuh Tongue


-o0o-


Matahari sudah berupa bulatan raksasa jingga keemasan di sebelah barat, ketika Harry melangkahkan kakinya ke halaman kastil.

Sulit dipercaya, fajar tadi Harry sudah berhasil menghentikan sepak terjang Voldemort untuk selama-lamanya. Dan senja ini sudah sebagian besar reruntuhan kastil sisa perang selesai dibersihkan dan diperbaiki. Mayat Voldemort dan para Pelahap Maut dibawa pergi oleh para Auror, entah ke mana.

Sementara jenazah para pejuang disemayamkan di Aula Besar, tak hentinya antrian orang memberi penghormatan terakhir. Keempat Kepala Asrama berikut Hagrid sudah berunding, dan memutuskan jenazah-jenazah mereka akan dimakamkan di Hogwarts. Sebidang tanah dipersiapkan untuk kompleks pemakaman, tidak jauh dari makam Dumbledore.

Jenazah Snape sudah dikeluarkan dari Shrieking Shack, dan disemayamkan paling depan. Rencananya, ia akan dimakamkan di sebelah Dumbledore. Dumbledore’s man through and through.

McGonagall menyihir ruang sebelah Aula Besar agar cukup digunakan oleh mereka yang masih tersisa, untuk makan dan berkumpul. Tidak terpisah meja asrama, bebas saja. Murid, alumni, orangtua, bahkan Centaurs.

Harry mengedarkan pandangan sebelum masuk. Hermione dan Ron. Seluruh keluarga Weasley. Teman-temannya. Tidak ada keluarga Malfoy di sana. Tentu saja mereka sudah kembali ke Malfoy Manor.

Peeves melewati Harry, nyengir dan berputar. “Mencari siapa, Harry?”

“Keluarga Malfoy. Tapi … mungkin mereka sudah pulang ya?” Harry melangkah lagi ketika Peeves menjawab.

“Kedua orang tua memang, tapi anaknya masih ada.”

“Masih ada?” Harry mengedarkan pandangan lagi ke seluruh ruangan lebih hati-hati.

“Tidak ada di sini. Coba cari di sekitar danau.”

Harry bergegas berbalik, “Thanks, Peevsie!”

Peeves hanya melongo dipanggil demikian. “Peevsie? Peevsie? Hey, keren juga, tahu!” dan ia berputar-putar bagai spiral sambil terus menerus menggumamkan nama panggilan barunya.

-o0o-

Jadi, matahari sudah berupa bulatan raksasa jingga keemasan di sebelah barat, ketika Harry melangkahkan kakinya ke halaman kastil. Musim panas di Inggris, matahari baru akan tenggelam sekitar jam 20.00 malam. Dan kebetulan hari ini tidak banyak awan menghalangi sinar matahari menyentuh bumi.

Tangan kanan Harry mengusap keringat di puncak hidungnya, membenarkan letak kacamatanya, sebelum ia mengedarkan pandangannya, mencari-cari lokasi seseorang.

Dapat.

Di bawah sebuah pohon, dekat danau.

Sosok itu diam seperti terkena Petrificus Totalus. Seperti merenung. Seperti melamun.

Harry melangkah hati-hati, perlahan. Tanpa suara ia mendekat. Berhenti. Terdiam menatap sasaran, melihat apakah ia sadar ada orang datang.

Tak ada tanda-tanda.

Harry maju mendekat lagi. Hingga di sisinya. Perlahan ia duduk di sisinya.

Nampaknya ia baru sadar beberapa menit kemudian. Kilatan sejurus sudut matanya menampakkan hal itu.

“Malfoy.”

Pendek.

Sama sekali ia tidak menoleh untuk menunjukkan bahwa ia mendengar, tetapi sudut matanya menjejak.

“Potter.”

“Orang tuamu tidak menunggu hingga pemakaman Profesor Snape besok?” tanya Harry hati-hati.

Draco menggeleng pelan.

Harry tak tahu bagaimana lagi untuk memulai percakapan, tetapi Draco sendiri yang kemudian melanjutkannya, “Lagipula, aku tidak akan pulang.”

Memandang heran, Harry bertanya, “Kau—kau mau ke mana?”

Menghela napas. Baru kemudian menjawab pelan, “Tadi sudah ada Auror yang akan membawaku. Mum sudah panik saja. Tapi kemudian—kemudian aku berjanji pada para Auror, akan ikut mereka setelah pemakaman Seve—Profesor Snape.”

“Auror? Maksudmu kau—“

“Ya,” ia mengangguk lemah, “—Wizengamot.”

Dalam hati Harry bertanya-tanya. Bukankah biasanya juga keluarga Malfoy selalu berusaha agar terhindar dari segala keributan birokrasi semacam ini? Bersalah atau tidak bersalah, mereka biasanya menghindar.

Sangat … tidak biasa. Sangat tidak Draco-ish.

Ditunggunya saja apa yang akan dikatakannya.

Tapi Draco sudah terdiam lagi.

Harry menghela napas. Tangannya bergerak ke dalam jubahnya, mengeluarkan sebuah tongkat sihir.

Tongkat Hawthorn.

“Aku percaya … ini adalah kepunyaanmu,” Harry menyorongkan tongkat itu.

Tapi Draco hanya menoleh sedikit, memandang saja, tanpa keinginan untuk menerima. Dengan suara yang sama pelannya, ia menyahut, “Simpan saja.”

Harry menaikkan alisnya.

Kali ini Draco yang menghela napas. “Kalaupun ada padaku, yang pertama yang akan dilakukan oleh para Auror adalah mematahkannya menjadi dua.”

Tak percaya, Harry memandangnya heran. Tapi keluar juga ucapannya.

“Kalau begitu—kalau ada yang diperlukan—kesaksian yang meringankan, misalnya—“

Draco menggeleng. “Kalau kau dipanggil untuk memberikan kesaksian, katakan saja apa adanya.”

Harry menatapnya prihatin. Nampaknya Draco yang sekarang ini sudah bukan Draco yang dulu lagi.

Tak bisa dipungkiri, beberapa perilaku mereka memang membantu pihak Orde. Kesaksian Narcissa bahwa Harry sudah mati, misalnya. Atau perilaku Draco di Malfoy Manor saat Harry dan kawan-kawan tertangkap.

Dan yang paling tak bisa dipungkiri, Harry membatin, fakta bahwa Draco sudah menurunkan tongkatnya saat di Menara Astronomi dulu. Ia sudah menyerah, tak ingin meneruskan mengancam Dumbledore. Ia membantah bahwa ia mengundang Greyback. Dan ia mengakui bahwa ia diancam akan dibunuh, bahwa seluruh keluarganya akan dibunuh Voldemort bila ia tidak membunuh Dumbledore.

Harry menghela napas. “Kau yakin?”

Draco mengangguk tegas. “Aku sudah mengambil keputusan. Mungkin sudah terlambat. Tapi apapun hasilnya, akan aku jalani.”

Terdiam. Hening.

‘Kenapa dia bisa jadi tegas begini? Kenapa dia bisa tiba pada kesimpulan ini?’ batin Harry.

Draco tersenyum pahit. Sepertinya ia bisa membaca pikiran Harry. “Agak aneh, ya? Aku sendiri tak tahu. Tetapi kemarin, saat Pange—saat Voldemort sudah kau bunuh, saat kita semua berkumpul di Aula Besar mengidentifikasi yang masih hidup, yang luka-luka, dan yang sudah tak tertolong, lagi, tiba-tiba saja semua menjadi jelas.”

Ia menghela napas panjang. Dan tertunduk sesaat sebelum meneruskan. “Selama ini aku sudah merasa mapan dengan apa yang ada. Harta, pengaruh, kekuasaan. Dengan semua itu, aku bisa memperoleh apa yang aku mau. Dengan semua itu aku bisa menghindar dari apa yang tak kusuka.”

Wajahnya sungguh-sungguh. “Dengan Perang Besar ini, aku bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi. Kau, Longbottom, semua. Kalian semua bisa bebas berjuang tanpa mengkhawatirkan apapun. Ya aku tahu, kalian saling mengkhawatirkan, tapi bukan itu yang menjadi pokok persoalan. Kalian—kalian sama sekali tak mempersoalkan kehilangan harta, kehilangan pengaruh, kehilangan kekuasaan.”

Draco menelan ludah, menghela napas lagi.

“Sejak peristiwa Menara Astronomi—aku bimbang. Aku takut kehilangan keluarga—Panger-Voldemort mengancamku membunuh semuanya. Aku takut kehilangan pengaruh. Aku takut kehilangan semua yang mendukung hidupku, mendukung semua kemapanan hidupku. Aku takut kehilangan semua.”

Kembali ia menghela napas, panjang.

“Kalian—kau, Longbottom, anak-anak Weasley … seperti tak takut kehilangan apa-apa—“

“Kau salah. Kami juga tak—“

“Tapi itu berbeda. Keluarga Weasley kehilangan satu anaknya, tetapi mereka saling menghibur, saling menguatkan. Ka-kalau aku kehilangan—aku ragu masihkah akan ada yang memperhatikan? Bahkan melihat sebelah matapun tidak—“ suaranya makin pelan. Menunduk.

Harry tercekat. Kata-katanya memang benar. Sampai ia tak bisa menemukan kata-kata lagi.

Draco mengangkat muka pelan-pelan. “Tongkat Hawthorn itu—simpanlah saja.”

Harry mengangguk. “Akan kukembalikan nanti sesudah—“ Harry kikuk. “Mudah-mudahan kau tidak perlu berlama-lama di—di sana.” Harry bahkan tak kuasa menyebutkan Azkaban. Tapi ia bisa berharap baik, karena sepengetahuannya Azkaban kini tak dijaga Dementor lagi.

Draco mengangguk.

Mereka berdua terdiam.

Matahari kini semakin tergelincir ke barat. Menuju istirahat.

Esok masih akan ada hari yang lain lagi.

FIN
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
harrypotterindonesia.com
« Reply #45 on: October 29, 2009, 03:45:48 AM »

 Logged
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #46 on: October 29, 2009, 03:56:03 AM »

NOT MY PATRONUS

Harry Potter belongs to JK Rowling

POV Snape dari bab 19 buku 7


-o0o-

“Kepala Sekolah! Mereka berkemah di Forest of Dean! Si Darah-lumpur—“

“Jangan gunakan kata itu!”

“—Si Granger, kalau begitu, menyebut tempat itu ketika dia membuka tasnya dan aku mendengarnya!”1)


-o0o-

Jadi, sekarang aku berada di Forest of Dean. Dari apa yang dikatakan oleh Phineas Nigellus, mereka memasang satu perangkat mantra2) untuk menyembunyikan diri dari sekeliling, baik Muggle maupun penyihir lainnya. Tapi, tidak usah memanggil diriku sebagai mata-mata kalau aku tidak bisa menguak semua mantra ini.

“Discloserus!” 3)

OK, itu mereka.

Dalam malam hari gelap seperti ini4), dengan situasi seperti ini, aku tidak berani memakai Lumos. Akan langsung ketahuan, apalagi ada Granger.

Baiklah.

Tapetum Lucidum!5)

Sekarang aku bisa melihat dalam kegelapan

Tinggal mendekati mereka, memberitahu apa yang harus mereka ketahui pada Potter, tanpa tahu bahwa itu adalah aku. Semoga.

Aku menunggu sampai kurasa Granger itu sudah tidur. Tujuanku hanya satu, Potter. Aku tak ingin ada yang ikut campur.

Dan itu ternyata tidak terlalu lama. Sekarang hanya tinggal Potter, duduk di depan tenda, terkantuk-kantuk.

Baiklah. Kini kita akan bertemu. Tepatnya, kau akan bertemu dengan Patronus ibumu. Karena Patronusku sudah lama mati. Karena diriku juga sudah lama mati. Hanya kewajibanku yang tetap membuat aku bertahan. Dengan Patronus Lily, dititipkan padaku untuk menjaga anaknya.

Aku mengangkat tongkatku. Bagian tersulit dari menciptakan Patronus adalah mengingat-ingat peristiwa yang paling membahagiakan, yang paling menyenangkan. Untukku, hari-hari membahagiakan sudah selesai sekitar tigapuluh tahun lalu.

Untukku, yang paling membahagiakanku adalah peristiwa ayunan itu6).

Terus terang, aku memerlukan konsentrasi ekstra untuk memanggil Patronus. Syukurlah, sampai sekarang aku bisa.

Expecto Patronum!

Dan rusa betina keperakan itu muncul. Cantik, seperti biasa. Dan aku akan terpana sejenak memandangnya, walau ini sudah bertahun-tahun.

Tapi aku harus bergegas. Maka aku memberitahukan maksudku memanggilnya. Mendekati Potter. Membimbingnya agar menemukan Pedang Gryffindor, dalam situasi keberanian. Kenekatan. Dan keksatriaan.

“Pergilah!” bisikku.

Dan ia melompat halus, bagai menari. Tak bersuara. Tak meninggalkan jejak, karena sebagai Patronus, ia hanya bagaikan cahaya belaka.

Aku mengikutinya melayang, agar jejak kakiku tak meninggalkan bekas.

Rusa betina itu menerobos pepohonan. Maju terus.

Dan Potter melihatnya.

Melompat bangun, menggenggam tongkat, tapi nampaknya ia tak kuasa menggerakkannya. Potter, selamat bertemu dengan Patronus ibumu! Tentu kau akan merasa déjà vu, pernah bertemu dengannya.

Dan Potter mengikutinya. Tiba di kolam. Baiklah, sekarang tugasmu selesai, rusa cantik.

Aku mengangkat tongkatku, dan rusa itu menghilang.

Potter sudah melihat pedang itu. Seperti biasa, kenekatan adalah kualitas seorang Gryffindor, dan kulihat ia membuka bajunya, terjun ke dalam kolam.

Tetapi setelah sekian lama, mengapa ia tidak muncul juga?

Nyaris saja aku keluar dari persembunyianku, ketika aku melihat Weasley muda itu datang, dan mencebur ke dalam kolam, menolong Potter.

Selamat.

Beberapa kalimat percakapan, dan Weasley muda itu memandang ke arah pohon tempat aku bersembunyi.

OK, sudah saatnya aku pergi.

Lily, satu tugas lagi sudah kulaksanakan.

FIN

Aaaargh! Kok kaya’ kecepetan, dan dipaksakan! Habis ide ini melompat-lompat terus di depan mata!

A/N:

1) Harry Potter dan Relikui Kematian, hlm 908

2) Harry Potter dan Relikui Kematian, hlm 363

3) Pernah dipake Ambu di Milis Pohon Cerita: Infiltrasi

4) http://www.stardate.org/nightsky/moon/?month=12&year=1997&css=&Submit=Go

5) Tapetum Lucidum adalah selaput di sekitar retina mata kucing, bisa melebar dan bercahaya agar bisa melihat di dalam gelap.

6) http://www.fanfiction.net.s/3718970/1/First_Blossom_ONE_SHOT
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
harrypotterindonesia.com
« Reply #46 on: October 29, 2009, 03:56:03 AM »

 Logged
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #47 on: October 29, 2009, 04:33:15 AM »

RESIDU

Harry Potter belongs to JK Rowlings
-o0o-

Awal Mei 1998

“Ssshsshs—“

Aku tak tahu itu artinya apa, tapi aku tahu itu Parseltongue. Aku tak pernah mengerti Parseltongue. Tapi aku tahu kalau itu berbahaya. Sudah terlambat untuk mencari tahu artinya apa. Karena detik berikutnya, taring ular raksasa itu menancap di leherku.

Refleks aku menjerit, berusaha mendorong kurungan sihir itu menjauh, tapi tak berhasil. Taring dingin itu menancap di leherku. Hanya sekejap, dan ular itu melepas gigitannya. Hanya sepersekian detik, dan rasa panas menjalar dari bekas lukaku. Panas dan perih. Menggigit. Seolah telah dimasukkan ular ke dalam pembuluh darahku, dan mulai melahap habis seluruh aliran darahku. Seluruh tubuhku.

Kakiku mulai mati rasa. Lututku lemas, dan aku terjatuh ke lantai.

Sudah terlambat untuk mencari penangkal bisa. Sudah terlambat untuk mencari bezoar. Apakah aku terlambat juga untuk menyelesaikan tugas terakhirku?

“Aku menyesal,” desis Pangeran Kegelapan, dingin. Meninggalkanku.

Efeknya cepat terasa. Pembuluh darah di leher memang paling dekat dengan pusat syaraf. Dan aku mulai tak bisa merasakan apa-apa. Kakiku. Tak bisa bergerak. Dalam waktu sepersekian detik, aku berusaha mencari tongkatku yang terlepas tatkala aku terjatuh tadi.

Gagal.

Jangkauan penglihatanku semakin berkurang.

Rasa panik mulai menjalar, bahkan lebih cepat dari menjalarnya bisa Nagini. Merasuk ke tiap mili pembuluh darahku, masuk ke tiap senti ototku, meresap ke dalam tiap cabang syarafku. Tapi aku harus menunaikan tugas terakhirku. Bagaimanapun caranya—

Dan dia muncul begitu saja. Bagai keluar dari Jubah—ah, ya. Tentu saja. Tentu saja ia keluar dari kerudungan Jubah Gaib. Ia mendekatiku. Merunduk, menunduk, memandangku—

Syaraf pita suaraku pasti juga sudah terkena efek bisa. Susah payah aku berusaha bicara, tapi gagal.

Ia membungkuk di atasku, berusaha mengerti apa yang akan aku bicarakan. Aku menyambar bagian depan jubahnya, menariknya mendekat.

Merlin, walau efek bisa ini semakin meluas, tapi jangan dulu mengimbas pada pikiranku! Aku perlu berpikir—aku tahu! Ia pernah melihat memoriku dalam Pensieve. Ia bisa menggunakan Pensieve! Baiklah, berikan saja memoriku, dan biarkan ia menafsirkannya sendiri.

Dengan sisa-sisa tenagaku, aku berusaha mengeluarkan memoriku, dari mulut, dari telinga, dari mata, tanpa tongkat.

“Ambil … ini … Ambil … ini …” aku berusaha berkomunikasi.

Seperti dugaanku, ia bengong sejenak.

Aku berani bertaruh dengan umurku yang tinggal sedikit ini, ia pasti bersama kedua pendukungnya—benar saja. Dari ketiadaan, muncul sebuah tabung. Disorongkan ke tangannya yang gemetar. Ia menerimanya, mengeluarkan tongkatnya, dan memasukkan memoriku ke dalam tabung itu.

Selesai.

Selesai sudah tugasku.

Cengkeramanku pada jubahnya mengendur.

Sekilas terpandang olehku kedua matanya. Matanya menatapku sejenak.

Mata—Lily!

Tenagaku sudah habis. Rasa panas itu sudah menjalar ke seluruh pembuluh darah. Rasa tak mampu bergerak itu sudah meliputi seluruh anggota badanku. Kaku. Rasanya bisa itu sudah melahap semua senti tubuhku.

Aku hanya bisa berbisik.

“Tatap … lah … aku …”

Untuk yang pertama kali, dan yang terakhir kali, mata hijau itu menurut.

Damai. Sejuk.

Tetapi serangan bisa itu sudah menjalar ke setiap sudut tubuhku. Aku tak bisa bergerak lagi.

Aku tak ingat kapan aku memejamkan mata, tapi semua gelap.

Gelap dan semakin gelap. Pekat.
.
.
.
.
Samar aku mendengar suara-suara. Lamat-lamat. Semakin lama semakin jelas. Suara perempuan. Suara laki-laki. Suara perempuan lagi.

Aku berusaha membuka mata. Samar-samar aku seperti melihat cahaya di ujung. Redup. Masih berusaha. Semakin jelas.

Aku mengejap-ngejapkan mata.

Poppy.

“Selamat datang kembali, Severus,” sahutnya hangat. Ada nada lega yang berhasil kutangkap.

Hangat? Lega? Bukankah seharusnya aku dibenci? Bukankah seharusnya mereka lega kalau aku mati?

“Hati-hati,” suara Poppy lagi, saat aku berusaha untuk duduk. Rasanya masih kaku, masih ngilu, masih sakit. Seperti ada yang meremukkan tubuhku, sebagaimana seseorang meremas telur rebus. “Berbaring sajalah. Kalau sudah kuat, baru duduk.”

Aku menurut, berhenti berusaha duduk, dan melihat sekelilingku.

Rumah sakit. Di Hogwarts. Minerva, dia berusaha untuk tersenyum, tapi dia juga menghapus matanya. Potter, untuk apa dia ada di sini? Dan—Longbottom?

Sekilas aku teringat. “Panger—Pangeran Kegelapan?” bisikku.

Minerva memandang Potter, dan mengangguk. Potter yang berbicara.

“Ia sudah mati, Sir. Kita menang. Berkat bantuan Anda.” Nadanya sopan.

Kita?

Dan sejak kapan Potter memanggilku ‘Sir’ begitu, dengan sikap hormat seperti itu?

Aku mengalihkan pandanganku pada Poppy, “Berapa lama—“

“Kau koma selama dua minggu, Severus,” sahutnya, sambil mengulurkan sebuah piala berkepul.

Aku menerimanya, meminumnya tanpa banyak tanya, tanpa protes.

“OK,” suara Poppy tegas, “biarkan Severus istirahat. Lain kali saja menengok lagi,” katanya sambil mengusir mereka dengan halus.

Mereka keluar. Poppy keluar terakhir, tapi kutahan.

“Ceritakan,” pintaku.

Poppy menghela napas. “Pendek saja ya? Panjangnya nanti kalau kau sudah pulih. Pokoknya Harry membawamu ke mari, dan aku masih bisa menemukan tanda-tanda kehidupan walau sedikit. Harry berkata kau digigit Nagini, dan aku segera menghubungi Penyembuh Smethwyck di St Mungo—dia yang dulu menangani gigitan Nagini pada Arthur. Gigitannya memang berbeda, Arthur digigit di pembuluh darah besar dan lurus, kau digigit di dekat pusat syaraf yang pembuluh darahnya kecil dan berliku. Karenanya—dibutuhkan waktu lebih lama untuk menyembuhkanmu.”

Aku mengangguk.

Dan hari-hari selanjutnya mudah ditebak. Minerva datang dengan airmata, dan protes mengapa dia tidak diberitahu, dan permohonan maaf karena ia berbuat kasar malam itu di tengah baju-baju zirah. Potter juga, datang dengan permohonan maaf—kurasa tulus—dan mengembalikan tabung berisi memoriku. Kubilang agar ia menyimpannya saja, dan ia nampaknya senang.

Dan hari-hari berlanjut seperti biasa.

Minerva—berikut pendukung-pendukungnya—memohon padaku agar mau mengajar lagi. Mata pelajarannya terserah. Aku sudah tak ingin, tapi dengan permohonannya yang sedemikian, aku mengalah. Aku kembali pada mata pelajaran Ramuan.

Dan hari-hari berjalan seperti biasa.

-o0o-

Awal Mei 1999

Kegiatan mengajar seperti biasa. Hampir setahun pelajaran, dan dalam beberapa minggu lagi akan dilaksanakan OWL, NEWT, serta ujian kenaikan kelas seperti biasa.

Aku sudah berbicara dengan Potter, dan ia setuju untuk menutup rapat-rapat apa yang ia lihat dalam memoriku, kecuali yang diperlukan untuk kesaksian di Wizengamot. Yang berakhir dengan vonis tak bersalah untukku, bahkan menghasilkan penghargaan Orde of Merlin kelas satu. Yang rasanya—sudah tak begitu kuinginkan lagi.

Murid-murid sekarang—atau karena aku memandangnya dari sudut yang berbeda—rasanya lebih menurut. Walau lebih tak takut padaku lagi, tapi mereka terasa lebih hormat padaku. Tapi aku tidak begitu ingin berhubungan dengan banyak orang, walau aku sekarang tidak banyak memotong angka dari asrama manapun.

Jadi, malam ini berlalu dengan damai. Memeriksa tugas. Memeriksa kuis. Memeriksa esai. Menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk ujian nanti. Dan walau yang akan mengawasi OWL dan NEWT nanti adalah petugas khusus dari Kementrian bagian pendidikan, tetapi tetap saja aku harus menyiapkan beberapa pertanyaan sebagai acuan.

Aku menyimpan pena bulu-ku di tempatnya di ujung meja. Kubereskan kertas dan perkamen. Kubereskan buku-buku dan kusimpan kembali di rak.

Kulihat jam. Sudah hampir fajar.

Mungkin membaringkan diri sejenak akan lebih baik. Rasanya, akhir-akhir ini aku merasa tidak begitu sehat. Tidak ada gangguan kesehatan, tetapi tidak pernah merasa begitu fit seperti dahulu kala lagi.

Mungkin usiaku memang bertambah.

Mungkin aku akan mengunjungi Poppy dan minta sedikit Ramuan Tonik.

Aku berdiri dan tiba-tiba saja merasa sedikit pusing. Tidak, bukan sedikit, tetapi benar-benar pusing. Kupaksakan berjalan, langkahku oleng. Tanganku mencari pegangan.

Dengan berpegang pada sandaran kursi, aku melangkah. Memindahkan pegangan pada rak buku di sisinya, aku meneruskan langkahku.

Tapi leher ini terasa panas.

Perlahan, rasa panas ini menjalar.

Aku tidak merasa makan sesuatu yang salah. Atau terpapar bahan Ramuan—sehari ini aku hanya berurusan dengan kertas dan perkamen.

Aku berusaha terus berjalan. Paling tidak, aku harus bisa sampai ke kantor Poppy. Sedikit Ramuan Tonik, atau Ramuan Penghilang Pusing, mungkin bisa menghilangkan gejala yang kualami. Memang, aku guru Ramuan, tapi untuk Ramuan-Ramuan yang berhubungan dengan kesehatan, sudah aku serahkan semua pada Poppy.

Satu-dua langkah seakan berabad. Dunia berputar. Dan, apakah ini benar fajar? Rasanya panas membakar. Panas mulai menjalar ke seluruh tubuh.

Rasanya hampir samna dengan waktu aku digigit Nagini tahun lalu.

Panas pada kepala. Pada tangan. Pada kaki.

Dan mati rasa itu terjajak lagi.

Dari ujung kaki. Dari ujung tangan. Dari seluruh tubuh, menuju seluruh tubuh.

Aku berhasil mencapai pintu. Kugerakkan pegangannya, berusaha membukanya.

Tapi aku limbung, dan tak ingat apa-apa lagi.

Gelap.

Pekat.
.
.
.
.
“—akhirnya Anda sadar, Sir!”

Aku berusaha untuk bangun, tapi tangan gemuk itu menahanku.

“Berbaring saja dulu, Sir.”

Aku mengejapkan mata.

Aku berbaring di sofa, di kantorku. Diselimuti. Dan ada pemuda Longbottom itu duduk di kursi yang diletakkan tepat di sebelah sofa.

Ia menyorongkan segelas air. Kuterima, dan kuminum. Tenggorokan memang terasa kering setelah rasa panas tadi—sekarang tanggal berapa?

“Apakah aku pingsan? Berapa lama?” tanyaku.

Longbottom mengangguk. “Mungkin tidak begitu lama, Sir. Saya diminta Profesor Sprout mengantarkan daun-daun ini,” ia menunjuk pada stoples-stoples yang sudah rapi, daun-daun yang dibawanya tadi tentu sudah dimasukkan, terorganisir menurut kategorinya, “dan saya menemukan Anda terjatuh di pintu.”

Aku baru ingat kalau aku meminta Sprout mengirim beberapa bahan Ramuan. Dan rupanya ia mengirim pemuda Longbottom ini. Konon, Sprout sedang mendidik penggantinya, dan Longbottom merupakan pilihannya.

Aku berusaha melihat jam, tapi terhalang.

“Jam berapa sekarang?”

“Jam sembilan, Sir.”

Jadi, hanya sebentar. Hanya sekitar tiga-empat jam. Aku mengeluh. Apakah aku memang sudah sebegitu lemah, sehingga bisa ditemukan pingsan begini oleh murid?

Tapi Longbottom salah arti, mengira keluhan itu berarti lain.

“Apakah ada yang sakit, Sir?”

Aku menggeleng pelan, saat aku baru merasa bahwa seluruh badanku memang sakit. Pegal-pegal, nyeri.

“Maukah kau pergi pada Madam Pomfrey, dan katakan—“

“Tentu, Sir. Tadi juga ia sudah mengecek keadaan Anda. Akan saya laporkan padanya.” Ia berdiri, tapi kemudian ia berbalik, “Anda tidak apa-apa kalau saya tinggal?”

Aku menggeleng.

Ia berjalan lagi, saat aku tiba-tiba teringat.

“Longbottom—“

Ia berhenti, dan menoleh lagi, “Sir?”

Aku menelan ludah. “Terimakasih—“

“Sama-sama, Sir.”

Ia membuka pintu, keluar, dan menutup pintu.

Aku menghela napas.

Jaman dulu, siang hari aku mengajar, malam menghadiri pertemuan Pelahap Maut, kadang dengan siksaan Cruciatus, dan pagi sudah siap mengajar lagi. Dan tidak ada apa-apa dengan kesehatanku.

Sekarang, ada apa dengan diriku?

-o0o-

Awal Mei 2000

Sejak kejadian tahun lalu, Poppy berkeras agar aku beristirahat lebih banyak, makan lebih bergizi, tidak tidur larut malam—apalagi sampai pagi—dan secara teratur ia memeriksa keadaanku. Walau aku menolak, tapi kau tahu kan, bagaimana seorang wanita bisa lebih keras daripada seorang laki-laki.

Jadilah tahun ini aku lewatkan dengan lebih banyak tidur daripada tahun-tahun sebelumnya. Atau, kalaupun aku tidak bisa tidur, lebih banyak beristirahat. Dan karena aku tidak terbiasa dengan keadaan seperti itu, maka yang kulakukan sekarang adalah setengah berbaring di sofa, dekat perapian menyala—musim panas di Inggris, tetap saja dingin di malam harinya—dan membaca. Sambil menuliskan catatan-catatan di margin samping buku yang sedang kubaca—kebiasaan dari sejak masih sekolah.

Dan itu terjadi lagi.

Begitu aku akan berdiri, berniat akan pindah ke kamar tidur untuk tidur yang sebenarnya, bagian leherku yang pernah digigit Nagini terasa panas lagi.

Aku terduduk. Memegang leherku.

Rasa panas itu menjalar ke seluruh pembuluh darahku. Seluruh tubuhku.

Tidak.

Apakah setelah ini, mati rasa akan menyerangku lagi?

Ya, kakiku dari bawah sudah mulai mati rasa. Tidak. Tidak. Tidak.

Tak berniat mengambil resiko, selagi tanganku masih bisa bergerak, aku berusaha meraih Bubuk Floo di atas perapian. Dapat. Melemparkan sejumput bubuk hijau itu, walau seadanya, mungkin kebanyakan tidak sampai di nyala api. Meneriakkan ‘Hospital Wing’. Meneriakkan nama ‘Poppy’ sekeras mungkin, sebelum akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi.

Gelap.
.
.
.
.
… rasanya seperti kembali ke tahun lalu, tatkala aku bangun, dan mendapati aku terbaring di kamarku sendiri, ditunggui pemuda Longbottom itu lagi.

O ya. Ingatkan aku, dia sudah lulus, dan sudah diterima magang oleh Profesor Sprout. Tahun ajaran yang akan datang, dia yang akan memegang mata pelajaran Herbologi.

Tapi, atas nama semua pendiri Hogwarts, mengapa harus dia yang menungguiku? Mengapa bukan Poppy?

“Anda sudah sadar, Sir?”

Entah pertanyaan atau jelas aku tidak menjawab. Hanya menerima gelas dari tangannya, dan minum.

Sebelum aku mengeluarkan pertanyaan, dia sudah lebih dahulu bicara.

“Saya—saya mau minta maaf, Sir.”

Aku memandangnya dengan alis terangkat.

Ia menghela napas.

“Kalau Anda ingat, Anda terjatuh dan pingsan tahun lalu, pada tanggal 2 Mei juga, Sir.”

Lalu?

“Itu—itu tanggal Perang Besar. Sebenarnya—sebenarnya, saat Perang Besar itu, saya yang membunuh Nagini—“

Ya, Potter sudah memberitahuku. Lalu?

“Lalu—lalu, saat Harry memberitahu bahwa Anda sedang koma saat itu, saya ingat kalau saya telah mengambil bisa terakhir Nagini—“

Dan aku juga tahu kalau bisa seekor ular dapat menjadi penangkal gigitannya setelah diolah seperlunya. Jadi?

“Jadi, bersama dengan Penyembuh S-Smethwyck, ka-kami berusaha mengolah penangkalnya. Kami berusaha sedapat mungkin—“

Jadi, itulah sebabnya dia ada di Rumah Sakit saat aku terbangun dua tahun lalu?

“Lalu,” aku berusaha menekan rasa penasaranku, “lalu mengapa kau harus minta maaf?”

Pemuda Longbottom itu menelan ludah. Menunduk. “M-Mung-Mungkin—pengetahuan kami yang terbatas, atau faktor apa, kami tidak tahu—saya merasa,” ia mengangkat wajah, “ada yang salah dalam pengobatan ini. Saya sangat bersyukur Anda dapat sadar, tapi—“

Kali ini aku yang menghela napas. “Kau tidak ikut NEWT Ramuan tahun lalu?”

Ia menggeleng, matanya bertanya kenapa aku membelokkan pertanyaan?

“OWL Ramuan-mu?”

“Hanya A,” bisiknya.

Aku menatapnya tajam-tajam, “Lalu mengapa kau yang merasa bersalah? Masih ada Madam Pomfrey, masih ada Hippocrates Smethwyck, yang pengetahuannya jauh di atasmu, untuk disalahkan, kalau memang Ramuan ini tak bekerja—“

“—karena saya tidak langsung menyerahkan bisa Nagini itu pada saat pertama,” bisiknya. “Penyembuh Smethwyck waktu menyembuhkan Mr Weasley, mengerjakannya pada pembuluh darah besar dan lurus. Dan tidak mengarah pada organ berbahaya. Sedang saat berusaha menyembuhkan Anda—“ ia menelan ludah, “—pembuluh darahnya yang dimasuki bisa kecil, berliku, dan langsung mengarah pada pusat syaraf, juga otak.”

Ia mencuri lihat pada mataku, dan kulihat jelas kegugupannya. Tapi ia meneruskannya, “Karena itu—saya kira, saya duga, keterlambatan menyerahkan bisa itu—“

“—telah meninggalkan residu bisa di dalam pembuluh otakku?” aku menduga-duga.

Ia mengangguk. “Madam Pomfrey dan Penyembuh Smethwyck kemudian bekerja keras menyiapkan Ramuannya, dan akhirnya—akhirnya—“

“Tapi kau tetap curiga?”

“Ya,” sahutnya pelan. “Saya—saya tidak sengaja membaca pada suatu jurnal di Perpustakaan. Residu racun tertentu, yang tidak dibersihkan dengan baik, sampai benar-benar hilang, akan—akan menimbulkan gejala yang sama setiap tahun. Pada waktu yang sama.1)

Aku bisa menarik kesimpulan sekarang.

“Jadi,” simpulku, “kau meminta Madam Pomfrey agar mengawasiku tiap awal Mei?”

Ia menggeleng. “Madam Pomfrey asalnya tidak tahu tentang masalah residu ini. Ia bahkan tidak menduga. Tapi kemarin saya meminta agar ia mengawasi Anda pada saat-saat ini, dan tadi subuh Anda mem-Floo-nya, dan—“

“Tapi kau sudah menduganya dari awal?”

Gugup ia mengangguk.

Aku tercekat.

Ada seseorang yang memperhatikan aku, yang memedulikan, yang hirau?

Dan orang itu bahkan selalu aku hina, selalu aku tindas, sedari awal ia masuk Hogwarts?

Aku menelan ludah.

“Sir?” nampaknya ia gamang dengan terdiamnya aku. “—saya, saya minta ma—“

“Kenapa kau harus minta maaf, Neville—“

Ia tercengang dengan panggilanku.

“—S-Sir?”

Aku menghela napas panjang. “Aku masih hidup saja aku sudah bersyukur. Kalau aku memang harus menderita lagi setiap awal Mei, biarkan saja,” sahutku pelan. “Mungkin—memang aku harus menebus dosa-dosaku,” bisikku.

Hening.

Beberapa lama kami tidak saling bicara.

Lalu, “Kurasa, saat sekolah dulu, kau paling takut padaku?”

Gugup ia mengangkat muka, dan mengangguk. “Y-Ya, Sir.”

“Tapi tentu saja kau akan lebih takut berhadapan dengan Pangeran Kegelapan?”

Ia menggeleng. “Tidak, Sir.”

Memandangnya keheranan, aku penasaran. “Yang benar?”

Sepertinya ia memberanikan diri. “Benar, Sir. Saya tidak takut pada Voldemort. Saya—saya lebih takut pada Anda—“

Aku menatapnya dalam-dalam. Lalu tersenyum, tulus. “Aku merasa mendapat kehormatan—“

Aku bisa melihatnya, ia juga tersenyum kecil. Tulus.

Kalau tahun ajaran depan ia benar-benar mengajar Herbology di sini, aku yang akan merasa mendapat kehormatan duduk bersamanya di Kursi Tinggi.

FIN

A/N
1) Ide ini Ambu ambil dari sakitnya Frodo setiap tanggal yang sama dengan saat ia ditusuk Penunggang Hitam di Weathertop, tahun-tahun berikutnya [Lord of the Ring, buku I dan buku VI]

Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #48 on: December 07, 2009, 10:09:45 AM »

I FEEL

Harry Potter is JK Rowling’s

Severus Snape and OC. Rating T. AU. Timeline setelah Perang Besar. Cuma rambling.

Jangan membayangkan Severus sebagai Alan Rickman, bayangkan dia seperti ilustrasi Mary GranPre di chapter picture bukumu

Untuk Niero


-o0o-

Aku masuk melalui etalase toko Muggle Purge & Dowse Ltd, langsung disambut pemandangan ramai penyihir-penyihir di ruang tunggu. Entah penyakit apa saja yang mereka derita, aku tak tahu dan tak ingin tahu. Mencoba melewati mereka sediam dan secepat mungkin, aku melalui meja resepsionis. Hanya melewati saja, karena ia sudah hapal, tersenyum dan mengangguk padaku setiap kali aku melintasi resepsionis.

Masuk melewati pintu ganda, aku menyusuri koridor panjang di balik pintu itu, berselisihan jalan dengan bermacam-macam penyihir. Maklum, ini adalah jam berkunjung, jadi tentulah ramai. Walau suara tetap ditekan, karena, bagaimanapun ini adalah rumah sakit.

Seorang penyihir yang tak kuketahui namanya—tapi dia juga pengunjung tetap sejak beberapa minggu lalu—nyaris akan menyalipku, namun begitu ia menoleh, ia mendapati wajahku. Ia tersenyum minta maaf, dan bergegas meneruskan perjalanannya.

Aku tidak bergegas.

Aku tahu dalam keadaan seperti apa pasien yang akan kukunjungi.

Menaiki tangga, aku berbelok di pintu Luka-Luka Serangan Makhluk. Gigitan, sengatan, luka bakar, duri yang tertancap, aku sudah hapal apa yang tertulis di papan di pintu utama. Beberapa pintu. Akhirnya aku tiba di pintu yang biasa.

Nama Penyembuh Yang Bertanggungjawab plus Penyembuh Magang ditulis dengan tulisan tangan, dalam kartu yang sudah lusuh, tertera di pintu dalam tempat kuningan.

Pintu yang hampir tiap pekan kukunjungi, kadang sepekan sekali, kadang lebih, kadang di hari yang sama, kadang berbeda. Tergantung kesibukanku.

Mengetuk pelan, walaupun aku tak tahu untuk apa dan untuk siapa aku mengetuk pintu, tapi tetap saja kulakukan. Lagipula ini kamar untuk satu pasien. Kamar pribadi.

Pintu kubuka tanpa suara. Setengah mengendap, aku masuk, dan kututup lagi pintu.

Seperti biasa.

Tak ada kemajuan berarti.

Mungkin satu-satunya perubahan dari sekian tahun yang lalu adalah, gerakan napas yang teratur. Lebih teratur dari saat-saat awalnya, yang nyaris saja tak ada gerakan.

Menurut Penyembuhnya, itu pertanda baik. Tapi sampai sekarang aku tak tahu, sebagaimana baiknya kah itu.

Karena aku masih saja mengunjunginya tanpa ia ketahui. Tanpa ia sadari.

Aku meletakkan tas yang kubawa.

Mendekatinya. Merapikan helai rambutnya. Memandangnya sejenak.

Masih seperti dulu.

Aku beralih pada meja di samping tempat tidurnya. Ada sebuah vas bunga. Dengan beberapa mawar yang sudah menjelang layu. Kuambil, kubungkus hati-hati dengan tisu. Vas itu kubawa ke wastafel, kubuang airnya. Kuisi dengan air yang baru. Aku lalu meraih tasku, dan mengambil sebuah buket kecil mawar. Karena itulah tasku tidak dapat ditutup tadi. Pelan satu persatu aku menata bunga di vas itu. Kukembalikan vas itu di atas meja. Kumasukkan bungkusan tisu ke dalam tasku. Nanti di rumah akan kukeringkan untuk herbarium.

Ritual yang sama.

Tapi ada yang sedikit berbeda. Aku mengeluarkan sebuah bingkisan persegi. Kulihat sudut meja.

Sudah ada beberapa bingkisan di sana.

Aku membersihkan debu yang sedikit melapisi bingkisan teratas, lalu menyimpan bingkisan yang kubawa di atasnya.

“Selamat merayakan hari kemenangan—“ bisikku.

Aku lalu duduk di kursi samping tempat tidur. Memberanikan diri menyentuh tangannya. Walau aku tahu ia tak akan bereaksi.

“Kau tahu sekarang tanggal berapa?” aku berbisik. Seolah berbicara dengan pasien yang bisa menjawab. Berbisik pelan, seolah takut menganggu istirahatnya.

“Hari ini adalah hari Perang Besar. Kau ingat kan? Sudah berapa tahun sejak saat itu? Dua tahun—“ sahutku masih saja berbisik.

“Dan sejak itu, sudah banyak sekali yang terjadi. Harry sedang menjalani Pendidikan Auror. Minerva masih saja tiap tahun mencari guru baru seperti Dumbledore dulu. Neville cemerlang menjadi guru Herbology baru. Draco tak terduga masuk Pendidikan Auror—“

Sekitar setengah jam aku terus menceritakan hal-hal sepele.

“Ah. Mungkin kau sudah lelah. Mungkin bahkan bosan.” Aku berdiri. “Minggu depan aku kembali lagi—“

Nyaris tak tersentuh, tapi tanganku menyapu tangannya.

Tak ada reaksi.

Aku berjalan ke arah pintu.

“Aku pergi dulu. Beristirahatlah.”

Lalu aku keluar, dan menutup pintu.

Menyusuri jalan-jalan yang tadi. Turun tangga. Melewati meja resepsionis. Dan keluar ke jalan Muggle di London.

Ritual yang biasa.

-o0o-

Masuk dari Purge & Dowse Ltd, aku mengibas-ngibaskan mantelku. Musim dingin yang menggigit. Salju bertumpuk, jalanan menjadi licin.

Melewati kerumunan penyihir, melewati meja resepsionis. Hari ini yang giliran jaga seorang penyihir wanita tua. Ramah.

“Nesha, berkunjung lagi?”

“Iya, Ma’am,” sahutku. Mengangguk sopan padanya, aku berjalan terus ke pintu ganda, terus hingga ke tangga. Hingga ke kamar yang biasa.

Ritual yang sama.

Kuketuk pelan pintu, kubuka perlahan. Tanpa suara aku masuk, dan menutup pintu. Sebelum aku maju, kubuka mantelku dan kugantung di gantungan mantel dekat pintu. Beberapa gumpalan salju meluncur turun dari lipatan mantel

Aku berjalan ke arah kursi. Tapi sebelum aku duduk, aku membuka tasku. Mengeluarkan sebuah bingkisan. Seperti biasa, aku meniup dulu lapisan debu di atas bingkisan teratas dalam tumpukan di sudut meja itu. Lalu kusimpan bingkisan terbaru. Kado ulang tahun. Yang lain masih bertumpuk. Belum dibuka.

“Selamat ulang tahun. Sudah dua setengah tahun sejak peristiwa itu. Dan Penyembuh tak berbicara banyak, tak memberi harapan banyak—“

Aku duduk. Mengulurkan tanganku. Menyentuh tangannya.

Masih hangat, merupakan pertanda baik. Terus terang, menjadi spesialis bisa ular membuatku sering dihadapkan pada pilihan hidup-mati. Kadang malah kecolongan, tahu-tahu pasien kita sudah dingin.

Tangannya selalu hangat. Aku suka itu.

Kali ini aku tak berbicara banyak. Membetulkan selimutnya. Merapikan rambutnya. Memandangnya lama-lama. Dan akhirnya menghela napas ketika jam kunjungan sudah berakhir.

Aku berdiri.

“Aku akan datang lagi minggu depan—“

Lirih. Seperti biasa.

Kuambil mantelku. Kukenakan sambil membuka pintu pelan. Keluar juga sepelan mungkin, dan menutup pintu tanpa suara.

Ritual yang biasa.

-o0o-

Minggu-minggu ini aku sama sekali tak bisa mengunjunginya. Sama sekali. Kesibukan mendadak di Bagian Kesehatan Kementrian berhubungan dengan adanya wabah ular berbisa yang tiba-tiba menyerang bagian utara Inggris, mengharuskan aku berangkat ke sana selama berminggu-minggu. Menyisir wilayah itu untuk membasmi semua ular berbisa dan mengumpulkan semua penduduk yang berstatus penyihir untuk mendapatkan serumnya merupakan pekerjaan yang melelahkan, dan lama.

Jadi, begitu selesai, kembali ke London, aku tidak langsung kembali ke apartemenku, melainkan ke St Mungo. Kebetulan meja resepsionis sedang ditinggalkan penyihir yang bertugas—biasanya terjadi kalau ada kasus darurat dan petugas membantu mengantar ke UGD—. Walau demikian, karena sudah terbiasa, jadi aku langsung saja ke kamarnya.

Kuketuk pelan. Kubuka perlahan.

Dan aku tak dapat mempercayai penglihatanku.

Kamar itu sudah bersih.

Kasur sudah dibuka sepreinya dan digulung. Berarti sudah tak ada pasien lagi di situ.

Mejanya bersih. Tak ada tumpukan bingkisan. Tak ada vas bunga segar. Bahkan tak bertaplak.

Jantungku nyaris copot.

“I-ini—mengapa—“

Tidak. Tidak. Aku sudah memberitahu pihak St Mungo agar aku diberitahu setiap kali ada perubahan—mengapa aku tidak diberitahu—kemudian mendadak aku sadar. St Mungo tentu berusaha memberi kabar, tetapi aku kan sedang berpindah tempat selalu di Inggris Utara. Tapi, apakah burunghantu tak dapat menemukanku?

Seribu tanya berputar di benakku. Apakah dia—dia—apakah—

“Apakah kau menunggu seseorang?”

Jantungku seakan copot—lagi.

Suara itu pernah kukenal.

Aku berbalik, dan ia ada di hadapanku. Tanpa suara. Ia mendekatiku.

Aku mundur perlahan. Gemetar.

Tapi ia tak memberiku kesempatan. Ia terus mendekatiku, hingga nyaris tak ada jarak lagi di antara kami.

Ia tak berbicara apa-apa, tapi matanya menatap tajam padaku. Mengunci. Aku tak berani menunduk.

“Kau su-sudah sadar?” tanyaku dengan suara tak lebih dari berbisik.

Ia mengangguk pelan, nyaris tak terlihat. Tapi matanya tetap menatap tajam.

“Mengapa—“ tanyanya, sama berbisik, tapi berat dan dalam, “—mengapa kau lakukan semua ini?”

Perasaanku mengatakan ini berhubungan dengan kunjungan-kunjunganku, dengan bingkisan-bingkisanku—

Dan sepertinya ia tak memerlukan jawaban. Mungkin ia sudah me-Legilimens pikiranku?

“Apa—“ ia bertanya lambat-lambat, “—apa yang kau lihat dalam diriku, sehingga kau melakukannya, Nesha? Aku tak pantas memperoleh semua ini—“

Seperti ada sentakan dalam jantungku. Merlin, jangan biarkan aku pingsan—ia memanggil nama kecilku?

“Aku—aku tidak melihat,” kuberanikan diri menjawab. “Aku—aku hanya merasa—“

Pandangannya aneh. Tatapannya—seperti melunak. Tapi ia tak mengatakan apa-apa, menunggu aku meneruskan ucapanku.

“Aku hanya merasa. Aku hanya merasa aman bersamamu. Aku hanya merasa dipercaya, bersamamu. Aku merasa yakin, bersamamu,” entah dari mana lidahku bisa mengucapkan itu, walau hanya berbisik. “—dan yang terutama—“ lidahku bergetar, tapi aku merasa harus mengucapkannya, apapun yang terjadi, “—aku merasa dicintai—“

Rasanya aku sendiri juga tak bisa mendengar ucapanku yang terakhir itu.

Kalau bisa aku menghilang saja, kalau bisa lantai ini menelan diriku saja. Tapi tidak.

Yang ada hanyalah matanya menatapku lekat-lekat. Wajahnya semakin dekat, hingga aku bisa merasakan ujung rambutnya menyapu bahuku. Gemetar aku menyadari bahwa bibirnya kini menyapu bibirku. Bukan hanya sekedar menyapu, tetapi menuntut lebih, merasuk lebih dalam, menguasai.

Nampaknya aku memang akan pingsan.

FIN

Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #49 on: December 07, 2009, 10:13:51 AM »

RAHASIAKAN SEMUA

Harry Potter punya JK Rowling

Rating K

Anggap saja Missing Scene pada masa Severus Snape jadi Kepala Sekolah


-o0o-

Pintu ruang Kepala Sekolah diketuk. Atau lebih tepatnya digedor.

Sudah jelas siapa yang mengetuk. Satu di antara dua, atau dua-duanya.

“Masuk,” Snape merespons.

Dua Pelahap Maut masuk. Benar dugaan, kedua Carrow yang menggedor pintu. Di tangan mereka, seorang murid laki-laki kelas tujuh, dan dua murid perempuan kelas enam. Kedua Carrow itu mendorong ketiga anak itu masuk. Carrow yang laki-laki membawa serta sebuah pedang.

“Kepala Sekolah, mereka sudah berhasil kutangkap!” seru si Pelahap Maut wanita dengan gembira, sambil mendorong mereka lebih jauh lagi.

Ketiganya menepis tangan penangkap mereka dengan kesal. Wajah menampakkan aura bermusuhan.

Air muka Snape tak berubah. Ia hanya menggumam, “Hm.” Tapi justru ia mendekat pada mereka, tepatnya mendekat pada pedang. Dipegangnya pedang itu dengan mantap.

“Syukurlah pedangnya sudah kau temukan,” sahutnya dingin.

“Lalu mereka, Kepala Sekolah?” tanya Pelahap Maut yang pria dengan tak sabaran. Tergambar jelas di wajahnya, jika saja mereka yang diserahi tugas untuk melaksanakan hukuman, alangkah senangnya. Crucio, sudah pasti.

“Kalian tangani pelanggaran-pelanggaran kecil. Aku tangani yang besar,” sahut Snape sambil tetap saja wajahnya tak berekspresi.

Kedua Carrow saling berpandangan. Jelas-jelas mereka kecewa. Tapi akhirnya mereka setuju juga.

“Baiklah, Kepala Sekolah. Jadi, mereka akan dijatuhi hukuman apa?”

Walau tidak diserahi menjalankan eksekusi, wajah kedua Carrow itu masih terlihat lapar, ingin mengetahui hukuman apa yang dijatuhkan pada para pengacau ini.

Snape berdeham. Ketiga anak di depannya menampakkan wajah memangnya aku takut padamu, cuih! tapi Snape mengacuhkannya.

“Bawa mereka ke Pondok Hagrid. Biar Hagrid yang menentukan hukuman mereka.”

Kedua Carrow terbahak. Ketiga anak itu menampakkan wajah tak percaya.

“Bwahahaha! Memang mereka tidak di-Crucio, tapi mereka akan dimakan Chimaera hidup-hidup, wakakakak!” Carrow perempuan tertawa keras-keras.

Ketiga anak itu saling berpandangan. Hendak mengatakan sesuatu, tapi ditahan.

“Bawa mereka,” instruksi Snape tegas.

“Oke, Oke,” ketiga murid itu diseret lagi oleh kedua Carrow.

Sebelum pintu keluar, Neville melirik pada lukisan Dumbledore yang tadi terlihat sedang tertidur.

Dumbledore sedang mengedipkan mata pada mereka.

Senyum kecil muncul di bibir Neville, dan ia juga mengedipkan mata cepat-cepat pada Dumbledore.

Begitu pintu ditutup, Snape langsung membalikkan badan, berhadapan dengan lukisan Dumbledore.

“Sir.”

“Aku tahu. Pertama, kau bertindak cepat dengan menjatuhkan hukuman pada mereka. Hagrid pasti tahu maksudmu,” Dumbledore menarik napas, “—lalu pedang ini, walau palsu, sebaiknya terlihat seperti sedang diamankan—“

“Apakah sebaiknya disimpan di Gringgots?”

“Begitu juga baik. Umumkan di media, supaya tersebar luar—“

Snape mengangguk.

-o0o-

Hagrid mendekati pintu yang digedor-gedor keras dari tadi. “Yaa! Seb’ntar! Ku‘bukakan!” sahutnya malas. Gaya kasar menggedor-gedor pintu seperti itu sudah dikenal seisi sekolah, siapa lagi kalau bukan kembar Carrow. Dan ia malas berurusan dengan mereka. Kalau bukan karena demi melindungi anak-anak—ia takkan pernah lupa peristiwa pembakaran rumahnya saat pembunuhan Dumbledore—

Dibukanya pintu.

Yang muncul pertama malahan wajah Neville, menyusul wajah Ginny dan Luna.

Hagrid mengangkat muka, dan di belakang mereka tampil wajah-wajah kusam Carrow bersaudara.

“Ya?” tanya Hagrid tak mengerti.

“Kelapa Sekolah menghukum mereka dengan mengirim mereka padamu. Lakukan sesukamu!”

Nyaris saja sebentuk senyum muncul di wajah Hagrid, namun ia cepat-cepat memasang wajah mengerikan. Untung saja brewoknya menghalangi.

“—keh. Aku tangani—“

Dan keduanya pun meninggalkan mereka dengan langkah yang kasar.

Hagrid memandangi mereka sampai benar-benar menghilang, baru ia memasang wajah tersenyum pada mereka.

“Neville! Luna! Dan Ginny! Apa yang s’dah kalian lakukan s’hingga Snape kirim kalian ke sini? Ah, masuklah dulu!

Cengiran di wajah Neville kini keluar lebar selebar-lebarnya. Mereka bertiga duduk mengelilingi meja. Hagrid mengeluarkan cangkir-cangkir, menaruh ceret di kompor untuk membuat teh, memotong-motong kue bolu yang kerasnya lebih dari kayu bakar di perapian.

“Apa kau kira, Snape tahu?” tanya Ginny sambil membantu Hagrid membuat teh dalam poci. Jangan lupa, seluruh keluarga Weasley adalah ahli membuat teh!

Mata Luna menerawang seperti biasa. “Aku tak tahu. Tapi rasanya ia tahu tentang hubungan Hagrid dengan kita, tak mungkin Hagrid akan menghukum kita—“

“Rasanya ya,” Neville ikut nimbrung, “—sewaktu kita sudah akan keluar dari kantor Kepala Sekolah, lukisan Dumbledore mengedip padaku—“

“Hm—hm—“ Ginny duduk setelah ia menuangkan air panas ke dalam poci teh, “—lalu untuk apa Snape berbuat seperti ini?”

Neville menggeleng.

Hagrid datang ke meja membawa kue bolunya yang sudah dipotong-potong dengan kapak. “—ayolah, nikmati semua—“

Luna mengambil satu. Dipandang Neville dengan ngeri, ia mencelupkan kuenya ke dalam cangkir teh agak lama. Lalu memakannya. Neville dan Ginny menghela napas lega, dan mengikuti caranya menghabiskan kue bolu itu, sambil mengobrol dan tertawa-tawa.

-o0o-

“Albus—“

Sosok di lukisan itu tadinya sedang asyik membaca ketika Snape masuk ruangannya, dan langsung menyapanya.

“Severus, ada apa?”

“Kupikir—aku memikirkannya semalaman—“

“Kubayangkan. Apakah gerangan?”

“Anak-anak. Mereka pasti akan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi—maksudku, dengan pengajaran yang ada seperti ini, akan banyak anak yang mulai akan memberontak. Dan yang kuantisipasi adalah, semakin banyak pemberontakan, semakin keras Carrows menghukum, dan seterusnya. Lingkaran setan—“

“Dan kau memikirkan tempat bersembunyi—“

“—ya. Aku memikirkan—Kamar Kebutuhan—“

Dumbledore menutup bukunya, menyimpannya di meja, dan mendengarkan dengan lebih serius.

“Aku paham ada beberapa anak yang mengetahui Kamar Kebutuhan ini. Yang kubayangkan adalah, jika mereka terdesak—“

“Mereka akan mencari perlindungan di Kamar Kebutuhan—“

Snape mengangguk.

Tangan Dumbledore mengusap-usap janggutnya. “Tapi tentu saja mereka tidak akan bisa bertahan lama. Maksudku—“

“—Pengecualian Prinsipal dari Hukum Gamp tentang makanan, ya itu juga yang kupikirkan. Berapa lama mereka akan bisa bertahan tanpa makanan?”

Dumbledore masih mengusap-usap janggutnya. “—kecuali jika kita bisa membantu mereka berhubungan dengan sumber makanan—“

Snape mendekat ke lukisan, seolah takut jika terlalu jauh maka ucapannya tak terdengar. “Jika kita buat terowongan, untuk mereka bisa keluar dan mencari makanan—“

Dumbledore berhenti mengusap janggutnya, dan berdiri. Berjalan mendekat juga, walau ia tetap saja tak bisa lebih dekat lagi karena ia hanya lukisan.

“—Aberforth mungkin akan bisa diajak bekerja sama—“ tapi airmukanya mendadak berubah, “—tidak. Tidak usah dikemukakan padanya. Rahasiakan saja darinya, biarkan saja ia menemukan bahwa terowongan itu akan tersambung dengan Hogwarts—“

Snape mengeluarkan tongkatnya, dan menggambar bayangan denah di atas meja kerjanya, “—begini. Terowongan akan kubuat dari Kamar Kebutuhan hingga keluar ke Hog’s Head. Tapi tidak sampai tembus. Biarkan anak-anak itu sendiri yang akan menembusnya—“

Dumbledore mengangguk. “Buatlah agar terowongan itu keluar di atas perapian di bar Aberforth. Tepat di lukisan adikku. Aku akan memberitahunya agar ia bisa menjaga terowongan itu—“

Airmuka Snape melunak ketika mendengar Dumbledore membicarakan adiknya, “—Anda sudah bertemu dengan adik Anda?”

Dumbledore mengangguk, dan sekilas wajahnya nampak sumringah. “—dan Mum, dan Dad, tapi itu semua soal lain. Sekarang kembali ke masalah terowongan—“

Keduanya terus membicarakannya secara rinci, hingga larut malam. Seperti malam-malam sebelumnya, rencana-rencana rinci untuk melindungi anak-anak Hogwarts.

Seperti janji Snape pada Dumbledore.

Sebisanya. Semampunya.

Dan dirahasiakan seperti biasa.

FIN
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #50 on: December 13, 2009, 08:44:51 AM »

TERSENYUMLAH

Harry Potter milik JK Rowling

Setting canon, tapi internet bukan.

Rating K+. Karakter utama Minerva McGonagall, yang lain cuma disebut doang. Semua karakter dalam Harry Potter dianggap tak ada yang mati, dan kelas-kelasnya tak berurut seperti pada buku.


-o0o-


Minerva menggeliat, membenahi urat dan ototnya yang semakin hari semakin terasa ngilu. Mungkin faktor umur, pikirnya, dan sebuah kata ‘rheumatic’ membayang. Aku harus minta obat pada Poppy, pikirnya lagi.

Tapi hari ini sudah malam. Ia membereskan kertas-kertas dan perkamen, kuis dari anak-anak kelas lima, dan tugas-tugas kelas-kelas lainnya. Berikut, ia memasukkan teko-teko buatan anak kelas tiga ke dalam sebuah karung. Teko yang beraneka ragam, ada yang masih berekor, ada yang masih berkepala kura-kura.

Selesai. Mejanya bersih. Tinggal dua lembar kertas, yang satu daftar nilai kuis, yang satu lagi daftar nilai tugas-tugas.

Diayunkannya tongkat, dan ‘PLOP’ di atas meja tiba-tiba muncul seperangkat laptop, modem, dan printer. Printer sebetulnya tidak diperlukan, tapi mantra untuk mendatangkan komputer itu mantra baru, jadi ia belum tahu bagaimana lafalnya mantra untuk mendatangkan laptop dan modem saja. Kalau ada waktu mungkin ia harus belajar lagi, supaya ia tidak gapmantek [=gagap mantra teknologi, red]. Atau ia bertanya saja pada Miss Granger nanti ya?

Dibukanya laptop, dinyalakannya. Setelah beberapa detik, muncullah wallpaper kotak-kotak di layar. Dipasangnya USB modem, ditunggunya beberapa detik juga. Setelah internet tersambung, ia mengetik http://www.hogwarts.edu.uk. Keluar background kastil yang megah, sebelum ia mencari tombol ‘Quiz’. Klik pada kata ‘Transfiguration’, klik pada ‘5th’ dan muncullah deretan nilai kuis sebelumnya. Ia mengetikkan password agar ia bisa mengisi kolom berikutnya dari deretan itu, dan ia mulai memindahkan nilai dari lembar kertas ke komputer. Selesai kuis, klik pada ‘Submit’ dan nilai sekelas berpindah sudah. OK, sekarang nilai tugas. Hal yang sama ia lakukan juga.

Selesai.

Anak-anak bisa mengakses nilainya sekarang. Jangan lupa, selain laptop mereka juga bisa mengakses dari HP mereka yang rata-rata canggih, dibanding punyanya yang keluaran tahun entah kapan dan belum bisa dipake internetan.

Tapi rasanya ia belum mengantuk.

Jadi ia menutup jendela Hogwarts Online, dan mengetik http://www.magicfacebook.com dan memasukkan username berikut paswordnya.

Muncul halaman ‘Home’-nya.

Dibacanya satu-satu. Kadang ada yang lucu, kadang ada yang sedang berantem—

-o0o-


Quote
Ronald Billius Weasley: Hei, hei, hei, nilai Transfigurasi sudah keluar! Aku baru lihat! Aku dapat T! Bloody Tansfie! Hanya T! Comment  Like

Mr Filch: ini kan sudah malam, seharusnya anak-anak sudah tidur! Tapi mereka masih saja internetan, apakah aku harus minta Dumbledore memberi detensi pada semuanya?
Comment   Like
  • •   165 don’t like this
    •   Hermione Granger: Mr Filch, jangan begitu dong, kami kan tidak sedang berkeliaran di koridor
    •   Ernie Macmillan: Seconded Hermione, urusanmu di koridor,  Filch, bukan di meja kami
    •   Fred Weasley: *toss Ernie*
    •   George Weasley: *toss Ernie dan Gred*
    •   Mrs Norris: miauw ... miauw

Pomona Sprout > Filius Flitwick: Tapi dengan kemungkinan 50:50, kita bisa menumbuhkan Mandrake dengan lebih cepat kalau memakai Mantra itu, Filly! Coba kau pikirkan!
Comment   Like   See Wall-to-Wall

Severus Snape: seluruh siswa harap mengumpulkan tugas tepat pada waktunya, jika tidak ia tidak akan bisa ikut ujian kenaikan kelas, atau OWL, atau NEWT 
Comment   Like
  • •   237 don’t like this

Lavender Brown: WonWon I Heart UUUUUUU!
Comment    Like
  • •   Draco Malfoy: Brown, shut up! Statusmu penuh dengan tulisan alay tak bermakna!
    •   Lavender Brown: Jyah! Klik saja tulisan ‘Hide’ dan aku tak akan muncul dalam status update-mu
    •   Ginny Weasley: Nah! Ternyata kau bisa menulis normal, Lavie! Kukira kau harus menulis alay terus!

Pansy Parkinson: Dracooo Heart Youuuuu! Kau sudah lama tak mampir ke tempatku T_T Comment    Like

Lavender Brown: qnappH woNwonh thaiiaNnq skaRang guGs menghiiRaukandH aqQ lGy iiapH??  Comment    Like

Neville Longbottom: Kalau aku memang tidak pantas untuk dimasukkan ke dalam silsilah Keluarga Longbottom, kenapa namaku tidak dibuang saja? Aku jadi ingin MATI SAJA!  Comment    Like

Lavender Brown: duucH woNnie tHaiianq,, bleZt sMs qqu duuNks,, pLeesh..  Comment    Like

Padma Patil: Mengapa matahari tak mau bersinar? Mengapa kabut terus menggantung? Mengapa tak ada secercah cahaya yang menelusup ke dalam hatiku, saat ini dan nanti?  Comment    Like

Lavender Brown: huuFth,,, shaRii ggugs kTemuu aiiaNk woNwon,,,,, aqqu ddaH kangeeN bNgeudh neeH,,,   Comment    Like

Sybil Trelawney: Ah! Anak-anak itu! Mengapa mereka tak berbakat sama sekali untuk melihat dengan Mata Batin!    Comment    Like

Lavender Brown: lgy dNgerindh lGu’a d-maSsiivv,,, huuftH,, suuaRa’a ryaN qRendh bGeudH deecH,, tpii,, gugS adda iiaNk bca ngaLaihnD woNwoN dy haTii qquwH,,  Comment    Like

Pansy Parkinson: Aku selalu merindukanmu. Aku selalu terbayang akan dirimu. Walau engkau tak peduli padaku. Walau engkau tak pernah melihat diriku biar hanya seujung mata. Namun aku akan selalu menanti. Menanti.  Dan menanti. Hanya bulan yang tahu, kapan penantianku akan berakhir.  Comment    Like

-o0o-

Minerva menutup internetnya dengan kesal.

Kenapa, hampir semua status yang ia baca, isinya itu keluh kesah? Memangnya dunia ini sudah nyaris runtuh?

Ia menjentikkan tongkatnya, dan PLOP, komputer berikut semua perangkatnya menghilang. Minerva menyandarkan punggungnya. Menghela napas panjang.

Kenapa orang-orang—anak-anak khususnya—sangat suka berkeluh kesah? Kenapa tak ada rasa syukur sedikitpun pada diri mereka?

Minerva menghela napas lagi.

Ia menutup mata.

Tak terasa, ia meminta dalam hati, agar esok ia bisa melihat anak-anak—khususnya, dan orang-orang lain umumnya—memperlihatkan hati yang lebih gembira.

Ia membuka matanya.

Lebih baik ia tidur saja.

Ia meniup lilin di meja.

Berjalan ke tempat tidur dan berbaring di sana, menyelimuti diri. Memejamkan mata.

Ia tak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul 00.05. Tanggal 4 Oktober.

-o0o-

Pagi ketika bangun, ia baru teringat hari ini adalah hari Sabtu. Jadi ia tak perlu bergegas untuk menyiapkan kelas. Tapi ia sudah terbiasa tak pernah malas, jadi ia bangun, membereskan tempat tidur dengan satu jentikan tongkat, dan pergi ke kamar mandi. Selesai dengan urusan kamar mandi, ia memanggil salah satu peri rumah untuk membawakannya sarapan ke kantornya.

Ia akan sarapan di kantornya saja. Sekaligus membereskan tugas-tugas, soal-soal remedial, dan bahkan mulai mencicil menyiapkan soal untuk ujian nanti.

Berjalan ke kantornya, ia merapal mantra internet lagi. Sambil menyiapkan soal, ia bisa sekalian mencari sumber dari internet. Bukankah ia penyihir yang terbuka pada semua perubahan? Dan internet adalah sumber utama untuk melihat semua perubahan yang terjadi di dunia, Muggle maupun Penyihir!

Seperti biasa, selain membuka MagicGoggle dan MagicWikipedia, ia juga membuka MagicFacebook.

Dan ia tertegun dengan tumpukan hadiah di MagicWall-nya. Ada yang dari sesama kolega, ada yang dari anak-anak. Dengan senyum sayang, ia membuka satu persatu bungkusan. Tidak seperti Gift pada Facebook Muggle, pada MagicFacebook, apa yang kau kirim, bisa keluar dari layar komputer! Tentu saja ia harus mengindahkan Pengecualian Prinsipal dari Hukum Gamp Mengenai Asas Transfigurasi, baru bisa mengirimkan sesuatu lewat MagicWall

Ada buku, ada rajutan kotak-kotak, ada sekaleng coklat kotak dark-white, ada sepasang sepatu tidur kotak-kotak, ada tempat pinsil kotak-kotak ...

Dengan teliti dibalasnya satu persatu Wall itu. Senyum mengembang di wajahnya. Belum pernah ia sebahagia ini. Sejak ada MagicInternet, ternyata jadi lebih banyak yang mengetahui hari lahirnya!

Selesai membalas, ia beralih pada Status Update.

Dan alangkah terkejutnya ia kala membacanya.

-o0o-

Quote
Madam Malkin’s Robes for All Occasions > Minerva McGonagall: Silakan melihat koleksi terbaru kami di Photo Album Autumn, dan dapatkan diskon 10% jika Anda berulang tahun di bulan ini. Tunjukkan tongkat Anda untuk mendapatkan diskon! Comment    Like    See Wall to-Wall

Kelontong Sihir Tks > Minerva McGonagall: Selamat Ulang Tahun. Ada hadiah kecil untuk Anda di Toko Kelontong Sihir, silakan mengambilnya dengan menunjukkan tongkat Anda.   Comment    Like    See Wall-to Wall

Ginny Weasley > Lavender Brown: Sori ya, waktu kemaren!  Peace! Comment    Like    See Wall-to Wall

Ernie MacMillan: Honeydukes bikin promo, diskon 20% untuk yang belanja bersama-sama mimimal 2 orang! Woohoo!   Comment    Like
  • •   114 like it
    •   Ronald Billius Weasley: Serius? Ayo kita ke Honeydukes, mumpung akhir minggu Hogsmeade!
    •   Penelope Clearwater: Ayo, ayo!
    •   Sir Nicholas de Mimsy Porpington: Ah! Sayang sekali aku sudah tidak bisa makan coklat. Tapi, SEMANGAT! Selamat menikmati coklat, anak-anak!
    •   Blaise Zabini: Woohoo! Ayo kita borong coklat!

Ernie Macmillan: Jyah! Anak-anak Slytherin kopas ucapanku! *nyengir* 
Comment    Like

Blaise Zabini > Minerva McGonagall: Happy Birthday, Ma’am!  Comment    Like    See Wall-to Wall

Gregory Goyle > Minerva McGonagall: Happy Birthday, Ma’am!  Comment    Like    See Wall-to Wall

Pansy Parkinson > Minerva McGonagall: Happy Birthday, Ma’am!  Comment    Like    See Wall-to Wall

Draco Malfoy > Minerva McGonagall: Happy Birthday, Ma’am!  Comment    Like    See Wall-to Wall

Ernie MacMillan > Minerva McGonagall: Happy Birthday, Ma’am!  Comment    Like    See Wall-to Wall

Rubeus Hagrid > Minerva McGonagall: ‘Appy Bursday, Minerva!   Comment   Like   See Wall to-Wall

Padma Patil: Selamat pagi duniaaaaaaaa!   Comment   Like

Padma Patil > Minerva McGonagall:  Selamat berulang tahun, Profesor McGonagall! Semoga Anda selalu bahagia! Comment    Like   See Wall to-Wall

-o0o-

Minerva tidak meneruskan membaca ‘MagicHome’-nya, ketika ia tiba-tiba tersadar.

Status dan Wall hari ini berbeda jauh dari status yang ia baca kemarin, dari yang biasa ia baca. Bukan, bukan karena status update-nya penuh dengan Wall yang mengucapkan selamat ulangtahun padanya.

Tapi, karena status itu semuanya bernada ceria. Semua bernada optimis. Semua membuat semua tersenyum.

Dengan penasaran ia membaca kembali semua status, dan ia tiba-tiba teringat.

Tadi malam sewaktu ia akan tidur,  saat ia menutup mata, saat ia mengucap permintaan, saat ia meniup lilin ... pastilah hari sudah berganti menjadi tanggal 4. Percaya atau tidak, ia sudah mengucapkan keinginan. Make a wish!

Ia tersenyum lebar. Alangkah senangnya!

Dan komputernya berbunyi ‘cling’ pertanda ada status baru masuk lagi.

Dibacanya.

-o0o-


Quote
Severus Snape > Minerva McGonagall: Meski kita sering nampak seperti sering berseteru, tapi kau adalah teman yang terbaik untukku. Selamat ulang tahun, friend!
Comment     Like    See Wall to-Wall

-o0o-


Minerva tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca.

FIN
Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 867


Would you play with me?


WWW
« Reply #51 on: December 15, 2009, 09:09:22 PM »

LOLIPOP DAN HALF-BLOOD PRINCE

Harry Potter punya JK Rowling
Iklan Lolipop punya .. siapa ya? Mereknya aja ga kenal Tongue Fic ini diilhami sebuah iklan (lupa mereknya, apakah Milkit* atau Alpenli*be) di mana ada sepasang orangtua lagi berantem, trus sama anaknya dikasih lolipop, mereka berbaikan dan keluarga itu ‘live happily ever after’


-o0o-

“Sev, jangan jauh-jauh!” Eileen kesal berteriak saat anak laki-laki lima tahun itu terpaku pada penjual entah-apa yang sedang dikerumuni calon pembelinya.

“Aku di sini saja, Mum!”

Eileen mendekat pada anaknya, dan ternyata itu adalah penjual berbagai macam permen dan makanan kudapan untuk anak kecil. Si penjual sedang mendongeng. Ia sedang menarik hati calon pembelinya, pikir Eileen, masih kesal, sambil membuka dompetnya. Mencari-cari, ditemukannya beberapa receh penny Muggle dan diberikannya pada Severus.

“Ini kalau kau mau membeli sesuatu. Mum ada di toko makanan Mrs Whemps!”

Severus mengangguk, menerima recehan dan berlari menembus kerumunan.

Saat Eileen sudah hampir selesai dengan belanjaannya di toko Mrs Whemps, Severus muncul.

“Sudah selesai? Kita pulang,” sahut Eileen ketus.

Severus mengangguk. Mereka pulang.

Sesampainya di rumah, begitu masuk ke pintu pekarangan, Severus memberikan beberapa recehan yang tak terpakai tadi.

“Oh?” Eileen agak heran, “—kukira tadi kau habiskan semuanya—“

Severus menggeleng.

“Kau tadi beli apa?”

Ia mengeluarkan isi sakunya, tiga batang lolipop berwarna-warni.

“Satu yang berwarna merah, rasa strawberi karena Mum suka strawberi,” ia memberikan lolipop berwarna merah itu pada ibunya, “satu yang hitam, rasa kopi untuk Dad,” suara Severus agak tertahan saat ia mengucapkan ‘Dad’—ia tak suka pada ayahnya, tapi entah kenapa ia merasa segan—“dan satu lagi yang hijau rasa melon untukku—“

Belum lagi selesai ia bicara, ayahnya sudah muncul di pintu depan.

“Darimana saja kalian ini—“

“Tobias, kami kan belanja kebutuhan sehari-hari—“

“Haruskah begitu lama—“

Severus menyingkir. Ia tak suka acara rutin seperti ini, selalu hadir setiap saat.

Tapi lolipop tadi belum ia berikan. Jadi walau segan, ia maju ke depan ayahnya—yang masih saja ribut dengan ibunya—dan mengulurkan lolipopnya.

“—apa ini?”

Severus tak bicara, hanya berbalik dan menuju kamarnya. Paling-paling ayahnya hanya akan memaki-maki tak keruan—

Belum sampai di kamarnya, ketika dengan heran ia mendengar suara ayahnya yang aneh—suara yang ramah.

“Kau belikan ini untuk Dad?”

Severus berbalik, dan menemukan lolipop itu sudah terbuka, dan ayahnya sedang menjilat-jilatnya.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau rasa kesukaan ayahmu ini kopi?”

Masih diliputi keheranan, ia menjawab terbata-bata, “—eh, ka-karena Dad su-suka minum ko-kopi di pagi—“

“Kau mengamatinya! Anak pintar!”

Nadanya bukan nada suara yang biasa ia dengar. Bukan bentakan keras, bukan cacian kotor. Dengan ujung mata, ia melihat kalau ibunya juga sedang menikmati lolipop yang tadi ia berikan.

“Tadi Sev mengembalikan recehan sisa permen itu, Dad—“ lapor ibunya, tidak dengan suara ketus seperti biasanya.

“Ah, kau anak baik!”

“Dan ia membantuku membawakan keranjang belanjaan—“

Dad mengucek-ucek rambutnya dengan sayang. Severus—belum pernah merasakannya selama lima tahun hidupnya.

Dengan sungguh-sungguh ia berharap agar suasana damai seperti ini selalu ada di rumahnya. Dan ia menyimpan lolipopnya yang terakhir. Jika saja memang suasana seperti ini adalah akibat makan lolipop, dan jika akibatnya berlangsung sementara, ia harus punya cadangan lolipop.

-o0o-


“Severuuuus!” suara Eileen terdengar dari dapur. Tapi tak ada jawaban. Padahal ini sudah tengah hari. Padahal Eileen sudah memanggilnya berulang-ulang.

‘Ke mana sih anak itu,’ Eileen mematikan kompornya, dan keluar dari dapur. Berkeliling rumah, akhirnya dia berkesimpulan,

‘Mungkin dia ada di ruang bawah tanah. Tapi buat apa dia di sana, adanya cuma simpanan persediaan makanan buat musim dingin dan laboratorium Tobias—“ Eileen membuka tingkap dan menuruni tangga, “Sev—“

Anak itu ternyata sedang asyik mencampur cairan-entah-apa di atas api kecil. Peralatan Dad!

“Severus? Sedang apa?”

Anak itu mengangkat mukanya. “Bentar, Mum!”

Ia menyelesaikan menuang cairan. Mengaduk kedua jenis cairan berbeda warna itu hingga tercampur, baru menoleh pada ibunya. “Tadi aku tanya soal yang ada di buku Dad, dan ia menyuruhku mencoba sendiri, jadi aku coba—“

“Tidak akan meledak?” ibunya memandang tabung percobaan itu dengan ngeri, teringat masa sekolahnya dulu, Ramuan. Kuali meledak di mana-mana.

Severus menggeleng. Memperlihatkan buku yang terbuka di halaman tertentu, ia menunjuk kalimatnya: ‘Aman untuk dilakukan oleh anak di bawah 12 tahun’.

Eileen menghela napas lega.

“Kau ini, persis benar seperti ayahmu!” gerutunya sambil mengusap-usap kepala Severus, “—ayo makan dulu—“

“Sebentar. Lima menit lagi—“ Severus memperhatikan stopwatch di atas meja. Serius.

Tapi kemudian ia merasa diamati, ia menoleh pada ibunya. “Mum?”

Ibunya tersenyum. “Kau mewarisi bakat ayahmu, sayang. Ia paling suka kalau sudah berkutat di laboratorium seperti ini—“

“Dad—pintarkah ia?” selidik Severus. Dad jarang berbicara tentang dirinya sendiri.

Eileen mengangguk.

“Lalu—kenapa kita tidak kaya?”

Eileen tersenyum, mengucek rambut Severus, “—orang pintar tidak harus jadi kaya. Tergantung apa yang jadi fokusnya, Severus. Fokus Dad adalah penelitiannya berhasil dan berguna bagi masyarakat banyak. Makanya uangnya tidak banyak—“

“Apakah—apakah memang harus begitu?”

Eileen mengangguk. “Tidak semua orang harus jadi pengusaha dan kaya raya. Kalau tidak ada penemu seperti Dad, bagaimana dengan kehidupan kita? Tak akan ada benda-benda seperti televisi, blender, kulkas, bahkan lampu—“

“Tapi, Mum kan bisa menyalakan tongkat—“

Eileen menghela napas. “Itu karena aku—penyihir.”

Pendek.

Severus melongo sejenak.

“Kalau—kalau Dad?”

Eileen menggeleng. “Ia Muggle, orang biasa yang tidak kenal sihir—“

“Tapi—ia tidak memburu penyihir seperti dalam cerita?”

“Buktinya ia hidup bersamaku dan punya kau—“

“Aku—aku penyihir juga?”

Eileen mengangguk. “Coba saja—“ dan ia melemparkan tabung yang panas itu pada Severus—mendadak —dan Severus refleks membekukan tabung berisi cairan panas itu.

Kedua kalinya Severus melongo.

“Aku—penyihir?”

Eileen tersenyum. “Dan karenanya, nanti di saat kau berusia sebelas tahun—tiga tahun lagi—akan datang surat panggilan untuk bersekolah di Hogwarts—“ pandangan Eileen menerawang, merindukan saat ia bersekolah di sana.

“Sekolah—berasrama?”

Eileen mengangguk.

“Nanti aku akan rindu pada Mum, pada Dad—“

“Kau kan bisa menulis surat, kau kan bisa pulang di saat libur—“

“Oh—“

Ia seperti melamun. Dan,

“Mum—“

“Yes, my prince?”

“Kalau Mum penyihir dan Dad orang biasa—“

“Muggle mereka menyebutnya.”

“Muggle. Berarti aku—setengah-setengah?”

“Mereka menyebutmu Half-blood—“

Half-blood? Half-blood—“ Severus mengulang-ulang itu, “—dan aku adalah Half-blood Prince?”

Dan hari-hari Severus bertambah berwarna dengan keinginannya untuk mengetahui segala seluk beluk dunia sihir.

-o0o-

Sudah lama ia mengamati. Sepertinya anak perempuan yang suka bermain bersama kakaknya di taman bermain itu, punya sesuatu yang berbeda.

Dan saat ini terbukti. Anak itu menunjukkan sekuntum bunga yang dibuatnya bergerak-gerak. Anak itu berayun tinggi dan melompat—alih-alih jatuh malah mendarat dengan anggun.

Dan ia tak bisa menahan untuk menampakkan diri.

“Sudah jelas, kan?” sahutnya, tatkala si kakak menanyai kenapa adiknya bisa berbuat demikian.

“Apanya yang jelas?” tanya si adik.

Ditanya langsung begitu oleh seorang anak perempuan, membuat Severus menjadi gugup.

“Kau—kau seorang penyihir,” bisiknya.

Anak perempuan itu—belakangan ia ketahui namanya Lily—nampak terhina.

“Tidak sopan mengatai orang begitu!”

Ia berbalik, hidung terangkat, dan berjalan ke arah kakaknya.

“Tidak!” kata Severus, menyusul Lily, dan berusaha menjelaskan. “Aku juga penyihir. Ibuku juga penyihir.”

Lily menatapnya beberapa saat, dan malah menarik tangan kakaknya, pulang.

Severus menatapnya dengan hampa. Hilang sudah kesempatan memiliki teman penyihir di lingkungan dunia Muggle ini—

Tapi ternyata tidak.

Beberapa hari kemudian, dan hari-hari sesudahnya, justru Lily yang menunggu kedatangan Severus di taman. Sendiri, tanpa kakaknya. Ternyata ia sangat ingin tahu, apapun yang berhubungan dengan dunia sihir, ia tanyakan. Beruntung Severus sudah lebih dahulu mempelajarinya, menanyakan pada Mum, sehingga ia bisa menjawab.

Suatu hari di pinggiran sungai, sambil bermalas-malasan di bawah pohon, Lily bertanya lagi.

“Ibumu penyihir. Tapi kau tidak menceritakan apakah ayahmu penyihir atau tidak, kau hanya menceritakan ia ahli dalam kimia dan fisika—“

Severus menggeleng, “Tidak. Ia Muggle. Tapi ia menghormati para penyihir—“

“Tapi kau bercerita, ia melakukan percobaan bagai seorang penyihir saja—“

Severus tersenyum bangga, “Kau mau bertemu dengannya?”

Lily mengangguk.

“Ayo ke rumah! Ia sedang ada di laboratorium pribadinya—“

Keduanya bangkit, dan menuju Spinner’s End.

.
.
.
.

“Kapan-kapan, aku boleh ke sini lagi, Sir?”

“Tentu saja boleh. Ngomong-ngomong, jangan panggil aku ‘Sir’. Panggil namaku saja—“

“Er,” Lily tersipu, “—aku tak biasa memanggil orang yang lebih tua dengan nama. Paman Tobias saja?”

Tobias tersenyum. “Boleh. Lain kali ke sini, tanyakan pada Bibi Eileen apakah aku ada atau tidak ya!”

“Dad, mengapa ia harus bertanya apa kau kau ada? Tentunya ia ke sini mau bertemu denganku dulu—“

“Nah, nah, lihatlah anak muda ini. Pencemburu berat—“

Dan mendadak pipi Severus merah dan panas.

Lily—dan Eileen yang datang kemudian—terkikik.

-o0o-

“Tobias, bukankah seharusnya Severus sudah pulang?” Eileen melihat lagi entah untuk yang kesekian kalinya ke jendela.

“Tenang saja! Mungkin Hogwarts Express mendadak mogok, atau hal lain—“

“Hal lain apa sih? Biasanya juga para penyihir dewasa akan menanganinya kalau—“

“Nah, kan kau tahu sendiri. Para penyihir dewasa akan menanganinya kalau ada sesuatu, Eileen. Tenang saja!”

“Tapi kalau—“

“Eileen! Paling Hogwarts Express kempes bannya—“

Eileen baru menyadari bahwa suaminya menggodanya beberapa detik kemudian, dan ia melempar bantal kursinya. “Kau ini. Mana bisa kereta api kempes bannya, kan rodanya terbuat dari baja—“

Tobias tertawa. “Makanya. Tenanglah—“

Tetapi Eileen mendadak berdiri dan membuka pintu. Nampak olehnya seorang anak perempuan di kejauhan.

“Itu Lily. Tapi Severus mana?”

Tobias tetap duduk, tapi perhatiannya pada anak yang semakin dekat itu.

“Pamaaan! Bibiiii!”

Mereka berpelukan.

“Kau datang sendiri? Severus mana?”

Lily mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya. “Profesor Slughorn mengajak Severus mengikuti Olimpiade Ramuan se-Dunia. Ada suratnya terlampir di sana. Jadi ia pulang terlambat sehari—“

Eileen bergegas membuka amplop. Ada dua surat di sana, satu surat resmi dengan cap Hogwarts, dari Slughorn; satu lagi tulisan Severus yang kecil-kecil rapi.

Baru Eileen bisa menghembuskan napas lega. “Fiuh. Kukira—“

Tobias berdiri dan mengucek rambut istrinya. “Makanya. Tenang saja dulu. Nah sekarang, itu Lily kau biarkan saja? Kan ada sirup frambus yang baru kau buat, dan bukankah kau bikin kue—“

“Tenang saja, Paman, aku bukan tamu kok. Nanti aku ambil sendiri—“

Dan Lily mengobrol seru dengan Eileen—sementara Tobias masih harus mengerjakan sesuatu di laboratorium.

-o0o-

“Mum,” Severus duduk di sebelah Eileen yang sedang mencetak kue kering.

Eileen menoleh, melihat airmuka Severus  yang serius. Tanpa bicara ia mengelap tangannya, membuka celemeknya, dan duduk tepat di depan anaknya.

“Ada apa, nak?”

Panggilannya selalu ‘Nak’, walau ia sudah 21 dan sudah menjadi guru Ramuan di Hogwarts.

Tapi kali ini, airmukanya tak menampakkan kalau ia guru. Sepertinya rasa percaya dirinya tipis.

“Kalau—“ suaranya tersendat, “—kalau dulu, waktu Dad melamar Mum, bagaimana?”

Eileen tidak langsung menjawab. Dipandanginya lekat-lekat wajah anak tunggalnya ini. “Kau—akan melamar Lily?”

Wajah Severus bersemu merah. Dengan malu ia mengangguk.

“Ohoho!” Eileen berseru girang, dan ia memeluk Severus erat-erat sampai tak bisa bernapas.

“Mum—“ suara Severus di sela usahanya untuk bernapas, “—Mum, ayolah—akhudakvizavenavaz—“

Eileen melepas anaknya dengan tak rela, tapi ia menghapus sudut matanya. Setelah beberapa menit kemudian, baru ia bisa bicara. “Tanyakan saja langsung pada Dad nanti malam kalau pulang—“

-o0o-

Dan Eileen harus menyeka ujung matanya saat Severus dan Lily mengucap sumpahnya. Eileen juga harus menyeka ujung matanya saat untuk pertama kali ia mengecup bayi mungil, Harry Tobias Snape.

Tapi Severus tak pernah harus mengeluarkan lolipop cadangannya lagi.

FIN


BEHIND THE SCENE:

Seorang laki-laki tua kurus dengan wajah tak jelas, tak keruan bentuknya, bahkan seperti tak punya hidung, dan seorang laki-laki tampan berkacamata berambut hitam acak-acakan, sedari tadi gelisah di pinggir panggung.

“Kau! Kau akan tampil di adegan yang mana?”

“Aku juga tak tahu! Dari tadi aku tak dipanggil. Kau sendiri?”

“Katanya aku tokoh antagonis utamanya, tapi sampai sekarang aku tak dipanggil! Bagaimana ini?”

“Ya, mereka bilang aku ayah dari tokoh utama, tetapi sama denganmu, aku dari tadi tak dipanggil—“

BENER-BENER FIN
« Last Edit: December 15, 2009, 09:18:49 PM by ambudaff » Logged

Alex Rowe - Kang Mae - Severus Snape
Pages: 1 2 3 [4]
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.8 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!

supported by : IndoLowonganKerja.com