harrypotterindonesia.com
March 10, 2010, 11:18:38 PM *
Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length
News: Selamat datang di Forum HPI yang baru. Silahkan melakukan Registrasi untuk ikut berdiskusi di forum ini. Mari kita jaga Forum ini bersama.
 
   Home   Help Search Login Register  
Pages: 1 [2] 3 4
  Print  
Author Topic: Kompilasi One-shots  (Read 6358 times)
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #15 on: March 12, 2008, 02:13:33 AM »

(post lanjutan)

Serasa sudah berabad-abad ketika ia melihat gerakan di dada Snape.

Jadi? Benarkah ini Stopper in Death?

Campur aduk perasaannya saat itu. Senang. Takut. Penasaran.

Ditunggunya hingga gerakan di dada Snape menjadi teratur. Dan matanya akhirnya terbuka. Lalu terbangun, bangkit sempoyongan. Harry lekas menolongnya duduk.

Waktu yang mungkin hanya semenit jeda menunggu itu seakan bertahun. Dan Snape bersuara.

”Jadi, sudah berakhir?”

Harry mengangguk, tak bisa bicara.

Ditutupnya tabung Stopper in Death hati-hati. Lalu ia mengeluarkan tabung lain dari kantong jubahnya. Keduanya diserahkannya pada Snape.

”Kepunyaan Anda, Sir,” sahutnya hati-hati.

Snape menatapnya, tak bicara. Tapi diambilnya juga tabung pertama, yang berisi Stopper in Death, dimasukkan ke dalam sakunya kembali. Sementara tabung terakhir disorongkan kembali pada Harry.

”Selain kau, siapa lagi yang sudah melihatnya?”

Harry menggeleng. ”Tidak ada, Sir. Hanya saya sendiri.”

“Simpanlah. Hanya jangan perlihatkan pada orang lain.”

Harry tak mengerti.

Hening sejenak sebelum Snape berbicara lagi, “Untukmu. Agar kau bisa mengenal ibumu.”

Harry mengangkat kepalanya, terpana. Seolah tak percaya siapa yang berbicara. Perlu waktu beberapa saat sebelum ia mengumpulkan suaranya, lirih, gemetar, “T—Te—Terimakasih … Sir.”

“Siapa lagi yang tahu aku—aku mati di sini?” tanya Snape.

”Semua orang di sini tahu Anda sudah meninggal,” Harry menelan ludah, ”tapi yang tahu Anda meninggal di sini, hanya saya, Ron, dan Hermione.”

”Yang tahu kau ke sini?”

Harry menggeleng.

Snape mencari tongkatnya. Harry menyorongkan dari tempat ia tadi meletakkannya.

”Tetaplah berlaku sebagaimana aku sudah mati, Potter. Anggap saja ini tidak pernah terjadi.”

”Tapi, Sir ...”

Snape seolah sedang mencari sesuatu. Di sudut kamar, ada sepotong kayu, entah bekas apa. Diambilnya. Dan ditransfigurasikan menjadi ... jenazahnya. Persis seperti tadi.

Harry mulai mengerti. Tapi ia tak akan membiarkan Snape pergi lagi secepat itu, tidak setelah ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.

”Sir, ... saya minta maaf ... untuk semuanya,” Harry takut-takut menunduk, tapi tak lama ia mengangkat mukanya, memberanikan diri menatap mata Snape.

Snape menatapnya lama, sebelum ia menjawab, ”Lupakan saja.” Ia berbalik, seperti mencoba menyembunyikan wajahnya. ”Selama ini aku menganggapmu sebagai anak Potter. Aku lupa ...” suaranya melirih, ”kau juga anak Lily.”

”Baik Sirius maupun Remus, keduanya selalu membicarakan tentang Dad, bahwa aku mirip dengan Dad. Bahwa Dad melakukan ini, melakukan itu. Hampir semua yang mengenal Dad dan Mum, mengatakan aku sangat mirip Dad, menceritakan bagaimana Dad, dan hanya sedikit mereka membicarakan Mum. Paling mereka hanya mengatakan bahwa mataku mirip mata Mum,” Harry merasakan emosi meluap-luap di sepenuh dadanya saat ia mengatakan ini. Snape berbalik lagi, kali ini menatap Harry.

”Hanya dengan memori Anda, aku bisa mengenal Mum,” bisik Harry lagi.

Harry bisa melihat pergulatan emosi juga muncul dari raut wajah Snape.

”Terima kasih Sir, telah memberi kesempatan pada saya untuk mengenal Mum,” suara Harry masih lirih.

Snape hanya mengangguk. Lalu ia menyelipkan tongkatnya di balik jubah, merapikan jubahnya.

Harry maju hingga mereka saling berhadapan. Hanya tinggal dua-tiga langkah saja jarak mereka.

”Anda mau ke mana?”

”Aku tak tahu.”

”Bolehkah ... bolehkah saya menghubungi Anda?” Harry berharap, tipis sekali akan dikabulkan.

Tapi Snape hanya menatapnya sejenak. Lalu, ”Burung hantumu sudah tak ada?”

”Ya. Ia mati saat penyerangan Juli lalu.”

”Sayang sekali. Tapi, bila kau punya burung hantu baru—” Snape seperti ragu, tapi akhirnya tangannya mengeluarkan benda kecil dari saku jubahnya. Lingkaran kecil mengilap. Diserahkannya pada Harry.

Harry mengamati benda itu. Cincin. Cincin putih, mungkin emas putih atau platina, Harry tak tahu. Bentuknya seperti ular. Atau tepatnya, seekor ular dilingkarkan, agar kepala dan ekornya bersatu. Kepala dan ekornya melilit sekuntum lily putih.

“—pasangkan ini di kakinya, dan ia akan tahu ke mana harus mengantar surat—“

”Sir—”

Snape berhenti bicara dan menatap Harry yang sedang menatapnya juga.

“Cincin ini … apakah untuk Mum?” suara Harry benar-benar rendah.

Dan suara Snape juga sama rendahnya saat ia menjawab tak tentu rasa, “—Ya. Kalau saja aku punya kesempatan—“

Dan pertahanan Harry runtuh sudah, semua emosi yang dari tadi ditahannya, semua rasa yang bergejolak ... dengan dua langkah ia mendekati Snape dan memeluknya erat di tengah isaknya.

Snape tak tahu harus bagaimana. Ia tak pernah ada dalam situasi seperti ini. Tapi tangannya bergerak juga. Kaku ia merangkul Harry.

Harry sudah hampir delapan belas tahun, tingginya sudah hampir sama dengan Snape. Tapi dalam rangkulan, ia merasa seperti anak kecil. Anak kecil dalam pelukan ayahnya, yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Dan sebenarnya juga tidak pernah Snape rasakan sebelumnya. Snape kecil tidak pernah merasakan pelukan ayah, jangan lagi merasa sebagai ayah ... Dua butiran kecil menggelinding menuruni pipinya. Snape menutup matanya, menahan agar tidak ada butiran lain lagi yang turun. Samar ia melihat Lily, dan Dumbledore dari kejauhan sana, tersenyum padanya …

Agak lama, Harry bergerak, dan Snape melepas pelukannya. “Aku harus pergi,” katanya pendek.

Naluriah Harry meraih Jubah Gaibnya, mengerudungkannya, dan ”Hari sudah siang, Sir. Mungkin mereka bisa melihat Anda. Saya akan mengantar Anda sampai ke titik Apparate terdekat.”

Harry sadar, sebagai penyihir handal Snape pasti tahu lebih dari selusin cara agar bisa berjalan ke mana saja tanpa diketahui orang. Tapi ia tidak bicara, langsung masuk ke bawah kerudungan Jubah Gaib bersama Harry.


--------------------------------------------------------------------------------

Upacara pemakaman sudah selesai. Atas usul Profesor McGonagall dan disetujui oleh semua murid, semua guru, korban-korban dimakamkan di Hogwarts. ’Jenazah’ Severus Snape dimakamkan dekat makam Dumbledore.

Kingsley Shacklebolt yang sudah dikukuhkan sebagai Menteri Sihir yang baru, mengeluarkan segulung perkamen di depan orang banyak.

”Ini diketemukan di Spinner’s End,” sahutnya, ”dan kurasa harus diketahui oleh orang banyak.” Ia berdeham dan mulai membaca.

Ternyata surat wasiat. Isinya agar rumah yang di Spinner’s End dijual dan uangnya dimasukkan ke Dana Bantuan untuk anak-anak—terutama Kelahiran Muggle—yang memerlukan, untuk pembelian buku dan sebagainya.

Lalu koleksi buku berikut semua perangkat pembuatan Ramuan termasuk bahan-bahan agar dihibahkan ke Hogwarts, kecuali satu, buku Pembuatan-Ramuan Tingkat Lanjut oleh Libatius Borage, dihibahkan pada Harry Potter.

Harry mendengar setengah-setengah, dengan pikiran melayang, sedang apa dan di mana Snape kini?

“—kau dengar, Harry?” suara Hermione menggugahnya.

“Ha? Apa? Sori, sedang mendengarkan Kingsley,” sahut Harry gelagapan.

“Aku sedang memikirkan, apakah di Kantor Kepala Sekolah nanti akan ada lukisan Snape?” ulang Hermione.

Harry menggeleng. ”Tidak,” sahutnya pelan, ”nampaknya tidak, untuk waktu yang lama.”

Hermione masih nampak penasaran, tapi ia tidak mengganggu Harry lagi.


--------------------------------------------------------------------------------

“—kejadian ini nyaris sama seperti minggu lalu saat keluarga Petrelli terkena penyakit aneh. Seorang Healer mendadak datang, menyembuhkan mereka, dan sebelum ada satupun dari keluarga Petrelli menyadari, Healer itu menghilang.

Minggu ini, kejadian di desa terpencil di Hutan Dean, seorang nenek jatuh saat memberi makan ayam-ayamnya, dan karena nenek itu tinggal sendiri, ia bisa saja mati tanpa ada yang mengetahui. Tapi Healer Misterius itu datang, menolongnya, bahkan tinggal selama tiga hari mengurusi si nenek hingga sehat lagi, dan sesudahnya ia menghilang lagi—”


Daily Prophet itu dilipat Harry di atas meja. Dihabiskannya jus labu kuning, dilihatnya jam, sudah hampir masuk kelas, sepuluh menit lagi. Ia mengumpulkan buku-bukunya dan ber-Disapparate ke kelasnya.

Pendidikan Auror memang keras. Tapi Harry bisa mengatasinya hingga kini.

Hidup memang keras. Dan Severus Snape nampaknya juga bisa mengatasinya hingga kini.

FIN


A/N:
Tempat di mana Severus bertemu dengan Lily dan kawan-kawan bisa dibandingkan dengan Stasiun King’s Cross di bab 35. Harry bertanya: ‘Where are we, exactly?’ Albus menjawab: ‘This is, as they say, your party.’
Jadi, tempat yang disinggahi dalam keadaan ‘limbo’ itu tergantung dalam pikiran subyek. Harry melihatnya sebagai stasiun King’s Cross, dan Severus dalam cerita ini memandangnya sebagai rumpun pepohonan di tepi sungai dekat rumah Lily tempat ia merasa diperhatikan dan dibutuhkan oleh orang lain.

Logged

harrypotterindonesia.com
« Reply #15 on: March 12, 2008, 02:13:33 AM »

 Logged
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #16 on: March 12, 2008, 02:16:57 AM »

Bayangan

Sambungan dari Di Matamu. Tadinya tak akan ada sambungan, tapi plot yang ini melompat-lompat terus di depan mata


Makam itu terbuat dari marmer putih. Mudah untuk membaca apa yang tertulis di sana tanpa membungkuk atau berjongkok.

Tapi Harry sudah hapal apa yang tertulis di sana. Ia menaruh sebuah karangan bunga di atasnya, di tengah-tengah.

Makam kedua orangtuanya.

Cukup lama juga ia berdiri di sana. Angin yang berhembus dingin menyayat kulit tidak diperhatikannya.

Kemudian dia merasakan sesuatu. Ia mendengar-dengar dengan seksama.

Meski ia sudah tidak sepopuler dulu lagi—ia lega—tapi ia harus menerapkan Mantra Perlindungan agar ia bisa bebas menziarahi makam kedua orangtuanya tanpa gangguan penggemar. Mantra Perlindungan yang pernah dipakai Hermione saat mereka bersembunyi di Hutan Dean dulu.

Tapi seperti dulu saat ia merasa ada orang mondar-mandir—yang ternyata adalah Ron—sekarang juga ia merasa ada orang di luar. Berdiri diam.

Finite Incantatum,’ bisiknya perlahan, menghentikan Mantra Perlindungannya.

Dan Harry berbalik.

Orang itu ada di sana. Berdiri diam, jubahnya menutup rapat. Hanya rambutnya yang membingkai wajahnya, tak tertutup, dihembus angin. Memperlihatkan sedikit warna kelabu dari keseluruhannya yang hitam.

Harry tahu orang itu bisa menembus pertahanan Mantra Perlindungannya, tapi ia tidak melakukannya. Ia memilih diam menunggu hingga Harry menyadari kehadirannya.

Harry mundur memberi jalan agar ia bisa menziarahi makam kedua orangtuanya. Atau lebih tepatnya, menziarahi makam ibunya. Tanpa suara, tanpa kata, keduanya sudah maklum.

Orang itu meletakkan setangkai bunga lily di bagian nisan yang kemungkinan adalah bagian ibunya. Tanpa kata, ia hanya tertunduk diam saja. Beberapa saat.

Kemudian ia menoleh pada Harry. Dan mereka berjalan berdua menyusuri makam-makam yang ada, dalam sunyi. Keduanya menunduk, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Hingga akhirnya Harry membuka mulut.

”Sir,”

Orang itu menoleh, langkah mereka terhenti.

”Saya benar-benar berterimakasih karena Anda telah menjaga saya.”

Dia hanya menggeleng, masih tanpa kata. Karena Harry juga terdiam, dia akhirnya bersuara juga.

“Mengapa?”

Harry menarik napas. “Karena sebetulnya Anda bisa saja pergi setelah Mum meninggal. Tapi Anda tetap tinggal. Dan setelah saya datang ke Hogwarts, Anda memenuhi janji untuk menjaga saya, dengan segala cara. Padahal ... Anda sudah tidak ada kewajiban lagi. Hanya ... demi Mum.”

Wajahnya kembali tak bisa dibaca. Dingin dan keras seperti dulu saat masih di Hogwarts. Tapi Harry sekarang sudah tak bisa ditipu dengan wajah seperti itu, dia tahu orang ini punya perhatian padanya.

Dia menarik napas panjang. ”Lupakan saja, Potter.”

”Harry.”

”... Harry. Baiklah.”

Harry masih menatap wajahnya. ”Sir,”

“Severus saja.”

Harry terdiam. Tanpa menyebut namanya, Harry meneruskan, “Bulan depan saya akan menikah. Dengan Ginny. Alangkah senangnya bila Anda bisa datang.”

”Kau tahu kondisiku. Semua orang sudah tahu aku sudah meninggal.”

Harry mengangguk. ”Saya tahu. Hanya keinginan saja.”

Wajah Snape tak menunjukkan ekspresi apapun. Ia mengangguk kecil, melipat tangannya agar jubahnya menutup lebih rapat, dan meninggalkan kompleks pemakaman itu.


--------------------------------------------------------------------------------


The Burrow kini semarak. Lebih semarak dari saat perkawinan Bill-Fleur dulu, tentu saja sekarang masanya sudah damai, lalu yang akan menikah juga menurut Bill ’jauh lebih populer’, lalu juga Mrs Weasley berkeras harus lebih ramai karena ini adalah pernikahan putrinya satu-satunya.

Harry merapikan jubahnya lagi.

”Sudah yang ke-enambelas kalinya, mate,” Ron menghitung keberapakalinya Harry membereskan lipatan jubahnya—sambil nyengir.

”Awas nanti kalau tiba giliranmu,” Harry menggumam sambil meninju main-main best-man-nya ini.

Dari kejauhan George memberi isyarat, pengantin wanita sudah tiba. Atau tepatnya, sudah siap, soalnya kan masih di situ-situ juga. Harry menahan napas.

Ginny cantik sekali, sebelah tangannya dibimbing Mr Weasley, sebelah tangan memeluk buket bunga. Mereka berdua berjalan perlahan mendekati Harry.

Tapi perhatian Harry terbagi dua. Sekali melihat ke arah Ginny, sekali lagi melihat berkeliling, seperti menunggu seseorang. Semua orang yang ada dikenalnya baik, tidak ada yang mencurigakan. Setengah berharap sebetulnya Harry menunggu, mengingat dulu ia menggunakan Ramuan Polijus saat pernikahan Bill, ia berharap juga akan ada kejadian serupa. Tapi rasanya tidak akan. Sampai sekarang Harry melihat satu-satu tamunya, semua tamu yang dia kenal.

Ginny semakin dekat. Harry menengok keliling lagi, berharap.

Mr Weasley melepas tangan Ginny, menyerahkan pada Harry. Harry menerimanya, dan mereka berdua bersiap.

Sekali lagi terakhir, Harry melihat ke belakang.

Semua tamu sudah melihat ke depan, konsentrasi ke arah pengantin. Tak ada yang melihat ke kiri-kanan, atau ke belakang.

Dan di keteduhan pohon-pohon nun agak jauh di sana, Harry melihat sosok seseorang memperhatikan. Dari kejauhan. Harry tidak bisa melihat wajahnya. Tapi Harry yakin siapa dia. Harry tersenyum.

Ia berbalik lagi ke arah Ginny, dan berkonsentrasi penuh sekarang.

“Apakah kau, Harry James, menerima Ginevra Molly …”

Saat selesai, saat Ginny akan melempar buket bunganya, saat perhatian orang semua terpusat pada Ginny, Harry melihat lagi ke arah tadi.

Orang tadi sudah tak ada.

Tapi ia datang tadi. Memenuhi janjinya.

FIN
Logged

harrypotterindonesia.com
« Reply #16 on: March 12, 2008, 02:16:57 AM »

 Logged
ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #17 on: March 12, 2008, 02:21:05 AM »

Amanita Muscaria

Jikalau anda bertanya mengapa Ambu nulis sambungan lagi dari Di Matamu dan Bayangan, salahkan saja Muscat-Dunghill. Dia yang harus mempertanggungjawabkannya Tongue



Malam sudah semakin larut. Aku tak mempedulikannya. Malam atau bukan malam, tak ada yang akan mempedulikannya.

Tapi di lokasi ini ada sesuatu yang kucari.

Malam semakin gelap, tapi benda yang kucari malahan semakin terang. Benda kecil di atas tanah, di atas akar pepohonan, sendiri-sendiri atau berkelompok. Berwarna merah terang berikut totol-totol putih, dengan efek fluoresens yang membuatnya mudah terlihat dari kejauhan.

Amanita muscaria.

Jamur yang dalam dongeng Muggle selalu diceritakan sebagai rumah kurcaci. Yang pada kenyataannya tidak seindah penampilannya. Dalam dosis kecil bisa menjadi penumbuh khayalan, lebih ampuh daripada Cannabis sativa, dalam dosis besar bisa saja membunuh, bahkan bila diramu oleh seorang Muggle-pun. Apalagi bila diramu dengan benar, oleh seorang penyihir.

Dan itu akan semakin kuat efeknya jika dipanen pada bulan Agustus, pada malam hari seperti ini. Malam yang ideal, malam tanpa bulan.

Aku berjongkok dan memilih jamur yang terbaik. Jamur yang berdiri sendiri akan lebih baik khasiatnya daripada yang tumbuh berkelompok. Kugali tanah di sekitar akar pohon birch dengan tangan, hati-hati. Penggunaan pisau hanya akan mematikan efeknya. Tak perlu terlalu dalam menggali karena jamur tidak berakar, hanya menempel pada akar pohon. Pohon birch utamanya, untuk hasil maksimal.

Kuangkat jamur terbesar, dan kumasukkan hati-hati ke dalam kantung.

Selesai. Kini aku bisa—

Ada suara gemeresak.

Ada orang yang datang. Siapakah dia, malam-malam tak berbulan seperti ini datang ke hutan Gloucestershire? Yang pasti dia pasti punya nyali.

Aku menyelinap di antara pepohonan untuk menyembunyikan diri. Sebenarnya aku bisa saja pergi, toh urusan sudah selesai. Tapi, ada rasa ingin tahu...

Cahaya kebiruan yang nampaknya datang dari tongkat semakin mendekat. Cahaya itu tidak terlalu tinggi, berarti orangnya juga tidak terlalu tinggi. Yang pasti tidak lebih tinggi dariku.

Semakin dekat, dapat terlihat bahwa orangnya—bukan orang! Anak kecil, well, tidak terlalu kecil. Awal belasan tahun, mungkin.

Anak itu mendekat dengan pasti, seolah tahu dengan tepat apa yang sedang dicarinya. Ia berhenti tepat di tempat aku tadi memetik jamur. Ia memandang seolah tak percaya. Seolah ia mengharapkan sesuatu dan sekarang sudah hilang.

Jamur itu! Pasti anak ini mencari jamur itu. Di sekelilingnya memang ada kumpulan jamur-jamur yang banyak, tetapi jamur yang tadi kupetik adalah jamur terbaik dari apa yang ada di sekitarnya. Seolah ia sudah menandai, tapi sekarang sudah tak ada.

Anak itu menghela napas. Wajahnya yang diterangi cahaya tongkat, nampak kecewa.

Baiklah, aku membatin, akan kita ketahui apa yang dicarinya. Aku keluar dari balik pohon.

”Anak muda, ada apa malam-malam kau ada di sini sendirian?” sahutku dingin.

Anak itu mundur, seolah kaget, tapi di wajahnya tak ada raut takut.

”Saya tidak sendirian, Sir. Orangtua saya berkemah dekat sini,” katanya berani.

”Kalau begitu, apa yang kaucari?”

”Sir. Saya sedang mencari ... bahan Ramuan.”

“Bahan Ramuan? Kau membuat Ramuan?”

”Eh, hanya untuk eksperimen, Sir.”

”Sekarang waktunya libur, nak, bukan tugas sekolah, kukira? Kau anak Hogwarts, kan?”

Anak itu mengangguk. ”Ya, saya siswa Hogwarts, Sir. Bukan tugas sekolah, Sir,” katanya melanjutkan.

”Hogwarts. Asrama?”

”Slytherin, Sir.”

Ada rasa aneh menyelinap ke dalam dadaku. Hangat. Seperti ada teman. Kutatap wajah anak itu lebih jelas.

Matanya.

Matanya hijau seperti ... Lily. Tapi cepat-cepat kutepis bayangan itu, dan bertanya lagi padanya.

”Bahan Ramuan, memangnya apa yang sedang kau coba buat?”

”Euh, saya sedang mencoba mengubah Ramuan Soma. Ramuan ini mempergunakan jamur Amanita muscaria. Tapi saya ingin membelokkannya menjadi Ramuan Bius, untuk mengurangi rasa sakit saat orang sedang diobati luka dalam.”

Aku mengangguk. Pemahaman yang sangat dalam, untuk seorang anak kelas—kelas berapakah dia?

“Kau duduk di kelas berapa?”

”Kelas tiga, September nanti, Sir.”

Baru kelas tiga? Alangkah senangnya kalau ada anak seperti ini di saat aku masih mengajar dulu.

Sikapku agak santai sekarang. ”Bukankah ada banyak Amanita muscaria di sini?” aku melihat berkeliling memperlihatkan betapa banyaknya jamur itu di bawah pohon birch ini.

”Tapi yang saya cari, yang tumbuh sendiri. Bukan berkelompok seperti ini. Kemarin saya sudah menemukannya, hanya saja masih kurang matang. Malam ini tak ada bulan, dan jamurnya mestinya sudah matang. Saatnya tepat sebetulnya, tapi mungkin saya sudah didahului orang lain.”

Wajah kecewa itu menunduk. Tapi ia cepat menukas lagi, ”Yah. Saya akan mencari lagi saja, masih kurang beruntung.”

Aku memandang wajah itu dalam-dalam, ”Kau tahu dari mana Amanita muscaria yang baik adalah yang tumbuh sendiri? Dan lebih baik dipetik malam tanpa bulan? Kelas tiga saja belum mendapat pelajaran itu kan?”

Anak itu menggeleng. ”Bukan dari pelajaran sekolah, Sir. Saya diam-diam membaca buku kepunyaan Dad.”

“Dad? Apakah ayahmu ahli Ramuan?” diam-diam aku menduga-duga siapa ayahnya.

Anak itu kembali menggeleng. ”Dia tidak suka Ramuan. Tapi dia sangat suka membaca Advance Potion-Making. Entah kenapa. Padahal bukunya sudah lusuh, sudah penuh catatan.”

Aku menghela napas. Jadi dia. Dia masih membaca buku itu ternyata, sampai sekarang. Dan ini adalah anaknya, yang pernah diceritakan lewat surat-suratnya. Yang menyandang namaku.

Aku membuka kantung yang kubawa. Kukeluarkan jamur yang tadi kupetik. Kuulurkan padanya.

”Inikah jamur yang kaucari?”

”Benar, Sir!” wajahnya bercahaya, tapi tangannya tak bergerak untuk menerimanya.

“Untukmu.”

“Sir? Tapi Anda yang memetiknya duluan—“

“Kuberikan padamu, Albus Severus Potter.”

Ia menerima jamur itu. ”Terima kasih, Sir.”

Aku mengangguk. Dan siap ber-DisApparate.

”Tapi, dari mana Anda tahu namaku, Sir?”

Tapi aku sudah lebih dahulu ber-DisApparate.

FIN
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #18 on: March 12, 2008, 02:35:14 AM »

EXPECTO PATRONUM

Disclaimer: Dean Winchester dan Sam Winchester milik Eric Kripke, Severus Snape, Albus Dumbledore, Phineas Nigellus, dan Baron Berdarah milik JK Rowling. Ambu cuma minjem aja. Sedikit spoiler dari Deathly Hallows, dan spoiler dari episode-episode Supernatural buat yang belum pernah menontonnya.
Dan banyak ucapan Lupin yang dipinjam oleh Snape Grin

--------------------------------------------------------------------------------

“Hey, Dean, lihat!” Sam memperlihatkan pengukur EMF-nya. Alat itu tidak memperlihatkan tinggi-rendahnya kadar ectoplasma seperti biasa. Kali ini, kadar yang ditunjukkannya naik-turun dengan liar.

Dean mendekat, “Bagaimana bisa …” Matanya kemudian memapar sekitar, seperti sedang mencari sesuatu. Adiknya juga berbuat serupa.

Kedua pasang mata itu berhenti di sekitar tempat sampah di dekatnya. Aneh, di tempat yang bersih itu, ada sebuah ban mobil tua tergeletak begitu saja. Mereka saling berpandangan, dan tanpa dikomando tangan keduanya otomatis terjulur untuk memeriksa ban itu.

Begitu kedua tangan menyentuh ban itu ... sepersekian detik kemudian mereka seperti tersedot sesuatu. Terlambat untuk menarik kembali tangan. Seakan ada kaitan persis di balik pusar. Yang mendadak ditarik tak tertahankan ke depan. Kaki mereka tertarik, tercerabut dari tanah. Melesat ke depan dalam angin yang menderu-deru. Berputar kencang sekali dalam pusaran warna-warni. Berputar terus seakan mereka berada di dalam angin puting beliung. Jari mereka yang menempel pada ban seakan menarik mereka secara magnetis.

Dan kemudian kaki mereka menghantam tanah.

Mereka jatuh bertemperasan di tanah.


--------------------------------------------------------------------------------

Jamestown, Virginia, AS

Jamestown adalah salah satu koloni Inggris tertua di Amerika. Tahun 1607 Kapten John Smith dan para anggota koloninya diberi tugas oleh Raja Inggris waktu itu, James I, untuk menetap di Dunia Baru. John Smith ... Pocahontas, kau mengerti kan?

Masa kini, Jamestown menjadi tanggungjawab APVA (Association for the Preservation of Virginia Antiquities) dan NPS (National Park Service). Dahulunya semenanjung, tetapi karena erosi Jamestown berubah menjadi pulau. Baik di pulau maupun di daratan utama, keadaannya cukup ramai sebetulnya.

Sebulan belakangan ini telah terjadi hal yang aneh.

Tidak ada saksi mata yang melihat langsung, tetapi cukup banyak yang merasakan keanehan. Hawa mendadak menjadi dingin membekukan. Udara memadat membuat sesak. Dan seperti menyebar ketakutan.

Esoknya pasti ada korban. Dan tidak ada yang bisa dijadikan pola, kadang satu, kadang banyak, kadang laki-laki kadang perempuan. Tidak ada benang penghubung yang menyatakan para korban itu punya kesamaan.

Kabar angin ditambah kabar angin dari mulut ke mulut, hasilnya adalah berita tak jelas. Dikabarkan pelakunya adalah makhluk-makhluk tinggi-besar yang berusaha menghirup jiwa manusia. Yang lain mengatakan pelakunya penghisap darah. Ada juga yang dengan dramatis mengatakan makhluk-makhluk itu merobek-robek tubuh manusia.

Walau berusaha ditutup-tutupi oleh pemerintah setempat, masa sekarang dengan adanya internet, dengan mudah beritanya beredar.

”Kau pernah melihat yang seperti itu?” Dean duduk berselonjor di salah satu ranjang sementara Sam sibuk membanding-bandingkan laporan pasien.

Sam menggeleng, dan balas bertanya, “Ada sesuatu di jurnal Dad?”

Giliran Dean menggeleng.

“Mereka hanya duduk atau berbaring, tergantung bagaimana perawat menempatkannya,” Sam mengulang hasil penyamaran kemarin di rumah sakit setempat, “Tidak bersuara, tidak bergerak, tidak bereaksi. Dalam tes, dipukul sekali pun tidak bereaksi. Mata menatap hampa. Air liur menetes, juga buang air, tidak terkendali,” Sam berusaha menarik kesimpulan.

“Tapi kesehatan secara umum tak ada gangguan. Napas, detak jantung, pencernaan, semua tidak menyatakan adanya gangguan. Selain dari itu, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tes pada otak menyatakan sebagian besar aktivitas otak berhenti. Nekosis, kematian jaringan otak,” lanjut Sam.

Dean menatap Sam. Sam mengangguk.

Pekerjaan yang sulit.


--------------------------------------------------------------------------------

“Aku mau muntah,” refleks Dean menyahut begitu mereka berhenti diputarkan seperti angin puyuh.

Setelah beberapa detik dalam diam, ”Di manakah kita?” tanya Sam tanpa berharap mendapat jawaban. Keadaan gelap gulita, dingin membekukan. Dean dan Sam otomatis mengeluarkan senter masing-masing dari balik jaket.

Senter tak berfungsi.

Walau hanya bisa melihat siluet, Dean mengangguk pada Sam. Sama-sama mengingatkan agar waspada. Dean mengeluarkan pistol rock-saltnya. Dan ia merasa Sam juga melakukan hal yang sama.

Tak nampak ada gerakan. Dean menajamkan pendengarannya, tapi yang terdengar hanya angin mendesing membekukan. Tak ada suara serangga malam, tak ada suara kelelawar atau burung hantu.

Dan tak bisa dicegah, rasa dingin itu terus merasuk ke dalam jiwa. Masuk sampai ke kalbu, sampai ke pikiran. Ke manakah rasa gembira, rasa bahagia yang tadi sore masih ada?

Dean berbisik, ”Sam?”

”Yeah, aku di sini.”

”Jamestown ... koloni tertua Inggris di Amerika?”

”Yeah.”

”Bukannya Roanoke? Croatoan?”

”Roanoke memang lebih dulu, tapi mereka ... hilang, kan?”

”Dan di Jamestown tidak pernah ada yang aneh-aneh?”

Nope.”

Dean menghela napas. Rasa putus asa semakin mendekat ke dalam dada. Inginnya menghentikan semuanya. Rasa tak ingin hidup pun mulai membayang.

Dan ada bayangan hitam melayang mendekati mereka. Satu, dua, tiga, ... banyak.

Udara di sekitar mereka memadat. Kesulitan bernapas. Udara semakin dingin menusuk daging bahkan hingga ke tulang. Bayangan-bayangan itu meluncur tanpa suara. Terlihat jelas dalam kegelapan karena sosok mereka lebih padat gelapnya dari lingkungan sekitar.

Dean benci mengatakannya, tapi ia merasakan ketakutan yang amat sangat, menambahi rasa putus asa yang sedari tadi ia rasakan. Semakin dekat mereka, ia bisa mendengar napas mereka berkemerutuk, terseret-seret. Tangan mereka terjulur mencoba mencekik, tangan yang berkeropeng membusuk.

Dengan sisa-sisa keberanian yang ada, ia menembakkan pistol rock-saltnya ke arah mereka. Ini rupanya juga menjadi pemicu untuk Sam, Dean mendengar letusan pistolnya berkali-kali.

Tak terjadi apa-apa.

Makhluk-makhluk itu semakin dekat. Berjubah hitam compang-camping, bertudung hitam menutupi seluruh kepala bahkan membayangi wajah mereka tak terlihat.

Yang satu sudah mencapai kerah jaket Dean, menariknya makin dekat. Dean membeku. Ia tidak dapat bergerak.

Makhluk itu membuka tudungnya. Tidak ada wajah. Hanya sebuah mulut. Mulut yang sepertinya ia pernah lihat. Dua kali.

Dean diliputi teror yang sangat.

Mulut itu semakin dekat.

Bagaimana dengan Sam? Bukankah ia harus melindunginya? Ia telah gagal, pikirnya putus asa.

Tangannya—cakarnya mencengkeram mulut Dean. Mulut makhluk itu menuju ke arah mulutnya, mencoba menghirup sesuatu dari situ.

Sadar tak sadar, seorang berjubah hitam melangkah di dekatnya, melangkah, bukan melayang, mengacungkan sesuatu seperti tongkat, dan berbisik tegas.

Expecto Patronum!”

Dari tongkatnya keluar semburat cahaya perak yang kemudian berubah menjadi wujud seekor rusa betina. Rusa betina keperakan. Rusa itu mula-mula melangkah anggun, tetapi lalu berlari seolah mengejar makhluk-makhluk berkerudung hitam itu.

Makhluk-makhluk hitam itu bertemperasan. Melayang cepat menjauh dari mereka. Beserta mereka menjauh, memudar juga kegelapan di sekitar, menyusut juga rasa dingin yag membekukan, hilang pergi sudah rasa takut dan putus asa yang mencekam. Ada rasa aman yang melindungi mereka.

Dean menutup mata dan menghela napas panjang. Ia membuka matanya dan melihat ke arah Sam. Sam terlihat sekarang, tidak begitu gelap seperti tadi. Sam juga nampak lega.

“Tadi itu … Shtriga?” tanyanya tak memerlukan jawaban dari Sam.

Sam ragu. “Aku tak tahu. Rasanya berbeda dari yang dahulu,” Sam mengusap wajahnya.

Dean ingat betul kalau Sam sudah dua kali nyaris disantap Shtriga.

“Bukan,” tak disangka orang berjubah hitam yang tadi mengusir makhluk-makhluk mengerikan itu menyahut, “Itu Dementor.”

“De-Dementor?” Dean menoleh pada Sam yang juga menoleh padanya.

Orang tadi menyimpan tongkatnya di balik jubah, dan tangan yang satunya mengeluarkan bungkusan kecil dari saku. Ia mematahkannya menjadi dua, dan menyorongkan satu potongan pada Dean, satu pada Sam.

”Makanlah.”

Dean menerimanya. Ia memandang potongan di tangannya. Coklat? Ia membawa potongan itu ke hidung, membauinya. Benar, coklat. Ia dan Sam saling berpandangan lagi, bertanya-tanya.

“Makanlah,“ ulang orang itu, “Aku tidak meracuninya.”

Dean menggigit ujungnya, dan kontan saja badannya terasa hangat dan nyaman, tidak dingin membeku menggigil seperti tadi. Nampaknya Sam juga mengalami hal yang sama.

“Sir,” sahut Sam, “Kami sangat berterimakasih pada Anda, Mr …”

“Snape,” ujar Snape pendek.

Sam mengangguk, “Aku Sam Winchester, dan ini kakakku Dean.”

Snape mengangguk pelan, “Kalian sudah tidak merasa dingin lagi?”

Keduanya otomatis menggeleng. “Tidak, Sir,” tapi Sam lalu menyambung, “Mr Snape, anda tahu Dementor itu apa?”

Snape mengangguk tapi tak menjawab. Ia hanya berkata, “Sebaiknya kalian ikut,” dan ia mulai berjalan.

Dean dan Sam mengikutinya.

Berbeda dengan tadi di mana kegelapan yang pekat menyelimuti, kali ini malam terasa ringan. Bulan purnama menerangi. Langit bersih tanpa awan. Bintang-bintang berkelip. Mereka bisa melihat dengan jelas ke arah mana mereka melangkah.

”Mr Snape,” Dean mencoba bertanya, ”Maafkan kalau ini nampak bodoh, tapi di manakah ini?”

”Hogsmeade. Kita sekarang ke Hogwarts,” ia menunjuk ke arah kastil di kejauhan. Sekarang setelah Snape menunjukkan itu adalah kastil, bangunan itu nampak jelas, bukan hanya bayangan di kegelapan.

”Hogwarts? Hog ... di Inggris?” Sam tak percaya.

“Ya, di Inggris tentu saja. Kalian kira di mana?”

Sam kebingungan, terlebih lagi Dean.

“Sam, Hogwarts itu di mana?”

“Hogwarts itu hanya ada di buku. Harry Potter.”

“Har—Kau membaca buku cerita anak-anak, Sammy?”
(Dan pemirsa langsung protes ribut, ‘huuuuuuu’)

“Aku tak membacanya, Dean,” dan Sam mengalihkan pandangan pada Snape, “Kalau ini Hogwarts, berarti kau …penyihir?”

Snape menyeringai. “Kau tahu sendiri. Kalian?”

”Kami pemburu,” Dean menjelaskan, ”Pemburu iblis.”

Tidak seperti biasanya di mana orang-orang akan mengedikkan bahu sambil keheranan akan profesi itu, raut wajah Snape biasa-biasa saja. Malah ia meneruskan pertanyaannya.

”Dan kalian berasal dari ...”

”Kami tadi sedang meneliti di Jamestown. Virginia. Amerika Serikat,” sahut Sam menambahkan.

Snape mengangguk. ”Kalian tadi terbawa oleh Portkey.”

”Por—Portkey?”

”Benda yang kalian pegang sebelum kalian merasa ditarik dan berputar.”

Sam memandang heran pada Dean, ”Ban mobil tua itu?”

“Apapun bentuknya.”

“Dan bagaimana Portkey menghubungkan Amerika dan Inggris?”

“Portkey membawa seseorang ke tempat lain. Biasanya sudah dirancang dari ke tempat A ke tempat B. Satu jalan atau bolak-balik. Bahkan bisa juga disetel waktunya.”

”Mengapa ada di .. Jamestown?”

”Pasti ada penyihir di sana. Kukira ... Jamestown adalah salah satu koloni Inggris tertua di Amerika?”

”Salah satu koloni Inggris tertua,” Sam membenarkan.

”Kukira ada penyihir di antara mereka. Maksudku, penyihir asli Amerika memang ada, tetapi yang ini pasti buatan penyihir Inggris.”

”Lalu,” Dean bertanya lebih lanjut, ”hubungannya dengan Shtriga—maksudku Dementor?”

“Dementor, Mr Winchester,” sahut Snape, “makhluk ini asli Inggris.”

Mereka memasuki kompleks Hogwarts. Memasuki kastil dan melintasi ruangan besar dan kecil, koridor dan tangga.

Seorang (?) hantu melayang di depan mereka.

”Kalau kau ingin tahu lebih banyak lagi tentang Shtriga, tanyalah dia,” sahut Snape mengisyaratkan hantu itu. ”Baron Berdarah, ikutlah kami.”

Baron Berdarah berbalik, melihat Snape, mantan Kepala Asramanya, dan mengangguk, ”Seperti apa kata Anda, Kepala Sekolah,” bisiknya membuat merinding.

”Kepala Sekolah?” Sam terkejut, ”Anda Kepala Sekolah?”

Snape berbuat seolah-olah tidak mendengar, berhenti di depan patung gargoyle dan membisikkan kata kuncinya, ”Dumbledore.”

Gargoyle itu melompat ke sisi, memperlihatkan tangga putar di belakangnya. Mereka bertiga menaiki tangga putar sementara Baron Berdarah menembus lantai dan tembok untuk masuk ke kantor. Masuk ke kantor, Snape langsung menuju ke depan lukisan seorang laki-laki tua berjanggut keabuan. ”Mereka sudah di sini, Albus,” sahutnya.

”Blimey, mereka Muggle!” seru sebuah lukisan di atas.

Dean melongok ke atas, dan ia langsung terkejut. “Lu—lukisan-lukisan itu bergerak? Berbicara? Dan apa itu Muggle?”

Lukisan laki-laki tua itu tersenyum, matanya berkilat jenaka di balik kacamata bulan sepotongnya. ”Ya, mereka berbicara. Muggle adalah istilah untuk masyarakat non-penyihir. Aku Albus Dumbledore, Messrs Winchesters, mereka adalah lukisan-lukisan mendiang Kepala Sekolah Hogwarts terdahulu. Yangmenyapamu tadi itu Phineas Nigellus. Phineas, mereka adalah Mr Winchester dan Mr Winchester,” Albus memperkenalkan mereka.

“Sam saja,” sela Sam, “dan dia kakakku Dean,”

“Kalau begitu, panggil aku Albus saja. Severus,” Albus mengarahkan pandangan pada Snape, ”kau memanggil Baron Berdarah?”

“Aku di sini, Albus.”

“Aah, Baron. Mungkin kau bisa menerangkan tentang Shtriga dari pengalamanmu di Albania?”

Baron menarik napas panjang (kalau saja hantu bisa dibilang menarik napas—kan mereka sudah tidak bernapas), ”Pengalaman di Albania sebenarnya menyakitkan untuk diceritakan, tapi kalau soal Shtriga, bolehlah, ” ia melewati Dean, menembusnya, dan membuat Dean merasa seperti disiram seember air es.

”Sebenarnya semua makhluk-makhluk ini sudah ada sejak dari dulu kala, tapi akhir-akhir ini memang ada orang yang usil dan mengutak-atik mereka, sehingga Shtriga salah satunya, keluar dari dunia sihir dan masuk ke dunia Muggle. Kalian mungkin sudah tahu, bentuknya seperti apa, makanannya apa, dan mengalahkannya bagaimana, kukira? Kalian dan profesi sebagai pemburu iblis itu?”

Dean dan Sam mengangguk.

”Nah, sebenarnya Shtriga itu sama saja dengan Dementor, hanya berbeda daerah. Tapi, karena Shtriga sudah dilepaskan ke alam Muggle, maka ia mengalami berbagai perubahan. Seperti, bisa dibunuh.”

Dean masih teringat bagaimana ia membunuh Shtriga.

“Sedang Dementor? Apakah mereka tidak bisa dibunuh?” Sam penasaran.

“Tidak sampai saat ini,” sahut Snape. “Mereka hanya bisa dihalau ke suatu tempat, dan bisa dilenyapkan oleh mereka yang ahli. Melenyapkan, bukan membunuh. Itu saja.”

”Kami belum bisa menemukan cara untuk bisa membunuhnya,” sahut Albus, ”malah yang kudengar, para Pelahap Maut malah sudah bisa melipatgandakan mereka.”

”Pelahap Maut?”

”Penyihir Hitam,” sahut Albus ringan. Tak terlihat, Snape diam-diam menaikkan kedua tangannya, melipat di dada, tangan kirinya ditutupi oleh tangan kanan.

Albus melanjutkan, ”Dan sekarang, ada seorang Penyihir Hitam yang sangat jahat, Voldemort,” Snape, Baron Berdarah, dan lukisan-lukisan lain di dinding berjengit mendengarnya.

”Kami mencurigai dia melepas Dementor ini ke alam Muggle, untuk menakut-nakuti Muggle. Dia ingin menguasai seluruh alam, baik dunia penyihir maupun dunia Muggle. Karean itulah, aku senang kalian bisa masuk ke dunia sihir ini, untuk mengembalikan para Dementor kembali ke alam sihir. Biar kami di dunia sihir ini saja yang menangani mereka.”

Dean dan Sam berpandangan, ”Kami?”

“Ya. Dengan profesi kalian sebagai pemburu iblis, tentu akan lebih mudah,” sahut Albus.

Sesaat semua terdiam. Lalu, “Bagaimana kami bisa menggiring Dementor ini kembali ke alam sihir? Sedangkan tadi saja ... kami sudah nyaris ...” Dean bergidik merasakan tangan membusuk menyentuh kerah jaketnya.

”Tentu saja kalian akan dilatih dahulu,” Albus mengerling pada Snape.

”Tapi ... kami bukan penyihir ...”

”Tidak masalah. Kami akan memberikan akses ke satu mantra untuk menggiring Dementor. Hanya itu.”

Dean dan Sam berpandangan.

”Kalau kalian sudah siap,” Snape seperti sudah tak sabar.

”OK. Baiklah,” tukas Sam. ”Bagaimana caranya?”

“Tidak di sini,” sahut Albus, “Severus, silakan.”

Ketika kedua orang itu sudah bergerak, Albus berkata lirih, ”Semoga berhasil.”

Tidak begitu mengerti apa maksudnya, Dean dan Sam mengangguk, “Terima kasih.”

Mereka bertiga menyusuri koridor lagi, naik tangga lagi dan masuk ke sebuah kelas kosong.

”Seperti sedang menghindari sesuatu atau seseorang?” gumam Dean pada Sam.

”Agar penyihir yang tidak berkepentingan, tidak mengetahuinya,” sahut Snape. Rupanya ia mendengar juga.

Ia lalu mengeluarkan tongkatnya.

“Apakah … apakah kami harus menggunakan tongkat seperti itu juga?” tanya Dean.

Snape mengangkat alis, ”Tidak perlu. Senjata yang paling mirip, yang paling sering kalian gunakan?”

Dean mengeluarkan pistol rock-saltnya, “Ini mungkin?”

Snape mengangguk.

Sam mengikuti kakaknya mengeluarkan pistol rock-saltnya.

”Baiklah. Kita mulai. Mantra yang digunakan adalah Mantra Patronus. Mantra itu termasuk ke dalam sihir tingkat sangat tinggi.”

”Bagaimana kami bisa menggunakannya? Jangankan sihir tingkat sangat tinggi, sihir biasa pun kami tidak bisa ...”

”Sudah kami katakan, kami akan berikan akses ke Mantra yang satu ini. Jika kalian berusaha, pasti kalian akan bisa menguasai.”

”Baiklah. Jadi, Mantra Patronus? Patronus itu apa?” Dean mengerutkan kening.

”Patronus dalam bahasa Latin artinya ... pelindung?” tebak Sam.

Snape mengangguk. “Patronus ini sejenis kekuatan positif. Proyeksi hal-hal yang menjadi makanan Dementor –harapan, kebahagiaan, keinginan bertahan hidup—tetapi dia tak bisa merasakan keputusasaan seperti yang dirasakan manusia. Maka Dementor tak bisa menyakitinya.”

“Jadi perasaan takut dan putus asa yang tadi … buatan Dementor?” Dean masih mengerutkan kening.

”Ya.”

”Seperti ... dihukum saja.”

Snape mengangguk lagi, ”Karenanya, Dementor digunakan untuk menjaga penjara sihir. Kau bayangkan saja seperti apa suasananya.”

(disambung ke post di bawah)
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #19 on: March 12, 2008, 02:37:22 AM »

(lanjutan dari atas)
Tangan kiri Sam terlipat, tangan kanannya memainkan bibirnya, serius, ”Apakah bentuknya nanti akan seperti yang kau keluarkan? Rusa betina seperti tadi?”

Snape menggeleng. ”Bentuknya unik. Tiap orang berbeda.”

“Baiklah,” Sam mengangguk, “Sekarang, bagaimana memulainya?”

“Konsentrasi pada satu hal saja yang paling menyenangkan, yang paling membahagiakan.”

Kedua bersaudara Winchester terdiam.

“Baik. Lalu?” Dean tak sabar.

“Kemarikan pistol kalian.”

Sam dan Dean menyodorkan pistol mereka. Snape tak mengambilnya, ia hanya menyentuhkan ujung tongkat sambil komat-kamit membaca mantra, pertama pistol Dean lalu pistol Sam. Selesai.

“Sekarang, konsentrasi. Bidik senjata kalian, dan ucapkan ‘Expecto patronum’!”

Keduanya terdiam. Berkonsentrasi. Lalu …

Expecto Patronum!”

Pistol Dean tak bereaksi.

Expecto Patronum!”

Pistol Sam mengeluarkan gumpalan tipis asap keperakan.

Snape menghela napas. ”Baiklah. Tidak terlalu buruk,” ia melipat kedua tangannya, ”Mr Sam Winchester, coba ulangi lagi.”

Sam memejamkan mata, berkonsentrasi, membidik, menarik pelatuk senjatanya, “Expecto Patronum!”

Kali ini gumpalan asap keperakannya lebih tebal.

”Hm. Ada kemajuan. Konsentrasi lagi.”

Sekali, dua kali, beberapa kali.

Sam sudah bermandi keringat, terengah-engah, dan suaranya parau, tapi tiap kali terlihat ada kemajuan. Snape tidak mengatakan apa-apa, tapi tipis terbayang di raut wajahnya bahwa ia puas.

”Sekali lagi, Mr Winchester.”

Sam mengangguk. Bibirnya dikatupkan rapat-rapat, mata terpejam, kedua tangannya lurus ke depan, jari telunjuk tepat pada pelatuk, dan parau ia berseru, ”EXPECTO PATRONUM!”

Kali ini yang keluar sinar perak menyilaukan, langsung mengumpul menjadi bentuk seekor elang raksasa, mengepakkan sekali sayapnya, membubung tinggi, meniti angin terus hingga melewati jendela dan lenyap.

Sam berdiri masih memandang bekas jejak sinar keperakan itu sambil masih terengah-engah, tapi mulutnya membentuk senyuman.


”Baiklah Mr Winchester, kau berhasil. Kita lihat dengan Mr Dean Winchester.”

Sean mundur, duduk di salah satu kursi. Dean maju. Sedari tadi memperhatikan tingkah gerak adiknya, ada rasa tegang pada raut wajahnya.

Terdiam sejenak, Dean memegang pistolnya erat dengan dua tangan, membidik lama, lalu menarik pelatuknya.

Expecto Patronum!”

Tak ada yang terjadi.

Snape mengangkat alisnya.

Dean memejamkan mata. Menarik napas panjang sebelum ia membuka matanya. Konsentrasi. Kedua tangan bersiap.

Expecto Patronum!”

Masih belum terjadi apa-apa.

”Konsentrasi, Mr Dean Winchester! Peristiwa yang membahagiakan!”

Sekali lagi tarikan napas panjang. Konsentrasi tinggi. Pelan-pelan ia menarik pelatuk.

Expecto Patronum!”

Dean berteriak kesal, memutar badannya, tangannya mengepal menghantam meja. Ia tertunduk. Giginya terkunci, berkeriut menahan amarah.

Sam langsung berdiri mendekat, menepuk bahu kakaknya.

”Ayo, Dean! Kau bisa! Aku tahu, kau bisa!”

Dean menggeleng. ”Aku tidak bisa, Sammy! Kau yang punya bakat itu, aku tidak bisa!”

Sam sudah hendak membantah, tapi Snape mendekat, mengeluarkan tongkatnya, ”Minggir, Mr Sam Winchester. Mr Dean Winchester, konsentrasi!”

“Apa yang akan kau lakukan?” Sam sudah mengambil ancang-ancang menghalangi Dean.

“Legilimency.”

“Legil … apa?” Dean mendorong Sam ke samping hingga ia berdiri tepat di depan Snape, tanpa halangan.

“Dalam istilah kalian para Muggle, membaca pikiran. Konsentrasi Mr Dean Winchester,” Snape mengacungkan tongkatnya, “dalam hitungan ketiga, satu, dua … Legilimens!”

Pistol di tangan Dean jatuh terhempas, berkelontangan, bunyinya seperti ada sesuatu yang patah. Dean merunduk seperti merasakan kesakitan, berlutut, kedua tangannya memegang kepala, mata terpejam, ia mulai berteriak, raut wajahnya kesakitan.

Snape langsung terlontar masuk ke dalam pikiran Dean, dan ia tak bisa maju lagi. Sesuatu yang hitam, gelap, menghalangi jalannya. Diulurkan tangannya untuk meraba penghalang apakah itu. Keras. Padat.

Finite!” Snape menarik tongkatnya.

Dean sudah akan terguling ketika dengan sigap Sam menangkapnya. “Dean! Dean! Kau tidak apa-apa?”

Snape memungut pistol Dean yang pecah, patah, menyentuhnya dengan ujung tongkat “Reparo” dan mengembalikannya pada Dean.

“Terima kasih,” bisik Dean. Dibantu Sam ia duduk. ”Aku gagal, Sam. Aku tak dapat melindungimu. Aku gagal.”

“Dean, kau ngomong apa? Siapa bilang kau gagal? Kau hanya belum berhasil! Ayo, coba lagi!” San berlutut di hadapan Dean, lalu menoleh pada Snape, “Sir! Ada apa dengannya?”

Snape menggeleng. “Pada saat kau membayangkan peristiwa yang nembahagiakan, peristiwa itu akan terhubung dengan tanganmu, dengan mulutmu saat kau mengucapkan mantra. Tapi pada Mr Dean Winchester, dalam benaknya ada sesuatu yang menghalangi rangkaian itu.”

Sam berbalik pada Dean, “Dean?”

Snape menghela napas, “Selain menghalangi terbentuknya Patronus, penghalang itu juga membuatnya menjadi rentan jika berhadapan lagi dengan Dementor,” sahutnya pelan.

“Seperti tadi di Hogsmeade?” tanya Dean putus asa.

“Lebih. Dementor akan menyedot jiwamu.”

Dean biasanya bergeming dengan segala yang berkaitan dengan kematian, tapi kali ini ia bergidik. ”Mereka akan membunuhku?”

”Tidak,” Snape menggeleng, ”Lebih buruk lagi.” Snape melipat kedua tangannya, “Jika Dementor sudah menurunkan kerudungnya, konon, ia sudah akan menggunakan senjatanya yang paling akhir dan paling mengerikan.”

“Apa ada yang lebih mengerikan dari kematian?” Dean sudah menduga ada, tapi ia ingin yakin. ”Itukah yang akan dilakukannya? Mereka sudah membuka kerudungnya saat itu ...”

Snape mengangguk. Wajahnya tanpa ekspresi. ”Kami menyebutnya Kecupan Dementor. Itu yang dilakukan Dementor. Kurasa ada semacam mulut di bawah kerudung itu, karena mereka mencengkeramkan cakar mereka ke mulut korban—lalu menyedot jiwanya.”

Menyedot jiwa lewat mulut, Dean masih bergidik. Ia bukan orang yang takut akan kematian, tapi yang ini ... menakutkan.

”Lebih buruk dari kematian?” tanya Sam, nada suaranya diliputi kengerian.

”Lebih buruk dari kematian,” ulang Snape, ”Kau masih bisa ada tanpa jiwamu, asal otak dan jantungmu masih berfungsi. Tetapi kau tidak lagi punya perasaan, tak punya ingatan, tak punya apapun. Sama sekali tak ada kemungkinan sembuh. Kau cuma—ada. Sebagai selongsong kosong. Dan jiwamu lenyap selamanya—sirna.”

Nekosis,” desis Sam, teringat pada pasien-pasien di Jamestown.

Snape mengangguk. “Kutinggal dulu kalian seperempat jam. Tenangkan dulu pikiran, dan kita coba lagi.”

Snape melangkah keluar, menutup pintu tak bersuara.

Dalam ruangan tak ada suara. Dean menyeka keringatnya dengan ujung lengan bajunya.

”Dean?”

Dean masih diam.

”Sesuatu yang gelap? Apakah masih ada sesuatu yang kau sembunyikan, Dean?”

Dean menggeleng, ”Kau sudah tahu semuanya.”

”Yang dikatakan Dad padamu sebelum ia meninggal?” Sam menerka. ”Bukannya aku yang seharusnya khawatir akan ucapan Dad? Khawatir jika aku tiba-tiba berubah khawatir jika ...”

Dean menggeleng. ”Bukan itu.”

”Jadi apa?”

”Sam,” ia tak berani menatap mata adiknya yang menembus jauh, ”setelah Dad meninggal, kaulah satu-satunya anggota keluargaku. Satu-satunya yang paling penting dalam hidupku. Jika terjadi sesuatu pada dirimu ...”

”Dean, tak akan terjadi apa-apa.”

”Kita tak tahu, kan?”

Sam menarik napas dalam-dalam, ”Dean, kau sendiri yang bilang, selama aku berusaha menyelamatkan orang lain dan bukan membunuh tanpa sebab, aku akan selalu berada di pihakmu, kan?”

Dean terdiam.

”Sam, peristiwa yang membahagiakan, yang kujadikan dasar untuk menciptakan Patronus, adalah saat kau lahir. Dad bahagia. Mom bahagia. Aku memanjat ke ranjang ingin melihatmu lebih jelas. Dan kau tersenyum pada semua orang. Peristiwa itu, Sam.

Tapi peristiwa itu juga langsung membawaku ke dalam peristiwa lain, bahwa Mom sudah tak ada, Dad sudah tak ada, dan kau berada dalam ancaman. Ancaman, yang sudah kuduga, tapi tak pernah kuduga akan diucapkan sendiri oleh Dad.

Sam, kau tinggal satu-satunya keluargaku. Dengan cara apapun akan kupertahankan. Bagaimanapun kau tak boleh menyeberang ke pihak hitam. Dan tak seorang pun boleh membunuhmu ...”

Mereka berdua terdiam beberapa saat.

”Kau tahu, Dean? Aku tak punya kenangan membahagiakan semacam itu,” Sam berkata lirih.

Dean mengangkat mukanya dan terkunci oleh pandangan adiknya.

”Kalau kita bisa menguasai mantra ini, kita bisa menghalau Dementor yang ada di Jamestown kembali ke dunia sihir. Itu sudah satu hal, Dean.”

Beberapa saat Dean terdiam, baru ia menjawab.

Yeah.”

”Dan kau juga mengatakan kita tidak bisa menyelamatkan semua orang.”

Yeah.”

”Dan kau juga mengatakan, kita lakukan saja apa yang kita bisa.”

Terdiam lagi sebelum Dean mengangguk.

“Kalau begitu? Kau tahu aku tak mau kau sendirian menanggung beban? Biarlah aku juga menanggungnya.”

Dean menggigit bibirnya, lama. ”Baiklah. Tapi aku tetap jadi kakak, dan kau tetap adik!”

Jerk!”

Bitch!”

Sam tergelak, berdiri dan menepuk bahu kakaknya.

Snape masuk lagi, mendapati Dean sudah bersiap.

Rasanya sekarang ringan, saat pada percobaan keempat Dean berhasil menciptakan Patronus seekor kuda liar jantan, mengangkat kepalanya yang cantik dengan angkuh, dan berderap berlari, melayang melompati jendela kelas …


--------------------------------------------------------------------------------

“Jadi kuharap kalian akan berhasil menghalau Dementor itu kembali ke dunia sihir,” sahut lukisan Albus saat mereka sudah kembali ke kantor Kepala Sekolah, “sisanya akan kami selesaikan di sini.”

Kedua kakak beradik itu mengangguk. “Terimakasih atas semuanya,” sahut Dean.

“Kami yang harus berterimakasih,” sahut lukisan Albus, matanya bersinar jenaka.

Dean memandang Snape dan mengangguk. Snape juga mengangguk, tak mengatakan apa-apa.

“Semoga sukses, Para Pemburu Iblis!” seru lukisan Phineas dari jajaran atas. Sam dan Dean menengadah, mengacungkan ibu jari pada Phineas yang tersenyum lebar.

”Kalian pakai ini saja,” lukisan Albus mengisyaratkan pada sebuah teko teh di atas meja. Snape menyiapkan untuk mereka. ”Ban mobil itu tentu sekarang sudah kembali ke tempat asalnya, karena itu Portkey sekali jalan.”

Keduanya mengangguk. ”Terimakasih lagi, Albus Dumbledore! Kepala Sekolah!”

Snape mengangguk, dan menyiapkan tongkatnya, ”Portus!”

Sam dan Dean bersiap memegang. Sam memutar badannya sejenak, ”Selamat tinggal. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi!”

Saat jari keduanya menyentuh Portkey, mereka mulai berputar, bersamaan dengan Snape berbisik dengan tongkatnya mengacung, “Obliviate!”

Ia menghela napas. “Selamat jalan. Mungkin kita tak akan bertemu lagi.”

”Kau tak lupa menyisakan agar Mantra Patronus mereka tidak terhapus?” tanya lukisan Albus.

Snape menggeleng. ”Mereka akan selalu ingat itu.”

--------------------------------------------------------------------------------

Dementor terakhir sudah mereka halau ke arah yang sama, ban mobil tua yang anehnya selalu ada di dekat tempat sampah.

“Aku tak mengerti. Aku baru kalau pistol rock-salt kita bisa menghasilkan makhluk-makhluk gemerlapan ini, Sammy!”

Sam mengangguk. ”Ada sesuatu yang kita lupakan, tapi ... entahlah.”

Dean terdiam, ”Aku juga tak tahu itu. Tak ada dalam jurnal Dad.”

Sam memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. Bibirnya mengatup rapat tatkala tangannya menyentuh sesuatu.

”Hey, apa ini?” Sam membuka bungkusan kecil yang sudah terbuka sebagian, seperti bekas gigitan. ”Coklat?”

”Haha!” Dean tergelak, ”Samantha sayang, sampai bawa-bawa cemilan segala. Coklat lagi, kaya’ ABG saja. Awas jerawatan!” Dean masih tergelak, memasukkan kedua tangannya ke saku jaketnya, dan tawanya berhenti.

Dean mengeluarkan potongan yang sama dengan yang dipegang Sam.

Honeydukes.

FIN


A/N:
Rangkaian cerita Winchester dimulai dari tahun 2005, sedang di Hogwarts ini terjadi sekitar bulan-bulan awal 1998. Biarin aja ya, namanya juga sihir. Supranatural Tongue

Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #20 on: March 12, 2008, 02:45:59 AM »

Guardian Angel



Hogwarts, September 1998

“Yang ini, Mr Potter.”

Petugas itu memberikan sebuah amplop yang tertutup rapat. Di luarnya tertulis:

Lily Evans

Harry menerima sambil bertanya-tanya dalam hati. Petugas itu rupanya mengerti sebab ia melanjutkan, ”Amplop itu kami temukan di Spinner’s End. Di perpustakaannya.”

Harry mulai mengerti. Dalam surat wasiat Snape dikemukakan bahwa seluruh koleksi bukunya dihibahkan pada perpustakaan Hogwarts, dan buku-buku ilmu Hitam agar disimpan di Seksi Terlarang. Tentu petugas ini sedang mendata buku-buku mana saja yang masuk kategori aman dan mana yang harus masuk Seksi Terlarang.

Petugas itu meneruskan, ”Kami tidak bisa membukanya. Lalu kami melihat nama itu tertulis di luar, dan kami mengira mungkin saja Mantra Keturunan digunakan. Kemungkinan itu isinya pribadi, jadi kau sebagai keturunan Mrs Lily Evans-Potter ...”

Harry mengangguk. ”OK. Aku mengerti. Terima kasih, ya!”

Petugas itu tersenyum, dan berbalik, pergi.

Harry membuka sampul surat itu. Nampaknya direkat rapat, tapi ia bisa membukanya dengan mudah. Mungkin tidak demikian jika ia bukan keturunan Lily.

Dikeluarkan suratnya dari amplop. Tulisannya kecil-kecil dan rapi, membuat Harry menarik napas panjang.

Rasa bersalah itu tetap saja ada.

Harry membacanya.

Dear Lily,

Jika surat ini sudah bisa dibuka, berarti aku sudah tidak ada di dunia ini. Kemungkinan besar aku akan menuju ke neraka. Tidak sepertimu.
Tapi aku ingin mengatakan padamu, bahwa aku bersungguh-sungguh menyesal. Dan tidak ada sesuatupun yang bisa menebusnya. Aku harus membayarnya, seumur hidupku.
Dan itu belum cukup. Penyesalan akan terus membayangiku.
Jika anakmu suatu saat menemukan surat ini, ia akan tahu. Ia akan memberitahumu.
Aku tak berani mengatakannya langsung padamu. Aku tidak akan meminta maaf padamu, aku tahu kau tak akan memaafkanku.

Mungkin kita tidak akan bertemu lagi, tidak walau di kehidupan yang akan datang. Jadi, selamat berpisah.

Severus Snape


--------------------------------------------------------------------------------

Harry tercenung.

”Hey, mate ...”

Harry mengangkat kepala. Ron.

”Ayo, kau kan tak mau terlambat di kelasnya McGonagall?”

Setelah peristiwa jatuhnya Voldemort beberapa bulan lalu, Harry memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya, agar bisa meneruskan ke Pendidikan Auror. Keputusannya itu diikuti oleh hampir semua temannya, mengingat mereka nyaris tidak mendapat pelajaran yang benar tahun itu. Bagaimana bisa belajar benar dengan adanya Pelahap Maut di sekolah? Jadilah Hogwarts mengadakan tes penempatan lagi, agar siswa mendapat pendidikan sesuai.

Harry memasukkan surat itu ke dalam amplopnya dan menutupnya rapat-rapat, ”OK,” sahutnya pelan. Dimasukkannya sampul surat itu ke saku-dalam jubahnya, dan dirapatkannya jubah itu sambil melipat tangannya. Terasa amplop itu bergemerisik halus di dadanya. Lalu, dengan wajah yang dibuat serius ia berkata pelan, ”Siapa terakhir, pecundang,” dan ia bersicepat berlari ke kelas mendahului Ron.

”Woooi! Kau curaaaaang!” Ron berusaha mendahului, tertawa-tawa.

Gelenyar iluminasi mengilap keperakan nampak selintas di atas sosok Harry, terus mengikutinya.


--------------------------------------------------------------------------------
Hogwarts, November 1998

”Kalau terus begini, bagaimana Gryffindor bisa menang kalau aku lulus nanti?” keluh Harry keras-keras mengatasi deru angin yang meningkahi derasnya hujan.

“Kan masih ada Ginny, dia bisa jadi Seeker sementara, saat kau lulus nanti,” Ron juga berteriak agar terdengar

”Sama saja, Ginny kan hanya setahun setelahku. Lalu setelahnya? Lagipula dia bilang, dia lebih senang di posisi Chaser.”

”Kalau posisi lain bagaimana?”

”Bagus-bagus sih, Chaser banyak dan bagus, Beater juga, Keeper kukira ada banyak penggantimu. Tapi, Seeker? Kualitasnya setengah dari Ginny saja sudah bagus.”

“Ya, sudah, main dengan sebanyak-banyaknya memasukkan ke gawang lawan, biar kalau lawan bisa menangkap Snitch juga angkanya sudah kalah dari kita.”

Sebuah tinju main-main melayang ke bahu Ron, tapi keburu dielakkan, dan mereka tertawa-tawa.

“Tapi serius, Ron, tahun ini kulihat semua tim mainnya bagus. Dan kukira penonton tidak fanatik pada asrama, siapa yang main bagus, dia yang akan didukung penonton.”

Ya, betul,” Ron mengangguk, ”kita tidak dikotak-kotakkan oleh asrama. Kemarin anak Slytherin banyak mendapat tepukan dari penonton. Mereka main mengandalkan teknik sekarang.”

”Itulah. Kalau tidak dilatih main dengan teknik yang benar, anak-anak Gryffindor bisa-bisa berpihak pada Slytherin nanti.”

”Bisa jadi.” Suara Ron serius, tapi seperti ada yang disembunyikan.

Harry menoleh. Ron seperti menahan tawa, dan akhirnya meledak juga. ”Hahaha. Masak sih, seorang Harry Potter takut kalah popularitas dari Draco Malfoy?”

Biar kesal, Harry tertawa juga, setengah dongkol. “Ayo, Ron, kaya’nya kita mesti main juga, biar menunjukkan pada mereka, bagaimana main Quidditch yang benar!” katanya sambil menarik Fireboltnya, dan menaikinya.

“Demelza, jaga di posisi sini, Ginny, ambil posisi Seeker tim lawan, yang lain sama seperti yang tadi. Kyle, Francis, Toby, Jack, ambil posisi tim lawan juga. Lihat contoh yang benar, ya,” Harry memberi instruksi. Lalu ia mengambil ancang-ancang dan meluncur ke udara.

Alangkah senangnya berada di udara! Harry terus memberi instruksi selama di udara, sementara Bludger dan Quaffle melesat sana-sini di atas kepalanya. Anak-anak kelas satu memang masih harus banyak diberi instruksi, pikir Harry, tapi cara terbang mereka bagus juga …

… tepat saat Harry merasa ada serangga dekat kacamatanya, dan menunduk untuk menghindarinya, sebuah Bludger melesat dengan kecepatan tinggi, hanya setengah senti di atas kepalanya.

“Harry!”

“HARRY!”

“Awas!”

“HARRY!”

Seruan-seruan itu jelas terdengar dari bawah, para penonton dari bawah jelas sekali melihat arah Bludger menuju kepala Harry.

Harry baru saja sadar setelah ia mengangkat kepalanya, dan Kyle, anak kelas satu yang jadi Beater meluncur mendekatinya, ”Harry! Harry, aku minta maaf. Tadi aku yang memukul Bludger itu, tapi rasanya tidak menuju padamu, tapi angin … tapi .. aku tidak sengaja .. tapi ..”

Harry tersenyum menenangkan Kyle yang nampaknya sudah pucat pasi saja wajahnya, “Tidak apa-apa. Lain kali hati-hati.”

Kyle mengangguk, tubuhnya masih gemetar, wajahnya masih pucat.

“Kita sudahi saja latihannya, anginnya makin kencang!” teriak Harry pada seluruh tim. Semua menurut, mendarat menghindari arah angin.

Blimey, tadi itu nyaris saja,” Ron terengah-engah mengerem dan mendarat tepat di depan Harry, ”benar-benar keberuntungan. Mungkin anak kelas satu jangan disuruh main dulu?”

Harry menggeleng, “Sudahlah. Aku juga dulu mulai main kelas satu, kan,” Harry melepas pengaman siku dan lututnya, berjalan menuju ruang ganti untuk mandi dan berganti pakaian kering.

Sebentuk bayangan keperakan mengiringi kepergian Harry, di tangannya ada beberapa serangga kecil, persis seperti yang tadi dekat kacamata Harry, yang membuat Harry menunduk menghindar.

--------------------------------------------------------------------------------

London, Februari 2001

”HARRY!”

”Aku tidak apa-apa,” Harry berusaha bangkit, berdiri. Ia menepuk-nepuk jubahnya dari debu.

Segerombolan anak –pemuda—berlari mendekati Harry, semua dalam jubah seragam pendidikan Auror. Satu lagi penyihir tua dengan seragam Profesor, juga mendekat.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Profesor Wellington dengan khawatir.

“Tidak apa-apa, Profesor. Kena dada, tapi rupanya pisau itu tertahan sesuatu di jubah saya,” Harry memeriksa saku-dalam jubahnya, dan mengeluarkan apa yang diduganya menjadi penahan pisau itu.

Sebuah sampul surat. Surat yang dulu. Dari kertas. Dan suratnya juga dari kertas. Bagaimana kertas bisa menahan lajunya pisau tajam dengan kecepatan tinggi seperti itu? Harry tak habis pikir.

Tapi sosok keperakan di atas sana, dekat langit-langit, yang terus mengawasi Harry, mengangguk. Bisa, Potter. Bisa.

”Semua bubar,” instruksi Profesor Wellington. “Latihan dengan pisau dilanjutkan lagi nanti setelah makan siang. Hati-hati dengan apa yang kau pegang, anak muda!”

Mereka bubar dengan tertib.

”Kudengar, pendidikan Auror memang sering memakan korban, ya?” Ron berbisik.

“Kukira tidak, Ron. Pendidikannya sudah disesuaikan tentunya dengan tingkat kemampuan siswanya.”

“Tapi tidak, Harry,” seorang anak dari tingkat yang lebih rendah nyelonong sok tahu, “biasanya korban dalam latihan Auror diumumkan sebagai korban pneumonia atau serangan jantung.”

“Korban apa?” Harry tak mengerti.

“Ya, korban seperti tadi. Kalau saja pisau itu tidak tertahan sesuatu di jubahmu, namamu akan diumumkan sebagai ‘meningal karena serangan jantung’ atau apalah.”

“Tapi, orang akan bertanya-tanya, pemuda-pemuda gagah dan kuat seperti kita kok matinya pneumonia atau serangan jantung. Nggak masuk di akal!” Ron menyanggah.

”Yah, terserahlah,” anak tadi berlari mendahului masuk ke ruang makan.

Harry memandang Ron dan mengangkat bahu.


--------------------------------------------------------------------------------

London, 1 September 2009

”Jadi kalian mengerti tugas kalian?”

Harry mengangguk. ”Presiden Muggle Amerika Serikat Barack Obama akan mengunjungi Inggris, dan karena dia mengeluarkan keputusan untuk menarik pasukan AS di Afghanistan dan Irak, dia menjadi sasaran orang-orang yang merasa dirugikan karena mereka pekerjaannya berdagang senjata dan semacamnya,” Harry mengulang kalimat-kalimat atasannya dalam satu paragraf. ”Lalu, kami ditugaskan untuk membantu Scotland Yard?”

Atasannya mengangguk. ”Perdana Menteri Muggle memohon agar kita para penyihir membantu mereka dalam tugas menjaga keamanan. Dan ia tidak mau berspekulasi, lebih baik melapis penjagaan. Apalagi jika kita bisa melakukannya secara tersembunyi.”

Para Auror mengangguk. Harry mengangguk. Sebagai pemimpin unit Elite Auror, tanggungjawabnya berlipatganda.

”Baiklah,” Harry membagikan kertas di tangannya. ”Ini jadwal shift kita, berikut tempat kita harus menjaga. Siap?”

”Siap!” dan mereka bubar.

Harry melihat jadwalnya, shift pertama. Dan tempatnya berjaga adalah di King’s Cross!

”Fiuh! Ron, kau dapat jadwal kapan?”

Blimey! King’s Cross! King’s Cross jam 8 sampai jam 10 pagi, lalu ganti. Presiden itu mau lewat pakai kereta api rupanya ya? Jaga lagi nanti malam di istana, jam 7 sampai jam 10.”

”Hey, jadwal kita sama. Kau tahu, kenapa kita harus berhati-hati sekali?”

”Muggle itu pasti membawa persenjataan yang canggih?”

”Ya, pastilah. Tapi lihat jadwalnya!”

”King’s Cross, memangnya kenapa? Kan tidak aneh?”

”Jadwalnya, Ron, sekarang tanggal berapa?”

“Satu Sep .. oh, blimey! Itu pas anak-anak mulai berkumpul untuk naik Hogwarts Express!”

Ron memandang Harry yang juga sedang memandangnya sungguh-sungguh.

“Para Muggle mungkin tidak tahu, bahwa tugas kita akan lebih berat kali ini. Jangan sampai anak-anak yang akan naik Hogwarts Express terganggu oleh acara Muggle ini,” Harry menghela napas.

--------------------------------------------------------------------------------

Dan ia memang harus ekstra hati-hati ketika seorang Muggle yang entah bagaimana caranya bisa menyusup dari penjagaan polisi Muggle, dan mengeluarkan senjata pistolnya tepat saat Presiden Amerika itu lewat, membidik dan menarik pelatuknya.

Harry refleks mengarahkan tongkatnya pada orang itu, ”Expelliarmus!”

Pistolnya terjatuh, dan orang itu terlongo-longo.

Tapi Harry tidak bisa bernapas lega, karena orang itu ternyata punya back-up, jika saja dia gagal. Orang kedua ini mengarahkan pistolnya pada Harry!

Hanya dalam hitungan sepersekian detik saja Harry sadar, orang ini bermaksud membuat kericuhan jika ia ditembak, dan ia akan bebas untuk menembak sasaran yang sebenarnya! Tapi ia sudah tak bisa berbuat lain lagi, mengangkat tongkat saja ia sudah tak sempat. Peluru yang ditembakkan sudah mengarah padanya, mengarah pada dadanya, pada jantungnya.

Harry sampai mundur karena daya dorong yang kuat dari peluru itu. Tapi, seperti ia sedang menggunakan rompi anti peluru, peluru itu gagal menembus jubahnya, mental dan jatuh dengan suara ’kling-kling’ yang tajam di lantai, dan pecah menjadi tiga bagian.

Dalam hitungan sepersekian detik ia terpana. Tadi ia sudah merasa akan mati saat peluru Muggle itu akan menembus dadanya, tapi ... mengapa?

Dalam sepersekian detik kemudian ia sadar lagi, dan berusaha untuk mengambil alih kendali, tapi rupanya Ron dan beberapa Auror lain sudah bergerak cepat, men-Stupefy orang itu, menyerahkannya pada penghubung mereka dengan Scotland Yard, Mr. O’Donnell, dan meng-Obliviate saksi-saksi mata di daerah kejadian.

Hanya beberapa menit, keadaan sudah kembali seperti semula, seperti tidak ada apa-apa. Presiden lewat, pengamanan masih berjaga beberapa saat, kemudian kembali seperti semula.

Harry masuk ke ruangan khusus untuk mereka di King’s Cross bersama-sama dengan para Auror yang lain, dan Mr O’Donnell.

”Semula aku menyangsikan kemampuan kalian,” katanya, ”tapi setelah sekarang aku melihat sendiri kemampuan Anda, aku benar-benar salut.”

”Sir,” Harry menyela, ”sebenarnya saya tidak ...”

“Jangan bilang kau tidak melakukannya?”

Harry menggeleng. “Tidak. Saya sedang menghentikan orang yang pertama, saat orang kedua itu menembak.”

”Jadi, kau sama sekali tidak sedang menggunakan mantra atau apa, begitu?”

Harry menggeleng.

”Kau tidak menggunakan rompi anti peluru atau semacamnya?”

Harry menggeleng lagi.

O’Donnell menghela napas. ”Kalau begitu, ada sesuatu yang melindungimu.”

”Melindungi?”

Seorang yang Harry kenal sebagai anggota Scotland Yard masuk ke ruangan, membawa sebuah kantung plastik, menyerahkan pada O’Donnell, dan membisikkan sesuatu, lalu ia keluar.

O’Donnell memandang Harry dengan heran.

“A-ada apa, Sir?”

“Karena bukti yang tadi ditemukan anakbuahku … jikalau pun kau menggunakan rompi anti peluru, akan sia-sia. Peluru ini dari jenis QuikShok.”

”Quick Shock?” Ron tak mengerti.

“QuikShok, copotlah semua huruf ‘c’-nya. Peluru ini jarang bahkan di kalangan kaum kami, er .. Muggle katamu?”

Harry mengangguk. ”Dan keistimewaannya?”

O’Donnell menelan ludah, ”Satu peluru ini akan memecah menjadi tiga jika sudah masuk ke kulit. Atau membentur halangan seperti tadi, jatuh di lantai. Jika masuk ke tubuh, ia akan mengembang dan memecah ke tiga arah yang berlainan dan mengakibatkan bekas luka yang lebih luas. Tenaga kinetik akhir yang dihasilkan tiga pecahan itu menimbulkan gaya kompresi sangat besar yang mendesak jaringan daging di sekeliling alur luka, sehingga jaringan syaraf yang berada di antara otot akan tertekan dengan kuat. Akibatnya gerak motorik korban terhenti. Mati.”

Ada beberapa menit saat Harry mengumpulkan semua pengetahuannya untuk mencerna informasi yang diberikan, demikian juga nampaknya Ron dan Auror yang lain.

O’Donnell melanjutkan, ”Akan kami usut dari mana pembunuh ini mendapatkan peluru semacam ini, karena sudah menjadi kesepakatan tak tertulis pada Angkatan Bersenjata negara-negara manapun di dunia, untuk tak menggunakan peluru semacam ini.” Lalu ia berdiri, ”Terima kasih, Mr Potter. Walau Anda sendiri tak dapat menjelaskan mengapa peluru ini bisa ditahan lajunya oleh Anda yang notabene tak menggunakan rompi, tapi karena kalian penyihir, mungkin ada cara-cara lain yang kami tak akan mudah mengerti. Jadi, terima kasih sekali lagi.”

Harry berdiri dan menyambut uluran tangan O’Donnell, “Sama-sama, Mr O’Donnell.”

“Sampai nanti malam di istana.”

”Sampai nanti malam.”

O’Donnel dan anakbuahnya keluar ruangan. Harry melihat berkeliling pada para Auror, ”Terima kasih untuk semua, dan tetaplah waspada. Silakan kembali pada shift Anda masing-masing.”

Dan semuanya bubar. Tinggal Ron. Harry melihat padanya, lalu melihat jam tangannya. Pukul 10.30.

”Perom 9 ¾?” tanyanya tak menunggu jawaban.

Ron mengangguk dan mereka berjalan ke antara peron 9 dan 10, melihat kanan kiri, dan masuk ke peron 9 ¾.

”HARRY! PAMAN RON!” suara lantang anak berusia sebelas berlari mendekat, “Kukira kalian tak akan datang!”

“Tentu saja kami pasti datang, Teddy! Mana Granny?”

Teddy menunjuk ke arah mana ia mulai berlari tadi, dan seorang nenek yang masih segar melambai pada Harry. Harry dan Ron bergegas mendekati, menyalami dan memeluknya, dan berbasa-basi, sambil bersyukur bahwa anak-anak ini tidak mengetahui apa yang terjadi di luar sana, di dunia Muggle.

Sosok keperakan di atas Harry bergerak, ada yang mendekati mereka. Sosok keperakan juga.

“Severus! Kau ada di sini?”

”Lupin?”

”Ya, tentu saja aku. Siapa lagi yang akan menjadi malaikat pelindung Teddy kecilku? Kau sendiri?”

Severus terdiam. Remus seperti sudah menduga. “Harry?”

Severus mengangguk. “Ya. Lily secara khusus memintaku untuk menjadi malaikat pelindungnya,” sahutnya perlahan.

Remus mengangguk, dan menepuk punggung Severus. ”Tapi selain kau memang siapa lagi yang bisa? Aku melihat aksimu tadi waktu membelokkan peluru. Tidak semua orang ... maksudku, tidak semua malaikat pelindung bisa bekerja seperti itu, Severus!”

Severus menggeleng. ”Aku sendiri juga tidak bisa. Ada sesuatu yang disimpannya di saku jubah Potter, yang menjadi penahan.”

Remus memandang Severus, yang memandangnya juga serius. “Hanya Dia yang tahu, ya kan?”

Severus mengangguk. Dan berdua mereka memandangi orang-orang yang harus mereka lindungi.

“Aku pergi dulu,” Remus akhirnya bergerak, “kembali ke Hogwarts. Seperti apa ya, Hogwarts sekarang?”

Severus tak menjawab, tapi Remus juga tak memerlukan jawaban. Ia menepuk punggung Severus, dan melayang menembus gerbong menyusul Teddy yang sudah naik dengan melompat-lompat.


Kereta bergerak. Perlahan tapi kemudian semakin cepat, dan akhirnya menghilang di belokan.

Harry berhenti melambai. Ia dan Ron berjabat tangan dengan Granny, dan keluar dari Peron 9 ¾.

“Hey, Ron, mau ke Leaky dulu tidak? Aku yang bayar!”

“OK. Tapi jangan lama-lama ya, nanti malam kita kan tugas lagi.”

Sure we’ll do, mate!”

Severus mengikuti mereka dengan melayang-layang.

FIN

A/N:
1. Thanks to Gunz atas penjelasannya tentang peluru pecah dalam kulit!
2. QuikShok diambil dari Imperia karangan Akmal Nasery Basral hlm 90-91
3. Ditulis dalam rangka ualngtahun Severus Snape 9 januari,  kado ulangtahun yang terlambat untuk Winda, dan kado yang nyaris terlambat untuk Miyuri. Hepi bersdey both of you, peluk-peluk dan cipikacipiki!
4. Presiden Amerika tahun 2009, diasumsikan Barack Obama yang menang. Ambu suka dia sih Tongue
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #21 on: March 12, 2008, 03:01:04 AM »

HIDDEN

A/N:
1. A very special birthday present untuk mitalucudanimut 13 Februari, dan Happy Birthday pakde Rickman 21 Februari!
2. SSLE. AU. Tapi paralel dengan canon
3. Didasarkan pada ‘Never Gonna Leave Your Side – Daniel Bedingfield’, setelah seleksi yang melibatkan ‘Menanti Keajaiban – Padi’, ‘You Give Me Something – James Morrison’, dan ‘Fukai Mori/Deep Forest – Do As Infinity’ Tongue
4. 23 paragraf pertama (termasuk dialog) yang dicetak dengan italic diambil dari Harry Potter dan Relikui Kematian hlm 890-892 dengan beberapa penyesuaian


SSLE

I feel like a song without the words, a man without a soul, a bird without its wings, a heart without a home.
I feel like a knight without a sword, a sky without the sun, cause you are the one.
I feel like a ship beneath the waves, a child who's lost its way, a door without a key, a face without a name.
I feel like a breath without the air, and everyday's the same, since you've gone away.

Never Gonna Leave Your Side – Daniel Bedingfield

SSLE

Severus Snape berdiri di atas puncak bukit, sedih dan kedinginan dalam kegelapan, angin bersuit di antara dahan-dahan beberapa pohon tak berdaun. Ia terengah-engah, berputar di tempat, tongkat sihir tergenggam erat di tangannya, menunggu sesuatu atau seseorang …

Kemudian kilatan cahaya putih bergerigi, menyilaukan, menyambar membelah udara. Snape jatuh berlutut dan tongkat sihirnya terbang dari tangannya.

“Jangan bunuh aku!”

“Itu bukan maksudku.”

Kalau ada bunyi Dumbledore ber-Apparate, bunyi itu telah ditenggelamkan oleh bunyi angin di antara dahan-dahan. Dia berdiri di hadapan Snape dengan jubahnya berkelepak di sekeliling tubuhnya, dan wajahnya diterangi dari bawah oleh cahaya yang dikeluarkan tongkat sihirnya.

“Nah, Severus? Ada pesan apa dari Lord Voldemort untukku?”

“Tidak ada—tidak ada pesan—aku datang atas kemauan sendiri!”

Snape meremas-remas tangannya. Dia kelihatan agak sinting, dengan rambut hitamnya yang terjurai terbang berkibaran di sekelilingnya.

”Aku—aku datang membawa peringatan—bukan, permohonan—tolong—”

Dumbledore menjentik tongkat sihirnya. Meskipun dedaunan dan ranting-ranting masih beterbangan dalam udara malam di sekitar mereka, keheningan jatuh di tempat dia dan Snape berhadapan.

”Permohonan apa yang bisa diajukan Pelahap Maut kepadaku?”

”R—ramalan... prediksi... Trelawney...”

”Ah, ya,” kata Dumbledore. ”Seberapa banyak yang kausampaikan kepada Lord Voldemort?”

”Seluruhnya—seluruhnya yang kudengar!” kata Snape. ”Itulah sebabnya—karena alasan itulah—dia beranggapan itu berarti Lily Evans!”

”Ramalan itu tidak merujuk ke seorang wanita,” kata Dumbledore. ”Ramalan itu bicara tentang anak laki-laki yang dilahirkan pada akhir bulan Juli—”

”Kau tahu apa maksudku! Dia menganggap itu berarti anaknya, dia akan mengejar Lily—membunuh mereka semua—”

”Kalau dia berarti sebegitu besar bagimu,” kata Dumbledore, ”tentunya Lord Voldemort tidak akan membunuhnya? Tidak bisakah kau meminta belas kasihan untuk ibunya, sebagai ganti anaknya?”

”Aku sudah—aku sudah memintanya—”

”Kau membuatku jijik,” kata Dumbledore, belum pernah terdengar nada penghinaan yang sebesar itu dalam suaranya. Snape tampak agak mengkeret. ”Kau tidak peduli, kalau begitu, soal kematian suami dan anaknya? Biar saja mereka mati, asal kau mendapatkan apa yang kauinginkan?”

Snape tidak berkata apa-apa, hanya mendongak menatap Dumbledore.

“Sembunyikan mereka semua, kalau begitu,” dia berkata parau. ”Jaga dia—mereka—agar selamat. Kumohon.”

”Dan apa yang akan kauberikan kepadaku sebagai imbalannya, Severus?”

”Im-imbalannya?” Snape ternganga memandang Dumbledore, sesaat seperti akan protes, tapi setelah diam lama dia berkata, ”Apa saja.”


SSLE

Snape ber-Apparate di dekat sungai dekat Spinner’s End. Langkahnya tak beraturan tergesa, tiba-tiba terhenti. Ia seperti sedang berpikir keras, dan bimbang, berbalik arah ke tempat tadi ia ber-Apparate, tapi terhenti lagi. Wajahnya kusut, diperparah lagi dengan angin yang mencerai-beraikan rambutnya. Tak peduli. Ia melipat kedua tangannya di dada, tak lama, karena kedua tangannya lalu dipakai untuk menyisir rambutnya. Sia-sia, karena angin kejam memorak-porandakannya lagi.

“Apa boleh buat,” gumamnya, menggigit bibir bawahnya, “semua cara harus dicoba.”

Ia melangkah lagi ke titik Apparate tadi, dan ber-DisApparate di sana.

Ke Godric’s Hollow.

Snape teliti menatap rumah di seberang jalan. Ia hati-hati memilih tempat di balik sebatang pohon.

Sedari tadi, rumah di seberangnya sepi. Tak ada yang datang, tak ada yang pergi. Tapi, dari luar terdengar suara anak kecil. Menangis, lalu tertawa lepas. Menjerit kegirangan.

Snape menghela napas. Pastilah itu anak Lily.

Lalu seorang pria keluar dari pintu belakang. Pria itu berbalik ke arah pintu, melihat pada seorang perempuan dan anak kecil dalam gendongannya, entah berbicara apa, lalu ia mencium pipi anak itu, berikut mencium kening ibunya. Lalu ia ber-DisApparate.

Snape menghela napas lagi. Dirapatkan jubahnya, dibulatkan tekadnya, dan ia berjalan mendekati kedua ibu-anak itu.

Wanita itu melihatnya, dan wajahnya berubah keheranan. Sebelum ia berkata apapun, Snape sudah lebih dahulu menyapanya 1)

”Lily.”

”Sev?”

Snape mengangguk. ”Bisakah ... bisakah kita berbicara sejenak?” Air mukanya sudah sedemikian putus asa kelihatannya, sehingga walau Lily heran akan apa gerangan yang akan dibicarakan, ia tidak menolak. Walau,

”Di sini saja, Sev,” sahutnya pendek. Jelas-jelas masih ada kekesalan dalam nada suaranya, dan ia sama sekali tidak ingin mengundangnya masuk ke rumah.

”Baiklah,” Snape menjentikkan tongkat sihirnya, ”Muffliato!”

Nampaknya Lily sudah akan memprotes penggunaan mantra itu, tetapi Snape tidak memberinya kesempatan.

”Lily, apa yang akan kukatakan, tak akan kukatakan lagi. Kalau kau ... tidak percaya ucapanku, boleh kau cek pada Dumbledore.” Snape menghela napas. ”Aku hanya … ingin bilang, ada ramalan tentang seorang anak. Yang akan berhadapan dengan Pangeran Kegelapan nanti. Anak yang diramalkan itu … lahir di akhir bulan Juli.”

Lily terheran-heran. ”Lalu, apa hubungannya denganku?”

”Anak itu kemungkinan adalah anakmu, Lily! Dan Pangeran Kegelapan akan memburunya, membunuhnya sebelum anak itu mampu mengangkat tongkat sihir!”

Lily mulai berang, mengangkat Harry di tangannya dan mulai berjalan masuk ke rumah. ”Sev, ada berapa ratus anak yang lahir di akhir bulan Juli? Bagaimana ...”

”Karena ramalan itu juga mengatakan, kedua orangtuanya sudah tiga kali berhadapan dan selamat melawan Pangeran Kegelapan,” sahut Snape getir, ”dan itu berarti kau dan Potter.”

Lily terdiam sejenak, menunduk dan menggigit bibir, tapi kemudian ia mendongak, “Alice juga melahirkan akhir Juli.” Ia memandang pada anak kecil di gendongannya. ”Sehari sebelum Harry. Alice dan Frank juga sama-sama berjuang bersama kami, Sev!”

Snape menelan ludah. ”OK. Berarti anak Alice juga sasaran Pangeran Kegelapan. Tapi khusus kau, anakmu, kau harus lebih berhati-hati, Lily!”

Lily menatapnya tajam. ”Kenapa aku, Sev? Dan atas dasar apa kau memberi peringatan seperti ini? Apa bukannya kau sedang menyiapkan jebakan? Siapa yang akan percaya?”

Snape menghela napas. ”Please. Tolonglah. Percayalah. Sudah kubilang, jika kau tak percaya, tanyakanlah pada Dumbledore.”

Ia sepertinya ingin berbicara lagi, tetapi Lily seperti yang sudah bersiap untuk masuk ke rumah lagi. Apa boleh buat. Snape mengangguk kecil, dan berbalik ke tempat tadi, di belakang pohon.

Dan ber-DisApparate.

I gotta have a reason to wake up in the morning.
You used to be the one that put a smile on my face.
There are no words that could describe how I miss you;
I miss you, everyday. Yeah


SSLE


“Dumbledore tadi malam datang dan membicarakan hal itu pada kami, Sev,” Lily duduk di seberang Snape di ruang tamunya. Kali ini Snape dibolehkannya masuk. Bahkan sebetulnya, Lily-lah yang meminta Snape datang. Harry kecil sedang tidur sesiang itu, dan James sudah dari pagi pergi.

Snape mengangguk. “Jadi, Dumbledore menyarankan tindakan apa?”

“Ia akan memakai Mantra Fidelius.”

”Fidelius ... hm. Sungguh mantra yang sulit. Kau percaya pada Penjaga Rahasia-nya?”

”Tentu saja. Tak kan kubilang siapa Penjaga Rahasia-nya, tapi kami percaya sekali padanya.”

Snape menghela napas, masih belum lega. ”Kapan Dumbledore akan melaksanakannya?”

”Dalam beberapa hari ini.”

”Jadi, ini pertemuan kita terakhir, untuk saat ini?”

Lily mengangguk.

Air muka Snape nampak masih belum terpuaskan. Ia masih mengejar, “Lil, tidakkah kau pikirkan cara lain untuk menghindar? Cara alternatif? Aku masih melihat ada kelemahan dalam ...”

”Dan kau masih meragukan Dumbledore?”

Snape terdiam. Untuk beberapa saat. Tapi ia kemudian berkata pelan, ”Mungkin kau pikirkan cara lain, untuk backup? Pengamanan berlapis. Misalnya, dengan Polijus?”

”Sev, terima kasih kau sudah ikut memikirkan, walau sampai saat ini tidak terpikirkan olehku mengapa sampai kau bersusah payah begini? Dan lagi, alternatif yang kautawarkan itu, mana bisa? Mana boleh? Kau ingin agar aku selamat, Harry selamat, bahkan mungkin juga James selamat—yang kuragukan—tapi dengan mengorbankan orang lain? Polijus kan berarti ada orang lain yang menyamar sebagai diriku, dan ia yang akan menghadapi Voldemort?”

Snape berjengit mendengar nama itu. Dan ia juga tidak bisa membantah akan apa yang dikemukakan oleh Lily. Jadi, selama beberapa menit, keheningan menguasai ruangan.

”Sev?”

Pandangan Lily seperti guru mengatakan, ‘Kelas bubar!’

Dengan berat hati Snape berdiri. Ia ingin mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Lily, bahkan kalau bisa, ingin memeluknya, ingin mengecupnya, tapi semua hanya dalam imajinasi. Dengan kepala berat seperti menanggung beban puluhan ton, ia mengangguk, dan berjalan ke arah pintu. Ragu ia berhenti, dan mengucap pelan,

“Lily, berhati-hatilah.”

Lily mengangguk.

Snape berjalan keluar. Baru saja beberapa langkah dari rumah, ia menoleh.

Pintu sudah ditutup.

They tell me that a man can lose his mind / living in the pain.
Recallin' times gone by, I'm crying in the rain.
You know I've wasted half the time and I'm on my knees again.
'Til you come to me. Yeah.


SSLE

Sejak pertemuannya yang terakhir dengan Lily, ia terus menganggap bahwa Penjaga Rahasia-nya adalah Black. Ia orang yang paling mungkin menjadi Penjaga Rahasia keluarga Potter. Ia sangat dekat pada keluarga Potter. Bukannya Lupin dan Pettigrew tidak cukup dekat, tapi kemudian lihatlah faktor berikutnya. Lupin itu Manusia Serigala. Walau Snape tidak pernah memberitahu pada siapapun, tapi bagaimanapun Lupin itu Manusia Serigala. Bagaimana mungkin Manusia Serigala menjadi Penjaga Rahasia?2) Lalu Pettigrew, dia itu bukan orang yang kuat. Coba kalau ia Penjaga Rahasia keluarga Potter, dan dia disudutkan oleh segerombolan Pelahap Maut, dalam beberapa menit saja ia akan membuka rahasia.

Tapi menit terakhir ini ia terpaksa meruntuhkan semua teorinya. Pettigrew benar-benar menjadi Penjaga Rahasia keluarga Potter!3)

Snape sedang berada di samping Pangeran Kegelapan ketika seorang Pelahap Maut tergopoh-gopoh datang dan mengatakan bahwa ia punya informasi di mana keluarga Potter disembunyikan, dan bagaimana Pangeran Kegelapan bisa menemukannya.

Meskipun Snape tidak bisa melihat siapa Pelahap maut itu—dia kan memakai topeng—tetapi dia hapal benar pada orang yang selama tujuh tahun bersekolah bersamanya. Peter Pettigrew? Peter PETTIGREW? DIA seorang PELAHAP MAUT?

Begitu melihat sosoknya, pertama Snape langsung merasa jijik. Sebelumnya dia selalu merasa bahwa Pelahap Maut itu—meski hanya sedikit yang berintelegensia tinggi—tapi paling tidak berotot dan menguasai mantra-mantra Hitam dengan baik. Sedangkan Pettigrew? Otak tak ada, otot pun tak ada. Apa yang bisa membuatnya lulus seleksi Pelahap Maut?

Tapi kemudian otaknya bekerja. Berarti, perlindungan Mantra Fidelius sama sekali tak ampuh. Penjaga Rahasia-nya ternyata Pettigrew! Dan ini sama saja dengan membisikkan langsung ke Pangeran Kegelapan, di mana keluarga Potter itu berada.

Rencana Cadangan! Otak Snape bekerja keras. Perlindungan yang terpikirkan hanyalah Polijus, tapi bagaimana membujuk keluarga Potter untuk minum Polijus? Bahkan, bagaimana Snape bisa bertemu dengan mereka?

Ditajamkan telinganya, dan Pelahap Maut di hadapan Pangeran Kegelapan sedang menguraikan bagaimana mereka bisa menemukan keluarga Potter. Terutama anak kecil itu.

Snape gelisah. Kalau mendengarkan nada bicara Pangeran Kegelapan, sepertinya ia sudah akan segera terbang ke Godric’s Hollow. Senyum keji di wajahnya seperti membenarkan pemikiran Snape.

”OK, kalian semua boleh bubar. Aku sendiri yang akan menanganinya. Severus, kau pergi duluan, dan amankan tempat untukku, usahakan bergerak diam-diam.”

Nyaris Snape bersorak, tapi dijaganya agar sorakan itu tetap dalam lindungan Occlumency-nya.4) Dia membungkuk di depan Pangeran Kegelapan, dan pergi secepat ia bisa.

Keluar dari Riddle House yang digunakan untuk markas Pelahap Maut, ia menuju Apparition Point. Ketika itu ia melihat sesuatu yang aneh di dekat sisi sungai yang curam nun di depan sana. Firasatnya, ini akan berguna untuknya. Maka ia dekati.

Seorang gadis sudah akan melompat saja ke kedalaman sungai yang deras itu. Secepat kilat ia pegang tangannya.

”Siapa kau? Mau apa kau? Jangan halangi ja...”

Jelas-jelas gadis itu Muggle. Dan sepertinya ia akan bunuh diri.

Dingin Snape menjawab, “Kau tak usah tahu siapa aku. Kalau kau ingin bunuh diri, aku tahu tempat yang tepat.” Lalu tanpa banyak bicara, ia membawa gadis itu dengan Side-Along Apparition, ke Godric’c Hollow.

Mengikuti petunjuk Pettigrew, ia bisa dengan mudah masuk ke rumah keluarga Potter.

‘Snape! Bagaimana kau bisa …” James nampak terkejut akan kehadiran Snape.

”Tidak banyak waktuku, cepat cari tempat sembunyi! Pangeran Kegelapan akan segera…” untung saja Snape waspada, karena James malahan telah merapal ‘Petrificus’ padanya. Dengan sedikit mengelak, ia hendak melanjutkan peringatannya, namun James malah menyerangnya bertubi-tubi.

Lily datang dan berusaha melerai, tapi bagaimana melerai dua musuh bebuyutan yang benar-benar tak mau mendengar sekitarnya?

Dan telinga Snape mendengar, Pangeran Kegelapan menjelang datang! James nampaknya juga melihat perubahan air muka Snape, dan malah berjalan ke pintu depan!

Lily, bawa Harry pergi! Itu dia!”5)

Snape bergerak cepat, mengeluarkan tabung yang berisi Polijus yang sudah dicampur dengan sepotong rambut Lily—rambut yang melekat pada salah satu buku sekolahnya dulu dan disimpan terus untuk kenang-kenangan—menyuruh gadis yang tadi ingin bunuh diri untuk meminumnya, dan ‘plop!’ Ada dua Lily!

Dari ruangan depan James masih meneriakkan perintahnya, “Pergilah Lily! Lari! Akan kucoba menahannya…”5)

Snape mengayunkan tongkatnya, mem-Bius Lily asli, dan ber-DisApparate-Bersama dari situ.

SSLE

“James tidak terselamatkan,” nada suaranya dingin saat Lily baru saja sadar, dan bahkan belum mengucapkan apapun.

Lily terperangah.

“James? James? Harry bagaimana?” Lily memaksakan diri untuk bangun, dan hendak turun dari tempat tidur.

”Anakmu selamat. Dumbledore akan membawanya pada kakakmu, dia yang akan merawatnya.”

Lily berdiri dan sudah akan berjalan sempoyongan ke luar kamar, ketika Snape menghalanginya. Memapahnya kembali ke tempat tidur.

”Kau sudah disangka mati oleh semua orang, Lil. Tidak bijaksana untuk muncul begitu saja di depan orang banyak.”

Lily terduduk.

Ia tidak mengucapkan apa-apa, tetapi dari kedua matanya mengalir anak sungai. Tanpa suara.

”Maaf.” Pendek Snape berucap. Ia tak tahu lagi harus mengatakan apa.

”Perempuan yang kau bawa .. yang kau minumkan Polijus...” suara Lily lirih.

”Aku temukan di dekat Riddle House. Ia bermaksud akan bunuh diri. Aku tak tahu ini benar atau salah, menurutmu, tapi setidaknya aku sudah membantunya mencari cara bunuh diri, yang sudah pasti akan berhasil. Daripada melompat ke sungai.” Snape tertawa getir.

Mata Lily sudah merah. Entah seperti apa perasaannya, pikirannya, Snape tidak berani me-Legilimency-nya.

”Aku tinggalkan kau di sini. Ada persediaan makanan di lemari dapur, ada beberapa baju di situ,” Snape menunjuk lemari di dekatnya, ”Aku tidak tahu apakah ukurannya cocok. Setelah keadaan mereda, aku akan membuatkan Polijus agar kau bisa melihat anakmu. Tapi, please, jangan pergi-pergi dengan keadaan seperti ini.”

Lily hanya mengangguk. Entah apa yang berkecamuk di dadanya.

SSLE

Lily berurai air mata. Sedari tadi. Begitu pulang dari melihat sendiri anaknya diasuh oleh keluarga kakaknya—dalam keadaan menyamar dengan Polijus, sehingga mereka hanya punya waktu sejam—Lily sama sekali tidak berbicara. Ia hanya menangis, diam-diam.

Snape juga diam. Pertama, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Kedua, ia salah tingkah jika dihadapkan dengan perempuan yang sedang menangis seperti ini.

Maka ia pergi ke dapur, mengeluarkan apa yang mungkin dimakan, dan menyibukkan diri sejenak. Sekitar setengah jam, dan sup yang dimasaknya sudah mengepul, barulah ia kembali ke kamar Lily.

”Makanlah dulu. Nanti kau sakit.”

Lily masih mengeringkan wajahnya dengan tisu, tapi ia tidak membantah. Tanpa bicara ia berdiri dan berjalan ke ruang makan. Duduk di kursi. Tapi ia melihat lagi ke arah Snape, tanpa bicara, ketika dilihatnya hanya ada satu mangkok di atas meja.

“Aku tidak akan makan di sini. Masih ada tugas. Kau makanlah. Sesudah itu istirahat. Aku pergi dulu.”

Dia merapatkan jubahnya, dan keluar. Ditutupnya pintu.

(lanjutannya di post bawah)
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #22 on: March 12, 2008, 03:02:45 AM »

SSLE

”Menurut Dumbledore, anakmu masih belum aman. Pangeran Kegelapan masih belum benar-benar mati.”

Wajah Lily tersaput horor.

“Lalu bagaimana …”

“Karena itulah dia harus berada dalam pemeliharaan orang-orang yang mempunyai hubungan darah dengannya.”

Lama Lily terdiam. Lalu, “Tapi, bagaimana kalau Petunia .. kalau dia menyiksanya, kalau dia menyia-nyiakannya…” lirih, terdengar seperti nyaris menangis.

Snape menggeleng. ”Aku tidak tahu. Dumbledore tentu sudah memikirkannya. Dan ..” Snape memandangnya tepat di mata, “bahkan Dumbledore sendiri tidak tahu kalau kau masih hidup.”

Lily terdiam lagi, lama. Seperti tak sadar bahwa mata Snape terus menatapnya, lekat.

”Aku lelah. Kau pergilah.”

Snape mengangguk, berat. Berdiri. Dan berjalan ke pintu.

SSLE

King’s Cross selalu ramai. Apalagi di 1 September. Lihat baik-baik di sekitar Peron 9 dan Peron 10. Akan ada orang-orang aneh yang membawa kandang burung hantu, ada yang membawa kodok, dan entah apa lagi.

Seorang nenek tua berjubah biru terang berjalan terseok-seok, dipapah oleh seorang laki-laki yang sama tuanya, masuk ke Peron yang oleh beberapa orang dikenal sebagai Peron 9 ¾. Mereka berdiri agak kejauhan, menghindar dari hiruk-pikuk anak-anak yang akan berangkat ke Hogwarts. Nenek itu memandang dengan seksama apa yang terjadi di sekitarnya, terutama pada seorang anak dengan rambut hitam tak beraturan, dengan sebuah sangkar burung hantu putih seperti salju, dan nampaknya sedang kesulitan menaikkan kopernya. Seorang anak yang lebih tua mendekati, nampaknya menawarkan bantuan. Anak yang lebih kecil tersenyum, dan yang lebih tua memanggil saudaranya. Mungkin kembarannya, karena mereka nampak seperti pinang dibelah dua. Lalu mereka menaikkan koper itu.

Hiruk pikuk semacam itu terus terjadi sampai petugas stasiun meniup peluitnya. Anak-anak yang masih tertinggal di luar kereta bergegas naik. Orang tua, anak-anak yang lebih kecil, saudara dan teman lain, sibuk melambai-lambaikan tangan. Ada juga yang tidak berhenti ngomong—berteriak—mengemukakan si anak harus begini, harus begitu di Hogwarts nanti, dan jangan lupa menulis surat, dan .. dan ..

Nenek berjubah biru itu terus memandangi kereta bahkan hingga hilang dari pandangan. Kakek di sebelahnya menepuk bahunya. “Ayolah.”

“Sebentar. Aku mau lihat sampai hilang.” Matanya tak mau lepas. ”Aku senang dia dekat-dekat dengan Keluarga Weasley. Keluarga yang hangat. Miskin, tapi dia berada di pihak kita, dan tak akan mau menukar kemiskinannya dengan jabatan di pihak Gelap.”

Kakek itu tak mengucapkan apa-apa. Setelah beberapa menit, dia baru berujar, ”Aku harus kembali. Guru-guru di awal tahun ajaran harus ada di sekolah.”

Tak ada respon. Si Kakek memelankan suaranya, ”Hampir sejam. Polijus hanya bisa bertahan selama itu.”

Nenek itu masih memuaskan matanya beberapa menit, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun ia mengikuti Kakek itu keluar dari peron 9 ¾.

SSLE

”Dumbledore mencurigai Quirell. Aku juga tidak tahu, tapi aku turuti saja perintah Dumbledore. Ternyata kemarin terjadi juga. Dia merapal mantra untuk menjatuhkan Potter. Aku harus terus merapal mantra penangkalnya. Dan pada pertandingan yang akan datang, kuputuskan untuk menjadi wasit.”

Lily tidak mengatakan apa-apa, tetapi matanya seperti tertawa.

”Kenapa?” Snape heran.

”Aku ingin lihat kau jadi wasit. Naik sapu. Seperti dulu, tahun pertama kita.”

Bibir Snape membentuk senyum kecil, tapi cepat hilang lagi.

“Aku pulang dulu,” Snape berdiri dan berjalan ke pintu.

“Sev,” Lily memanggil.

Snape berbalik, alisnya naik, “Ada apa?”

“Aku senang. Kau berubah.”

“Apa maksudmu?”

“Pihak di mana kau berada sekarang. Aku tahu, tugasmu berat.”

Snape menggeleng, berbalik dan menghilang di keremangan malam.

SSLE

“…dia bertempur dengan Basilisk…”

“Dan …”

“Dia tidak apa-apa,” nada suaranya menenangkan, seakan Harry baru habis berkelahi dengan teman sekelas saja. ”Dia pergi mencari anak bungsu keluarga Weasley.”

Lily mengangguk.

SSLE

“… Lupin mengajarinya Patronus, dan yang keluar adalah seekor rusa jantan …”

“Dia benar-benar anak ayahnya!”

Snape mendengus.

“Dan Sirius benar-benar keluar dari penjara? Syukurlah!”

Snape mendengus lagi.

SSLE

”Pangeran Kegelapan benar-benar datang lagi,” ucap Snape muram. “Dan anakmu … berhadapan dengannya.”

Lily terkesiap.

“Ap-apa-apakah ..”

“Dia tidak apa-apa.” Snape merapatkan jubahnya, “Aku harus pergi. Sekarang Pangeran Kegelapan benar-benar sudah datang lagi, tugasku benar-benar berlipat.”

Snape berjalan ke arah pintu.

”Sev,” lirih suara Lily.

Snape berbalik.

”Hati-hati,” suara Lily bersungguh-sungguh.

Snape mengangguk.


SSLE

“Lily.”

“Ow,” suara Lily kaget, “kukira siapa. Masuklah, aku masih harus mengaduk Ramuan ini tiga putaran. Sebentar ya?”

Snape masuk. Menarik kursi agar dekat ke arah kuali. Supaya Lily ada kerjaan, dia mengerjakan Ramuan pesanan dari toko obat di desa terdekat. Bakatnya dari dulu, pikir Snape.

”Nah, selesai. Kau mau minum apa?” Lily membuka dan menggantung celemeknya di dekat kuali.

”Tidak perlu. Aku ... ada sesuatu yang harus kukatakan padamu.”

Lily duduk di kursi yang berhadapan dengan Snape. “Kau terlihat lelah.”

Snape menggeleng. “Tidak penting. Aku hanya ingin bilang … mungkin … yah,” Snape seperti sulit mengumpulkan kata-kata, “Tugasnya tidak akan kuceritakan. Kalau memang akan terjadi malam ini, besok lihat saja di koran. Aku hanya ingin bilang ... mungkin ... setelah malam ini ... anakmu akan lebih membenciku dari sebelumnya. Ia mungkin akan membunuhku.”

Snape menghela napas. Lily masih mencerna arti ucapan Snape.

”Dan aku tidak akan bisa lebih sering lagi ke sini. Bahkan mungkin tidak bisa, untuk waktu yang lama.”

”Sev?”

Snape tersenyum pahit, ”Aku harus mendahulukan tugas, kan? Walau berat?”

Mereka terdiam sejenak.

Lalu Snape berdiri. ”Yah. Begitulah. Hati-hati jaga diri, aku mungkin tidak pernah ke sini lagi.”

Ia berjalan ke arah pintu.

”Sev!”

Snape berhenti dan berbalik.

Lily tepat di hadapannya. Ia maju sebegitu dekat sehingga tubuhnya terasa, detak jantungnya terhitung. Ia tak pernah sedekat ini dengannya.

Tangan kiri Lily naik ke pipinya perlahan. Desiran jantungnya menjadi tak tentu. Mata hitamnya bertemu dengan mata hijau cemerlang itu. Dan bibir Lily gemetar mencapai bibirnya. Sejenak Snape masih terpaku, tetapi kemudian ia bisa menguasai diri, bibirnya mengambil alih kendali melumat bibir Lily, kedua tangannya merengkuh Lily semakin rapat.

And I'm never gonna leave your side.
And I'm never gonna leave your side, again.
Still holding on, girl, I won't let you go.
Lay my head against your heart, I know I'm home.


Hanya beberapa detik saja mungkin kejadian itu, tapi serasa berabad-abad barulah mereka melepaskan diri. Mata Lily tak lepas dari wajah di depannya.

”Hati-hati,” bisiknya.

Snape mengangguk. Berat ia melepas pelukannya, dan menghilang di balik pintu.

Keesokan harinya Lily membaca tentang pembunuhan Dumbledore di koran.

SSLE

Kerinduan Snape pada Lily serasa memuncak saat ia menciptakan Patronusnya. Tapi ia berusaha melupakannya. Saat-saat ini, ia harus benar-benar berkonsentrasi pada tugasnya.

Patronusnya mendekat pada tenda di kejauhan. Melangkah keluar dari balik pohon ek. Dari balik pepohonan ia bisa melihat anak itu memandang terpesona pada Patronus itu. Baiklah, Snape berbisik dalam hati, ikutilah dia. Lalu ia menggerakkan tongkatnya, dan Patronusnya bergerak makin jauh ke dalam hutan. Anak itu mengikutinya. Snape juga mengikuti dari kegelapan. Tatkala Patronusnya sudah mendekati kolam hutan itu, ia menggerakkan lagi tongkatnya, memanggil Patronusnya kembali. Patronusnya lenyap.

Ia terus menatap apa yang dilakukan anak itu. Membuka bajunya, menyelam ke dalam kolam. Tipikal Gryffindor. Tapi setelah beberapa lama, ia tidak muncul-muncul juga. Untung saat ia berkeputusan untuk menolongnya, muncul anak Weasley itu.

Ia menghela napas, dan meninggalkan tempat itu.

SSLE

Snape terjatuh miring ke lantai, darah memancar dari luka di lehernya. Ia berusaha untuk tetap sadar, masih ada satu lagi tugas yang belum diselesaikannya. Ia bisa merasa bahwa Voldemort meninggalkan ruangan, dan Nagini mengapung mengikutinya.

Hanya beberapa detik kemudian ia mengetahui bahwa ada orang lain di ruangan itu. Matanya melebar menemukan anak itu, Potter, keluar dari sesuatu. Tentu saja, dia memakai Jubah Gaib! Snape menyambar bagian depan jubah Potter dan menariknya mendekat.

Suara serak berdeguk menyeramkan keluar dari tenggorokan Snape.

”Ambil ... ini ... Ambil ... ini ...”

Sesuatu selain darah keluar dari Snape. Biru keperakan, bukan gas bukan pula cairan, mengalir keluar dari mulutnya, dan telinganya, dan matanya. Potter terpaku sejenak sebelum—Snape yakin itu pasti Granger—sebuah botol disihir dari ketiadaan, membuat Potter bisa memasukkan zat keperakan itu ke dalamnya dengan tongkat sihirnya. Ketika botol itu sudah penuh, dan Snape sepertinya sudah kehabisan darah, cengkeramannya pada jubah Potter mengendur.

”Tatap ... lah ... aku ...”

Mata hijau yang sangat dirindukannya.

I gotta have a reason to wake up in the morning.
You used to be the one that put a smile on my face.
There are no words that could describe how I miss you.
And I miss you, everyday. Yeah.


SSLE

”Dumbledore,” kata Harry tanpa berpikir, saat ia tiba di depan gargoyle. Betapa terkejutnya ia saat si gargoyle menggeser. Dan ia bisa dengan mudah masuk ke kantor.

Harry menuangkan kenangan Snape pada Pensieve, dan masuk, bersiap akan menemukan kejutan apa saja. Dan benar. Ia melihat semua masa kanak-kanak Snape dan ibunya. Masa sekolah mereka. Pertengkaran.

Dan betapa terkejutnya Harry melihat Snape mengunjungi rumah tersembunyi dengan ibunya di dalamnya. Masih hidup. Dan secara berkala, Snape melaporkan apa saja yang terjadi, terutama tentangnya.

Ia masih mengikuti kenangan-kenangan yang lain, sampai akhirnya ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia keluar dari Pensieve, dan terbaring di lantai kantor dengan penyesalan.

Snape! Yang selama ini dikiranya ...

Tapi tidak ada waktu lagi. Ia harus secepatnya melaksanakan apa yang direncanakan Dumbledore. Setelah itu, hal-hal lain menyusul.

Dia bergegas dalam lindungan Jubah Gaibnya. Berhenti sejenak, keluar dari Jubah untuk berbicara dengan Neville, dan kembali memakai Jubahnya.

Dia sudah sampai di Hutan. Perjalanan panjang ini telah berakhir. Pertandingan ini sudah berakhir. Snitch-nya telah ditangkap ... Snitch?

Jari-jarinya yang kebas sejenak merogoh-rogoh kantong di lehernya, dan dia menariknya keluar.

Aku membuka pada penutup.

”Aku sebentar lagi mati.”

Cangkang logam itu terbuka. Harry mengerti akhirnya, dia sesungguhnya tidak menjemput mereka, merekalah yang menjemputnya.

James muncul, sendirian. Jauh di belakangnya Harry melihat Sirius dan Lupin.

”Kau pemberani sekali, Harry!”

”Dad!”

Matanya memandang mata yang selalu dirindukannya.

”Apakah Mum ... memang belum meninggal?”

James mengangguk. “Dia dalam lindungan orang yang sangat bisa dipercaya.”

Snape. Dan Snape bahkan sudah dibunuh oleh Voldemort. Dan sejenak lagi, dia juga akan …

James menggeleng. Seperti bisa membaca pikirannya. ”Sudah kubilang, dia berada dalam lindungan orang yang sangat bisa dipercaya.”

Harry mengangguk. Harry siap kini.

Sirius dan Lupin mendekat.

”Kalian akan tetap bersamaku?”

”Sampai akhir,” kata mereka bertiga tegas.

SSLE

Harry bangun dengan perasaan tak karuan. Voldemort sudah dikalahkan, tapi jenazah Snape masih ada di Shrieking Shack! Belum ada yang mengurus!

Bergegas Harry berpakaian lagi, dan ia mengerudungkan Jubah Gaib ke seluruh tubuhnya. Entah kenapa, ia tidak ingin ada yang melihat. Sekali lagi ia melirik ke arah tempat tidur Ron. Ron tidur pulas. Aman.

Harry berjalan bergegas tapi diusahakan tak bersuara. Melewati Aula di mana banyak jenazah dibaringkan, Harry memastikan jenazah Snape belum ada di sana. Ya, bukankah hanya dia, Hermione, dan Ron yang mengetahui Snape ada di Shrieking Shack?

Harry ke luar ke halaman, mendekati Dedalu Perkasa. Dijentikkan tongkatnya, dan akar Dedalu yang tak mau diam itu kini membeku.

Harry merunduk, masuk ke dalam terowongan. Hati-hati. Ia berjalan terus sambil pikirannya bercampur aduk. Kalau saja ia melihat adegan di Pensieve itu sedari dulu! Sekarang ia baru tahu kalau Mum masih hidup! Tapi, entah di mana dia berada sekarang. Dan Snape bahkan sudah meninggal, tak akan bisa memberi tahu. Kalau saja ...

Harry tercekat. Jenazah Snape sudah tidak ada! Tapi tadi di Aula ia tidak melihat …

Hidungnya seperti mencium bau samar-samar. Harry membeku.

Wangi bunga Lily samar-samar mengisi ruangan.

Harry menghela napas. Lalu tersenyum lebar. ‘Dia berada dalam lindungan orang yang sangat bisa dipercaya’.

”Berbahagialah kalian berdua, Mum. Dan kau juga, Profesor.”

Matanya mencari ke sana ke mari. Didapatkannya sepotong kayu dari bawah ranjang. Di-Transfigurasi-nya sehingga menjadi seperti jenazah Snape. Hati-hati dibawanya keluar dari terowongan. Tanpa perlu memakai Jubah Gaib lagi, Harry menuju Aula, dan meletakkan ’jenazah Snape’ di antara jenazah-jenazah yang lain.

Hermione dan Ron berlari mendekat, nampaknya mereka baru saja bangun. “Oh, ternyata kau ke Shrieking Shack. Aku dan Ron mencari-carimu.”

Harry mengangguk. “Aku baru ingat, jenazah Snape belum kita evakuasi ke sini. Paling tidak, ia layak mendapat penghormatan terakhir.”

Mendengar kata ‘penghormatan’ Hermione langsung teringat sesuatu, “Harry, apakah lukisannya akan ada di Kantor Kepala Sekolah?”

Harry tertegun. Lalu lambat-lambat ia menjawab. ”Mungkin tidak, Hermione. Mungkin tidak, dalam waktu yang dekat ini.”

Hermione nampak tidak puas, tapi ia tidak melanjutkan.

SSLE

“Ini,” Lily masuk kamar sambil membawa nampan dengan sebuah piala berkepul panas, “Ramuan ini harus diminum paling tidak sepuluh kali dalam sepuluh hari, kalau tidak kau tidak akan terbebas dari racun Nagini.”

Snape memasang wajah pasrah, dan meneguk cairan panas itu sekali teguk. ”Itu akibatnya kalau dulu kau pernah sekelas dengan kesayangan Slughorn,” wajahnya sekarang serius, “Walau kau bergelar Potion Master, kau sekarang harus minum Ramuan yang mengerikan itu, ditambah tak boleh bergerak di tempat tidur selama paling tidak seminggu, diawasi bagai anak kecil, dan …”

“Seeeev!”

Snape tertawa. Tawa lepas pertamanya.

Lily pura-pura tidak mendengar tawa Snape, dan ia malah membuka Daily Prophet yang baru diterima tadi. Edisi hari ini benar-benar tebal, euphoria dari tewasnya Voldemort sangat terasa.

“Jadi Harry benar-benar selamat, tak kurang suatu apa,” sahut Lily sambil menutup korannya. ”Tapi di sini dikatakan bahwa mereka menguburkan jenazahmu di samping makam Dumbledore? Siapa yang …”

“Aku benci mengatakannya, Lil. Tapi kukira anak itu…”

”Harry.”

”Er .. baiklah. Harry. Dia sudah melihat pikiranku dalam Pensieve, dan aku kira dia … cukup pandai. Dia men-Transfigurasi sesuatu agar terlihat seperti jenazahku, dan itulah yang mereka makamkan. Itu kukira yang terjadi.”

Lily terlihat seperti berpikir sejenak, tapi dia kemudian duduk di sisi tempat tidur, menyandarkan kepalanya ke badan Snape. “Jadi benar-benar tak ada yang tahu bahwa kita masih hidup? Kecuali Harry?”

Snape melingkarkan kedua tangannya pada Lily, “Ya.”

”Kecuali, kalau benar-benar penting, kita harus keluar, seperti hari pernikahan Harry nanti, mungkin.”

”Mungkin. Polijus lagi saja.”

”Dan kalau ...”

Snape tak memberi kesempatan berbicara pada Lily, karena ia sudah merendahkan kepalanya dan menangkap bibir Lily dengan bibirnya sendiri.

And I'm never gonna leave your side.
And I'm never gonna leave your side, again.
still holding on, girl, I won't let you go,
Cause when I'm lying in your arms I know I'm home.


FIN

A/N lagi:
1) Adegan pertama Snape bertemu Lily, diumpamakan keluarga Potter belum mendapat perlindungan Mantra Fidelius
2) Di Buku 7, Bill jadi Penjaga Rahasia Shell Cottage, apa ia bukannya nyaris menjadi Manusia Serigala  Tongue)
3) Jadi, Snape sudah mengetahui Pettigrew jadi Penjaga Rahasia, bukan Sirius Black. Tapi dia kan dendam kesumat sama Sirius, makanya dia nggak ngomong apa-apa pada orang lain mengenai Penjaga Rahasia keluarga Potter, gitu ceritanya Tongue
4) Diasumsikan Snape sudah menguasai Occlumency/Legilimency. Mungkin Dumbledore langsung mengajarinya untuk menyembunyikan status mata-mata ganda
5) HP dan Tawanan Azkaban, 298

Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #23 on: March 12, 2008, 03:22:07 AM »

Kau Sudah Besar, Nak!

A/N:
Sambungan dari Hidden, POV Harry, —melirik sebel pada ijulsz dan piren



Matahari menyebarkan sinar terakhirnya di bumi. Kilasan warna oranye membias di cakrawala. Sejenak kemudian berganti dengan warna lembayung.

Harry malas-malasan bergerak, berbalik dari posisinya sedari tadi, di hadapan dua buah makam. Makam Dumbledore dan makam Snape. Makam kedua mentornya.

Ada rasa aneh dalam hati Harry. Dia tahu benar bahwa Snape belum mati. Tapi, entah di mana ia bisa menemuinya. Ia ingin sekali bisa bertemu dengannya. Minta maaf atas semua kelakuannya. Mengucapkan terima kasih atas semua bantuannya. Dan bercakap-cakap walau hanya sekalimat, sekalimat tanpa prasangka, seperti yang ia selalu lakukan sebelumnya.

Bagaimanakah rasanya?

Harry mengeluh. Dunia sekarang sudah damai. Kejahatan yang terjadi hanyalah kejahatan kecil-kecilan, pencurian, penipuan, seperti yang dulu sering dilakukan Mundungus Fletcher. Auror memang masih memburu dan membersihkan dunia dari mantan Pelahap Maut, tapi dengan matinya Voldemort, pekerjaan itu menjadi jauh lebih mudah.

Seharusnya ia tersenyum lebar, tapi tidak. Setidaknya, untuk saat ini. Ia memang terpaksa memasang senyum tatkala ia di depan orang banyak, tetapi di saat-saat seperti ini…

Mum!

Satu hal yang terus mengganggu sejak melihat kenangan Snape—selain penyesalannya telah salah sangka pada Snape—adalah ia ingin bertemu Mum! Bagaimana bisa Mum tidak menemuinya? Dan di saat sudah damai seperti sekarang?

Ia harus mencari Mum, tetapi ke mana?

OK. Dari kenangan Snape, ia tahu bahwa Mum pasti tinggal di tempat yang diketahui oleh Snape. Lalu, saat Pertempuran Hogwarts, di Shrieking Shack, ia tahu bahwa Mum yang membawa Snape pergi.

Di manakah mereka?

”Harry! Harry!”

Suara teriakan itu memecah lamunannya. Hermione dan Ron berlari-lari mendekatinya, Hermione terengah-engah.

”Ada apa?”

”Ya, nggak ada apa-apa sih, tapi sekarang sudah waktu makan, dan kamu bukannya berjalan ke ruang makan, malah ke arah perpustakaan...” Ron mengomentari.

”Oh. Iya. Sori, tadi lagi ngelamun,” Harry tertawa kecil, dan membelokkan arah jalannya.

”Harry, kau masih memikirkan Snape?” tanya Hermione hati-hati.

”Sedikit,” dusta Harry.

”Lebih baik kau lakukan hal-hal yang nyata, Harry. Kita sekarang ada di kelas terakhir, sebentar lagi kita ujian, lalu katanya kau ingin jadi Auror ...” Ron mulai lagi tapi keburu dipotong oleh Harry.

”Kau juga bukannya ingin jadi Auror?”

”Ya, sedikit sih,” sahut Ron salah tingkah.

Hermione lekas meluruskan percakapan, ”Harry, kukira Ron ada benarnya. Lakukan hal-hal yang nyata. Kalau kau benar-benar sedih akan Snape, mungkin kau bisa memperjuangkan agar di Kantor Kepala Sekolah ada lukisannya. Lalu, jangan sampai lelah memperjuangkan Order of Merlin, First Class. Selain itu, kau bisa membereskan penelitian-penelitiannya...”

Harry menggeleng, “Kalau soal penelitian, kukira kau saja yang membereskan. Aku tidak mengerti banyak soal Ramuan...”

”Paling tidak, kau bisa mengarsipkannya.” Hermione tidak menyinggung soal kepintarannya yang mendadak di kelas 6 dulu.

Harry menghela napas. ”Aku memang sedang mengerjakannya. Sedang memperjuangkan Order of Merlin.”

“Nah, begitu!” Hermione menepuk pundaknya. Mereka sudah sampai di depan pintu Aula Besar, di mana anak-anak berseliweran ke sana ke mari, duduk atau berdiri, makan atau menggosip—terutama gadis-gadis yang sedang menjaga penampilan dan berusaha tidak makan malam. Alangkah malangnya mereka. Aroma hidangan malam ini sungguh menggoda, bagaimana bisa diet?

Harry dan kedua temannya mencari tempat kosong. Selain dari jika ada pengumuman resmi dan sarapan di awal tahun ajaran di mana mereka harus duduk menurut asrama, sekarang mereka bebas duduk di meja mana saja.

Dapat. Mereka duduk, dan mulai makan. Seperti biasa, mereka larut dalam obrolan kanan kiri mereka, gosip, gelak tawa, ejekan ... Harry melihat wajah-wajah ceria, semua terlihat ringan sekarang.

Ia cepat-cepat menyelesaikan makannya, dan berdiri.

”Hey, kau mau ke mana?” Ron bertanya, ia baru saja memulai pudingnya yang kedua.

”Perpus,” jawabnya pendek.

”Aku tidak salah dengar?” Ron menghentikan suapannya.

”Tidak,” Harry tersenyum, ”Jangan salah sangka. Aku tidak sedang berusaha bertukar tempat dengan Hermione.”

Hermione mengangguk maklum. “Kukira ini proyek pribadimu, Harry.”

Harry tersenyum lagi.

“Hey, ada apa sih? Kok aku tidak tahu soal proyek pribadi?” Ron berdiri.

“Ron, Harry sedang berusaha menyusun biografi Snape, kenapa sih kau?”

“Oh,” Ron duduk kembali, dan mulai menghabiskan pudingnya yang ketiga.

“Yakin tidak perlu kubantu?” Hermione sangsi.

Harry menggeleng. ”Biar kukerjakan sendiri,” dan ia beranjak dari Aula Besar.

HPHPHP

Perpustakaan sepi malam itu. Anak-anak masih makan, dan biasanya malam hari Perpustakaan hanya buka sebentar sebelum akhirnya tutup jam sembilan. Tapi Madam Pince biasanya membiarkan Harry berkeliaran di sana sedikit lebih lama dari aturan.

Seperti sekarang. Biasanya Madam Pince membiarkannya dalam tumpukan buku yang ketinggiannya hanya bisa dikalahkan oleh Hermione, sampai sudah jam sepuluh malam. Memang, semua koleksi buku-buku Snape sudah dipindahkan ke Perpustakaan Hogwarts seperti surat wasiatnya. Dan Harry sedang menelusuri di sana.

Koran-koran lama dalam microfiche1) juga sudah diteliti sampai detil.

Hermione menyangka Harry ingin membuatkan biografi Snape.

Tetapi tidak. Ia sedang berusaha mencari di mana kiranya Snape dan ibunya tinggal.

Mulanya ia mencari dari bentuk rumah yang dilihatnya dalam kenangan Snape. Ternyata itu sia-sia. Rumah seperti itu ada ribuan di seluruh Inggris, rumah yang sangat biasa. Spinner’s End, jelas bukan.

Lalu, lingkungan sekitar, yang hanya terlihat sedikit-sedikit. Juga sia-sia. Tidak ada yang unik.

Ia mencari lagi dari benda-benda yang ada di dalam rumah, sama saja. Tidak ada suatu apapun yang menunjukkan lokasi secara spesifik.

Ia teringat wangi bunga Lily samar-samar yang ia cium di Shrieking Shack. Dicarinya tempat-tempat di mana dijual parfum wangi bunga Lily, beredar di mana-mana di seluruh Inggris. Di mana kira-kira ada perkebunan Lily? Mungkin ibunya membuat parfum sendiri? Tidak ada petunjuk.

Tak ada sesuatupun yang unik.

Harry mencari hal-hal lain, hal-hal yang menjadi kesukaan Snape, misalnya. Sama saja ternyata dengan mencari merek shampo yang disukainya! Selain dari bahwa ia merebus Ramuan, tidak ada hal lain yang ia temukan dalam koran-koran. Buku-buku dan artikel jurnal yang ditulisnya, hanya mengenai Ramuan. Ramuan Sihir Putih atau bahkan Ramuan Sihir Hitam.

Jam sudah menunjukkan waktu yang sangat larut. Nyaris jam dua belas! Madam Pince benar-benar membiarkannya tinggal di perpustakaan! Ia meregangkan badannya. Besok mungkin akan ada ide baru, pikirnya, dan ia membereskan buku-buku yang tadi dibacanya. Nyaris ia terlompat melihat Peeves duduk terkantuk-kantuk di kursi Madam Pince! Madam Pince bahkan membiarkan Peeves mengawasinya!

Harry mengeluh.

HPHPHP

Hari Sabtu, semua orang sedang melakukan apa saja selain belajar. Harry bersyukur bahwa Hermione sekarang lebih sering menghabiskan waktu dengan Ron, sehingga mereka tidak selalu harus bertiga. Ginny, tadi ia sudah bercakap dengannya sejenak, dan ia sudah menugaskan Ginny melatih tim cadangan Quidditch, jadi ia bebas juga darinya.

Sepertinya kejam, tapi beberapa hari belakangan ini ia benar-benar ingin sendiri.

Seperti Sabtu yang cerah ini, ia sudah berada lagi di depan makam kedua mentornya.

Melamun seperti biasa.

Dan tidak memperhatikan, pada awalnya, seekor burung kecil, putih, melompat-lompat dan mencuit-cuit di hadapannya, di nisan Snape.

“Hi,” sapanya sambil tersenyum. Burung yang lucu! Tangannya meraih akan menangkapnya, tapi burung itu gesit, mengelak. Bahkan melompat lebih jauh, sambil tetap mencicit cuit.

Gayanya seperti hendak mengatakan, ’ayo, kejarlah aku! Tangkaplah aku!’

Tak sadar Harry terus mengikuti arah burung itu melompat-lompat. Makin lama makin jauh, dan keluar dari halaman Hogwarts. Dan burung itu mulai terbang.

Terbangnya tidak jauh dan tidak tinggi. Sepertinya ia yakin ia diikuti, jika Harry kehilangan arah ke mana burung itu pergi, ia akan kembali sampai bisa dilihat oleh Harry.

Sampai cukup jauh.

Burung itu membelok kembali ke arah Harry, dan hinggap tepat di punggung tangan Harry. Refleks tangan Harry yang lain membelai burung kecil lucu itu …

Dan membawanya berputar melalui deru angin berwarna-warni sebelum ia terjatuh dengan kaki di atas tanah yang lunak dan kering. Harry masih menyeimbangkan diri dan membiasakan matanya sebelum ia benar-benar siap.

Untung saja ia tidak sengaja menggenggam tongkat sihirnya!

Karena begitu ia siaga, ternyata di hadapannya ada segerombolan orang, semua menggenggam tongkat sihir, jelas-jelas bermaksud menghadapinya!

Seorang dari mereka, sepertinya pemimpin mereka, maju dan tertawa terbahak-bahak2) ”Harry Potter! Tangkaplah burung itu, dan kau kubawa tempat yang kuinginkan!” ia tertawa lagi.

Harry terdiam. Rasanya orang ini ia kenal, dan kemungkinan besar Pelahap Maut! Ya! Ia orang yang lari dari Azkaban bersama Bellatrix. Apakah ia … suaminya?3)

“Kau Rodolphus?” sahut Harry sangsi.

Pria itu tertawa lagi. “Cukup pandai. Kau bisa lulus ujian Mengenali Tersangka di Pendidikan Auror. Itu kalau kau bisa lolos dari kami,” dan ia tertawa lagi.

Bagaimana ia bisa lolos? Ada banyak sekali orang mengelilinginya. Harry sangsi mereka semua Pelahap Maut, mungkin saja sebagian besar hanyalah penjahat biasa. Penjahat yang semakin sedikit ruang lingkup kejahatannya karena terus dipatroli oleh Auror.

Ia mempererat pegangannya pada tongkatnya. Sekarang ia harus memikirkan, bagaimana agar lolos dari mereka, jangan memikirkan bagaimana bisa membunuh mereka. Sebanyak itu?

”Tigapuluh orang4). Kau pikir kau bisa lolos dari kami?” Rodolphus menyiapkan tongkatnya, tak tertawa kini. ”Kau pikir kau bisa senang sekarang? OK, di mana-mana ada banyak Auror. Tapi aku harus membalas dendamku. Bukan tentang Pangeran Kegelapan, aku hanya akan membalas dendamku atas Bella, dan adikku Rabastan! Dan aku sudah merencanakan ini sejak lama. Fantastik bukan, bagaimana kau sekarang tak bisa lolos?”

Tanpa peringatan ia mengirim kilatan merah dengan tongkatnya, yang untungnya bisa dihindari Harry. OK, ini pengamanan, pikir Harry cepat, dan ia merapal ’Protego!’ untuk melindungi dirinya, sekaligus cepat-cepat mengarahkan ‘Stupefy!’ pada orang terdekat. Berguling ke samping, ia merapal lagi ’Stupefy!’, lalu merunduk menghindari mantra yang datang, entah apa, lalu secepat kilat mengirim balasannya, ’Expelliarmus!’.

Kecepatan bergerak plus mata yang tajam yang dipunyainya sebagai Seeker sungguh berguna. Apalagi, orang-orang ini sebenarnya bukan Pelahap Maut. Mungkin hanya ada tiga-empat Pelahap Maut di antara mereka, sehingga Kutukan-Kutukan yang dihindarinya bukan Kutukan Mematikan.

Dan tanpa disadarinya, ada mata mengamati di balik pohon.

HPHPHP

5)
Lawan memang sudah berkurang dengan drastis, tetapi kekuatan Harry juga berkurang dengan drastis. Memang benar bahwa dia mampu mengalahkan Voldemort, tetapi mengalahkan tigapuluh orang sendirian?

Tanpa sempat menghitung, mungkin sekarang yang tersisa sekitar tujuh atau delapan orang. Lelah dan tak fokus akibat darah yang meleleh dari dahi turun ke salah satu mata, tiba-tiba Harry teringat sesuatu.

Ia tidak boleh kalah.

Bagaimanapun, ia adalah pemegang Tongkat Elder. Jika sampai kalah, maka Tongkat Elder—bukan secara fisik—akan berpindah tangan pada orang yang mengalahkannya.

Ia. Tidak. Boleh. Kalah.

Baiklah. Kalau begitu, ia akan gunakan saja mantra yang sebenarnya ia tidak suka menggunakannya. Lagi. Sekaligus pada sisa musuhnya yang masih ada. Menghabisi musuhnya, sekaligus menghabiskan tenaganya.

Sectumsem...”

Dan terpapar kilasan yang menyilaukan, nampaknya mantra itu kena sasaran. Semuanya.

Kecuali kenyataan bahwa mantra itu bukan berasal darinya. Harry bahkan belum selesai merapal mantra itu.

Tapi tak ada waktu untuk memikirkannya, karena detik berikutnya gelap.

(lanjutannya di bawah)
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #24 on: March 12, 2008, 03:23:18 AM »

(sambungan dari atas)
HPHPHP

Saat ia sadar, yang dilihatnya adalah dinding dan langit-langit kamar yang putih bersih dan samar-samar beraroma bunga Lily.

Bunga Lily?

Tersentak ia berusaha untuk bangun.

“Tenang dulu, anakku!”

Ia menoleh, suaranya dari pintu. Samar-samar ada sesosok wanita membawa sesuatu. Mum? Mum-kah itu?

Mum tersenyum, duduk di sisi pembaringan, meraih sesuatu dari meja di sampingnya. O ya, kacamatanya! Memasangkannya. Jelas sekarang. Benar-benar Mum! Tak berbeda sehelai rambutpun dengan kenangan Snape yang diberikan padanya!

”Mum?”

Mum masih tersenyum. Menyimpan piala di meja, lalu mengulurkan kedua tangannya. Refleks Harry masuk ke dalam pelukannya, haus rindu, kangen, dan entah apa lagi rasa hatinya.

Entah berapa lama ia berada dalam pelukan ibunya, lalu ibunya melepas pelukannya sedikit. ”Severus membuatkan ini untukmu. Minum dulu,” katanya memberikan piala yang tadi dibawa.

Harry menerimanya, tapi, ”Ia ada di sini, Mum?”

Mum tersenyum lagi, mengangguk. ”Tentu saja.”

Harry menatap piala di tangannya, lalu tanpa bicara, ia menghabiskan isinya. Masih panas sebenarnya, tapi ia tak peduli.

”Di mana sekarang ia, Mum?”

Ibunya menengok ke pintu, ke ruangan lain di sampingnya. Harry bangkit, terduduk, cukup untuk bisa melihat ke ruangan di sampingnya.

Snape berdiri di ruangan itu, melipat tangannya, melihat padanya.

Harry bergeser ke samping pembaringan, membuka selimutnya, menurunkan kakinya, berdiri melalui bagian belakang ibunya, berpegangan di bahu ibunya sejenak untuk menyeimbangkan cara berdirinya, dan ia langsung bergerak ke ruangan sebelah. Berhenti tepat di hadapannya.

”Sir?”

”Biasanya juga kau selalu memanggil nama keluargaku, Potter?” senyum sinis membayang.

Tapi Harry tak peduli. Refleks, ia maju dan memeluk Snape.

Snape terkejut. Tapi detik berikutnya ia balas memeluknya, canggung.

Lily entah tertawa entah menangis melihat mereka berdua, tapi kelihatan sekali ia bahagia.

Saat Harry melepas pelukannya, baju Snape sudah basah di bagian bahu. Harry melepasnya dengan malu, tapi kelihatannya Snape tidak peduli. Ia mendorong Harry halus, kembali ke pembaringan. Harry duduk di sisi pembaringan.

“Saya minta maaf, Sir, atas semua yang sudah saya lakukan. Saya juga ingin berterima kasih ...” Harry berkata tak tentu arah, saking gugupnya.

Snape menghela napas. “Sudahlah. Lupakan.”

Ia duduk di sebelah Lily, di sisi pembaringan juga. “Rodolphus Lestrange ternyata? Tak kukira dia masih bisa lolos dari pembersihan Auror. Untung saja kali ini ia tak bisa lari!”

”Jadi, yang merapal Sectumsempra itu Anda, Sir?” Harry menatapnya kagum.

“Panggil Severus saja, Potter.”

“Tidak, selama Anda memanggilku Potter,” Harry menantangnya.

Snape terkekeh. “Baiklah. Harry.”

Harry tersenyum. “Severus. Jadi, sedang apa kau di sana?”

Tangan Snape menyentuh bahu Lily, ringan, ”Ibumu yang meminta. Ia ingin tahu keadaanmu.”

”Mum? Tapi kenapa kau tidak menemuiku saja?”

Lily menghela napas. ”Aku juga sering melihatmu. Paling tidak, tidak boleh ada orang lain yang tahu. Karena itulah aku sembunyi-sembunyi melihatmu. Dari sejak kau beralih pemeliharaan ke tangan Petunia, aku sudah sering melihatmu. Aku juga melepasmu pergi saat di King’s Cross yang pertama kali. Dan entah sudah berapa ratus kesempatan aku melihatmu, dengan wujud yang lain.”

”Polijus?” tebak Harry.

Lily mengangguk. ”Sayang sekali aku tidak bisa melakukan Animagi, kalau tidak ...”

Harry memeluknya lagi. ”Mum, oh, Mum!” Rasanya tak kan cukup seumur hidup memeluknya, sebagai ganti yang hilang selama ini.

“Kau … bahagia?” tanyanya penasaran. Dirasanya kepala Mum mengangguk di bahunya.

“Selain dari rasa iri ingin merasakan semuanya bersamamu, aku bahagia, ya! Aku sadar, aku hanya bisa melihat. Tapi aku bahagia, melihat kau bahagia, Harry! Ya, selain dari perlakuan dari Petunia dan keluarganya ..”

”Tidak apa-apa,” tukas Harry cepat, ”Itu sudah tidak penting lagi. Lagipula, kupikir belakangan mereka semakin baik padaku,” senyumnya.

Lily melepaskan pelukannya, tapi tangannya masih berada di bahu Harry. Matanya meneliti wajah Harry dengan seksama.

”Kau sudah punya pacar?” matanya menggoda.

Rasanya wajah Harry memerah dan terasa hangat.

”Ayolah, kau kan sekarang sudah besar!” mata hijau itu makin jenaka.

”Ada ... eh, ...”

”Namanya?”

”Ginny. Ginny Weasley.”

”Yang kau selamatkan dari Voldemort di tahun kedua?”

Harry mengangguk.

”Aku kenal Molly! Dia baik sekali, dan walau mereka miskin, tapi tak segan-segan menjamu kami Orde Phoenix dengan sup bawang yang lezat di malam yang dingin sehabis kami rapat.”

Harry mengangguk lagi. ”Ya. Dia seperti ibu pengganti untukku. Selalu menambah porsi kalau aku baru keluar dari Privet Drive, memperkirakan kalau aku selalu kekurangan makan di sana...”

Lily tak puas-puasnya memandang wajah Harry, dan mendengar cerita-cerita Harry yang lain lagi. Tapi Lily akhirnya berkata, ”Harry. Sebenarnya aku ... aku ingin … berbicara sedikit denganmu.”

“Ada apa, Mum?” Harry nampak heran.

Lily menghela napas, menoleh meminta saran dari Snape. Tapi Snape hanya mengangguk, dan menyuruhnya meneruskan sendiri.

”Aku dan Severus ... bermaksud ... akan menikah.”

Harry tersenyum, dan memeluknya lagi. “Lalu memangnya kenapa, Mum?”

Lily kembali menoleh pada Snape. ”Kau anakku. Tentu saja kau berhak tahu.”

Harry melonggarkan pelukannya sedikit, tersenyum dan menatap ibunya, ”Kukira Dad juga setuju.”

”Darimana kau tahu Dad ...”

”Waktu aku bersiap untuk menyongsong kematian, untuk dibunuh oleh Voldemort,” kali ini tidak ada yang berjengit samasekali mendengar nama itu, ”aku ... masuk ke alam ... limbo? Bertemu dengan Dad, Sirius, dan Remus. Aku tanya Dad, apakah kau memang masih hidup? Dad bilang, kau ada di bawah lindungan orang yang sangat bisa dipercaya.”

Mata Harry menatap Snape saat ia berbicara. Ada kelembutan dalam sinar mata hitam itu, yang belum pernah ia temukan.

Lily tersenyum. “Jadi .. kau setuju?”

Harry mengangguk.

Lily memeluknya lagi, masih tersenyum, masih berurai air mata. Lama baru dilepas.

Snape berdeham di belakang Lily. “Kalau kau setuju .. jika kau mau … maukah kau menjadi best man? Pria pendamping?”

Wajah Harry berseri-seri. ”Tentu.” Lalu dengan air muka yang lebih serius, ia berkata sungguh-sungguh, “Kau sudah seperti ayah bagiku.”

Keheranan, Snape menaikkan suaranya, “Mengapa demikian? Bukankah aku tak pernah berbaik hati padamu selama itu?”

Harry masih berwajah serius, ”Apakah ayah yang baik itu adalah yang hanya berkata manis-manis pada anaknya? Atau justru yang selalu berkata yang sebenarnya, walau pahit? Bukankah obat itu pahit tapi menyembuhkan, sedangkan permen itu manis dan membuat gigi sakit?”

Harry sendiri keheranan akan pilihan kata-katanya, dan lebih heran saat Snape tersenyum. ”Baiklah. Kalau ayah seperti itu yang kau mau.”

Keduanya tersenyum, dan Lily malah menangis dan menutup hidungnya dengan tisu, berlari keluar dari ruangan sambil terisak menutup seluruh wajahnya. Harry dan Snape saling menatap, mengangkat bahu, kemudian bersamaan mereka berkata, ”Dasar perempuan.”6)

HPHPHP

Snape mengarahkan tongkatnya ke arah bekas luka di kening Harry, dan komat-kamit mengucapkan mantra. ”Jadi,” sahutnya beberapa detik kemudian, ”kalau kau ingin bertemu dengan kami, tinggal pegang bekas lukamu, pejamkan mata, dan bayangkan ibumu. Dan kau akan segera berada di sini, atau di manapun ibumu berada.”

Harry mengangguk. ”Jika kalian sudah menentukan waktu pernikahan, beritahu aku ya.”

”Tentu,” Lily memeluk anaknya, ”Kau kan pria pendampingnya, tentu saja ia akan memberitahumu. Kalau tidak, siapa yang akan membawakan cincin?”

Ketiganya tergelak.

”O ya,” sahut Snape, ”mayat-mayat Pelahap Maut dan entah siapa lagi penjahat itu, sudah aku tumpukan di tempat tadi. Kubuat seperti hasil kerjamu. Sekarang juga, kau akan di-portkey-kan ke tempat tadi.”

Harry mengangguk dan mengeluh, ”Resiko orang terkenal,” sahutnya lirih, dan mereka tertawa lagi bersama. “Baiklah,” sahutnya serius, “aku siap.”

“Hati-hati.”

Harry mengangguk. “Kalian juga. Dan berbahagialah selalu.”

Ia menyentuh ujung tong sampah di dekatnya, dan mulai berputar.

FIN

Catatan di Kaki:
Snape-nya OoC nggak ya?Hihi..
1) euh, emangnya Perpustakaan Hogwarts pakai microfiche? Itu, alat untuk membaca koran lama biar nggak usah menyentuh korannya secara fisik. Ya, microfiche sihir kali ya? Buka gugel-imej biar tau seperti apa bentuknya, ya!
2) seperti dalam film-film dan sinetron-sinetron Indonesia, penjahat selalu tertawa terbahak-bahak, dan diikuti oleh anak buahnya Tongue
3) males nyarinya, tapi anggaplah suaminya Bellatrix, Rodolphus Lestrange, belum mati dan bisa menghindar dari para Auror. Jadi, di sinilah ia sekarang. Dan akhirnya mati Tongue
4) tigapuluh demons bisa di-exorcise sekaligus oleh Dean-Sam-Henriksen di Supernatural:Jus in Bello, hihi, sori spoiler!
5) kalau dalam film, jeda semacam ini adalah buat naro iklan. Kalau di sini, biar satu adegan cepet berlalunya. Habis Ambu ga bisa bikin adegan fighting sih!
6) sebenernya kalimat ini diambil dari Harry Potter dan Piala Api hlm 435 dengan penyesuaian, tapi tokohnya Harry dan Ron Tongue

Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #25 on: March 12, 2008, 03:26:16 AM »

HUTAN LAGI

A/N: Paragraf yang dicetak italic diambil dari halaman 919-922 Harry Potter dan Relikui Kematian, dengan penyesuaian.

HPHPHP

Harry berjalan terus, dan sekarang dia tiba di tepi Hutan, dan dia berhenti.

Permainan panjang ini telah berakhir, Snitch-nya telah ditangkap, sudah waktunya meninggalkan angkasa...

Snitch. Jari-jarinya yang kebas sejenak merogoh-rogoh kantong di lehernya, dan dia menariknya keluar.

Aku membuka pada penutup.

Dia menekankan bola emas itu ke bibirnya dan berbisik, ”Aku sebentar lagi mati.”

Batu hitam dengan retakan bergerigi sepanjang tengahnya tergeletak dalam dua belahan Snitch. Harry mengerti. Dia sesungguhnya tidak menjemput mereka: merekalah yang menjemputnya.

Dia memejamkan matanya, dan memutar batu di dalamnya, tiga kali.

Gerakan-gerakan pelan di sekitarnya, sosok-sosok rapuh bergerak. Dia membuka mata dan memandang berkeliling.

James persis sama tinggi dengan Harry. Sirius jangkung dan tampan, dan jauh lebih muda daripada yang pernah dilihat Harry. Lupin juga lebih muda, jauh lebih tidak lusuh, rambutnya lebih tebal dan lebih gelap.

Senyum Lily yang paling lebar dari semuanya.

“Kau pemberani sekali.”

Harry tak bisa bicara. Matanya menatap ibunya.

”Kau sudah hampir tiba,” kata James. ”Sudah sangat dekat. Kami sangat ... bangga akan kau.”

”Aku tak ingin kalian mati,” kata Harry. Kata-kata ini muncul di luar kemauannya. ”Tak ingin siapapun mati. Aku minta maaf—” dia menyapa Lupin lebih dari yang lain, ”Tepat setelah kau punya anak ... Remus, aku menyesal—”

”Aku juga menyesal,” kata Lupin. ”Menyesal aku tidak akan pernah mengenalnya,” tetapi dia akan tahu kenapa aku mati dan kuharap dia akan mengerti aku sedang berusaha menciptakan dunia tempat dia bisa menjalani hidup yang lebih berbahagia.”


”Bukan hanya dia yang sedang berusaha,” James menengahi, “Kami semua sedang berusaha,” tandas James. ”Kami semua,” katanya menekankan sambil kepalanya menoleh ke kanan, agak lebih ke belakang.

Harry mengikuti arah pandangannya. Sesosok gelap, hitam, terdiam. Mengikuti insting, Harry bergerak ke arah pandangan James. Harry tahu, dia benar. Setengah berlari ia mendekati sosok gelap itu.

Dari dekat, sosok itu tidak gelap. Hanya pakaiannya yang memunculkan kesan gelap, tetapi wajahnya justru memancarkan cahaya, tidak menyilaukan. Tapi menyejukkan. Matanya memancarkan kedamaian.

Harry berhenti hanya dua langkah di depannya.

“Profesor.”

“Aku sudah bukan Profesor-mu lagi.”

“Bagi saya, Anda akan tetap menjadi Profesor.”

Snape menghela napas. Tapi matanya lekat menatap wajah Harry. ”Ibumu benar. Kau pemberani sekali.”

Harry menggeleng. ”Tidak. Anda yang pemberani.” Snape sudah akan menyela, tetapi Harry cepat menyambung, “Saya hanya akan melakukan ini sekali. Anda melakukannya berulang kali, over and over.” Harry menelan ludahnya. ”Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya Anda lakukan. Semua hanya mencela, menggunjingkan, menghina ... termasuk saya. Menyumpahi, bahkan bermaksud membunuh kalau bisa.”

Snape tersenyum getir. ”Bukankah aku cukup pandai berakting, kalau begitu?”

Harry terpaksa tersenyum. ”Walau Anda tahu begitu banyak resiko, tetap saja Anda lakukan. Anda jauh lebih berani dari yang saya duga.”

Snape menghela napas lagi. ”Kau tahu untuk apa aku melakukannya.”

Harry mengangguk. ”Tapi Anda juga tahu apa akibatnya, apa hasilnya bagi dunia! Anda seorang pahlawan!”

Snape menunduk dan menggeleng. ”Tidak. Terus terang, tak pernah terlintas dalam pikiranku.” Ia mengangkat wajahnya, dan pandangannya terkunci oleh tatapan Harry.

Kalau saja ia bisa melihat tatapan seperti ini, dipancarkan oleh kedua mata hitam ini saat ia masih hidup, tentu saja cerita akan jadi lain, keluh Harry dalam hati. Pandangan seorang mentor pada muridnya, nyaris sama seperti pandangan Dumbledore padanya.

Sejenak ia merasakan keteduhan, kehangatan. Lalu, ”Maukah ... maukah Anda ikut bersama saya?”

Snape mengangguk. Harry tersenyum lega. Tetapi senyum itu lenyap sesaat Snape menambahkan, ”Hanya jika mereka menyetujui.”

Harry baru menyadari kalau ayah, ibu, Sirius, dan Remus sudah berdiri tepat di belakangnya.

”Kami senang menerimamu, Sev.”

”Satu kekuatan tambahan lagi, agar Harry lebih tegar.”

”Lebih baik tambahan satu Slytherin sepertimu, daripada seorang Gryffindor seperti ... seperti ... seperti ... aaaargh!”

Remus menepuk bahu Sirius, ”Tidak perlu mengucapkan namanya, Padfoot!”

Angin dingin yang rasanya muncul dari dalam jantung Hutan mengangkat rambut di dahi Harry. Dia tahu mereka tidak akan menyuruhnya berangkat, bahwa itu haruslah keputusannya sendiri.

“Kalian akan tetap bersamaku?”

“Sampai akhir,” kata James.

“Mereka tak akan melihat kalian?” tanya Harry.

”Kami bagian darimu,” kata Sirius. ”Tak kelihatan bagi orang lain.”


Wajah Harry serius, tapi berseri dengan kelima pengiringnya.

FIN

kematian dalam cerita tak membuat cerita itu menjadi sad-ending story Tongue

Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #26 on: March 12, 2008, 03:29:36 AM »

Rodent? Rapier!



“Jadi, penghasilan kita selama sebulan ini …”

”...sudah tiga kali lipat dari bulan kemarin, ...”

”... padahal perang sepertinya masih akan lama ...”

”Sudah kubilang ...”

”...bahwa di tengah perang akan banyak yang perlu tertawa!”

Keduanya tertawa berbarengan. Di atas meja terhampar perkamen lebar yang berisikan catatan keuangan toko lelucon mereka.

”Kalau kupikir-pikir, sebenarnya keuntungan sebesar ini justru dihasilkan bukan dari barang-barang lelucon,” Fred menggulung perkamen di atas meja itu.

”Ya. Siapa mengira kita malah menjadi supplier Kementrian untuk barang-barang pengamanan seperti ini?” George kemudian menyimpan dua gelas kosong di atas meja, berdiri untuk mengambil buyung mead di lemari, dan menuangkannya di gelas-gelas sampai penuh. Diambilnya satu, ”Cheers!”

”Cheers!” Fred mengikutinya, bersamaan mereka meminumnya. George sudah sedang menuangkan mead kedua ketika terdengar ketukan di pintu.

“Kubuka,” sahut Fred sambil berjalan ke arah pintu dan membukanya. ”Lee! Tepat waktu!” ujarnya, berjalan ke arah lemari dan mengambil gelas kosong satu lagi.

“Hai, hai, hai! Sedang merayakan apa?”

”Penghasilan bulan ini, tentu saja,” George nyengir dan menuangkan mead di gelas Lee Jordan.

“Cheers!”

“Cheers!”

“Cheers!”

“Ada sesuatu yang menarik, Lee?” George lagi-lagi mengisi gelas-gelas.

“Aku sedang berpikir-pikir tentang kata-kata Kingsley tempo hari. Bahwa kita bisa berbuat apa saja untuk mendukung perang ini, selain dari bertempur.”

”Kita bisa membantu bahkan ...”

”... dengan membuka toko lelucon ...”

Lee nyengir. Lalu ia melanjutkan, ”Kemarin aku mendapat kabar bahwa paman Rocky, yang biasa jadi penyiar WWN, meninggal. Dibunuh Pelahap Maut.”

”Kami menyesal mendengarnya, Lee,” Fred dan George serempak menyahut.

“’Makasih. Kami sekeluarga sudah menyiapkan diri untuk mendengar berita yang buruk seperti itu hari-hari belakangan ini, jadi … yah, tidak terlalu berat mendengarnya. Tapi paman Rocky meninggalkan surat wasiat. Di antaranya, dia mewariskan peralatan studio radio sihir padaku!”

”Wow!”

Cool!”

”Lalu ...”

”Lalu, melintaslah pikiran di kepalaku. Bagaimana kalau kita membuka siaran bawah tanah? Jadi seperti meneruskan perjuangan paman Rocky, dan semua yang sudah menjadi martir dalam perang ini!”

”Hei, ide bagus!”

”Biar kita dikejar-kejar sedikit ...”

”... unsur ketegangan ...”

”Ya, betul!” Lee tergelak, ”Penyiar tegang, pendengar tegang juga, takut kalau tiba-tiba digerebek Snatchers! Suasana yang dramatis!”

“Walau demikian,” Fred melipat tangannya di dada, yang satu memain-mainkan ujung bibirnya, “kita harus punya mekanisme pengamanan. Tidak lucu kalau baru sepuluh menit siaran sudah digerebek, dan tidak pernah bisa siaran lagi untuk selama-lamanya. Yang menyenangkan itu, kalau nyaris digerebek, kita menghilang, dan Snatchers gigit jari, lalu ada siaran lagi di lain hari, menertawakan mereka…”

“Karena itulah aku ke sini,” Lee mengemukakan, “mungkin kalian bisa membantu memikirkan.”

”OK. Jadi bagaimana caranya ...”

”... agar pendengar tenang ...”

”... tapi para Snatchers tidak bisa ...”

“ … mendengarkan …”

“Aku tahu!” George tiba-tiba berdiri. “Dad! Tunggu ya!” dan ia ber-DisApparate dengan mulus.

“Dad?” Fred heran, “apa hubungannya dengan Dad?”

Lee mengangkat bahu. “Apa ada hubungannya dengan pemantauan pemancar gelombang? Tapi itu kan dipusatkan di Kementrian? Dan ayahmu sudah lama tidak menginjak Kementrian lagi?”

PLOP!

George kembali lagi dengan sebuah benda di tangan. Persegi, hitam, nampaknya agak berat, dan ada kabel-kabel menjulur dari satu sisi, mungkin itu bagian belakangnya.

“Ini!” sahutnya terengah-engah, tapi antusias. ”Barusan aku ke The Burrow, ke gudang. Pengamanan sih bisa aku kelabui, cuma sekedar Snatchers. Tapi mencari alat ini di gudang, rada ribet juga! Tapi, inilah akhirnya!”

“Apaan sih?” Lee penasaran, menjulurkan kepalanya mendekati George.

”Aku tak tahu namanya, jammers-jammers gitu, tapi Dad dulu bilang, ini alat untuk mengacaukan gelombang. Pengacak. Alat kaum Muggle.”

“Yeah! Hidup Muggle-lovers! Kadang aku bingung, sebenarnya Muggle itu tahu sihir nggak ya, kadang-kadang alat ciptaan mereka seperti punya sihir juga. Tak heran Dad cinta banget sama Muggle,” Fred terkekeh.

“Bagaimana alat Muggle bisa bekerja mengecoh sihir?” Lee masih bingung.

”Alat ini mengacak gelombang, sehingga tidak bisa dilacak orang lain. Tapi, dengan bantuan sihir, kita mungkin bisa membuatnya bisa dilacak, oleh orang-orang tertentu saja!” George menjelaskan.

“OK. Gelombangnya diacak. Lalu, bagaimana kita memilih orang-orang yang bisa melacaknya?” tangan Lee pindah ke keningnya.

”Bagaimana ... kalau kata kunci?” Fred berdiri, berjalan penuh gairah ke lemari di sudut, dan mencari-cari sebuah buku dari sana. ”Begini, Lee, pada saat siaran pertama, semua orang bisa mendengarnya. Karenanya, hanya orang-orang tertentu saja yang kau beritahu channelnya. Di siaran itu, pendek saja, beritahu kata kunci untuk siaran selanjutnya. Lalu kita acak gelombangnya. Setelah itu, orang yang ingin mendengar siaran selanjutnya, harus mengatakan kata kunci yang tadi kita berikan ...”

” ... sambil mengetukkan tongkat ke radio mengatakan kata kunci, maka dia akan otomatis dibawa ke gelombang yang benar. Kalau dia tidak mengatakan kata kunci ...” sahut George.

”... walau dia ada di gelombang yang benar, dia tidak akan mendengar apa-apa! Brilian!” Lee nyaris berteriak. “Sudah ketemu bukunya?”

Fred menggeleng, masih mencari-cari. “Mana sih? Aku tahu, ada mantra seperti itu, tapi bukunya mana?”

“Radionya belum punya nama?” George iseng menanyakan.

“Kukira Potterwatch, atau Rebellion, atau …”

“Potterwatch! Keren!”

“Siapa saja yang akan siaran?” George membantu Fred mencari buku.

“Yang sudah mengatakan akan membantu, Remus dan Kingsley. Mereka bersedia menjadi kontributor tetap. Yang lain akan datang dan pergi sesuai kebutuhan.”

“Hei,” George berhenti mencari, “bagaimana kalau nama samaran? Kita bisa mengenali suara, tapi kalau kita saling menyapa dengan nama samaran, Snatchers atau Pelahap Maut yang kebetulan bisa mendengar, tidak akan menyangka ...”

”Nama samaran? Cool! Kita cari nama yang bagus, sehingga percakapan akan terus mengalir walau dengan nama yang ... mengalir? Aku River!”

”Dapat!” Fred akhirnya mengeluarkan sebuah buku tipis di belakang tumpukan buku lain. ”River? Keren! Aku namanya apa ya?”

”Sudah dapat bukunya? Kukira kita ke tempatnya Lee saja sekarang, memasangkan pengacak, dan mencoba mantranya,” George menunjuk buku yang sedang dibersihkan dari debu oleh Fred. ”Eeew! Bukunya digigit tikus nampaknya!”

”Ya,” Fred membuka-buka halamannya, ”Untung hanya pinggirannya saja. Tidak ada tulisan yang kena. Dasar pengerat!”

”Haha!” Lee terbahak, ”Nama samaranmu sebaiknya Rodent saja, Fred! Pengerat!”

”Apa?” Fred nyaris terguling, ”Rapier! Aku ingin jadi Rapier, Lee! Pedang yang tajam!”

Lee masih tertawa, “Rodent!” katanya sambil bersiap-siap ber-DisApparate. PLOP!

George juga tertawa, “Rodent, wekekek!” lalu dia menyusul Lee. PLOP!

“Wooooei! Tunggu!” Fred bersiap ber-DisApparate, tapi tak lupa menyanggah, “Rapier! Bukan Rodent!” PLOP!

FIN
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #27 on: March 12, 2008, 03:34:18 AM »

SEMBILAN BELAS TAHUN KEMUDIAN

untuk herda, untuk apocrief, untuk muscat



Peron 9 ¾, saat ini samar terlihat karena tebalnya asap  putih yang membubung dari Hogwarts Express. Sosok-sosok tak jelas berseliweran di dalam kabut.

Dua puluh enam tahun yang lalu, penuh harapan, aku juga ada di sini, keluh Draco. Tidak ada seorangpun yang mendengarnya, tidak, karena ia tidak meyuarakannya. Tanpa suara ia berjalan di depan, diikuti Astoria Greengrass istrinya, dan Scorpius anak satu-satunya mendorong troli. Menurut siapapun yang bertemu dengannya, Scorpius sangat mirip dengannya.

Jasmaniah, memang, Draco mengusap keningnya yang sekarang semakin meluas. Tapi sifat tidak. Scorpius lebih mirip dengan neneknya, Narcissa. Lebih pendiam. Kalau mengerjakan sesuatu harus sempurna, tapi kalau tidak bisa, ia lebih suka diam, memandangi hasil karyanya, mempelajari sebab-sebabnya, dan mengulanginya lagi, tanpa suara.

Ia bisa tekun merawat seekor anak anjing yang terluka dari pinggir jalan, gembira saat anak anjing itu bisa berlari kembali. Gembira saat anak anjing itu tumbuh besar. Tak mempedulikan bahwa ayah atau kakeknya bisa membelikan anjing yang lebih indah, turunan trah terlacak, yang jauh lebih mahal harganya.

Draco berhenti sejenak ketika seekor anjing lewat di depannya, berikut pemiliknya yang terhubung dengan seutas tali. Tanpa suara ia mengambil troli Scorpius, dan langkahnya berbelok ke pintu salah satu gerbong. Scorpius mengikutinya. Draco naik ke gerbong dengan koper Scorpius, keduanya mencari kompartemen yang masih kosong. Draco meletakkan koper di tempat barang. Ia turun lagi, berikut Scorpius. Masih ada beberapa menit sebelum berangkat.

Draco memandang ke segala arah, masih tanpa suara. Asap agak menipis saat ia melihat rombongan itu.

Wanita berambut kecoklatan, ikal, yang ia kenal benar di masa-masa Hogwarts dulu. Ia sibuk mengatur anak-anaknya. Kelihatannya anaknya yang perempuan yang akan berangkat ke Hogwarts sekarang.

Mata mereka bersirobok.

Bagai slide film yang diputar dengan cepat, memori susul menyusul.

Tahun pertama di kelas Ramuan, ia selalu mengacungkan tangan saat Snape bertanya, meski pertanyaan itu tidak ditujukan padanya. Dan ia sudah menarik perhatianku, keluh Draco. Di tahun berikutnya, Draco terpeleset lidah dan menghinanya dengan kata Darah-Lumpur. Kenapa, Draco, kenapa kau selalu tak berpikir dulu saat berkata?  Dan tahun berikutnya, ia menampar Draco. Ya, kesalahan yang sama berulang. Piala Dunia Quidditch, kenapa Draco, pandanganmu selalu berbeda dengan apa isi hatimu? Saat ia menjadi Prefek, bersama denganmu, mengapa tidak kau manfaatkan sebaik-baiknya, Draco? Tapi tahun berikutnya, saat bersama Myrtle Merana, saat Pangeran Kegelapan menandai tangan Draco, yang Draco tahu pasti ini adalah hukuman bukan anugerah, dan Draco bingung akan rencana-rencananya; Draco ingin yang menemaninya, yang mendengarkan keluh kesahnya adalah ia...

Dan tahun berikutnya, mengapa ia berlaku begitu pengecut? Mengapa ia tidak menyeberang saja ke pihak Orde? Mengapa ia tidak bisa menarik kembali ucapannya?

Tapi Draco langsung tersadar. Ini King’s Cross, dan mereka sedang mengantar anak-anak mereka naik kereta ke Hogwarts. Hanya dalam hitungan detik matanya bersirobok, dan Draco tahu pasti mata itu berkata, ’mengapa kau begitu pengecut?’

Draco mengeluh dalam hati.

Mengapa kau begitu pengecut?

Ia mengalihkan matanya pada kedua laki-laki di depan rombongan itu. Satu di antaranya, yang berambut merah, ialah yang memenangkan hatinya. Hati Hermione Granger. Pandangan Hermione pada laki-laki itu begitu penuh cinta. Mengapa bisa begitu, keluh Draco, bahkan Astoria tidak pernah memandang begitu rupa padanya.

Mengapa kau begitu pengecut, Draco? Sedang laki-laki yang selalu kau hina karena kemiskinannya, justru siap mati untuk apa yang sedang ia bela. Laki-laki itu yang memenangkan hatinya.

Pandangan Draco dan pandangan kedua laki-laki itu bertemu. Mereka saling mengangguk sopan. Basa-basi. Dan segera mengalihkan pandangan.

Aku harus menanggung semua akibat perbuatanku dulu. Aku harus menerima apa yang terjadi, dan merelakan apa yang tidak kuperjuangkan sedari dulu.

Draco merasa ada tangan kecil meraba tangannya. Scorpius. Dengan suara kecilnya yang takut-takut,  ia berhasil mengalihkan perhatian.

”Dad, bagaimana kalau aku Hufflepuff?”

FIN
Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #28 on: March 13, 2008, 09:38:03 PM »

Tema: Sad Ending Shortfic, not-Love-Story but Brotherly Story
Judul: It’s A Bad Ending
Rating:  G / K Suitable for most Ages
Jenis: Canon, missing scene
Sumber: Harry Potter dan Relikui Kematian hlm 796-797 dan 838-839

Tadinya mau dimasukkan di Challenge-nya GunZ, tapi tidak memenuhi syarat, bukan Love Story Tragedy, tapi Sibling Tragedy, jadi di sini aja deh  Wink

Kau memutuskan untuk mendahulukan mengejar karir daripada kehangatan keluarga. Kau yakin itu akan tercapai. Kau pandai, kau cerdas. Kau bahkan memandang rendah ayahmu yang tak berambisi untuk mengumpulkan uang lebih banyak. Dan kau benar, karirmu melesat pesat.

Kau memang harus mengalaminya dulu, baru yakin. Dua-tiga Natal kau lewatkan sendiri. Dan kau mulai menyadari, bahwa kau sendiri. Kau baru menyadari bahwa keluargamu—termasuk Harry—lah yang benar. Dan kau mulai mencari-cari jalan keluar, di saat di mana Kementrian sudah dikuasai Kau-Tahu-Siapa.

Akhirnya kau bisa menghubungi Aberforth. Malam saat pertempuran akan berlangsung. Dan kau tak ragu lagi, pergi juga ke Hogwarts.

Begitu masuk ke terowongan, masuk ke Kamar Kebutuhan, sebagian besar keluargamu ada di sana. Dan adikmu Fred, yang biasa paling keras membela keluarga dari celaanmu, justru dia yang duluan mengulurkan tangan. Membawa kembali kehangatan keluarga padamu. Bertempur bersama, bahu-membahu.

Dan kau tak pernah menduga. Saat kau baru saja sebentar menikmati kehangatan keluarga. Saat kau baru menemukan betapa asyiknya ternyata bisa bercanda dalam situasi seperti itu.

Fred memandang Percy dengan sukacita. “Kau benar-benar bercanda, Percy … rasanya aku sudah lama tak pernah mendengarmu sejak—“

Kalimat terakhir yang ia ucapkan padamu. Matanya memandang tanpa melihat. Bayangan tawa terakhirnya masih terpeta di wajahnya.

Kau membiarkan angin musim panas meniup jubahmu hingga melambai-lambai. Kau membiarkan matahari memanggang lehermu hingga memerah. Kau tak menghiraukan panggilan saudara-saudaramu. Kau ingin tetap di sini. Di atas bukit di Ottery St Catchpole, nisannya terpancang.
« Last Edit: March 13, 2008, 10:34:53 PM by ambudaff » Logged

ambudaff
Global Moderator
HPI
***

Karma: +177/-24
Posts: 863


Would you play with me?


WWW
« Reply #29 on: March 18, 2008, 03:54:51 AM »

Tema: Sad Ending Shortfic, not-Love-Story but Brotherly Story
Judul: It’s A Bad Ending
Rating:  G / K Suitable for most Ages
Jenis: A little bit fanon, tapi masih paralel dengan canon
Sumber: Harry Potter dan Relikui Kematian

Kau sangat menyayangi keluargamu. Tapi keberuntungan nampaknya tidak berpihak padamu. Pertama, ayahmu masuk Azkaban. Dari apa yang terdengar dari rumor yang beredar, salah satunya mengatakan alasannya adalah ayahmu membela Ariana, adikmu. Lalu kalian pindah. Tak lama kemudian ibumu meninggal. Juga terdengar itu juga dikarenakan oleh adikmu.

Jadi, kakakmu Albus menggagalkan rencana bebergian mengelilingi dunia, dan tinggal untuk menjaga kalian, kau dan adikmu. Kakakmu harus menguburkan semua rencana-rencana briliannya dalam-dalam. Kau sudah menawarkan diri untuk menjaga adikmu, sehingga kakakmu bisa bepergian ke mana saja ia suka. Toh, kau tidak begitu memerlukan pendidikan. Yang penting adalah adikmu sehat dan gembira, dan kambing-kambingmu berkembang biak banyak dan sehat. Kakakmu menolak. Pendidikan yang utama.

Tapi, Grindelwald. Ia datang pada kakakmu dengan ide-ide jenius. Kakakmu tertarik. Kau mengingatkan, Ariana bagaimana? Grindelwald nampak setengah melecehkan, dan ini berakhir dengan duel antara kalian bertiga, kau, Albus, dan Grindelwald. Tidak, kalian berempat, karena Ariana kemudian tertarik dengan suara-suara kalian, dan ikut serta. Ini menjadi akhir hidupnya. Entah siapa yang merapalkan mantra.

Itu akhir keluargamu. Ayahmu meninggal di Azkaban. Ibumu meninggal. Ariana meninggal.

Dan kakakmu tak pernah sama lagi. Ia memang memperoleh capaian yang luar biasa, penemuan dua belas kegunaan darah naga, penemuan mantra ini dan itu, kedudukan sebagai anu dan anu. Hanya kedudukan sebagai Menteri Sihir saja yang ditolaknya, tapi kedudukan sebagai Kepala Sekolah Hogwarts ia terima untuk waktu yang lama.

Tapi kau tahu, kakakmu tidak pernah sama lagi.  Jiwanya masih bersama raganya, tapi jiwa itu hampa. Hati dalam raganya juga masih ada, tapi hatinya hampa. Matanya menatap tajam menusuk matamu, tapi kau juga tahu, mata itu hampa.

Kakakmu yang utuh, sudah pergi sejalan dengan perginya ayahmu. Ibumu. Dan Ariana.
Logged

Pages: 1 [2] 3 4
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.8 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!

supported by : IndoLowonganKerja.com